Ads 468x60px

De AHOK Numquam Satis


Bicara Soal AHOK Seolah Tak Ada Habisnya:
Audaces fortuna iuvat!! 
Nasib baik menolong mereka yang berani!! 
(Kutipan karya Vergilius, Aeneid 10:284).


VERITAS!
Dia dicemooh oh oh oh..
Dia disergap dan dituduh, tapi tetap berdiri tegap, tanggap dan teduh.
Dikepung, tapi semua kerjaan tetap rampung.
Banyak orang yang seenaknya membenci, tapi dia tidak jadi banci atau malahan jadi sok suci.
Hiruk pikuk yang kikuk dan hingar bingar yang liar kerap terdengar:
Teriakan barbar menyebar dan ancaman vulgar menggelegar: 
Gulingkan! 
Pecat! 
Penjarakan! 
Gantung mati ! 
Bunuh Ahok!

Indahnya:
Bukannya sembunyi dan berlindung,
dia terus maju bernyanyi tanpa sibuk cari tempat berlindung
dia tetap berbunyi tanpa takut disandung
Dia digiring ke sidang pengadilan,
tapi dia tetap nyaring atas nama keadilan
Setiap tuduhan noda dihadapinya dengan dengan lapang dada
Iustitia omnibus
Keadilan untuk semua

Ya.
Entah mengapa mereka begitu ingin menghancur leburkannya, 
Entah mengapa juga tak ada kata menyerah kalah malahan makin menyuburkannya
Bisa jadi.
Baginya: Via veritas vita
Ia hadir berjuang
Ia tertakdir bertarung 
untuk menemukan :
Via - Jalan, yang tidak asal jalan
Veritas - Kebenaran yang tidak asal benar
Vita - Hidup yang tidak asal hidup
Jalan yang pasti
Kebenaran yang sejati
Hidup yang sepenuh hati
Bahkan matipun merupakan keuntungan baginya .. ..
Anehnya:
Kepungan orang yang membencinya dihadapi satu per satu,
Ia tidak sembunyi dan menggerutu,
Ia tidak berlari dan sibuk mencari sekutu,
Ia laten dan konsisten berucap:
"Saya ada, saya di sini, saya Ahok .."
Dia begitu berani dan meyakini.
Dia begini tegar dan tidak berlindung di balik "pagar".
Dia menjadi "martir" setiap hari, bahkan sampai ke titik akhir nadir kehidupannya yang bestari. Ia menulis dengan tinta kerja keras - keringat dan ketulusan yang liat
Dia percaya bahwa kebenaran selalu berpihak pada yang sungguh benar ..
"Veritas est fons vitae"
Kebenaran adalah pondasi hidup, mungkin itu gumam relung hatinya selama ini.
TJAHAJA YANG PURNAMA.
“Urip Iku Urup - Hidup itu nyala!” 
Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentulah akan lebih baik. Dalam bahasa pemazmur: "Kami berpegang teguh pada tangan-Nya, dan gelap pun menjadi TJAHAJA!" Biarlah TJAHAJA wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!” (Mz 4:7)
Itulah filosofi hidup banyak orang baik yang terlibat di ruang publik, seperti Koh Ahok yang bernama asli “Basuki Tjahaja Purnama” yang splendor veritatis – penuh dengan warna warni pelangi kemanusiaan - dan kini masih menjadi petahana sekaligus calon gubernur DKI dalam putaran kedua nanti.
Dari banyak kandidat di seantero nusantara, bisa jadi KOH AHOK adalah salah satu “martir” dalam mendobrak dan meng-antitesa politik pasca-reformasi, yang senantiasa memoles kemasan agar terlihat indah, namun isi-nya sangat busuk dan berbau. Ia tampil apa adanya, “jurdil – jujur dan adil”, berpenampilan spontan dan apa adanya, berbicara apa adanya, tanpa diksi atau gaya bahasa yg indah-indah, tanpa dibuat-buat.
Figur dan tuturnya “down to earth”, jauh dari sosok seorang pejabat kebanyakan dan tidak tersilaukan oleh gilang gemilang harta yang coreng moreng dan kekuasaan yang mentereng. Pendapatannya- pun kerap digunakannya untuk membantu pelbagai karya sosial dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Mungkin ia terkesan "kasar", namun sekaligus ia “besar”, sangat substantif dan hatinya mulia alias integratif.
Koh Ahok ini memang benar-benar low profile. Ia berani “blusukan” karena tidak pernah takut mati. Baginya, hidupnya itu sederhana saja: hadir dan terus mengalir. Mungkin relung hatinya kerap berkata: “Don't worry Be happy God will make a "WAY". I have special security guards. They are the "Father, the Son, and the Holy Spirit.”

