Prolog
Nama Dominikus berarti milik Tuhan. Dominikus
kerap dilambangkan dengan bintang dan anjing dengan obor di
moncongnya, atau Bunda Maria yang sedang menyerahkan rosario kepada seorang biarawan
yang berjubah putih dengan mantol hitam. Dialah seorang imam diosesan yang
mendirikan Ordo Praedicatorum (OP). Selama hidupnya, Dominikus sendiri kerap
mendapat julukan “saudara yang selalu gembira”. Walaupun ia mengalami
tantangan yang amat banyak dengan nyawanya yang terancam, ia tetap penuh pengharapan.
Itu sebabnya, saya jadi teringat seorang eksmahasiswa saya di Universitas
Gajah Mada, bernama Hardi. Bagi saya,“Hardi” bisa berarti Harapan yang abadi. Dominikus
pun memiliki harapan yang abadi karena ia juga menemukan Allah yang
bekerja secara nyata dalam hidupnya. Pergulatan kehidupannya menjadi mata air
pengharapan sekaligus kegembiraan baginya. Bagaimana dengan kita sendiri?
Se buah Skets a Prof i l
Cum enim infirmor, tunc
potens sum
Ketika aku lemah, maka
aku kuat
Suatu ketika, teman saya, Bona Beding pernah
mengajak saya untuk pergi ke
Larantuka. Dia mengatakan, di sana ada
sebuah tradisi bahwa setiap Jumat
Agung diselenggarakan sebuah prosesi Jumat
Agung yang khas (Semana
Santa), berlangsung sampai
pagi Sabtu Suci. Sungguh mengagumkan bahwa
walaupun begitu banyak orang, hampir 10.000
peziarah yang ikut, tapi
suasana hening tetap terjaga. Dengan tertib
mereka berjalan dalam kelompok
masing-masing dengan membawa lilin bernyala.
Mereka larut dalam
kesedihan dan kepedihan bersama Bunda Maria,
karena Yesus puteranya rela
wafat disalib untuk menebus manusia. Di
setiap persinggahan, dilantunkan
pula ratapan Bunda Maria yang begitu
memilukan sehingga umat pun larut
dalam kesedihan dan meneteskan air mata.
Selain Semana Santa, terdapat juga
kebiasaan merayakan liturgi secara meriah, kebiasaan mengadakan perarakan-perarakan,
kebiasaan menghormati Bunda Maria dengan berdoa
Rosario, kebiasaan menghormati orang-orang
kudus seperti: St. Yosef, St.
Dominikus, St. Fransiskus dan St. Antonius.
Kebiasaan ini tetap hidup dan
terpelihara, bahkan telah menjadi budaya
umat Katolik di Larantuka sampai
sekarang. Pelbagai tradisi ini sendiri
diajarkan para misionaris Dominikan
(Ordo yang didirikan oleh Dominikus) kepada
penduduk Larantuka kirakira
500 tahun yang lalu. Sebetulnya, siapa itu
Dominikus?
Dominikus kecil dilahirkan di Castile,
Calaruega, Spanyol pada tahun
1170. Orang tuanya, Don Felix de Guzman dan
Joana dari Aza dikenal
sebagai bangsawan kristen yang saleh dan
taat agama. Joana, ibunya,
kemudian dinyatakan sebagai beata; kakaknya
(Mannes dan Antonio),
mencurahkan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja
sebagai imam; dua orang
keponakannya juga menjadi imam dalam ordo
religius yang didirikannya,
Ordo Dominikan. Mannes dikemudian hari
digelari beato karena kesucian
hidup dan pengabdiannya yang tulus kepada
Tuhan.
Pendidikan awal Dominikus ditangani langsung
oleh pamannya,
seorang imam. Setelah beberapa tahun lamanya
belajar, Dominikus menjadi
seorang imam diosesan. Ia hidup dengan
tenang dalam doa dan ketaatan
bersama para imam lainnya di bawah pimpinan
Uskup Diego de Acebo.
