Ads 468x60px

Quis Veritas Est?


Quis veritas est? Apa itu kebenaran? Pertanyaan seorang pejabat Romawi, Pontius Pilatus pada abad pertama ini bisa jadi merupakan titik berangkat dalam perjuangan kita untuk senantiasa mencari kebenaran. Merupakan fakta, kebenaran menjadi ‘kata sakti’ yang dicari pun diabdi manusia di era korban yang penuh dengan “yang destruktif” ini. Jelasnya, abad ke-20 yang baru saja lewat menjadi saksi bisu bagi “yang destruktif” itu. Di masa ketika konon peradaban manusia mencapai puncaknya, kita - sendiri atau berbondong-bondong - melihat dengan telanjang betapa yang destruktif itu begitu mudah muncul dan menyisakan luka sebagai sebuah antitesis kebenaran.

Ada banyak buku data, cerita dan fakta yang menjadi sebuah usaha mem’promosi’kan kebenaran dalam ruang publik, melalui pisau analisis filsafat-teologi. Usaha ini sendiri tak luput menggunakan dialektika ala Hegelian, antara refleksi pemikiran dengan aksi tindakan. Di tegaskan, bahwa sebuah keyakinan akan kebenaran sungguh menjadi kebenaran bila mendorong seseorang melakukan praksis kebenaran. Demikian pula sebaliknya, tindakan seseorang benar bila didasari dengan keyakinan akan kebenaran. Disinilah, sebuah kebenaran mesti terbuka terhadap ‘yang lain’ bila diadopsi di zaman yang berbeda. Adalah tindakan yang naif, bila orang memaksakan klaim kebenaran tertentu digunakan begitu saja di zaman yang berbeda. Namun, inilah yang seringkali terjadi di sekitar kita. Orang kehilangan historisitas dari suatu keyakinan akan kebenaran tertentu sehingga yang terjadi seringkali sebuah pemaksaan ”yang destruktif”.

Kebenaran: Sebuah Spirit!
Kekerasan selalu punya alibi. Dan itu tak semata lahir dari kebencian. Ia juga berbiak dari ambisi menertibkan, dari otoritas mengatur dan menundukkan yang-beda. Karena itu, kekerasan tak akan pernah berhenti di kamp Auschwitz. Dalam kehidupan yang terus berputar, kita akan menemukan kekerasan itu terulang di tempat lain, di “Auschwitz-Auschwitz” baru: Aceh, Kalimantan, Papua, Legian, Poso dsbnya.

Betul, kekerasan itu seperti sebuah spiral. Ia seperti bergerak tak putus-putus dari satu garis ke garis lain. Menyalakan api di sini, membubuhkan bara di sana. Seperti bakteri, ia merambah ke mana-mana dan, dengan atau tanpa sadar, membentuk cara pandang “kita” terhadap “mereka”. Kekerasan, bahkan bermula ketika kita memberanikan diri menyentuh Wajah sang lain, ketika terbersit kehendak untuk mengurai dan membiarkan kemisteriusannya tersingkap.

Di sinilah persis, refleksi kita semua terlebih para pejabat publik serta ahli filsafat dan teologi tidak hanya menjadikan kebenaran sebagai sebuah wacana, tapi kita diajak untuk menghadirkan kebenaran sebagai spirit, kedalaman jiwa yang mendasari persaudaraan sejati dan mengatasi kekerasan. Kebenaran dalam hal ini bukanlah sebuah definisi stagnan. Namun, kebenaran yang tetap terbuka terhadap kritik.

Kebenaran menjadi spirit berarti juga bahwa kebenaran sungguh menjiwai setiap pencarian kebenaran itu sendiri. Pencarian kebenaran itu mendorong seseorang untuk mengungkapkannya dalam kesaksian hidup. Kebenaran bukan melulu ditentukan oleh benar dan sahihnya premis-premis. Namun lebih dari itu kebenaran berkaitan dengan imperatif moral dan religius yang terungkap dalam sikap dan perilaku yang benar untuk tidak memanipulasi penjelasan yang hanya omong kosong. Dengan demikian mengabdi kebenaran akan menumbuhkan dalam dirinya a loving veneration of truth, sikap hormat yang dilandasi cinta akan kebenaran.

Kebenaran yang menjadi spirit itu juga nampak dalam rajutan tulisan dan sumbangan pemikiran beberapa tokoh historis, dari Thomas Aquinas, Walter Benjamin, Levinas, Bhattcharya, Averroes sampai seorang Mochtar Lubis. Dan, ide-ide filosofis-teologis mereka menjadi teman akrab dalam diskursus, ngobrol “ngalor-ngidul” seputar fenomena dan masalah-masalah yang terjadi di dalam masyarakat kita hic et nunc.

