Ads 468x60px

Mempersatukan Umat Via Seni Paduan Suara



Pokok pembicaraan kita kali ini mengandaikan setidak-tidaknya dua hal yakni:
1. Urgensi mempersatukan umat
2. Kemungkinan seni paduan suara berperan dalam usaha mempersatukan umat tersebut.

Akhir-akhir ini di beberapa penjuru tanah air kita terdengar keinginan untuk memisahkan diri dan diberitakan adanya pertentangan, pertikaian, tawuran, perang suku atau apapun namanya. Di kalangan pemeluk agama yang sama pun bisa juga dan sudah terjadi perselisihan. Barangkali kali ini benar-benar kita harus mencari dan menyediakan dalam jumlah banyak lem perekat. Pendapat lain misalnya dari kelompok pencinta alam, berita pecah-belah mungkin terlalu di expose. Yang dikawatirkan oleh kelompok ini kalau suasana saling tidak suka jadi menular. Ibarat asap pasti ada apinya berita-berita perpecahan atau pun disintegrasi pasti ada sekian persen kebenarannya. Sebagai warga bangsa setiap orang mempunyai kewajiban untuk mengupayakan supaya hawa panas perpecahan bisa diturunkan suhunya. Daripada kesana kemari menjajakan isu yang belum tentu benar orang bisa mencari kata-kata yang menyejukkan, humor yang melegakan, atau nyanyian yang membuat lingkungan menjadi nyaman. Kalau kita mau melihat sekeliling kita maka ada cukup banyak kegiatan yang bisa ditawarkan:
 1. Sing with people: ini adalah satu bentuk paduan suara yang sangat cocok untuk remaja seperti anak-anak SMTK atau SMU yang sedang melangkah untuk bersosialisasi. Paduan suara yang jumlahnya bisa sampai 300 orang, mengisi liburan dengan mengadakan tour dan menyuguhkan nyanyian yang disertai gerakan-gerakan yang komunikatif. Mereka membawa alat musiknya sendiri, bahkan sampai ke merekam nyanyiannya sendiri. Kegiatan semacam ini di kawasan kita pernah diselenggarakan juga, yakni yang disebut orang Sing Out Asia. Daripada hanya membuat corat-coret grafiti yang mengotori tembok-tembok rapi mereka belajar mempersatukan diri dan membina komunikasi yang akrab dengan pengunjung konsernya yang biasanya dilaksanakan di halaman. Out door perfomance ini tentu saja sekaligus menciptakan community singing dan barangkali secara tidak langsung sebuah singing community.

2. Chõre atau mega paduan suara atau kor-kor: gabungan antara banyak paduan suara seperti misalnya Fischer Chõre yang dipimpin oleh seorang dirigen yang bernama Fischer. Kor-kor ini menyanyikan lagu-lagu ringan dan gembira karena tujuannya ialah untuk bersenang-senang. Dalam ulang tahun kota Freiburg misalnya, mereka tampil dalam jumlah 400 orang. Pada kesempatan lain bisa terjadi sampai 2500 orang. Di Indonesia seringkali ada peristiwa dengan banyak penyanyi.

3. Kor adat: acara nyanyi tari seperti di NTT, Tanimbar, Irian dan tempat-tempat lain memang bukan paduan suara untuk ditonton tetapi untuk dilaksanakan bersama-sama.

4. Pesparawi: ada yang menyebut pesta, festival, pekan paduan suara gerejawi. Kegiatan ini merupakan kesempatan temu muka sekaligus berlomba.

5. Happening: biasanya kehadiran paduan suara mendukung penyanyi-penyanyi terkenal dengan suasana pemujaan kepada dewa-dewi bintang yang hadir untuk diperistiwakan.

6. Ibadat Pontifical: biasanya pada hari Natal dan Paska di depan gereja Santo Petrus atau di mana-mana pada acara kunjungan Sri Paus ke sebuah negara. Paduan suara selain memperindah ibadat juga berperan sebagai cantor atau pemandu nyanyian umat.

Tentu saja masih ada banyak contoh-contoh yang lain, namun dari contoh-contoh yang di atas sudah nampak kemungkinan atau kemampuan paduan suara untuk menghimpun dan menyatukan banyak orang. Memang masih ada banyak hal yang bisa melaksanakan peran serupa, mungkin lebih efektif dari paduan suara. Misalnya acara bagi-bagi hadiah. Ibarat ada gula ada semut, acara bagi-bagi hadiah, pasar murah selalu menarik banyak orang. Untuk anak-anak dunia fantasi, play station, lomba gambar selalu memikat. Untuk umum keramas masal juga menarik orang dengan alasan yang sama. Sepeda gembira, jalan sehat, senam jantung mengacu kepada kebutuhan akan kesehatan. Bahkan ada yang mengatakan agama baru yang sedang ngetrend ialah pemujaan pada kebugaran jasmani.