Awal hidupnya sebagai imam, diwarnai dengan
maraknya aliran bidaah
Albigensianisme, yang melancarkan
serangan terhadap kebenaran iman
Gereja Katolik.
Albigensianisme sendiri, yang lahir pada
awal abad ke-13 di kota Albi,
Prancis Selatan ini berkembang pesat di
Eropa. Mereka percaya akan adanya
dua Tuhan: “yang baik dan yang jahat”.
Ajaran ini menyebarkan kebencian
akan materi dan sakramen. Bagi mereka,
materi dipandang sebagai sesuatu
yang jahat dan berasal dari setan. Dengan
pemikiran ini, para pemimpin
mereka sungguh hidup bermati raga dan para
pengikutnya diajar untuk
hidup asketis: menyiksa diri sendiri
bahkan sampai mati (bertolak belakang
dengan para pemimpin Gereja saat itu, yang
kebanyakan hidup dalam
kemewahan). Aliran sesat ini menarik simpati
banyak rakyat kecil di Eropa.
Kelompok Albigens sendiri semakin sulit
diberantas karena pada saat itu,
para imam belum biasa berkhotbah. Khotbah
hanya diperbolehkan bagi
para Uskup yang tentu jumlahnya terbatas.
Selain itu, karena sangat fanatik,
para penganut aliran Albigensianisme ini,
tanpa segan merusak gereja-gereja
dan biara, menghancurkan gambar-gambar kudus
dan kayu kayu salib.
Terdorong oleh desakan batin untuk
memberantas pengaruh jahat
kelompok Albigens ini: contra nequitiam
et insidias diaboli – melawan
kejahatan dan tipu daya
setan,
Dominikus mendapat ilham untuk mendirikan
sebuah tarekat religius yang lebih
memusatkan perhatian pada soal
pewartaan sabda. “Frater qui adiuvatur a
fratre quasi civitas firma - seorang
saudara yang dibantu oleh
saudaranya adalah seperti kota yang teguh”. Oleh
karena itu, pada tahun 1214 Dominikus
mendiskusikan bersama rekanrekannya
rencananya untuk mendirikan sebuah tarekat
religius, sebuah
kelompok imam yang cakap berkhotbah di mana
saja. Ia memandang perlu
adanya para pengkhotbah yang dipersiapkan
dengan baik, hidup disiplin
dan mau hidup sederhana. Kelompok ini
akhirnya dikenal dengan nama
Ordo Predicatorum (OP) atau Ordo
Pengkhotbah atau juga Dominikan. Di
Inggris, mereka disebut,“saudara-saudara
hitam” karena jubah yang mereka
pakai berwarna hitam. Dominikus sendiri
menggabungkan corak hidup doa
kontemplatif dengan kehidupan aktif:
mewartakan Injil di luar biara, kerja
tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup,
belajar dan lain-lain. Misinya
sungguh-sungguh merupakan sesuatu yang baru
karena pada masa itu, hal
pewartaan adalah tugas khas para uskup.
Restu atas berdirinya Ordo Dominikan ini
diperoleh ketika Dominikus
bersama Uskup Fulk mengikuti Konsili Lateran
IV di Roma pada tahun
1215. Paus Innocentius III (1198-1216)
berjanji meneguhkan ordo itu
apabila Dominikus sudah memiliki suatu
aturan hidup membiara yang
terbukti ampuh dan sebuah gereja sebagai
tempat Misa Kudus dan upacara
lainnya. Kedua tuntutan Paus ini akhirnya
terpenuhi. Dominikus bersama
rekan-rekannya sepakat memilih aturan hidup
Santo Agustinus dan
menyusun konstitusi ordo mereka. Uskup Fulk
mempercayakan Gereja Santo
Romanus di Tolouse kepada Dominikus. Di
samping gereja itu, Dominikus
mendirikan rumah biaranya yang pertama untuk
para suster pertapa, yang
kebanyakan anggotanya adalah mereka yang
ditobatkan dari ajaran sesat
Albigens. Ia percaya bahwa melalui teladan
dan doa terus-menerus dari para
kelompok suster ini, cita citanya semakin
mudah terwujud.
