Ads 468x60px

St. Carolus Jakarta (PKSC) & Para Suster Tarekat Cinta Kasih St. Carolus Borromeus (CB)

Sebuah Historiografi Sederhana

SEJARAH PKSC 
13 November 1910
Mgr. Luypen, SJ berkunjung ke Biara Induk

1 Januari 1911
Persatuan umat Katolik Batavia dibawah bimbingan Mgr. E.S. Luypen, SJ mempunyai rencana untuk mendirikan Rumah Sakit Katolik.

1912 – 1913
Pada waktu Pastor Sondaal, SJ di negeri Belanda, beliau sering berkunjung ke tempat Saudarinya yang menjadi pimpinan rumah sakit di Westeinde di S’Gravenhage, yang membuahkan pikiran untuk menyelenggarakan rumah perawatan di Indië. Tidak hanya rumah sakit Katolik saja, melainkan rumah sakit Katolik yang dikelola oleh para suster, bila Mgr. Luypen menyetujuinya. Beberapa minggu kemudian Pastor Sondaal, SJ menerima surat dari Mgr. Luypen, SJ dengan berita, bahwa beliau diminta untuk mencari Kongregasi suster yang mau ke Indië untuk mendirikan sebuah rumah sakit untuk perawatan di Batavia. 

Pastor Sondaal menemukan Kongregasi Suster-Suster Cintakasih St. Carolus Borromeus di Maastricht. Dibentuklah suatu yayasan, tanah di Struiswijk Weltevreden (sekarang Jatinegara) sebagian tanah dibeli dan sebagian lagi dihutang. Pada pesta satu abad Sosietas Jesuit pada tahun 1914, mendapat modal sebanyak 27.000 gulden. Lalu oleh Mgr. Luypen dana itu boleh digunakan untuk rumah sakit. 

Mdr. Lucia menerima tawaran Mgr. Luypen, SJ untuk membuka karya misi di Hindia Belanda – Batavia. 

2 September 1915
Perjanjian diadakan oleh Kongregasi Suster-Suster Cintakasih St. Carolus Borromeus di Mastricht dengan Pengurus Yayasan St. Carolus di Batavia. Disetujui oleh Vikaris Apostolik di Batavia pada tanggal 4 Juli 1915 dan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan keputusan 2 Januari 1915 No. 24 dan oleh yang mulia Mgr. Schrynen, Uskup Roermond 2 September 1915.

25 Oktober 1915 
Jawaban resmi disertai kontrak dengan RS Carolus Weltevreden Batavia.

Desember 1915
Sebelum pesta St. Nicolaas, ada berita yang menyenangkan dari Indië, bahwa kontrak dengan Pengurus RS St. Carolus Batavia ditandatangani. Meskipun pada waktu itu sudah ditentukan akan mulai November 1916, akan tetapi oleh karena pada waktu itu di Eropa dalam keadaan perang, keberangkatan para Suster ke Indië ditunda sampai dengan tahun 1917. 

Februari 1917 
Yayasan telah membeli tanah lapangan di Salemba-Batavia. Setelah bangunan hampir selesai ada kabar, bahwa para Suster sementara tidak bisa datang. Mgr. Schrijnen tidak mengijinkan mereka berangkat karena ada bahaya perang. Yang terpilih untuk memulai RS Perawatan Katolik itu di Indonesia :
- Mdr. Alphonse sebagai pimpinan
- Sr. Lina, asisten
- Sr. Amborsine, penasehat kedua
- Sr. Hermana
- Sr. Ignatio
- Sr. Justa
- Sr. Gratiana
- Sr. Chrispine
- Sr. Isabelle
- Sr. Judith 

April 1918 
Terpilihlah sepuluh suster yang akan menyerahkan diri ke tanah misi Hindia-Belanda (Batavia). Mereka telah mempersiapkan diri menanti hari yang penting di rumah induk Maastricht stengah tahun lamanya. Pertama-tama, mereka mempersiapkan diri dengan retret.

Awal bulan Mei 1918 
Mdr. Lucia pimpinan umum mengumumkan bahwa tibalah waktu keberangkatan yang ditunggu-tunggu oleh para misionaris ke tanah misi. Pimpinan umum menetapkan bahwa para suster akan berangkat tanggal 

29 Mei 1918. Inilah korban yang sangat besar dipersembahkan oleh sepuluh suster misionaris kita. Kasihnya terhadap “Sang Mempelai” mengatasi semua hubungan dan relasi antara yang mereka cintai dengan Sang Pengantin Ilahi. 

