Ads 468x60px

International Womens Day

W - Wonderful
O - Outstanding
M - Marvellous
A - Adorable
N - Nice

Di balik seorang pribadi yang "WOW" ada seorang "MOM" yang hebat hangat dan handal.
Cintailah ibu maka dia akan memberimu "ubi", benih kehidupan yang menciptakan nirvana
Sakitilah ibu maka dia akan memberimu "bui", benih penderitaan yang menciptakan samsara





Sebuah Refleksi di Hari Perempuan Sedunia: 
HABIS GELAP TAK KUNJUNG TERANG?
Door nacht tot licht, 
Door storm tot rust,
Door strijd tot eer, 
Door leed tot lust”

Pada tahun 1985, seorang feminis kelahiran Calcutta, India, Gayatri Spivak, melontarkan sebuah pertanyaan kritis, “apakah ‘subaltern’ dapat berbicara - juga dalam wacana kebebasan? Jelas, bahwa kaum feminis – juga sebagai kaum subaltern, sering mengkritik sejarah dominan, yang terfokus pada peranan laki-laki, sehingga pantas disebut his-story. Sebagai anti-tesisnya, mereka ajukan sejarah dari kacamata perempuan, yang mereka sebut her-story (Al-Hibri 1982; Umar 2002: 115).

Dua kalimat dalam bahasa Belanda di sub judul tulisan ini adalah rangkaian sajak seorang kaum subaltern juga, seorang perempuan Jepara, RA. Kartini, yang berarti, “Habis malam datanglah siang, Habis topan datanglah reda, Habis perang datanglah menang, Habis duka datanglah suka.” Seperti kita ketahui, pada tahun 1911 telah terbit antologi surat-surat Kartini dalam format buku yang disusun oleh J.H. Abendanon, berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’, dan kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ (terbit di tahun 1951).

Abendanon sendiri sebetulnya adalah seorang direktur pada departemen pendidikan, industri dan agama pemerintah Hindia-Belanda di awal abad ke-20. Ia seorang pendukung 'Gerakan Ethis' waktu itu, yang berencana mendirikan sekolah di tanah jajahan secara besar-besaran. Lewat penerbitan buku itu, Abendanon sebenarnya ingin berbicara tentang suatu transformasi positif, dengan Kartini sebagai pembawa obor pencerahan. Singkatnya, bahwa transformasi dari 'gelap' ke 'terang' berarti suatu proyek kebebasan: pencerahan dari 'kebodohan' ke 'kecerdasan'.

Kata 'pencerahan' memang beberapa kali memang muncul dalam korespondensi Kartini (misalnya dalam surat kepada Steela Zeehandelar 12 Januari 1900). Sudah barang tentu, seperti tersebut dalam beberapa surat Kartini yang lain, 'pencerahan' juga ada hubungannya pula dengan emansipasi, khususnya berkenaan dengan posisi perempuan bumiputera. "Kemerdekaan perempuan akan merupakan buah dari penderitaan dan kepedihan kami', tulis Kartini dalam sepucuk surat bertanggal 1 Agustus 1903.
Stella Zeehandellar sendiri adalah seorang sosialis yang mempunyai hubungan kuat dengan gerakan sosialis di Belanda dan memiliki jaringan dengan orang-orang Belanda yang berpengaruh.

1.Dia dan Agama
Bicara soal pemahaman iman Kartini terhadap Kitab Suci, '...dulu saya tak hendak belajar lebih lanjut dari Kitab Suci, yang mengutarakan kalimat dalam sebuah bahasa yang ganjil, yang artinya tak saya pahami dan mungkin guru saya sendiri tak memahaminya....[Tapi} saya keliru. Kitab dari semua Kitab itu terlampau suci untuk ditangkap oleh kecerdasan kita yang papa..."

Tambahnya pula: 
"...Hanya Tuhan yang memahami teka-teki dunia. Dialah yang mempertautkan jalan-jalan yang tadinya terpisah jauh untuk membentuk arah-arah yang baru...." Dalam sepucuk surat, yang ditulisnya dua hari kemudian, 17 Agustus 1902, ia menegaskan jalan kembalinya ke agama itu dengan menulis: "Kami berpegang teguh pada tangan-Nya, dan gelap pun ‘kan menjadi cahaya'.