SOP
SIMPLE OPTIMIS POSITIF
Di balik kesederhanaan sikap dan karakternya yang ceplas ceplos , hidupnya sendiri penuh keyakinan iman dan harapan yang tanggap zaman. Dari figurnya yang teruji oleh banyaknya gesekan dan tekanan dari “liane”, tertegaskan kesederhanaan salah satu prinsipnya bahwa bermimpi itu perlu dan kita harus terus berusaha untuk mewujudkan mimpi itu dengan sikap optimis, dimana ia menampilkan hati nurani yang diimani sekaligus akal sehat yang diyakini sebagai bagian integral dari perpolitikannya yang berpola trilogi “BTP” – “Bersih Transparan Profesional.” Jelasnya: "When we're dreaming alone, it's only a dream

When we're dreaming with others, its the beginning of reality"
Ya, lewat figur dan tuturnya yang akhir-akhir ini banyak menghiasi media, entah dipuji atau dicaci, politik janganlah menjadi banal/dangkal, tapi haruslah menggunakan hati nurani dan hati nurani sendiri juga haruslah di-“politik”-kan untuk mencapai “bonum commune/kesejahteraan bersama”, karena sejatinya politik akal sehat bukan cuma apa yang mengenyangkan "perut" dan menyamankan "mulut" tapi apa yang "mengenyangkan" nurani: otak watak dan akhlak.

Selain apa adanya dan optimis, berpikir positif juga melekat pada dirinya: "Fluctuat nec mergitur" Terombang-ambing tapi tdk tenggelam. Baginya, politik itu tidak abu-abu, tidak jahat dan tidak busuk. Politik itu adalah cara-cara sportif untuk meraih kebaikan umum secara cerdas: Politik tidak kotor.Yang kotor adalah pelakunya. Politisinya. Karena itu, politik harus “dibaptis” dan tidak menjadi alat untuk korupsi, melainkan penyucian”.

"BIMA" YANG BUKAN DARI PANDAWA LIMA
Ibarat tokoh salah satu pentolan Pandawa Lima yakni "Bima" dalam cerita wayang, bisa jadi ia adalah salah satu tokoh tegas-lugas-jelas-kontras dalam pergerakan Pandawa melawan kesewenang-wenangan Kurawa, walaupun dia memang bukanlah orang Jawa. Terkenang juga sebuah pepatah bestari jawani, “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara” - Manusia hidup di dunia itu harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak – yang seakan menjadi refrain dalam hidup kesehariannya.

Tercandra, baginya politik itu “tremendum sed fascinosum” (menakutkan tapi menarik). Ya, meski para pelaku politik cenderung membuat politik menjadi sesuatu yang negatif di mata masyarakat, sesungguhnya politik itu (pada dirinya sendiri) bagus, dan lewat “interupsi” yakni kehadiran keterlibatan seorang “double minority” (kristen dan tionghoa), kita sebagai orang Indonesia apapun agama dan suku budayanya diajak untuk bekerjasama secara tuntas - “kerja keras-kerja cerdas-kerja ikhlas” - menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik guna mencapai masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Disinilah, sang "Bima" dari Belitung, negerinya "Laskar Pelangi" ini mengajak kita melihat politik secara positif dan arif, berani sekaligus memaknainya sebagai “sakramen”: tanda dan sarana keselamatan. Mungkin saja, tanpa ia sadari, ia juga mengejawantahkan ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni “manunggaling kawula-Gusti” (kesatuan hamba dan Rajanya yakni Tuhan).

Persis! Keutamaan dasar inilah yang juga ditawar-segarkan oleh kehadirannya yang josss di tengah hingar-bingarnya dunia perpolitikan di kota Jakarta pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Ya, salah satu kriteria sang pemimpin adalah leburnya tubuh jasmani dengan batinnya: “ Kang ingaran urip mono mung jumbuhing badan wadag lan batine pepindhane wadhah lan isine.”

