Ads 468x60px

NATAL: Sejuta Kisah dan Sejuta Kasih



Kai ho logos sarx egeneto
Kai eskennoosen en hemin,
Kai etheasametha ten doxan autou,
Doxan oos monogenous para patros,
Pleres kharitos kai aletheias

dan Firman itu telah menjadi daging
dan berkemah di antara kita
dan kita telah melihat kemuliaannya
kemuliaan anak tunggal Bapa
penuh kasih-karunia dan kebenaran (Yoh 1:14)


Adapun kutipan di atas merupakan nukilan dari bacaan Injil dalam misa pagi perayaan Natal yang akan kembali kita kenangkan pada akhir bulan ini. Misa itu merupakan misa terakhir dalam rangkaian perayaan Natal, yang dimulai pada tengah malam, kemudian fajar dan akhirnya pagi. Bersama dengan bacaan dari Yes 52:7-10 yang menyerukan betapa indah di bukit-bukit langkah-langkah orang yang membawa kabar sukacita, Allah menghibur umatNya disaksikan seluruh alam semesta dan Ibr 1:1-6 yang menegaskan bahwa Allah sudah dengan aneka cara menyapa manusia, tetapi akhirnya menyapa dalam diri AnakNya yang terkasih, bacaan misa pagi itu memberikan cakrawala yang amat luas bagi karya keselamatan Allah. Cakrawala sejarah dunia yang direnungkan dengan sikap kontemplatif dan doa yang amat kusyuk: ”Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud” (Luk 2:11).
 Yah, natal (natus:kelahiran) memang merupakan peringatan kelahiran Yesus Kristus, di kandang Betlehem 2000 tahun yang lalu. Lewat kacamata historis: Gereja meyakini bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, antara tahun 6 atau 7 sebelum Masehi. Adapun tanggal 25 Desember, diresmikan baru pada tahun 400 sesudah Masehi oleh Paus Yulius I. Penetapan tanggal ini diperkirakan menggantikan perayaan Dewa Matahari (Pesta Kelahiran Sang Surya Yang Tak Terkalahkan atau Sol Invincibilis) yang sudah populer di Kekaisaran Romawi waktu itu.

Tapi, yang perlu diingat bahwa Natal bukan hanya kenangan masa lalu, kenangan historis akan kelahiran Yesus. Natal mestinya menjadi kelahiran rahmat dalam kehidupan kita semua. Dan lebih penting lagi: Natal adalah perutusan kita: kembali ke fitrah, membangun tata dunia baru yang lebih baik.

Seperti ramalan Celestine, bahwa pelbagai pengalaman, cerita sejarah natal bahkan hidup kita itu bukanlah sekedar kebetulan belaka. Natal setiap 25 Desember juga bukanlah sesuatu yang kebetulan. Natal adalah hari raya penuh makna yang memikat, sebab pada hari itu dirayakan kelahiran seorang bayi. Sosok bayi selalu bermakna pun memikat, apalagi bayi yang delapan hari kemudian diberi nama Yesus ini, “menjadikan segala-galanya baik” (Markus 7:37). Dan, tugas kita sekarang adalah bagaimana menajamkan pesan Natal ditengah pelbagai ketimpangan sosial yang carut marut kini. Sayang, benar-benar sayang kalau pesan Natal betul-betul….nyaris tak terdengar.....

Dan, hal inilah yang coba digali lewat sajian utama sederhana menyambut natal tahun ini. Di sinilah ditampilkan aneka makna natal bagi aneka jenis orang, dari anak sekolahan, perantauan, buruh, pedagang di pasar Beringharjo, anak yatim piatu sampai makna natal bagi seorang anak jalanan.

