Ads 468x60px

Kaul Ketaatan


Selayang Pandang

PENGANTAR
Apakah kita bisa menghayati ketaatan sebagai keutamaan hidup religius, bila kita tidak dapat menerangkannya secara jelas? Dapat, sebab Roh Allah yang membimbingnya. Demikian pula untuk keutamaan-keutamaan lainnya. Perlu dibedakan: Seorang teolog bisa menjelaskan kaul ketaatan secara jelas, bagus, dan lengkap, namun belum pasti dia bisa menghayati ketaatan dengan baik. Dapat terjadi bahwa orang yang tak dapat menerangkan tentang ketaatan dengan jelas, bisa menghayati ketaatan dengan bagus pula.

KETAATAN KRISTUS 
Konsili Vatikan II dalam menegaskan Ketaatan Religius menunjuk pada surat St. Paulus kepada umat di Pilipi 2:5-8:

“Kasih Allah yang besar … telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu telah diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus, Ia telah membang-kitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kasih karuniaNya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikannya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, …”

Beberapa komentar teks tersebut mau menjelaskan: macam apakah ketaatan Jesus itu dan bagaimanakah seharusnya ketaatan kita hayati? Secara prinsipial hendaknya sikap penalaran (budi), perilaku (hati) dan kehendak identik (sama) dengan sikap hati dan kehendak Kristus. 

St. Paulus mempunyai gambaran Tubuh mistik Kristus yang dikepalai oleh Kristus. Sikap taat Kepala memancar ke seluruh anggota Tubuh Mistik-Nya. Kita, terlebih lagi Religius adalah anggota-nggota tubuh mistik Kristus. Melalui cara keanggotaan Tubuh Mistik Kristus itulah kita akan membangun keindentikan ketaatan kita dengan ketaatan Kristus.


Arti ketaatan Kristus
Pengertian yang tepat tentang “ketaatan Kristus” itu terdapat dalam Surat St. Paulus kepada umat di Filipi bab 2:
Ayat 6 dikatakan: “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak mengganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan”. 

Sebagai Allah, Kristus mempunyai hak untuk selalu dalam kemuliaan ilahiNya pun dalam keadaannya sebagai manusia. Namun Ia tidak mendambakan kemuliaan ilahi tersebut secara tamak. Ia lebih suka mengambil rupa seorang hamba yang “mengosongkan diri”, menjadi sama dengan manusia tanpa tanda kemuliaan yang tampak. Ia sungguh manusia.

Kristus amat suka menjadi seorang yang melayani. Mengosongkan dirinya dari kemuliaan ilahi yang menjadi hak-Nya. Ia menyerahkan diriNya kepada bapaNya melalui ciptaan-ciptaan Allah yang menampakkan kehendak BapaNya, seperti: orang-orang, kejadian-kejadian, lembaga-lembaga (umum mapun religius), penderitaan-penderitaan, keterbatasan-keterbatasan, dll. Kunci ketaatan pada umumnya maupun terlebih ketatan religius, terletak pada penyerahan diri kepada Allah melalui ciptaan Allah (entah manusia, entah barang).

Ayat 8 dikatakan: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Ayat tersebut meneguhkan kerendahan hati Kristus. Kerendahan hati dan ketaatan dipergunakan dalam arti yang sangat mirip. Maka bagi Kristus ketaatan berarti: menerima rencana Bapa; menerima kehendak Bapa melalui pelbagai cara, misalnya: melalui bermacam-macam orang, peristiwa, dan lembaga-lembaga manusiawi.

Yesus Kristus tidak mempunyai pembesar baik di dunia maupun di Sorga. Ia dan Bapa sama (John 10:30) Ketaatan Yesus ialah penyerahan diri-Nya sebagai manusia (mengena-kan kodrat manusia) kepada kehendak Bapak-Nya. Kehendak Bapa-Nya diterangkan:
• pada-Nya secara batin oleh Roh Kudus.
• kepadanya secara lahiriah melalui alam semesta yang tercipta ini.

Meskipun lahiriah Yesus menundukkan diri kepada perantara-perantara tercipta, namun secara batiniah Ia memelihara hubungan pribadi dengan Bapa-Nya dan Ia tetap sebagai pribadi yang bebas merdeka. Ia taat kepada perantara tercipta didorong oleh rasa hormatNya kepada Bapa.

Para Bapa Gereja
Para Bapa Gereja suka untuk menujukkan bahwa berkat ketaatan Kristus apa yang telah hilang karena ketidaktaatan Adam dikembalikan. Dosa teerbesar manusia Pertama dalah “ingin seperti Allah”, yaitu memutuskan apa yang baik dan apa yang jahat. Memang Allahlah yang menjadi pemegang tertinggi: pemutusan apakah sesuatu itu baik atau buruk.Jadi manusia Pertama digoda untuk menjadi “kaum Tertinggi bagi dirinya sendiri, bukan Allah.

Manusia Pertama haus akan kekuatan ilahi dan jatuh ke dalam ketidaktaatan dan kita terluka. Adam Kedua, Jesus Kristus, dalam kemanusiaanNya tidak haus akan kesamaan-Nya dengan Allah, menjadi taat sehingga kita disembuhkan. Kekosongan diriNya memperkaya diri kita.


KETAATAN SEORANG KRISTIANI
Ketaatan seorang Kristiani perlu disejajarkan dengan ketaatan Kristus. Letak perbeda-an ketaatan seorang religius, dibanding dengan seorang kristiani biasa, ialah pada lebih cermat dan lebih dalamnya dalam konteks kesungguhannya.

Dasar ketaatan kristiani
Dasar ketaatan kristiani ialah kesamaan hati dan budi dengan Jesus Kristus. Ketaatan kepala Tubuh Mistik dan anggota-anggotanya tidaklah berbeda. Ketaatan Kristus hendaknya menjadi ketaatan kita: artinya ketaatan Kristus tidak hanya menjadi model (sesuatu yang di luar diri kita), tetapi juga menjadi sumber partisipasi kita pada ketaatan Kristus internal. Ada hubungan batin dan hubungan hidup dengan Kristus, sehingga kitapun digerakkan oleh Roh Kudus untuk mentaati Allah Bapa. Kita adalah anak-anak angkat Allah, maka kita juga memiliki kemuliaan ilahi anak-anak angkat Allah (lihat: Rom. 8:18-21). Semacam kemuliaan Kristus yang telah bangkit hadir dalam diri kita dan tak tampak secara lahiriah. Hanya orang yang dianugerahi iman yang sangat kuat mampu melihat itu.

Karena kita adalah anak-anak Allah maka kita tidak tunduk baik kepada setiap orang maupun kepada setiap ciptaan, tetapi hanya tunduk kepada Tuhan Allah sendiri. Kita hanya tunduk kepada pribadi-pribadi ilahi, namun bila Allah mempercayakan kekuasaan kepada seseorang, maka kita harus mentaati Allah. Ketaatan kepada pribadi yang diserahi kekuasaan oleh Allah hanya bisa dihayati bila:

a. Ia punya iman kuat bahwa Allah datang kepadanya melalui pribadi tersebut.
b. Ia punya iman kuat bahwa pribadi tersebut akan membawa dirinya dekat pada Allah.
c. Ia memiliki cinta besar sehingga ia mampu mengelahkan pemberontakan manusiawinya untuk menerima kehadiran Allah melalui perkataan-perkataan pribadi tersebut.

