Ads 468x60px

Kepemimpinan Alkitabiah

A. Perlunya pemimpin
Allah menghendaki agar masyarakat duniawi maupun masyarakat rohani memiliki pemimpin atau pemerintahan. Hal ini menjadi jelas, antara lain, dari ayat-ayat berikut ini:

* Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya, “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku” (1 Sam 9:17; bdk. 1 Sam 13:14).
* “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah” (Rm 13:1).
* “Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh” (1 Kor 12:28).


Tanpa pemimpin, pasti roda kehidupan masyarakat akan kacau. Hal ini pernah ter-jadi dalam sejarah Israel seperti nyata dalam Hak 21:25 yang berbunyi, “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pan-dangannya sendiri.” Perlu ada pemimpin yang dapat mengatur kehidupan bersama, paling tidak agar tidak terjadi perselisihan dan kekacauan akibat berbagai kepentingan yang sa-ling berbenturan. Tentu saja pemimpin itu sendiri perlu menaati hukum yang adil dan yang lebih tinggi darinya. Selain untuk mencegah perselisihan akibat kepentingan yang berben-turan, pemimpin diperlukan oleh masyarakat agar masyarakat dapat bekerja sama dalam mengusahakan kesejahteraan bersama serta menjamin terpenuhinya hak-hak azazi tiap anggotanya.

Apa yang berlaku untuk masyarakat sekular, dalam batas tertentu berlaku juga untuk masyarakat rohani, yaitu umat Allah. Umat Allah membutuhkan pemimpin. Tanpa Musa sebagai pemimpin, umat Israel tak akan mampu keluar dari perbudakan Mesir. Tan-pa Nehemiah, mungkin pembangunan kembali tembok kota Yerusalem tidak akan terlaksana. Tanpa ratu Ester, mungkin bangsa Yahudi mengalami bencana besar. Tanpa Yesus, kita ini bagaikan kawanan domba tanpa gembala – suatu keadaan yang memprihatikan, sebab domba memang membutuhkan gembala – bahkan domba-domba yang akan mengalami celaka. Tanpa Paulus, mungkin Gereja tidak akan berkembang begitu pesat.

Begitu juga dengan tarekat religius. Dalam sejarah sudah banyak tarekat religius yang tidak bertahan alias lenyap. Lenyapnya tarekat religius antara lain disebabkan karena tidak adanya pemimpin sejati yang di satu sisi mampu mempertahankan visi hidup bersa-ma yang dicanangkan oleh pendiri tarekat, dan di sisi lain mampu menyesuaikan visi dan misi tarekat dengan kebutuhan zaman. Kalau pun tidak lenyap, ada banyak tarekat religius (atau komunitas biara) yang tidak berkembang. Mereka itu sekedar ada, asal bertahan hidup! Terutama dalam situasi sulit seperti ini dibutuhkan pemimpin kuat yang memiliki visi dan misi yang jelas. Memang, pemimpin yang sejati tidak mudah ditemukan. Namun, Allah selalu mencari pemimpin semacam itu, seorang pemimpin yang berkenan di hatinya. Begitulah pemilihan raja Daud. Dia adalah pemimpin yang dipilih Tuhan dan yang berkenan di hati-Nya (1 Sam 13:11).



B. Jenis-jenis kepemimpinan
Ada banyak type kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli ilmu kepemim-pinan. Namun kadang-kadang perbedaan antara type yang satu dengan type yang lain begitu tipis. Maka dari itu itu kita bisa menyederhanakannya menjadi tiga type yang berikut ini:

1) Type autokrat, yakni type pemimpin yang suka bertindak sendiri, suka meng-ambil keputusan sendiri tanpa menanyakan pendapat bawahannya, suka memak-sakan keputusannya kepada bawahan. Type semacam ini cenderung suka mengon-trol bawahan, karena mencurigai kesungguhan dan kerajinan mereka. Kalau perlu, pemimpin type autokrat ini tidak segan-segan untuk mengancam bawahannya – langsung atau tidak langsung- dan tidak tagu-ragu untuk memakai tangan besi. Dengan kata lain, type autokrat adalah type pemimpin yang mau memimpin sendiri dan cenderung otoriter. Tidak mengherankan, hubungan antara pemimpin dan bawahan sering tegang.

2) Type liberalis atau laissez-faire, yakni type pemimpin yang suka membiarkan bawahannya berjalan sendiri-sendiri, hampir tanpa kontrol darinya, dan mem-biarkan masing-masing bawahannya untuk mengambil keputusan sendiri. Jadi, type ini kebalikan dari type autokrat. Peranan pemimpin liberalis kecil sekali. Type semacam ini bisa saja terjadi dalam suatu kelompok yang tidak terlalu besar, di mana anggota-anggotanya sudah dewasa dan bertanggungjawab.

3) Type demokrat, yakni type pemimpin yang suka melibatkan bawahannya dalam proses pengambilan keputusan, tetapi dia sendiri masih memiliki kontrol atas bawahannya. Jadi, type ini ada di antara type autokrat dan type liberalis. Kiranya type demokrat ini yang paling mendekati type kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran Kitab Suci, seperti yang akan menjadi nyata dalam uraian di bawah.



C. Hal-hal mendasar dalam Kepemimpinan Religius
Ada macam-macam definisi kepemimpinan. Di sini kami kutip dua saja; yang pertama definisi kepemimpinan profan, sedang yang kedua definisi kepemimpinan religius:

1) Definisi Lord Montgomery: “Leadership is the capacity and will to rally men and women to a common purpose, and the character which inspires confidence” (“Kepemimpinan adalah kemampuan dan kemauan untuk mengerahkan orang, baik pria maupun wanita, menuju suatu tujuan bersama, dan karakter yang menim-bulkan kepercayaan orang kepadanya”).

2) Berdasarkan ratusan studi kepemimpinan, baik kepemimpinan biblis maupun profan, Dr. J. Robert Clinton mendefinisikan seorang pemimpin sebagai “a person with God-given capacity and with God-given responsibility who is influencing a specific group of God’s people toward God’s purpose for the group” (“seorang yang mendapat kemampuan dari Allah dan tanggung jawab yang juga berasal dari Allah untuk mempengaruhi sekelompok tertentu umat Allah menuju tujuan yang ditetapkan Allah untuk kelompok tersebut”).

Satu hal yang pasti, orang bisa mendefiniskan secara singkat kepemimpinan sebagai soal pengaruh. Itu berarti, seorang pemimpin adalah orang yang bisa mempengaruhi para bawahannya agar mereka melakukan apa diperintahkan/dikehendaki oleh pemimpin itu. Dari definisi yang dibuat oleh R. Clinton, kita bisa merumuskan beberapa unsur pokok kepemimpinan religius:

1. Asal-usul atau dasar kepemimpinan
Seorang pemimpin religius adalah seorang yang mendapat panggilan dari Allah, bukan dari pertama-tama dari kemauan diri sendiri. Memang dalam hal ini ada kerja sama antara Allah dan manusia. Maka dari itu Paulus bisa berkata Timotius, “Benarlah perkataan ini: ‘Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah’” (1 Tim 3:1). Mengingat beratnya dan pentingnya tugas penilik jemaat, maka menginginkan jabatan itu adalah sesuatu yang indah. Keinginan semacam itu adalah keinginan untuk melayani jemaat, keinginan untuk berkurban demi perkembangan jemaat. Karena unsur pengurbanan dalam jabatan ini cukup besar, maka menginginkan kedudukan tersebut adalah sesuatu yang indah. Dia yang mengetahui persyaratannya (1 Tim 3:1-7; Tit 1:5-16) tetapi toh menginginkannya adalah seorang pemimpin yang mencari pelayanan, bukan kekuasaan atau posisi.