4 Juni 1918
Para suster dapat ikut kapal “Frisia” secara pasti. Lalu kapal baru berangkat 19 Juni 1918. Kapal berangkat tidak 19 Juni, tetapi 21 Juni kapal akan berangkat ke Ymuiden karena ada badai.

22 Juni 1918
Sepuluh suster misionaris CB pertama meninggalkan rumah induk Maastricht, Nederland menuju ke Batavia. 

Kisah Perjalanan ke Indië (Indonesia) 
22 Juni 1918
Pada hari Sabtu tanggal 22 Juni 1918 pukul 10.00, sebuah pintu kecil yang sempit telah memisahkan semua hubungan kami dengan orang-orang yang kami cintai. Kami bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya mulai juga perjalanan kami yang sudah lama kami nantikan. 

23 Juni 1918
Pukul 04.45, mengikuti Perayaan Ekaristi. Pada Perayaan Ekaristi kedua kami menyambut. Oh, alangkah banyak hal yang ingin kami katakan kepada Tuhan pada saat ini, tentang semua orang yang kami tinggalkan, mengenai banyak hal yang ingin kami mohon untuk masa depan. Kami berlutut dilantai batu, dekat sekali dengan altar dalam persatuan mesra dengan Yesus.Demi Dia kami tinggalkan segala-galanya. 

25 Juni 1918
Tadi pagi, di tengah pintu air kapal harus mundur sedikit, karena kapal “Java” harus lewat. Dengan diam-diam kami titip salam untuk kalian. Suasana diantara penumpang berubah secara tiba-tiba, karena datang telegram bahwa kapal diijinkan berangkat. Masih ada waktu 2 jam dan kami akan segera berlayar ketengah samudera. “Selamat Tinggal” kami yang terakhir kepada Gereja atau lebih khusus pada Yesus Manis. Dia akan tetap menyertai kami dan dengan Dia kami tidak takut. 

26 Juni 1918
Semua sakit dan kelihatan pucat. Moeder dan Sr. Ambrosine yang paling kuat. Tidak pernah kami membayangkan bahwa mabuk laut sedemikian memuakkan. Hari ini adalah hari taufan dan kebanyakan penumpang dalam keadaan sakit. Kapal “Frisia” berlayar terus dan tidak memperdulikan ranjau laut (semacam bom yang di pasang di lautan oleh musuh) yang terapung. 

Moeder melihat 5 buah ranjau laut yang hampir menyentuh kapal kami, maka peluit kapal berbunyi dengan suara yang mengerikan. Pukul 15.00 sekonyong-konyong ada pengumuman yang cukup merisaukan : “Kapal akan segera kembali ke Amsterdam”. Kapten yang taat itu langsung berlayar balik. Tiga jam lamanya kami berlayar kembali. Karena kami dalam keadaan terlalu sakit, kami tidak ambil pusing mengenai hal itu. 

Sr. Justa masih berani berkata : “Kami belum pernah mengadakan perjalanan sejauh ini”. Kapal berada persis ditengah-tengah bahaya ranjau laut. Setelah 3 jam masalah berakhir, ternyata berita tadi ditujukan untuk kapal lain, maka kembalilah kapal kami untuk ke-3 kalinya melalui suatu tempat yang sangat berbahaya. Bagi kami yang sakit, apa saja yang diberitakan tidak mengandung arti, kami tidak perduli. 

27 Juni 1918
Kami menikmati panorama yang sangat indah saat ini, kota Bergen (Norwegia) terletak tepat didepan kami dan dekat. Saya tidak dapat melukiskan keelokan dan kemegahan alam disini. Setiap saat panorama berubah. Alangkah gembira hati kami waktu melihat daratan, penyakit mabuk menjadi lenyap. Kapal “Frisia” berlayar menelusuri ladang dan padang rumput yang sangat indah. Siapa tahu, dikemudian hari barangkali negeri Norwegia akan menjadi tanah air yang ke-2 bagi beberapa suster Kongregasi kami. 