Baginya, jabatan adalah anugerah Tuhan, karena hal yang mulia ini menantangnya untuk selalu “bersih - transparan - profesional”, bersadar diri dan berjuang total dalam memberi kesaksian iman kepada masyarakat umum karena iman baginya adalah tindakan yang membuat manusia menjadi lebih manusia, menjadi lebih punya hati nurani, menjadi lebih budiman/berbudi dan beriman, menjadi lebih berbudaya/berbudi dan berdaya. Jelasnya: sebuah kerja nyata dan tidak hanya kata-kata hampa haruslah terus dilakukan seraya Tuhan sudah rapi tersimpan dalam sebuah iman yang dpt digunakan bagaikan sebuah peta perjalanan.

Bisa jadi, pesan Mgr. Soegijapranata mendapatkan aktualitasnya lewat kesaksian dan kehadiran seorang bernama Koh Ahok ini: “Kita memang bukan bagian yang lebih besar (pars major), tetapi kita harus berusaha menjadi bagian yang lebih baik (pars sanior).”


SEBUAH AJAKAN : 
"PAS" - "POLITIK AKAL SEHAT"
Akhirnya: 
Saya bukan tim sukses pilkada, dan tak pernah berminat untuk menjadi tim sukses pilkada. Saya juga bukan simpatisan atau kader salah satu partai politik tertentu. Saya juga bukan konsultan politik yang dibayar untuk memenangkan kandidat tertentu.
Namun...

Sebagai warga negara di republik “kaya raya” – tanah air beta yang gemah ripah loh jinawi, dan sangat kami cintai ini, saya berkentingan: berharap, berdoa dan turut berusaha, agar "orang-orang baik dengan niat baik" mendapatkan kesempatan dan menemukan momentum untuk dapat memimpin daerah, juga dapat meraih momentum emas untuk memimpin daerahnya, bangsanya dan rakyatnya.

Di lain matra, ada banyak orang yang terlalu lelah, dan nyaris putus asa, karena kerap hidup di “republik bandit”, yang kadang dipimpin oleh orang-orang jahat, rampok, maling, garong, preman yang terpilih karena dikemas dengan berbaju malaikat.

Bisa jadi, dulunya mereka terpilih karena membeli suara rakyat dengan menggunakan uang rampokan, yang mereka peroleh dari merampok uang rakyat: “Remota itaque iustitia quid sunt regna nisi magna latrocinia - Negara yang tidak menyelenggarakan pemerintahannya secara jujur dan adil adalah seperti komplotan bandit atau rampok bagi rakyatnya.” Dalam bahasa Butet Kertaredjasa: “Menjadi politikus busuk itu sulit, .....saya harus pura-pura tuli-meski telinga saya sehat. Kan susah, punya pendengaran bagus, tapi harus terus menerus pura-pura tidak mendengar aspirasi rakyat” (Butet Kertaredjasa, "Monolog Tukang Kritik", Tuan Politikus Sowan Raja Jin, hal.151).

Nah, bukankah, kita harus senantiasa menciptakan setiap momentum agar ada kesempatan bagi "orang-orang baik, dengan niat baik untuk bangsa dan rakyat", dapat memimpin kota ini. Kewajiban kita adalah menaruh "hati yang hangat dan budi yang sehat" dalam kehidupan bersama karena politik tanpa "hati dan budi" adalah malapetaka bagi bangsa besar ini

Janganlah cuma terbang bergoyang seperti seekor ayam kalau kita mampu terbang tinggi melayang seperti seekor rajawali, yang punya jiwa dan punya nyali. “V A M O S” (Bhs Spanyol: “mari kita pergi”). Kita sebagai satu bangsa juga mesti “VAMOS”, “pergi“ dari “will to affair” ke “will to fair” dan dari “will to power” ke “will to truth”

Lenyapkanlah jalan-jalan yang menjadi buruk karena ditaburkan oleh penyebar kebencian. Terangilah jalan-jalan yang akan menjadi baik dengan “TJAHAJA” yang ditabur subur-penuh-utuh, “purnama” dan paripurna dalam hati-budimu
Jangan biarkan hidup kita menjadi sia-sia Jadilah manusia yang berguna, yang nyala, yang “urup”. Tinggalkan jejak tapak tjahaya. 

