Ads 468x60px

Pekan Doa Sedunia 2016

PDS (PEKAN DOA SEDUNIA) UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI
18 - 25 Januari 2016

DIPANGGIL UNTUK MEWARTAKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN 
YANG AGUNG (1 Petrus 2:9)
Pengantar
Tema Pekan Doa Sedunia (PDS) untuk Kesatuan Umat Kristiani 2016 dikutip dan diolah dari Surat Pertama St. Petrus bab 2 ayat 9. Selengkapnya, teks itu berbunyi, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1Ptr 2:9). 

Berangkat dan berpangkal dari teks tersebut, tema PDS untuk Kesatuan Umat Kristiani 2016 dirumuskan menjadi “Panggilan Mewartakan Perbuatan-Perbuatan Tuhan yang besar”.
Jelasnya, Allah mengerjakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar bagi kita semua dan kita dipanggil untuk mewartakannya. 

Dari bahan yang diterbitkan oleh kerjasama Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani (Vatikan, Katolik Roma) dan Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja Sedunia (Gereja-Gereja Protestan) dipersiapkan oleh Komunitas Umat Kristiani di Latvia, terutama oleh Pusat Orang Muda Katolik Keuskupan Agung Riga, yang timbul dari pengalaman mereka menyelenggarakan Jalan Salib Ekumenis. Pengalaman Umat beriman di negeri bekas Uni Soviet yang sebelumnya dikuasai komunisme itu membantu kita dalam menghayati pedihnya perpecahan dan penting indahnya persatuan. 

Sejarah kelam saat Latvia diduduki oleh Uni Soviet masih menghantui banyak sekali orang di Negara ini. Masih ada dukacita mendalam dan kepedihan. Itu mengakibatkan luka batin yang membuat orang menjadi sulit mengampuni. Semuanya ini bagaikan batu besar yang menutupi pintu kubur Yesus.

Akan tetapi dalam “HIK”, Harapan Iman dan Kasih kepada Kristus, yang telah berdoa bagi kawanan domba-Nya agar bersatu, “Ut Omnes Unum Sint”; tiada yang mustahil untuk diubah dan diwujudkan. Persatuan dan kesatuan Umat Kristiani dapat dibaca dalam terang pengalaman konkret tersebut.

Tumpuannya hanya satu yakni “HIK”, Harapan Iman dan Kasih kepada Kristus yang sejak awal mula merindukan bahkan mendoakan kita semua agar bersatu dan memberikan kesaksian tentang hidup bersama yang ditandai dengan kerukunan dan persaudaraan yang sejati dengan siapa saja di mana saja dan kapan saja.

Intinya: Kita semua diajak untuk terus ber “dia lo gue”, membangun peradaban kasih dalam kehidupan yang sejahtera dalam semangat inklusif dan transformatif. Hal ini bisa dimulai di antara umat Kristiani dan kemudian meluas mengakar di antara semua umat manusia dalam kehidupan yang rukun, bersatu dan bahagia.
--------------------------


HARI 1: Senin, 18 Jan 2016.
“Biarlah Batu Itu Terguling”

Kitab Suci:

Yehezkiel 37: 12-14, Aku akan membuka kuburmu, dan mengeluarkanmu dari kuburmu, Hai, umat-Ku.

Mazmur 71: 18b-23, kekuatan-Mu dan kebenaran-Mu, ya Allah, menjangkau langit yang tinggi.

Roma 8: 15-21, Kita menderita bersama Dia, supaya kita juga dipermuliakan dengan Dia.

Matius 28: 1-10, Dia tidak ada di sini; karena Dia telah dibangkitkan, seperti dikatakan-Nya.