Kartini juga mengutip kata-kata seorang perempuan tua yang menyuruhnya berpuasa: 'Melalui menahan diri dan tafakur, kita pergi menuju terang'. Baginya, 'berpuasa adalah cara mengatasi yang jasmani oleh yang rohani; kesendirian adalah sekolah untuk tafakur”. Kita tak tahu persis apa yang mendorong Kartini kembali ke agama.

Dalam surat yang dikutip di atas ia menyebut 'seorang perempuan tua' yang tak putus-putusnya memberinya 'bertangkai-tangkai kembang dari hati'. Mungkin saja yang dimaksudkannya adalah ibu kandungnya sendiri, Ngasirah, yang berasal dari kalangan pesantren, bukan dari kalangan ningrat, seorang yang hampir tak pernah disebut hadirnya.


2.Dia dan Ibunya
Pada tanggal 15 Agustus 1902, dalam sepucuk surat kepada Abendanon. ia berbicara banyak tentang puisi dan gamelan Jawa. Di satu bagian, ia mengutip ucapan seorang anak kepada ibunya: 'Ibu, kupinta setangkai melati yang mekar di pusat hati.'

la tampaknya terpesona dengan kalimat itu, yang dalam bahasa Jawa memang terdengar puitis: 'Nyuwun sekar melati ingkang mekar ing panjering ati' (Bdk:Letters of a Javanese Princess, Raden Adjeng Kartini - terjemahan Agnes Louise Symmers, New York: The Norton Library, W.W. Norton & Company, 1964, hal 181-183).

Betapapun sekedar disebut di latar belakang, kehadiran sosok ibu Ngasirah, perempuan tua itu, banyak menentukan sikap Kartini. Perempuan itu saksi hidup, bahwa ayahnya, bupati Jepara, adalah seorang laki-laki yang progresif tapi berpoligami. Seorang ayah yang dicintai anaknya penuh dan akrab, tapi membawa ke dalam hidup anak itu seorang ibu lain yang tak akrab. Ngasirah menandai apa yang disebut Kartini sebagai 'luka yang pedih' dalam sepucuk surat, tanggal 21 Desember 1900 buat Rosa Abendanon.

Dari sinilah, menurut confession-nya sendiri, Kartini dengan hati berkobar-kobar merindukan saat ketika ia 'mampu mengubah dunia Bumiputera yang merupakan sebuah tempat yang begitu pahit bagi perempuan'. Mungkin sekali karena hubungannya dengan seorang ibu yang bersedia 'memberi begitu banyak', tapi yang berada di 'tempat yang begitu pahit bagi perempuan', Kartini menemukan dalam diri Ngasirah sesuatu yang sangat berharga.

Dan, sebetulnya kalimat 'habis gelap terbitlah terang’, yang dalam bahasa Arab disebut minazh-zhulumaati ilan-nuur, juga sebuah kiasan yang ada dalam Qur’an, tepatnya di Surah Al Baqarah.


3.Dia dan Jiwa Pemberontak
Sebagai perempuan muda yang penuh idealisme, Kartini datang dengan gagasan yang bebas serta mandiri dari tatanan adat lama. Bahkan tak hanya mandiri, tapi juga memberontak, setidaknya dalam hati. 'Kami', tulis Kartini tentang diri dan adik-adiknya, yang melihat perannya sebagai perintis kemandirian itu, 'memiliki pikiran yang memberontak dalam belantara ini, di tanah jauh yang gelap ini...'.

Pernah ada suatu saat ketika Kartini menampik, memberontak terhadap titah khas kultur Jawa, 'sendiko dhawuh gusti!'. Dalam surat bertanggal 6 Nopember 1899, pemberontakan itu bahkan ditandai dengan sikap kritisnya yang menampik agama yang diwariskan orang tuanya.