Thomas Aquinas sendiri pernah mengemukakan bahwa kebenaran harus senantiasa terus dicari, dipelihara dan dicintai sambil menentang segala kepalsuan cara bertindak dan berpikir yang sering meracuni. Dengan demikian, kebenaran adalah suatu kategori perintah yang mesti dijalankan. Sementara itu, bagi Walter Benjamin, tidak ada kebenaran yang netral. Kebenaran selalu mempunyai tendensi karena sejarah yang melatarbelakangi kebenaran tersebut. Dengan demikian, unsur historisitas menjadi sesuatu hal yang kental dari setiap premis kebenaran. Historisitas, bukan hanya apa yang ada di masa lampau, namun mendorong untuk maju ke masa mendatang. Adanya tradisi kebenaran di masa lampau, mendorong adanya kreativitas dan perubahan kebenaran, karena jelaslah dipandang dari pespektif Heideggerian, sejarah di sini bukan melulu sebagai narasi masa lalu (Historie), tapi sebagai sesuatu yang hidup (Geschichte).

Selain berpijak atas filsafat barat, kita bisa melengkapi mekar segarnya refleksi kebenaran dengan mengarahkan paradigma ke filsafat timur. Bhattacharya, seorang filsuf India abad 20, mencoba melakukan sintesis atas filsafat barat dengan filsafat Vedanta. Filsafat Bhattacharya sebenarnya mencerminkan refleksi diri manusia India dalam terang filsafat klasik timur dan barat. Penulis juga memberikan relevansi bagi Indonesia, di mana Mochtar Lubis dengan Manusia Indonesia-nya, sebagai pembandingnya.

Filsafat yang berdoa
La philosophie orante, filsafat yang berdoa, adalah ungkapan Maurice Blondel dalam bukunya La Pensee (1934). Ungkapan ini sendiri diteruskan oleh Aime Forest dalam tulisan kecilnya yang berjudul La philosophie. Ungkapan ini jelasnya hendak menegaskan hubungan mendasar antara metafisika dengan religiusitas. Bahkan, Forest menandaskan bahwa philosophie naturaliter pia, filsafat pada dasarnya adalah religius.

Di sini, hendak diyakinkan bahwa suatu kebenaran bukan sekedar soal pengetahuan, melainkan sebuah praksis. Dengan demikian pemikiran filosofis menjadi spirit dari setiap tindakan. Dialektika semacam inilah yang juga saya yakini secara pribadi. Sebagai seorang pecinta kebijaksanaan, diyakini dan disadari, bahwa filsafat tidak hanya merupakan himpunan pegetahuan, namun merupakan iman yang dihayati dan diper-saksikan. Dkl: Tampak, bahwa kebenaran sebagai sebuah spirit mendasari seseorang untuk bertindak. Kebenaran tersebut akhirnya akan membawa manusia pada sikap hormat kepada Sang Maha Benar, Allah sendiri. Sikap hormat ini terungkap dalam solidaritas dan penghargaan terhadap sesama umat manusia. Ireneus, seorang suci dari Lyon, mengatakan bahwa Gloria Dei vivens homo, kemuliaan Allah nampak dalam manusia yang hidup. Kata-kata inilah yang selalu dikutip salah seorang pengabdi kebenaran, yaitu almarhum Paus Yohanes Paulus II.

Kebenaran yang mendorong ke arah tindakan tercermin dalam bagian mengenai Hak Azasi Manusia. Sejalan dengan pemikiran Walter Benjamin, penulis mengatakan bahwa HAM dipahami pertama-tama sebagai imperatif dialektis-negatif. Dari historisitasnya terlihat bahwa HAM sebenarnya lahir dari kondisi penderitaan tertentu, bukan dari inspirasi filsafat tertentu. HAM lahir sebagai reaksi kolektif terhadap penderitaan yang dialami.

Menikmati jelajah dialektika seputar perjuangan mencari kebenaran ini, pertanyaan “quis veritas est?” kiranya mendapatkan jawaban filosofis sekaligus religius bahwa kebenaran itu bukan semata-mata pemikiran, melainkan juga sebuah praksis kehidupan yang berdasar cinta akan kebenaran. Dialektika semacam ini kiranya membuka wacana baru bagi masyarakat yang sedang ruwet-renteng mencari kebenaran. Sekali lagi, semoga hal ini bukan sekedar wacana belaka, namun sungguh menjadi spirit dalam bertindak. Dengan demikian, sebuah tindakan dapat dipertanggung jawabkan secara rasional demi suatu tata dunia yang lebih baik dan benar.

0 komentar:

Poskan Komentar