Arti Ketaatan Kristus
Dengan beriman kepada Kristus, maka ketaatan berarti “mengosongkan diri, kita menyangkal setiap pernyataan kemuliaan anak-anak Allah dalam diri kita dan menerima perendahan diri dalam mana kita tunduk kepada kehendak Allah melalui pribadi-pribadi tercipta (segala Ciptaan Allah yang lain). 

Ketaatan Kristus mencakup segala sesuatu: Ia mentaati Bapa-Nya dalam perintah-perintah pribadi yang diterimaNya dari orang-orang yang nampak mempunyai kuasa atas diriNya. Ia mentaati Bapa-Nya sejauh kehendak Bapa itu menjadi jelas dalam hukum-hukum, lembaga-lembaga dan peristiwa-peristiwa biasa sehari-hari.
Kitapun juga harus mentaati kehendak-kehendak Allah yang nampak melalui pribadi-pribadi pemegang kekuasaan melalui hukum-hukum, lembaga-lembaga dan peristiwa-peris-tiwa hidup sehari-hari. Ketaatan tersebut berdasar pada pandangan iman yang memampukan kita untuk melihat bahwa serta merta seluruh alam semesta ini adalah ilahi yang sedang membawakan pesan Allah bagi kita.

Catatan Singkat
Hakekat dasar spiritualitas St. Ignasius adalah “memperluas jangkauan hidup membiara ke segala pelosok dunia”. Ia tidak membuang biara dan tidak mengesampingkan liturgi. Hidup membiara tetap berharga, hanya jangkauannya ke seluruh dunia. Hidup liturgi diperluas bahwa segala kegiatan pengabdian kepada Tuhan/Gereja, termasuk penyembahan kepada Allah (liturgi). Itulah sebabnya dalam spiritualitas St. Ignasius antara kontemplasi dan aksi sungguh-sungguh tidak dapat dibedakan; setiap kegiatan rohani (kontemplasi) dan setiap perbuatan konkret (aksi) adalah jawaban terhadap undangan yang ilahi. 

Orang kristiani mengambil bentuk hamba, yang menolak pernyataan kemuliaannya di dunia ini, yang menjadi haknya sebagai anak Allah. Ia seorang abdi yang rendah tunduk kepada Allah dan melaksanakan kehendak-kehendak Allah seperti tampak melalui kejadian-kejadian biasa sehari-hari, melalui orang-orang biasa dan melalui lembaga-lembaga manu-siawi biasa. Melalui jalan itulah ia setia pada Tuhan sampai mati.

Maka ada kesejajaran yang sungguh-sungguh antara ketaatan Kristus dan ketaatan kristiani. Ketaatan Kristus tidak akan berubah dan tidak dapat berubah, akan tetap sama selama-lamanya. Ketaatan kristiani adalah ketaatan sampai titik pengosongan diri, dalam menerima kehendak Allah sebagaimana nampak melalui saluran-saluran ciptaan, sampai kematian entah dalam bentuk apa yang dianugerahkan Tuhan. Pengertian ketaatan yang tradisional ialah pengurbanan penuh.


KETAATAN BERAKAR DALAM IMAN, HARAPAN DAN KASIH
Di dalam ketiga keutamaan teologis tersebut ketaatan mendapatkan arti penuh dan seimbang. Konsili menegaskan bahwa ketaatan religius berdasar pada iman. Khususnya iman pada nilai-nilai ilahi dalam dunia ciptaan Allah. Saya tidak dapat mengosongkan diri dan menaati Tuhan, kecuali jika saya percaya bahwa manusia, peristiwa dan benda-benda adalah saluran-saluran kehendak Allah. Tanpa pandangan dan tanpa beriman begitu, tidak mungkin manusia dapat sungguh-sungguh taat pada Allah. Kerapkali kegagalan dalam ketaatan disebabkan karena tidak mempunyai pengertian di atas dan tidak memahami kualitas ilahi dunia ini.

St. Ignasius mengharapkan supaya para Jesuit memiliki 2 keutamaan dasar yaitu: (a) Ketaatan kepada Tuhan dalam segala dan (b) beriman kepada Tuhan dalam segala. Keduanya berjalan bersama-sama. Saudara tidak dapat menjadikan ketaatan sebagai hukum dasar hidup saudara, jikalau saudara tidak percaya bahwa alam semesta ini adalah pewahyuan hati dan budi Allah, kepada saudara. Hal itu disebut pantang di dunia bagi Kristus, sama dengan datang ke rumah Bapa. Segala sesuatu di dunia tercipta ini berbicara tentang budi dan kehendak Bapa-Nya. Demikian pula orang kristiani hendaknya: mau percaya bahwa manusia-manusia, benda-benda dan kejadian-kejadian yang biasa merupakan alat-alat berahmat yang membimbing mereka kepada Tuhannya. 

Keutamaan Iman dan keutamaan Harapan
Keutamaan iman adalah dasar dari keutamaan ketaatan. Keutamaan mendorong orang untuk mempercayakan diri dan menaruh harapan yang berpusat pada kesetiaan Tuhan. Saya berharap bahwa Ia akan menyelamatkan diriku dan memberikan semua sarana yang perlu untuk mencapai kebahagiaan abadi. Sarana tersebut mungkin adikodrati dan kodrati. Sarana kodrati dapat berarti pribadi-pribadi atau objek-objek ciptaan, yang menjadi sarana penyampaian kehendak Allah. 

Keutamaan harapan, berarti saya mempercayakan diri kepada Tuhan, karena saya mengerti dengan kepastian bahwa kehendak Tuhan menjadi jelas bagiku melalui mahluk tercipta. Keutamaan itu memimpin saya menuju kepada Tuhan dan membimbing saya kepada kebahagiaan penuh. Tanpa keutamaan harapan, saya tidak mampu taat. Keutamaan harapan menjadi milik jiwa ketaatan. Keutamaan harapan mengandung “pemercayaan diri” kepada penyelenggaraan ilahi. Allah yang penuh perhatian terhadap Yesus Kristus, kepala Tubuh Mistik Kristus, demikian pula penuh pemeliharaan/perhatian kepada anggota anggota Tubuh Mistik-Nya. Iaman kepada Allah yang penuh kasih dan pemeliharaan kepada Yesus dan pada anggota tubuh Mistik Kristus merupakan hal yang pokok bagi orang yang berjuang untuk menghayati keutamaan ketaatan.

Akhirnya ketaatan hendaknya dimengerti dan dilaksanakan dalam konteks cinta ilahi, cinta kasih ilahi. Cinta dan cinta kasih ilahi tersebut berarti bahwa saya mau memberikan diriku dan semua milikku kepada Allah, tanpa mengharap imbalan saya ingin memperkaya orang yang saya cintai. Ketaatan akan kerapkali menuntut pemberian diri melalui ketaatan berarti saya menghabiskan diriku untuk sesama dan untuk membangun Kerajaan Allah dengan melakukan pekerjaan sehar-hari (misalnya: mengajar di kelas, dll.) Kenyataannya pemberian diri dalam cinta dan pemberian segala milik kepada Tuhan tidak dapat dilaksanakan tanpa pengurbanan.