Kembali kepada pembicaraan kita tentang kor, dalam drama Yunani pun partai orang banyak disebut kor sampai-sampai suaranya begitu dipercayai sebagai suara Tuhan. Vox populi vox Dei me¬mang bisa menggusur apa atau siapa saja. Mudah-mudahan bukan suara sumbang yang menggalang persatuan. Memang kadang-kadang orang banyak bisa dihasut oleh provokator sehingga baru saja mereka menyanyikan Hosanna lalu berubah lagunya jadi Salibkanlah Dia. Jadi dalam mempersatukan umat pun harus ada tujuan yang baik dan benar. Orang banyak tentu ingin menyampaikan perasaannya terutama sekali penderitaannya. Ada demo yang spontan ada pula yang direkayasa. Ibarat paduan suara diperlukan dirigen yang baik.

Sebetulnya apabila kita melihat paduan suara secara an sich, paduan suara sendiri perlu berkonsolidasi mengingat:
1. Banyak penyanyi belum tahu apa itu paduan suara.
2. Banyak penyanyi tidak mempunyai sense of belonging atau perasaan memiliki: mereka ikut beberapa paduan suara sekaligus.
3. Paduan suara belum mentradisi.

Sesungguhnya seni paduan suara sudah sangat mengikat:

1. Ditinjau dari segi melodiknya, cantus firmus harus jelas dan dulu dinyanyikan oleh tenor yang berasal dari kata Tenere yang artinya memegang. Artinya karena belum ada catatan atau alat rekam maka perlulah penyanyi mengingat melodinya supaya jangan berubah. Apabila kemudian ada contra tenor altus dan contra tenor bassus, kita melihat bahwa secara vertikal ruangan-ruangan yang ada di atas dan dibawah melodi pun akhirnya dipersatukan.

2. Dalam melodi sendiri keinginan untuk tetap dan keinginan untuk berubah juga diseimbangkan. Dalam melodi biasanya juga ada sebuah puncak di mana seluruh rasa perasaan manusia diajak untuk menuju tujuan tersebut dan akhirnya kembali kepada dirinya sendiri.

2. Ditinjau dari ritmiknya, irama dan tempo perlu dijaga oleh paduan suara karena itulah yang memandu kekompakan.
a. Tempo lambat bisa mewakili keagungan ataupun kesedihan, ketidak berdayaan.
b. Tempo sedang mewakili rutin
c. Tempo cepat mewakili semangat perjuangan dan sebagainya.

3. Ditinjau dari harmoniknya: harus ada keseimbangan antara nada dasar, nada terts, nada kwint serta oktaf. Ini semua tidak terlepas dari upaya untuk menyatukan masing-masing suara untuk kemudian memadukannya dalam paduan suara. Apabila ada harmoni tentu saja ada disharmoni seperti apabila ada konsonan tentu saja ada disonan. Musik modern mungkin lebih menginginkan idiom-idiom baru seperti dodekaphoni, namun para penyanyi haruslah memahami dan menguasai yang konsonan lebih dulu baru kemudian mencoba yang disonan. Dalam hidup sehari-hari mungkin perlulah orang bergaul dengan rapat dulu baru kemudian sedikit bertengkar. Tentu saja dengan pesan bertengkarnya sekedar supaya nanti bisa lebih akrab lagi dan bukan saling membunuh. Disonan yang disusul dengan konsonan ibarat mencubit yang disusul dengan minum es bersama.

4. Ditinjau dari segi dinamiknya: selain ada dinamika kurve dan teras ada juga dinamika ruang dan dinamika ekspresi. Dinamika kurve perlu mempersatukan penyanyi-penyanyi yang mempunyai maksimum volume yang sama, apabila tidak beberapa penyanyi akan stagnant dan yang lainnya didakwa terlalu menonjol. Model concerto grosso mengandaikan dipersatukannya peran kecil dan peran besar yang membentuk teras yang indah. Dinamika ruang memang mengkelompokkan beberapa jalur suara tetapi prinsipnya juga menyusun bangunan yang satu walau di dalamnya ada unsur saling mengalah dan bergantian menonjol.

5. Ditinjau dari segi agogiknya: keadaan yang tenang dan kurang bergairah bisa secara bersama-sama dipersatukan dalam accelerando yang menyepat. Suasana tidak sabar untuk berubah atau bergerak menuju klimaks bisa sangat terasa apabila para penyanyi sungguh satu dalam agogik.

6. Ditinjau dari segi kolorit: banyak juri mengincar choral sound dan blending yang sempurna. Lagi-lagi kalau kor tidak mau bersatu akan kedengaran suaranya terpisah sendiri-sendiri. Warna suara yang pas akan mempertajam penampilan karakter naskah atau dramatis personae yang dipaparkan.

