Ads 468x60px

Oleh- oleh dari Bumi Singkawang (II)

800 TAHUN ORDO SANTA KLARA 
DAN 75 TAHUN BIARA PROVIDENTIA DI SINGKAWANG



800 tahun Ordo Santa Klara 

Saudara-saudari yang terkasih,
Kita bersama-sama bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan atas berdirinya Ordo Santa Klara delapan ratus tahun yang lalu dan sampai sekarang masih terus hadir di tengah-tengah kita. Delapan ratus tahun, bukanlah waktu yang singkat. Bukan hanya itu saja, semakin panjang waktu itu, semakin banyak pula yang perlu kita syukuri. Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama, tiap detik bahkan tiap denyutan nafas kehidupan kita, telah meninggalkan jejak-jejak kebaikan Tuhan. Maka tak terhitung jumlah kebaikan dan kasih karunia Tuhan yang perlu kita syukuri pada hari ini.  Adapun sebenarnya perayaan ini telah berlangsung sejak Minggu Palma 2011 yang lalu hingga Minggu Palma 2012 yang lalu. Tetapi berhubung adanya berbagai kendala, Biara-biara Klaris Kapusines di Indonesia baru merayakan pada bulan Agustus dan September tahun 2012 ini.


Dengan keyakinan besar bahwa tidak ada kata terlambat untuk bersyukur. Ordo St. Klara yang semula disebut kelompok putri-putri miskin didirikan oleh St. Klara dari Asisi. Ia lahir dari keluarga bangsawan Favarone di Offreduccio pada tahun 1993. Sejak kecil ia sudah mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Sampai kemudian pada suatu hari ia berjumpa dengan Fransiskus anak seorang saudagar kaya di Asisi yang telah memilih hidup miskin untuk mengikuti jejak-jejak Kristus yang miskin dan tersalib. Saat itu, Klara semakin yakin apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidupnya. Sehingga meskipun ditentang oleh keluarganya, ia melepaskan segala sesuatu dan lari mengikuti Fransiskus.

Ketika St. Klara lari dari rumahnya pada malam hari Minggu Palma, 18 Maret 1212 yang lalu, mungkin tidak pernah terpikir olehnya bahwa langkah kecil yang dimulainya malam itu, akan sampai ke segala penjuru dunia bahkan sampai ke Indonesia. Tetapi sejarah membuktikannya. Klara yang waktu itu, dengan diam-diam melarikan diri dari rumah orang tuanya untuk mengikuti Kristus yang miskin dan tersalib, telah merangkai suatu sejarah yang panjang yang masih kita kenang dan rayakan sampai hari ini. Itulah yang kemudian disebut sebagai cikal bakal, atau permulaan berdirinya Ordo Santa Klara yang berkembang dalam segala keanekaragamannya.

Ordo ini berdiri di tengah gejolak masyarakat yang sedang bertikai karena memperebutkan harta dan kekuasaan. Sehingga jelas sekali pilihan hidup Klara dan Fransiskus benar-benar berlawanan dengan apa yang dikejar dan dipilih oleh oleh masyarakat pada umumnya pada waktu itu. Ketika orang-orang berjuang untuk memperoleh harta duniawi mereka berjuang untuk memperoleh harta surgawi yang tidak akan lapuk dan lekang dimakan ngengat dan karat. Sehingga dapat dikatakan bahwa mereka berdua sungguh-sungguh mengerti bahwa Kerajaan Surga itu tersembunyi dan untuk memperolehnya orang harus menjual seluruh harta miliknya (Bdk. Mat 13: 44).


Mereka memilih cara hidup yang demikian, bukan semata-mata ingin hidup miskin melainkan dalam terang Roh Kudus mereka telah melihat bahwa hanya dengan melepaskan diri dari segala sesuatu yang duniawi manusia sungguh-sungguh dapat menemukan Tuhan, harta terbesar yang menjamin kebahagiaan setiap orang. Kehidupan mereka sungguh membuktikan bahwa apa yang paling penting untuk dicari dan ditemukan dalam hidup ini ialah Tuhan.