Ketaatan Menuntut Pengurbanan
Pengurbanan kerapkali dilihat sebagai tindakan yang menghancurkan sesuatu. Misalnya: saya tidak menggunakan sesuatu atau saya memberhentikan sesuatu di situ terasa ada pengurbanan. Tetapi hal itu hanya accidens saja (hal yang paling luar). Arti yang benar dan penuh dari kata kurban ialah sesuatu perbuatan oleh mana saya memperoleh sesuatu kesatuan yang lebih besar dengan Tuhan. Jika saya mengorbankan barang-barang milik saya demi Tuhan, hal yang pokok bukanlah dalam melepaskan barang-barang tersebut, tetapi dalam pembebasan diriku sendiri untuk memperoleh suatu kesatuan yang lebih dalam dengan Tuhan.

Apa yang sungguh-sungguh terjadi ialah aspek positif tersebut, namun aspek negatifnya selalu menyertainya. Aspek negatif tersebut terasa karena kita ini berkodrat manusia, terbebani oleh dosa pribadi, terbebani oleh kecenderungan-kecenderungan buruk. Sehingga setiap kali kita ambil bagian dalam alam adikodrati (persatuan dengan Tuhan), kodrat kemanusiaan kita terasa sakit, karena terjadi penghancuran nilai, bahkan nilai-nilai yang baik dalam dirinya sendiri. Misalnya: sedang asyik rekreasi lantas harus diam untuk meneliti batin, dll. Hal terpokok dalam berkorban bukanlah dalam “menghancurkan suatu nilai”, tetapi dalam usaha untuk memperoleh suatu kesatuan yang lebih dalam dengan Tuhan.

Untuk memperoleh kesatuan dengan Tuhan yang lebih penuh, saya harus melepaskan barang-barang ciptaan, saya harus membebaskan diri dari penghalang-penghalang; dan pembebasan tersebut melukai kodrat kemanusiaanku dan aku sebut pengurbanan, tetapi letak arti sesungguhnya dari korban bukanlah di situ. Letaknya di dalam “kesatuan dengan Tuhan”.

Taat kepada Allah berarti Pengorbanan
Arti tepatnya mentaati Allah ialah “untuk memperoleh kesatuan yang lebih dalam dengan Tuhan”, kesungguhan cinta yang lebih dalam, pemberian diri yang lebih dan lebih. Dalam pemberian diri kadang-kadang melukai kodrat manusiawi mita (terasa sakit), karena pemberian diri tersebut belum sampai ke cinta yang murni. Namun rasa sakit tersebut menjadi bagian pertumbuhan kita menuju lebi bersatu dengan Tuhan (perkembangan peziarahan).

Maka ketaatan dapat dikatakan korban dalam dua arti yang berbeda: 
a. Pengorbanan dalam arrti positif: suatu persatuan yang lebih dalam dengan Tuhan dalam Cinta; kehendakku dikorbankan karena dipersatukan dengan kehendak Tuhan.
b. Pengorbanan dalam arti yang negatif: suatu rasa sakit di dalam kodrat manusiawiku. Rasa sakit tersebut sebagai akibat dari kelemahan dan ketidakmurnian kodrat manusiawi yang terluka karena cinta yang benar dan rohani yang terwujud nyata dalam perbuatan ketaatan.

Arti penuh dari ketaatan terletak dalam kesatuan cinta dengan Tuhan tersebut: saya memberikan diri dan apa-apa yang terbaik yang kupunyai, kehendakku, kepada Tuhan. Suatu kesatuan mendalam terhasilkan. Persembahan adalah suatu korban rohani. Sekarang bisa kita lihat bahwa ketaatan tidak dapat ada tanpa iman, harapan, dan cinta kasih; ketaatan adalah manifestasi/ pernyataan khusus dari 3 keutamaan teologis tersebut.


KETAATAN RELIGIUS
Ketaatan Religius adalah suatu sikap atau keutamaan seluruh komunitas yang membentuk suatu kesatuan di dalam Tubuh Mistik Kristus. Kristus menaati Bapa-Nya. Dengan cara yang sama seluruh Gereja taat kepada Allah dan suatu komunitas/Ordo Religius harus taat kepada Gereja.

Kalau begitu ketaatan Religius hendaknya dipandang sebagai keutamaan pribadi masing-masing orang. Jadi suatu keutamaan komunitas, yang kepala dan anggota-anggotanya harus taat bersama sebagai suatu badan dan menundukkan diri kepada kehendak Allah. Kepala dan anggota-anggotanya membentuk suatu kesatuan: mereka ini menyerahkan diri kepada Allah dan melalui mereka ini Allah menjadi mungkin mewujudnyatakan renana-Nya di bumi ini. Maka ketaatan dapat dikatakan sebagai suatu keutamaan sosial. Tekanan perlu diberikan pada kesatuan komunitas, sebab para pembesar dan para anggota bukan barang yang terpisah. Mereka itu satu badan yang dipanggil untuk melaksanakan kehendak Allah. Maka pencarian kehendak Allah hendaknya berlangsung terus-menerus dalam komunitas (sebagai satu tubuh). Tubuh komunitas mempunyai perutusan dan sarana-saranan untuk menemukan kehendak Allah, meskipun bagian peran pembesar dan bagian peran anggota-anggota akan berbeda.

Dalam konteks ketaatan Religius sebagai suatu keutamaan sosial, kita akan melihat kom-pleksnya ketaatan pribadi. Setiap anggota harus menemukan kehendak Tuhan dalam konteks dirinya berada dalam satu komunitas khusus dengan kerendahan hati dan pembedaan roh setiap anggota harus memberikan inspirasi-inspirasinya kepada pembesar. Akhirnya pembesar akan ambil keputsan. Tindakan pengambilan keputusan ini adalah tindakannya, dan dilihat sebagai kehendak Allah dan bukan tindakan para anggotanya.

Dalam mengambil keputusan, Pembesar hendaknya bersikap rendah hati: “Saya mengambil keputusan inikarena saya lihat hal ini merupakan kehendak Allah bagi kita”. Bukan dengan sikap superioritas: “Saya ingin mendesakkan kehendakku”. Sikap dasar pembesar hendak-nya taat: Ia hendaknya bersikap sama dengan Yesus yang keutamaan taat. Disposisi hati Yesus bukan untuk memerintah, tetapi taat menjadi seorang abdi. Demikian pula sikap dasar para anggota hendaknya juga taat, dengan mengambil tempatnya sendiri di dalam komunitas (badan sosial). Maka jika pembesar membuat keputusan, ia hendaknyamembuat hal itu dalam ketaatan kepada kehendak Allah, karena Allah mengehendaki dia untuk membuat keputusan tersebut. Jika anggota harus melaksana-kan suatu perintah, ia hendaknya melaksana-kannya dalam kesatuan dengan Kristus yang taat setia pada Bapa-Nya. Keutamaan ketaatan hendaknya meresapi seluruh tubuh komunitas (badan sosial).

Praktek penghayatan ketaatan oleh pembesar akan berbeda dari para anggota. Maka dalam komunityas hendaknya terjadi suatu komunio dalam ketaatan Kristus. Artinya: semua saja membagai-bagikan cara-cara yang berbeda-beda dalam menghayati ketaatan Kristus. Suatu sel kecil di dalam tubuh Kristus yang besar akan menyerahkan diri kepada kehendak Allah: Inilah ketaatan Religius dalam suatu komunitas. 

