Ads 468x60px

Musik Gereja Untuk Zaman Sekarang dan Masa Depan



Musik Gereja di masa lampau
Sejak dulu Musik Gereja mendapat tempat penting di dalam liturgi Gereja Katolik berupa lagu Gregorian dan sejak abad 15 berupa musik polifon semuanya dengan bahasa Latin. Maka cukup besarlah khazanah lagu Gregorian dan lagu polifon berupa misa dan motet dari abad ke abad cukup besar. 

Namun sejak Konsili Vatikan II (1962-65) terjadi suatu perubahan: bahasa Latin diganti dengan bahasa pribumi. Suatu perubahan drastis dengan akibat yang besar: terjadi suatu vakuum lagu liturgi yang mula-mula diisi dengan terjemahan dari naskah lagu yang semula diciptakan dalam bahasa Latin ke dalam bahasa Indonesia. Namun ternyata ini tentu kurang memuaskan, karena kesatuan antara bahasa Latin dengan lagu asli serta keindahan bunyi asli tidak dapat ditirukan / dialihkan ke dalam bahasa Indonesia.

 Hal yang sama berlaku untuk nyanyian-nyanyian yang kemudian diimpor dari Gereja Protestan Jerman dan Belanda (lihat buku Puji Syukur), dari Gereja Anglikan Inggris dan AS (lihat lagu rohani). Terjemahan syair Jerman dan Inggris ke dalam bahasa Indonesia tidak mudah. Dan bila dipakai versi Inggris atau Jerman kita tetap melawan keinginan Gereja yakni untuk merayakan liturgi dalam bahasa kita sendiri.

Kalau kita jujur, harus kita akui bahwa dalam nyanyian rohani berbahasa Inggris kita pertama-tama menikmati musiknya, sedangkan syair menjadi nomor dua, bukan? Padahal menurut Konstitusi Liturgi art. 112 yang penting dalam lagu liturgi adalah syairnya.

Langkah-langkah kreatif
Namun mengapa kita hanya berkiblat pada masa lampau (lagu Latin) dan pada luar negri (yang berbahasa Inggris)? Akibatnya dari semuanya itu suatu stagnasi dan frustasi yang melumpuhkan semangat. Padahal ada jalan alternatif: yakni secara kreatif menciptakan nyanyian baru dalam bahasa kita sendiri (bahasa Indonesia) dan sesuai dengan hidup masyarakat kita. Inilah yang menjadi program dari Pusat Musik Liturgi Yogyakarta (PML), yakni inkulturasi lagu liturgi.

Tanggapan terhadap lagu inkulturasi
Madah Bakti dalam edisi tahun 1980 memuat 150 lagu khas Indonesia / inkulturasi yang selama 36 tahun makin merakyat di Gereja Katolik Indonesia: lagu Flores seperti "Misa Dolo-dolo" (MB 170, 184 dst.) disukai juga di Nias, di Kalimantan dan di Jawa. Sebaliknya lagu khas Jawa "Raja Agung" (MB 510) tidak hanya dipakai di Jawa tetapi juga dinyanyikan a.l. di Flores. "Misa Manado" (MB 182 dst.) digemari juga di Sumatra maupun di NTT. Apalagi lagu "Bawalah persembahan" (MB 228) menjadi lagu kesayangan di seluruh Indonesia.
Namun tidak semua umat suka akan lagu inkulturasi. "Primitif, tak bermutu", "kurang khidmat", "dari dunia kafir", demikianlah kritik yang kadang-kadang diungkapkan. Namun betulkah demikian? 

Dari segi komposisi lagu Taizé yang diulang-ulang cukup sederhana; namun mutunya nampak dalam penghayatan / merenungkan isinya, dalam cara bernyanyi sehingga banyak umat di Indonesia pun senang dengan lagu-lagu Taizé. Apakah hal ini tidak berlaku juga untuk lagu inkulturasi? "Khidmat" itu bukanlah suatu segi dalam lagu,

tetapi tergantung dari orang yang bernyanyi. Suasana doa tidak timbul dari hati manusia!
Dulu para missionaris mengecap lambang-lambang dan alat musik tradisional sebagai "kafiriah", "dari setan".