Renungan:
Dalam dunia kita saat ini ada banyak kesedihan dan rasa sakit; luka yang ditimbulkannya sulit untuk disembuhkan. Semua itu bagaikan batu besar yang menutup lobang makam Yesus. Luka seperti ini memenjarakan kita dalam kuburan spiritual.
Tetapi jika, dalam penderitaan kita, rasa sakit itu dipersatukan dengan rasa sakit-Nya, maka kisahnya tidak akan berakhir begitu saja, seperti terkubur dalam makam. Gempa kebangkitan Tuhan yang menggoncangkan bumi adalah peristiwa yang membuka kuburan kita dan membebaskan kita dari rasa sakit dan kepahitan, yang selama ini mencengkeram kita dalam sekat yang memisahkan kita satu sama lain. Ini adalah tindakan perkasa yang dilakukan oleh Tuhan: cinta-Nya yang menggetarkan bumi, yang menggulirkan batu-batu, yang membebaskan kita, dan memanggil kita keluar untuk masuk ke dalam pagi dari sebuah hari baru.
Disini, di fajar baru ini kita kembali bersatu dengan saudara-saudari yang telah terpenjara dan juga menderita. Seperti Maria Magdalena kita harus "cepat-cepat berangkat". Pada saat luar biasa yang menakjubkan ini kita dipanggil untuk mewartakan kepada orang lain apa yang Tuhan telah lakukan.

Refleksi:
1. Sebutkanlah kejadian atau keadaan di dalam hidup kita dan lingkungan yang membuat kita mengunci diri di dalam kubur – dalam kesedihan, kecemasan, kegelisahan dan keputusasaan? Apa yang membuat kita untuk tetap percaya kepada kebangkitan Kristus?
2. Sejauh mana kita siap untuk berbagi pengalaman kita tentang Tuhan dengan orang-orang yang kita temui?

Doa:
Tuhan Yesus, Dikau selalu mencintai kami sejak awal, dan Dikau telah menunjukkan kedalaman cinta-Mu dengan mati bagi kami di kayu salib, sehingga dengan demikian berbagi penderitaan dan luka-luka kami. Pada saat ini, kami menghancurkan semua hambatan yang memisahkan kami dari kasih-Mu di kaki salib-Mu. Singkirkan batu-batu yang memenjarakan kami. Bangunkan kami pada pagi kebangkitan-Mu. Pada saat itu semoga kami bertemu dengan saudara-saudari yang selama ini terpisah dari kami. Amin.
------------------------

NB:
“Tema, Doa dan Refleksi Alkitabiah Selama Sepekan”

1.HARI 1
Biarkanlah batu itu terguling
Yehezkiel 37:12-14
Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.
Mazmur 71:18b-23
Keperkasaan-Mu dan keadilan-Mu, ya Allah, sampai ke langit.
Roma 8:15-21
Jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Matius 28:1-10
Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.
Setiap orang mempunyai sejarah kelam penderitaan. Itu bagaikan batu besar yang menutupi pintu kubur Yesus. Namun, jika penderitaan yang kita alami, kita satukan dengan penderitaan-Nya, maka kisah kita tidak akan berakhir dengan mengurung diri dalam kubur. Gempa bumi karena kebangkitan Tuhan adalah kejadian yang menggoncang dunia yang membuka kubur kita dan membebaskan kita dari penderitaan dan kepedihan yang selama ini membuat kita mengasingkan diri dari orang lain. Inilah karya agung Tuhan: kasih-Nya, yang menggoncang dunia, yang menggulingkan batu kubur, yng membebaskan kita, dan yang memanggil kita keluar untuk memasuki suatu pagi hari yang baru. Saat inilah, saat fajar baru kita dipersatukan kembali dengan saudara-saudari kita yang dulu juga terkurung dan terluka. Seperti Maria Magdalena kita harus “pergi cepat-cepat” dari momen penuh sukacita ini untuk mewartakan kepada orang lain mengenai apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kita.

Refleksi: 
Permasalahan apa yang pernah kita alami yang membuat kita mengurung diri kita sendiri dalam kubur dukacita, kesedihan, kekhawatiran, kegelisahan dan keputusasaan? Apa yang menghalangi kita untuk menerima janji dan sukacita dari kebangkitan Kristus? Seberapa siapkah kita membagikan pengalaman bersama Kristus kepada orang-orang yang kita jumpai?

Doa: 
Tuhan Yesus, Engkau selalu mengasihi kami sejak semula, dan menunjukkan betapa dalam kasih-Mu melalui wafat-Mu di salib untuk menebus dosa kami, menanggung penderitaan dna luka kami. Saat ini, kami serahkan semua penghalang yang menjauhkan kami dari-Mu di bawah kaki salib-Mu. Gulingkanlah batu kubur yang memenjarakan kami. Bangkitkanlah kami menyongsong fajar baru. Semoga kami bisa mewartakan Engkau kepada saudara-saudari kami yang terpisah dari-Mu, kini dan selamanya. Amin.