Mencari kehendak Tuhan dapat terasa sakit. Tetapi tidak demikian dengan Kristus. Ia tidak pernah merasa sakit dalam mencari dan menemukan kehendak Allah, karena ia memiliki penglihatan jelas atas kehendak Bapa-Nya. Dalam tahun-tahun pertama Ia mewartakan Injil kerajaan Allah, setiap kali Ia mau ditangkap, Ia selalu menghindar dan menyembunyikan diri. Karena Ia melihat jelas kehendak Bapa-Nya, bahwa belum waktunya Ia menyerahkan diri untuk ditangkap.

Pada saat “waktunya tiba”, Ia menyerahkan diri untuk ditangkap. Kristus memiliki penglihatan yang tidak mungkin salah untuk menemukan kehendak Bapa-Nya yang disampaikan kepadanya entah melalui sesama, melalui peristiwa-peristiwa, entah melalui barang-barang ciptaan. Kita tidak memiliki penglihatan tanpa salah itu. Dalam mencari dan menemukan kehendak Allah, kita harus menggunakan:
• Daya penalaran budi
• Daya insting manusiawi
• Daya pandang iman (yang jauh lebih kecil dari pada Yesus).

Kita juga harus mengadakan pencarian kehendak Tuhan. Namun usaha itu hendaknya proporsional / seimbang sesuai dengan perkaranya, tidak berlebih-lebihan. Bagaimana pun juga pencarian kehendak Tuhan, toh kerapkali berarti suatu usaha yang sungguh, suatu kesungguhan dalam menggunakan kemampaun-kemampuan kodrati maupun adi kodrati.

Maka dari itu jelaslah mengapa pembesar harus mencari nasehat dari segala pihak. Dan jelas pula mengapa anggota mempunyai kewajiban dan tugas suci untuk mengilhami pembesar. Sehingga menjadi jelas p[ula, bahwa tugas seluruh komunitas ialah menemukan kehendak Tuhan demi semakin besarnya kemuliaan Allah. Apabila proses pencariankehendak Allah tersebut telah menuju akhir, menurut kepentingan perakaranya, kehendak Tuhan ialah supaya pembesar mengambil keputusan. Keputusan tersebut bisa jadi bukan suatu keputusan tersempurna, me;ainkan hanyalah cukup baik saja seturut kemurahan bantuan rahmat Tuhan pada waktu itu.

Komunitas hendaknya tersatukan dalam usaha untuk menemukan kehendak Tuhan, tetapi pencarian kehendaknya diakhiri dengan keputusan pembesar. Dengan cara itu kehendak Tuhan akan ditemukan dan di bangun/ ditegakkan dalam suatu komunitas. Siapapun yang mau membuang proses kesungguhan pemenuan penemuan kehendak Tuhan tersebut akan jatuh ke terelalu mengilahikan pemesar atau anggota. Kita harus menemukan kehendak Tuhan seturut situasi-kondisi kita, dengan menggunakan kecerdasan menusiawi kita, diperkuat oleh bantuan yang datang dari iman, harapan dan cinta kasih. Pandangan kita akan selalu diperkecil oleh suatu kekaburan tertentu yang ditandai oleh suatu stabilitas dan ketenangan tertentu, tetapi anugerah-anugerah roh Kudus akan selalu disertai dengan ketegangan-ketegangan. Hal itu benar bagi setiap pribadi kristiani; namun benar juga bagi komunitas Kristiani yang sedang berusaha menjadi taat pada kehendak Allah.


KETAATAN: PERJANJIAN DENGAN ALLAH
Ketaatan hendaknya juga menjadi keutamaan pribadi masing-masing orang Kristiani dan masing-masing pribadi religius. Kita hendaknya sebudi dengan Kristus:

Ketaatan dalam Teks Kitab Suci
Ibrani 10:5-7
Kristus datang untuk melakukan kehendak Allah. “Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki – tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada korban bakarandan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan”. Lalu aku berkata: “ …. sungguh, Aku datang: dalam gulungan Kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya, AllahKu”.

Yohanes 6: 38
Sekuruh hidup Kristus adalah hidup dalam ketaatan. “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Mu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus aku”.

Matius 26:39
Kristus menerima salib-Nya dalam semangat ketaatan. “Ya, BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Ku kehendakki, melainkan seperti yang engkau kehendaki”.

Ibrani 5:5-10
Melalui ketaatan-Nya kita diselamatkan: “ … dalam hidupNya di dunia, Ia telah mempersem-bahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan”.

Mengikuti Kristus berarti harus memiliki budi yang sama dengan budi Jesus dan memiliki ketetapan hati yang sama dengan ketetapan hati Jesus untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Orang bisa saja salah atau keliru dalam menghayati ketaatan, bisa saja kadang kurang inisiatif atau lebih berinisiatif. Namun yang hendaknya tidak boleh kurang ialah ketetapan hati untuk siap melaksanakan kehendak Allah. 

Ketaatan Aktif-bertanggungjawab
Ketaatan yang aktif dan ketaatan yang bertanggungjawab adalah cara yang benar untuk menyelaraskan diri dengan kehendak Allah. Bagi smeentara orang penemuan kehendak Allah bisa berupa suatu proses yang kompleks. Bagi kaum religius, karena mereka juga tidak mempunyai pandangan yang jelas seperti dipunyai Kristus, gereja menolong mereka. Dalam ordo/ kongregasi, mereka ada tatanan nilai yang membantu mereka untuk menemukan kehendak Allah. Pembesar dan anggota harus ambil bagian dalam proses menemukan kehendak Allah (kadang-kadang menyakitkan).

Apa beda ketaatan umum seorang kristiani dengan ketaatan seorang religius? Secara substansial tidak ada perbedaan. Baik seorang awam Katolik maupoun seorang religius ambil bagian dalam ketaatan Kristus, bila mereka taat dalam nama-Nya. Melalui Dia dan bersama dengan Dia kepada Bapa di Sorga.

Meskipun demikian ketaatan religius memiliki aspek-aspek khusus, yakni: (a) bidang yang ditangani lebih luas, (b) lebih intensif; (c) terjadi dalam suatu komunitas tertentu sebagai bagian dari tubuh mistik Kristus dan (d) dikunci oleh suatu kaul, yang adalah persembahan diri. Melalui ketaatan, persembahan diri yang melambangkan kaul Religius, suatu perjanjian pribadi dibentuk antara Allah dan Religius tersebut, seperti Allah dengan Abraham yang taat pada panggilan ilahi.

Kita memandang kaul-kaul sebagai suatu persembahan kepada Allah. Dalam arti tertentu hal itu benar, tetapi bukanlah kebenaran menyeluruh dan bahkan bukan bagian yang lebih baik dari kebenaran tersebut.

Bagian kebenaran yang lebih baik ialah bahwa Tuhan memberikan sesuatu kepada manusia. Pemberian yang diterima itu mengambil bentuk lahiriah dalam “mengucapkan kaul”. Kita mengerti hakikat kaul lebih baik jika kita menyaksikan pentahbisan imam dari pada upacara biasa pengucapan kaul religius.