Namun betulkah nenek moyang yang diundang dalam tari Tortor Batak Toba dapat dipandang sebagai "setan"? Betulkan gamelan Jawa "kafiriah" karena berabad-abad berkembang di istana Sri Sultan? Konsili Vatikan II mengajar kita untuk menghargai nilai-nilai yang tumbuh di luar Gereja: "Hendaknya musik yang memainkan peran penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat mendapat penghargaan selayaknya dan tempat yang sewajarnya dalam membentuk sikap religius maupun dalam menyesuaikan ibadat dengan sifat-perangai mereka". (Konstitusi Liturgi art. 128). "Gereja mampu menjalin persekutuan dengan pelbagai pola kebudayaan. Dengan demikian bait Gereja sendiri maupun pelbagai kebudayaan diperkaya." (Gaudium et Spes art. 58).-

Ternyata dalam musik gereja Katolik proses ini sudah berjalan. Dalam 48 lokakarya komposisi lagu inkulturasi[1] yang diselenggarakan oleh PML sejak tahun 1984 diciptakan hampir 1400 nyanyian baru. Dengan berpangkal langsung dari budaya hidup setempat dan didukung oleh para pakar budaya maupun teologi / liturgi serta ahli-ahli musik, maka terjaminlah mutu dari lagu baru ini berupa syair yang berbobot, dengan pengoalah motif yang khas serta dengan aransemen yang berseni. Tentu semua lagu baru diuji dan diseleksi sebelum diterbitkan misalnya dalam buku Madah Bakti edisi 2000[2] yang memuat 290 nyanyian baru yang dihasilkan dalam lokakarya-lokakarya tsb.

Tujuh alasan untuk lagu inkulturasi
1. Lagu inkulturasi adalah keinginan Gereja Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-65) untuk memperkaya khazanah lagu liturgi dengan unsur-unsur budaya serta sekaligus untuk memperkaya budaya ybs. dengan kreasi baru.

2. Lagu yang khas Jawa, Sunda, Batak, Flores, Timor, Toraja, Maluku, Papua dsb. memperkuat identitas orang Katolik dari suku ybs. Karena doa kita di hadapan Tuhan paling jujur bila hati kita ikut berdoa.

3. Lagu inkulturasi akan memperlihatkan kepada masyarakat non Kristen bahwa Gereja Katolik dan anggota-anggotanya sungguh berakar di Indonesia – bukanlah suatu agama embelan dari luar negri.

4. Syair lagu inkulturasi diciptakan dalam konteks hidup masyarakat, maka langsung dapat dimengerti – lain dengan banyak lagu Barat yang bercorak rasional.

5. Lagu inkulturasi adalah "katholik" / menyeluruh: kita dapat belajar dari penghayatan iman / cara berdoa suku lain; menjadi satu Gereja bersama mereka.

6. Lagu inkulturasi dapat diiringi dengan iringan yang otentik: dengan alat musik tradisional (lengkap atau tidak lengkap); namun bila perlu dapat juga diiringi organ dengan iringan yang khusus.

7. Kebanyakan lagu inkulturasi bersifat ritmis. Maka sangat cocok untuk generasi muda hingga dapat bersaing dengan lagu pop rohani.

Penutup
Bagaimana caranya untuk mengenal lagu inkulturasi? Dasarnya adalah kemauan untuk mencoba sebuah lagu dengan gaya daerah tertentu sambil mempelajari ciri khasnya dalam tangga nada, dalam cengkok lagu, dalam pola irama, dalam iringannya.
Setelah lagunya dikenal perlu kita coba mencari "mutiara" / ungkapan iman yang tertanam di dalamnya: dengan mempelajari syairnya dan hubungannya dengan konteks hidup suku ybs.; bagaimana arti syair dan iman itu diungkapkan dalam lagu dan irama, dalam aransemen dan iringannya. Tentu sangat berguna bila terdapat tambahan masukan tentang hidup masyarakat ybs.
Dengan demikian cakrawala kita akan menjadi makin luas dan sekaligus selera kita akan berkembang. Ini membutuhkan waktu. Namun bila kita sungguh-sungguh berusaha untuk menggali kekayaan yang tertanam dalam musik inkulturasi, maka pasti akan ada hasil. Coba saja.

Romo Jost Kokoh Pr dkk
 


0 komentar:

Poskan Komentar