HARI 2 : Dipanggil menjadi pembawa sukacita

Yesaya 61:1-4 
Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara.

Mazmur 133
Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

Filipi 2:1-5
Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.

Yohanes 15:9-12
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

Sukacita Injil mengundang kita semua untuk hidup sesuai nubuat nabi Yesaya, “Roh Tuhan ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku, Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara”. Kita merindukan Kabar Keselamatan untuk membalut hati kita yang remuk dan membebaskan kita dari jerat-jerat yang mengikat kita. Saat kita terjerumus dalam duka penderitaan kita, kita akan kehilangan semangat untuk mewartakan sukacita Injil. Namun, walaupun kita merasa tidak mampu memberi apa-apa kepada orang lain, melalui sikap hidup kita terhadap hal-hal kecil, Yesus akan melipatgandakannya dan hasilnya bisa dirasakan orang-orang di sekitar kita. Kita diundang untuk tinggal dalam kasih-Nya, sebab Ia telah lebih dahulu mengasihi kita. Dengan cara inilah kita akan menemukan sukacita Tuhan di dalam kita, sehingga sukacita kita menjadi sempurna. Saling mengasihi dan sukacita adalah jantung doa kita untuk persatuan. Bersama pemazmur mari kita berseru, “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”


Refleksi: 
Apakah penghalang sukacita di dunia dan di dalam Gereja? Apa yang bisa kita terima dari sesama umat Kristiani sehingga sukacita Tuhan ada dalam kita, menjadikan kita sebagai saksi dari Kabar Sukacita?

Doa: 
Bapa Maha Pengasih, kami rindu melayani Dikau, jiwa kami lapar akan Dikau, namun kami terbatas. Penuhilah kerinduan hati kami yang terdalam dengan kehadiran-Mu. Sembuhkanlah hati kami yang hancur dengan kasih-Mu sehingga kami pun dapat mengasihi orang lain seperti Dikau mengasihi kami. Anugerahilah kami rahmat persatuan sehingga kami dapat melayani dengan penuh sukacita. Mampukan kami membagikan kasih-Mu kepada semua orang, demi Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.



HARI 3 Saksi dalam persekutuan persaudaraan

Yeremia 31:10-13
Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion.

Mazmur 122
Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa.

1 Yohanes 4:16b-21
Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.

Yohanes 17:20-23
Agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Perpecahan dalam umat Kristiani merupakan rintangan dalam penginjilan. Dunia tidak akan dapat percaya bahwa kita adalah murid Yesus jika kita tidak rukun. Kita merasakan penderitaan dari perpecahan ini saat kita tidak bisa menerima tubuh dan darah Kristus dalam kebersamaan Perayaan Ekaristi, Sakramen Persatuan. Sumber sukacita kita adalah hidup di dalam Kristus. Kita menghidupi persekutuan kita setiap hari dengan menyambut, mengasihi, melayani, berdoa dan menjadi saksi bersama sebagai orang Kristiani meski kita berbeda. Ini adalah mutiara tak ternilai yang diberikan oleh Roh Kudus bagi kita. Malam sebelum wafat-Nya, Yesus berdoa untuk kesatuan dan cinta kasih di antara umat manusia. Hari ini mari kita berdoa bersama Yesus untuk persatuan seluruh umat Kristiani. Kita berdoa untuk para uskup, para imam, pejabat Gereja dan seluruh anggota Gereja. Semoga Roh Kudus membimbing kita semua menuju jalan persatuan.

Refleksi: 
Bagaimana kita memandang umat Kristiani dari Gereja lain? Apakah kita siap untuk meminta maaf karena telah berprasangka buruk terhadap mereka? Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi terjadinya perpecahan dalam umat Kristiani?

Doa: 
Tuhan Yesus Kristus, Engkau senantiasa berdoa agar kami semua bersatu. Kami berdoa bersama-Mu untuk persatuan umat Kristiani agar bersatu seturut dengan kehendak-Mu, seturut dengan rencana-Mu. Semoga Roh Kudus membantu kami untuk mengetahui penderitaan karena perpecahan. Semoga kami dapat menyadari dosa-dosa kami, menyesalinya dan selalu berharap hanya pada-Mu kini dan selamanya. Amin.




