Ads 468x60px

Peniten Rekolek Caritas Alles voor Allen (PRCA)



Selayang Pandang: 

Pengantar
Peniten Rekolek Caritas Alles voor Allen (selanjutnya akan disebut PRCA) merupakan salah satu bentuk hidup Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi yang hidup dan berkembang di Breda, Nederland, sejak tahun 1826. Suster Maria Theresia Saelmaekers sebagai pendiri, menghayati semangat Peniten (pertobat an), Rekolek (mengumpulkan segenap daya dan memusatkannya bagi kepentingan Allah), Caritas (kasih). Semangat tersebut dihidupi dan diwujudkan dalam hidup bersama dengan para susternya dan dalam melayani orang-orang sakit, miskin, menderita dan terlantar dengan tekun, penuh bakti, setia dan percaya akan kehendak Allah. Semangat yang diyakini dan dihayati terus menerus menumbuhkan sikap total, terbuka, gembira, dan penuh harapan. Sikap seperti ini lama kelamaan menjadi milik baik bagi Suster Maria Theresia sebagai pendiri kongregasi maupun para anggotanya, sehingga menjadi ciri khas semangat batin kongregasinya yang dikemudian hari dirumuskan dengan Alles voor Allen.

PRCA, tidak dapat dipisahkan dari akarnya yang jauh yaitu suatu gerakan “para pentobat” “Peniten” yang menemukan daya dorong, dan energi baru dari Bapa Fransiskus Assisi. Kelompok itu terdiri dari orang-orang yang sudah menikah, belum menikah maupun orang-orang selibat. Komitmen pertobatan mereka mengandung sejumlah penyangkalan dan kebiasan pertobatan, juga praktik hidup yang lebih ketat daripada yang biasa dijalankan oleh orang Kristen pada umumnya. Khususnya yang berhubungan dengan puasa, pantang dan frekwensi penerimaan sakramen. 

Adalah Paus Nicolas IV dengan bulla supra montem, tahun 1289; mengakui bahwa Fransiskus sebagai pendiri Ordo Pentobat, tetapi sebelumnya pada tahun 1238, Paus Gregorius IX sudah menyebut tiga ordo yang didirikan oleh Santo Fransiskus Assisi, yaitu Saudara-saudara Dina, para Suster Klausura dan para “Pentobat”. Kesaksian ini lebih bernilai karena dari seorang Kardinal Pelindung para Fransiskan. Ordo Pertama khusus bagi kelompok pria yang lebih berbentuk apostolik dan Ordo Kedua untuk kelompok perempuan berbentuk monastik kontemplatif, Ordo ketiga sebagai Ordo Peniten atau pentobat, ketiganya didirikan oleh Bapa Fransiskus setelah mengalami pertobatan. Hubungan PRCA dengan Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi sebagai berikut.

Muder Theresia Saelamaekers, pendiri kongregasi di Breda bersama rekan-rekannya merupakan salah satu kelompok religius Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi, sebab mendasarkan pendirian kongregasinya dan menghayati Anggaran Dasar Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi, Leo X dan Konstitusi Apostolik Peniten Rekolek Reformasi Limburg . Untuk menjelaskan hubungan Kongregasi yang didirikan oleh Muder Theresia Saelmaekers dengan Ordo Ketiga Santo Fransiskus Assisi kita mendapat pencerahan dari Fr. Lazaro Iriarte de Aspurz OFMCap. dalam bukunya, FRANCISCAN HISTORY – THE THREE ORDERS OF ST. FRANCIS OF ASSISI tahun 1983 . 


ORDO KETIGA REGULAR SANTO FRANSISKUS ASSISI
FR. Lazaro Iriarte menuturkan bahwa Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi, sudah ada sejak abad ke-13, yaitu dari anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus Assisi atau dari kelompok “Peniten”. Ordo Ketiga itu ada yang berkeinginan hidup berkomunitas dalam biara, sambil mengejar kesempurnaan injili, melalui hidup selibat dan berpegang pada Anggaran Dasar Ordo Ketiga Santo Fransiskus Assisi Paus Nicolaus IV. Dicontohkan bahwa pada tahun 1295 Saudara-saudara Pentobat di Jerman, menjalani hidup bersama, dan mendapat izin untuk mendirikan kapel-kapel di lingkungan tempat tinggal mereka agar dapat merayakan Ofisi Ilahi bersama. Hingga akhir abad tiga belas (13) komunitas seperti itu tumbuh dan berkembang di banyak tempat, a.l. di Jerman, Belanda, Kolm, Spanyol, Irlandia dan di Dalmatia (ex Yuguslavia). Mereka baik pria maupun wanita mengenakan pakaian berwarna abu-abu.

Menurut Fr. Lazaro Iriarte de Aspurz OFMCap., dari komunitas-komunitas itu perkembangan yang paling dinamis adalah komunitas suster-suster yang didirikan oleh Beata Angelina Marciano, seorang biarawati Italia (1377-1435), Ibu Pendiri sebuah kongregasi dalam Ordo Ketiga Santo Fransiskus Assisi . Jasa beliau dengan pendirian Ordo Ketiga Regular Fransiskan, menandai penetapan biara Fransiskan pertama dari biarawati Tertia atau “Pentobat”. Mereka mempunyai Pemimpin Umum dan pemimpin lokal. Pemimpin disebut “Moeder” (Ibu), mereka menyelenggarakan pemilihan pemimpin setiap tiga tahun sekali, tugasnya antara lain menerima novis dan menerima calon untuk profesi. Mereka tidak mengikuti peraturan klausura (hidup dalam pingitan), melainkan melakukan pelayanan bagi orang-orang sakit, orang-orang miskin, para janda dan yatim piatu, juga berupaya untuk memenangkan para pendosa kembali kepada jalan kebenaran, menjadi pendidik, khususnya bagi para gadis. 

Angelina masih hidup ketika para suster Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus di Italia menempatkan diri di bawah reksa pastoral Ordo Pertama Observan. Kemudian, Ordo Pertama Observan memperoleh izin untuk menertibkan komunitas-komunitas biara aktif tersebut untuk menepati hidup membiara tertutup/klausura (pingitan). Beberapa biara Ordo Ketiga Santo Fransiskus ini menerima keputusan itu dan menjadi Ordo Ketiga Biara Tertutup, misalnya di Inggris (Enclosed Tertiaries), sedangkan yang tetap melakukan karya pelayanan “aktif” menempatkan diri mereka di bawah reksa rohani keuskupan setempat.

Komunitas Ordo Ketiga baik pria maupun wanita berkembang begitu cepat. Perkembangan itu juga mengandung risiko menurunnya mutu hidup dengan kurangnya kesatuan dan disiplin dalam hidup. Selain itu belum semua kongregasi dalam Ordo Ketiga tersebut mengikrarkan 3 kaul. Untuk melindungi dan mempertegas kehidupan mereka Paus Leo X, tanggal 21 Januari tahun 1521menerbitkan AD baru berdasarkan AD Nicolaus IV. Dengan demikian keberadaan mereka mendapat pengakuan kanonik gerejawi. AD Leo X tersebut untuk Ordo Ketiga Regular baik pria maupun wanita. 