Pancarkan terus teduhnya sinar purnama harapan iman dan kasih
Semoga kita mau menghidup-kembangkan iman sebagai "interupsi" (keterlibatan - keberpihakan)
Semoga kita mencari Tuhan
Semoga kita menemukan Tuhan
Semoga kita mencintai Tuhan
Semoga muncullah orang-orang yang sungguh benar benar mencintai negaranya, dan dari rasa cinta tersebut sungguh benar benar berani bicara sebagai "hati nurani bangsa", bukan yang berpola “isis – ikut sana ikut sini” tapi yang “taktis” - punya otak watak dan sungguh humanis sekaligus kritis:
dalam ruang dan waktu
dalam hidup yang bersekutu
dalam pilihan yang bermutu

KOH AHOK adalah ARUS BARU POLITIK:
ARUS POLITIK AKAL SEHAT.
ORANG BAIK DENGAN NIAT BAIK HARUS DIBANTU UNTUK MENJADI YANG TERBAIK.
POLITIK AKAL SEHAT MENGALAHKAN SI JAHAT
POLITIK YANG PUNYA ESENSI DAN SUBSTANSI MENGALAHKAN 
POLITIK YANG PENUH IMITASI DAN DEKORASI
POLITIK DEMI KESEJAHTERAAN SEMUA INSAN
MENGALAHKAN POLITIK KEMASAN.

Selamat ber- PILKADA kembali
PIL ih calonmu
KA sih suaramu 
DA mai negrimu
Membangun Jiwa Membangun Raga
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)


NB:
Politik Hati Nurani dan Politik Akal Sehat
(Belajar dari Sikap Politik Romo Mangun, "Si Burung Manyar")
Pemahaman Politik Mangunwijaya
Selama hidupnya, Romo Mangun memang banyak terlibat dalam persoalan-persoalan dalam masyarakat. Ia berkiprah di banyak tempat demi hidup masyarakat yang lebih baik. Pengalaman hidupnya di Code, Yogyakarta; Gigrak, Gunungkidul; Kedungombo, Boyolali mengungkapkan betapa ia peduli terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Ia hanya ingin terlibat dalam mengangkat harkat dan martabat manusia.

Hasratnya untuk terlibat dalam mengangkat harkat dan martabat manusia membuatnya tidak dapat melepaskan diri dari persoalan-persoalan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, dia pun berpolitik.

Komentar dalam buku Politik Hati Nurani mengatakan demikian:
“Romo Mangun memang berpolitik, tapi bukan politik dalam arti mencari kekuasaan dan mempertahankannya dengan segala cara. Ia menampilkan hati nurani sebagai bagian integral dari perpolitikannya. Politik harus menggunakan hati nurani dan hati nurani sendiri juga harus dipolitikkan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat luas dan demi keadian bagi seluruh lapisan.”

Komentar ini nampaknya ingin menegaskan apa yang diyakini dan dihidupi oleh Romo Mangun. Romo Mangun pun mempunyai pandangan tersendiri mengenai politik. Ia nampaknya mempunyai pemahaman politik menurut artinya yang paling tradisional seperti diungkapkan oleh Aristoteles.

Menurut Aristoteles, manusia menurut kodratnya merupakan zôoon politikon: makhluk yang hidup dalam polis . Berinspirasi dari pemahaman tersebut, Romo Mangun menuliskan pandangannya mengenai politik:

“Memanglah ada dua paradigma dan pengARTIan dasar politik. 

