Ads 468x60px

Kardinal FX. Nguyên Van Thuân

Prolog
Ketika SMA, saya cukup aktif dalam Kelompok Ilmiah Remaja dan kelompok Pencinta Alam. Kami kerap hiking, climbing, travelling, dan juga caving bersama.
Dalam kelompok itulah, ada seorang pendaki bernama Beta, yang kerap naik turun gunung. “Beta” sendiri berarti berani menderita. Bagaimana kita juga berani menderita? Fransiskus Xaverius Nguyên Van Thuân, seorang imam dan uskup diosesan di Viêt Nam akan mengajarkannya buat kita. Kardinal Thuân panggilannya. Ia pernah dijebloskan ke dalam penjara oleh pemerintah komunis dan melewatkan 13 tahun dalam kamp komunis, sembilan tahun di antaranya ditempatkan dalam sel isolasi. Dialah seorang kardinal yang dipenjara selama masa pemerintahan tiga Paus: Paulus VI, Yohanes Paulus I, dan Yohanes Paulus II, dan selama masa pemerintahan empat Sekretaris Jenderal Partai Komunis:
Brezhnev, Andropov, Chernenko dan Gorbachev.


Sebuah Sketsa Profil
Fransiskus Xaverius Nguyên Van Thuân dilahirkan pada tanggal 17 April
1928 di Huê, Viêt Nam. Ia berasal dari keluarga yang sangat beriman.

Menurut ceritanya, neneknya setiap malam setia mendaraskan satu doa
rosario untuk ujud panggilan imamat. Mengenai ibunya, bunda Elizabet,
Thuân mengatakan, “Ibu menceritakan kisah-kisah dari Kitab Suci setiap
malam, ia menceritakan kisah-kisah para martir, teristimewa para martir yang
berasal dari leluhur kami; ibu mengajarku untuk mencintai tanah air. Ibu
adalah seorang wanita tegar yang menguburkan saudara-saudara lelakinya yang
tewas dibunuh dengan keji oleh para pengkhianat, yang telah diampuninya
dengan setulus hati. Ketika aku di penjara, ibu yang membesarkan hatiku.
Kepada semua ia mengatakan, `Berdoalah agar puteraku setia kepada Gereja
dan tetap berada di mana Tuhan menghendakinya.’”

Pada tahun 1941, Thuân masuk Seminari Menengah An Ninh dan
ditahbiskan sebagai imam diosesan pada tanggal 11 Juni 1953. Setelah
melanjutkan pendidikan akademisnya selama enam tahun di Universitas
Gregoriana di Roma dan memperoleh gelar doktor dalam hukum Gereja, ia
kembali ke Vietnam dan mengajar di Seminari Nha Trang. Thuân kemudian
diangkat menjadi Rektor Seminari, Vikaris Jenderal dan tak lama ia juga
ditahbiskan sebagai Uskup Nha Trang pada tanggal 13 April 1967. Semboyan
Uskup Thuân adalah Gaudium et Spes (Sukacita dan Pengharapan). Gaudium
et Spes sendiri adalah sebuah Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II, tentang
Gereja dan Panggilan Umat Manusia (Tugas Gereja dalam Dunia Modern).

Adalah sebuah cerita. Ketika Thuân mengatakan kepada ibunya,
Elizabet, bahwa ia akan ditahbiskan sebagai uskup, ibunya menjawab,
“Memangnya kenapa? Kamu masih tetap seorang imam, hanya saja tanggung
jawabmu akan sedikit lebih banyak.” Ketika Thuân diangkat menjadi Uskup
Agung, ia berkata lagi kepada ibunya, “Sekarang aku seorang Uskup Agung,
apakah ibu senang?” Ibunya menjawab, “Lihatlah, kamu masih tetap seorang
imam, pelayanan yang sama.”

Memang pada tanggal 24 April 1975, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Uskup Koajutor (Calon Uskup Pengganti) Keuskupan Agung Saigon (sekarang Ho Chi Minh).
Selang beberapa hari kemudian, Saigon jatuh ke tangan komunis Viet
Cong. Akibatnya, pada tanggal 15 Agustus 1975, pada Pesta SP Maria
Diangkat ke Surga, Mgr. Thuân diundang ke Istana Kemerdekaan, Istana
Presiden di Saigon, hanya untuk ditangkap. Uskup Van Thuân ditangkap
karena iman kristianinya. Thuân dijebloskan ke dalam penjara oleh
pemerintah komunis dan melewatkan 13 tahun dalam kamp komunis,
sembilan tahun di antaranya ditempatkan dalam sel isolasi. Thuân tidak
pernah diadili ataupun dijatuhi hukuman yang pasti.