Akan tetapi jabatan pemimpin jemaat pada akhirnya adalah panggilan Tuhan dan anugerah Roh Kudus. Hal ini menjadi jelas dari panggilan para pemimpin Israel ini: Musa (Kel 3), para hakim Israel yang dibangkitkan Tuhan pada saat Israel terdesak oleh musuh (Hak 2:15-16 dll), Samuel (1 Sam 3), raja Saul (1 Sam 9:16), Daud (1 Sam 16:1), para nabi (misalnya Yes 6; Yeh 2:1-3:15), para imam (Kel 28:3-4; Ibr 5:4) dan sebagainya. Juga para pemimpin Gereja Yesus Kristus adalah orang-orang yang ditetapkan oleh Allah, seperti dikatakan oleh S. Paulus, “Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh” (1 Kor 12:28).

Kita lihat satu contoh, yakni Musa. Mula-mula dari dirinya sendiri ia ingin menjadi pemimpin umat Israel (Kis 7:23). Akan tetapi dia gagal. Saudara-saudaranya ternyata menolak dia. Untuk menjadi pemimpin Israel, Musa membutuhkan legitimasi dari Allah. Itulah yang diminta oleh saudara-saudaranya, “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?” (Kis 7:27). Puluhan tahun sesudah peristiwa itu, Tuhan memanggil Musa dan melengkapi dia dengan tanda-tanda ajaib agar orang Israel percaya bahwa Tuhanlah yang telah memanggil dan mengutus dia (Kel 4:1-9). Baru sesudah itu Musa benar-benar menjadi pemimpin Israel. Jadi, pada dasarnya kepemimpinan religius bukanlah suatu kedudukan yang dikejar atas inisiatif sendiri melainkan anugerah Allah. Bandingkan juga dengan pembukaan surat-surat Paulus, di mana dia menyatakan diri sebagai rasul karena kehendak Allah sendiri:

• Rm 1:1, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.”
• 1 Kor 1:1, “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus.”

Jadi, menurut Alkitab, tugas kepemimpinan merupakan kerjasama antara Tuhan yang memanggil dan pribadi-pribadi manusia menjawab-Nya. Maka dari itu, kepe-mimpinan kristiani merupakan gabungan antara kepemimpinan kodrati dan kepemimpinan rohani, antara bakat kodrati manusia dan karya Allah di dalam dirinya. Menurut seorang penulis, J.O. Sanders, ada kemiripan sekaligus perbedaan kepemimpinan kodrati dan rohani:

KODRATI SPIRITUAL
Percaya diri Percaya kepada Allah
Mengenal manusia Juga mengenal Allah
Mengambil keputusan sendiri Mencari kehendak Allah
Ambisius Tidak suka menonjolkan diri
Menciptakan metode sendiri Mencari dan mengikuti metode Allah
Suka memerintah orang lain Suka menaati Allah
Didorong oleh pemikiran sendiri Didorong oleh kasih pada Allah dan sesama
Independen Bergantung pada Allah

Atau menurut Harvestime International Institute ada perbedaan prioritas dalam kepemim-pinan duniawi dan dalam kepemimpinan rohani:

MANEJEMEN DUNIAWI MANEJEMEN ROHANI
[lebih mencari:] [lebih mencari:]

Uang Pelayanan
Produksi Doa
Fakta Iman
Profesionalisme Pengurapan
Aturan Kasih
Keterampilan Sabda Allah
Kepribadian Karakter
Intelek Kondisi spiritual
Manipulasi Pengarahan
Tugas Relasi
Semaunya sendiri Taat
Persaingan Kerjasama


2. Tujuan atau visi kepemimpinan religius
Jelas bahwa tujuan akhir setiap kepemimpinan religius adalah mengantar jemaat masuk ke dalam Kerajaan Surga dan mendorong mereka agar hidup sedemikian rupa se-hingga layak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Itulah isi pewartaan Yesus, “Ber-tobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!" (Mat 4:17). Semua ajaran Yesus berpusat pada Kerajaan Surga ini. Sering sekali Yesus mewartakan siapa saja yang layak masuk Kerajaan Surga atau apa syarat untuk bisa masuk ke dalamnya (bdk. Mat 5:3.10.12.20; 6:20; dll.). Dalam bahasa Injil Yohanes, tujuan kepemimpinan Yesus adalah untuk mem-berikan kehidupan kekal, yakni kehidupan yang melimpah, kepada umat manusia, domba-domba gembalaan-Nya (Yoh 10:10).

Tujuan kepemimpinan seperti yang dirumuskan oleh Paulus pada dasarnya sama. Dalam 2 Kor 5:1-2 ia menulis demikian, “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat ke-diaman surgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini.” Itulah tujuan akhir hidup manusia yang diwartakan Paulus. Namun, untuk mencapai tujuan akhir itu, jemaat perlu mengusahakan kesempurnaan hidup kristen atau kedewasaan rohaninya (Ef 4:13). Jemaat harus berkembang! Justru itulah tugas para pemimpin jemaat, yakni untuk memperleng-kapi setiap anggota jemaat untuk tugas pelayanan serta pembangunan Tubuh Kristus. Patut kita kutip Ef 4:11-13 ini,

“[Kristulah] yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah...”

Gagasan Alkitab mengenai pertumbuhan jemaat sebagai tujuan kepemimpinan juga terdapat dalam teori kepemimpinan profan dewasa ini. Menurut para ahli kepemim-pinan dewasa ini, tugas seorang pemimpin adalah mengembangkan kemampuan para bawahan agar mereka sendiri akhirnya mampu menjadi pemimpin. Pemimpin yang sejati tidak egois, tidak mendahulukan kepentingan sendiri. Ia justru bertindak sebagai pelayan yang memperhatikan kebutuhan serta kebaikan para pengikutnya. Ia mengusahakan agar para pengikutnya berkembang dalam pelayanan. Jadi, kepemimpinan menyangkut soal kaderisasi! Menurut H. Young, batu uji untuk kepemimpinan semacam itu adalah per-tumbuhan rohani, kebebasan, dan otonomi orang yang dilayaninya. Seorang pemimpin yang menekan bawahan sehingga tidak berkembang, atau yang ingin supaya bawahan akan selalu menjadi bawahannya, bukan pemimpin yang sejati. Dewasa ini kepemimpinan tidak lagi dipandang melulu sebagai usaha menggerakkan bawahan agar mereka mau mengejar tujuan bersama atau membuat para bawahan mau melaksanakan perintahnya. Kepemimpinan model ini lebih merupakan tugas seorang manager atau mandor daripada tugas seorang pemimpin. Lebih dari seorang manager, seorang pemimpin tidak hanya memperhatikan keberhasilan atau selesainya suatu pekerjaan melainkan lebih memper-hatikan manusianya, pribadi para bawahannya!
Kepemimpinan Yesus merupakan contoh dari kepemimpinan yang menumbuhkan orang, dan bukan mematikan. Yesus mendidik para pendengar-Nya agar menjadi dewasa. Hal itu antara lain nampak dari seringnya Ia memancing pendapat para pendengarnya, terutama jika Ia mengajar dengan perumpamaan. Ia cukup sering bertanya kepada orang, “Apa pendapatmu jika ...?” (Mat 18:12.21:28; Luk 10:36 dll.). Ia mengadakan kaderisasi. Ia mempersiapkan para murid agar mampu meneruskan misi-Nya.