Kekhasan Ordo Dominikan ini sendiri juga
diperkuat oleh suatu
pengalaman mistik Dominikus. Ketika berdoa
di Basilika Santo Petrus di
Roma, Dominikus mengalami penglihatan
berikut: Santo Petrus dan Paulus
mendatangi Dominikus. Petrus menyerahkan
kepadanya sebuah kunci, dan
Paulus memberinya sebuah buku. Kepadanya
Petrus dan Paulus berkata:
“Pergilah dan wartakanlah
Injil karena engkau telah ditentukan Allah untuk
misi pelayanan itu.” Kecuali itu, dalam
penglihatan itu pun, Dominikus
menyaksikan para imamnya mewartakan Injil ke
seluruh dunia. “Celakalah
aku jika tidak mewartakan
sabda Allah” adalah kata-kata Paulus yang dipegang
dan dihidupi oleh Dominikus.
Para imam Dominikan terus-menerus berusaha
meluruskan kembali
ajaran-ajaran sesat yang disebut bidaah.
Mereka pada akhirnya berhasil
mengalahkan bidaah yang amat berbahaya
tersebut dengan doa, teristimewa
dengan Doa Rosario dan devosi pada Bunda
Maria: “consolatrix afflictorum,
auxilium christianorum
..., Spes nostra, Regina apostolorum – penghibur orang
yang berdukacita,
pertolongan orang-orang Kristen …, harapan kita, Ratu para
rasul.”
Di Prancis Selatan sendiri, karya pewartaan
itu sulit sekali dilaksanakan
karena kerusuhan politik dan militer waktu
itu. Oleh karena itu, Dominikus
memutuskan untuk mewartakan Injil di wilayah
Eropa lainnya seperti
Spanyol dan Paris sembil tetap menggalakkan
pewartaan di Tolouse dan
Prouille. Dari wilayah-wilayah itu,
Dominikus mulai melancarkan misi
universal ordonya ke berbagai daerah. Untuk
mempertegas ciri khas ordonya,
Dominikus mengundang imam-imamnya untuk
membicarakan berbagai
hal penting seperti pendidikan para imam
Dominikan, kegiatan pewartaan,
kepemimpinan ordo dan penghayatan kaul
kemiskinan. Oleh imamimamnya,
Dominikus sendiri diangkat sebagai pemimpin
ordo pertama.
Ia pun diangkat sebagai pemimpin misi
kepausan di Lombardia, tatkala
umat di wilayah itu diresahkan oleh ajaran
sesat. Bersama Kardinal Egolino,
Dominikus melancarkan perlawanan gencar
terhadap berbagai ajaran sesat:
gaudium etsi laboriosum –
gembira meskipun melelahkan.
Ketika Dominikus hidup, dunia sedang dalam
keadaan kacau balau.
Populasi pertanian di Eropa beralih menjadi
pusat-pusat perkotaan,
menimbulkan gelombang perubahan yang
mempengaruhi kehidupan
termasuk perekonomian, kehidupan sosial,
politik dan keagamaan.
Perguruan Tinggi yang didirikan di
pusat-pusat perkotaan baru ini menarik
generasi muda dan juga perhatiannya. Oleh
karena itu, di akhir hidupnya,
Dominikus mengonsentrasikan diri untuk
mengatur kehidupan ordo
serta membuat perjalanan panjang ke Italia,
Spanyol dan Prancis untuk
berkhotbah serta membangun rumah-rumah biara
yang baru. Semasa
hidupnya, Dominikus juga melihat ordo yang
didirikannya berkembang
hingga ke Polandia, Skandinavia dan
Palestina, juga di Canterbury dan
Oxford di Inggris. Beberapa anggota Ordo
Dominikan yang cukup dikenal,
antara lain: Thomas Aquinas , Albertus
Magnus, Pius V, Martinus de Porres,
Katarina Siena, Rosa de Lima.