Ia kerap tersiksa dengan kenyataan bahwa ia terisolasi dan tidak
dapat berbuat apa-apa, juga terlebih jauh dari umatnya. Suatu malam,
dari kedalaman lubuk hatinya, dia mendengar suara yang menasihatinya:

“Mengapakah engkau menyiksa dirimu sendiri? Engkau harus membedakan
antara Tuhan dengan karya-karya Tuhan - segala sesuatu yang telah engkau
lakukan dan ingin terus engkau lakukan: kunjungan pastoral, mendidik para
seminaris, para biarawati dan para anggota ordo-ordo religius, mendirikan
sekolah-sekolah, mewartakan Injil kepada orang-orang non-Kristen. Semua itu
sungguh karya yang mengagumkan, karya Tuhan, tetapi bukan Tuhan! Jika
Tuhan menghendaki engkau menyerahkan semuanya itu dan mempercayakannya
ke dalam tangan penyelenggaraan-Nya, lakukanlah dan percayalah kepada-
Nya. Tuhan pasti akan melakukannya jauh lebih baik dari padamu; Ia akan
mempercayakan karya-Nya kepada orang-orang lain yang lebih mampu
daripadamu. Engkau harus memilih hanya Tuhan, dan bukan karya-karya
Tuhan!”

Sejak saat itu, suatu rasa damai yang baru memenuhi hatinya dan tinggal
bersamanya selama 13 tahun. Pencerahan ini sepenuhnya mengubah cara
berpikirnya. Dia pernah juga dipaksa tinggal dalam sebuah rumah tahanan
di desa Cây Vông, di bawah pengawasan rahasia para polisi Komunis yang
“membaur” dengan penduduk desa. Siang malam dia dihantui oleh pikiran:

Umatku! Umatku yang sangat kukasihi: kawanan domba tanpa gembala!
Bagaimana aku dapat menjangkau umatku, pada saat di mana mereka sangat
membutuhkan pastor mereka? Perpustakaan-perpustakaan Katolik telah disita,
sekolah-sekolah Katolik ditutup, guru-guru religius - pria maupun wanita - yang
mengajar di sekolah-sekolah dipaksa bekerja di sawah. Berpisah dengan umat
sungguh merupakan suatu pukulan dahsyat yang menghancurkan hatiku.”

Suatu ketika, pukul 21.00, pada tanggal 1 Desember 1976, tiba-tiba dia
mendapatkan dirinya berada bersama sekelompok besar tahanan. Dibelenggu
satu dengan yang lain dengan rantai secara berpasangan, dinaikkan ke sebuah
truk. Suatu perjalanan singkat membawanya ke Tan Cang, sebuah bandara
militer baru yang dibuka oleh Amerika beberapa tahun sebelumnya. Di
depannya ada sebuah kapal, tetapi kapal itu disembunyikan sedemikian rupa
sehingga orang tidak akan tahu apa yang sedang terjadi. Kapal itu segera
berlayar ke utara, menempuh jarak 1.700 kilometer.

Bersama para tahanan yang lain, dia ditempatkan di palka kapal di mana
dimuat batu bara. Satu-satunya cahaya berasal dari sebuah lampu minyak
yang kecil; selain itu, yang ada hanya kegelapan yang pekat. Sejumlah
1.500 orang dipaksa bertahan dalam keadaan yang tak dapat diungkapkan
dengan kata-kata itu. Kekalutan menguasai pikirannya, dan dia mencoba
mengingat kata-kata St. Paulus:

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku
pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ
selain daripada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa
penjara dan sengsara menunggu aku.” (Kis 20:22-23).

Selama perjalanan karena para tahanan mengetahui bahwa Uskup Van
Thuân berada dalam kapal, mereka datang kepadanya mengungkapkan
kesedihan mereka. Jam-jam berlalu dan ia mendapati dirinya berbagi
penderitaan dengan mereka serta menghibur mereka sepanjang hari. Malam
kedua, dalam dinginnya bulan Desember di Samudera Pasifik, dia mulai
mengerti bahwa suatu tahap baru dalam panggilannya baru saja dimulai.

