Ads 468x60px

Mistikus: Sekilas Pintas


SIAPAKAH PARA MISTIKUS?
Kata "mistik" sendiri berasal dari kata kerja Yunani yang berarti menutup diri, menutup mata. Para mistikus tampak begitu terpusat pada Allah hingga mereka tampaknya nyaris tak melihat yang lainnya. Sebagian mistikus meninggalkan tulisan-tulisan rohani dan catatan-catatan akan penglihatan, tetapi banyak yang tak meninggalkan tulisan; tanpa catatan penglihatan sama sekali. Ini karena mistisisme bukanlah mengenai penglihatan-penglihatan melainkan menghampiri Allah.

Meski para mistikus dapat bersikap menarik diri, namun sebagian hidup dalam dunia. Brigitta dari Swedia, misalnya, yang adalah alat ampuh bagi reformasi Gereja pada abad ke-14, mendakwa para paus, uskup, imam dan para penguasa sekulir sebagai penyebab penderitaan Yesus dan Gereja-Nya dengan penyalahgunaan wewenang mereka. Teguran-teguran keras perempuan bangsawan Swedia ini kerap didapatkan pada waktu meditasi sengsara Yesus, yang ia lukis dalam guratan-guratan kuas yang tajam dengan maksud mengguncang para pendengarnya yang lalai.

Selama berabad-abad, gambaran rinci kisah-kisah Injil oleh para mistikus telah memperlengkapi para seniman, penulis dan pengarang dengan berlimpah bahan dalam menyajikan misteri-misteri Kristiani. Para seniman dan penulis dari abad pertengahan secara istimewa berpaling kepada mereka dalam menggambarkan hidup Yesus, khususnya sengsara dan wafat-Nya. Para mistikus telah membantu membentuk imaginasi Kristen, pula banyak praktek devosional Kristiani.


CINTA MEREKA AKAN SENGSARA YESUS
Subyek favorit bagi para mistikus Kristen adalah sengsara Yesus, yang mereka lihat sebagai suatu tanda kuasa kasih Allah. Sengsara Yesus juga memberikan kepada mereka cara untuk melihat pada masyarakat mereka sendiri dan untuk memahami pengalaman yang mereka miliki dalam pencarian pribadi mereka akan Allah. Bagi mereka, Kalvari adalah suatu tempat darimana orang melihat segalanya.

Sebagian besar melalui mereka, beberapa peristiwa yang tidak tercatat dalam injil sengsara telah tertanam dalam imajinasi populer. Orang membayangkan peristiwa pilu Maria, memeluk tubuh tak bernyawa Yesus sang Putra sesudah penyaliban-Nya - Pieta. Injil tidak bercerita apapun tentang itu. Para mistikus pada umumnya menganggap pasti bahwa Maria tak hanya ambil bagian dalam penurunan jenazah-Nya dari salib, melainkan juga dalam banyak peristiwa sengsara-Nya yang lain. Mereka melihat Maria bergegas mendapatkan-Nya sesudah penangkapan-Nya. Maria ada di sana ketika Ia dihadapkan ke pengadilan, ketika Ia digiring dalam perjalanan-Nya ke Kalvari. Maria berdiri di bawah salib dan tinggal bersama-Nya selama mungkin. Kehadiran seorang Ibunda pada saat kematian Putranya menambah dimensi kemanusiaan yang kuat pada kisah Injil.

Para mistikus dan para peziarah juga mempengaruhi lahirnya devosi-devosi seperti Jalan Salib, sebuah devosi penting di Gereja Barat. Jalan Salib menggambarkan Yesus jatuh tiga kali dalam perjalanan-Nya ke Kalvari, kejatuhan yang tak disebut-sebut dalam Injil namun pasti mungkin terjadi, mengingat lemahnya tubuh-Nya akibat penderaan.