Tujuan bersama tidak berbeda dengan visi bersama. Penting sekali bahwa seorang pemimpin mengetahui benar visi bersama. Menurut definisi John R. Mott, “Seorang pemimpin adalah seorang yang tahu jalan, yang dapat tetap memandu di depan dan yang mampu menarik orang untuk mengikutinya.” Jadi, keberhasilan seorang pemimpin nampak dari banyak sedikitnya pengikut dan dari rela tidaknya mereka mengerjakan perintahnya. Pemimpin itu seperti gembala di Palestina, yang berjalan di depan untuk menuntun domba-domba menuju padang rumput yang hijau.

Selain mengetahui sendiri visi bersama, pemimpin harus mampu juga meyakinkan para pengikutnya akan pentingnya visi bersama tersebut. Biasanya hanya mereka yang me-lihat visi bersama dan meyakininya sebagai nilai yang patut dikejar akan bertahan hingga mencapai tujuan. Untuk melukiskan hal ini, ada ilustrasi yang menarik. Ada sepuluh ekor anjing mengejar babi hutan. Setelah lari cukup jauh, satu demi satu dari anjing-anjing itu berhenti. Hanya satu ekor yang terus lari dan akhirnya menangkap babi hutannya. Mengapa bisa demikian? Selidik punya selidik, ternyata hanya seekor anjing saja yang melihat sasaran perburuan, yaitu babi hutan itu, sehingga hanya dialah yang terus mengejar sampai menangkap babi hutan itu. Bagaimana dengan kesembilan ekor lainnya? Ternyata mereka hanya ikut-ikutan. Mereka tidak melihat babi hutan, sasaran perburuan itu. Makanya mereka cepat lelah dan putus asa! Ilustrasi ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki visi yang jelas.

3. Kepemimpinan adalah soal pengaruh
Untuk melaksanakan tugasnya, seorang pemimpin membutuhkan kuasa. Kadang kuasa itu diberikan oleh bawahannya secara sukarela, misalnya lewat pemilihan umum, kadang kuasa itu diperoleh pemimpin secara paksa dan tidak sah. Dalam bagian ini kita ingin menjawab pertanyaannya penting ini: bagaimana seorang pemimpin dapat mem-pengaruhi bawahannya supaya ia ditaati oleh bawahannya? Ternyata ada macam-macam cara atau sarana yang dapat dipakai oleh pemimpin. Dari sarana yang dipakainya itu kita bisa membedakan macam-macam model kepemimpinan. Di bawah ini kami sajikan sepu-luh model kepemimpinan yang dipakai oleh S. Paulus dalam memimpin jemaatnya. Di bawah ini kami ringkaskan uraian Stuart Dauermann:

1) Kepemimpinan apostolis:
Paulus ingin mempengaruhi bawahannya dengan mengandalkan panggilan serta otoritas yang dia terima langsung dari Allah meskipun sering juga Paulus menyatakan bahwa sebenarnya dia tidak suka mempergunakan otoritasnya itu (bdk. 1 Kor 7:6; 2 Kor 8:8; 10:6-11).

2) Kepemimpinan konfrontasi:
Paulus ingin menyelesaikan persoalan dengan jalan membuka persoalan itu kepada semua pihak yang bertengkar lalu bersama-sama mencoba mencari jalan keluar yang bisa diterima oleh semua pihak. Gaya kepemimpinan seperti ini nampak ketika Paulus ingin mendamaikan Eudodia dan Syntikhe yang bertengkar (lihat Flp 4:2-3).

3) Kepemimpinan berdasarkan posisi Paulus sebagai bapa-pendiri
Paulus kadang ingin mendapat ketaaatan dari jemaatnya dengan mengingatkan mereka bahwa dia itu bapa mereka, pendiri mereka (bdk. 1 Kor 4:14-15).

4) Kepemimpinan kewajiban-himbauan (obligation-persuasion):
Menurut model kepemimpinan ini, di satu sisi Paulus hanya menghimbau umatnya untuk menuruti kehendaknya, tetapi menyerahkan keputusannya pada jemaatnya. Akan tetapi, di lain sisi, ia mendesak umatnya untuk menuruti kehendaknya karena umatnya “berhutang budi” kepadanya. Model ini paling jelas pada surat Paulus kepada Filemon, di mana ia meminta agar Filemon bersedia menerima kembali Onesimus, budaknya yang melarikan diri itu, bukan sebagai budak tetapi sebagai saudara di dalam Kristus.

5) Kepemimpinan bapa pelindung:
Kadang Paulus memakai posisinya sebagai bapa atau ibu pelindung bagi umatnya. Model ini mirip dengan hubungan anak dengan orangtua, di mana orang tua ada dalam posisi sebagai pelindung dan pendorong bagi anak-anaknya.

6) Kepemimpinan kematangan-himbauan (maturity-appeal leadership)
Dalam 2 Kor 11:16-33, Paulus mengingatkan umat di Korintus akan pengalaman rohaninya, kerja kerasnya, penderitaannya demi Injil dan lain-lain, dengan harapan umatnya mau mendengarkan nasihatnya. Jadi, kepemimpinan yang mengandalkan kematangan rohani si pemimpin.

7) Kepemimpinan pengasuh/perawat (istilah aslinya: nurse leadership):
Paulus dalam 1 Tes 2:7 berkata, “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.” Paulus berlaku seperti ibu yang mengasuh dan merawat anaknya. Model ini sama dengan model kepemimpinan Yesus sebagai Gembala Baik yang rela mengurbankan nyawa demi domba-domba-Nya atau sebagai Guru Baik yang membasuh kaki para murid-Nya.

8) Kepemimpinan pemberi teladan:
Kadang Paulus menghimbau jemaatnya untuk meneladan dirinya. Jelas, model kepemimpinan seperti ini yang ideal. Yesus pun adalah pemimpin yang suka memakai sarana ini. Misalnya, setelah mencuci kaki para murid Dia berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:13-15).

9) Kepemimpinan kesepakatan (consensus leadership):
Dalam model kepemimpinan ini semua orang dilibatkan dalam mengambil suatu keputusan bersama. Jadi, tanggungjawab dipikul bersama, urusan bersama. Ke-sepakatan sebanyak mungkin anggota memang amat penting. Dalam hal ini diperlukan seorang pemimpin yang mampu menyatukan macam-macam pendapat sehingga pada akhirnya tercapai kesepakatan bersama. Contoh model ini adalah kesepakatan para rasul mengenai berbagai persoalan aktual yang mereka ambil dalam konsili pertama di Yerusalem (Kis 15).