Karena itu, Klara berani memulai suatu cara hidup baru yang ditandai dengan pelepasan gaun kebangsawanannya yang indah dan menggantinya dengan jubah sederhana yang kasar serta memotong rambut pirangnya yang indah dan menutupinya dengan selubung hitam tanda pertobatan. Dengan demikian secara resmi mulailah suatu cara hidup yang nantinya akan menarik hati banyak wanita untuk bergabung dengan Klara. Mulai dari adik dan temannya bahkan ibunya sendiri.

Beberapa waktu lamanya, Klara dititipkan di biara para Suster Benediktines di Bastia dan San Paolo karena Biara San Damiano belum selesai diperbaiki. Setelah Biara San Damiano selesai, Mei 1212, Klara, adiknya dan temannya pindah ke sana. Di sinilah Klara sungguh-sungguh dapat menghayati cita-cita hidupnya. Cara hidup yang demikian itu, rupanya menarik hati banyak wanita sehingga dalam waktu singkat mereka sudah berjumlah 50 orang. Selain itu juga di beberapa tempat muncul kelompok-kelompok yang menyebut diri mereka pengikut biara San Damiano (maksudnya Klara dan kawan-kawannya). Klara sendiri menamakan kelompoknya ini “Saudari-saudari Miskin”. Mereka hidup dari kerja tangan dan sumbangan umat beriman. Tugas utama menopang Gereja melalui hidup doa dan tapa.

Klara berjuang sampai akhir hidupnya untuk tetap setia pada cara hidup miskin meskipun mendapat banyak tantangan dari pimpinan Gereja yang menganggap cara hidup yang demikian terlalu berat untuk para suster. “Berikanlah keringanan bagi dosa-dosa saya, tapi jangan ringankan keinginan saya mengikuti Yesus Kristus,” demikian pernyataan Klara menolak tawaran dispensasi dan keringanan dalam hidup miskin dari Paus Gregorius ke XI. Klara meninggal pada 11 Agustus 1253 dan dinyatakan sebagai orang kudus pada tahun 1255.

Setelah Klara meninggal, kelompok putri-putri miskin itu terus berkembang. Bukan hanya di Italia melainkan ke segala penjuru dunia bahkan sampai ke Indonesia. Selain berkembang dalam jumlah, bekembang pula dalam pembaharuan sehingga kita mengenal klaris yang beraneka ragam; ada Klaris saja, Klaris Kapusines, Klaris Kolektin, Klaris Adorasi Kekal, Klaris Sakramen Maha Kudus dan lain-lain. Keanekaragaman itu merupakan kekayaan tersendiri dalam penghayatan cita-cita Santa Klara.

Di Indonesia, Ordo Santa Klara telah memulai Misi mereka sejak tahun 1934, di Pulau Jawa, tepatnya di Pacet, Sindanglaya. Kemudian Ordo Santa Klara Kapusines di Kalimantan, tepatnya di Singkawang pada 1937. Kedua-duanya dihadirkan oleh para suster yang ada di Belanda. Tiga puluh Sembilan tahun kemudian, 1976 para Suster Klaris Kapusines yang ada di Jerman juga membuka biara baru di Gunung Sitoli Pulau Nias. Dari Ketiga biara ini didirikan beberapa biara baru, di Jogjakarta…, Sikeben 1992, Sarikan Toho 1992, Sekincau-Lampung 2002,  Sasi-Kefamenanu 2002 dan di Bejabang-Lanjak 2009.