Guntur Membaca Natal
Natal hampir tiba.Setiap orang mengartikan natal berbeda-beda.Seperti halnya salah seorang anak jalanan yang bernama Guntur. Dia berprofesi sebagai pengamen sekaligus pelajar kelas satu di salah satu STM di jogja. Dia yang menjalani sebagai seorang pelajar sekaligus pengamen tentulah menjalani hidup yang maha berat. Dia hanya percaya Yesus itu Maha Baik, Maha Pengasih,dan Maha Penyayang, meskipun dengan keadaan serba terbatas seperti saat ini.Natal bagi dia adalah saat di mana orang saling berbagi kasih, tanpa memandang agama, ras, suku, dan golongan.Harapan dia di natal ini,semoga semua manusia di muka bumi ini saling peduli. Sebab dijaman yang susah ini banyak orang yang saling acuh tak acuh/cuek. Natal jelas baginya, bukanlah semata-mata pesta, kemeriahan atau acara hura-hura karena bagi dia, natal adalah hari yang penuh kesederhanaan dan rasa syukur. Seperti halnya Yesus yang lahir dikandang hewan yang sangat penuh dengan kesederhanaan,rasa syukur dan penuh kebahagiaan, begitu juga yang ada dalam benak Guntur. Meskipun dia hidup dengan kesederhanaan, dia yakin pasti akan mendapatkan kebahagiaan. Kasih Yesus sangatlah besar dan dia yakin Yesus selalu mendampinginya dalam keadaan susah maupun senang. Harapannya, semoga Natal ini akan menjadi natal yang penuh kebersamaan, kasih sayang karena tidak adanya kesombongan, kemurkaan, penindasan, kekerasan, dan kebohongan.Yah….semoga ya Guntur…. .

Natal: " Kasih yang Menyelamatkan".
Bagi Jatmiko, seorang bapak yang berprofesi sebagai pekerja pabrik rokok, Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia.Di dalam kehidupan, Jatmiko menyadari kelemahan dan kekurangannya. Ia berusaha berani mengakuinya di hadapan Tuhan, karena dengan demikian aa akan diberikan kekuatan supaya dapat lebih setia pada bimbingan dan teladan-Nya. Kasih karunia Tuhan Yesus nyata dalam kehidupannya, baik dalam keluarga, sesama, dan bahkan dalam dirinya sendiri. Ia sendir merasa bahagia dan bersyukur setiap harinya karena apa yang didapat dari Tuhan merupakan keselamatan baginya. Tuhan menyelamatkannya pada saat-saat di mana ia jatuh dalam pencobaan yang baginya terasa amat berat untuk diselesaikan. Tapi ia merasa ada tangan-tangan Tuhan yang menjamahnya lewat keluarga dan sahabat-sahabatnya . Dari situlah ia menemukan kasih yang besar yang baginya sungguh merupakan keselamatan. Dan jika nyatanya Yesus lahir disini, dalam lampin suci disini, di dalam hati ini, masih adakah yang kau takutkan lagi? Begitulah katanya.

Suara Anak Rantau:
Seorang mahasiswa rantau, Benyamin Dermawan (31 tahun), juga membagikan sharingnya soal Natal:
"Terus terang udah 9 tahun aku ndak pernah pulang dan kumpul dengan keluarga pada waktu Natal. Dari umur rasanya udah ketuaan buat harus makan kue Natal bersama dan memakai baju baru di hari raya. Karena aku anak bungsu dan satu-satunya anggota keluarga yang belum menikah, aku cukup merasa kesepian kalo di rantau orang harus melihat lampu-lampu Natal dan mendengar lonceng gereja yang pasti asing buatku. Sedih juga, melihat keluarga-keluarga (orangtua dan anak-anak) ikut perayaan misa secara bersama-sama.Tapi mau bagaimana lagi? Keluargaku juga sepertinya udah terbiasa dengan ketidakhadiran aku, kecuali mamak (ibu) yang pasti setiap Natal berusaha menghubungiku dimanapun aku berada. Yang jelas aku sendiri punya ritual spesial setiap malam Natal. Sekaleng Coca Cola(kadang juga botol ceper), sebungkus rokok dan sepotong blackforest, aku senang menyendiri. Tersenyum kalo ingat masa-masa kecilku bersama-sama abang-abang dan kakak-kakak juga orang tua.Tapi juga terenyuh kalo sadar dengan kondisi aku udah sekian lama ndak ngumpul dan mabuk-mabuk kecil dengan mereka.