Jalan Salib sebagaimana dipraktekkan umat Kristiani barat menawarkan suatu kesamaan yang menarik dengan Injil. Jalan Salib dimulai dengan Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus, dan begitu berpusat pada peran penting sang Gubernur Romawi - seperti pada rumusan Kredo: "Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus." Para prajurit Romawi menggiring-Nya dan menyalibkan-Nya. Suatu pengadilan Yahudi tidak ditampilkan.

Devosi ini menggarisbawahi orang-orang Yahudi yang bersimpati. Di samping Maria BundaNya, ada Veronica, yang menyeka wajah Yesus. Kisahnya tak didapati dalam Injil. Dan lalu ada Simon dari Kirene yang membantu Yesus memanggul salib-Nya, para perempuan Yahudi yang menangis sementara Ia lewat, Nikodemus si Farisi yang menurunkan jenazah-Nya dari salib dan memakamkan-Nya - tokoh-tokoh yang juga muncul dalam Kitab Suci.


WEWENANG APAKAH YANG DIMILIKI PARA MISTIKUS?
Bagaimanakah kita harus menyikapi para mistikus? Pada umumnya mereka adalah orang-orang pertama yang menyangkal dirinya dan karyanya. Tuscan Franciscan yang tak dikenal, yang berasal dari abad ke-13 dan yang menulis "Meditasi atas Hidup Kristus", yang menjadi karya best-seller di abad pertengahan, mengundang pembaca aslinya, kemungkinan seorang biarawati Poor Clare bernama Cecilia, untuk mengambil buku itu dan membacanya - bukan sebagai seorang terpelajar, melainkan sebagai seorang percaya yang berupaya memberi makan akal budi dan hati pembaca.

Tak semua yang Yesus lakukan dicatat dalam Kitab Suci, demikian katanya; kita dapat menggunakan kekuatan imaginasi kita sendiri untuk merenungkan hidup-Nya. Dan jadi sang penulis menambahkan rincian pada kisah injil guna membantu pembacanya untuk masuk dan melihat, mendengar dan merasakan peristiwa-peristiwa Injil. Kisahnya cukup masuk akal; mungkin saja peristiwa-peristiwa itu terjadi demikian adanya.

Kisah mengalir penuh daya imaginatif dari penanya; ia adalah seorang penulis naskah dari abad pertengahan yang tahu bagaimana menarik perhatian para pembaca. Meski demikian, ia mengakui bahwa kisah yang ditulisnya tidak sama dengan Kitab Suci, Sabda Allah. Itulah otoritas utama darimana orang mulai dan kemana orang kembali. Itulah norma bagi segala doa dan meditasi. Apa yang ia tulis hanyalah sekunder; engkau dapat membacanya atau mengabaikannya. 


MENYIKAPI PARA MISTIKUS
Paus Benediktus XIV, mungkin ini pedoman resmi Gereja terbaik dalam menyikapi para mistikus kudus dan wahyu-wahyu mereka, menawarkan rekomendasi berikut: "Kami katakan bahwa wahyu-wahyu mereka, meski diakui, tak dapat diyakini oleh iman Katolik, melainkan hanya oleh iman manusia, seturut kaidah-kaidah kebijaksanaan." (De canon.III, liii,no15)

Seorang teolog, Melchior Cano, menyatakannya sebagai berikut: "Tak terlalu penting apakah orang percaya atau tidak pada wahyu-wahyu St Brigitta atau wahyu-wahyu para kudus lainnya. Hal ini tak ada hubungannya dengan iman." (De locis theologicis, Bk XII,iii) 

Jadi, Gereja mengajarkan bahwa tulisan-tulisan para mistikus harus selaras dengan ajaran-ajaran iman; tulisan-tulisan ini dapat menumbuhkan iman, tetapi tidak menentukan hakekat iman. Tulisan-tulisan mereka tidak menggantikan Kitab Suci, yang bersama dengan sakramen-sakramen merupakan sumber-sumber terpenting yang dimiliki umat Kristen untuk menumbuh-kembangkan iman mereka. Hendaknyalah mereka tidak menyimpang terlalu jauh dari jalan-jalan Kitab Suci. Apa yang dikatakan para mistikus hendaknya diuji dengan bijak, artinya harus ada suatu rasionalitas yang dapat dipercaya dan masuk akal dalam kata-kata mereka, khususnya apabila berhubungan dengan peristiwa-peristiwa biblis.

