Ads 468x60px

Homo est Viator (Manusia adalah Peziarah)

Seorang ahli meditasi, Eknath Easwara menyatakan bahwa pelbagai ketergesaan yang terus menerus mempunyai dampak yang buruk terhadap kesehatan. Maka, bagi banyak orang beriman yang mau tetap sehat, ingatlah bahwa hidup itu bukan untuk berlari, tapi untuk disyukuri, seperti nama seorang umat di bilangan Tangerang, “sukirman-sukacita karena iman.”. Di lain matra, hidup kita itu ibarat layang-layang, butuh benang - semacam pegangan. Menyitir Andreas Knapp, jika tidak ada pegangan, maka hidup akan putus, koyak dan jatuh seperti layang-layang terpisah dari benangnya. Di sinilah, kita perlu menyadari bahwa layang-layang kehidupan kita tak selamanya harus melayang di angkasa, ada saat untuk beristirahat juga. Ada saat mengisi bahan bakar – di mana hidup kita harus menyisihkan waktu untuk kembali ke sumber sejati (Allah), karena jelaslah: Homo est Viator (Manusia adalah Peziarah). Dan, salah satu tradisi khas Katolik yang dekat untuk hal ini, adalah kebiasaan berziarah.


Ziarah, menurut situs ensiklopedia Wikipedia adalah praktek umat beragama yang bermakna moral penting, terkadang dilakukan ke suatu tempat yang suci dan penting bagi keyakinan iman yang bersangkutan, bertujuan untuk mengingat kembali, meneguhkan iman dan menyucikan diri. Secara lebih mendalam, ziarah (Jw: siji sing diarah) adalah suatu gejala umum dalam banyak agama; ke Yerusalem bagi penganut agama Yahudi dan Kristiani; ke Mekkah bagi para muslim; ke Benares bagi banyak orang Hindu di India. Ada agama yang menentukan ziarah sebagai bagian yang utuh dari penghayatan keagamaan, dan karenanya mewajibkan ziarah bagi umatnya. Ada yang bersifat kondisional (bagi umat Islam yang mampu, berziarah ke Mekkah), ada juga yang bersifat mutlak (bagi semua laki-laki Yahudi, berziarah ke Yerusalem).

Ziarah secara sederhana juga lekat-akrab dengan nuansa “perjalanan”. Seluruh hidup Yesus sendiri ditandai oleh banyak ziarah. Dia dilahirkan di tanah asing (Luk 2:1-6). Ia berziarah ke Yerusalem bersama Yosef dan Maria (Luk 2:41). Ia juga berkarya dengan ‘berziarah’ dari desa ke kota, dari pantai ke bukit dan sebagainya. Kalau ketiga injil Sinoptik memberikan kisah Yesus sebagai ziarahNya ke kenisah di Yerusalem untuk perayaan Paskah, maka injil Yohanes mengisahkan sekurang-kurangnya dua kali ziarah Yesus ke kenisah di Yerusalem (Yoh 2:13.23; 12:1-12).

Yesus memang tidak pernah berbicara tentang ziarah sebagai suatu keharusan, kendati Ia meneruskan praktek ziarah yang diwajibkan dalam tradisi agama Yahudi. Ia merelativisasi peran sentral dari ziarah. Ziarah ke tempat khusus pada waktu tertentu bukanlah syarat mutlak untuk mendapatkan keselamatan. Hal yang utama adalah berziarah bersama Yesus untuk menggapai orang-orang yang disingkirkan. Mengikuti Dia adalah sebuah ziarah, mengosongkan diri dari pelbagai pandangan yang merendahkan orang lain dan mengagungkan diri serta kelompok sendiri, sambil berani memikul salib sebagai sebuah konsekuensi dari sebuah perjuangan iman.

Dalam perjalanan sejarah agama, ziarah kerap mendapatkan perhatian dalam praktek spiritualitas kristiani. Berawal dari tradisi berziarah ke makam para martir sebagai bentuk penghormatan, praktek ini kemudian berkembang di banyak kalangan umat kristiani, dengan macam-macam intensi: silih atas pelanggaran, tanda peralihan hidup, bentuk ibadah, memohon kesembuhan, kekuatan dan anugerah bagi pelbagai ujud (intentio pura). Secara sederhana, sebenarnya ada dua makna utama ziarah, yakni:

-Ziarah memungkinkan orang mengalami secara badaniah sebuah hakekat iman sebagai “pencarian akan Allah. Setiap peziarah diajak untuk setia dan sedia mencari Allah, menemukan dan memahami maksud serta rencana keselamatan Allah.
-Ziarah adalah medan pembelajaran solidaritas. Salah satu keutamaan ziarah adalah kesempatan untuk menjumpai pelbagai orang dengan pelbagai watak dan latar belakang. Pelbagai orang beriman yang disatukan oleh tujuan yang sama (peregrinatio pro christo, mengembara demi Kristus), kerinduan akan tujuan dan keyakinan akan pentingnya sebuah perjalanan. Semangat solidaritas ini sendiri menjadi salah satu pesan utama Konsili Vatikan II saat mendefinisikan “Gereja sebagai Umat Allah yang berziarah” (Bdk. Lumen Gentium art. 9)

Selain dua makna dasar di atas, ziarah adalah sebuah upaya napak tilas, mundur untuk maju. Karena setiap perkembangan tidak melulu dicapai dengan maju, tapi juga bisa dengan mundur. Lihat saja, Mbak Inem yang mengepel lantai, Pak Tani yang membajak sawah. Bahkan Tuhan pun menciptakan satu binatang undur-undur. Mereka semua maju dengan bergerak mundur ke belakang. Artinya, lewat ziarah, kita tidak melulu berhenti pada permohonan,tapi kita diajak untuk bersyukur, ‘memutar film’, sekaligus memelihara daya kuasa cipta kita sebagai gambar dan rupa Allah. Jelasnya, ziarah sendiri adalah sebentuk ‘keutamaan’, sejauh diarahkan pada usaha mencipta kembali harmoni batin dalam Tuhan dan keterbukaan hati pada sesama dan diri sendiri. Santo Bernard Clairvux mengingatkan para rahib trapist: “sel pertapaanmu adalah Yerusalemmu.“ Peringatan ini berarti, yang terpenting bukanlah melulu pergi ke Yerusalem, tapi menghayati apa yang terjadi di Yerusalem, yakni ungkapan kesetiaan terhadap Allah dan cinta tanpa pamrih bagi manusia.

Dewasa ini, ziarah sudah banyak mengambil bentuk wisata rohani. Perziarahan harus direncanakan dengan baik agar sungguh menjadi wisata yang menyenangkan: Sebuah pameo: Ada banyak jalan menuju Roma, karena itu sebelum ke Roma, mengapa tidak ke Milan, Barcelona, Muenchen dsbnya. Ada banyak jalan menuju Lourdes dan Betlehem, karena itu mengapa tidak mampir ke Paris dengan Eiffel-nya atau Swiss dengan Gunung Titlisnya, dsbnya. Fenomen ini mencerminkan pelbagai pergesaran penting dalam pandangan tentang ziarah. Perjalanan rohani disatu-padukan dengan perjalanan ke pelbagai obyek wisata dan sekaligus ke pelbagai sentra perbelanjaan. Peziarah menjadi turis, “ziarah” menjadi “tour”. Secara insani, perlu diingat bahwa hiburan dan rekreasi juga bagian dari iman. Setiap orang beriman juga butuh hiburan dan rekreasi, bukan? Iman kristiani yang meyakini bahwa Tuhan sebagai Allah yang kreatif, juga melihat keterlibatanNya dalam pelbagai pengalaman yang kreatif. Namun yang perlu dikritisi adalah kalau iman melulu diidentikkan dengan hiburan, maka orang akan mengalami pendangkalan makna: Ia akan mudah menolak untuk terlibat dalam perjuangan iman yang tidak selalu penuh dengan penghiburan. Selain itu, jika tidak hati-hati, ziarah bisa menjadi hanya miliknya orang-orang kaya saja. Maka, ziarah atau wisata rohani ini jelas membutuhkan pendampingan pastoral yang secara sadar juga berani mengingat-kenangkan dimensi perjalanan iman dari ziarah wisata itu sendiri. Selain itu, ziarah atau wisata rohani (entah ke luar negeri atau di dalam negeri) sangat baik untuk tetap dilaksanakan asalkan orang juga tidak melupakan ziarah yang paling mendasar, yang paling dekat sekaligus yang paling jauh, yakni ke dalam diri sendiri.

Baik juga kalau sekarang kita mengingat secarik pesan St. Bernadeth Soubirus, “...Bila kamu datang berziarah, janganlah seperti turis, tapi berlakulah sungguh sebagai peziarah - homo viator, mulailah sebuah perjalanan, yakni masuklah dalam sebuah perjalanan dan lepaskanlah pelbagai kesenangan serta lemparkanlah dirimu dalam ketidaktahuan mengikuti Yesus (In the Footsteps of St Bernadette). Ziarah di sini adalah juga sebuah upaya maneges ati, tak pernah lepas dari suatu pencarian hati akan kehendak Allah. Bahasanya Gede Prama, dengan hati menuju tempat yang tertinggi, kita mencapai suatu providentia divina - rencana penyelamatan Allah lewat ziarah.

0 komentar:

Poskan Komentar