29 Juni 1918
Dekat sekali dengan Altar, sehingga kami dapat melihat dengan jelas apa saja yang diperbuat dalam Perayaan Ekaristi, kami melihat Hosti terletak diatas Korporal. Pada saat itu Yesus manis mengajarkan akan semua pengorbanan yang dilakukan untuk kami, supaya kami juga rela berkorban untukNya. Tidak banyak penumpang yang merasa butuh mohon perdamaian dunia. Oleh sebab itu kami dengan hati berkobar berdoa sebagai silih bagi mereka. 

2 Juli 1918
Pesta Maria visitasi! Tadi pagi dalam Perayaan Ekaristi kami memohon dengan sangat kepada St. Perawan supaya kami segera tiba di Batavia tercinta. Mungkin anda mengira bahwa kami sudah lama berlayar di lautan Atlantik, padahal kami masih berlabuh dikota Bergen. 

3 Juli 1918
Pukul 16.30 kapal “Frisia” bertolak dari pelabuhan Bergen. Kami baru saja selesai berdoa, pluit uap memberi tanda keberangkatan kapal “Frisia”.

8 Juli 1918
Dalam situasi semacam ini, walau badan terasa kurang enak namun hati kami merasa senang dan aman di bawah perlindungan Hati Kudus Yesus dan IbundaNya yang tercinta “Bintang Laut”. Kami percaya bahwa berkat doa Moeder dan para sesama suster yang tercinta, kapal kami akan kuat dan sanggup mengarungi
gelombang lautan yang mengamuk dan badai. Semakin hebat goncangan semakin besar pula iman kami, karena “sauh” kami tertanam kuat dalam Hati Kudus Yesus.

6 Oktober 1918
Hari Minggu menjelang pukul 11.00, untuk pertama kali kami melihat pantai pulau Jawa. Tumbuhan pertama yang kami lihat dari tanah air kami yang baru ialah pohon kelapa yang menjulang tinggi. Nanti malam pukul 24.00 kapal akan berhenti dan besok pagi menjelang pukul 06.00 kapal masuk pelabuhan Tanjung Priok.

7 Oktober 1918
Sudah sejak tadi malam kami melihat cahaya redup kecil dari tanah air yang baru kami. Kelap kelip cahaya itu seolah-olah hendak memberi salam. Ya, disitulah letak tanah misi baru kami, tanah yang sangat kami rindukan, tanah yang kami capai setelah melewati simpang-simpang yang jauh sekali. Selama 107 hari kami berada dalam perjalanan dan 9 minggu diantaranya kami berada dilautan. Tetapi, kini kami telah tiba pada tujuan. Sewaktu kami mendengar dari para penumpang kapal-kapal lain, tentang segala kesulitan yang mereka alami dalam perjalanan, maka kami merasa tidak cukup mengucap syukur dan mengagumi Penyelenggaraan Ilahi yang telah melindungi kami. Betapa banyak Tuhan telah menghindarkan dari percobaan dan bahaya dalam perjalanan kami, sehingga kami menempuh perjalanan dengan baik dan selamat. Perbuatan Tuhan yang istimewa ini sungguh dapat membuat orang lain iri hati. Walaupun perjalanan cukup lama, namun selamat. Pasti anda akan bersama kami berdoa syukur “Te Deum” kepada Allah. Tiga suster Ursulin yang datang menjemput kami. Pastor Sondaal segera datang juga di pangkalan. 

Dari jauh beliau memberi salam pertamanya. Pastor bersama para suster, antara lain Pimpinan biara Ursuline dan juga beberapa bapak dan ibu dari staf pimpinan Rumah Sakit naik ke kapal. Weltevreden adalah biara suster-suster Ursuline di Jl. Pos Jakarta sekarang. Sewaktu kami tiba di biara kecil Weltevreden, kami melihat banyak suster-suster Ursuline sudah menunggu di serambi depan. Serambi dihiasi dengan beberapa karangan bunga yang dikirim untuk kami, dari para anggota Pimpinan Rumah Sakit dan biara-biara di kota Jakarta dan sekelilingnya. 

Setelah kami masuk ke dalam biara, tempat pertama yang kami kunjungi adalah kapel. “Oh Yesus yang manis, betapa terharu hati kami bila kami berlutut di depan altar-Mu. Dengan rendah hati dan gembira kami menyerahkan seluruh tenaga, kesehatan, dan kehidupan kami kepada Dikau, demi kepentingan-Mu dan bagi keselamatan-jiwa-jiwa”. Kami adalah pelopor yang akan memulai suatu karya baru yang minta banyak pengorbanan dan kesulitan. Karya itu pasti akan memberi banyak sumbangan untuk perkembangan Misi dan keselamatan sesama. Sakramen Mahakudus ditahtakan lalu Pastor mulai melambungkan nyanyian: “Te Deum”, untuk bersyukur kepada Allah. 