Akhirnya, Dominikus meninggal dunia di
Bologna pada tanggal 6
Agustus 1221 setelah menderita sakit keras.
Tentang Dominikus, rekanrekannya
berkata, “Ia terus berbicara dengan Tuhan
dan tentang Tuhan; siang
hari ia bekerja bagi
sesamanya, dan malam hari ia berkontak dengan Tuhan.”
Sebelum meninggal, Dominikus berpesan, “Tetaplah
teguh dalam cinta kasih
dan kerendahan hati, dan
jangan tinggalkan kemiskinan!” Dua belas tahun
setelah kematiannya, yakni pada 3 Juni 1234,
dia dikanonisasikan menjadi
orang kudus oleh Paus Gregorius IX yang
adalah juga sahabat dekatnya dari
Venisia. Ia juga diangkat sebagai pelindung
para astronom, dan pestanya
dirayakan setiap tanggal 8 Agustus.
Refleks i Teologi s
Dodi, Doa dan Studi
Forti animo esto, in
proximo est ut a Deo cureris
Tetapkan hati,
penyembuhan dari Allah sudah dekat saatnya.”
Hidup dalam persaudaraan sejati, “sehati dan
sepikiran menuju Allah”,
adalah tujuan pertama hidup Ordo
Praedicatorium (OP). Hidup seorang
Dominikan ditujukan untuk “berbicara dengan
dan tentang Tuhan”. Oleh
karena itu, doa menjadi bagian hidup
sehari-hari seorang Dominikan.
Selain itu, mereka juga senantiasa bertekun
mencari kebenaran lewat studi.
Studi menjadi kegiatan bersama, di mana
setiap anggota yakin bahwa tidak
ada seorang pun yang mempunyai monopoli atas
kebenaran (Veritas). Di
sinilah, Dominikus melihat studi sebagai
suatu bentuk spiritualitas. Sejak
awal, ia mengirimkan para pengikutnya ke
pusat-pusat studi Eropa untuk
mewartakan Injil sekaligus menimba ilmu.
Oleh karena itulah, mereka
mendirikan biara-biara sebagai sumber dan
pusat pengetahuan, di Paris -
Prancis, Madrid - Spanyol, Roma dan Bologna
- Italia. Mereka juga diutus
untuk menjawab pelbagai tantangan hidup
studi yang berkembang pesat
di Eropa dengan bertumbuhnya
universitas-universitas baru. Sejak awal
didirikan, para imam Dominikan mengajar di
berbagai pusat pendidikan di
Eropa, seperti Sorbonne, Oxford, Toulouse,
Bologna, dan lain-lain.
Di sinilah saya jadi teringat ketika
menjalani pastoral di Seminari Wacana
Bhakti dan Kolese Gomzaga, Jakarta, sekitar tahun
2002. Adalah seorang
seminaris yang bernama Dodi, yang bisa
berarti doa dan studi. Saya juga
melihat bahwa Dominikus menekankan hidup doa
dan studi secara utuh
dan penuh. Baginya, ada kaitan erat antara
hidup doa dan studi. Hal inilah
yang tampak dihidupi secara serius oleh
Dominikus dan para pengikutnya
bukan? Sebut saja, Thomas Aquinas, sebagai
doktor Gereja yang ajarannya
selalu memperkaya refleksi teologi.
Raymundus Penyafort, pelindung para
ahli hukum Gereja. Pius V, Paus yang
mengemban tugas Konsili Trente.
Di abad ke-20 ini, Ordo Dominikan juga
melahirkan pemikir-pemikir
Gereja yang memberi wawasan baru dalam hidup
menggereja, seperti JM.
Langrange yang mendirikan pusat studi Kitab
Suci di Yerusalem, Anawati
yang mempelopori dialog dengan Islam, atau
Yves Congar yang menekankan
pentingnya Roh Kudus dan peranan awam dalam
Gereja.