Yang jelas, natal bagiku menjadi balik tentang sedih dan gembira, sekaligus menjadi semacam penyegar jiwa bahwasannya Tuhan adalah anggota keluarga yang selalu ada dan pasti disamping kita, kapan dan dimanapun kita melewatkan malam Natal itu, jadi, kapan dan dimanapun, Natal selalu ada dan pasti terasa dalam hati. Selamat Natal, Tuhan! Selamat natal juga buat semuanya.

Natal: Pengutusan dan Introspeksi!!
Memang kebanyakan orang Katolik menganggap bahwa Natal hanya sekedar memperingati hari kelahiran Juru Selamat kita. Ke gereja, selesai, lalu makan-makan mungkin merupakan hal yang terpikir di benak sebagian besar dari kita beberapa saat sebelum Natal tiba. Tante Erma panggilan akrabnya, memiliki pandangan yang berbeda tentang Natal daripada kebanyakan orang. Dari sudut pandang kami, tante Erma adalah sosok yang berpikiran ke depan tentang imannya yaitu iman Katolik.

Pada satu kesempatan kami mengobrol dengan Tante Erma tentang makna dari hari Natal bagi dia. Bagi dia, Natal berarti suatu pengutusan untuk membawa orang-orang yang belum pernah mendengar dan mengetahui Keselamatan serta orang-orang yang telah mengetahuinya namun tersesat kepada situasi di mana mereka dapat, dan mau bersaksi atas keselamatan. Baginya, Natal juga bermakna suatu kesempatan di mana kita berintrospeksi diri tentang berapa banyak orang yang telah kita ajak untuk mengenal, dan bersaksi atas Keselamatan. Begitu dalam makna Natal bagi dirinya, sehingga membuat diri kami takjub, dan tergerak kembali untuk memaknai Natal lebih dari sekedar ke gereja, pulang lalu hura-hura. Sebuah oto-kritik bagi kami, sebagai orang muda juga tersadar bahwa sejak kami dibaptis sebenarnya sudah diutus untuk melakukan hal serupa, namun jarang bahkan tidak pernah dilakukan. Kami lalu berpikir, berapa banyak orang yang telah kami bawa untuk bersaksi tentang Keselamatan, apa yang telah kami lakukan untuk mengupayakan hal itu, dan mengapa kami tidak melakukannya. Melalui perkataan Tante Erma tadi, kami merasa diutus kembali untuk bersaksi dan mengajak orang lain untuk bersaksi pula tentang Keselamatan dan arti dari Keselamatan tersebut.....Semoga anda juga....

Natal di Mata Anak SMU.
Yoan, sapaan akrab dari siswa yang bernama lengkap Yohanes Yohanes Alfian Bayu Adithya (siswa SMU Regina Pacis Surakarta, kelas 3 IPS),mengungkapkan bahwa Natal baginya adalah sebuah momen penting setahun sekali yang sangat penting bagi umat kristiani untuk dirayakan.Sebuah jenjang baru untuk memulai menjalani kehidupan baru di tahun yang baru. Selain untuk menghormati kelahiran Yesus Kristus Sang Juru Slamat, Natal dijadikannya sebagai waktu untuk kumpul dalam keluarga. Dia mengaku, kalau tahun-tahun sebelumnya dia mengahabiskan perayaan natal dengan keluarga atau temannya, namun untuk 2 tahun belakangan ini, nampaknya menjadi beda baginya. Dia merayakan Natal dengan kekasih hatinya (yang katanya mereka memulai menjalin hubungan sekitar bulan Juni lalu).Kebetulan dan syukurlah mereka sama-sama seiman, jadi merayakan Natal bersama di satu gereja bukan masalah. Sekarang yang menjadi pertanyaan, setelah ada orang terkasih yg menemaninya di hari Natal, apakah dia sekhidmat dulu dalam menjalani misa natal, atau malah mementingkan duduk berduanya dan sesekali berbicara bisik-bisik?Jawabnya adalah dia mengaku masih sekhidmat dulu, tapi kalau ada kesempatan untuk bisik-bisik sedikit mengapa tidak? Katanya sambil bergurau…

