Ads 468x60px

Ecce Homo, Yesus, Mel Gibson

Berbicara Tentang Yesus Kristus melalui Film

“Ecce homo!” Itulah salah satu komentar dari antara kita ketika menonton film The Passion of the Christ atau film-film prapaskah seputar Yesus dari Nazaret itu. Apa maksud komentar singkat ini? Di balik kata-kata tersebut kiranya ada endapan pengalaman dan pengertian tertentu, yang menjadi latar belakang.

“Lihatlah manusia itu!” Siapa yang dimaksud “manusia itu”? Tentu saja sosok Yesus dari Nasaret dalam film arahan Mel Gibson itu. Di dalam film, si “manusia” digambarkan begitu rapuh dan tak berdaya. Oleh karena itu wajar kiranya bahwa komentar yang masuk umumnya mengatakan bahwa itu gambaran Yesus yang menderita.

Tapi, gambaran umum ini kemudian menjadi sangat khusus ketika dicermati bahwa masing-masing komentar menyebutkan “keterangan lain” dari sosok Yesus yang menderita itu. Misalnya, Yesus itu tabah, setia, pasrah, bertanggung jawab, tetap bertahan, penuh perjuangan, penuh kepedulian dan cinta, yang menyelamatkan dan menebus manusia, yang penuh gejolak perasaan, dan semacamnya. Ada pula yang memperhatikan segi yang lainnya lagi, yaitu segi “keluarbiasaan” Yesus atau begitu beraninya Yesus. Kita yakin bahwa komentar-komentar ini mempunyai latar belakang endapan pengalaman tertentu dari si pemberi komentar. Bisa juga, di dalam komentar-komentar itu sudah bermain perihal makna. Maksudnya, arti Yesus bagi si pemberi komentar.

Lalu pertanyaannya: Siapa Yesus Kristus? Apakah pengenalan akan Yesus Kristus dapat disimpulkan dari komentar-komentar itu sebagai “Yesus yang umum”? Ataukah Yesus selalu khusus – menyangkut tiap-tiap orang yang mengenalNya? 

Dapat dikatakan bahwa Yesus dalam film The Passion of the Christ  itu pun Yesus yang dikenal oleh Mel Gibson. Maka tidak mengherankan bahwa sebuah komentar menyebut Yesus sebagai “Yesus Mel Gibson”. Dengan demikian apakah kemudian dapat diperbandingkan bahwa Yesus “tertentu” yang dikisahkan Mel Gibson itu kira-kira seperti Yesus “tertentu” dalam refleksi Paulus, atau dalam Injil Markus, Matius, Lukas, Yohanes?

Kita belajar dari riwayat bahwa pengenalan akan Yesus sungguh tidak dapat meninggalkan faktor zaman tertentu dan lingkungan tertentu – tempat manusia beriman hidup. Lalu siapakah Yesus bagi kita yang hidup di zaman internet dan yang tinggal di kota bernama Jakarta ini?


Perihal Orang Yahudi

Segi lain yang muncul dari komentar-komentar yang masuk adalah perihal orang Yahudi dalam hubungan dengan penyaliban Yesus. Ada yang mengatakan bahwa orang Yahudi itu munafik, jahat, melanggar HAM, dan keterlibatan dalam penyaliban itu adalah fakta sejarah. Namun ada yang menyebut “not them but all of us”. Kecuali itu ada yang mengatakan bahwa orang Yahudi tidak salah karena mereka hanya dipakai ‘sarana’ agar rencana Allah dan penebusan Yesus terjadi. Komentar lain: Penyaliban Yesus tidak dapat disalahkan pada kaum Yahudi; mengampuni saudara Yahudi itu yang sebaiknya kita lakukan. Ada pula komentar ini: biarlah orang-orang Yahudi zaman ini tidak menyamakan diri dengan orang-orang Yahudi zaman dulu. Juga ada komentar: yang menyalibkan Yesus bukan hanya orang Yahudi.

Ada sebuah komentar lain lagi yang memberikan perspektif perlambang, yaitu: Orang Yahudi = orang di tempat = lambang kejahatan.


Kritik Film

Mengenai kritik filmnya, ada komentar yang menarik. Film Mel Gibson ini menggunakan bahasa Aram dan Latin. Tetapi mengapa tidak dipakai Yunani, sebab bahasa Yunani pasti digunakan dalam kawasan Palestina yang waktu Yesus hidup bersentuhan dengan kebudayaan helenis? Yang pasti lepas dari semua komentar di atas, harapannya semoga In omnibus quarent Dei, di dalam segala sesuatu, kita menemukan Tuhan. 

0 komentar:

Poskan Komentar