Yang pertama lebih terkenal dan biasanya dikira satu-satunya, yakni politik dalam aspek kekuasaan. Penyelenggaraan kekuasaan, pemilihan, pertahanan, perebutan, penikmatan, pelestarian, status-quo kekuasaan, dst., pendek kata segala yang menyangkut power atau might, kekuasaan (PK- Politik Kekuasaan). Termasuk kekuasaan mental, spiritual, rohani, agama, yakni yang berciri pemaksaan atau hegemoni kehendak oleh pihak yang lebih kuat kepada yang nisbi lemah. Lazimnya khalayak ramai mengartikan politik melulu dalam arti pertama ini. Sehingga ada ucapan yang terbang di mana-mana: ‘politik itu kotor.’
Namun bagi orang terpelajar, ada politik berparadigma ke-2 yang sebenarnya lebih asli dan otentik, bisa ilmiah tetapi dengan praksis, ataupun sesuai koderat alam manusia dan masyarakat, (tetapi kurang terkenal populer) yakni politik dalam arti: segala usaha demi kepentingan dan kesejahteraan umum. Jasmani rohani. Bukan untuk kepentingan golongan saya atau faksi dia atau partai itu atau umat agama tertentu, akan tetapi demi kepentingan dan kesejahteraan umum, semua warga bahkan universal semua bangsa, tanpa pandang siapa dan golongan, luas, misalnya sila ke-2, kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Juga demi perdamaian, kemerdekaan dan nilai-nilai moral, kebenaran, dsb. demi tata hidup bersama yang membangun iklim budaya mulia, budi pekerti tinggi, yang menyemarakkan kesetiakawanan dan menumpas egoisme, individualis maupun kolektivisme yang mencekik serta penghapusan hukum rimba survival of the fittest, dsb. dst.

Ini politik dalam arti asli kodrat alami, demi kehidupan dan penghidupan bersama yang sejahtera umum atau politik dalam dimensi moral (dan iman).”

Dalam pandangan itu, Romo Mangun mengungkapkan bahwa semua orang harus terlibat dalam politik dalam arti yang kedua. Politik tidak hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu.

Melalui artikel “Rohaniwan Tak Boleh Berpolitik?” ini, Romo Mangun secara khusus menyoroti tentang pengecaman keterlibatan Uskup Belo sebagai rohaniwan Katolik dalam medan politik di Timor-Timur.

Ia berpandangan bahwa rohaniwan Katolik harus berpolitik dalam arti yang kedua “demi kesejahteraan bersama”.

Dalam artikel yang sama, ia menyitir kisah Mgr. Soegijapranata, imam pribumi pertama yang menjadi Vikariat Apostolik Semarang, yang benar-benar aktif dalam kancah politik pada masa revolusi . Kisah tersebut mengungkapkan bahwa Mgr. Soegija tidak hanya berjuang untuk memelihara umat Katolik, tetapi berjuang untuk kesejahteraan bersama, yaitu kesejahteraan bangsa Indonesia.

Keterlibatan seluruh orang dalam hal politik ini didasarkan pada pengajaran agamanya masing-masing. Bagi orang Katolik, keterlibatan itu didasarkan pada ajaran Yesus.
Dalam artikel yang sama, ia menuliskan:

“Dan memang Nabi Isa mengajar para penganutnya demikian. Jangan pakai pedang, tetapi lewat kebenaran, iman, harapan, cintakasih. Karena yang didambakan masyakarat umum yang normal sejati, apalagi yang berkeTuhanan, berPancasila, akhirnya dan akhirnya justru inilah, tata negara dan masyarakat yang berpijak pada moralitas dan etika fair play (serta iman) dalam arti luas di atas.”

Hati Nurani: Sumber dan Dasar Keterlibatan Politik sebagai Wujud Penghayatan Iman
Ignatius Haryanto, dalam kata pengantar buku Politik Hati Nurani mengatakan bahwa pemilihan judul Politik Hati Nurani itu dilakukan dengan berbagai alasan. Salah satu alasan yang mendasar bersumber pada penangkapan penyunting atas nilai yang diperjuangkan oleh Romo Mangun. Ia menulis:
“Sosok Mangunwijaya yang pasti bukanlah seorang politikus dalam arti seorang yang memimpin partai, memimpin sekelompok massa, dan memperjuangkan suatu kepentingan bersama. Romo Mangun mengerti soal politik, dan dalam arti luas, ia juga berpolitik, namun ia mendasari politiknya lewat pengabdian pada kemanusiaan. Profesinya sebagai seorang rohaniwan mau tidak mau mempengaruhi option yang dipilihnya tersebut. Dengan seluruh karya sosialnya, Mangun menunjukkan bahwa ia bergerak atas dasar panggilan nurani kemanusiaan...