Lain halnya dengan Yakobus Galih (siswa SMU Yosef Surakarta, kelas 3 IPA) yang biasa disapa Galih ini. Siswa perantauan asal daerah Wonogiri yang menimba ilmu di Solo ini mengatakan bahwa natal baginya adalah sebuah perayaan sakral yang harus di rayakan dengan khidmat untuk menyambut Yesus Kristus yang lahir ke dunia.Dia juga bilang kalau Natal adalah saat dimana dia mengkoreksi dirinya sendiri tentang perbuatan baik apa yang telah dilakukannya dalam setahun ini dan semakin meningkatkan imannya mengingat dia bukan anak kecil lagi yang setiap ke gereja hanya untuk pamer baju baru, sepatu baru dsbnya. Selain itu natal baginya juga merupakan salah satu hari libur dalam satu tahun di mana dia bisa pulang kerumah orang tuanya di Wonogiri untuk bersuka ria dan berkumpul. Selain bersilahturahmi antar keluarga, dia dapat menyantap hidangan yang sangat lezzzat yang biasanya dihidangkan pada hari itu. Maklumlah, selama menjadi adak kost kondisi keuangannya tidak memungkinkan utuk membeli makanan "mewah", akunya. Secara singkat, ia katakan, Natal adalah identik dengan hari kemenangan dan suka cita bagi hidupnya. Syukurlah…. ..

Natal: Sebuah Ritual Tahunan?
Hujan turun dengan deras pada hari Sabtu malam ini, sekitar pukul 21.30 WIB. Memang hal ini sangat wajar dan akan selalu seperti ini setiap tahun. Pada bulan Desember akan sering turun hujan karena antara bulan Oktober sampai April adalah musim hujan, begitu yang saya dapatkan sejak duduk di bangku SD . Bulan Desember bukan hanya bulan dimana akan sering turun hujan,akan tetapi bulan Desember adalah bulan yang sangat berarti bagi Umat Kristiani di seluruh dunia karena pada tanggal 25 Desember mereka akan memperingati hari Natal atau hari lahirnya sang Juru Selamat (Yesus Kristus).

Saya teringat pada perkataan seorang teman (yang kebetulan juga menjadi ketua pada sebuah kelompok “Keluarga Mahasiswa Katolik“), ketika kami berdua asyik ngobrol ngalor-ngidul beberapa saat sebelumnya. Ketika saya menanyakan apa makna hari Natal bagi dia, menurutnya Natal hanyalah sebuah ritual tahunan bagi umat Kristiani dalam memperingati kelahiran Yesus Kristus yang asik untuk digunakan berkumpul dengan keluarga,saudara dan atau teman-teman,dan dia lebih suka kalau tidak merayakan apapun.

Sejenak saya jadi merenung memikirkan jawaban yang diberikannya. Apakah Natal adalah sebuah ritual tahunan yang seperti juga musim hujan yang akan selalu datang pada saat-saat tertentu di musim penghujan setiap tahunnya? Akan tetapi bagaimana dengan begitu banyak umat Kristiani di dunia ini yang berpandangan bahwa hari Natal adalah hari yang sangat istimewa karena itu adalah hari lahirnya sang Juru Selamat (Yesus Kristus)? Lalu,apakah makna dari hari natal itu sebenarnya? Bagi saya, bagi anda dan bagi kita semua?

Natal bagi Mbok Beringharjo
Mbok tua ini sehari-hari adalah penjual jajanan pasar di pasar tradisional Beringharjo. Secara sederhana, ia merasakan makna Natal baginya adalah kehadiran Gusti Yesus yang hidup dan sungguh ada bagi mereka. Sharing inilah yang menginspirasi kami untuk membuat puisi kecil tentangnya:
Menjual makanan yang sederhana
dengan harga terjangkau oleh uang kita
Itulah makna natal bagi mereka

Makna Natal bagi kita
Juga makna Natal bagi mereka
Sidhone
Wungune
Gusti Yesus
Jadi- NYA.

