Ads 468x60px

Gereja Sebagai Persekutuan Murid-Murid


I. Beberapa Pendekatan Konsep Gereja sebagai Persekutuan Murid-Murid

a) Murid-Murid dalam Pelayanan Yesus di Depan Umum
Dasar dari model Gereja sebagai persekutuan murid-murid dapat ditelusuri dalam PB dan bahkan dalam pelayanan Yesus selama hidup-Nya di dunia. Gambaran murid dalam masa ini adalah kumpulan orang-orang yang terpilih di dalam persekutuan yang lebih luas, yang terdiri dari orang-orang yang menerima Yesus sebagai guru yang diutus Allah. Mereka sengaja dipilih untuk menyertai Yesus dalam perjalanan-perjalanan-Nya. Akan tetapi persekutuan murid-murid tersebut semakin terlihat derajat keakrabannya dalam diri keduabelas rasul yang membentuk kesatuan inti yang merupakan orang-orang terpilih secara pribadi dan diangkat oleh Yesus untuk suatu tugas yang penting. Bersama Yesus, murid-murid ini secara simbolis menghadirkan Israel baru dan yang dibarui. Misi mereka adalah mengingatkan sisa umat akan nilai transenden Kerajaan Allah lewat kesaksian. Mereka bertindak atas dasar peraturan dan tugas yang ditetapkan oleh Yesus dan semua ini dijalankan dengan sukarela, sebab mereka menemukan satu keluarga baru dalam persekutuan dengan Yesus. Dan pada saat menjelang akhir karya Yesus, persekutuan murid-murid ini mendapat ciri baru yakni bahwa untuk hidup sebagai murid dituntut mengambil bagian dalam penderitaan-Nya yang menyelamatkan.

b) Persekutuan Murid-Murid Sesudah Paska
Sesudah Yesus wafat dan naik ke surga, gagasan murid-murid mengalami suatu perubahan lebih lanjut. Gagasan murid mengalami perluasan, seperti dalam Kisah Para Rasul yang melihat semua orang beriman Kristen disebut murid-murid (Kis.6:2). Perluasan gagasan murid-murid ini dapat juga dilihat dalam Kitab Perjanjian Baru, seperti pada ayat-ayat terakhir Injil Matius yang menuliskan bahwa kesebelasan diberi tugas untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-murid. Bahkan para pengarang PB memberi nilai rasa yang berbeda-beda terhadap kata murid agar lebih efektif menjawab situasi khusus jemaat.

Selama abad-abad pertama, keanggotaan dalam Gereja mempertahankan sifat yang tegas dan berani yang tampak jelas dalam pengertian tentang murid. Mereka melihat persekutuan Kristen sebagai suatu masyarakat yang lain dari lain, dengan tetap mempertahankan jarak kritis terhadap lingkungan kafir. Diantara mereka sendiri terjalin hubungan saling mencintai secara mendalam dan sadar akan tuntutan hidup sebagai seorang murid, mereka siap untuk menerima kemungkinan akan dipenjarakan, dibuang dan bahkan dihukum mati.

c) Gereja dalam suatu Masyarakat yang Dikristenkan
Ketika agama kristen menjadi agama resmi bagi seluruh Kerajaan Roma dan orang-orang kristen mulai terlibat dalam tugas-tugas biasa dalam kehidupan sipil, cita-cita hidup sebagai murid tidak hilang sama sekali. Mereka dinasihati untuk menjalankan panggilan hidup sebagai murid secara batiniah, yang meliputi nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan yang telah ditetapkan oleh Yesus. Pada masa ini hidup yang radikal sebagai murid adalah kehidupan religius, dimana banyak orang mengambil satu bentuk hidup yang keras dengan mempraktekkan nasihat Injil (kemiskinan, kemurnian dan penyangkalan diri) secara lebih sungguh-sungguh.

