Ads 468x60px

Oleh-oleh dari Bumi Singkawang (I)

DIPANGGIL UNTUK BERDOA DAN BERTAPA BAGI GEREJA DAN DUNIA


“Mengapa kamu mau jadi suster seperti itu? Tidak bisa keluar. Tinggal di dalam saja dan lagi pula tidak ada karya nyata yang dapat kami lihat dan rasakan secara langsung. Kalau kamu menjadi ‘suster putih’ (sebutan untuk suster-suster yang berseragam putih) itu lumayan. Bisa dilihat kamu jadi perawat atau guru misalnya. Tetapi kalau jadi suster seperti itu apa yang bisa dibanggakan?” Hanya anak yang bodoh boleh menjadi suster seperti itu!”

Demikian ungkapan keberatan hati beberapa orang bila mengetahui anak gadisnya atau orang terdekat mereka memilih menjadi suster kontemplatif yang terkurung dalam klausura (pingitan). Apalagi kalau anak itu dikenal sebagai anak yang pintar dan berbakat. Maka tidak heran jarang sekali ada orang tua yang dengan rela mengijinkan anak mereka menjadi suster semacam itu. Mungkin banyak dari antara kita juga bertanya-tanya mengapa ada orang yang mau mengurung diri seperti itu. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Semoga tulisan kecil ini dapat membantu kita mengenal kehidupan di balik tembok yang bagi banyak orang masih sangat asing.


Awal Mula
Dalam sejarah Gereja Kristus, umat Kristen pertama mengikuti kebiasaan orang Yahudi yang mengkhususkan waktu tujuh kali sehari untuk memuji Tuhan atau berdoa. Waktu-waktu itu diatur sedemikian rupa, yakni sekitar pukul 06.00, 09.00, 12.00, 13.00, 18.00, 20.00/21.00 dan 24.00. Cara berdoa juga mengikuti kebiasaan umat Yahudi yakni dengan mendaraskan Mazmur, mendengarkan Sabda Tuhan dan menyampaikan doa-doa permohonan yang kemudian ditutup dengan doa penutup dan berkat.
Ketika Gereja mengalami penganiayaan, kesatuan dalam doa seperti itu memberikan kekuatan kepada mereka. Seperti misalnya dalam Kisah Para Rasul diceritakan, bahwa ketika Petrus dipenjara jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah (Kis 12:5). Doa ini semakin kuat mewarnai kehidupan umat Kristen awal waktu banyak mereka dikejar-kejar dan dibunuh karena iman mereka.

Ketika Gereja mulai mengalami keadaan yang aman, tidak ada penganiayaan lagi, perlahan-lahan kehidupan doa itu makin mudur bahkan akhirnya hilang sama sekali.   Umat semakin sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Umat merasa semakin sulit untuk mencari waktu berdoa.

Maka sekitar abad ke – 3, seorang pemuda yang bernama Antonius (251-326 )merasa terpanggil untuk meninggalkan segala sesuatu dan pergi ke padang gurun untuk bersemadi. Di sana ia melewatkan seluruh waktunya dalam doa-tapa, mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan serta bekerja dalam keheningan. Kehidupan yang demikian itu, menjadikannya orang yang bijaksana sehingga banyak orang datang untuk belajar kebijaksanaan daripadanya dan menjadi pengikutnya. Maka terbentuklah suatu komunitas pertapa dibawah pimpinan Antonius dengan aturan hidup tertentu. Cara hidup seperti ini berkembang cukup pesat.

Padang Gurun pada waktu itu dianggap sebagai tempat yang sangat cocok bagi mereka yang serius ingin berjumpa dengan Tuhan dalam doa. Selain hening tetapi juga menantang dan menuntut perjuangan. Karena itu, seseorang benar-benar harus melepaskan dirinya dari berbagai ikatan untuk dapat menghayati cara hidup yang keras itu.

Sekitar Abad VI, orang tidak lagi perlu pergi ke padang gurun untuk bertapa dan berdoa dengan didirikannya biara-biara oleh St. Benediktus (480-547) membangun biara-biara pertamanya di Subiaco. Dalam biara-biara itu, para biarawan hidup menyepi dan terkurung di balik tembok-tembok. Kegiatan mereka hampir sama dengan komunitas-komunitas di Padang Gurun. Hanya di sini, kesatuan sebagai komunitas lebih mendapat tekanan.

Kehidupan di biara-biara ini juga memberi kemungkinan kepada kelompok wanita untuk mengikuti cara hidup yang sama. Maka terbentuk jugalah komunitas-komunitas perempuan yang membaktikan diri secara penuh dalam doa dan keheningan. St. Skolastika (480-543) saudara kembar St. Benediktus sendiri dianggap sebagai pendirinya. Bagi kaum wanita berlaku pingitan yang lebih keras dari pada pria. Mereka tidak boleh keluar sama sekali dari lingkungan biara. Maksud utamanya ialah supaya dapat mengarahkan diri kepada Tuhan dalam doa dengan lebih baik. Cara hidup ini diikuti oleh banyak orang. Salah satunya adalah Santa Klara Asisi(1193-1253), pendiri Ordo Santa Klara yang kami ikuti. Cara hidup yang demikian kemudian disebut hidup kontemplatif. Kontemlplatif berasal dari bahasa Latin contemplare yang artinya memandang atau mengarahkan pandangan. Maka secara sederhana hidup kontemplatif dapat didefinisikan sebagai cara hidup yang mengarahkan pandangan secara khusus kepada Tuhan.