Hati Nurani Politik merupakan suatu pesan tersendiri yang hendak disampaikan, bahwa perpolitikan sungguhpun berkaitan dengan usaha yang mulia memperjuangkan kesejahteraan umum, memajukan masyarakat dan melaksanakan keadilan sosial, kerapkali jatuh pada cara-cara yang menghalalkan segala cara. Landasan moral, nilai-nilai, hati nurani, seringkali tak menjadi perhitungan dalam langkah-langkah politik
Justru kondisi demikian yang hendak dikritik di sini. Politik sebenarnya adalah usaha pendapaian tujuan dengan berbasis pada nilai-nilai, hati nurani, dan moralitas juga.
Para politikus dapat tetap mengerjakan tugasnya, tanpa mengabaikan hal tentang nilai atau hati nurani. Hati nurani bukanlah hal yang terpisah dari kehidupan politik, bahkan justru kegiatan politik harus memiliki Hati Nurani jika perpolitikan hendak berlangsung abadi dan mendapatkan simpati dari rakyat.”

Dalam setiap tulisan atau karya yang dibuat Romo Mangun, unsur hati nurani yang diwujudkan melalui keberpihakan kepada nilai-nilai universal ini secara nyata dinampakkan.
Ia mengatakan, “Yang utama adalah berbuat adil untuk membela orang kecil dan solider terhadap yang menderita... demi perdamaian dunia, kemanusiaan, keadilan sosial, dan kemerdekaan.” Menurutnya, iman adalah tindakan. Tindakan yang membuat manusia menjadi lebih manusia .

Hati nurani sebenarnya bukan hanya sumber dan dasar tindakan politik manusia saja, tetapi harus menjadi sesuatu yang integral dalam diri manusia dan menjadi sumber seluruh tindakan manusia. Hati nurani merupakan unsur yang perlu dimekarkan dalam kehidupan.
Romo Mangun memasukkan unsur hati nurani ini sebagai salah satu daya yang harus dimekarkan dalam pendidikan. Sebagai seorang pendidik, ia berpendapat bahwa ada lima macam daya yang harus dikembangkan, yaitu daya kognitif atau daya nalar; cita rasa dan kemampuan afektif yaitu rasa, intuisi dan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan; kemampuan untuk saling berkomunikasi, bergaul, bekerjasama, teratur, tenggang rasa; kesehatan raga; dan hati nurani, sikap atau semangat tolong menolong, setia kawan, sopan, dan cinta kasih .

Pemekaran hati nurani ini akan membuahkan kehidupan yang subur dan berbuah . Pendidikan hati nurani itu dapat dilakukan melalui komunikasi iman – bukan agama – dalam kehidupan, dialog, percakapan, dan lebih-lebih perbuatan. Tujuan komunikasi iman ini adalah untuk menumbuhkan sikap dasar yang benar, hati nurani yang peka terhadap segala yang baik, adil, benar, senang menolong, dan membuat orang lain gembira, sekaligus memekarkan watak yang menolak segala yang buruk, menghina teman yang miskin, cacat, atau lambat belajar . 

Pemekaran hati nurani ini menjadi sebuah modal untuk terlibat dalam kehidupan masyakarat. Hati nurani yang mampu mempertimbangkan baik buruk, bersikap adil, suka menolong menjadi sebuah dasar untuk bertindak dalam masyarakat.
Yang menjadi patokan dalam bertindak bukanlah sikap suka atau tidak suka, tetapi unsur-unsur keadilan, kemanusiaan, perdamaian dan kemerdekaan: apakah tindakan yang aku buat membantuku dan orang lain untuk mewujudkan nilai-nilai itu.
Pastinya,tindakan politik Romo Mangun didasari pengalaman mistiknya dengan Allah. Ia tidak melakukan politik-politikan, tetapi ia sungguh-sungguh berpolitik, membangun negara yang demokratis. Ia ingin betul-betul tidak ada orang yang disingkirkan dalam pembangunan negara. Artinya, melibatkan semua orang berpartisipasi.
Romo Mangun tidak pernah lepas dari suara kenabian Gereja. Apa yang dilakukan Romo Mangun adalah tanggapan kenabian terhadap kenyataan yang bobrok . Dan kiranya tidak berlebihan kalau Jennifer Lindsey menilai bahwa Romo Mangun adalah hati nurani bangsa. “Orang agung yang bijak di dunia ini memang jarang dan Romo Mangun adalah salah satu di antaranya. Beliau adalah salah seorang cendekiawan Indonesia terbesar, seorang yang amat mencintai negaranya dan dari rasa cinta tersebut berani bicara sebagai hati nurani bangsa” .