Dalam Gereja Katolik Roma, hidup religius lebih dikaitkan dan diperluas kepada konsep imamat. Tuntutan selibat imam dilihat sebagai aplikasi konsep PB tentang kehidupan seorang murid. Katolisisme dewasa ini tidak membatasi kehidupan sebagai murid pada para imam dan kaum biarawan-wati saja. Tetapi sesungguhnya kaum awamlah yang mempunyai tanggungjawab khusus sebagai seorang murid. Merekalah yang bertugas meresapi dunia sekular dengan semangat Kristus, dan meragikan dunia dengan ragi Injil, sehingga usaha-usaha manusia dapat dilandasi harapan dan dibimbing ke arah penyempurnaan ilahi yang telah ditentukan.

d) Murid dan Hidup Sakramental
Agar Gereja sebagai keseluruhan dapat menunaikan tugas sebagai murid dalam arti yang penuh, diperlukan pelbagai macam karunia dan panggilan. Gambaran tokoh-tokoh dalam Injil hendak menampilkan pengejawantahan dari cita-cita hidup yang aktif dan kontemplatif. Yesus membangun persekutuan orang beriman dengan Sabda dan Sakramen. Di sini diperlukan saat kontemplasi supaya mereka mampu mengenal dan percaya kepada Allah dan Yesus sebagai utusan Allah.

Semua orang kristen diwajibkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan hidup sebagai murid, terutama untuk ibadat/liturgi. Liturgi mencapai titik puncaknya dalam kegiatan-kegiatan yang disebut sakramen. Sakramen merupakan momen khusus dalam kehidupan Gereja dan anggota-anggotanya bila Tuhan yang disalibkan dan bangkit itu diimani sungguh-sungguh hadir dan berkarya sesuai dengan janji-Nya. Sakramen merupakan satu transaksi antara Tuhan yang hidup dengan persekutuan para murid. Sakramen berdimensi sosial dan eklesial. Pengertian akan sakramen diperoleh dalam hubungannya dengan para murid.

Permandian: si calon secara resmi mulai menapaki jalan hidup sebagai seorang murid dan umat yang lain berkewajiban membimbing si calon dalam mengikuti Kristus.

Krisma : anggota, dengan pencurahan Roh Kudus, menerima secara batiniah arti-arti dan nilai yang ditanam melalui pengajaran sebagai anggota yang dewasa dan bertanggungjawab untuk memberi kesaksian tentang iman.

Ekaristi : persatuan yang terdalam dan paling akrab dengan Yesus, yang menjadikan diri-Nya santapan dan minuman, yang menopang hidup keluarga rohani.

Pengakuan dosa : orang Kristen yang telah gagal untuk hidup sesuai tuntutan sebagai murid, dipersatukan kembali dengan jemaat dan didamaikan dengan Tuhan.

Pengurapan orang sakit : kuasa penyembuhan Kristus bagi yang sakit dan sakitnya dipersatukan ke dalam penderitaan Kristus yang menyelamatkan.

Perkawinan : memulai hidup bersama sebagai murid yang dipersatukan, yang saling membantu untuk berjalan menjejaki langkah-langkah-Nya dan menjadi orangtua dalam keluarga Kristen yang baru.

Tahbisan : menjadi penampakan dari kehadiran-Nya yang hidup dan diberi tanggungjawab untuk berdoa terus-menerus dan menjalin hubungan akrab dengan-Nya yang telah bangkit. Ini adalah contoh yang tepat bagi hidup sebagai murid.

e) Pembentukan Orang Kristen dalam Jemaat
Proses pembentukan orang Kristen membutuhkan peranan para gembala yang mampu menjembatani kesenjangan antara model institusi dan persekutuan. Maka dari itu para gembala umat harus dekat dengan Kristus sebagai pemimpin, tetapi mereka juga harus dilihat sebagai murid-murid di bawah kekuasaan gembala umat. Para gembala atau pemimpin tersebut hendaklah memajukan persekutuan cinta, iman dan kerukunan dengan sesama murid lewat perhatian mereka. Kini, tugas itu diemban oleh Paus, para Uskup dan para imam yang dengan rahmat tahbisan mewakili Kristus di depan umum dalam pelayanan sabda, sakramen dan kegiatan pastoral. Mereka diwajibkan untuk menjalin kerjasama secara erat dengan para petugas awam.

Bagi anggota-anggota baru, demi keberhasilan pewartaan iman Kristen, sangatlah penting menemukan satu jemaat yang dengan gembira menyambut mereka dan bersama-sama dididik dalam cara hidup Tuhan. Hal ini sesuai dengan hakikat iman yakni kepercayaan akan Tuhan yang hidup, yang menghadirkan diri dalam dan melalui jemaat dan para pelayannya. Sikap iman tiap anggota dibentuk melalui jemaat yang berdoa dan beribadat. Dengan ini harapan Paus Yohanes Paulus II untuk menjadikan jemaat dalam keluarga sebagai Gereja kecil dapat terwujud.