Dalam perkembangan selanjutnya,
spiritualitas studi ini dihidupi
oleh para Dominikan (imam, bruder, suster
kontemplatif/aktif dan
awam) dengan cara yang lebih beragam. Selain
menekankan pentingnya
memperdalam ilmu-ilmu gerejawi, mereka juga
terlibat dalam disiplin ilmu
lainnya. Bidang sosial-politik diperkaya
oleh kehadiran Bartolomeus de las
Casas, yang menjadi tokoh pembebasan
perbudakan orang-orang Indian di
Amerika Latin.
Jejak mereka saat ini diikuti oleh banyak
anggota Dominikan lainnya
termasuk Gustavo Gutiérrez, seorang pemikir
teologi pembebasan. Bidang
ilmu pengetahuan alam diperkaya oleh
kehadiran Albertus Agung, ahli biologi
dan zoologi yang kemudian diangkat sebagai
santo pelindung para ahli ilmu
pengetahuan alam. Dominikan juga bekerja
dalam bidang kesenian. Beato
Angelico, misalnya, adalah pelukis abad
pertengahan yang karyanya masih
dikagumi banyak seniman sampai saat ini, atau
Sigfrid Undset (+1949,
peraih Nobel Literatur 1928 dari Norwegia).
Tak ketinggalan pula Katarina
dari Siena, seorang mistikus yang menyatukan
Gereja.
Jelasnya, sebuah komunitas Dominikan. yang
dibangun dalam hidup
doa dan studi akhirnya harus mampu membuat
seorang Dominikan menjadi
pelayan umat Allah yang efektif di segala
tempat. Ia diharapkan untuk terus
“berkontemplasi
dan membagikan buah kontemplasinya” (Contemplari et
contemplata aliis
tradere). Inilah
inti pewartaan Dominikan. Doa dan studi
tidak boleh hanya berhenti demi keselamatan
jiwa pribadi, tapi harus menjadi
awal penyelamatan banyak jiwa. Saat ini,
Dominikan hadir di 104 negara,
yang terdiri dari kurang lebih para imam
(10.000), suster kontemplatif
(7.000), suster aktif (51.000), dan
Dominikan awam (74.385).
Ep i log
Filioli mei, non
diligamus verbo neque lingua, sed opera et veritate
Anak-anakku, marilah kita
mengasihi bukan dengan perkataan
atau dengan lidah, tetapi
dengan perbuatan dan dalam kebenaran
Dominikus dikenal sebagai seorang
pengkhotbah sekaligus pendoa, yang
bersahabat dengan Fransiskus dari Asisi,
seorang imam miskin yang rendah hati.
Kedua ordo mereka, yaitu: Dominikan dan
Fransiskan, membantu umat kristen hidup
lebih kudus. Bicara soal kekudusan, Dominikus
sendiri adalah orang yang kudus: Ia
tekun berdoa dan selalu mendorong umatnya
untuk selalu bersikap rendah hati
dan melakukan silih juga doa rosario.
Sepenggal kisah, ketika Dominikus ditanya,
buku apakah yang ia pergunakan untuk
mempersiapkan khotbah-khotbahnya
yang mengagumkan itu. Ia menjawab, “Satu-satunya
buku yang aku gunakan adalah
buku cinta; Injil Yesus
Kristus itulah buku cintaku.”
Berkat Dominikan
Semoga Allah Bapa
memberkati kita
Semoga Allah Putra menyembuhkan
kita
Semoga Allah Roh Kudus
menerangi kita
dan memberi kepada kita
mata untuk melihat
telinga untuk mendengar
tangan untuk melaksanakan
karya Allah
kaki untuk berjalan dan
mulut untuk
mewartakan Sabda
Keselamatan.
semoga Malaikat
Perdamaian menjaga kita,
dan akhirnya berkat
Rahmat Tuhan
membawa kita ke
Kerajaan-Nya
Amin.
0 komentar:
Posting Komentar