Memperhatikan Rakyat, terutama Yang Kecil, Lemah, Miskin dan Tersingkir
Dalam seluruh hidup Romo Mangun, satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah pilihan keberpihakannya kepada rakyat, terutama kaum miskin, lemah, miskin, dan tersingkir. Sejak awal, sikap ini menjadi pilihan hidupnya. Pilihan keberpihakan ini diawali dengan pengalamannya di kota Malang.

Waktu itu, ada perayaan penyambutan Tentara Indonesia. Semua mengelu-elukan tentara sebagai pahlawan. Lalu Mayor Isman mendapat giliran berpidato. Pidato itu bagaikan halilintar di siang bolong bagi Mangun. Mayor Isman mengatakan,
“Kami bukan pahlawan. Kami bukan bunga bangsa. Kami bukan madu bagi rakyat. Karena kami sudah membunuh, kami sudah membakar, kami sudah berlumuran darah dan melakukan hal-hal yang kejam... Sebetulnya kami ini bukan pahlawan. Yang pahlawan adalah rakyat jelata, petani-petani yang menghidupi kami. Jika Belanda datang, kami lari. Memang bukan karena pengecut, melainkan karena kekuatan tidak seimbang. Tapi rakyat tidak bisa lari. Mereka yang menjadi korban diperkosa, dibakar rumahnya, ditembak. Mereka yang berkorban, tetapi yang menjadi pahlawan bukan rakyat.”
Pengalaman ini membuat Romo Mangun tergugah untuk membalas budi kepada rakyat. Usaha pembalasan budi kepada rakyat itu ditempuhnya dengan menjadi imam praja. Ia lebih memilih menjadi imam praja karena ia ingin bekerja langsung di tengah rakyat jelata. Bagi Mangun, menjadi imam adalah sebuah cara untuk berusaha menjadi link – ex officio – antara manusia dan Tuhan. Seorang imam harus menyuarakan hati nurani kolektif, sabda, wahyu ilahi, kemanusiaan, dan jawaban manusia. Imam akan hancur kalau dia menjadi birokrat agama, apalagi kalau berkolaborasi dengan penguasa .

Dalam sebuah wawancara, Romo Mangun mengakui bahwa status imamat memang memberi banyak kemudahan baginya, tapi ia ingin menjadi manusia biasa saja. “Yang berat justru untuk tetap bertahan sebagai manusia biasa. Sebab pastor itu ‘kan seolah-olah kasta tersendiri. Mudah membuat orang menjadi sombong. Karena itulah orang seperti kami harus selalu aware jangan sombong.”

Tindakan keberpihakan Romo Mangun pada kaum kecil ini menjadi perwujudan imannya kepada Yesus Kristus. Romo Mangun hanya ingin meneladan Yesus. “Suri teladan Yesus yang menampakkan diri sebagai Putra Allah yang memilih lahir dalam pangkuan orang-orang dina, lemah, miskin di Betlehem, mengungsi ke Mesir akibat kesewenang-wenangan sang penguasa dunia, kemudian merendah di desa kecil, Nasareth... Hidup publik selanjutnya dari Yesus di Galilea, Samaria, Yudea, ternyata lebih dipersembahkan kepada yang justru di bawah, yang menderita, yang tergusur dan terbuang.” Yesus telah menempatkan hatinya untuk orang miskin.

Demikianlah dari awalmula, pembelaan kaum kecil yang tidak dimanusiawikan selalu menjadi bagian yang melekat pada spiritualitas murid Yesus. Tradisi Kristiani memang selalu mengoreksi dan kritis bahkan sering berkonflik melawan para penguasa dunia yang cenderung mengekploitasi manusia bawahan sebagai alat untuk menguntungkan dan memuliakan diri atasan . Inilah tantangan yang dihadapi oleh para murid Kristus pada zaman ini: bagaimana mewujudkan keadilan, perdamaian, kemanusiaan, dan kemerdekaan.