Berkat pertama yang kami terima dari Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus tak pernah akan kami lupakan!. Selesai upacara pujian, mobil sudah menunggu untuk mengantar kami ke Rumah Sakit di mana kami nanti akan bekerja. Tetapi untuk sementara waktu kami masih belum dapat tinggal di sana. Kami tiba di Rumah Sakit seperempat jam lebih cepat, sebelum para anggota staf pimpinan datang. Waktu yang singkat itu, kami pergunakan untuk keliling Rumah Sakit dan melihat-lihat kamar tidur. Tidak lama kemudian datanglah para bapak dan ibu dari badan pimpinan, beserta Pastor Sondaal, Pastor Van Der Loo dan Pastor Van Swieten. 

Direktur Rumah Sakit, bapak Karthaus mengucapkan pidato pembukaan. Setelah itu, kami bersama-sama meninjau seluruh Rumah Sakit dan biara yang dihubungkan dengan Rumah Sakit dengan suatu gang beratap yang terbuka. Halaman Rumah Sakit luar biasa luasnya. Jika nanti pembangunan Rumah Sakit sudah selesai, gedung-gedung yang sekarang ada akan dipergunakan untuk para pasien kelas tiga. Kapel sangat bagus sekali. Di sebelah kanan altar, patung Santo Carolus di sebuah standar. Kami naik mobil kembali ke biara Suster-suster Ursuline. 

Pada waktu rekreasi malam, para suster Ursuline dengan gembira menyambut kedatangan kami dengan sebuah nyanyian “Selamat Datang”.

22-23-24 Oktober 1918
Kami sibuk hilir-mudik untuk membereskan biara, agar cepat bisa mempunyai biara sendiri. Mereka semua baik sekali terhadap kami, tetapi bila kami selama 4 bulan di tempat orang lain, tentu kami ingin dalam kehangatan rumah sendiri.

25 Oktober 1918
Pukul 10.00 kami bersama dengan mere dan mere asisten dengan tiga mobil menuju biara kami kecil. Kami merasa bahagia sekali karena sudah sampai di rumah sendiri. Para suster pindah ke biara sendiri di Jl. Salemba 42,Weltevreden.

28 Oktober 1918
Sekarang kami sungguh di rumah dan Tuhan menjadi Teman, Sang Mempelai diantara kita. “Yesus, sekarang Engkau tinggal diantara pengantin-pengantinMu. O berkatilah mereka, jadilah kekuatan bagi mereka. 

Sulit tugas yang akan mereka terima, tetapi pada-Mu mereka akan mendapat ketenangan dan penghiburan”. 
Sekarang kami tidak menginginkan apa-apa lagi, semuanya sudah diatur sedemikian teratur untuk mengawali rumah sakit.

31 Oktober 1918
Pagi ini kami mendapat tamu dari Mgr. Luypen, SJ. Mengerikan … beberapa orang sakit flu berat, banyak orang terserang dan akhirnya meninggal. Mereka “menyerbu” kami minta dilayani perawatan di rumah, tetapi bagi kami hal ini tidak mungkin. 
Tentu saja hal ini untuk Moeder merupakan suatu posisi yang sulit, semua menjadi sakit dan tidak ada perawat. Ini suatu epidemi. 

19 Januari 1919 
Rumah Sakit St. Carolus, Batavia mengawali pelayanannya dengan kapasitas 40 tempat tidur yang telah terisi 36 orang penderita.

20 Januari 1919
Gubernur dengan ajudannya meninjau Rumah Sakit. Seluruh pengurus hadir juga.


22 Januari 1919
Hari ini Rumah Sakit diberkati.

30 April 1919
Moeder Lucia (pemimpin umum, Sr. Nothburga dan Sr. Celestine dengan “SS Sindoro”, tiba di Weltevreden. Moeder Lucia sebagai pemimpin umum mengunjungi Batavia. Beliau membawa 2 suster lagi.