Catatan Kecil Mengenai Klaris Kapusines
Ordo Santa Klara-Kapusines (Ordo Sanctae Clarae Cappuccinarum) didirikan oleh Venerabilis  Maria Laurentia Longo, pada tahun 1939, di Napoli Italia. Maria Laurentia  Longo, adalah seorang janda yang lahir di Katalonia sekitar tahun 1463 dari keluarga bangsawan. Terinspirasi oleh cara hidup para Kapusin yang bekerjasama dengan dia di rumah Rumah Sakit  L’Incurabili yang didirikannya pada waktu itu Ibu Maria Laurentia Longo memulai suatu cara hidup  baru yang sepenuhnya diabdikan kepada doa. Untuk kelompok yang baru itu, ia menggunakan Anggaran Dasar (Regula) St. Klara Asisi (1194-1253) yang adalah pengikut St. Fransiskus dari Asisi (1181/1182-1226) dan Konstitusi St. Coleta dari Corbie (1381-1447) salah seorang tokoh pembaharu Ordo Santa Klara yang dilengkapi dengan semangat pembaharuan Kapusin. Ini yang membuat mereka kemudian dikenal sebagai suster-suster Kapusin (Kapusines).


Ordo Santa Klara Kapusines 75 tahun di Singkawang
Keinginan untuk mendirikan biara kontemplatif di tanah misi bermula dari ide Paus Pius XII yang dicetuskan dalam ensiklik  Rerum Ecclesiae yang dikeluarkan pada tanggal 28 Pebruari 1929, pada kesempatan pengangkatan St. Teresia Lisieux sebagai pelindung Misi. Sebagai suster yang hidup terkurung dalam biara St. Teresia memang dianggap sangat berjasa bagi perkembangan misi Gereja melalui doa-doanya. Untuk itu, Paus secara khusus mendesak supaya didirikan biara-biara kontemplatif di tanah misi, darinya ia menantikan suatu pengaruh yang penuh buah bagi tugas evangelisasi. Seruan tersebut ditanggapi serius oleh para uskup dan vikaris apostolik yang berkarya di tanah misi. Sebagai seorang Fransiskan Kapusin, Mgr. Tarsisius van Valenbergh mengerti dengan baik seruan Paus tersebut, karena sudah sejak semula Ordo Saudara-saudara Dina yang didirikan oleh Fransiskus dan Ordo Saudari-saudari Miskin yang didirikan oleh Klara, saling membantu dalam tugas dan pelayanan mereka.Yang satu aktif berkeliling mewartakan Injil, sedangkan yang lain mengbdikan diri dalam doa siang malam untuk mendukung  tugas pewartaan tersebut.

Itu sebabnya, di tengah berkembangnya karya misi di Borneo (Kalimantan) pada waktu itu, Mgr. van Valenbergh mengundang para suster Klaris kapusines dari Duivendrecht, Belanda untuk hadir juga di sana, untuk mendukung karya misi di tanah Kalimantan itu demi perkembangan Kerajaan Allah. Undangan tersebut ditanggapi dengan antusias oleh para suster itu. Maka pada tahun 1937 hidup kontemplatif dalam klausura dimulai di Singkawang, Kalimantan Barat. Dari Duivenrecht dikirim 9 orang suster, yakni: Sr. Aloysia dari Roh Kudus, Sr. Benigna dari Yesus, Sr. Gerarda dari Maria, Sr. Gabriel dari Kanak-kanak Yesus, Sr. Gemma dari Yesus yang bersengsara, Sr. Maria dari Ekaristi, Sr. Lidwina dari Lima Luka, Sr. Elisabeth dari Tritunggal Maha Kudus (suster luar), Sr. Anna (seorang novis).

Mereka tinggal di sebuah biara yang sudah dibangun sejak akhir tahun 1935 dan baru selesai pada akhir tahun 1937. Letaknya tepat dibelakang gereja Paroki Fransiskus Asisi Singkawang. Boleh dikatakan biara tersebut satu atap dengan gereja paroki tersebut. Para suster menamakan biara itu “Providentia” sebagai ungkapan kepercayaan mereka pada penyelenggaraan ilahi. Di dalam biara itu, para suster memulai suatu cara hidup yang cukup keras. Mereka hidup sangat sederhana. Hampir setiap hari makan sayur kangkung dan jarang sekali makan daging. Untuk menopang kehidupan jasmani, para suster bekerja di kebun, beternak ayam dan membuat kerajinan tangan lainnya. Seorang suster yang memang bertugas untuk urusan luar, waktu itu mereka sebut suster luar, setiap hari pergi berkeliling ke pasar, minta-minta untuk makan suster setiap hari. Tidak jarang suster ini mendapat penghinaan dari orang-orang di pasar, tetapi ia menanggungnya dengan sabar. Karena itu ia dikenang sampai saat ini oleh orang-orang tua di pasar yang masih mengenalnya.