Di dalam upacara pentahbisan imam, yang adalah sakramen, ditunjukkan secara penuh bahwa pribadi yang menerima tahbisan menerima pemberian pribadi Tuhan. Pribadi itu telah dipilih oleh penyelenggaraan ilahi Tuhan yang penuh misteri untuk suatu tugas tertentu. Bukan dia yang memilih, tetapi Tuhanlah yang memilih dia (panggilannya). Dari sebab itu upacara pentahbisan berpusat pada pemberian diri Tuhan tersebut.

Di Gereja masa lampau ada semacam upacara yang mirib dengan pentahbisan imam dalam upacara kaul Religius, meskipun upacara kaul tersebut bukanlah sakramen. Upacara tersebut mengungkapkan kebenaran dengan tekanannya yang terutama bukan pada wanita muda yang mempersembahkan diri kepada Tuhan, tetapi pada Tuhan yang menahbiskan wanita muda itu untuk mengabdi-Nya melalui Uskup, yang atas nama Gereja mengenakan kerudung pada seorang perawan. Karena perawan tersebut menerima anugerah Tuhan, ia disucikan untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan: Ia menjadi pribadi yang tersucikan.

Mengucapkan kaul religius berarti menerima anugerah suci dari Tuhan. Sayang, tekanan bahwa wanita muda tersebut menerima anugerah panggilan dari Tuhan tergeser oleh upacara kaul yang membayangkan bahwa wanita muda yang mempersembahkan diri kepada Tuhan. Tekanan pokok sebenarnya terletak pada: “Tuhan menganugerahkan panggilan kepada wanita muda itu untuk disucikan oleh Tuhan dan menjadi milik Tuhan”. Penyucian tersebut melalui Gereja dalam suatu upacara pengucapan kaul-kaul.

Keutamaan Ketaatan Religius
Apa arti ketaatan Religius sebagai keutamaan? Ketaatan Religius ialah suatu panggilan pribadi dari Tuhan yang ditujukan kepada seseorang. Dia memanggil seseorang supaya memper-sembahkan diri kepada Tuhan dan supaya mengabdi kepada keperntingan Tuhan secara lebih intim. Secara khusus, yang dipanggil supaya melaksanakan kehendak-kehendak Tuhan sebagai Tuhan menjelaskan melalui Gereja dan pembesar-pembesarnya.

Arti lebih penuh dari kaul-kaul religius terletak dalam fakta bahwa kaul tersebut merupakan buah dan ungkapan dari panggilan Tuhan yang cuma-cuma dan merdeka. Panggilan tersebut adalah rahmat batin yang diberikan kepada seorang pribadi, yang dipanggil Tuhan untuk mengabdi kepada Gereja secara khusus, di dalam suatu komunitas Gerejawi, dengan mengucapkan kaul kemurnian kemiskinan dan ketaatan; atau lebih baik menerima ketiga macam kaul tersebut sebagai pemberian dari Tuhan.

Setiap panggilan dari Tuhan kepada seseorang untuk taat kepada-Nya, mengandung suatu janji dari Tuhan bahwa Ia akan memimpin orang tersebut. Ia akan memimpinnya melalui para pembesar kepada kesempurnaan rohani yang lebih besar. Kita tidak tahu persis seberapa besar, seberapa sungguh-sungguh, namun besar menurut rencana Tuhan. Demikian pribadi yang menerima panggilan dan menerima janji itu menyetujuinya, menandatangani suatu perjanjian pribadi dengan Tuhan. Tuhan menjanjikan melalui Roh-Nya untuk memelihara dia, dan secara lahiriah Gereja menjamin janji tersebut.

Panggilan tersebut akan memimpin orang menuju kepada perubahan dalam Tuhan melalui pengantaraan dan saluran-saluran ciptaan, berarti akan harus ada pengorbanan dalam arti rasa sakit (penderitaan). Tidak ada jalan lain, sebab tranformasi/perubahan dari kodrat kita yang lemah ke dalam gambar Kristus merupakan suatu proses yang menyakitkan bagi kemanusiaan kita. Dari sebab itu mengikuti jalan ketaatan, mengikuti panggilan pribadi dari Tuhan, akan berarti sertamerta ambil bagian dalam korban Kristus di salib. Tak seorangpun dapat menghindar dari pengorbanan tersebut. Dalam aneka bentuk entah kapan, pasti akan kena pada kita. Namun pengorbanan tersebut akan selalu diikuti oleh berkat khusus dari Tuhan. Ia berjanji bahwa pribadi yang taat akan diperkaya dan melalui dia orang lain akan diperkaya. 

Ketaatan Kristus menjadi sumber penebusan kita:
“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNyanama di atas segala nem, supaya dalam nama Jesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Jesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa”.

Dapat kita katakan bahwa pola setiap panggilan religius mengacu pada pola panggilan Abraham. Di dalamnya ada panggilan merdeka dari Tuhan. Seperti Tuhan memilih Abraham untuk memperoleh kesatuan yang lebih erat dengan-Nya. Kemudian Tuhan menyucikan Abraham bagi diri sendiri melalui janji Kristus, yang dibuat-Nya ketika Ia menampakkan diri kepada Abraham dalam bentuk api yang menyala. Tuhan beserta Abraham dalam petualangannya yang cukup lama. Allah tidak membebaskannya dari kesedihan dan kesengsaraan-kesengsaraan namun memberkatinya dengan seorang putera dan membuatnya menjadi bapa kaum beriman dan Bapa segala bangsa.

Sebagaimana Allah memelihara Abraham yang dipanggilnya, demikian juga ia memelihara kaum Religius. Di dalam Gereja dan suatu komunitas, dalam konteks yang tertib dengan undang-undang dan peraturan-peraturan, Allah akan membimbing Religius ke persatuan yang lebih erat dengan diri-Nya. Religius yang mengikuti panggilan Tuhan biasanya mengalami banyak kesalahan dan kekeliruan dalam perjalanan hidupnya.

Namun akhirnya, dalam pergumulan itu, mereka menemukan suatu kesatuan yang lebih intim dengan Tuhan (kesatuan = ikatan: bukan dalam arti yang ditemukan dalam buku-buku rohani yang agak populer). Dalam pelbagai kemungkinan, sebenarnya sedikit saja santo-santa yang sungguh dikenal oleh Gereja. Kebanyakan dari mereka tetap tersembunyi di balik ketidaksempurnaan dan kesalahan-kesalahan mereka. Mereka menemukan kejelasan arti di dunia lain dan itu baik bagi kita.

Mengucapkan kaul ketaatan kepada Tuhan berarti menjadi anggota lembaga hidup bakti Religius (ordo/ kongregasi) yang berani menerima pemberian pribadi dari Tuhan, menandatangani suatu perjanjian dengan-Nya melalui Gereja. Perjanjian pribadi itu merupakan kekuatan kita. Setiap Religius yang disucikan bagi Tuhan serta merta mengambil bagian dalam rahmat Abraham. Religius tersebut juga dipanggil untuk mengabdi Tuhan dalam jalan khusus dan menerima panggilan Tuhan serta percaya pada janjinya. Ia menempuh panggilan baru dan pribadi sifatnya. Ia akan mengabdi Tuhan dengan mentaati Dia melalui pembesar tarekatnya, dalam konteks perundangan dan peraturan lembaga hidup bakti dan dengan inkorporasi yang khusus ke dalam Gereja yang tampak.