Akan tetapi tantangan dan hambatan selalu menyertai proses pembentukan ini. Masih banyak orang Kristen yang memandang Gereja hanya sebagai satu institusi besar yang impersonal, yang menguasai anggota-anggotanya. Mereka masih jarang mengalami Gereja sebagai persekutuan untuk saling menopang dan mendukung.

f) Murid dan Dekristianisasi
Tantangan kemuridan dewasa ini adalah menghidupkan kembali nilai-nilai dan sikap-sikap Kristen di tengah arus modernisasi yang semakin berkembang. Kaum muda, yang adalah subyeknya, terasa asing terhadap simbol-simbol kristiani yang semakin tenggelam oleh kemajuan zaman. Keluarga Kristen tidak terlalu sanggup menyampaikan nilai-nilai kristiani kepada anggota keluarga yang masih muda, yang sangat dipengaruhi oleh kelompok-kelompok sebaya dan oleh media komunikasi. Maka dari itu kiranya dibutuhkan suatu “novisiat bagi kehidupan” yang diperuntukkan bagi kaum awam yang mau menghayati agamanya atau menjadi wadah latihan dalam olah hidup rohani untuk mencapai cara hidup sebagai murid yang sejati dalam Gereja.

Bentuk pengembangan yang ditawarkan dalam surat pastoral para Uskup AS kiranya mampu menjawab tantangan ini. Yang harus dilakukan agar kita dapat bertahan sebagai orang Kristen di tengah situasi keterasingan dari nilai-nilai Kristen adalah :
mengambil sikap yang tegas terhadap aksioma-aksioma dunia yang diterima umum.
mempersenjatai diri untuk dapat menyatakan iman Gereja yang penuh dalam masya-rakat yang semakin sekular.
mengembangkan rasa solidaritas, yang dipererat oleh hubungan dengan orang Kristen yang dewasa dan patut dijadikan anutan, yang menghadirkan Kristus dan cara hidup-Nya.

g) Murid dan Karya Misi
Hidup sebagai murid senantiasa merangkum serentak fase sentripetal yaitu ibadat dan fase sentrifugal yaitu misi. Gereja akan lebih menjadi Gereja bila ia berkumpul untuk mendengarkan Sabda dan merayakan ibadat, serta berani keluar dari persekutuan untuk melanjutkan karya Kristus di dunia. Lewat evangelisasi dan pelayanan, karya misi Gereja dibuka. Tugas dan tanggungjawab terhadap karya misi ini menjadi kewajiban setiap murid Kristus, baik para rohaniwan maupun kaum awam.

Perutusan Gereja ini memiliki dasar sejak Paska dimana para murid mempunyai motivasi baru untuk menyebarkan Kabar Gembira ke segala penjuru dunia. Sebagai persekutuan murid-murid, Gereja harus meneruskan bentuk-bentuk misi yang diberikan Yesus kepada pengikut-pengikut-Nya yang pertama dengan penyesuaian seperlunya. Disini Gereja harus mengulangi karya Kristus dengan lebih memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dan tuntutan zaman.

Disamping itu Gereja harus juga membawa perutusannya ke dalam. Seperti halnya pada abad-abad pertama dimana Gereja lebih menitikberatkan karya misionernya dengan memusatkan daya tarik sebagai masyarakat yang lain daripada lain. Kini, Gereja harus dapat menumbuhkan persekutuan murid-murid yang semakin erat dan memperkembangkan dari dalam.

h) Kecocokan Model Gereja sebagai Murid
Beberapa kelebihan model Gereja sebagai persekutuan murid-murid adalah :
lebih dekat kepada pengalaman dan memberikan arah bagi pembaharuan yang serasi.
mendorong anggota Gereja untuk meneladani Kristus dalam kehidupan mereka sendiri.
membuat anggota Gereja merasa betah di dalam Gereja yang senantiasa harus menemukan jawabnya dalam situasi yang sedang berubah dan mengalir cepat.

Dalam pandangan Kitab Suci dan teologi, sifat-sifat yang sama, yang membuat Gereja sebagai sakramen Kristus, membenarkan juga sebutan sebagai persekutuan murid-murid. Pertama, persekutuan ini tidak ayal lagi mempunyai asalnya dalam Kristus, yang mendirikannya selama pelayanan-Nya di dunia dan kemudian memperkuatnya oleh karunia Roh. Kedua, para murid secara kelihatan menghadirkan Kristus, karena seorang murid sebagai utusan. Ketiga, Yesus sungguh-sungguh hadir dalam persekutuan murid-murid, seperti dalam sakramen. Akhirnya, kehadiran Kristus dalam persekutuan murid-murid bersifat dinamis dan efektif.