HARI 4: Martabat imami untuk mewartakan Injil

Kejadian 17:1-8
Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

Mazmur 145:8-12
TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.

Roma 10:14-15
Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?

Matius 13:3-9
Sebagian benih jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.

Pada jaman sekarang, banjir kata-kata melanda setiap rumah tangga: tidak hanya melalui percakapan semata, tetapi juga melalui televisi, radio, dan juga media social lainnya. Kata-kata ini memiliki kekuatan untuk membangun dan menjatuhkan. Namun, kebanyakan kata-kata kita kelihatannya lebih memecah belah daripada membangun. Dengan mudah kita menenggelamkan dan menjatuhkan orang lain. Syukurlah kita telah mendengar Sabda penyelamatan; yang telah diwartakan kepada kita sebagai pegangan hidup kita, yakni Sabda yang memanggil kita ke dalam persekutuan, dan membawa kita ke dalam persatuan satu terhadap yang lain. Kita adalah orang-orang pilihan Allah. Lebih dari itu, kita adalah imam. Semoga berkat firman Allah, kata-kata kita tidak lagi untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun dalam kasih Tuhan menyelamatkan.

Refleksi: 
Ambisi pribadi, persaingan atau pemikiran yang keliru seperti apakah yang pernah kita pikirkan terhadap sesama orang Kristiani? Apakah kata-kataku menjatuhkan atau membangun dan menjadi berkat bagi sesama?

Doa: 
Tuhan Yesus, Engkau bersabda bahwa semua orang akan mengetahui bahwa kami adalah murid-murid-Mu jika ada kasih di antara kami. Semoga kami berusaha tanpa kenal lelah untuk mewujudkan persatuan dalam Gereja-Mu, sehingga Kabar Baik yang kami wartakan dapat dilihat dan dirasakan melalui setiap perkataan dan perbuatan kami, kini dan selamanya. Amin.




HARI 5: Persekutuan para Rasul

Yesaya 56:6-8
Sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.

Mazmur 24
Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN?

Kisah Para Rasul 2:37-42
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Yohanes 13:34-35
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.

Perintah Yesus untuk saling mengasihi bukanlah suatu teori belaka. Perwujudan dari saling mengasihi adalah saat kita berkumpul bersama sebagai murid-murid Kristus, saling berbagi, bersekutu, dan berdoa di dalam kuasa Roh Kudus. Semakin banyak orang Kristiani, terutama para pemimpin, menunjukkan kehadiran Kristus melalui kerendahan hati dan kesabarannya, maka semakin banyak prasangka buruk kita baung. Kita pun kian mengalami kehadiran Kristus dalam diri orang lain, hingga kita semakin menjadi saksi hadirnya kerajaan Allah. Terkadang gerakan ekumene terasa sangat rumit, namun itu membahagiakan dan penuh sukacita. Dalam hal inilah kita menaati perintah untuk saling mengasihi, dan menyatakan Amin kita untuk doa Kristus yang mengharapkan persatuan di antara kita.


Refleksi: 
Pengalaman apa yang kita rasakan saat berjumpa dengan saudara-saudari dalam Kristus dalam suatu persekutuan Kristiani? Apa harapan kita terhadap para Uskup dan para ima, dan pejabat Gereja dalam rangka mewujudkan persatuan yang nyata dalam Gereja? Bagaimana kita bisa membantu dan mendukung mereka?

Doa: 
Bapa yang mahamulia, berikanlah kepada semua orang Kristiani, khususnya mereka yang telah dipercayai untuk menjadi pemimpin dalam Gereja-Mu, Roh kebijaksanaan dan pengertian, sehingga melalui mata hati mereka bisa melihat harapan-Mu dalam diri kami masing-masing, yaitu menjadi satu tubuh dan satu Roh, satu Allah, satu iman, satu baptisan, satu Tuhan dan Bapa, yang di atas segala-galanya, kini dan selamanya. Amin.




HARI 6: Dengarkanlah mimpi ini

Kejadian 37:5-8
Dengarkan mimpi yang kumimpikan ini.

Mazmur 126
Keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.