AD Leo X disesuaikan dengan kehidupan bersama dalam komunitas; fleksibel berhubungan dengan hidup tertutup (klausura), namun dapat juga dihayati oleh yang aktif melayani karya, seperti di rumah sakit dan pendidikan. Para pemimpin komunitas pria disebut “minister” (pelayan) dan untuk komunitas wanita disebut moeder (Ibu). Biara-biara Ordo Ketiga wanita sebagian tunduk pada keuskupan menepati AD Leo X; dan sebagian lainnya didampingi oleh para Observan dengan konstitusi khusus.


ORDO KETIGA REGULAR PENITEN REKOLEK
Selama abad ke-16 dan ke-17 banyak didirikan kongregasi Fransiskan perempuan Ordo Ketiga Regular yang berprofesi meriah dan lebih tertutup (klausura). Mereka ini dianggap pembaru, hidupnya lebih ketat dengan maksud memelihara semangat asali. Salah satu di antaranya ada di Swis, didirikan oleh Elisabeth Spitzlin (meninggal 1611) di bawah arahan Kapusin. Tahun 1591 semua komunitas Pannereg mengenakan jubah dengan semangat pembaruan Kapusin. Pembaruan demikian juga terjadi di Perancis utara dan Belanda (Belgi), institusi itu dikenal sebagai Pembaruan St. Omer. 

Pembaruan St. Omer , yang terletak di Perancis Utara dan Belanda (Belgi) menjadi penting karena, dari Belgi muncul pembaruan yang disebut Peniten Rekolek Limburg, yang didirikan oleh Yohana Neerinck Yesus (meninggal 1648) dan dibimbing oleh Fr. Petrus Marchant seorang Imam Fransiskan, anggota Kelompok Rekolek . Yohana Neerinck Yesus memadukan hidup kontemplatif dan aktif/baikpelayanan karitatif (mengelola asrama), dengan komposisi baik jumlah pelayanan maupun waktu yang pergunakan untuk pelayanan lebih terbatas. Menekankan hidup askese sangat ketat, miskin, jauh dari kemaian, tinggal dipinggiran, mengedapankan sistem desentralisasi (rumah-rumah cabang yang didirikan menjadi kongregasi mandiri, tidak sebagai rumah cabang). Belgia merupakan ladang utama pembaruan ini. Pembaruan tersebut terkenal dengan pembaruan Peniten Rekolek Reformasi Limburg, yaitu usaha menggabungkan hidup tertutup (klausura) dengan kegiatan mengajar. Ibu Theresia Saelmaekers mendapat warisan rohani secara tidak langsung melalui kelompok Peniten Rekolek dari Liven . 


ORDO KETIGA REGULAR PENITEN REKOLEK CARITAS ALLES VOOR ALLEN BREDA
Suster Maria Theresia Saelmaekers, sebelumnya bernama Barbara Saelmaekers, bersama Annemarie Saelmaekers (adik kandung) dan Catharina Corbusie datang dari Leven (berkat pengantaraan Muder Agustin dari Dongen) dan tiba di Breda tanggal 14 November 1826. Mereka bergabung dengan Catharina Brouwers dari Breda yang sebelumnya sudah menjadi perawat Rumah Singgah di Jalan Haagdijk, Breda. Rumah Singgah itu untuk menampung orang-orang sakit, miskin dan terlantar milik Gereja Katolik Breda. Kemudian menyusul Maria Anna Bruininx dari Leven, Charlotte Bles dari Archem, dan Joanna Willems dari Velthem. 

Maksud kedatangan mereka ke Breda dapat kita ketahui dari ditulisan Suster Maria Theresia Saelmaekers ..demi cintanya kepada Tuhan, telah meninggalkan tanah airnya untuk melayani karya besar cinta kasih di kota ini: orang-orang sakit yang merana; juga untuk menjalankan bersama-sama pengelolaan kerohanian dalam rumah singgah yang baru ini... Barbara Saelmaekers ditunjuk oleh Pengelola Rumah Singgah Gereja Katolik, sebagai pemimpin para perawat serta merawat orang-orang sakit menggantikan peran Ibu De Vet. Mereka anggota Ordo Ketiga Sekular Santo Fransiskus Assisi.

Pada 8 Juli 1830, Barbara Saelmaekers dan teman-temannya, mulai menjalani pendidikan novisiat. Masa novisiat dijalaninya selama satu tahun kemudian mereka mengikrarkan profesi suci pada tahun tahun 1831 dan diterima oleh Vikaris Apostolik Mgr. J. van Hooydonk. Anna Maria Saelmaekers “karena sakit berat” telah mengucapkan profesi pada, tanggal 2 Maret 1829, dan meninggal dunia tanggal 13 September 1830.

Dengan mengikrarkan profesi religius dan diterima oleh gereja melalui Vikaris Apostolik Mgr.Johanes van Hooydonk, para Suster secara resmi membentuk persekutuan hidup (komunio) berlandaskan Anggaran Dasar Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi yang dipromulgasikan Paus Leo X dan Konstitusi Apostolik Peniten Rekolek Reformasi Limburg. Mereka mengejar kesempurnaan atau kesucian hidup dengan melayani orang-orang sakit, miskin, menderita, dan terlantar.


PERMULAAN KONGREGASI 
Para Suster pada permulaannya tinggal di Rumah Singgah. Sebagai tempat untuk memuji, meluhurkan dan menimba kekuatan dari Allah, mereka menggunakan salah satu ruangan dijadikan sebagai kapel untuk mentahtakan Sakramen Maha kudus. Para suster belum menampakkan diri dengan pakaian khas biara. Sebab dalam masyarakat pada zamannya relasi Protestan dan Katolik masih diliputi oleh praduga dan prasangka. Para pemimpin pemerintahan dan masyarakat pada umumnya dengan pengaruh Protestanisme dan Revolusi Perancis belum bisa menerima kehadiran para religius Katolik. Mereka dikenal oleh masyarakat sebagai suster-suster “Rumah Singgah”.

Maksud didirikannya kongregasi pada awalnya adalah untuk merawat orang-orang sakit, miskin, dan terlantar . Namun satu tahun setelah para suster mengikrarkan profesi (tahun 1832), mereka sudah memperluas pelayanannya dengan mengambil anak-anak yatim piatu, anak yatim, anak piatu untuk didik dan diajari pekerjaan tangan. Tahun 1834 mereka menerima orang lanjut usia, orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal (gelandangan), menderita dan cacat. Orang lanjut usia pertama, adalah Ibu Valk. 