Tahun 1920
Rumah Sakit St. Carolus, Batavia membuka Pendidikan Perawat Diploma A dan Kebidanan dengan status diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Maret 1931
Bagian Selatan halaman depan ruang kebidanan lama akan dibangun bangunan Biara, sebuah bangunan tingkat, untuk ruang 34 orang suster. 
Perkembangan bangunan ini direncanakan tepat pada peringatan 12,5 tahun hari jadi Rumah Sakit.

31 Agustus 1931
Pemberkatan Kapel baru.

Tahun 1936
Pembangunan Asrama perawat RS St. Carolus Batavia untuk 20 siswi.

Tahun 1938
Pembangunan sayap pertama bagian kanak-kanak RS St. Carolus Batavia, sehingga kapasitas menjadi 80 tempat tidur.

Tahun 1940
Personalia : 30 Suster CB
18 Siswa Perawat
Para Dokter : 
- dr. H.H. De Jong
- dr. A.H. Bertels
- dr. D.T. Kuiper
- dan beberapa dokter umum

10 Mei 1940
Perang Dunia ke-II meletus.

Tahun 1942
Pendudukan Jepang di Indië Belanda (Indonesia). Beberapa kamar dan kantor di RS St. Carolus, Jakarta dipergunakan untuk kantor kepentingan para pejabat Jepang, sehingga kapasitas Rumah Sakit sangat menurun.

21 Mei 1943
Para Suster religius ditarik dari RS St. Carolus, Jakarta. Para Dokter, para perawat dan karyawan/I Belanda termasuk para Suster dimasukkan kamp tahanan Jepang.

24 Januari 1944
Pada tanggal 7 Oktober 1918, 10 Suster yang pertama dari Kongregasi Suster-Suster St. Carolus Borromeus, yang biara induknya di Onder de Bogen Maastricht tiba di Batavia. Pastor Leonardus Sondaal, SJ telah berhasil mendirikan sebuah Rumah Sakit kecil dan sederhana dan yang mulia Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen SJ, membuka dan memberkati Rumah Sakit itu pada tanggal 22 Januari 1919. 
Dalam keadaan demikian Suster-Suster St. Carolus Borromeus mengambil alih kepemimpinan. Kemudian para Suster mengirim mereka dengan berita yang sama ke RS St. Carolus. Keesokan harinya seluruh pasien RS dibawa ke Carolus 

20 Agustus 1945
Para religius yang pertama dipulangkan dari kamp tahanan dan masuk lagi ke RS Carolus, sementara RS dikuasai oleh Dinas Kesehatan Masyarakat 

Agustus 1948
RS St. Carolus resmi dikembalikan kepada Pengurus swasta.



KEKUATAN YANG MENDASARI PERKEMBANGAN PELAYANAN KESEHATAN KHARISMA CB 
Cinta tanpa syarat dan berbela rasa dari Yesus Kristus Yang Tersalib 

VISI CB 
Yang miskin, yang tersisih dan yang menderita diselamatkan dan dibebaskan dalam keutuhan Kerajaan Allah 

MISI CB 
Sadar akan persembahan hidup kita kepada Allah melalui hidup berkaul sesuai dengan konstitusi kita, dengan diilhami oleh Roh Kudus dan dijiwai oleh kharisma Bunda Elisabeth Gruyters, serta dalam kesetiaan kepada Gereja universal, kami, Suster-Suster Cintakasih St. Carolus Borromeus berserah diri untuk : 
- Mengembangkan relasi yang mendalam dengan Kristus dalam sikap hidup komtemplatif dan terus-menerus berdiskresi
- Kesaksian hidup sebagai “hamba Yahwe”
- Pelayanan bagi keutuhan manusia agar semakin sesuai dengan citra Allah sebagai tanda kehadiran kerajaanNya; dan 
- Menanggapi tantangan jaman dalam kegembiraan dan kesederhanaan, keberpihakkan pada mereka yang menderita karena ketidakadilan dan menderita karena berkesesakan hidup.


GUIDANCE PRINCIPLE CB DALAM KARYA PELAYANAN KESEHATAN
Melaksanakan Pelayanan Kesehatan yang: 
¬ Melayani demi keutuhan manusia agar semakin sesuai dengan martabatnya sebagai citra Allah 
¬ Mewujudkan keberpihakan pada mereka yang miskin, tersisih, berkesesakan hidup dan yang menderita karena ketidak-adilan
¬ Menanggapi tantangan jaman dalam kegembiraan dan kesederhanaan.