Akan tetapi model persekutuan murid-murid memiliki keuntungan tertentu jika dibandingkan dengan model sakramen. Model sakramen kedengarannya anonim dan menimbulkan kesan bahwa Gereja tanpa cacat. Sedangkan persekutuan murid-murid memberi kesan bahwa Gereja tidak sempurna, perlu mendapat koreksi dan menuntut jawaban pribadi dari pihak anggotanya.

Tetapi meskipun kelihatannya baik, model persekutuan para murid juga mempunyai keterbatasan dan kelemahan seperti halnya model yang lain. Disini akan dipaparkan keberatan-keberatan yang muncul dan jawaban yang diberikan sebagai tanggapan atas keberatan tersebut.

1. Gambaran Gereja sebagai masyarakat yang lain dari lain cenderung menonjolkan keistimewaan-keistimewaan yang menempatkan orang-orang Kristen terpisah dari manusia-manusia lain di dunia. Hal ini mendorong Gereja ke arah kekristenan tipe sekte, yang berlawanan dengan tipe Gereja sebagai khas Katolik.
Jawaban : Gereja sebagai persekutuan para murid mempunyai kelebihan karena mengarahkan perhatian kepada penolakan radikal terhadap nilai-nilai duniawi, yang dituntut sebagai tanda kesetiaan kepada Yesus. Nah, disinilah para murid Kristus ditantang untuk berani memilih penderitaan seperti Kristus sendiri supaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga.

2. Model persekutuan murid kelihatannya memberikan tuntutan yang berlebihan terhadap orang-orang Kristen yang biasa. Panggilan untuk menjadi murid kelihatannya merupakan panggilan khusus, yang hanya diberikan kepada segelintir orang di dalam persekutuan orang beriman umumnya.
Jawaban : Setiap orang Kristen dipanggil masuk lebih jauh ke dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus dan berperan serta dalam kerasulan Gereja. Sumbangan model persekutuan para murid salah satunya adalah bahwa ia mengingatkan orang-orang Kristen bahwa dengan mencintai diri sendiri dan mengejar kenikmatan, mereka telah gagal hidup sesuai dengan norma-norma yang mereka anuti. Kekristenan mewajibkan para anggotanya menempatkan panggilan Kristus di atas segala kepentingan.

3. Model persekutuan murid kelihatannya mengandung pengandaian bahwa Gereja adalah satu persekutuan bebas yang terdiri dari orang-orang yang ingin ikut serta secara sukarela dalam pelayanan yang tanpa pamrih. Hal ini bertentangan dengan pandangan Gereja Katolik yang melihat Gereja sebagai satu masyarakat yang perlu untuk melahirkan anggotanya dan merawat mereka selama hidup.
Jawaban : Eklesiologi yang individualistis tersebut merupakan pengertian keliru tentang hakikat Gereja sebagai persekutuan murid-murid. Hakikat murid senantiasa bergantung pada undangan dan panggilan yang lebih dahulu datang dari Kristus, satu undangan yang menantang, yang membawa serta rahmat yang perlu untuk menerimanya. Gereja mengantarai panggilan Kristus dan mewartakan Sabda Allah serta memberikan sakramen. Jadi persekutuan murid-murid dalam arti tertentu lebih dahulu dari anggota-anggotanya.


II. Tanggapan sebagai penekanan 
Ada beberapa hal yang patut ditekankan lebih dalam untuk memahami kekhasan dari model Gereja sebagai persekutuan murid-murid tersebut. Beberapa penekanan itu dapat dirumuskan sebagai berikut:

a) Arti dari persekutuan para murid
Persekutuan atau communio (bahasa Latin) berasal dari kata Yunani “koinonia” yang memiliki arti paguyuban, persekutuan umat, dan komunikasi. Communio memiliki arti persekutuan semua orang kristen baik dalam jerih payahnya setiap hari maupun dalam harapan akan kebangkitan. Jadi communio berarti perkumpulan yang bercirikan iman akan Kristus. Persekutuan itu bersumberkan pada daya Roh Kudus yang menyatukan dan menjiwai kehidupan Gereja, sehingga setiap orang beriman mampu bersatu dengan Kristus. Kesatuan dan kerukunan Gereja adalan tanda dari Roh Kudus.