10) Kepemimpinan konflik tak langsung
Dalam Ef 6:10-20, Paulus berbicara mengenai perjuangan melawan kuasa-kuasa kegelapan, kuasa Iblis. Menurut model kepemimpinan yang terakhir ini, pemimpin menghadapi masalah, tidak dengan menghadapinya secara langsung, melainkan dengan berdoa. Dengan membawa persoalan ke dalam doa diharapkan pihak-pihak yang bersalah dapat bertobat.

Kesepuluh model kepemimpinan Paulus yang diuraikan di atas kadang tumpang-tindih, artinya tidak begitu jelas perbedaannya satu sama lain. Namun, secara garis besar uraian di atas cukup jelas. Paulus memakai model-model itu sesuai dengan situasi yang dihadapinya dan sesuai dengan tingkat kematangan rohani jemaatnya. Semakin dewasa jemaatnya, semakin besar kebebasan yang diberikan Paulus kepada mereka untuk memi-kirkan dan mengambil keputusan sendiri. Artinya, semakin dewasa suatu jemaat, semakin sedikit Paulus menggunakan kekuasaan rasulinya. Ia lebih mengusahakan agar orang mau mengikuti perintah dan nasihatnya berkat kesadaran sendiri dan karena melihat keteladan-an Paulus. Idealnya, seorang pemimpin diikuti karena kwalitas pribadinya, karena keteladanannya.


D. Allah adalah Pemimpin yang sejati dan utama
Baik dalam PL maupun dalam PB menjadi jelas bahwa pemimpin yang sebenarnya adalah Tuhan atau Kristus, sedangkan pemimpin jemaat Allah hanyalah wakil-Nya. Ketika suku-suku Israel meminta agar Gideon dan anak cucunya menjadi raja atas mereka, Gideon menjawab, "Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu, tetapi TUHAN yang memerintah kamu." (Hak 8:23). Ketika orang Israel menuntut seorang raja kepada Samuel, hakim terakhir, Tuhan Allah berkata kepadanya, “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Sam 8:23). Dalam Mat 23:10 Yesus ber-kata, “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.”

Maka dari itu sikap yang dinantikan dari seorang pemimpin religius adalah sikap tahu diri. Mereka hanyalah sarana yang dipakai oleh Tuhan. Tugas mereka hanyalah mewakili Tuhan, bukan menjadi pembesar atas mereka demi kepentingan dan ambisius pribadi. Kesadaran ini akan mencegah dia dari sikap otoriter dan keras kepala atau kesombongan.


E. Beberapa hal yang mendasar tentang kepemimpinan alkitabiah

1. Pemimpin perlu persiapan diri
Kepemimpinan yang sejati, seperti sudah dikatakan di atas, mengandaikan adanya kwalitas pribadi yang positif dalam diri pemimpin. Banyak ahli kepemimpinan menga-takan bahwa inti dari kepemimpinan adalah kemampunan pemimpin untuk mempengaruhi serta meyakinkan orang lain agar mau maju, berkembang dan bekerja sama dalam mewu-judkan visi bersama. Maka dari itu, logis kalau seorang pemimpin (biarpun memiliki bakat alami) memerlukan persiapan dan pembentukan lebih lanjut. Contoh yang mencolok da-lam Alkitab adalah Musa, Yesus dan Paulus.

a)Musa
Menurut para rabbi Yahudi, Musa tinggal di Mesir selama 40 tahun, tinggal di Median 40 tahun, dan melayani Israel selama 40 tahun. Kesaksian para rabbi ini, paling tidak seba-gian, sesuai dengan berita yang kita peroleh dalam Kis 7:23, di mana dikatakan bahwa “pada waktu ia [Musa] berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel.” Itulah awal karya Musa, setelah 40 tahun tinggal di Mesir. Selama di Mesir dia “dididik dalam segala hikmat orang Mesir” (Kis 7:22). Itu suatu persiapan yang luar biasa: lama sekali persiapannya dan kwalitasnya tinggi sebab ia dididik di istana firaun. Namun, menurut Carlo M. Martini, persiapan Musa masih perlu dilengkapi dengan kontak langsung dengan kenyataan, kontak dengan kesengsaraan umat Israel. Sebelum melihat langsung kenyataan itu, Musa hidup dalam mimpi. Dia ahli dalam metode-metode saja, namun tidak berbuat apa-apa.

b)Yesus
Ketika Yesus tampil di depan umum, Ia berusia kira-kira 30 tahun (Luk 3:23). Selama hampir 30 tahun Ia tinggal di Nazaret, yang tidak terkenal, sehingga Natanael kelak berkata, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yoh 1:46). Kita tidak tahu apa yang dilakukan Yesus selama itu. Yang jelas Ia dididik oleh orang tua yang saleh yang taat kepada agama Yahudi (bdk. Luk 2:41 dll), sehingga Ia bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya” (Luk 3:52). Begitu lama masa persiapan Yesus! Dia bukan pemimpin yang instan. Ada orang yang berpendapat, Yesus tinggal selama 30 tahun di desa yang tidak terkenal untuk belajar kerendahan hati.

c) Paulus
Persiapan/pembentukan diri Paulus berlangsung seumur hidup. Paulus menulis demikian kepada Timotius, “Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu” (2 Tim 4:13). Paulus terus mem-baca! Ia terus menerus mengisi diri agar bisa memberi kepada orang lain. Tepatlah pepatah Latin ini, “Nemo dat quod non habet,” artinya, “Tak seorang pun bisa memberikan apa yang ia sendiri tidak memiliki.”

2. Pendoa
Karena pemimpin kristiani itu dipanggil oleh Tuhan dan hanya mewakili Tuhan, maka jelas bahwa dia harus bergantung pada Tuhan yang mengutusnya. Kehidupan Musa, Elia, ratu Ester, Yudit, Yohanes Pembaptis, Yesus dan para rasul dan masih banyak tokoh Akitab lainnya membuktikan bahwa kekuatan mereka ada pada Tuhan. Maka dari itu me-reka itu pendoa. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin penting peranan doa da-lam hidupnya. Dari doalah para pemimpin memperoleh kekuatan untuk melaksanakan tugas. Selama Musa berdoa dengan tangan menengadah ke langit, orang Israel menang melawan orang Amalek; kalau Musa berhenti berdoa, orang Israel kalah (Kel 17:8dst).

Dalam Injil Lukas, Yesus digambarkan sebagai seorang pendoa besar. Yesus di-gambarkan selalu berdoa, terutama pada saat-saat penting dalam hidupnya: waktu dibaptis (Luk 3:21), waktu akan memilih 12 rasul (6:12 – Yesus berdoa semalam suntuk), waktu dimuliakan di atas gunung (9:28dst), waktu ketakutan menghadapi sengsara-Nya (22:41) dan waktu akan wafat (23:34.46).

Doa itu penting bagi pemimpin bukan hanya karena dia sendiri membutuhkan kekuatan dari Tuhan, melainkan juga karena tugas pemimpin adalah mempengaruhi orang lain untuk bergerak ke arah tertentu. Nah, tidak mudah mengubah orang lain. Maka di-perlukan bantuan Tuhan. Seorang rahib padang gurun berhasil memimpin komunitasnya dan juga para karyawan yang bekerja di pertapaannya karena ia setiap hari mendoakan para bawahannya.