Roma 12:9-13
Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Yohanes 21:25
Dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.
Yusuf mendapat sebuah mimpi, yang merupakan pesan dari Tuhan. Namun demikian, saat Yusuf menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya, mereka menjadi marah karena dalam mimpi itu mereka harus menyembah Yusuf. Kelaparan yang dahsyat membuat mereka pergi ke Mesir dan pada akhirnya benar-benar menyembah Yusuf. Dan yang terjadi bukanlah penganiayaan dan penghinaan, melainkan suatu rekonsiliasi. Inilah peristiwa yang penuh kasih karunia. Seperti halnya Yusuf, Yesus memiliki sebuah mimpi, pesan mengenai kerajaan Bapa-Nya, yakni mimpi mengenai kesatuan dan persautan. Namun seperti saudara-saudara Yusuf, kita seringkali marah, tidak suka dan takut dengan mimpi itu. Padahal mestinya kita taat dan tunduk pada kehendak Tuhan. Kita takut karena takut kalah. Namun mimpi itu bukanlah tentang siapa yang menang atau kalah atau siapa yang lebih hebat melainkan lebih mengenai bagaimana kita bisa menemukan saudara-saudari kita yang telah hilang, dan bisa berkumpul kembali menjadi satu keluarga Kristiani. Banyak sekali teks-teks ajaran tentang gerakan ekumenis, namun mimpi tentang kesatuan umat Kristiani tidak pernah ditemukan dalam perjanjian kesepakatan. Tuhan yang satu telah meletakkan mimpi itu di hadapan kita, jauh melebihi apapun yang dapat kita ungkapkan melalui kata-kata atau yang tertulis. Untuk mewujudkan mimpi itu, kita harus mengesampingkan keinginan pribadi kita, dan melalui doa persekutuan, kita berbagi dengan saudara-saudari kita untuk memancarkan kasih-Nya.

Refleksi: 
Apa yang dimaksud dengan meletakkan mimpi kita tentang persatuan umat Kristiani di bawah kaki Kristus? Dengan cara apakah visi Tuhan untuk persatuan dapat menggerakkan umat Kristiani dan memperbaharui diri agar berubah dan berbuah?

Doa: 
Ya Yesus, anugerahilah kami kerendahan hati untuk mau mendengarkan suara-Mu, menanggapi panggilan-Mu, dan membagikan mimpi-Mu tentang persatuan seluruh Gereja. Bantulah kami untuk bangkit dari kepedihan karena perpecahan. Perpecahan ini membuat hati kami keras seperti batu. Semoga api Roh Kudus-Mu membakar hati kami hingga kami mampu mewujudkan doa-Mu agar kami semua dapat bersatu, seperti Dikau sendiri bersatu dengan Bapa, sehingga dunia percaya bahwa Bapalah yang telah mengutus Dikau, sebagai Putra-Nya, kini dan selamanya. Amin.




HARI 7: Kesediaan untuk berdoa

Yesaya 62:6-7
Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri.

Mazmur 100
Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita.

1 Petrus 4:7b-10
Kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

Yohanes 4:4-14
Air yang Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.

Selama umat Allah terpecah-pecah, dan umat Kristiani saling mengasingkan satu dengan yang lain, kita sama seperti Yesus saat berada di Samaria, sebagai orang asing di negeri yang asing, tanpa perlindungan, tanpa adanya minuman dan tanpa adanya tempat untuk beristirahat. Orang-orang Israel merindukan adanya tempat yang aman agar bisa menyembah Tuhan. Yesaya menuliskan perbuatan besar Tuhan: Ia menempatkan pengintai-pengintai di atas tembok Yerusalem sehingga umat-Nya bisa menyembah Dia dengan aman sepanjang hari dan sepanjang malam. Dalam Pekan Doa ini, gedung gereja atau kapel-kapel kita menjadi tempat berlindung, tempat beristirahat dan tempat melepas lelah bagi mereka yang mengikuti kegiatan doa ini. Tantangannya adalah bagaimana kita membuat semakin banyak tempat seperti ini yang bisa menjamin mereka untuk bisa berdoa, karena dengan berdoa bersama, kita menjadi satu di dalam Kristus.