Kehadiran Kongregasi terjadi pada saat yang tepat, karena para gadis secara teratur datang mendaftarkan diri dan bergabung. Banyak gadis yang dahulu hampir-hampir tidak ada kemungkinan untuk masuk biara, (karena harus pergi ke luar negeri), mereka memperoleh kesempatan dengan mudah. Mereka menemukan tempat untuk mengabdi dan bekerja, tidak hanya dalam bidang perawatan dan pemeliharaan orang sakit, melainkan juga dalam bidang pendidikan dan ketrampilan, perawatan terhadap orang lanjut usia, anak-anak terlantar, pekerjaan yang begitu sesuai bagi wanita. 

Kongregasi yang dibangun oleh Muder Theresia dibaktikan kepada Allah melalui hidup dalam persaudaraan, ditopang dengan semangat Peniten-Rekolek, Caritas yang diwujudkan dalam pelayanan terhadap orang-orang sakit, miskin, dan menderita. Untuk membina hidup rohani, para suster mendasarkan hidupnya pada Anggaran Dasar Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi, Leo X dan Konstitusi Apostolik Peniten Rekolek Reformasi Limburg dengan pembimbing rohani Mgr. Johanes van Hooydonk (Imam Diosesan). 

Dasar Hidup Rohani Kongregasi
Ibu Theresia meletakkan dasar dan mengatur hidup yang dibaktikan kepada Allah melalui AD Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi Leo X, dan Konstitusi Apostolik Peniten Rekolek Reformasi Limburg. AD Leo X memberikan langkah-langkah bagaimana mencapai kesucian atau “persatuan dengan Allah” yang mencintai dan dicintai oleh para suster. Langkah atau tahap tersebut seperti seleksi, pembinaan, dan pelatihan terus menerus . AD juga mengatur syarat-syarat calon, jika para calon lolos dari seleksi kemudian diadakan upacara penerimaan sebagai Novis dan mulai menjalani pembinaan. 

Pembinaan, pelatihan itu sebagi berikut:

1. Masa novisiat. Setiap calon suster wajib menjalani masa novisiat selama satu tahun. Jika dinyatakan layak, calon (Novis) tersebut dalam Perayaan Ekaristi mengikrarkan profesi serta berjanji hendak menepati perintah Allah dan melakukan penitensi, seraya hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian.

2. Para suster diwajibkan melakukan pantang dan puasa. “Penitensi”, diatur sebagai berikut: 
2.1. Pantang tidak makan daging setiap hari: Senin, Rabu, Jumat dan Sabtu sepanjang tahun kecuali Natal. 
2.2. Puasa: 
- Setiap Rabu dan Jumat sepanjang tahun.
- Selama masa Adven mulai Hari Raya semua orang Kudus (1 November).
- Selama masa Pra Paskah.
- Sepanjang tahun makan sehari hanya 2 kali, kecuali dalam perjalanan atau sakit dapat makan sehari 3 kali. 

Tentang pelaksanaan puasa ini kita mendapat penjelasan melalui Muder Philomena dalam suratnya kepada Mgr. Johanes van Hooydonk, Februari 1864 menyebutkan bahwa: 10 suster mampu melaksanakan puasa . Maksudnya, mampu melaksanakan kebiasaan Peniten pantang dan puasa.

3. Doa dan kebaktian Ilahi baik pribadi maupun bersama-sama diatur sebagai berikut: 
- Sedapat mungkin tiap hari menghadiri misa. 
- ibadat harian lengkap setiap hari;
- meditasi dua kali sehari masing-masing setengah jam; 
- periksa batin setiap malam; 
- mendengarkan sabda Allah;
- doa sesudah dan sebelum makan; 
- mengaku dosa sedikitnya 4 kali dalam satu tahun; 
- menerima komuni 3 x setahun atau yang ditentukan statuta. 
- adorasi setiap minggu; 
- rekoleksi sebulan sekali;
- retret selama 5 hari setahun sekali.


4. Silentium wajib dijalankan dengan memperhatikan 

4.1. waktu: 
- Sesudah Ibadat penutup malam hari sampai sesudah misa pagi hari; 
- pada saat bekerja boleh berbicara hanya dengan suara pelan dan hanya bila perlu;

4.2. Tempat: 
- Di dalam gereja atau kapel; 
- kamar-kamar atau gang sekitar kamar para suster; 
- pada waktu makan boleh berbicara dengan suara pelan.

5. Sikap dan tingkah laku: 
- tidak boleh menonjolkan diri; 
- mengenakan baju atau jubah sederhana yang sudah ditentukan; 
- dilarang main judi; 
- sederhana dalam bertuturkata; 
- tidak berdusta atau bersumpah palsu;
- Setiap malam memeriksa batin. 

Sumber kedua yang dipergunakan oleh Muder Theresia adalah Konstitusi Apostolis Peniten Rekolek Reformasi Limburg yang ditulis oleh Fr. Petrus Marchant, dan diterbitkan ulang oleh Mgr. Johanes van Hooydonk. Konstitusi itu menjabarkan bagaimana menghayati semangat Peniten- Rekolek sekaligus mengatur karya pelayanannya.

1. Semangat para suster tertulis: kemurnian hati, semangat kemiskinan, saling menaruh cintakasih dan matiraga badani. 
2. Bentuk kehidupan dalam klausura; tanpa mempunyai milik/jaminan; berjalan hanya dengan sandal, telanjang kaki (tanpa kaos kaki); mereka tidur di atas kasur jerami; siang malam mereka mendoakan Ofisi lengkap; menjalankan pantang dan puasa keras, melaksanakan meditasi 3 kali sehari, mengaku dosa sedikitnya 4 x setahun”. 
3. Tentang hubungan/pergaulan para Suster.
- Para suster hendaknya saling menaruh hormat dan respeks satu sama lain.
- Menjadga diri terhadap segala keistimewaan.
- Sehati sejiwa dalam ikut bekerja sama dalam membangun kesejahteraan umum.
- Menaruh lasih sempurna satu sama lain sambil menanggung yang lain dalam kelemahan.
- Bertolong-tolongan menanggung beban dalam semangat kebersamaan dan kepercayaan.
4. Karya cinta kasih, “menyelenggarkan sebuah pensionat (asrama)” putri dengan jumlah tidak lebih dari sepuluh orang, dengan masud supaya anak-anak itu tertarik pada kehidupan membiara. 


Pembimbing Rohani Imam, Uskup Diosesan. 
Mgr. Johanes van Hooydonk Administrator Apostolik Vikariat Breda, memainkan peran penting terhadap lahir, tumbuh dan berkembangnya Suster-suster Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi di Breda. 8 Januari 1817 Romo Adrianus Oomen Vikaris Apostolik meninggal dunia, tugasnya dilanjutkan oleh RD. Johanes van Hooydonk. Sebagai imam sejak awal sudah menampakkan sosok yang rajin dan tekun menjalankan tugas khususnya dalam memimpin dan sebagai bapa rohani dari para Suster di Haagdijk Breda. 