KOMENTAR ATAS DEKRIT PEMBAHARUAN HIDUP MEMBIARA
(PERFECTAE CARITATIS)

Ajaran Konsili Vatikan II tentang ketaatan diringkas dalam paragraf 14: “Melalui pengucapan kaul ketaatan, seorang religius mempersembahkan kepada Tuhan suatu pengabdian total dari kehendak sendiri sebagai suatu korban dari diri sendiri”.

Istilah korban di situ dalam konteks anugerah Tuhan dan perjanjian. Tuhan memberikan suatu anugerah pribadi: yaitu memimpin diriku di dalam Gereja yang hirarkis, melalui para pembesar, menuju ke kesempurnaan. Dengan mengucapkan kaul, saya menerima pemberian Tuhan, dan melalui Gereja, Tuhan memeteraikan perjanjian. Tuhan menginginkan saya melayani Dia dengan kesetiaan. Pelayanan tersebut sudah seharusnya mengandung pengabdian kehendakku sendiri. Tak seorangpun dapat mengabdikan kehendaknya kepada orang lain tanpa suatu pengorbanan. Pengorbanan tersebut berarti tidak mementingkan kehendak manusiawi diri, tetapi lebih-lebih berarti menghasilkan kesatuan yang lebih penuh dengan Tuhan.

“Melalui pengorbanan tersebut para religius mempersatukan dirinya dengan ketenangan dan rasa aman yang lebih besar dengan kehendak penyelamatan Allah”.

Bukannya tidak umum terdengar bahwa dengan mengucapkan kaul ketaatan kaum Religius menyelamatkan diri sendiri dari setiap keasyikan. Itu hanya benar dalam arti tertentu, sebab ketaatan yang aktif dan bertanggung-jawab akan memberikan kepada Religius banyak keasyikan. Kataatan Religius tidak berarti pasif, tetapi masuk ke dalam cara yang lebih dalam, yaitu ke dalam hidup aktif Roh Kudus. Pada waktu itu juga benar bahwa praktek ketaatan akan memberikan kedamaian kepada Religius. Tuhan berjanji akan beserta dia dan membimbingnya, melalui keputusan-keputusan para pembesar mereka. Kadang-kadang terasa sukar, bagi Religius apakah mau menghadap pembesar atau tidak? Namun akhirnya tahu, kapan kehendak Tuhan menjadi jelas baginya. Ia menjadi lebih teguh dan lebih tenang, karena bersatu dengan kehendak Allah yang menyelamatkan. Itulah ketaatan yang membawa ke persatuan rohani dengan Allah.

Suatu lembaga hidup bakti akan diselamatkan oleh Tuhan, bila cara hidup para anggotanya selaras dengan rahmat Tuhan. Hal itu akan terjadi apabila cara hidup anggota tarekat bersumber dan berpola pada Jesus Kristus yang selalu taat kepada BapaNya:

Johanes 4: 34
“Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjan-Nya”.

Johanes 5: 30
“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehenda-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”.

Ibrani 10: 7
“Lalu Aku berkata: Sungguh Aku datang, dalam gulungan Kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya, Allah-ku”.

“Di bawah pengaruh Roh Kudus, para Religius menyerahkan dirinya kepada pembesar-pembesar mereka, yang disaksikan iman sebagai wakil-wakil Tuhan, dan melaluinya mereka dibimbing untuk melayani semua saudara dalam Kristus”. Seorang Religius taat, karena digerakkan oleh Roh Kudus. Konsili menarik perhatian kita pada kenyataan bahwa ketaatan Religius bukan ketaatan militer. Dari hakekatnya tidak ada perbuatan taat yang tidak berasal dari dorongan Roh Kudus. Inspirasi dari Roh Kudus yang mendorong itu adalah jiwa ketaatan. Tetapi jiwa ketaatan tersebut berada dalam daging. Dari sebab itu gerakan dari Roh Kudus akan harmonis dengan perintah atau tata nilai lahiriah yang sampai kepada diriku dari pembesar atas nama Tuhan.

Ketaatan sempurna mengandung di dalamnya kelemah-lembutan, kesiap-sediaan dan kemudahan yang datang dari Roh Kudus. Sekaligus mengandung kesetiaan pada perintah lahiriah, pada peraturan-peraturan lahiriah dan undang-undang lahiriah. Setiap pembandingan dengan militer yang keras (kaku) dan latihan-latihannya akan mengacaukan ketaatan religius. Sebab ketaatan militer, sebagaimana dimengerti dalam arti biasa, lebih merupakan ketaatan lahiriah dari pada rohaniah.

Dalam arti apa anggota mengerti pembesar sebagai wakil Tuhan? Memiliki pengertian yang benar akan menolong kita melakukan tipe ketaatan yang benar. Jelaslah, anggota hendaknya tidak pernah berfikir bahwa pembesar itu seperti suatu pribadi ilahi. Tambahan lagi, anggota hendaknya tidak pernah memikir-kan seorang pembesar (kecuali jika pembesar itu Sri Paus, Uskup, dalam arti tertentu imam) sebagai yang memiliki suatu kharisma khusus yang melekat pada jabatannya berkat hak ilahi, meskipun cukup jelas seorang pembesar mungkin orangnya berkarisma. Melebih-lebihkan hal-hal itu, walaupun berarti baik, akan sangat berbahaya untuk semangat ketaatan. Sebab cepat atau lambat, anggota akan kecewa. Suatu hari, ia akan menemukan bahwa pembesar tersebut seorang manusia yang tidak memiliki kharisma khusus berkat hak ilahi terserbut. Anggota hendaknya dengan rendah hati menerima dunia nyata Allah. Ia hendaknya memikirkan pembesar itu sebagai seorang pribadi manusiawi melalui siapa Tuhan menjelaskan kehendakNya. Dengan bantuan Roh Kudus, anggota hendaknya memahami penjelasan kehendak Tuhan dalam kata-kata dan keingingan-keinginan pembesar, dan sekaligus memahami kerangka kerja manusiawi. 

Pembedaan tersebut sangat vital, karena pembedaan tersebut akan menmyelamatkan anggota dari ketaatan budak dan akan membuat dia taat kepada Allah. Apakah ketaatan budak itu? Ketaatan budak yaitu ketaatan kepada manusia semata-mata: orang itu ingin menyenangkan orangnya, ia sama sekali tidak menaruh perhatian kepada Allah; Ia pribadi yang miskin yang mengharapkan dukungan manusiawi. Maka dari itu bila ditanyai tentang pendapatnya, secara naluriah atau barang kali apa yang ada di bawah sadar, mendorongnya untuk menjawab apa-apa yang kiranya pembesar suka mendengarnya. Perilaku demikian itu bukanlah ambil bagian dalam ketaatan Kristus yang murni dan menggairahkan kepada Bapa-Nya.

Seorang pribadi yang taat dikuasai oleh keutamaan ketaatan adikodrati. Ia akan memahami pesan Tuhan, bila hal itu datang lewat pembesar dan akan tunduk sepenuhnya kepada pesan tersebut, apapun juga isinya itu. Ia tidak pernah akan menolak bahwa Tuhan bisa membantu pembesar. Dengan tetap memegang kebebasan sebagai anak Allah, ia akan melayani Tuhan dan bukan manusia.

Karena pernyataan kehendak Allah datang melalui pribadi manusia, bukannya tak mungkin salah Tetapi justru karena itu, suatu jumlah permainan bebas yang sehat dan religius – dalam bentuk tukar informasi, dialog, penekanan-penekanan, diperlukan antara anggota dengan pembesar dalam rangka untuk menemukan kehendak Tuhan.