Beberapa Upaya Berikut Perlu Mendapat Perhatian:
¬ Mengusahakan pelayanan kesehatan dengan semangat belarasa, hormat terhadap martabat manusia, ketulusan hati, ketangguhan dan kerelaan berkorban dalam semangat kegembiraan dan kesederhanaan 
¬ Memberdayakan seluruh jajaran pelayan kesehatan agar memperjuangkan mereka yang miskin, tersisih, menderita, dan berkesesakan hidup untuk mendapat pelayanan secara utuh/ holistik
¬ Mengupayakan berkembangnya nilai-nilai religius dan iman yang mendalam melalui program pembinaan bagi pemegang kebijakan dan para pelaksana pelayanan kesehatan 
¬ Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang mencakup pemahaman dan penghayatan sikap etis, dan nilai-nilai yang menjadi dasar pelayanan kesehatan sesuai dengan Spiritualitas CB
¬ Mengembangkan pelayanan kesehatan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara etis dan profesional 
¬ Menjalin kerjasama yang baik dengan masyarakat, pemerintah maupun swasta serta pihak-pihak terkait yang didasari oleh sikap kritis dan semangat persaudaraan sejati 

Nilai-nilai Pokok Spiritualitas CB Dalam Pelayanan Kesehatan
¬ 1. Iman Yang Dalam 
Kita percaya bahwa Allah menghendaki agar semua orang mengalami kehidupan secara utuh-penuh / holistik (bdk. Yoh 10:10a). 
Kepercayaan yang mendasar akan campur tangan Allah dalam kehidupan manusia. Allah selalu hadir dan melibatkan diri dalam kehidupan kita.
Tercermin dalam ungkapan Bunda Elisabeth “Kini di dalam diriku tinggal kepercayaan kuat pada penyelenggaraan Illahi” (EG 23).
Manusia hanya dapat bersandar kepada kekuatan Allah.
Dasar kekuatan dan harapan dalam menjalankan pelayanan kesehatan.

¬ 2. Cinta Kasih Tanpa Syarat dan Berbela rasa 
Mengutamakan keselamatan manusia seutuhnya 
Api cinta kasih berbelarasa yang menjiwai seluruh pelayanan dan semua kebijakan 
Memupuk kemampuan hati untuk ikut merasakan derita dan harapan mereka yang sakit, menderita, dan berkesesakan hidup, beserta keluarganya sebagai ungkapan solidaritas kepada sesama.
Mengamalkan cinta kasih tanpa syarat: dalam memberikan pelayanan kita rela dan siap sedia, penuh pengertian, bertenggang rasa, bermurah hati, serta terbuka berdialog.
Memiliki sikap empati kepada mereka yang kita layani, selain menggunakan ilmu pengetahuan dan profesionalitas.

¬ 3. Hormat Terhadap Hidup dan Martabat Manusia 
¬ Sesuai cita-cita Bunda Elisabeth Gruyters yakni mengembalikan martabat manusia sebagai citra Allah.
¬ Bertanggung jawab melindungi kehidupan dan menolak menghentikan kehidupan dengan alasan apapun.
¬ Pasien dilayani sebagai subyek dengan mendengarkan harapan dan menanggapi kebutuhannya.
¬ Menumbuhkan semangat hidup dan mengembangkan proses kemandirian.
¬ Senantiasa menghargai hak-hak pasien dan semua yang dilayani.
¬ Menjaga privacy dan confidentiality. 

4. Keberpihakan Pada Yang Miskin, Tersisih, Berkesesakan Hidup dan Menderita Karena Ketidak-adilan
Mewarisi dan menghayati semangat Yesus dan Bunda Elisabeth dalam mewujudkan keberpihakan-Nya pada yang miskin, tersisih, berkesesakan hidup menderita karena ketidak-adilan. 
Ia membuka diri bagi karya Allah dalam melayani yang sakit dan malang agar hidup mereka terselamatkan.
Keberpihakan menjadi dasar usaha kita memanusiakan manusia, memberdayakan, dan menyelamatan. 
Sesama yang menderita menjadi subyek layanan.
Menampakkan sikap ramah tamah, rendah hati, peka, mampu mendengarkan dan berusaha bersikap adil kepada siapa saja.
Secara kreatif memberi pelayanan kepada kaum perempuan yang menjadi korban kekerasan dan ketidak-adilan.
Menciptakan kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan semua pihak (pengembangan lembaga, kesejahteraan karyawan dan pasien tidak mampu) dalam pemanfaatan sisa hasil usaha operasional