Dalam konteks ini, persekutuan para murid menjadi bagian dari persekutuan semua orang kristen. Gereja sebagai persekutuan para murid mau menjelaskan bahwa keberadaan atau eksistensi Gereja berasal dari bersatunya orang-orang yang dipilih dan dipanggil secara khusus oleh Yesus dan percaya kepada-Nya serta mau mengikuti-Nya. Jadi berkumpulnya para murid itu berasal dari inisiatif Yesus yang memanggil dan gerak tanggapan para murid yang mau mengikuti-Nya.

b) Hubungan yang tetap antara Gereja dan Kristus, yang terus membimbing Gereja melalui Roh Kudus.
Secara tidak langsung, model Gereja sebagai persekutuan para murid mendasarkan diri pada persekutuan Allah Trinitas (LG 4). Gereja sebagai persekutuan para murid terbentuk dari kebersamaan hidup yang berorientasi pada pribadi Yesus. Yesus yang sejak awal telah memanggil, memilih dan memberikan tugas khusus kepada orang-orang yang mau mengikuti-Nya senantiasa menyertai Gereja sampai akhir zaman melalui perantaraan Roh Kudus. Kesatuan antara Kristus dengan Gereja ini menjadikan Gereja sebagai sakramen Kristus.

Kehidupan para murid dalam membangun Gereja tidak lepas dari kesatuannya dengan Yesus. Arah dan tujuan hidup mereka selalu didasarkan pada peraturan dan tugas yang telah ditetapkan oleh Yesus sendiri. Tuntutan hidup untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus yang menyelamatkan menjadi sikap hidup dari seorang murid.

c) Mampu menjelaskan aspek institusional dan sakramental Gereja
Gambaran Gereja sebagai persekutuan para murid membutuhkan peranan gembala dalam proses pembentukan dan pemekarannya. Gembala tersebut menjadi perpanjangan tangan Kristus yang senantiasa memajukan persekutuan iman, harapan dan kasih dengan sesama murid yang lain. Kini, peran gembala tersebut diemban oleh para kaum hirarki yakni Paus, Uskup dan para imam dengan menjalin kerjasama dengan kaum awam. Segi institusional dari model persekutuan murid-murid ini tidak terlalu mencolok, sebab tidak terlalu memisahkan atau membatasi golongan hirarki dengan awam. Mereka bersama-sama mengemban tanggung jawab sebagai murid dengan mengambil bagian dalam tugas dan fungsi Kristus sebagai imam, nabi dan raja di dunia berdasarkan karisma dan panggilan hidup masing-masing.

Sakramentalitas persekutuan para murid mewujud nyata dalam kegiatan ibadat atau liturgi. Inilah yang menjadi tuntutan dari kebersamaan hidup sebagai murid yang selalu mengenangkan perjamuan terakhir Yesus. Ibadat dan liturgi menjadi titik puncak dari kepenuhan hidup seorang murid. Disinilah unsur sakramental Gereja tampak jelas bahwa melalui doa dan karya terjadi suatu transaksi antara Tuhan yang hidup dengan persekutuan para murid. Pengertian akan sakramen menjadi jelas dalam hubungannya dengan hidup para murid.
d) Sebagai dasar untuk tugas evangelisasi dan pelayanan Gereja.
Tugas seorang murid tidak hanya bersifat intern atau demi kepentingan dan perkembangannya sendiri. Tetapi seorang murid harus berani keluar dari kelompoknya untuk mewartakan dan melanjutkan karya Kristus ke segala ujung bumi. Tugas perutusan seperti inilah yang sering disebut dengan karya misi. Karya misi menjadi konkrit dalam tugas evangelisasi dan pelayanan. Hal ini menjadi tanggung jawab semua murid Kristus, entah awam maupun rohaniwan-wati.

Gereja sebagai persekutuan para murid harus meneruskan karya Kristus di dunia melalui kegiatan-kegiatan misinya demi semakin meluasnya Kabar Gembira dengan lebih memperhatikan kebutuhan dan tuntutan zaman. Maka, seorang murid harus mampu berinisiatif dan proaktif di dalam usaha meluaskan karya Kristus bersama dengan Gereja. Melalui para murid itulah, Gereja yang berciri misioner semakin menampakkan perwujudannya di dunia.