Mgr. Johanes van Hooydonk, menerima profesi para suster mulai dari kelompok pertama tahun 1831. Beliau mendapat kuasa khusus dari Pimpinan Ordo Saudara Dina tertanggal, 8 Oktober 1837 dari Amsterdam, P. Jacob, Vikaris Provinsi Nederland dan Prefek Misi para Saudara Dina; untuk menerimakan busana biara dan menerima profesi dalam Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi di keuskupan Breda. Tanggal, 14 Januari 1842 Mgr. Johanes Van Hooydonk diangkat menjadi Uskup Dardanië. Posisinya sebagai Uskup Dardanië, melalui surat keputusan tanggal, 12 Juli tahun 1845, Pater Jendral Saudara-saudara Dina melimpahkan semua kekuasaan yang diperlukan untuk membimbing, mengunjungi dan mengadakan pembaruan-pembaruan; juga wewenang untuk menerima seseorang masuk biara dan mengikrarkan profesinya.

Beliau menjamin hidup rohani para suster antara lain dengan mengusahakan buku pedoman hidup bagi kongregasi, tanggal 10 Oktober 1841, RD. Johanes van Hooydonk, memberi izin untuk mencetak kembali buku Konstitusi Apostolik Peniten Rekolek Reformasi Limburg. Buku tersebut menjadi pedoman hidup para suster yang ada di wilayahnya hingga tahun 1855.

Tanggal 4 Maret 1853, Sri Paus mengumumkan Vikariat Breda dinaikkan statusnya menjadi Keuskupan, dan Mgr. Johanes van Hooydonk diangkat menjadi Uskup. Sebagai Uskup beliau menerbitkan konstitusi baru, yaitu pada tanggal 19 Nopember 1855, sebagai pengganti Konstitusi Apostolik Peniten Rekolek Reformasi Limburg. Ketika konstitusi ini diberlakukan Ibu Theresia masih hidup, beliau menjabat pemimpin Umum di Steenbergen . Beliau mengatakan dalam kata sambutanya “...simpati yang tulus, keinginan yang berkobar-kobar yang dirasakannya untuk ikut menyumbang pada perkembangan kongregasi dan untuk menjamin kelanggengan itulah yang mendorong karya tulis ini...” Menurut keterangannya buku tersebut disesuaikan dengan lingkungan kerja para Suster. 

Berkat bimbingan Mgr. Johanes van Hooydonk, Ibu Theresia memadukan penghayatan hidup Peniten Rekolek dengan kebutuhan pelayanan terhadap mereka yang miskin, tersingkir dan menderita dapat kita lihat pada jadwal harian sebagai berikut:

1. Hidup Rohani meliputi:
Pukul 04.30 - 07.00 : Ibadat pagi, meditasi, doa Kruisgebed,
Perayaan Ekaristi.
Pukul 12.00 : Doa Malaikat Tuhan, Periksa batin, doa salip
Pukul 15.00 : Doa mengenang wafat Yesus 3 x Bapa dan 3 x
SalamMaria, 
Pukul 16.00 : Ibada sore, kunjungan Sakramen Mahakudus
bacaan rohani
Pukul 18.00 : Doa Malaikat Tuhan, bacaan rohani pendek
Puku 20.45 : Doa penutup, Rosario, Litani, mempersiapkan
bahan meditasi hari berikutnya

2. Hidup Kerasulan:
Pukul 07.00-12 : Melakukan pekerjaan di tempat masing-masing
sesuai tugas dan perannya.
Pukul 13.00-16.00 : Meneruskan pekerjaan

3. Hidup dalam Persaudaraan.
Pukul 07.00 : Makan pagi, Bacaan rohani sebelum makan;
Pukul 12.00 : Makan siang
Pukul 16.00 : Makan minum ringan
Pukul 19.00 : Makan malam
: Rekreasi bersama

Dalam hal menghayati semangat Peniten kiranya Ibu Theresia meneladan Ibu Yohana Yesus bahwa, penitensi bukan suatu tujuan, melainkan sarana untuk mendidik, mengatur, melatih atau mengendalikan hawa nafsu. Melalui latihan matiraga (askese) dimaksudkan untuk pemurnian diri, penelanjangan diri, pasrah, dan pelepasan diri dari hal-hal yang menghalangi hubungan manusia dengan Allah, sehingga tetap dapat mengabdi kepada Allah dengan segenap hati, pikiran, perkataan, dan kekuatan. 

Allah adalah Roh, agar dapat bekomunikasi secara intensif dengan Allah dibutuhkan keheningan batin, keheningan hati. Untuk mencapai suatu keheningan Ibu Yohana menggunakan sarana “Klaurusa”. Demikian juga bagi Ibu Theresia keheningan batin, dan hati, harus diciptakan dengan memelihara keheningan di sekitar kapel, di dalam gereja, di dalam kamar tidur dan pada waktu-waktu tertentu. 

Doa merupakan sarana untuk menjalin relasi dengan Allah secara intim, maka Ibu Theresia mengatur sedemikain rupa antara hidup doa dan pelayanan lihat jadual harian di atas . Agar persatuan dengan Allah tetap terpelihara hanya mungkin melalui doa, keheningan, kontemplasi dan penyerahan diri kepada Allah. Doa menjadi kekuatan dan menjadi nyata dalam pelayanan, semakin intensif hubungan dengan Allah, pelayanan akan semakin bermutu.

Pelayanan cinta kasih yang dilandasi semangat peniten-rekolek memampukan Ibu Theresia dan para susternya terbuka pada kehendak Allah dan peka akan kebutuhan masyarakat/zaman. Ketiga bentuk hidup itu dilaksanakan dalam semangat persaudaraan (communio). Ketiganya bisa dibedakan namun tidak dapat dipisahkan, sebab saling memengarui, saling menyempurnakan. Semakin dalam hidup rohani, semakin bermutu tinggi pelayanannya. Semakin bermutu pelayanannya, semakin banyak orang diselamatkan. 


Corak Batin Kongregasi Ordo Ketiga Regular P R C A
Kongregasi Ordo Ketiga Regular Peniten Rekolek Breda, menghayati semangat peniten- rekolek, di bawah bimbingan Uskup Diosesan, lama kelamaan menampakkan corak batin para anggotanya dan menjadi kekhasan bagi kongregasi itu sendiri. Corak batin yang kami maksud adalah Semangat kongregasi itu sendiri. Tahun 1855 merupakan tahun yang bersejarah sebab Kongregasi pada tahun itu mengalami dua peristiwa penting sehubungan pengakuan dirinya sebagai relegius dalam Gereja dan sebagai lembaga yang diakui dan diterima oleh pemerintah. 