Hidup pada waktu itu sangat terpingit. Tidak banyak orang tahu akan keberadaan mereka. Ini memang sesuai dengan semangat Konsili Vatikan I yang terkenal sangat kaku dalam berbagai aturan dan ketetapannya. Meskipun demikan, ada beberapa keluarga yang memberi perhatian kepada para suster. Mereka membantu para suster dalam banyak hal. Karena itu meskipun semua serrba terbatas, mereka tidak pernah berkekurangan.


Menjadi Tawanan Perang Dunia II
Ketika tentara Jepang/ NIPPON masuk Indonesia pada tahun 1942, para suster yang semuanya berkebangsaan Belanda, ikut menjadi tawanan. Mula-mula mereka diungsikan di sebuah pondok kecil di Sejangkung. Di sana mereka tinggal beberapa waktu sampai akhirnya dibawa oleh tentara Jepang ke kamp tahanan di Kuching. Di sana mereka menjalani suatu kehidupan yang tidak mudah di bawah kekerasan perang dan ancaman untuk dihukum sampai mati. Meskipun demikian, para suster tidak pernah menjadi mundur dalam semangat doa mereka. Hidup doa seperti di biara tetap mereka laksanakan sejauh itu mungkin. Walaupun dalam kenyataannya, mereka tidak diperlakukan berbeda dari tawanan perang lainnya. Mereka selalu berusaha agar tetap ada Ibadat bersama, Perayaan Ekaristi dan Pengakuan dosa. Itu mereka lakukan dengan berbagaimacam akal supaya tidak ketahuan oleh NIPPON.

Cukup lama mereka ada di pembuangan itu. Baru sesudah perang dunia ke dua berakhir pada tahun 1945, mereka dikembalikan ke Singkawang. Tetapi jumlah mereka sudah berkurang karena ada beberapa suster harus kembali ke negeri Belanda karena terganggu kesehatannya. Beberapa suster yang kembali, disambut gembira oleh umat Singkawang. Tetapi beberapa gadis yang sudah lama menunggu untuk bergabung dengan para suster, menangis karena dalam penantian yang begitu lama akhirnya mereka dinikahkan oleh orang tuannya.

Keadaan biara waktu mereka kembali, sungguh menyedihkan. Ternyata selama mereka ditawan, biara itu dijadikan sebagai markas tentara jepang. Semua jadi porang poranda, termasuk juga kapel para suster. Barang-barang suci hilang, pecah dan rusak. Hanya satu yang tinggal utuh itulah patung santa Klara yang  terbuat dari tanah liat. Ini semua membuat para suster harus bekerjakeras untuk menata dan membereskan segala sesuatu kembali supaya bisa dikembalikan dalam keadaan seperti semula.


Mulainya Kehidupan Sesudah Perang...
Sesudah Perang Dunia II, pada tahun 1949 jumlah para suster yang sudah berkurang diperkuat kembali oleh dua suster dari Biara di Duivenrecht, Belanda yaitu : Sr. Kristina dan Sr. Gabriela (sampai sekarang masih ada di Biara Providentia). Kedua suster muda yang berusia sekitar 27 tahun ini tentunya memberi semangat baru bagi komunitas. Selain itu, pada tahun yang sama mulai masuk seorang calon, gadis tionghoa yang bernama Phiong Ket Fa (sekarang Sr. Fransiska). Dialah suster pribumi pertama. Kemudian pada tahun 1951 seorang gadis dayak bernama Antonia Toni, yang biasa dipanggil Guru Toni oleh para muridnya (Sekarang Sr. Serafin), juga ikut bergabung. Maka terbentuklah suatu komunitas yang mulai beragam.