III. Catatan Kritis
Pertama, Gereja yang dimengerti sebagai persekutuan para murid tidak dapat berdiri sendiri. Ia selalu mengandaikan adanya hubungan dengan persekutuan Allah Trinitas. Koinonia dalam Kitab Suci pertama-tama menunjuk relasi manusia dengan Allah. Persekutuan yang pertama dan paling dasar yang dialami Gereja adalah persekutuan dengan Allah. Persekutuan dengan Allah itu terungkap dalam partisipasi Gereja atau umat beriman dalam hidup ilahi trinitas atau dalam komunitas kasih antara Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Demikianlah Gereja menjadi kebersamaan atas dasar hubungan khasnya dengan Trinitas, dimana Gereja dimasukkan oleh Roh Kudus ke dalam persekutuan dan kebersamaan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Di hadapan dunia dan sejarah Gereja menjadi gambar dan bahkan Sakramen Trinitas. Hal ini ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dengan mengutip kata-kata Santo Paulus yang berkata, Gereja adalah “umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (LG 4).

Kedua, Gereja sebagai persekutuan murid-murid mau tidak mau selalu berdimensi vertikal dan horizontal, serta berciri kristologis dan eklesiologis.

Berdimensi vertikal dan horizontal
Berdimensi vertikal menunjukkan suatu communio antara manusia (para murid) dengan Allah Trinitas (LG 2-4). Kesatuan para murid dengan Yesus Kristus yang menjadi anutan membentuk Gereja. Disitulah para murid menghayati hidup dalam kebersamaan dengan Kristus. Di lain pihak ketika Kristus meninggalkan dunia, Ia memberikan jaminan tuntunan kepada persekutuan para murid melalui kehadiran Roh Kudus. Ia senantiasa membimbing Gereja dalam perjuangannya di dunia. Maka dari itu, Gereja sebagai persekutuan para murid menampakkan dan menghadirkan persekutuan dan kebersamaan Bapa, Putera dan Roh Kudus kepada dunia (LG 4).

Di sisi lain Gereja sebagai persekutuan murid-murid juga menunjuk dimensi horizontal. Dimensi horizontal dimengerti sebagai communio yang terjadi antara manusia. Murid-murid saling membangun dan membantu sebagai satu tubuh melalui persaudaraan, solidaritas dan hidup bersama. Kebersamaan hidup mereka membentuk suatu Gereja yang nyata di dunia ini dengan cara hidup yang khas (LG 7).

Berciri kristologis dan eklesiologis
Gereja sebagai persekutuan para murid yang berciri kristologis menunjukkan persekutuan dengan Putera Allah (1 Kor 1, 9), persekutuan dalam tubuh dan darah Kristus (1 Kor 10, 16), persekutuan dalam penderitaan Kristus (Fil 3, 10), dan persekutuan dengan Bapa dan Putera (bdk. 1 Yoh 1, 3). Ciri ini kiranya senada dengan Gereja sebagai communio yang berdimensi vertikal.

Sedangkan ciri eklesiologis dari Gereja persekutuan murid-murid lebih menjelaskan persekutuan dalam Roh Kudus (Fil 2, 1), persekutuan orang beriman atas dasar tradisi ajaran (bdk. 1 Yoh 1, 3), kemajemukan pelayanan dan kharisma untuk persekutuan dalam Roh Kudus (Rom 15, 26). Persekutuan ini direalisir dalam solidaritas dan kerjasama serta aneka pelayanan diantara para murid dan dengan kelompok lain di luar mereka. Persekutuan para murid tersebut diikat dalam satu persaudaraan dalam iman dan kasih, solidaritas dalam suka dan duka, dalam penderitaan dan kelemahan dan dalam kemuliaan yang akan datang. Communio ini senantiasa dipenuhi oleh kesatuan, damai, pengampunan, kegembiraan, pemberian dan toleransi satu sama lain. Persekutuan yang terjadi diantara para murid tidak hanya sebagai persekutuan kebersamaan hidup, namun juga kebersamaan keselamatan. Dalam arti mereka bersama-sama sebagai orang yang ditebus dan diselamatkan, kini sedang menempuh perjalanan kepada keselamatan abadi. Dapat berarti pula, Gereja merupakan komunitas orang beriman yang berkumpul dari Kristus dan kini sedang berjalan kepada tujuan dan sasaran akhir pembentukan komunitas itu, yakni penyelesaian keselamatan di akhir zaman (eskatologis).