Hidup Kontemplatif Ala Klara
Pada Abad Pertengahan St. Klara Asisi, sebagai pengikut St. Fransiskus Asisi (1181-1226), memberikan warna baru pada hidup terpingit itu. Pertama-tama Klara menggabungkan hidup terpingit itu dengan kemiskinan dan semangat persaudaraan. Kemiskinan yang dimaksud Klara, mereka tidak mau mempunyai jaminan hidup seperti yang pada umumnya dimiliki oleh biarawan-biarawati pada masa itu, yakni berupa tanah atau usaha yang mendatangkan penghasilan tetap kepada para suster.

Klara ingin mengikuti Kristus yang miskin dan tersalib karena di sana Klara benar-benar menemukan kebebasan dalam mengabdikan diri kepada Allah sehingga dalam segala hal benar-benar tergantung kepada Tuhan. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bila ada kekurangan mereka mengungsi ke meja Tuhan dengan meminta-minta. Tidak jarang mereka mengalami penghinaan ketika mereka meminta dari pintu ke pintu. Tetapi itu mereka tanggung demi mengikuti jejak Kristus.


Menjadi Penopang dan Pendukung Anggota Tubuh Kristus
Dalam suratnya kepada St. Agnes dari Praha, St. Klara meminjam kata-kata St. Paulus Rasul untuk menggambarkan tugas mereka dibalik tembok biara itu, yakni sebagai pembatu Allah dan pendukung anggota-anggota yang runtuh pada TubuhNya yang tak terperikan (SurAg 3:8). Di sini Klara dengan jelas menunjukkan bahwa hidup tersembunyi yang mereka hayati itu bukan sekedar untuk kesucian pribadi melainkan juga untuk kesucian dan keselamatan orang lain.

Karena itu, ikut serta dalam kemiskinan, penderitaan dan wafat Yesus Kristus merupakan syarat yang tidak dapat diabaikan oleh para pengikutnya. Maka para suster yang sehat dan kuat, berpuasa setiap hari. Dengan demikian doa-doa mereka disuburkan.

Selain mengikuti jejak-jejak Kristus, cara hidup yang demikian juga dimaksudkan sebagai solidaritas bagi saudara-saudari yang berjuang di tengah-tengah dunia dengan segala pergulatan dan perjuangannya. Klara dan para pengikutnya mempersatukan dalam hidup dan doa mereka jeritan hati banyak orang yang menderita di dunia ini. Dengan demikian mereka menjadi suara yang menyampaikan doa dan permohonan banyak orang kepada Tuhan.

Maka meskipun tertutup biara-biara yang mengikuti semangat Santa Klara selalu terbuka bagi banyak orang yang datang untuk meminta doa mereka, khsusunya mereka yang miskin, sakit dan menderita. Klara sendiri mendapat karunia penyembuhan dari Tuhan sehingga tidak jarang orang yang datang menemuinya mengalami mukjizat penyembuhan.

Dengan demikian hidup terkurung bagi para pengikut Santa Klara Asisi dan juga yang lainnya bukan berarti memisahkan diri dari dunia untuk kesenangan atau keamanan pribadi melainkan untuk membantu dan menghantar banyak orang kepada Tuhan melalui doa-doa dan kesetiakawanan dengan banyak orang yang menderita di dunia ini.



Tantangan
Hidup seperti ini memang tidak mudah. Diperlukan iman yang sungguh-sungguh dalam. Di atas semuanya, Tuhanlah satu-satunya andalan. Apalagi bila hidup di tengah-tengah masyarakat yang mempunyai semangat praktis dan ekonomis. Banyak orang mempertanyakan apa gunanya hidup seperti itu. Pemborosan!
Memang, kalau ditanya kegunaannya secara praktis dan ekonomis kami tidak bisa menjawab secara gamblang seperti mereka yang melayani orang sakit di rumah sakit atau mengajar di sekolah misalnya. Seorang perawat atau dokter dapat melihat hasil kerja mereka melalui pasien yang sembuh dan guru dapat melihat kesuksesan mereka melalui murid yang berhasil.

Kami tidak demikian. Sepanjang hidup mengabdi tanpa pernah melihat hasil. Ini tantangannya. Memang kadang ada orang yang datang berterimakasih karena doa-doa mereka dikabulkan, tetapi terlalu arogan kalau kami mengklaim bahwa itu hasil doa kami semata. Paling tidak dengan rendah hati kami ikut bersyukur kepada Tuhan yang telah menunjukkan karya agungNya melalui kelemahan dan kekurangan kami.



Akhir Kata
Tuhan dalam keagungan kasihNya selalu memberikan yang terbaik kepada manusia. Ia mau manusia saling menopang dan membantu dalam hidup mereka. Ada yang berjuang di dunia dan ada yang berjuang di balik layar atau tembok. Mereka yang berjuang di balik layar harus sadar bahwa mereka merupakan penopang bagi mereka yang bergulat di tengah-tengah dunia. Demikian juga sebaliknya. Sehingga mereka saling menguatkan dalam perjalanan hidup menuju kebahagiaan kekal dalam persatuan dengan Tuhan, asal dan sumber segala kehidupan.

10 – 14 Februari 2014
@ Biara Providentia, 
Jl. Diponegoro No.1
Singkawang Kalimantan Barat.



0 komentar:

Poskan Komentar