Natal dan Wiraswatawan
Pak Yosep, seorang wiraswasta yang kini bertempat tinggal di Jl. Taman Siswa, adalah contoh nyata dari realitas kehidupan yang senantiasa menjadi tantangan seorang Kristiani. Ketika diwawancarai di sela sela kesibukannya, beliau sanggup menangkap makna kelahiran Kristus ke muka bumi ini.Bagi beliau, Natal lebih merupakan moment untuk menyelami betapa Kristus sungguh nyata hadir dalam kehidupan keluarga, dan usahanya.

Pak Yosep sungguh percaya bahwa iman Kristiani akan benar benar terwujud ketika beliau bersentuhan dengan orang orang di sekitarnya, menjadi garam dan terang dunia adalah hal yang sulit, namun beliau percaya bahwa jika kita berdevosi kepada Kristus, maka kita akan senantiasa dipelihara di dalam kerahimannya. Seperti Kristus yang terlahir di kandang domba, beliau percaya bahwa inti perwujudan iman Kristen yang utama ialah melayani, kita harus menyadari bahwa keselamatan justru terdapat pada realitas kehidupan yang sepertinya melelahkan dan penuh tantangan. Jelas, ia meyakini sungguh bahwa Natal merupakan kelahiran kembali, harapan baru, terang baru bagi umat manusia tanpa terkecuali, seperti Kristus yang lahir sebagai harapan umat manusia, sebagai terang sesama…. Bukankah kita juga begitu seharusnya?

Natal bagi Anak Timor Leste
"Hari Natal kini telah tiba!!" itulah bait dari sebuah lagu yang dinanyikan penyanyi kondang Pance Pondang, yang mulai menggema disetiap sudut kota. Natal merupakan sebuah pesta akbar umat kristen diseluruh dunia dalam memperingati hari kelahiran Yesus Kristus Sang juru selamat umat manusia. Kesan tentang suasana hari raya tersebut, dapat kita lihat dari hiasan-hiasan dan pohon-pohon natal yang mulai dipasang dimana-mana.

Makna perayaan Natal bagi setiap orang yang merayakannya tidaklah sama. Ketika kami tanyakan arti Natal yang akan kita rayakan kali ini kepada Domingos Soares, seorang mahasiswa asal Timor Leste yang kini sedang menyelesaikan studinya pada salah satu Universitas swasta di Yogyakarta, dengan panjang lebar dia menuturkan pengalaman Natalnya di kota pelajar, Yogyakarta ini. Baginya, Natal adalah peristiwa sukacita serta pesta reuni keluarga tahunan yang harus dirayakan dengan sangat meriah. Baginya, jauh dari keluarga di saat Natal merupakan salah satu dari kesekian pengalaman pahit yang ia rasakan selama menempuh kuliahnya di Yogyakarta.

Kini Natal akan tiba, meski kadang dihantui ancaman teroris seperti yang dikhawatirkan oleh mahasiswa asal Timor Leste tersebut, tetapi kita sebagai orang beriman harus tetap percaya bahwa, kita tidak berjalan sendiri. Roh kudus akan selalu membimbing kita…. Deus Vobiscum…

Natal: Kado Istimewa
Bulan Desember mendekati hari raya Natal, hari istimewa yang paling dinanti-nanti oleh seluruh umat didunia terutama umat kristiani karena hari Natal adalah hari kelahiran Sang Juru Selamat yaitu Yesus Kristus. Betapa berharganya hari Natal bagi kami karena Natal bagi kami adalah sebuah Kado Istimewa yang hanya ada satu tahun sekali, di situ kami benar-benar dapat melihat kelahiran Yesus datang ke Dunia untuk membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. makna natal akan semakin terasa jika kita juga tahu dan peka terhadap keadaan sesama kita yang membutuhkan perhatian lebih. Menjelang Natal tahun ini. kami sempat bertanya kepada seorang sahabat. Santy namanya, teman SMP yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah bertemu dan berkomunikasi.