Pekerjaan sehari-hari masih mereka lakukan sebagaimana sebelumnya: bekebun, beternak, kerajinan tangan membuat pakaian dan perlengkapan untuk alat-alat misa, juga membuat hosti meskipun secara kecil-kecilan dan masih manual menggunakan arang.



Pengaruh Konsili Vatikan II
Konsili Vatikan II (1962-1965), telah membawa angin segar dan perubahan dalam Gereja. Dalam hal ini, Biara-biara kontemplatif khususnya Biara Providentia juga terkena imbasnya. Kehidupan biara kontemplatif yang dulu sangat tertutup menjadi lebih terbuka. Ada suatu masa eksperimen yang memungkinkan para suster untuk mencari orientasi terbaik bagi biara masing-masing. Maka mulai ada suster yang distudikan. Dalam batasan-batasan tertentu ikut memberi pelajaran untuk orang luar.
Ini yang membuat Biara Providentia Singkawang pernah menjadi pusat pembinaan Spiritualitas untuk novis-novis dari berbagai kongregasi yang ada di Kalimantan Barat. Para suster yang sudah distudikan ikut terlibat dalam pembinaan ini bekerjasama dengan pastor Kapusin. Cukup banyak religius dibina di Biara Providentia.


Perubahan demi Perubahan
Setelah beberapa waktu mengadakan eksperimen, semakin disadari bahwa itu bukan cara yang tepat untuk suatu hidup kontemplatif. Ada hal esensial yang perlu dipertahankan. Maka para suster pun mulai menutup diri kembali meskipun tidak sekeras seperti sebelum Konsili Vatikan II. Hal yang paling nyata ialah, kursus spiritualitas tidak diadakan lagi di Biara Providentia.

Juga kegiatan minta-minta tidak dapat dilaksanakan lagi karena pemerintah menuntut laporan tertulis dari hasil minta-minta itu setiap kali. Meskipun tetap ada yang memberi perhatian kepada para suster dengan memberikan sumbangan dengan datang sendiri ke biara, para suster tetap memikirkan bagaimana caranya berusaha mencari rejeki untuk hidup sehari-hari dengan cara yang lebih bisa mencukupi. Para suster mulai belajar juga membuat lilin dan menjilid buku. Semua dikerjakan sendiri. Dengan demikian, beberapa tata hidup pun perlu disesuaikan.



Bagaikan Kapal yang Hampir Tenggelam
Perkembangan hidup kontemplatif di Singkawang ini ternyata sangat lamban. Sekian lama menunggu, hampir tidak ada lagi yang menggabungkan diri sesudah angkatan pertama. Beberapa pastor bahkan berkomentar bahwa biara providentia itu bagaikan kapal yang hampir tenggelam. Karena kalau tidak ada lagi orang-orang muda masuk maka akan berakhirlah kehidupan para suster di sana.

Menunggu dengan penuh iman itulah yang dilakukan oleh para suster. Ada juga usaha pergi ke kampung untuk aksi panggilan. Paling tidak dari usaha itu ada seorang gadis yang menggabungkan diri. Ada lagi beberapa yang menyusul, rupanya tidak bisa bertahan sampai akhir.

Beberapa tahun kemudian, seorang Pastor Paroki membawa beberapa gadis yang berminat menjadi suster, tetapi mereka masih sangat muda dan belum selesai sekolahnya. Mereka disekolahkan di sekolah umum sampai selesai. Tidak semua bertahan, tetapi ada beberapa yang tinggal sampai sekarang.
Sesudah itu....masih ada waktu-waktu tanpa ada tunas-tunas muda...