Dari paparan mengenai ke-6 unsur musik di atas kita melihat bahwa di dalam dirinya sendiri paduan suara masih harus berjuang dan bersatu untuk menjunjung dan merealisir seni paduan suara yang dicintainya. Dari pokok pembicaraan di atas sepertinya paduan suara sudah mendapat pesan sponsor atau tugas titipan untuk menyatukan umat. Apabila yang dimaksudkan ialah dalam skala kecil ya anggota kor itu sendiri atau masyarakat paduan suara di sekitarnya maka mungkin tugas itu masih bisa terlaksana.

Namun apabila paduan suara betul-betul ditugasi untuk jadi lem umat, kiranya tidak ber-kelebihan kalau dikatakan hanya dengan susah payah paduan suara bisa ikut ambil bagian.

Biasanya kalau ada pentas paduan suara atau ada paduan suara mau pentas orang selalu bertanya dalam rangka apa? Padahal dalam olah seni suara perlu ada proses latihan yang diakhiri dengan pentas atau rekaman. Apabila orang sungguh-sungguh ber-pikir seni untuk seni bukan seni untuk rekayasa apa saja maka paduan suara senantiasa bisa berpikir tentang beberapa hal sebagai berikut:

1. Naskah paduan suara: paduan suara berkumpul karena ada naskah yang bagus. Model kor proyek yang pernah kita dengar memang seni paduan suara yang berupa naskahlah yang menyatukan penyanyi-penyanyinya, tentu saja dengan pengandaian bahwa para penyanyi sudah bisa menghargai repertoire yang baik.

2. Teknik kor: paduan suara merasa perlu berkumpul, bersatu, hadir di dalam setiap latihan karena ingin meningkatkan teknik nyanyinya, terutama teknik paduan suaranya.

3. Akustik: paduan suara setelah mempunyai naskah yang baik dan teknik yang mantap merasa perlu untuk hadir dan berada di ruangan-ruangan bukan yang terutama bergengsi atau berdekor indah tetapi mempunyai akustik yang baik, karena ini akan memberikan pengalaman musikal yang tak ternilai harganya. Apabila para penyanyi lebih memikirkan make up atau mengecat rambutnya daripada mencoba ruangan, maka bisa dipastikan suaranya tidak akan siap untuk tampil dan hadir di ruangan pentas.

Tentu saja sebuah perkumpulan paduan suara bisa dan sudah menentukan tujuan organisasinya, namun seringkali pihak-pihak di luar paduan suara yang menganggap himpunan ini hanya merupakan salah satu jenis UKM yang bisa didorong kesana-kemari, berusaha memanfaatkan paduan suara untuk sesuatu tugas yang dia tidak mampu. Oleh karena itu orang harus secara proporsional memakai sesuatu untuk sesuatu. Misalnya kalau terjadi kebakaran biasanya orang jadi panik lalu apa saja akan dipakai untuk memadamkan api. Ini bukan berarti bahwa paduan suara tidak boleh berdarma bakti untuk meredakan disintegrasi. Hanya saja kalau paduan suara sebagai kelompok tidak mampu banyak bicara dalam mempersatukan umat yang lebih luas, minimal dia harus mampu mempersatukan orang dalam kelompoknya karena itu memang perlu untuk seni itu sendiri dan kalau itu tercapai dalam skala kecil dia juga sudah menyumbang sesuatu untuk persatuan umat.
Ada baiknya langkah-langkah kecil dicermati dan dibakukan sehingga tercipta suatu tradisi baik yang berguna untuk perkembangan seni paduan suara di masa mendatang. Sesuatu yang mapan memberikan kepercayaan diri dan bisa menjadi tonggak aktivitas dalam kurun waktu yang tidak pendek.

4. Di bawah ini masih ditambahkan beberapa contoh yang bersifat mempersatukan:
a. Coloratur bukan hanya menyatukan nada-nada tapi juga menyatukan nafas penyanyi.
b. Quod libet bukan hanya menyatukan macam-macam melodi tetapi juga etnis yang memiliki melodi-melodi tersebut, misalnya Sakura dan Piso Surit, Sur le pont d’Avignon dan Tiritomboli, Auwee miouwee dan Amacing grace.
c. Campursari memadukan bukan hanya alat musik barat dan tradisional tapi juga lagu India dan lagu Jawa.
4. Singers bernyanyi bersama menciptakan suasana vokal group atau paduan suara, bukan hanya memadukan suara penyanyi tapi juga memadukan tempat berpijak tanah dan air seperti dalam lagu Di bawah tiang bendera.


NB:
Dari contoh-contoh di atas ada aktivitas yang memang tendensius mengacu pada dunia paduan suara, tapi ada juga yang seperti tidak sengaja menciptakan suara yang berpadu.

Akhirnya entah secara sempit di dalam dirinya sendiri maupun dalam forum kiprah yang dikehendaki oleh masyarakat atau pun lingkungannya, paduan suara dengan seninya boleh berbangga bahwa walaupun tidak sesukses sepak bola, pelan-pelan sudah ikut menyumbang dalam kebutuhan mempersatukan umat yang dirasakan oleh orang-orang yang berkehendak baik.

@Omah Poenakawan.

0 komentar:

Poskan Komentar