Baginya, 'orang dapat jadi baik tanpa menjadi saleh,' dan ia ragu adakah agama merupakan rahmat bagi manusia, "...Terkadang aku ingin tak pernah ada agama, sebab hal yang seharusnya menyatukan umat manusia ke dalam persaudaraan bersama itu selama berabad-abad telah jadi satu sebab pergulatan, sengketa dan pertumpahan darah...."
Dalam masa pemberontakan iman itu, bagi Kartini, seperti tertulis dalam surat 15 Agustus 1902, ”..Tuhan kami adalah nurani kami, neraka dan surga kami adalah juga nurani kami”. Kesendirian tampaknya juga penting dalam iman Kartini: ia melihat 'cahaya' dan 'terang' dalam imannya yang justru pribadi.


4.Dia dan Perjuangannya
Menyitir Gadis Arivia, terdapat lima perjuangan dan pemikiran feminis Kartini.
Pertama, tentu tidak dapat disangkal bahwa Kartini dalam pemikirannya banyak melontarkan kritik pedas pada orang-orang Kolonial: ”...Orang mudah sekali lupa kalau ’negeri kera yang miskin ini’ telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria, setelah beberapa lama saja tinggal disini ....” Kartini juga jelas mendambakan sosok perempuan yang independen, dalam suratnya Jepara, 25 Mei 1899, ia menulis bahwa, ”Aku sungguh ingin mengenal seseorang yang kukagumi, perempuan yang modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, cerai dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya...”.

Kedua, Kartini sangat dipengaruhi oleh pemikiran liberal tentang hak-hak individu dan hak pendidikan yang setara. Suratnya, tertanggal 13 Januari 1900 berbunyi, ”...Aku tidak pernah membiarkan perempuan-perempuan yang lebih tua dariku, meski status sosialnya lebih rendah dariku, untuk memberi hormat sesuai dengan gelarku...hatiku teriris, saat melihat orang-orang, yang usianya lebih tua dariku, berjalan merangkak berlumur debu untukku...”
Ketiga, Kartini sangat menentang diskriminasi terhadap perempuan, suratnya tertanggal 23 Agustus 1900, mempermasalahkan hal ini, ”...Yang pertama dan utama, aku akan menghapus adat kebiasaan buruk yang lebih memihak anak laki-laki daripada anak perempuan. Kita tidak seharusnya terkejut akan sifat laki-laki yang memikirkan diri sendiri saat kita menyadari bagaimana, sejak kecil dia sudah dimenangkan dari perempuan, adiknya...”

Keempat, Kartini menyikapi perkawinan dengan sinis, suratnya tertanggal 23 Agustus 1900, mengungkapkan, 
”Tuhan menciptakan perempuan sebagai teman laki-laki, dan takdir hidupnya adalah untuk menikah. Baik, hal ini tidak harus diingkari dan aku mengakuinya dengan senang hati, meski berabad-abad yang akan datang, kebahagiaan tertinggi bagi perempuan terus akan hidup sederajat dengan laki-laki! Tapi kini, siapa yang bisa hidup dalam persatuan yang harmonis jika hukum perkawinan seperti yang sudah aku gambarkan ini? Tidak wajarkah jika aku sendiri membenci, memandang rendah perkawinan jika hasilnya merendahkan martabat perempun dan menganiaya perempuan sedemikian mengerikan?”

Kelima, Kartini menyatakan ’perang’ terhadap poligami, dalam surat di tahun 1900, ”....Untungnya tidak semua Muslim mempunyai empat orang isteri, tapi setiap perempuan yang sudah menikah di belahan dunia, kami sadar bahwa dia mungkin bukan istri satu-satunya dan cepat atau lambat, suami yang dicintainya itu bisa saja membawa seorang teman untuknya, yang mempunyai hak sama atas suaminya: menurut hukum Islam, perempuan itu sudah menjadi istri sah.