Sebagai lembaga religius disahkannya konstitusi khusus hanya untuk kongregasi itu, menggantikan konstitusi Apostolis Peniten Rekolek Limburg serta cacatan sipil yang mengakui sebagai lembaga yang dilindungi oleh undang-undang negara di dalamnya dirimuskannyalah identitas mereka yaitu Alles voor Allen. Dua dokumen tersebut menyatakan atau menjelaskan siapa dan bagaimana para Suster Ordo Ketiga Regular Peniten Rekolek Breda itu secara sah dan meyakinkan.

Konstitusi Tahun 1855 disebut Konstitusi Khusus 
Konstitusi khusus maksudnya bahwa konstitusi hanya untuk Kongregasi Ordo Ketiga Regular Breda dan cabang-cabangnya yang ada di keuskupan Breda. Dengan kata lain Kongregasi itu sudah mempunyai konstutusinya sendiri. Di dalamnya menjelaskan siapa dan bagaimana cara hidup para suster itu meliputi antara lain:

1. Tujuan kongregasi...ialah menguduskan para anggotanya dengan melatih kesempurnaan kristiani serta memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkan dengan melatih diri dalam berbagai amal kasih. Tujuan ini adalah tujuan yang paling sempurna karena paling menyerupai hidup Penyelamat kita Yesus Kristus...

2. Spiritualitas kongregasi adalah: doa dan permenungan (rekolektif); pertobatan dan matiraga (peniten); pelepasan diri dari hal-hal duniawi; ketaatan, kerendahan-hati; kasih penuh pengabdian dan pengurbanan diri, kegembiraan fransiskan. Semangat kongregasi dijabarkan dalam hidup sehari-hari sebagai berikut

2.1. Doa dan permenungan 
Klausura disebutnya sebagai...tempat perlindungan yang suci yang akan melindungi mereka terhadap bahaya-bahaya.... Klausura mengadung dua arti lahiriah dan rohaniah, kewajiban lahiriah akan sedikit maknanya kalau tidak dipersatukan dengan batiniah atau hati. Keheningan juga harus diciptakan di kapel, ruang doa, kamar tidur, gang-gang, kamar kerja, dan dapur termasuk tempat yang hanya boleh dimasuki orang lain terkecuali kalau tidak dapat dielakkan.

Doa, untuk memuji dan bersyukur kepada Allah, Ibadat Harian menduduki tempat pertama. Sebab melaksanakan ibadat harian bagaikan mengemban tugas Para Malaikat dan Orang Kudus sambil bersujud di hadapan Allah penuh hormat senantiasa bernyanyi dalam sukacita yang suci: Kudus! Kudus! Kudus! 

Meditasi, meditasi berarti mengingat sebuah kebenaran serta merenungkannya. Di antara semua latihan rohani meditasilah paling bermanfaat, paling menguntungkan. Jiwa mengenal dirinya sendiri serta mengetahui sarana untuk memerangi hawa nafsu dan kekurangan-kekurangannya. Selama para suster memelihara meditasi ia akan memiliki sifat saleh, suci, rendah hati dan rajin dalam menjalankan tugas. 

Misa, menghadiri misa setiap hari itulah yang diharapkan oleh konstitusi ini sebab menurut Konsili Trente menghadiri misa itu sama dengan menghadiri “Kurban yg dipersembahkan di Gunung Kalfari, Penebus yang mengorbankan diri di salib sama, dan masih mengorbankan diri setiap hari melalui tangan Imam”. Menghadiri misa juga saat yang tepat untuk memuji dan menyembah, melunasi dosa, bersyukur dan memohon kepada Allah. 

Pemeriksaan batin, merupakan sarana penting untuk mencapai dua tujuan tersebut di atas. Berkat pemeriksaan batin hati semakin bersih dan dimampukan untuk mengenal Yesus dan mencintai Yesus. 

Doa makan dan Bacaan rohani. Dibacakan sebelum makan, dan “para suster hendaklah jangan makan sebelum memohon berkat Tuhan atas diri mereka sendiri dan atas santapan yang telah disediakan dan janganlah mengakhiri tanpa syukur kepada Allah atas karunianya yang telah dinikmati. 

Kunjungan Sakramen Mahakudus, kesempatan untuk menimba kembali di hadapan Yesus kekuatan, kesegaran, keberanian setelah seharian bekerja. “...betapa besar penghiburan bagi para suster bilamana mereka sebagaimana mestinya setiap hari mengunjungi Mempelai mereka yang kudus, sahabat mereka yang paling karib, Tuan rumah mereka yang ilahi...” 

Doa rosario, malaikat Tuhan, untuk menghormati Maria ibu Yesus sebab “... kongregasi ditempatkan secara khusus di bawah perlindungan Santa Maria, setiap anggota memakai nama Maria...” 

Rekoleksi, setiap bulan harus melakukan rekoleksi sendiri-sendiri atau bersama-sama. Tujuannya untuk mawas diri, memeriksa bagaimana mereka telah melaksanakan tugas selama satu bulan, menyegarkan niat-niat baik yang telah mereka buat pada waktu retret, mempersiapkan diri untuk meninggal secara bahagia. 

Menyepi secara rohani (Retret) dikatakan bahwa di antara latihan – latihan rohani retret merupakan salah satu sarana yang paling kuat. “...selama berjam-jam kesepian itu membahagiakan, Allah berbicara di hati, menerangi jiwa, memurnikan, membuat sanggup untuk menerima rahmat...”

2.2. Pantang dan puasa (askese), .”...matiraga merupakan sarana unggul untuk mengendalikan tubuh kita yang rewel, mematikan ular-ular cinta kasih dan membelenggu kodrat yang memberontak, agar mereka dijiwai oleh semangat peniten yang secara khusus harus menjadi miliknya..”. Pantang daging hendaknya ditepati. “...Para suster hendaknya tidur dengan memakai karung jerami; bantal wol, selama semalam berikatkan tali dan skapulir ordo..” ”... Selain itu matiraga batiniah harus menjadi kesukaan para suster dan kesempatan untuk melatih diri...” 

Pengakuan dosa, merupakan sarana yang paling manjur dan mujarab untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah.

2.3. Ketaatan seorang suster hendaklah tulus dan bersahaja tidak ada keinginan lain selain taat. Ketaatan merupakan kurban bakaran diri sendiri dimana orang menyangkal kehendaknya sendiri demi menaklukkannya kepada kehendak Allah dalam pribadi-pribadi yang mewakili seperti dalam diri para pemimpin dan dalam persaudaraan. 