"Apa makna natal baginya?" sebelum dia menjawab pertanyaan ini, dia bercerita tentang kisah hidupnya. Dia adalah seorang anak dari keluarga yang sangat sederhana, dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Waktu dia berusia 5 tahun, dia sudah kehilangan ayahnya karena sakit keras dan sekarang dia hanya tinggal bersama ibunya. Kakak perempuannya menikah dan ikut suaminya sedangkan kakak laki-lakinya selalu tidak ada dirumah, sibuk melulu dengan kehidupan yang negatif (mabuk-mabukan, keluyuran, pengangguran alias tidak punya penghasilan). Kami kaget ketika Santy tiba-tiba dengan meneteskan air mata, bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu, ibunya meninggal karena penyakit paru-paru yang sudah lama dideritanya. Kini Santy hanya tinggal bersama neneknya yang sudah sangat berumur.

Lalu kami berfikir dan bertanya "Bagaimana dia bisa menjalani hidup dengan kehidupan yang seperti sekarang ini?" Dengan pandangan mata yang kosong dia hanya bisa menjawab "Saya hanya berfikir positif saja dan saya sadar bahwa mungkin Tuhan memilih saya karena hanya saya yang bisa kuat menjaliani semua ini" . Bagi dia, Natal tahun ini merupakan hadiah yang istimewa dari Tuhan walaupun dia tidak dapat merayakan Natal dengan keluarga yang sangat dia cintai dan dia yakin bahwa Tuhan selalu ada buat dia. Dengan perayaan kelahiran Yesus Kristus dia merasa bahwa Yesus hadir lebih dalam masuk kedalam hatinya karena hanyalah Tuhan yang punya rencana terbaik untuknya pada Natal tahun ini. Yah, yakinlah bahwa Tuhan membuat segalanya indah pada waktunya, bukankah begitu?

Akhirnya, Apa Arti Semua Ini?
Desember tahun ini, pada suatu masa dan tempat, semarak aneka hotel-apartamen, mall, bank, café-lounge, tempat cuci mata dan nongkrong 24 jam yang ngetrend. Pelbagai fragmen ruang fisik ini menandai fisiogonomi metropolis. Di daerah bagian atas inilah, orang asyik masyuk menikmati arus dunia kontemporer dengan handphone, farfume dan life style ala barat. Mereka bisa menikmati saat-saat yang lain dalam ruang art-deco penuh relief, setengah terbuka ber-AC, dijaga satpam sambil menikmati musik jazz, MTV sampai dangdut kontemporer ataupun hidangan lintas bangsa. Banyak dari mereka berpakaian in mode di atas ratusan ribuan rupiah, seperti kelakar pakar filsafat, “Aku berbicara melalui pakaianku”. Di tengah geliat business, multimedia, pop culture pun indie labels, mereka seakan menjadi pembiakan globalisasi budaya barat, sebuah kosmopolit dengan segala macam entertainmentnya. Kesan the west is the best semakin marak bergerak.

Ditemani pelbagai billboard iklan yang ngejreng di sentra jalan protokol, mereka seperti mesin hasrat yang selalu dahaga. Dari stiker di buskota sampai pintu warung tegal, kerap ditemui kata-kata wasiat ala Benjamin Franklin: Time is money. Uang dan waktu menjadi opium masyarakat, keduanya dapat dihitung dan sama-sama memacu eskalasi kegelisahan massa. Di mana ada kota-di situ ada uang. Di mana ada uang-di situ ada orang dan barang. Di mana ada orang dan barang-di situ ada pasar. Bisa jadi di hadapan pasar itu, pemeo lama bahwa ‘semua manusia sama dihadapan Tuhan’ sama benarnya dengan ‘semua manusia sama di hadapan uang.’