Harapan Terpancar Sesudah Pesta Emas (1987)
Pesta ke lima puluh biara providentia ternaya menjadi awal kehidupan baru bagi biara Providentia. Secara mengagumkan, mulai berdatangan tunas-tunas muda dari berbagai daerah bahkan dari beberapa pulau: dari Jawa dan Flores. Gadis-gadis di sekitar Kalimantan pun mulai cukup banyak yang tertarik. Sehingga novisiat yang dulunya kosong menjadi penuh bahkan hampir kekurangan kamar. Meskipun tidak semua bertahan sampai akhir tetapi cukup banyak yang tinggal.

Kehidupan sehari-hari menjadi lebih bersemangat dengan kehadiran orang-orang muda. Sudah ada harapan untuk mendirikan biara baru. Permintaan itu pun datang pada waktu yang tepat.


Biara Providentia Melahirkan Dua Biara Baru
Perkembangan yang cukup menggembirakan sesudah pesta emas 1987 itu, telah memungkinkan biara Providentia untuk mendirikan dua biara baru: Biara Santa Klara di kampung Sarikan, Desa Terap, Kec. Toho, Kabupaten Pontianak (1992) dan tujuh belas tahun kemudian (2009) mendirikan Biara Santa Klara di Kampung Bejabang, Dusun Tekalong, Desa Lanjak Deras, Kec. Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu.


Biara Santa Klara Sarikan (1992)
Biara Santa Klara Sarikan dihibahkan oleh seorang penderma bernama Bp. Yosep Cahyadi (alm) lengkap dengan kebun coklat dan kolam ikan untuk kehidupan para suster. Tiga orang suster diutus menjadi pioneer (Sr. Skolastika, Sr. Veronika dan Sr. Laetitia).

Biara ini, pertama  dimaksudkan untuk menjadi tempat rohani bagi semua karyawan yang bekerja di perkebunan coklat sehingga mereka dan umat di kampung sekitar boleh mengalami suasana rohani dengan kehadiran para suster di sana. Tetapi lebih dari itu, biara di Sarikan juga dimaksudkan untuk mendukung Gereja terutama Gereja setempat melalui doa-doa para suster.

Setelah melewati masa pergulatan yang cukup lama, Biara Sarikan akhirnya menjadi biara mandiri pada tahun 2007 dengan jumlah anggota 10 suster. Dengan menjadi biara mandiri artinya Biara St. Klara Sarikan tidak lagi tergantung pada biara Providentia Singkawang. Mereka sudah bisa mengurus rumahtangganya sendiri.

Meskipun tidak ada tanda-tanda perkembangan keanggotaan, para suster di Sarikan tetap bertekun menjalankan panggilan mereka. Pada kesempatan perayaan 8 abad Ordo Santa Klara dan 75 tahun Biara Providentia tahun ini nampaknya mulai ada harapan pertambahan anggota dengan datangnya seorang gadis yang menyatakan minatnya untuk menggabungkan diri.


Biara St. Klara Bejabang (2009)
Biara St. Klara Bejabang didirikan sebagai jawaban atas kerinduan hati seorang imam misionaris di Keuskupan Sintang P. Valentino Bossio CM  (alm) akan kehadiran para suster pendoa di Keuskupan Sintang. Tujuannya utamanya ialah untuk mendukung karya Misi Gereja di Keuskupan Sintang.
Sesudah lebih dari sepuluh tahun kemudian, impian pastor tersebut baru bisa terpenuhi. Uskup Sintang Mgr. Agustinus Agus, pada tahun 2007 menawarkan tempat yang ada di ujung Kalbar yakni, di Paroki Lanjak dekat perbatasan Malaysia. Tujuannya menempatkan kami di tempat yang begitu jauh ialah, untuk menjadi oase rohani di tempat wisata nasional Danau Sentarum supaya orang-orang yang berwisata tidak hanya menemukan kesenangan duniawi melainkan juga kekayaan rohani dengan menemukan rumah doa para suster dan ikut berdoa di sana.

Maka pada tahun 2009 dimulai proses pembangunan biara yang berjalan cukup sulit. Tetapi syukur kepada Tuhan, biara itu sudah diresmikan pada 14 Juli 2012 yang lalu. Enam orang pioneer diutus ke sana yakni: Sr. Immanuel, Sr. Veronika, Sr. Yuliana, Sr. Chiara, Sr. Faustina, dan Sr. Margaretha. Semoga biara ini dapat berkembang dengan baik dan pesat.