Refleksi: 
Bagaimana kita bisa mewujudkan adanya kerukunan di dalam paroki atau di lingkungan kita? Apakah di lingkungan sekitar, kita pernah menemui orang-orang Kristiani dengan berbagai tradisi yang berbeda-beda berkumpul di suatu tempat untuk berdoa bersama? Maukah kita membantu mewujudkan tempat dan ruang seperti untuk berdoa bersama?

Doa: 
Tuhan Yesus, Engkau meminta para rasul-Mu untuk berjaga-jaga dan berdoa bersama Engkau. Semoga kami senantiasa menjaga perdamaian dunia, sehingga kami bisa berdoa bersama-sama dengan sesama orang Kristiani meski berbeda denominasi, hingga kami mampu mengenal Engkau lebih dalam lagi, kini dan selamanya. Amin.




HARI 8: Hati yang berkobar-kobar untuk mewujudkan persatuan

Yesaya 52:7-9
Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik.

Mazmur 30
Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari.

Kolose 1:27-29
Betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu.

Lukas 24:13-36
Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Murid-murid yang kecewa, yang meninggalkan Yerusalem menuju Emaus, telah kehilangan harapan bahwa Yesus adalah Mesias lalu mereka meninggalkan komunitas mereka. Ini adalah perjalanan pemisahan atau pengasingan diri. Sebaliknya, mereka kembali ke Yerusalem dengan harapan penuh dengan pewartaan Injil yang mereka ucapkan. Ini adalah pesan yang membangkitkan mereka, yang membuat mereka kembali ke dalam suatu persekutuan. Seringkali umat Kristiani mewartakan Injil dengan semangat persaingan, dengn harapan memenuhi gereja mereka sendiri. Ambisi ini mengesampingkan hasrat agar orang lain mendengarkan pesan keselamatan dalam Injil. Pewartaan yang benar adalah perjalanan dari Emaus ke Yerusalem, perjalanan dari suatu pengasingan diri menjadi suatu kesatuan, persatuan dan persekutuan.

Refleksi: 
Kekecewaan apa yang membuat kita mengasingkan diri dari orang-orang di sekitar kita? Berkat apakah yang dapat kita terima dari komunitas Kristiani lain?

Doa: 
Tuhan Yesus, Engkaulah yang membuat hati kami berkobar-kobar. Engkau yang mengutus kami untuk bertemu kembali dengan saudara-saudari kami, dengan pewartaan Injil yang menguasai lidah bibir kami. Bantulah kami untuk melihat bahwa harapan dan ketaatan dalam mengikuti kehendak-Mu akan selalu membawa kami menuju persatuan di seluruh Gereja kini dan sepanjang masa. Amin.

Sumber Bahan:
Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani
Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja Sedunia



Doa untuk Kesatuan Umat Kristen
(Puji Syukur 177)

Bapa yang maha pengasih dan penyayang, menjelang akhir hidup-Nya, Yesus berdoa bagi para murid-Nya, “Semoga mereka semua bersatu, seperti Engkau, ya Bapa, ada dalam Aku dan Aku dalam Dikau; supaya mereka juga bersatu dalam Kita, agar dunia ini percaya bahwa Engkau mengutus Aku.”

Maka kami mohon ya Bapa: semoga semua orang Kristen bersatu padu dan giat mengusahakan kesatuan. Semoga seluruh pemimpin umat-Mu semakin menyadari perlunya kesatuan. Musnahkanlah sandungan akibat perpecahan di antara umat Kristen. Semoga persatuan umat Kristen merupakan sumber perdamaian, dan tanda kasih Kristus bagi seluruh umat manusia.

Bapa, Tuhan Yesus Kristus telah bersabda kepada para rasul, “Damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu”: Janganlah Kaupandang dosa-dosa kami, melainkan pandanglah kepercayaan umat-Mu, dan berikanlah damai serta persatuan kepada kami sesuai dengan kehendak-Mu.

Pandanglah kawanan domba Yesus. Semoga semua, yang telah dikuduskan oleh satu pembaptisan, dipererat pula oleh persatuan iman dan ikatan kasih. Buatlah kami semua menjadi satu kawanan dengan Yesus sendiri sebagai satu-satunya Gembala, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala abad. Amin

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux!@RmJostKokoh
Pin HIK: 7EDF44CE/54E255C0


0 komentar:

Poskan Komentar