5. Ketulusan Hati
Keyakinan akan cinta kasih Tuhan tak bersyarat dan berbelarasa. 
Cinta Tuhan memampukan kita untuk diutus dan bersedia melayani dengan tulus hati, yang membuahkan sikap terbuka, gembira, ramah, sederhana dan berani menanggung resiko demi keselamatan yang kita layani.
Mengabdi Tuhan secara tulus ikhlas dan sempurna (EG. 5) merupakan prinsip hidup.
Dengan semangat ketulusan hati, kita menjalankan tugas dengan setia, tekun ,sepenuh hati bertanggung jawab, dan gembira. 
Tercermin dalam melayani tanpa membeda-bedakan suku, agama, golongan, warna kulit, latar belakang pendidikan, status ekonomi dan sosial.

6. Kerelaan Berkorban Demi Sesama Yang Dilayani
Dijiwai dan didasari oleh :
1. Semangat Yesus yang rela mengorbankan diri-Nya sampai mati di kayu salib 
2. Semangat Bunda Elisabeth yang mendorongnya rela dilibatkan dalam duka dan penderitaan sesama (EG. 39, 41, 95)
Bentuk pengorbanan terungkap dalam keberanian untuk menanggung akibat dari pelayanan, baik berupa pemberian diri secara fisik, psikologi, materi, waktu dan kerelaan menjadi sahabat bagi mereka yang menderita.

7. Ketangguhan dan Ketegaran Dalam Menanggapi Tantangan Jaman
Seperti teladanYesus dan Bunda Elisabeth, yang berjuang menghadapi tantangan, kesulitan dan penderitaan dengan ketangguhan, ketegaran dan ketabahan. 
Ketangguhan dan ketegaran mengalir dari semangat kegembiraan, kesederhanaan, keterbukaan dan kreatifitas.
Menentukan sikap hidup yang melawan arus: kemudahan, kemewahan, budaya instan, kenikmat dengan jalan pintas, membuat kita cenderung menghindari tantangan, kesulitan dan penderitaan.
Membangun daya tahan dan daya juang yang tinggi disertai semangat optimistis dan berpengharapan. 
Terbuka terhadap ide-ide baru, kreatif dalam mengembangkan tradisi nilai-nilai awal dan mampu menciptakan mekanisme yang fleksibel untuk menghadapinya. 

8. Memaknai Penderitaan 



PKSC KE DEPAN DARI SISI SPIRITUALITAS YANG MENDASARI PELAYANAN 
1. JATI DIRI 
¬ AKAR SEJARAH
¬ SPIRITUALITAS CB
¬ IMAN, HARAPAN, KASIH

2. VISI DAN MISI PERHIMPUNAN ST. CAROLUS 
Visi Perhimpunan St. Carolus 
Terwujudnya Jejaring Layanan 
Bermutu dan Manusiawi
Berlandaskan Keutamaan Iman, Harapan dan Cinta Kasih 
Komprehensif 
Kemandirian 
Tumbuh Kembang 
Budaya Pembelajaran 
Budaya Pemberdayaan. 
Layanan Medik, Keperawatan dan Kesehatan
upaya-upaya yang mencerminkan hormat terhadap kehidupan dan martabat luhur 
Pelatihan dan Pendidikan Tinggi
Pemberdayaan Masyarakat
Posisi Pengaruh Strategi 

3. NILAI INTI (CORE VALUE)
¬ Berlandaskan Iman,Harapan dan Cinta kasih Kristiani
¬ Keterbukaan terhadap kemajuan Iptek
¬ Ethos kerja yang andal
¬ Kepiawaian pribadi
¬ Solidaritas dan subsidiaritas dalam communio 

Arti lambang pada logo PKSC 
¬ Salib : Iman 
¬ Tangan : Harapan
¬ Bunga : Kasih
¬ Sayap : Pelayanan kepada masyarakat
¬ Warna Putih : Pengabdian diri kepada masyarakat tanpa pamrih
¬ Warna merah : Cinta kasih

0 komentar:

Poskan Komentar