2.4. Kerendahan hati merupakan asas kesempurnaan sejati. Kebijakan kerendahan hati merupakan suatu kesadaran akan diri sendiri yang rendah, dan dalam pengakuan diri dengan gembira, serta kesukaan akan kemiskinan, kehinadinaan dan kepapaan. Para suster harus selalu merendahkan diri pada kebaikan Allah namun hendaknya mereka melakukan dengan gembira, puas dan mereka kosong sama sekali, supaya Allah dapat memenuhi mereka denga kekayaan-Nya.

2.5. Tentang karya amal/ caritas. “...hendaknya para suster selalu ingat akan maksud dan tujuan dirikannya kongregasi yaitu mengejar kesempurnaan dengan melakukan karya amal kasih, terutama perawatan terhadap orang sakit, untuk melaksanakan tugas ini hendaknya para suster selalu ingat akan sabda “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku (Mat. 25:40). Disemangati sabda ini hendaknya para suster berkorban dan tak kenal lelah menyembuhkan penyakit para malang dan penderitaan mereka..” Dalam menjalan tugas “harus lemah lembut, sabar, ramah dan tabah, riang dan rajin, serta tidak boleh emosi, meremehkan dan merendahkan orang sakit.

2.6. Kegembiraan Fransiskan setiap suster hendaknya mempunyai sifat kegembiaraan atau riang dalam menjalankan tugasnya baik itu yang menyenangkan hatinya maupun yang tidak disukainya. Sebab tiada suasana riang gembira sejati di seluruh dunia yang mampu memuaskan hati manusia, selain hanya Allah saja yang dapat memuaskannya. 

3. Alles voor Allen
Watak dasar kongregasi yang kami maksud adalah sikap kepercayaan kepada kehendak Allah, menjadi nyata dalam kepekaan dan keterbukaan kepada kebutuhan zaman. Sikap yang dimiliki oleh para anggotanya adalah sikap siap sedia diutus, tanpa menunda, dan pemberian diri secara total memberikan kekuatan tersendiri sehingga sanggup dan tangguh dalam melaksanakan perutusan kepada para susternya. Watak dasar tersebut dirumuskan dengan tepat singkat dan menjadi pendorong, penyemangat, kekuatan bahkan menjadi nama bagi kongregasi itu yaitu Alles voor Allen (“Segala-galanya bagi semua orang”). Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus melukiskan dengan: “Aku menjadi SEGALA-GALANYA BAGI SEMUA ORANG, supaya semua orang memperoleh keselamatan” (I Kor. 9:22). 


NILAI-NILAI PRCA
Nilai-nilai PRCA menjadi penting bagi kelompok pewarisnya, sebab dari nama itu sendiri menggambarkan jejak-jejak sejarah para penghayat spiritualitas Fransiskan khususnya dari Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi dari abad ke- 13 hingga abad ke- 21. Juga menggambarkan usaha terus menerus para pengikut Fransiskus yang berupaya menghidupi, memperbarui diri sehingga tetap sesuai dengan situasi dan kebutuhan jaman. Selain itu kita juga dapat mengetaui asal-usul dan melihat bagaimana campurtangan Allah dalam setiap waktu dan perjuangan para penghayatnya sejak abad 13 hingga kini. Dengan kata lain spiritualitas Ordo Ketiga Regular tetap hidup dan berdaya dampak dalam setiap jaman. Nilai PRCA itu sebagai berikut.

1. PENITEN
Kata Peniten berasal dari bahasa Latin, yaitu poenitentia artinya sesal, tobat. Sesal tobat supaya kembali kepada Allah, sebab segala sesuatu milik Allah dan manusia bukan apa-apa, maka harus dikembalikan lagi kepada Allah. Alasan mengapa harus bertobat, karena Kerajaan Allah sudah dekat . Allah telah hadir dan menyapa umat-Nya, melalui Yesus Kristus Putra-Nya. 

Dalam hal ini Ibu Theresia belajar dari Yohana Yesus yang mengajar dan melatih para putrinya bagaimana menghayati penitensi. Bagi Yohana Yesus, Allah adalah segala-galanya. Mencintai Allah berarti mencintai secara total tak terbagi kepada ciptaan apapun . Namun Yohana Yesus juga menyadari bahwa Allah yang adalah Roh, untuk mencintai Allah secara utuh dan secara bulat itu tidak mudah. Sebab tubuh manusia lemah, sering membangkang; oleh karena itu diperlukan sikap penitensi yang keras. 

Penitensi bukan suatu tujuan, melainkan hanya sebagai sarana untuk mendidik, mengatur, melatih atau mengendalikan hawa nafsu yang pada umumnya tidak teratur. Melalui latihan matiraga (askese) dimaksudkan untuk pemurnian diri, penelanjangan diri, pasrah, dan pelepasan diri dari hal-hal yang menghalangi hubungan manusia dengan Allah, sehingga kita hanya mengabdi kepada Allah dengan segenap hati, pikiran, perkataan, dan kekuatan. Untuk mencapai kesempurnaan tidak mudah, membutuhkan waktu untuk berproses, maka diperlukan kesabaran dan ketekunan, latihan terus menurus dan komitmen. 
Corak hidup peniten yang ditekankan oleh Yohana Yesus adalah hidup miskin tanpa jaminan apa pun, sebab Allah adalah penjamin hidupnya. Seorang peniten mestinya hidup bersahaja, sederhana, dan rendah hati, mengabdi dan bekerja dengan setia dan bakti. 

2. REKOLEK
Kata “Rekolek” berasal dari bahasa Latin “recolligere” artinya kembali, mengumpulkan kembali perhatian yang telah tercerai berai oleh suatu kesibukan dan memusatkan perhatian pada Allah sebagai sumber kekuatan dan hidup. Ciri-ciri penghayat Rekolek, hidup askese, meditasi, kontempalsi, menjadi pewarta, desentralisasi dan tinggal di pinggiran.
Berpola pada hidup rekolek yang berupaya Menepati Anggaran Dasar dan Konstitusi dengan lebih sempurna sambil mengusahakan cara hidup yang keras menghayati KETAATAN yang lebih sederhana, KESUCIAN yang lebih murni dan KEMISKINAN yang lebih keras dengan KLAUSURA yang lebih ketat ”. Sebagai penghayat Peniten Rekolek Ibu Theresia memusatkan perhatiannya kepada Allah, dengan menekankan hidup bersama dan tinggal dengan mereka yang dilayani, (biasanya di luar keramaian kota). Hidup dalam keheningan dengan memelihara kalusura secara ketat, waktu diatur dengan cermat supaya senantiasa dapat bergaul dengan Allah dan dapat melayani mereka yang sakit dan menderita. Hidup tanpa milik atau jaminan karena Allah akan dan telah menjami hidup mereka, makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Rumah-rumah cabang yang didirikan menjadi mandiri berdiri sediri sebagai wujud semangat kepercayaan kepada para anggotanya. 
Waktu yang digunakan untuk ofisi Ilahi, meditasi, perjamuan, diatur sedemikian rupa dalam sehari antara waktu-waktu yang dipergunakan untuk melayani dan hidup bersama sebagai saudara. Kemiskinan yang lebih ketat dimaksudkan bahwa para suster tidak mempunyai jaminan, kepercayaan pada Allah yang akan menjaminnya, karena Alah yang menyelenggarakan seluruh hidup para suster. Klausura dipandang sebagai hal yang mutlak bagi kehidupan yang seluruhnya dibaktikan kepada Allah, melalui doa yang terus menerus, sebagai wujud kebaktian kepada Allah yang Kudus.