Di zamannya, di Indonesia awal abad ke-20, Kartini memang tidak mengemukakan gagasannya ke depan umum. la menghindar untuk menulis di surat kabar, meskipun kesempatan itu tersedia: '...aku ingin [menulis di surat kabar] tapi tidak dengan namaku sendiri. Aku ingin tetap tidak dikenal...di Hindia ini, karena jika seseorang mendengar tentang artikel-artikel yang ditulis perempuan Jawa, mereka akan segera tahu siapa menulis tulisan itu', demikian lugas dikatakannya dalam surat bertanggal 14 Maret 1902.
Bisa jadi, Kartini gamang karena ia sadar akan posisinya sebagai 'perempuan Jawa' dalam masyarakat kolonial di Jawa tengah waktu itu. Justru kemampuan teknologi informasi media untuk mengungkap dirinya itu, menyebabkan otonomi Kartini sempat menciut. Syukurlah, ia akhirnya jeli memilih korespondensi sebagai mediumnya.

Lewat medium korespondensi itu, tampak pengertian kemerdekaan sendiri, bagi Kartini, tak datang dari ide dan buku. Hasrat kemerdekaan datang dari hidupnya sebagai perempuan di sebuah masyarakat yang menindasnya.

Kemerdekaan di sini terkesan sebagai inner voice: dorongan kodrati manusia. Kartini benar ketika, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon ia. menggambarkan dirinya sendiri dan adik-adiknya bukan cuma kutu buku yang menerima kedatangan ide-ide dari jauh: “....Orang menyalahkan buku yang 'penuh omong-kosong'; yang datang dari Barat dan merasuk dalam ke pulau ini, ke wilayah yang tenang dan damai di pantai Jawa yang selalu hijau"
Bukan hanya buku yang membuatnya memberontak...Rasa rindu kepada kemerdekaan, kemandirian dan emansipasi bukannya lahir baru kemarin, tapi sudah sejak masa mudanya yang awal, ketika kata 'emansipasi' belum lagi dikenalnya. [Sesungguhnya] keadaan di cakrawala yang jauh dan dekat itulah yang telah menghidupkan hasrat itu.


5.Dia, Tuhan dan Kebahagiaan
Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, tiga tahun sebelum ia masuk ke dalam iman yang menyendiri, Kartini mengatakan, 'orang bisa menjadi baik tanpa menjadi salih'. Agama adalah sesuatu yang berlebih.
Di sini, kebebasan bagi Kartini justru berkaitan dengan Tuhan. 'Mereka yang melayani Tuhan itu bebas', demikian tulisnya dalam surat kepada Nyonya Van Kol, yang agaknya telah mendorongnya kembali ke agama, sebab 'mereka tak terikat kepada manusia'. Tapi kebebasan itu, dalam berhubungan dengan Tuhan, tertanam dalam sebuah interior yang bukan wilayah yang bisa dan biasa ditempuh orang ramai.
Dalam surat bertanggal 20 Agustus 1902 itu, perempuan muda ini juga menulis:
“..Di mana kebahagiaan sejati? Tak jauh, tapi sukar untuk menemukan jalan ke sana, kita tak bisa berangkat dengan trem, dengan kuda atau perahu, dan tak ada emas yang dapat membayar bea perjalanan itu. Jalan itu susah ditemukan, dan kita harus membayar ongkosnya dengan airmata dan darah di jantung serta meditasi. Di mana jalan itu? Dia ada dalam diri kita sendiri…”.
Memang ada yang klise dalam paragraf itu jika kita baca sekarang, namun jelas: Tuhan bagi Kartini bukanlah jalan lempang dan terang yang dibangun oleh akal budi melulu. Jalan itu tak henti-hentinya harus dicari kembali, oleh masing-masing diri.
Dalam perspektif ini, Tuhan bukanlah hanya keniscayaan dari dorongan ethis, sang Otoritas Moral, yang menjadi acuan nilai-nilai universal. Tuhan adalah sebuah pengalaman batin yang unik bagi tiap saat, bagi tiap tempat dan tiap manusia. William James, yang merekam berbagai pengalaman religius, menyebut pengalaman dengan Tuhan itu sebagai 'the individual pinch of destiny'.