Desember tahun ini, pada suatu masa dan tempat juga: matahari lurus-terik menjulurkan lidahnya, hiruk-pikuk berbaur-campur dengan kemacetan jalan yang padat merayap. Aneka panorama tampak di daerah bagian bawah ini: Seorang ibu berbedak debu jalanan tergopoh menarik anaknya mengejar sebuah angkot. Seorang renta duduk tanpa payung dalam siang terpanggang-seperti penari kecak, menengadah menjemput rejeki pada mobil yang lewat. Belum lagi puluhan copet, jambret, preman, calo dan pak ogah yang menambah rasa tidak nyaman. Di sinilah nyata adanya banyak korban-tumbal: tukang becak-bajaj, pengamen, anak jalanan, pemulung, asongan-kaki lima juga para pengangguran dan bromocorah. Di sinilah pelbagai fragmentasi sosial: penindasan, kesemrawutan, penggusuran dengan alasan rust et orde, kriminalitas, kemacetan, kemiskinan ini terus memenuhi carut-marutnya keadaan.

Saat ini-di sekitar kita, api dan banjir kerap datang dan pergi, membakar pun menghanyutkan harta, tubuh dan sejarah sosial. Di bagian bawah inilah, nyata jerit kaum tertindas yang tak bisa menjerit. Di sini: siapa lemah-mudah disepak. Dunia bagi ‘para korban’ adalah via dolorosa, jalan kesengsaraan. Mereka kerap nekad berjudi mimpi, walaupun mimpi yang selama ini bertunas bernas, kerap berangsur-angsur layu-lanas. Kehidupan kerap dirasakan sebagai dukha (yang berat): “..dengan bersusah payah, kau akan mencari rejeki dari tanah seumur hidup…” (Kej 3:17).

Konteks Global
Orang Latino berpetuah “tempus mutatur et nos mutamur in illud”(waktu berputar dan kita diubah olehnya). Kini ketika waktu (time) dicabut dari ruang (space), waktu tak hanya berputar, tapi juga berlari (menyitir istilah postmodern). Maksudnya, gerak waktu tak hanya dipahami dalam keteraturan musim, pesta tahunan yang berulang, dinamika lahir-hidup-mati, dan semacamnya, tetapi lebih kompleks, karena kehadiran sejumlah perangkat teknologi yang dapat merelatifkan rasa-perasaan yang menyangkut waktu (dan ruang). Ada semacam kondisi bahwa kita harus siap menghadapi kejutan karena begitu cepatnya perubahan. Suatu waktu kita mendadak menjadi amat peduli pada goyang sepasang pinggul empunya Inul. Suatu lain-ketika banjir dan penggusuran melanda, tiba-tiba begitu hiruk-pikuk. Saat lain-pasca kerusuhan, begitu lengang. Saat lain-begitu biadab ketika banyak bom meledak di mall dan gereja-gereja

Berkenaan dengan ini, kita bisa melihat adanya pergeseran dalam tata kehidupan masyarakat modern karena praksis urbanisasi. Urbanisasi meninggalkan kultur agraris dan menggerakkan roda perubahan hingga tercipta karakter masyarakat urban yaitu anonimitas (orang tidak lagi saling kenal) dan mobilitas (begitu cepatnya orang berpindah tempat). Selanjutnya, menyitir Romo Franz Magnis, terdapat 8 rintangan dalam hidup beriman di kota-kota besar Indonesia, al: Individualisme; Pluralisme-multikultur; Hedonisme (konsumerisme); Multimedia culture; Fundamentalisme; Modernitas (rasionalitas, sekularisasi, IPTEK, HAM); Krisis hidup orang muda: (instant-bebas); dan kontras sosial (kaya-miskin).

Merujuk pada konteks ini, kita ada di antara pelbagai konstelasi nilai multidimensi, dalam realitas serba heterogen-amburadul. Ketika orang sibuk bicara pentingnya panutan, orang semua tahu bahwa panutan terbaik baginya adalah dirinya sendiri-panutan lain penting sejauh bisa dimanfaatkan. Inilah zaman dimana segala nilai-otoritas di-demistifikasi-kan: Tak ada nilai dan otoritas yang sungguh dianggap sakral. Glamournya kehidupan menjadi simbol-simbol eksistensi banyak orang modern, kerap terangkum dalam kata “wasiat”: “aku senang maka aku ada”. Rasa senang mengambil oper segala prioritas-menciptakan ‘just fun mentality’, Hemang Ike Vikirin!