Ketiga, model Gereja sebagai persekutuan para murid mendapatkan bentuk atau wujudnya dalam paguyuban-paguyuban. Seperti halnya zaman para rasul dan murid-murid Gereja Perdana, persekutuan dalam Gereja terwujud terutama dalam jemaat-jemaat kecil yang berkumpul di sekitar altar Tuhan (bdk. Kis 2, 1-47). Dalam jemaat-jemaat itu, meski kecil dan tersebar: “hiduplah Kristus dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik” (LG 26). Dengan demikian perwujudan pertama communio Gereja nampak dalam Gereja setempat. Gereja-Gereja setempat itu bersama-sama mewujudkan suatu communio dari communio-communio, communio dari paguyuan-paguyuban.

Dasar dari persekutuan paguyuban-paguyuban itu adalah berkat sakramen baptis. Dengan sakramen baptis mereka menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus (bdk. LG 31). Karena mengambil bagian dalam hidup Kristus sebagai imam, nabi dan raja gembala umat, persekutuan para murid itu selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (leitourgia), mewartakan kabar gembira yang memerdekakan (kerygma), dan iklas tanpa pamrih melaksanakan pelayanan (diakonia) bagi semua orang. Seperti halnya Kristus melaksanakan tugas perutusan dengan mempertaruhkan hidup-Nya sampai mati sebagai saksi iman, maka para murid sebagai pengikut Kristus pun melaksanakan tugas-tugas perutusan itu dengan menghayati spiritualitas kesaksian (martyria).

Akhirnya, gagasan model Gereja sebagai persekutuan murid-murid Yesus merupakan gambaran Gereja yang ditampilkan dalam tulisan Markus. Menurut Markus, yang menjadi misi Yesus adalah mewartakan Kerajaan Allah. Terhadap warta Kerajaan Allah itu manusia dipanggil untuk percaya (Mrk.1,14-15), bahkan akhirnya menjadi murid Yesus (Mrk.1,16-20). Bagi Markus, Gereja adalah persekutuan murid-murid Yesus. Sebagai murid, mereka mengikuti Yesus di jalan yang ditempuh Yesus sendiri yakni mewujudkan rencana keselamatan Allah dalam pelayanan kepada orang lain sampai pada wafat-Nya. Dan murid-murid yang mengikuti jalan Yesus ini juga menampilkan persekutuan baru yang didasarkan pada pelaksanaan kehendak Allah (bdk. Mrk.3,31-35), dan menampilkan pelayanan bagi sesama (Mrk.10,45).



IV. Kesimpulan Teologis Gereja sebagai persekutuan murid-murid selalu bersumberkan pada persekutuan dengan Allah Trinitas. Orientasi hidup mereka berdasarkan kepada pribadi Yesus yang memanggil dan memberi pegangan bagi hidupnya persekutuan. Wujud persekutuan murid-murid itu nampak dalam kebersamaan hidup sebagai murid yang melaksanakan tugasnya di dunia. Dengan pewartaan, kesaksian, pelayanan, dan hidup sakramental, mereka semakin menghadirkan bentuk Gereja persekutuan yang berkembang subur di tengah masyarakat, dulu dan sekarang. Perkembangan Gereja sebagai kesatuan para murid yang dulu telah terbentuk semakin mengejawantah dalam hidup sekarang ini yang dipenuhi dengan tantangan dan tuntutan zaman. Peran mereka sebagai murid yang mau mengikuti Yesus dengan segala risikonya diuji. Mereka harus mampu menghadirkan Kristus di dalam kebersamaan hidup di dunia.

Dalam penerapannya, model Gereja sebagai persekutuan murid-murid menjadi cita-cita Gereja Katolik di Indonesia yang hendak mengikuti Yesus dengan setia melalui bentuk persekutuan paguyuban-paguyuban. Persekutuan ini berciri alternatif profetis: terbuka, bersahabat, saling mangasihi secara tulus dan mengutamakan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Harapannya ialah supaya umat beriman kristiani sebagai pengikut Kristus mampu dan mau melibatkan diri dalam perutusan-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menegakkannya di tengah masyarakat. Dengan demikian Gereja sebagai persekutuan murid-murid Kristus semakin hidup di dunia.

0 komentar:

Poskan Komentar