Pilihan keberpihakan kepada rakyat itu dengan gigih disuarakan oleh Romo Mangun kepada semua pihak. Sebagai warga negara Indonesia, dia menyerukan suaranya kepada pemerintah dan masyarakat. Ia menulis demikian:
“RI 17 Agustus 1945 itu kan pada hakikatnya dimaksud untuk membela rakyat kebanyakan yang kalah menghadapi kelompok kecil yang mengeksploatasi si dina miskin . Nasionalis itu pecinta rakyat negeri. Yang sepantasnya kita cintai itu kan justru rakyat kecil lemah miskin yang mayoritas dan tak berdaya itu. ”

“Kita harus berani percaya kepada kekuatan dan kemampuan serta bakat-bakat dan kearifan praktis dari rakyat yang paling dina sekalipun. Tanpa kepercayaan yang tebal seperti itu, kita sudah kandas sebelum mulai. 

Untuk itu, kita harus meninggalkan mental ingin menjadi pemimpin yang merasa diri lebih pandai dan lebih tahu daripada rakyat. Terutama para mahasiswa dan cerdik-pandai, tetapi seumumnya yang punya bakat “kepemimpinan” dan bermurah budi untuk berkorban demi rakyat. Pendek kata, kita semua harus kembali kepada rakyat, di tengah-tengah rakyat, dan bersama dengan rakyat. Sekali lagi bukan sebagai pemimpin, pembina atau penuntun, akan tetapi sebagai kawan atau saudara.”

Ia pun dengan lantang menyerukan suara kemanusiaan ini kepada seluruh warga Gereja:
“Di Asia, khususnya di Indonesia, manusia kecil, lemah, miskin umumnya tidak dihargai. Yang dihargai ialah mereka yang kaya dan berkuasa... Hukum rimba: diapa kuat, dia menang. Hukum ini nyata hidup dalam keseharian manusia, yang juga masih dianut oleh umat Katolik Indonesia.”

“Kelakar adalah kelakar, tidak perlu diambil serius 100 %. Namun, setiap rohaniwan gereja Katolik (yang notabene terkenal sebagai agama yang kaya raya dan kuasa) sedikit banyak telah “terperangkap” dalam suatu sistem yang memang memberinya kesempatan dan fasilitas besar untuk memberi kepada kaum miskin, tetapi sangat menghalangi dia untuk menjadi kaum miskin.”

Keberpihakan Romo Mangun kepada kaum miskin adalah sesuatu yang digulatinya terus-menerus. Hidup Romo Mangun seakan-akan menjadi sebuah usaha yang tiada henti untuk memperjuangkan kaum miskin, lemah, kecil, dan tersingkir ini.

Tentang perjuangan Romo Mangun untuk kaum miskin ini, Mgr. Julius Darmaatmaja, S.J. menuliskan:
“Cinta dan perhatian beliau kepada kaum papa dan terhadap masalah kemanusiaan seluas kemanusiaan itu sendiri. Inilah yang menyebabkan beliau tak terkurung olehs ekat perbedaan agama, suku, dan budaya. Inilah yang membuat beliau berjuang melawan ketidakadilan bagi siapapun, inilah yang membuat beliau berjuang melawan kemiskinan, melawan segala bentuk penderitaan manusia, menjadi dasar dan kekuatan bagi perjuangan beliau di hampir segala bidang kehidupan.”

Banyak komentar yang terungkap atas perjuangan Romo Mangun untuk kaum miskin. Ia adalah Bapak Kaum Papa; Pembela Kaum Miskin; Kawan dan Tetangga Kaum Miskin. Sebutan-sebutan ini merupakan bukti bahwa banyak orang menangkap di mana ia berpihak.

Penutup
Kehidupan Romo Mangun menunjukkan bagaimana ia berpolitik dalam arti sesungguhnya, terlibat dalam masyarakat demi kesejahteraan bersama. Ia telah menunjukkan kesadarannya untuk menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dan Gereja Katolik Indonesia. Pergumulan pemikiran, karya, dan tindakannya menjadi wujud kepeduliannya untuk menyumbangkan sesuatu bagi lingkungan sekitarnya .

Kita melihat bahwa kehidupannya sebagai orang Katolik telah menyumbangkan sesuatu kepada bangsa dan negara Indonesia. Ia telah mencoba membayar utangnya kepada rakyat. Melalui kehidupan Romo Mangun, kita pun diingatkan kembali kepada pertanyaan Mgr. Soegijapranata: apakah Gereja beserta umatnya sungguh-sungguh mempunyai manfaat bagi negara dan rakyat Indonesia?

Semoga semakin banyak orang tergerak berbuat dan menyumbangkan sesuatu bagi kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia.

0 komentar:

Poskan Komentar