Namun permainan bebas tersebut lebih mengenai caranya, bukan substansi ketaatannya. Adalah suatu usaha terpadukan untuk menemukan kehendak Allah, dan bukan suatu sarana untuk memerdekakan diri dari ketaatan. Akhirnya, pembesarlah yang hendaknya mengambil keputusan. Dan anggota terikat untuk taat, kecuali jika ia tahu dengan jelas dalam kesadarannya bahwa perintah/keputusan tersebut adalah dosa.

Jaminan ilahi yang membimbing anggota kepada persatuan dengan Tuhan adalah autentik (asli), bahkan jika perintah pembesar dalam lingkungan tersebut salah. Jaminan ilahi tersebut hendaknya tidak diterapkan hanya jika pembesar memberi perintah tentang sesuatu yang berdosa, dan anggota yang menyadarinya, toh melaksanakannya dengan taat. Untunglah hal itu bukan suatu persoalan praktis. Ketaatan budak adalah suatu persoalan praktis dan setiap pembesar selayaknya harus sangat waspada untuk tidak mengecilkan ketaatan dan menyuburkan kemerdekaan ilahi anak-anak Allah.

Ketaatan bebas anak-anak Allah hendaknya digalakkan dengan pelbagai cara. Berbahagia-lah pembesar yang dapat melakukan hal itu; sebab berarti bahwa ia telah sampai pada suatu derajat amat tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri (unselfishness). Komunitas akan penuh kebaikan bila masing-masing anggota tidak mementingkan diri sendiri. Akan berbahaya, bila yang dapat menangkap inspirasi-inspirasi Roh Kudus hanya pembesarnya saja. Bagaimana Roh Kudus dapat membantu lembaga hidup bakti? Dengan memberikan inspirasi kepada para anggotanya? Secara umum diperlukan penjagaan tanda-tanda lahiriah yang menghormat pembesarnya. Tanda-tanda hormat lahiriah yang seimbang perlu dipertahankan, sebab mereka merupakan wujud iman anggota yang percaya bahwa Tuhan bekerja melalui pembesarnya.

“Demikian seperti Kristus sendiri dengan penuh ketundukan kepada Bapa-Nya melayani saudara-saudara dan menyerahkan hidupnya sebagai tebusan bagi banyak orang”. Sehubungan dengan itu maka:

Matius 20:28
“….. sama seperti Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”.

Johanes 10:14-18 
“Aku menyerahkan hidupKu untuk domba-domba-Ku”.

Efesus 4:13
“…… sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus ……”

Keutamaan ketaatan seperti digambarkan oleh Konsili, pada dasarnya adalah keutamaan dalam pelayanan Gereja. Dengan melaksanakan ketaatan, kita membangun Gereja. Kita membangun suatu komunitas khusus, dan melalui itu kita membuat seluruh Gereja lebih kuat bekerja demi peluasan Kerajaan Allah. Jadi ketaatan hendaknya tidak pernah hanya dilihat sebagai “sarana untuk kesempurnaan diri”; tetapi juga hendaknya dilihat sebagai salah satu alat terbaik untuk perluasan Kerajaan Allah. Melalui atau berkat ketaatan, kita memasukkan diri kita lebih intim ke dalam kehidupan Gereja.

Melalui persembahan ketaatan, kita masuk lebih dalam ke dalam struktur Gereja yang tampak dan melalui praktek ketaatan kita masuk lebih dalam ke dalam struktur Gereja yang tidak tampak. Tak seorangpun dapat berkata dengan tepat bagaimana, sebab di sini kita menyentuh misteri Allah; namun tepatnya karena kita secara lebih baik dimasukkan ke dalam kehidupan Gereja, di situ ada suatu perputaran rahmat-rahmat yang lebih bebas melalui diri kita. Kita membuat seluruh Gereja lebih kuat baik secara batin maupun secara lahir, dan kita mampu membangun Gereja dengan cara yang lebih sungguh-sungguh. Ketaatan Religius adalah keutamaan rasul-rasul.

“Dengan menyadari bahwa mereka memberikan pelayanan pada pembangunan tubuh Kristus seturut rencana Allah, biarkanlah mereka melaksanakan perintah-perintah dan penugasan-penugasan yang dipercayakan kepada mereka sumber-sumber daya budi dan kehendak mereka, dan bakat-bakat serta rahmat. Hidup dengan cara itu, ketaatan religius tidak akan mengecilkan kelayakan pribadi manusia tetapi malah lebih akan membawa pribadi tersebut ke arah kedewasaan sebagai konsekuensi dari kebebasan yang diperluas yang dimiliki putera-puteri Allah”.

Nampaknya konsili menegaskan suatu paradoks: Ketundukan memimpin orang kepada kedewasaan dan ketaatan membawa mereka kepada kebebasan yang diperluas. Bagaimana bisa terjadi keharmonisan antara dua sikap dan dua kualitas yang saling bertentangan itu? Bagaimana paradox tersebut dapat diterang-kan secara penuh arti; bagaimana kedewasaan dan kebebasan dapat di alami dalam ketundukan dan ketaatan?

Jawabannya harus ditemukan dalam pemurnian konsep ketaatan. Ketaatan batin kristiani kepada Tuhan harus dibedakan dari perwujudan lahir dalam lembaga hidup bakti. Ketaatan batin kristiani kepada Tuhan sifatnya absolut: saya tunduk kepada Allah dalam segala sesuatu. Ungkapan lahir bersifat relatif; saya harus taat kepada seseorang sejauh kuasa Tuhan ada besertanya.

Tunduk kepada Allah berarti bergantung kepada Allah sebagai sumber hidup dan sumber keberada-anku. Taat kepada Allah tidak lain berarti menerima kelimpahan-Nya. Ketaatan adalah suatu jalan miskin dalam mengungkapkan kesatuan antara Tuhan dengan ciptaan-Nya. Tunduk kepada pembesar Religius berarti menghormati pembesar itu bahwa dalam dirinya ada kekuasaan Tuhan sejauh ia menerimanya. Kebijaksanaan ketaatan berarti mengerti seberapa jauh kekuasaan Tuhan bekerja dalam diri orang itu, untuk taat kepada kekuasan ilahi secara lebih dari pada yang perlu (yang dibenarkan). Ini berarti menolak untuk berhubungan baik dengan sumber kehidupan melalui pribadi-pribadi tercipta.

Demi menolong kita untuk dapat menemukan keseimbangan yang bagus dan perlu demi pelaksana-an ketaatan religius, Konsili memberikan semacam petunjuk hakekat realnya. Yaitu membangun Tubuh Mistik Kristus. Kalau dirumuskan secara negatif: bukan untuk membangun tata-tertib hidup harian atau keseragaman yang rapi dalam komunitas, melainkan tujuan Gereja-Nya yang hidup dan bekerja secara nyata. Kelayakan ketaatan terletak dalam bahwa skopnya seluas Kristus yang mistik. Tetapi bila ketaatan tersebut dikacaukan dengan peraturan-peraturan harian hidup komunitas, rencana Tuhan yang agung yang dihaturkan oleh pikiran manusia yang sempit/kecil. Pengaturan mungkin perlu, tetapi banyak peraturan tak relevan bagi Kerajaan Allah.