Biara Providentia Sekarang ini.....
Puji syukur kepada Tuhan, sesudah 75 tahun Biara Providentia masih terus berkembang meskipun lamban. Sesudah mendirikan dua biara, saat ini biara Providentia masih mempunyai 19 suster. Seorang calon dihadiahkan Tuhan pada Perayaan 75 tahun ini. Sembilan belas suster yang ada sangat beragam baik dari segi usia maupun asal usul. Dari segi usia boleh dikatakan cukup ideal karena dari yang termuda 20 tahun sampai yang tertua 90 tahun, di setiap tahunnya, 30an, 40an dan seterusnya ada. Sedangkan dari segi asal usul ada keanekaragaman suku; dayak, cina, flores, jawa, batak, dan belanda. Keanekaragaman ini merupakan kekayaan tersendiri di mana perbedaan membuat para suster dapat saling melengkapi.


Pelayanan Doa
Berdoa menjadi pelayanan utama para suster, karena melalui doa kami berpartisipasi dalam karya misi Gereja. Maka dalam hidup di biara kami, hampir seluruh waktu dikuduskan dengan doa, baik doa bersama maupun doa pribadi. Secara bersama ada tata aturan yang sudah ditetapkan, yaitu:

1. Ibadat Pagi :  04.20
2. Misa :  05.00
3. Meditasi :  05.30-06.30
4. Ibadat Siang :  11.35
5. Rosario/Ib. Bacaan bagi yang belum :  13.20
6. Meditasi :  16.30-17.30
7. Ibadat Sore :  17.30
8. Ibadat Penutup :  19.15
9. Ibadat Bacaan :  24.00

Dalam waktu-waktu doa ini, seluruh kepentingan umat Allah kami bawa. Dengan demikian kami menyuarakan kerinduan hati umat manusia di hadapan Allah.



Biara selalu terbuka untuk permohonan doa dari umat baik dengan datang sendiri maupun melalui telpon maupun email. Semuanya kami bawakan dalam doa. Kami ikut berbahagia bila ternyata permohonan itu dikabulkan. Tetapi yang lebih penting dari itu, kami berdoa supaya semua orang yang datang meminta doa kami memperoleh keselamatan jiwa. Memang terkadang ada permohonan yang nampaknya bertentangan dengan kehendak Allah seperti misalnya: Mohon menang lotre supaya bisa menjadi kaya raya, atau menang judi untuk melunasi hutang, tentu saja Tuhan tau memberikan yang terbaik bagi pemohon seperti ini. Semoga mereka mencari keselamatan jiwanya.

Untuk menyuburkan hidup doa, ada juga bacaan rohani. Juga diadakan rekoleksi-rekoleksi dan retret-retret. Diharapkan dengan demikian para suster semakin meningkatkan hubungan mereka dengan Allah.


Pekerjaan
Selain berdoa, para suster juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kebiasaan meminta-minta untuk makan sehari-hari tidak lagi diteruskan. Kecuali kalau ada hal besar seperti membangun biara baru baru kami meminta-minta. Kami berusaha melakukan pekerjaan tangan yang akan dapat memenuhi kebutuhan bersama. Pekerjaan-pekerjaan yang kami tangani hingga saat ini adalah: berkebun, membuat lilin, membuat hosti, menjahit pakaian misa dan perlengkapan lainnya, membuat rosario, menjilid buku, membuat kue khususnya kue sagon yang terbuat dari remah-remah potongan hosti, dan pekerjaan tangan lainnya. Bunga juga mendatangkan penghasilan yang lumayan untuk makan para suster, apalagi kalau ada cing ming atau peringatan arwah.