Dalam hal keheningan Ibu Theresia belajar dari Ibu Yohana Kini kita berada di rumah Tuhan, dalam kesunyian hening, sekarang kita bebas dari percakapan-percakapan yang dapat merampas dari kita rangkulan Salib, memasuki kesunyian ini untuk berbicara kepada hati kita. Sukailah keheningan injili yang terletak dalam pantang omong yang sia-sia dan tak berguna. Keheningan seperti ini akan memelihara kesucian hatimu yang didiami oleh keagungan Allah . Allah adalah Roh, untuk dapat bersatu dengan Allah hanya mungkin dalam doa, keheningan, kontemplasi dan penyerahan diri kepada Allah yang Mahaluhur, untuk dapat bersatu dengan Allah menjadi semakin subur bila suci hatinya .

Demikian pula Rekolek yang dihayati oleh Ibu Theresia, tampak pada tekanannya untuk mencapai persautuan dengan Allah keheningan batin dan hati perlu diciptakan di dalam diri para suster dan di sekitar seperti di Kapel, kamar tidur, waktu malam hingga pagi, waktu bekerja. Doa dan meditasi diatur sedemikian rupa sehingga tetap dapat menimba kekuatan dari Sabda dan kitab suci dan menjadi kekuatan dan daya hidup bagi mereka yang dilayani. Murah hati yang memancar dalam pelayanan terhadap mereka yang menderita dimanapun mereka diutus dan dibutuhkan. Siap sedia diutus dan melaksanaakan dengan penuh bakti. Tinggal bersama yang dilayani senasib dengan yang dilayani, makan sama dengan yang dilayani hal ini mau mengatakan solider dengan mereka yang miskin dan terpinggirkan.

3. CARITAS
Caritas berasal dari bahasa Latin artinya cinta kasih. Warisan spiritualitas Ordo Ketiga Santo Fransiskus Assisi bertopang pada dua tiang utama, yakni pertobatan dan melakukan karya amal cinta kasih. Dari penghayatan kedua unsur ini yang membedakan mereka dan sekaligus ciri khasnya terhadap Ordo Pertama dan Ordo Kedua. Kedua tiang utama itu merupakan perwujudan sekaligus ruang gerak hidupnya. Ibu Theresia menulis maksud mendirikan Kongregasinya ..demi cintanya kepada Tuhan, telah meninggalkan tanah airnya untuk melayani karya besar cinta kasih di kota ini: orang-orang sakit yang merana; ini salah satu alasan didirikannya kongregasi untuk melayani, merawat orang-orang yang miskin dan terlantar, agar mereka mendapat perlakuan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah sendiri, yaitu mencitai Tuhan Allah dengan segenap hati, budi, tenaga dan mencintai sesama seperti diri sendiri.(bdk. Mrk. 12:30-31)

Demi cintanya kepada Tuhan, telah meninggalkan tanah airnya untuk melayani karya besar cinta kasih di kota ini (Breda): Orang-orang sakit yang merana. Muder Thersia beserta para suster pertama menghayati hidup yang seluruhnya dibaktikan kepada Allah dalam doa terus-menerus, dalam matiraga, dan menjalankan karya cintakasih. Sesungguhnya, hal-hal ini sama dengan apa yang menjadi tujuan pembaruan Yohana Yesus sebelumnya . Perbedaannya porsi waktu, jumlah dan jenis pelayanan menjadi lebih besar dan menonjol, sehingga waktu dan kesempatan untuk berdoa, meditasi, kontemplasi menjadi berkurang, doa tengah malam dibebaskan, meditasi tiga kali sehari menjadi satu kali. 
Dasar Caritas bagi Ibu Theresia adalah cintanya kepada Allah. Karena mencintai Allah sedemikian rupa, maka hidupnya dibaktikan sepenuhnya kepada Allah. Hidup yang dibaktikan kepada Allah menjadi nyata bagi Ibu Theresia dan para susternya yaitu hidup yang dibaktikan bagi sesama terutama yang menderita sebab cinta kepada Allah akan menjadi nyata dalam mencintai sesama yang menderita dan terlantar. 

Menghayati semangat kasih (Caritas) menjadi tanda pengenal murid Yesus Kristus (Yoh 13: 34-35). Menghayati perintah Yesus yang utama dan pertama adalah Kasih (Mat 22:37-39). Kasih adalah Allah sendiri (1Yoh 4: 8,16). Jadi, melakukan perbuatan-perbuatan Caritas terutama bagi mereka yang menderita, miskin dan tersingkir adalah wujud nyata dari cintanya kepada Allah. 

4. ALLES VOOR ALLEN
Alles voor Allen berasal dari bahasa Belanda artinya segala-galanya bagi semua orang. Berlandaskan keyakinan yang bulat, bahwa segala sesuatu berasal dan diperoleh dari Allah dengan cuma-cuma, maka harus dikembalikan kepada Allah dengan cuma-cuma pula demikianlah cita-cita Muder Theresia Saelmaekers sebagai pendiri kongregasi, yaitu mengabdi Allah dengan seluruh jiwaraga dan menjadi putri terbaik Bapa Fransiskus Assisi. Kepercayaannya akan Allah sedemikian besar, yang menjamin dan menyelenggarakan hidupnya menumbuhkan sikap terbuka/sepontan dalam menanggapi kebutuhan jaman, total dalam melayani, murah hati dalam memberian diri, solider dengan yang dilayani (tinggal bersama) bergegas tidak menunda, tidak membeda-bedakan suku, bangsa, maupun agama sedemikian rupa inilah yang mencirikan kongregasinya sebagai Alles voor Allen.

Alles voor Allen mengandung sikap universalitas. Hal ini tampak dalam pemberian dirinya, cepat tanggap, tidak menunda, tidak membeda-bedakan suku, agama atau pilih kasih dalam pelayanannya. Pemberian diri yang sedemikian ini diperjuangkan dan dihidupi terus-menerus oleh kongregasi melalui para anggotanya. Nilai universalitas ini sangat Fransiskan, mengingat Bapa Fransiskus sendiri mengajak menyembah Allah setiap kali masuk gereja dengan kata-kata ini, Kami menyembah Engkau ya Tuhan di sini dan di semua Gereja-Mu yang ada di seluruh dunia Bapa Fransiskus setiap kali menyembah selalu mengatakan “kami” bukan “aku/saya” artinya Bapa Fransiskus mengajak seluruh ciptaan mengakui, memuliakan dan menyebah bahwa hanya Allah sang pencipta tiada yang lain.