Ketaatan Religius adalah pemasukan seseorang ke jalan khusus dalam rencana Allah bagi Gereja yang tampak. Kekuasaan disampaikan kepada pembesar sedemikian rupa sehingga ia memberikan lapangan luas bagi inisiatif dan talenta-talenta kreatif para anggota komunitasnya. Jika ia tidak demikian, dengan memberi banyak sekali beban hukum-hukum dan undang-undang, ia tidak memenuhi rencana Tuhan, tetapi bertindak di luar itu. Ia akan membawa komunitasnya kembali ke budak hukum dari pada menghargai kebebasan yang mereka terima dari Kristus.

Ketaatan dalam pengertian itu didasarkan pada iman akan Gereja yang tampak. Itu berarti pengabdian pada karya Kristus melalui jawaban yang setia pada perintah yang datang dari mereka-mereka yang telah diberi kekuasaan. Namun mereka yang memegang kekuasaan harus melayani kerajaan Allah dan bukan mengalihkan kepada pelayanan perkara-perkara yang kecil-kecil. Para pembesar terikat pada kewajiban untuk menghormati kebebasan anak-anak Allah yang telah diberikan oleh Kristus dengan harga yang sangat mahal. Kalau demikian ketaatan nampak sebagai pembebasan Pribadi: “ia menerima kekuasaan Gereja dan menggunakan seluruh bakat dan kemampuannya untuk membantu perluasan Kerajaan Allah di tengah masyarakat manusia”.

Teks akhir dari Dekrit Konsili memberi semacam petunjuk kekuatan Kristus yang tersembunyi yang hadir dalam ketaatan Religius yang benar: 
“Dari sebab itu, dalam semangat iman dan cinta pada kehendak Allah, hendaklah para religius menunjukkan ketaatan yang rendah hati kepada pembesar-pembesarnya selaras dengan norma-norma hukum dan konstitusi” (Abbot halaman 476). 

Norma-norma hukum dan konstitusi, betapapun baik dan sucinya, mempunyai peran pembantu (subsider) dalam pelaksanannya. Hukum kehidupan bagi setiap Religius, seperti halnya setiap orang kristiani mengikuti bimbingan Roh Kudus. Kepembimbingan tersebut tidak akan meng-hancurkan perwujudan lahir dari semangat lembaga dalam hal norma-norma, tetapi boleh jadi mengatasinya dengan baik. Jika norma-norma tersebut terbuka, rupa-rupanya tidak ada problem real yang muncul. Jika norma-norma itu tertutup, lebih baik apabila bisa lebih cepat direvisi, sebab kalau tidak norma-norma tersebut boleh jadi akan menjadi penghambat bagi inspirasi-inspirasi Roh Kudus.

Sebab Tuhan dan kebutuhan untuk membawakan sabda tersebut hidup dalam komunitas dan dalam hidup religius, masing-masing menduduki prioritas atas setiap hukum yang tertulis. Hal itu hanya mau mengatakan bersama dengan Konsili bahwa Injil harus dipandang sebagai hukum tertinggi hidup religius. Tidak ada sesuatupun yang dapat mengorbankan cinta kasih dan jika ada konflik nyata muncullah tuntutan-tuntutan cinta Kristiani dengan hukum yang tertulis, cinta kasihlah yang menduduki hak untuk didahulukan secara absolut. Bahkan jika ada suatu keraguan, keputusan hendaknya condong ke arah keutamaan teologis cinta kasih (charity), bukan ke arah penyelamatan tata peraturan buatan manusia.

Barangkali berguna juga untuk mencatat, bahwa ungkapan yang diucapkan orang dalam kaul terhadap konstitusi dapat diartikan secara salah. Dokumen-dokumen tertulis tidak lebih dari pada sesuatu ungkapan badan dan jiwa yang hidup, suatu sebagian gambar dari kekayaan-kekayaan batin komunitas. Kaul-kaul sesungguhnya tidak diucapkan demi kontitusi, tetapi demi sautu tubuh yang hidup. Kaul-kaul religius adalah janji kesetiaan dan pelayanan kepada Gereja yang universal dan di dalam Gereja kepada komunitas yang hidup, yang berubah, dan berkembang seturut hukum-hukum suatu mahluk hidup. Perubahan-perubahan di dalam konstitusi seturut dengan itu, dapat menjadi mengikat bahkan jika mereka dibuat sesudah seseorang telah mengucapkan kaul-kaulnya, sebab ia berkaul kesetiaan dan pelayanan kepada tubuh yang hidup, bukan kepada karya-karya tertulis.


TEMPAT HIDUP RELIGIUS DALAM GEREJA
Apakah hidup religius menjadi bagian dari struktur pokok Gereja? Hirarki ke-Uskup-an merupakan bagian pokok dari struktur Gereja; merupakan penetapan ilahi (asal ilahi); tak seorang pun dapat menghapuskannya; suatu nilai kualitas yang permanen; suatu kenyataan yang stabil oleh sebab adanya penetapan ilahi dan jaminan ilahi. Seandainya hidup religius itu merupakan bagian dari struktur Gereja, maka keberadaannya seperti Hirarki ke-Uskup-an tadi.

Apakah hidup Religius merupakan suatu gerakan di dalam Struktur Gereja? Kalau merupakan gerakan dalam struktur Gereja, itu berarti: hidup relgius mempunyai kualitas mudah pecah; meskipun berkembang keberadaannya tidak mempunyai asal muasal ilahi dan perjuangan hidupnya tidak mempunyai jaminan ilahi; Gereja dapat hidup baik tanpa itu. Seandainya ada perumusan tentang perlunya hidup Religius, maka keperluaann tersebut hendaknya dimengerti dalam konteks kebijakan kodrati dan adikodrati. Kalau merupakan gerakan, maka hidup Religius secara pokok berada di bawah kekuatan hukum manusiawi. Para Paus dan para Uskup mempunyai kebebasan penuh, baik secara moral maupun secara hukum untuk mengembangkan hidup Religius, tanpa merasa takut bahwa perbuatannya itu mencampuri struktur Gereja.

Dimanakah atau macam apakah hidup Religius di dalam Gereja itu? Hidup Religius merupakan “anugerah eksistensial” dari Tuhan kepada GerejaNya, suatu buah khusus dari karya dinamis Roh Kudus di dalam Gereja. Pribadi Allah yang memberi kerap kali pincang, karena terlalu digambarkan simplistis dan Yuridis, misalnya: Allah sumber ketertiban dan keteraturan; jarang sekali Allah dilihat sebagai pribadi yang maha suci dan maha kreatif yang mengatasi segala ketertiban dan keteraturan. Jadi gambar pribadi Allah ialah Allah yang tertib dan yang seni.
Di antara semua lembaga di bumi, lembaga yang paling ilahi ialah Gereja. Allah membuat Gereja itu seperti gambar diriNya, dan Gereja harus memancarkan kembali gambar Allah itu sampai akhir jaman. Itu berarti ada unsur-unsur kuat ketertiban dan keteraturan dalam Gereja, namun sekaligus juga ada unsur-unsur kebebasan Roh Kudus yang kreatif-Nya mengagumkan. Dari sebab itu, hidup Religius lebih termasuk dalam buah karya Roh Kudus yang penuh kreativitas dalam Gereja.***

0 komentar:

Poskan Komentar