3. Kepemimpinan pelayanan (servant leadership)
Pemimpin yang sejati bukanlah orang yang suka memerintah orang lain, sedangkan dia sendiri berpangku tangan, bahkan minta supaya orang lain melayani dia. Sebaliknya, pemimpin yang sejati adalah pelayan. Dari pengalamannya yang luas, C.R. Swindoll bisa mengatakan, “Sebagaimana akan kita lihat, pemimpin yang terbaik adalah pelayan-pelayan.” Musa, misalnya, selama 40 tahun membawa orang-orang Israel keluar dari tanah Mesir dengan mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di Mesirt, Laut Merah dan di padang gurun (Kis 7:36). Dengan tepat, Musa disebut hamba Tuhan (Ul 34:5), tetapi juga pemimpin bangsa Israel (Kis 7:350), bahkan, seperti dikatakan oleh para rabbi Yahudi, Musa selama 40 tahun melayani Israel.

Ketika para murid Yesus marah kepada kedua anak Zebedeus yang menginginkan kedudukan tinggi di kanan-kiri Yesus, maka Yesus berkata demikian: "Kamu tahu, bahwa pemerintah pemerintah bangsa bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu ...” (Mat 20:25-26).

Kepemimpinan kristiani harus berbeda dari kepemimpinan duniawi. Yesus sendiri yang adalah Tuan dan Guru rela membasuh kaki para rasul-Nya sebagai tanda dari kerendahan hati serta pelayanan-Nya (Yoh 13). Pada perjamuan terakhir, Yesus bertindak sebagai pemimpin yang melayani murid-murid-Nya. Ia melakukan segalanya sendiri: menanggal¬kan jubah, mengambil kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang, menu¬ang air dan membasuh kaki murid-murid-Nya. Tindakan Yesus ini penuh dengan tindakan simbolis. Menanggalkan jubah (atau mantel) me¬lambangkan pelepasan kehormatan dan martabat-Nya, sebab mantel bia¬sanya melambangkan kekuatan, kuasa dan martabat seseorang. Mengenakan kain lenan di pinggang melambangkan pelayanan, sebab seo¬rang pelayan memang melayani tuannya dengan kain di pinggang (bdk Luk 12:37 - melayani dengan pinggang terikat!). Menuangkan air untuk mencuci bagian tubuh dari seorang majikan biasanya dilakukan oleh hamba, sebagaimana dahulu Elisa "menuangkan air ke atas tangan Elia" (2 Raj 3:11; terjemahan LAI: "melayani Elia"). Membasuh kaki orang lain itu suatu pekerjaan yang hina, sebab waktu itu belum banyak orang yang memakai sepatu atau sandal, jadi kaki orang bia¬sanya kotor. Bah¬kan seorang budak Ibrani tidak boleh dipak¬sa men¬cuci kaki tuannya. Hanya saja seorang isteri kadang-kadang mencuci kaki suaminya seba¬gai tanda cinta atau seorang murid kaki gurunya. Tetapi tidak pernah terjadi seorang guru Yahudi men¬cuci kaki murid¬nya. Sungguh luar biasa yang dilakukan Yesus. Ia sering menjungkirbalikkan apa yang dijunjung tinggi oleh dunia. Hal yang sama Ia lakukan ketika Ia mengajarkan delapan Sabda Bahagia (Mat 5:3-10).

Sesuai dengan teladan Yesus, Paulus pun menyatakan diri sebagai hamba dari umat yang dilayaninya, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang” (1 Kor 9:19). Dari sebab itu paus juga disebut hamba semua hamba Allah (servus servorum Dei).

Yang dituntut dari seorang pemimpin-hamba (servant leader) adalah kerendahan hati. Pemimpin religius mengakui bahwa panggilannya pada akhirnya adalah anugerah Tuhan, dan keberhasilannya dalam memimpin adalah pertama-tama karya Tuhan. Yesus saja mengemba-likan kesuksesan-Nya kepada Bapa, ketika Ia berdoa, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Mat 11:25).

Paulus juga memberi kesaksian demikian, “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana” (2 Kor 2:14). Juga dalam 1 Kor 3:6-7 ia berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi per-tumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, me-lainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” Dari ayat ini juga kita bisa menyimpulkan satu hal penting: kita boleh berusaha, tetapi Allah yang menentukan. Dari sebab itu, kita perlu juga sabar apabila usaha kita secara manusiawi nampak sia-sia atau tidak banyak hasilnya. Mungkin karya kepemimpinan kita sebenarnya membawa hasil, tetapi tidak kita lihat, atau kita harus menunggu sampai Allah sendiri yang berkarya.

4. Kepemimpinan partisipatif
Musa pernah kewalahan dalam memimpin umat Israel yang amat rewel atau suka bersungut-sungut itu. Ia kecapaian. Hal itu dianggap tidak baik oleh mertuanya. Atas nasihat mertuanya (Kel 18:21), Musa menjalankan kepemimpinan yang partisipatif, artinya mencari sejumlah pembantu dan membagi beban pekerjaaan. Ia bersama banyak orang menjalankan tugas yang berat. Seorang pemimpin yang baik bukanlah seorang yang suka mengerjakan semuanya seorang diri, dengan kata lain seorang single fighter yang suka mengerjakan sendiri segala hal. Seorang yang single fighter tidak mengembangkan orang lain. Dia lebih memimpin di depan, menggerakkan yang lain untuk mengikutinya. Dalam diri Yesus, ke-pemimpinan partisipatif-Nya nampak antara lain dari usaha Yesus melibatkan para rasul dalam pewartaan dan misi-Nya (Mat 10:5-15; 28:19-20). Yesus membentuk team! Ketika mengadakan mukjizat, Yesus mengikutsertakan orang lain: mengikutsertakan para pelayan dalam mukjizat air menjadi anggur (Yoh 2:1-12), mengikutsertakan para murid dalam mukjizat pergandaan roti (Mat 14:19).

Mengikuti teladan Yesus, para rasul membagi tugas: para diakon melayani meja, sedang para rasul memusatkan perhatian pada doa dan pelayanan firman (Kis 6:1-5). Adanya macam-macam petugas Gereja (rasul, nabi, pengajar dan sebagainya) juga me-nunjukkan pentingnya pembagian tugas. Memang ada risiko bahwa hasil karya kita tidak bisa maksimal. Mungkin hasilnya akan lebih bagus apabila kita sendiri yang mengerjakan semuanya. Namun, seorang pemimpin yang baik harus berani ambil risiko. Ia perlu me-libatkan sebanyak mungkin orang, untuk memberi mereka kesempatan berkembang.