Natal: Back To Basic!!!!
Di tengah dunia modern yang glamour dan penuh warna- nuansa, tak heran kalau dunia enggan terhadap mereka yang cacat, sakit, menjadi ‘korban’. Mereka adalah ‘yang tersalib’ (the crucified people). Padahal, para korban kerap membantu kita tuk menemukan apa yang terdalam dalam diri: lemah, rapuh-terbatas. Mereka tak boleh dianggap in-absentia, sebab dari mereka, kita boleh belajar menjadi manusia. Mereka adalah guru yang sangat istimewa-teruji dalam membimbing kita untuk mengenal-menjumpai siapakah sesungguhnya Allah. Kita bisa belajar memahami-menghayati nilai Kerajaan Allah dari “rakyat yang tersalib”: yang kecil-lemah-miskin dan tersingkir, karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah. (Mat 5:3)

Jon Sobrino, seorang teolog pembebasan Amerika Latin pernah mengatakan bahwa tanpa memperhitungkan kenyataan dasar dunia para korban: orang miskin-tersingkir ini.....iman kita ada dalam bahaya menjadi tidak nyata, berjalan di atas awan. Maka, gambaran Allah sebagai “Pembebas” (Bdk. Luk 4:18-19) yang solider terhadap yang miskin-tersingkir dapat dijadikan semangat beriman, seperti seruan almarhum Uskup Romero kepada orang-orang miskin di El Salvador:”...Engkaulah gambaran Sang Penyelamat Sejati yang ditusuk tombak oleh serdadu romawi

Jelas bahwa sebetulnya pesan Natal selalu berporos pada to be sensitive to the reality, analog dengan sosok bayi yang mudah peka pada sekitarnya. Menurut kisah klasik Natal, Yesus terbaring diantara orang sederhana dan lemah. Kita bisa melihat Yesus kecil dengan tangan lemah terulur dan terbuka lebar. Ia memohon bantuan orang lain: Aku membutuhkan engkau. Tatapan mata bening dan uluran tangan lembutnya seolah menyapa siapa saja yang memandangnya. Ia menyatukan segala perbedaan dalam solidaritas. Dalam sebuah kandang, ia menyatukan para gembala sederhana dengan tiga raja: Gaspar, Baltasar, dan Melkhior. Inilah kado Natal Tuhan bagi kita: Ia datang dan bersolider dalam kesehatian dan kesahajaan, supaya semua orang bisa menyambutNya.

Dalam peristiwa Natal ini, Allah benar-benar menunjukkan diri sebagai Realitas Penyelamat yang bersolidaritas universal. Ikatan solidaritas ini justru kelihatan semakin penting di tengah arus penjajahan sistem terhadap dunia. Solidaritas lebih berbicara karena solidaritas bisa merangkul “para korban” sebagai mitra yang semartabat. Lewat solidaritas, kita back to basic (kembali ke semangat dasar Natal), di mana Allah menanggalkan segala kemuliaannya dan berkenan datang dalam sosok yang kecil-lemah dan dalam kandang yang sederhana.

Sebuah Panggilan!
Di Masa Persiapan Natal ini, kita bisa mengingat dan mendoakan para korban perang di Timor Leste, Papua dan Aceh. Korban peristiwa Tanjung Priok, Santa Cruz di Dilli. Korban kerusuhan di Situbondo, Atambua, Sampit, Sanggau Ledo, Larantuka. Juga kerusuhan Medio Mei 1998, tragedi Trisakti-Semanggi, Ambon, Poso, Bali. Kita mengingat juga para korban penggusuran, kebakaran, pemulung, anak jalanan, pedagang dan orang-orang tersingkir yang tentunya juga ada di dekat kita. Atas nama rakyat kecil yang tertindas di seluruh hamparan negeri ini, dengan segenap empati dan preferensi terhadap dan bersama mereka, kita dipanggil untuk makin lantang berteriak dan makin nyaring bersuara, atas dasar solidaritas universal demi suatu tata dunia baru yang lebih cerah. Pacem in Terris. Pacem in Cordis. Damai di Bumi. Damai di Hati!

@Romo Jost Kokoh Prihatanto.


0 komentar:

Poskan Komentar