Gereja menghormati para mistikus sebab mereka membuka mata kita pada dunia spiritual. Sebagian dari para mistikus diakui Gereja sebagai orang-orang kudus. Akan tetapi, Gereja tidak memberikan jaminan atas penglihatan-penglihatan para kudusnya, melainkan hanya mengakui keutamaan-keutamaan gagah berani dari hidup mereka.


DAPATKAH DIPERCAYA SECARA HISTORIS?
Seorang imam Yesuit Auguste Poulain, seorang ahli mengenai doa mistik, menasehatkan pendekatan yang hati-hati terhadap tulisan-tulisan para mistikus bilamana menggambarkan hidup Yesus dan peristiwa-peristiwa biblis. Dalam studinya yang luas "Rahmat-rahmat Doa Batin" (St. Louis 1911), di mana ia meneliti karya dari 31 orang mistikus, termasuk Katharina Emmerick dan Maria dari Agreda, ia menemukan kesalahan-kesalahan dan pertentangan-pertentangan yang kadang terjadi, sementara orang menceritakan kisah secara berbeda satu dari yang lain. 

Sebagian orang beragumentasi bahwa bimbingan ilahi akan melindungi para mistikus dari kesalahan sebab keakraban mereka dengan Allah. Akan tetapi Poulain tak sependapat, khususnya apabila itu menyangkut rincian historis. "Jadi kita lihat, bahwa adalah tidak bijaksana berupaya menyusun kembali sejarah dengan bantuan wahyu-wahyu para kudus," tulisnya, yang mengibaratkan para mistik seperti para pelukis yang melukis suatu pemandangan yang sama secara berbeda seturut gaya pribadi masing-masing. 


MENEMUKAN YESUS BERSAMA PARA MISTIKUS
Jika kita sama sekali mengabaikan para mistikus, hal itu akan menjauhkan kita dari karunia-karunia mereka yang luar biasa. Mereka mewakili Gereja yang berdoa. Mereka adalah teladan perhatian penuh, segenap hati dan budi, yang perlu diberikan kaum percaya pada apa yang Yesus katakan dan lakukan. Mereka adalah orang-orang percaya yang berkobar-kobar, tak kenal lelah, yang mencari ke dalam misteri Allah. Dan dengan demikian kita dapat belajar dari mereka.

Dari mereka juga, kita dapat belajar untuk senantiasa memelihara Sengsara Yesus dalam benak kita. Para mistikus Kristen di masa silam melihat Sengsara Yesus sebagai buku agung mereka, sumber kebijaksanaan, dan mereka terus-menerus memeliharanya dalam hati dan budi mereka. Sungguh, mereka tak memiliki sarana-sarana belajar guna memahaminya seperti yang kita miliki sekarang. Pencarian mereka ke dalam misteri ini tidaklah sempurna - seperti juga pencarian kita. Tetapi mereka menyerukan kepada Gereja untuk tetap memelihara dan belajar darinya. Tak ada cukup buku atau film di dunia ini yang cukup memuatnya.