5. Motivasi pemimpin kristiani
1) Kasih kepada Allah:
Ketika Yesus akan mengangkat Simon Petrus menjadi gembala (=pemimpin) domba-domba-Nya, Ia bertanya, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepadaNya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba dombaKu." (Yoh 21:15). Sampai tiga kali Yesus menanyakan cinta Petrus kepada-Nya. Setiap kali Petrus menyatakan cintanya, Yesus mengampuni penyangkalannya yang tiga kali itu. Kalau pun orang yang dilayani tidaklah begitu menarik bagi seorang pemimpin religius, paling tidak dia dapat melayani dengan sungguh-sungguh demi cintanya kepada Allah.

b) Kasih kepada sesama:
Seperti Yesus, demikian juga para pemimpin kristiani harus memimpin jemaat karena kasih kepada mereka, karena keinginan kuat untuk menyelamatkan semua orang (1 Kor 10:33). Maka dari itu, Paulus memiliki hubungan mesra dengan jemaat bagaikan hu-bungan ibu-anak (1 Tes 2:7) atau hubungan bapa-anak (1 Tes 2:11; 1 Kor 4:15; 2 Kor 9:2) atau hubungan antar saudara (Gal 4:12; 6:1). Baiklah kita kutip juga ucapan Paulus ini, “Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga [membagi] hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi” (1 Tes 2:8).

c) pengharapan akan ganjaran Tuhan
Melayani sesama demi cinta kepada Tuhan harus dilakukan dengan hati tulus dan tanpa pamrih. Perlu dipupuk sikap yang diajarkan Yesus ini: setelah menyelesaikan tugas, kita perlu berkata, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya mela-kukan apa yang kami harus lakukan." Akan tetapi Alkitab juga mengajarkan bahwa salah satu motivasi untuk bertahan dalam pelayanan adalah harapan akan mendapat ganjaran. Bukankah dikatakan dalam Ibr 6:10, “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” Juga tentang Musa yang banyak berkurban, Ibr 11:26 mewartakan bahwa, “[Musa] menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.” Tentunya upah yang diharapkan Musa adalah upah rohani dan abadi. Bdk. juga 1 Ptr 5:2-3.

6. Pemimpin sebagai pemersatu
Salah satu gambaran seorang pemimpin adalah gembala. Sebagai gembala dia bertugas menyatukan domba-domba. Menurut seorang gembala yang berpengalaman, Philip Keller, kalau seorang gembala yang baik hadir di tengah domba-domba, maka tidak terjadi perkelahian di antara mereka. Kepemimpinan atau otoritas Yesus menyatukan jemaat. Hal ini antara lain nampak dalam kenyataan bahwa para rasul diutus-Nya tanpa perlu membawa bekal sendiri. Mere-ka harus menyatu dengan jemaat yang dilayani, makan dan minum dari rumah yang mene-rima mereka (Luk 10:7-8). Hal ini berbeda dengan para guru Yahudi pada waktu itu yang membedakan diri dari jemaat, tidak percaya kepada jemaat sehingga mereka perlu mem-bawa uang dan bekal sendiri demi menjaga kemurnian atau kehalalan makanan. Para pemimpin seperti ini memecah-belah!

7. Kualitas moral pemimpin kristiani
a) Dalam PL:
Mertua Musa berkata demikian, “Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang orang yang cakap dan takut akan Allah, orang orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang” (Kel 18:21). Yang dimaksud dengan “takut akan Allah” adalah hormat dan ketaatan kepada Allah berdasarkan rasa kasih.

Baik juga untuk kita kutip dan renungkan di sini teguran Allah kepada gembala-gembala Israel atau para pemimpin mereka, “Celakalah gembala gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman” (Yeh 34:2-4). Sungguh kaya gambaran pemimpin sebagai “gembala”!

b) Dalam PB:
(1) Dalam surat-surat pastoral (1 Tim, 2 Tim dan Tit) dapat kita jumpai macam-macam syarat bagi para pemimpin jemaat (diakon, penilik jemaat dan penatua). Baiklah kita kutip satu saja: “Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus jemaat Allah?” (1 Tim 3:3-5).

(2) Dalam 1 Ptr 5:2-3 kita temukan nasihat-nasihat yang indah dari penulis surat 1 Petrus kepada sesama penatua: "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.

Jadi diperlukan kerelaan, semangat pengabdian dan bukan semangat mencari keuntungan diri sendiri. Seorang pemimpin jemaat juga dipanggil untuk menjadi teladan. Dalam hal ini Paulus, tanpa rasa sombong, bisa berkata, “Saudara saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami menjadi teladanmu.” (Filipi 3:17) Yesus pun menjadi contoh bagi para murid (Yoh 13; Mat 11:29). Kata-kata memang meyakinkan, namun teladanlah yang menggerakkan! Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, dalam kepemimpinan teladan itu penting. Kepemimpinan menyangkut soal pemberian motivasi dan animasi kepada orang lain. Maka perlu teladan hidup sehingga dia mampu meyakinkan orang lain. Ayat yang sesuai dengan ini adalah Ibr 13:17, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” Secara harafiah ayat ini berbunyi, “Hendaknya kamu diyakinkan oleh para pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka ...”

Pemimpin - Pengorbanan.
Musa adalah contoh pemimpin yang penuh pengurbanan. Ia rela bekerja keras un-tuk kesejahteraan bangsa Israel, dan menyamakan diri dengan nasib Israel. Ia rela binasa bersama Israel yang berdosa (bdk. Kel 32:31-32). Dalam Ibr 11:24-26 dengan indahnya pengurbanan diri Musa dijelaskan sebagai berikut, “Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia meng-anggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.”

Yesus Kristus pun rela mengurbankan nyawa bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:11dst.). Begitu juga Paulus. Ia bekerja keras demi pembangunan Kerajaan Allah dan jemaat (bdk. Kis 20:17-38). Ia banyak menderita akibat tugas kepemimpinan dan pelayanannya.

Kesetiaan dan tanggung jawab pemimpin
Yang dituntut Tuhan dari para hamba-Nya adalah kesetiaan (bdk. 1 Kor 4:2). Musa dan Yesus telah terbukti setia sebagai pemimpin rumah Allah (Ibr 3:5-6). Maka dari itu, diharapkan juga dari para pemimpin religius kesetiaan pada tugas, meskipun mengalami kesulitan dan penderitaan. Yesus mencari pemimpin-hamba yang setia dan bertanggung-jawab, yang mengembangkan talenta yang dipercayakan Tuhan kepada mereka (Mat 25:14-31). Dalam Luk 12:42-43 Yesus berkata, “Jadi, siapakah pengurus rumah yang se-tia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepa-damu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.”

Tabah menghadapi kritik, halangan dan musuh
Semakin tinggi suatu pohon, semakin mudah dia diterpa angin. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin mudah ia menjadi sasaran kritikan orang, entah kritik yang benar dan membangun, entah kritikan yang dilontarkan oleh orang yang tidak suka kepa-danya, yang iri kepadanya. Juga penentang atau musuh sering muncul: Neh 2:10; 1 Kor 16:8; Kis 20. Itu hal yang biasa.

Pemimpin yang sejati tahan kritikan, seperti Musa misalnya. Musa harus meng-hadapai Umat Israel yang rewel, yang suka sekali menggerutu. Bahkan Harun dan Miriam pernah iri hati serta meragukan otoritas Musa.Yesus juga menjadi sasaran kritikan para musuh. Ini jelas dari seluruh Injil.