Semua pekerjaan rumah tangga dilakukan sendiri oleh para suster dengan pembagian tugas secara bergiliran. Di situ para suster mewujudkan sikap saling melayani. Hanya mengingat pesanan hosti dan lilin untuk paroki-paroki meningkat dari tahun ke tahun, kami mempekerjakan karyawati 2 orang. Satu di pembuatan hosti, satu di pembuatan  lilin. Di kebun ada juga dua karyawan untuk membantu suster di bagian-bagian yang tidak bisa dikerjakan oleh para suster. Juga untuk berbelanja bahan makanan kami dibantu oleh para karyawan, kecuali untuk belanja-belanja yang tidak bisa dititipkan kami lakukan sendiri.



Pingitan (Klausura) dan Keheningan: Sarana Untuk mendukung Hidup Doa
Para suster hidup dalam pingitan. Ini bukannya untuk menyengsarakan diri melainkan untuk mendukung perjumpaan dengan Tuhan yang seringkali menyatakan diri dalam keheningan. Dengan pingitan para suster memang dipisahkan dari dunia ramai di mana diharapkan, keterpisahan itu menghantarkan kami untuk masuk lebih dalam dalam ruang-ruang perjumpaan dengan Tuhan. Supaya doa lebih terfokus dan lebih dalam.

Karena itu, dalam hidup sehari-hari para suster diwajibkan untuk menjaga keheningan dengan berbicara hanya disaat perlu saja atau menyampaikan sesuatu dengan suara lembut. Ini yang membuat orang Singkawang menyebut kami alo kunyong (suster bisu). Maka para tukang yang memperbaiki gereja terkejut waktu mendengar kami berbicara sambil berteriak : “Alo kunyong mo alo e!....(Maksudnya suster bisu tidak bisu e...) Mereka tidak tahu bahwa wajib diam tapi bukan berarti tidak bisa berbicara sama sekali. Diam tetaplah dimaksudkan supaya hati tetap terarah kepada Tuhan.


Lalu Mengapa Sekarang Suster Sering Keluar Klausura?
Demikian pertanyaan umat yang sering kami dengar. Memang kalau dibandingkan dengan masa lalu, kami sering dinilai kurang kontemplatif lagi. Mungkin di satu sisi benar juga tetapi di sisi lain, kami memang berhadapan dengan suatu situasi yang sangat berbeda dengan masa lalu. Beberapa hal dapat kami sebutkan di sini:
1. Dulu ada suster luar, yang memang khusus mengurus urusan luar
2. Dulu segala urusan untuk keluar misalnya: administrasi, keuangan, pembangunan dll diurus oleh Saudara Kapusin yang ditunjuk. Sekarang sejak para saudara Kapusin dari Belanda sudah tidak ada lagi, semua kami urus sendiri.
3. Kalau para suster sakit, dulu dokter mau datang ke biara, sekarang ada juga yang mau tapi jarang.


Providentia Bergabung dalam Federasi
Sejak tahun 2004, kami membentuk Federasi Suster-suster Klaris Kapusines di Indonesia yang dinamakan: Santa Agnes dari Praha. Federasi ini terdiri dari 6 biara: Biara Providentia, Biara Santa Klara Sikeben, Biara Santa Klara Gunungsitoli, Biara Santa Klara Sarikan, Biara Santa Klara Sekincau, Biara Santa Klara Sasi, dan tahun 2012 ini  ditambah dengan Biara Santa Klara Bejabang. Tujuan Federasi ini ialah untuk menjalin kerjasama dan saling membantu antar biara terutama dalam hal pembentukan dan pembinaan serta dalam kesulitan keuangan.



Akhir Kata
Demikian banyak hal yang perlu disyukuri setelah sekian banyak tahun. Semuanya berkat kasih karunia Tuhan dan kebaikan hati umat beriman. Semoga Perayaan ini menjadi kesempatan untuk berusaha hidup penuh syukur dan menjadi lebih baik untuk tahun-tahun yang akan datang.



10 – 14 Februari 2014
@ Biara Providentia, 
Jl. Diponegoro No.1
Singkawang Kalimantan Barat.

0 komentar:

Poskan Komentar