6.Dia dan Akhir Hidup
Pada akhirnya Kartini, yang kemudian menikah, hidup dengan seorang suami yang berkedudukan tinggi, seorang laki-laki terpelajar yang mencintainya dan setia mendukung ide-idenya.
Dkl: ia mengambil jalan seperti kebanyakan orang yang terlibat dalam proyek ‘pencerahan': “…sebuah kerja harus dilakukan, seraya Tuhan sudah rapi tersimpan dalam iman, sebuah iman yang dapat dipergunakan bagaikan sebuah peta…”.
Dan, wajar juga bahwa surat terakhir Kartini beberapa minggu sebelum ia meninggal memang hanya menyentuh soal-soal yang dihadapi seorang ibu muda sehari-hari: rok untuk bayi yang belum bisa dikenakan, tempat tidur yang baru datang, parfum beraroma buah, basa-basi persahabatan, dan pelbagai hal remeh temeh lainnya.


7.Sebuah Pencerahan: Cherchez la femme!
Kebebasan berarti tanggung jawab. 
Itulah sebabnya mengapa kebanyakan orang takut kepadanya!
George Bernard Shaw (1856-1950)
Kartini jelas adalah seorang perempuan. Kata perempuan sendiri mempunyai akar katanya, ‘empu’, arti idealnya yakni seorang guru kehidupan.
Tapi realnya, banyak orang mengidentikkan kaum per’empu’an melulu dengan stereotif 3 m (macak/dandan, masak, manak/melahirkan), 3 ur (dapur, sumur dan kasur), 4 wa (wadah, wadi, waduk, wadon) serta 5 ah, yaitu: tunggu omah, olah-olah, momong bocah, asah-asah, mlumah (jaga rumah, masak, asuh anak, menyuci, melayani suami).
Kalau begitu adanya, bagaimana dengan pepatah lama, surga ada di bawah telapak kaki ibu? Di sini nyata adanya ‘gender inequalities culture’ – budaya ketidakadilan gender yang sudah mentradisi.
Di lain matra, sebetulnya ada perbedaan mencolok antara kekuasan lelaki dan perempuan. Kekuasaan pria itu power over, sifatnya merusak-menindas, sedangkan kekuasaan perempuan itu power to, membagi dan konstruktif.
Idealnya, seorang perempuan mempunyai tempat dalam masyarakat, bukan melulu karena keperempuannya yang demikian khas, tapi karena kepribadiannya sebagai seorang manusia dan warga masyarakat, dan lebih penting lagi karena nilai dari tugas-tugas bermanfaat yang berhasil diselesaikannya, begitulah ujaran seorang tokoh feminis Rusia, Aleksandra Mikhailovna.
Esensi perempuan juga, menurut Romo Mangun, ada pada rahim dan sikap serta cita rasanya menghadapi suami, anak-anak dan kehidupannya. Kerahiman perempuan adalah salah satu lambang religiositas, karena rahim itu mengemban dan menumbuhkan benih kehidupan. Jelas, bahwa kaum perempuan adalah roh pengemban kehidupan.
Maka, kalau dulu, ada sebuah slogan khas Perancis, Cherchez la femme: carilah perempuan! Di mana, perempuan dicari untuk menjadi (dijadikan) biang keladi-semacam kambing hitam bagi setiap konflik dalam masyarakat patriarkal.
Tapi kini, paling tidak lewat membaca kembali surat-surat Kartini dan zamannya, kita diajak lagi untuk bersama-sama berkata, Cherchez la femme ! Kita mencari perempuan bukan lagi sebagai problem maker, tapi karena para perempuan itu sungguh bisa menjadi problem solver.
Tulisan ini saya tutup dengan syair terkenal dari Matthew Henry: 
Woman was created, from the rib of man. 
Not from his head: To be above him. 
Not his feet: To walked upon. 
But from his side: To be equal. 
Near his arm: Tobe protected. 
And close to his heart: To 
 beloved. 
#HappyWomensDay

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

0 komentar:

Poskan Komentar