8. Beberapa contoh pemimpin dalam Alkitab
Alkitab lahir dalam konteks budaya Israel zaman dahulu, di mana kaum lelaki yang menentukan garis keturunan (patrilineal) dan yang menguasai kehidupan politik dan sosial (patriarkhat). Maka tidak mengherankan kalau dalam Alkitab jarang sekali dibicarakan to-koh perempuan sebab kaum perempuan memang tidak banyak berperan dalam kehidupan Israel. Namun baiklah di sini kami bahas sekilah tentang kepemimpinan Nehemia, dan di-singgung secara singkat dua tokoh perempuan Debora dan Ester. Tokoh-tokoh besar se-perti Yesus sendiri, Paulus atau Musa tidak dibicarakan di sini karena mereka sudah di-singgung di sana sini.

a) Debora
Pada zaman para hakim, ada seorang perempuan bernama Deborah, seorang nabiah, “yang memimpin sebagai hakinm di Israel” (Hak 4:4). Sungguh luar biasa kemun-culan tokoh ini, mengingat masih rendahnya kedudukan perempuan pada waktu itu. Dia menjadi alat Tuhan untuk membangkitkan kembali semangat bangsa Israel yang letih lesu dan mungkin hampir patah semangat (bdk. Hak 4:7) sebab sudah dua puluh tahun lamanya mereka berada di bawah penindasan keras dari raja Jabin, raja Kanaan (Hak 4:2). Debora berhasil meyakinkan Barak untuk menggerakkan suku Naftali dan Zebulon melawan Sisera, panglima tentara raja Jabin. Kepemimpinan Debora nampak dari permintaan Barak kepada perempuan ini, “Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju” (Hak 4:9). Bersama Barak, Debora memimpin pasukan Naftali dan Zebulon sehingga berhasil menang. Tidak mengherankan jika Debora dipuji sebagai “ibu Israel” (Hak 4:7).

b) Nehemia
Setelah Koresy, raja Persia, mengalahkan Babilon, ia mengizinkan orang-orang Yahudi (=sisa bangsa Israel) untuk pulang ke tanah air mereka kembali. Kepulangan bang-sa Yahudi terjadi secara bertahap, yakni dalam tiga tahap. Sepak terjang Nehemia terjadi dalam kaitan dengan tahap ketiga. Sering orang membahas Nehemia sebagai contoh kepe-mimpinan yang sukses. Maka di bawah ini kita lihat bagaimana ciri dan sifat kepemim-pinannya sebagaimana terdapat dalam kitab Nehemia.

Nehemia adalah seorang Yahudi yang bekerja sebagai juru minuman Artahsasta, raja Persia-Media (Neh 2:1). Jabatan tersebut amat penting sebab ia harus menguji dulu minuman yang akan diminum raja. Kalau ada racunnya, ia akan merasakan dulu aki-batnya. Seorang juru minuman adalah “pelindung raja” dan seringkali menjadi sahabat dan penasihat raja. Kepada Hanani yang datang dari Yerusalem, dia menanyakan keadaan saudara-saudara sebangsanya dan tentang Yerusalem. Memang kota suci ini memiliki makna yang amat penting bagi setiap orang Yahudi (bdk. Mzm 137:5-6, “Jika aku melu-pakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!”).

Berita buruk tentang keadaan orang Yahudi yang menderita dan terhina serta keadaan tembok Yerusalem yang hancur membuat Nehemia sedih sekali sampai menangis, berkabung dengan berpuasa dan berdoa kepada Allah (Neh 1:4). Dua hal menjadi jelas dalam kisah ini: (1) Nehemia mempunyai perhatian besar pada nasib bangsanya dan nasib Yerusalem; (2) dia mengawali semuanya dengan doa; doa adalah unsur penting dalam hidup seorang pemimpin. Isi doa Nehemia (Neh 1:5-11) adalah sebagai berikut: keper-cayaan akan kuasa Allah yang maha dahsyat dan kesetiaan-Nya; pengakuan dosa sendiri dan dosa bangsanya; permohonan kepada Tuhan agar Dia mengabulkan doanya.

Ketika raja Artahsasta menanyakan apa yang harus dia perbuat terhadap bangsa dan gerbang-gerbang Yerusalem, Nehemia berdoa dahulu (2:4)! Rupanya raja Persia ini terkenal keras sehingga Nehemia amat takut kepadanya (2:2) dan perlu bantuan Allah sendiri untuk menghadapinya. Selain itu, untuk menentukan visi dan misi yang akan dia kejar, ia berdoa dulu mohon petunjuk Allah (lih. 2:12). Tugas dari Allah: ia harus membangun kembali tembok Yerusalem (2:5). Ia juga sudah mampu memperhitungkan waktu yang diperlukan (ay. 6). Ia juga memberanikan diri untuk meminta dua hal ini: (1) surat raja agar perjalanannya yang amat jauh itu (sekitar 1200 km) tidak sampai dihalangi oleh para bupati; (2) kayu yang diperlukan untuk pembangunan. Raja Artahsasta malah menambahnya dengan pasukan untuk menjaga keamanan perjalanan.

Misi Nehemia segera menghadapi tantangan/musuh, yakni Sanbalat (orang Moab dari Horon yang mungkin menjadi penguasa di Samaria) dan Tobia orang Amon (2:10). Suatu hal yang biasa: pemimpin sering menghadapi musuh.

Nehemia tiba di Yerusalem dan segera meneliti keadaan. Pemimpin yang baik ti-dak tergesa-gesa. Ia meneliti untuk mengenal keadaan (2:13.15). Ia juga merahasiakan penyelidikannya agar lebih aman. Setelah dia mengenal dengan baik situasinya, barulah ia meyakinkan para pemuka bangsa Yahudi untuk mengambil tindakan, yakni pembangunan kembali tembok Yerusalem. Untuk itu Nehemia mengemukakan dua alasan (2:17-18):

1) karena keruntuhan tembok Yerusalem adalah suatu aib bagi orang Yahudi sendiri; inilah salah satu motivasi yang amat penting untuk suatu karya bersama, yakni jika karya itu menyangkut harga diri dan kepentingan bersama.

2) karena kemurahan Tuhan dan raja Artahsasta dalam kehidupan Nehemia.

Mendapat motivasi semacam itu semua pemuka Yahudi berseru, “"Kami siap untuk membangun!" Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.” Nehemia adalah pemimpin yang berhasil sebab ia mendapat banyak pengikut.

Pada Neh 2:19 kita temukan lagi musuh-musuh Nehemia yang sudah disebut di atas, malah kali ini bertambah lagi musuhnya dengan Gesyem, orang Arab. Mereka meng-olok-olok usaha Nehemia dan menuduh dia sebagai pemberontak. Tuduhan semacam ini mudah ditolak oleh Nehemia dengan menunjukkan izin raja Artahsasta. Namun peng-hinaan dan olok-olokan mereka bisa mengecilkan hati orang-orang Yahudi yang baru pulang dari pembuangan, jadi mereka itu masih lemah dan kurang percaya diri. Jawaban Nehemia sungguh membesarkan hati, “Aku menjawab mereka, kataku: "Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun” (ay. 20). Jadi, andalan mereka adalah kuasa Tuhan, bukan kekuatan diri sendiri.

Pembangunan tembok Yerusalem pun dimulai, dengan melibatkan semua pihak, bahkan anak-anak perempuan dilibatkan (3:12), dan dengan pembagian yang jelas dan rapi. Melihat itu para musuh Nehemia muncul lagi, dan menjadi marah dan sakit hati (jadi reaksi mereka semakin memuncak, sebab dalam Neh 2:10 mereka itu cuma kesal hati). Lalu, mereka kembali mengolok-olok karya pembangunan tembok Yerusalem (4:1-3). Namun, Nehemia dan rakyat Yahudi berdoa! Menghina para pembangun tembok sama dengan menghina Tuhan (4:5). Mereka tetap membangun dengan segenap hati. Tidak ada waktu untuk mendengarkan ejekan-ejekan yang bisa mengecilkan hati.