DUA MISTIKUS 

SANTA BRIGITTA DARI SWEDIA
Awal abad 15 Pieta, Swedia: Para mistikus seperti St Brigitta dari Swedia, yang merenungkan reaksi Maria atas wafat Putranya, kerap mengilhami gambaran akan sengsara Yesus :
"Lambungnya ditikam dan ketika tombak dicabut, darah hitam terlihat pada ujungnya, dan aku tahu tombak itu telah menembusi hati-Nya. Seolah hatiku sendiri yang telah ditembusi, dan juga, seperti hati-Nya, hatiku tidak terbelah. Orang-orang lain pergi, namun aku tak dapat pergi, dan aku mendapati penghiburan bahwa tubuh-Nya diturunkan dari salib dan aku dapat menyentuhnya dan membaringkannya di atas pangkuanku dan melihat luka-luka dan mengeringkan darah-Nya. Kemudian, dengan jari-jariku aku menutup mulut-Nya dan lalu kedua mata-Nya. Tetapi aku tak dapat menekuk tangan-tangan-Nya yang kaku. Kedua tangan-Nya tak dapat disilangkan di atas dada-Nya melainkan di atas perut-Nya. Aku juga tak dapat meluruskan lutut-Nya; kedua lutut-Nya menekuk sebab telah menjadi kaku di atas salib." ~ Buku 4, Wahyu


ANNA KATHARINA EMMERICK
Anna Katharina Emmerick, yang didesas-desuskan sebagai salah satu sumber Gibson untuk film layar lebarnya "The Passion", dianugerahi amat banyak penglihatan akan Sengsara Yesus. Lemah dan rapuh semenjak kanak-kanak, ia menggabungkan diri dalam sebuah Biara Agustinian di Westphalia, Jerman pada tahun 1802, tetapi terpaksa meninggalkannya pada tahun 1811 ketika biara ditutup oleh pemerintah. Sekitar setahun kemudian ia memperlihatkan tanda-tanda stigmata pada tubuhnya, yang membangkitkan rasa ingin tahu orang padanya. Di antara mereka adalah seorang penyair Romantik Jerman, Clemens Brentano, yang baru saja diperdamaikan kembali dengan Gereja setelah suatu masa ketidakpercayaan. 

Terkesan oleh Katharina, Brentano menuliskan pengalaman-pengalaman yang disampaikan Katharina kepadanya dalam dua buah buku, salah satunya berjudul "Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus." Buku ini menjadi populer di kalangan pembaca religius, tetapi menimbulkan beberapa masalah. Sebagian ahli mengatakan bahwa tidaklah mudah memisahkan antara materi yang berasal dari Katharina dan yang berasal dari Brentano. Si penyair mengaku bahwa ia mendengarkan Katharina dan lalu pulang ke rumah dan menuliskan kemudian apa yang ia ingat.

Kelemahan dari buku ini adalah kurangnya dasar biblis yang kuat. Penulis biografinya mengatakan bahwa Katharina "tidak pernah menganggap penglihatan-penglihatannya ada hubungannya dengan kehidupan Kristiani lahiriahnya, pula ia tidak menganggapnya sebagai memiliki nilai historis. Secara lahiriah ia tahu dan tidak percaya apapun selain dari Katekismus, sejarah umum Kitab Suci, bacaan-bacaan Injil untuk hari Minggu dan perayaan, dan penanggalan Kristen… Ia tidak pernah membaca Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru, dan apabila ia bosan menceritakan penglihatan-penglihatannya, terkadang ia akan mengatakan: 'Bacalah itu dalam Kitab Suci,' dan kemudian ia akan terheran-heran mengetahui bahwa hal itu tak dicatat di sana...."

Jadi, mengapakah penglihatan-penglihatan Katharina begitu populer? Mungkin karena ia hidup dalam Era Logika, ketika logika manusia mempertanyakan semuanya, teristimewa agama. Ahli-ahli pencerahan seperti David Frederich Strauss dan Hermann Reimarus, menciptakan iklim keraguan mengenai keyakinan fundamental Kekristenan dengan memulai penelitian mereka tentang "sejarah Yesus." Dalam era di mana santo pelindungnya adalah "Doubting Thomas," [Tomas yang ragu-ragu], penglihatan-penglihatan Katharina mengenai Yesus begitu konkrit, jelas dan definitif, memberikan kepada sejumlah besar kaum percaya kepastian yang mereka cari.

0 komentar:

Poskan Komentar