Alles voor Allen juga mengungkapkan sikap terbuka dan peka terhadap penderitaan orang lain, sehingga tidak membatasi diri dalam bentuk dan jenis pelayanan, tempat, maupun waktu. Konkretnya, sikap ini mendorong kongregasi dan para anggotanya terbuka pada segala bentuk dan jenis pelayanan, terutama kepada orang-orang miskin, lemah, dan terpinggirkan. Tempat dan waktu maksudnya tidak terbatas hanya di kota Breda melainkan di luar keuskupan Breda bahkan ke luar negeri. Kongregasi ini semula dimaksudkan hanya untuk merawat orang-orang sakit, namun setelah para suster mengucapkan profesinya, mereka tidak hanya merawat orang sakit fisik, miskin dan terlantar. Misalnya tahun 1833 para suster menerima anak-anak yatim piatu, mendidik ketrampilan bagi anak-anak putri, mengajar agama Katolik. Tahun 1834 mulai melayani orang lanjut usia dan cacat, 1835 membuka asrama untuk anak-anak di luar kota yang mau sekolah. 

Alles voor Allen juga mengandung nilai desentralisasi dan kerja sama kepada orang lain. Dasarnya adalah menjunjung tinggi, otonomi. Hal ini menempatkan kepercayaan pada posisi luhur. , Dalam hal ini kongregasi mempercayai dan bekerja sama dengan orang lain maupun lembaga lain. Seperti pada tahun 1834, ketika kongregasi baru berusia tiga tahun dan jumlah anggotanya baru tujuh (7) orang profes, sudah memenuhi harapan Paroki di Oosterhout agar merelakan anggotanya melayani rumah singgah yang ada di sana, rumah cabang ini akhirnya mandiri dari biara induknya di Breda pada tahun 1845. Tahun 1838 mengirim tiga (3) anggotanya untuk melaksanakan perutusan dan bekerja dengan lembaga Pemerintah di Bergen op Zoom dan menjadi kongregasi mandiri pada tahun 1939. Pada tahun 1840 Kongregasi mengutus beberapa Suster ke Panti Asuhan di Leeuwenstraat di Rotterdam, dipimpin oleh Suster Lucia, tahun 1847 mandiri menjadi konggregasi KSFL. Tgl 14 Oktober 1841 kongregasi mengutus Suster Agnes Vassen bergabung dengan Suster-suster kelompok pertama dari Roosendaal pimpinan Muder Yoseph melaksanakan tugas misi di luar negeri yaitu di Curasao . Murah hati, siapa saja yang membutuhkan pertolongan akan segera mendapat perhatian dan bantuan tanpa memperhitungkan imbalan apa yang akan diperoleh. 
Total, para anggota kongregasi Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi Breda ini dalam menjalankan tugas perutusannya bekerja dengan sepenuh hati, total bahkan tidak memperhitungkan keselamatan dirinya, melayani dengan sukacita dan tinggal bersama dengan yang dilayani meskipun akan kena resiko tertular penyakit. Karena kepercayaannya kepada Allah yang adalah segala-galanya, Allah yang akan menjamin hidupnya. Mencintai Allah sedemikian rupa ini tidak menjadikan dirinya khawatir, cemas namun sukacita dapat melayani sesama terutama mereka yang menderita.

Peniten Rekolek Caritas Alles voor Allen hanya mungkin dapat dimengerti dan diwujudkan dalam hidup sehari-hari apa bila hati dan pikiran selalu memelihara keheningan, dengan keheningan akan mampu membedakan kehendak Allah dengan kehendaknya sendiri, namun disadari kehendak sendiri lebih kuat maka diperlukan askese dan pertobatan terus-menerus sehingga dapat melayani dengan penuh kasih dan total untuk menyelamatkan sesamanya. Demikianlah kiranya pendiri Kongregasi mengajak para penerusnya untuk bersama-sama menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah umat-Nya.


Penutup
Kepercayaan akan Allah demikian kuat menjiwai hati Muder Theresia dan para susternya serta ditopang oleh semangat Peniten, Rekolek, dan Caritas, menumbuhkan kembangkan sikap terbuka, berani, murah hati, tanggap dan tidak menunda, dan total dalam melayani orang lain yang menderita. Sikap seterti ini dijiwai dan dihudupi oleh para penerusnya sehingga menjadi kekhasan bagi kongregasi Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Breda itu sendiri. Semangat batin pendiri dan kekhasan kongregasi itulah yang membedakannya dengan Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus lainnya. 

Menyadari betapa penting mengetahui, mendalami sikap batin Pendiri dan kongregasi bagi para penerusnya khususnya yang ada di Indonesia yaitu Kongregasi Suster-suster Santo Fransiskus Charitas Palembang (FCh), Suster-suster Fransiskan Sukabumi (SFS), Suster-suster Fransiskan Santa Lusia Pematangsiantar (KSFL), dan Suster-suster Fransiskanes Santa Elisabeth Medan (FSE) , pada pertemuan tahunan para Pemimpin Umum tanggal 2 Desember 2009, di Berastagi, Medan (Sumatra Utara), disepakati dan diedarkan bahwa keempat kongregasi tersebut mempunyai semangat yang sama yaitu “Peniten Rekolek Caritas Alles voor Allen” (PRCA). 

Kesepakatan itu setelah melalui penelusuran dari sumber-sumber, pendalaman yang intensif, permenungan atas nilai-nilai yang diwariskan dari Biara Breda dalam retret dan rekoleksi setiap bulan, refleksi bersama sejak tahun 2004. Inilah permenungan penuh kebahagiaan pada asal-usul dan karakter miliknya sendiri; memantabkan diri dengan lebih teguh pada dasar dan fondasi, yang sejak awal mulanya menyatu. Tidak ada yang sedemikian lebih diperlukan dan sedemikian berbuah banyak bagi sebuah Kongregasi daripada menempatkan diri pada tempatnya sendiri dalam Gereja Tuhan dan berjuang hidup mengarah kepada Tuhan, melalui jalan yang telah ditunjukkan oleh Tuhan melalui para pendahulunya.

Permenungan membangkitkan pemahaman dan inspirasi; pemahaman dan inspirasi mengajarkan penghargaan; penghargaan menumbuhkan cinta dan cinta memberikan semangat juang. Siapa yang dalam panggilannya dijiwai oleh semangat juang itu, dengan sendirinya mencapai kesempurnaan dalam hidupnya. Dan bila orang menunjukkan kemauan baiknya, Tuhan akan menolong dengan rahmat-Nya yang berlimpah.

0 komentar:

Poskan Komentar