Melihat kemajuan pembangunan, para musuh Nehemia bergabung untuk meng-gagalkan usaha tersebut, dan kali ini dengan kekerasan. Mereka akan menyerang orang Yahudi. Kembali Nehemia berdoa kepada Tuhan. Namun, tidak cukup dengan doa. Tuhan tidak suka menolong orang yang tidak mau berusaha sendiri. Nehemia mengatur penjaga-an kota, siang dan malam, sambil tetap melanjutkan pembangunan.

Kini musuh datang dari dalam diri bangsa Yahudi. Ini musuh yang lebih berba-haya. Sejumlah orang Yahudi mulai kehilangan daya tahan. Mereka berkata, “Berkatalah orang Yehuda: "Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini" (4:10).

Nehemia membesarkan hati bangsa Yahudi dengan mengingatkan bahwa perjuangan mereka didukunbg oleh kuasa Tuhan dan bahwa perjuangan ini menyangkut harga diri mereka sebagai kepala keluarga, “"Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu” (4:14). Suatu kemampuan luar biasa dari seorang Nehemia sebagai pemimpin! Namun, keberhasilan Nehemia didukung juga dengan sikap lain yang perlu bagi seorang pemimpin, yakni keterlibatan pribadi dalam karya itu, “Demikianlah aku sendiri, saudara-saudaraku, anak buahku dan para penjaga yang mengikut aku, kami semua tidak sempat menanggalkan pakaian kami. Setiap orang memegang senjata dengan tangan kanan” (4:23).

Masalah lain yang dihadapi Nehemia adalah ketidakadilan yang terjadi dalam tubuh bangsa Yahudi sendiri. Terjadi pemerasan terhadap sesama Yahudi. Hal ini dilakukan juga oleh keluarga Nehemia. Ketidakadilan yang menyangkut hak milik atas tanah. Pengambilalihan tanah sebagai pembayar hutang harus ditebus oleh saudara dekat yang lebih mampu secara ekonomis. Inilah hukum yang berlaku di Israel (Im 25:25dst). Mendengar adanya ketidakadilan yang bertentangan dengan Hukum Taurat, marahlah Nehemia. Kemarahan yang wajar dan beralasan. Kemudian dia menghimbau semua orang untuk menghapuskan hutang sesamanya. Dia sendiri juga melakukan hal itu (5:10). Ajakannya disambut secara positif. Maka terjadilah kedamaian di tengah bangsa Yahudi.

Lebih lanjut, Nehemia tidak mau menerima “gaji” yang patut diterima oleh seorang bupati. Dengan demikian, Nehemia menjadi teladan seorang pemimpin yang penuh pengurbanan diri. Ia memimpin demi kesejahteraan sesama, bukan untuk memperkaya diri atau untuk kepentingan pribadi lainnya. Namun, ia tetap berharap bahwa Allah akan memberikan ganjaran atas pengurbanan ini (5:19).

Usaha para musuh Nehemia untuk menjebak dia dan membunuh dia, tidak berhasil. Bahkan ada nabi yang disuap oleh para musuhnya untuk menjebak Nehemia. Namun, Nehemia tetap waspada dan ada dalam perlindungan Tuhan.

Akhirnya, sejauh mengenai kepemimpinan Nehemia, masih ada satu hal yang perlu disebutkan di sini, yakni: penjagaan kota yang dia atur secara rapi. Sering kali orang memulai sesuatu, tetapi tidak menjaga kelestariannya. Tidak demikian dengan Nehemia.

c. Ester adalah seorang perempuan Yahudi yang dibawa oleh sepupunya sekaligus bapa angktanya, yakni Mordekai. Mereka tinggal di benteng Susan, di kerajaan Persia, pada zaman raja Ahasyweros. Rupanya Mordekai menjadi seorang pejabat di kerajaan ini. Karena dalam suatu pesta besar ratu Wasti menolak perintah raja untuk tampil di depan para undangan, maka akhirnya dicopot dari kedudukannya. Setelah melewati seleksi ketat, akhirnya Ester, gadis Yahudi, menjadi ratu menggantikan Wasti.
* seorang pribadi yang menyenangkan bagi orang lain (Est 2:9.15.17).
* seorang pribadi yang taat kepada Modekai, ayah angkatnya (Est 2:20, “Ester tetap berbuat menurut perkataan Mordekhai seperti pada waktu ia masih dalam asuhannya.”).

Menurut Est 2:21-23, Mordekai secara tidak sengaja mendengar rencana pembunuhan raja Ahasyweros. Berkat laporan Mordekai (lewat ratu Ester), usaha pembunuhan itu digagalkan. Namun, raja tidak mengingat jasa besar Mordekai dan Ester. Menurut Est 3:1-11, Haman, seorang Agag, marah ketika mengetahui bahwa Mordekai tidak mau bersujud di hadapannya. Ia ingin menghukum Mordekai dan seluruh orang Yahudi yang ada dalam kerajaan tuannya. Raja setuju dengan permintaan Haman. Bangsa Yahudi di kerajaan Persia ada dalam bahaya maut. Mordekai dan semua orang Yahudi berkabung. Ratu Ester akhirnya mendapat tahu mengapa mereka itu berkabung. Mordekai meminta Ester untuk menghadap raja, dan mohon kepadanya belaskasihan. Atas desakan Mordekai, Ester memberanikan diri menghadap raja dengan risiko hukuman mati, sebab menghadap raja tanpa dipanggil olehnya, itu melanggar undang-undang. Ester pun berpuasa (tentunya sambil berdoa); ia juga mohon dukungan doa dan puasa dari seluruh rakyat Yahudi yang ada di sekitar benteng Susan. Ester bersedia mati, jika perlu (Est 4:7).

Dengan mempergunakan kecantikannya, Ester berhasil bertemu dengan raja. Dengan cerdik ia mengatur semuanya. Raja dan Haman diundang ke perjamua makan di rumah Ester. Sementara itu, raja Ahsyweros tidak dapat tidur lalu minta dibacakan sejarah kerajaan. Kisah penyelamatan jiwanya dari pengkhianatan terungkap kembali. Ia sadar bahwa Mordekai belum mendapat ganjaran. Maka akhirnya Mordekai mendapat penghormatan dan tanda terima kasih (dengan cara-cara yang diusulkan oleh Haman yang mengira dia sendirilah yang akan mendapat penghargaan dari raja). Selanjutnya, atas permintaan Ester maka Haman dihukum mati (Est 7), bangsa Yahudi diselamatkan dari ancaman maut dan dilindungi terhadap musuh (Est 8), dan kesepuluh anak Haman dihukum mati juga. Atas usaha Ester dan Mordekai, ditetapkan hari-hari Purim untuk memperingati kebebasan bangsa Yahudi dari malapetaka (Est 9).

Nampak dalam kisah di atas bagaimana seorang perempuan, dalam kerja sama dengan ayah angkatnya, berhasil menyelamatkan bangsa Yahudi dari bencana besar, dengan menggunakan kedudukan dan kecerdikannya. Ia juga menggunakan kedudukannya sebagai ratu untuk menetapkan dengan ketegasan hari-hari raya Purim.

0 komentar:

Poskan Komentar