Dia melewatkan tiga hari perjalanan dengan menghibur teman-teman
tahanan dan merenungkan sengsara Yesus:

“Menjadikan diri kita “satu” dengan semua orang, dan berani menganggap setiap pribadi - termasuk mereka yang tampaknya paling keji atau jahat - sebagai “sesama”, sebagai saudara atau saudari, kita mengamalkan intisari keselamatan. Kita menjadi saksi kabar
sukacita bahwa di kayu salib Yesus, Tuhan datang mendekati semua orang
yang jauh dari-Nya, untuk menawarkan pengampunan serta penebusan. Oleh
karena itu, pewartaan Kabar Gembira bukanlah tugas yang dipercayakan
hanya kepada para misionaris saja, melainkan merupakan tugas penting bagi
setiap umat Kristiani. Kabar Gembira Tuhan yang dekat dengan kita dapat
diwujudnyatakan hanya jika kita mendekatkan diri dengan semua orang.“

Di sinilah, di sebuah tempat yang begitu tidak nyaman, ia malahan
mendapatkan sebuah peneguhan panggilan imamat dalam batinnya sendiri,
sebuah kalimat yang begitu dashyat:

“Inilah katedralku, inilah umat yang dipercayakan Tuhan kepadaku, dan inilah misiku, yaitu menghadirkan Tuhan secara nyata di antara saudara-saudaraku yang putus asa dan sangat menderita. Adalah kehendak Tuhan aku ada di sini. Aku menerima kehendak-Nya.”

Menurut pengakuannya juga, selama tahun-tahun mengerikan dalam
sel isolasi, yang terberat sepanjang hidupnya bahwa orang yang dia lihat
hanyalah dua pengawal penjara yang dengan tegas diperintahkan untuk tidak
berbicara kepadanya:

“Mereka mengawasi saya, tetapi tidak mau berbicara selain mengatakan ‘ya’ dan ‘tidak’. Saya merasa sepenuhnya ditinggalkan, menderita seperti Yesus di atas salib. Pikiran saya melayang kepada umat saya, para imam, para religius, para seminaris. Di luar sana, ditinggalkan, mereka juga menderita, banyak pula yang terbunuh. Dalam ketakberdayaan
fisik maupun mental, saya menerima rahmat dari Bunda Maria. Saya tidak
diperbolehkan merayakan Misa, jadi saya mendaraskan Salam Maria beratusratus
kali dan Bunda Maria memberi saya kekuatan agar saya mempersatukan
diri dengan Yesus yang terpaku di kayu salib. Saya menjadi sadar bagaimana
Yesus telah menyelamatkan segenap umat manusia, di sana; sendirian di atas
salib, sepenuhnya tergantung di kayu salib. “

Kalung salib yang sampai akhir hidup dikenakannya terus, terbuat dari
kayu dan kawat yang dibuatnya ketika masih dipenjara. Salib dan rantainya
itu bukan hanya menjadi memori nostalgia semasa di penjara, tetapi juga
sebagai memoria pasionis: tanda konkret yang terus-menerus mengingatkan
bahwa hanya belas kasih Kristianilah yang dapat mengubah hati orang. Bukan
senjata, bukan ancaman, bukan media. Salib ini merupakan seruan imannya
yang tak kunjung henti:

“Senantiasa mencinta! Senantiasa mengampuni!
Hiduplah pada saat sekarang ini untuk mewartakan Injil! Setiap saat haruslah
menjadi saat cinta bagi Tuhan.”

Menurut ceritanya setelah ia bebas, “Apakah Bapa Uskup dapat
mempersembahkan Misa dalam penjara?” adalah pertanyaan yang sering
dilontarkan orang. Ia menceritakan bahwa ia digiring ke penjara dengan
tangan kosong. Kemudian, ia diberi ijin untuk menuliskan daftar kebutuhankebutuhan
paling pokok seperti baju, pasta gigi, dan lain-lain. Dia menulis
 “Kirimkan sedikit anggur sebagai obat buat sakit perutku.” Di luar sana, dia
yakin umat pasti mengerti apa yang dia maksudkan. Mereka mengirimkan
anggur Misa dalam sebuah botol kecil dengan label `obat sakit perut’, beserta
beberapa hosti yang telah dipecah-pecahkan menjadi potongan-potongan
kecil. Dia tidak akan pernah dapat mengungkapkan kebahagiaannya: setiap
hari, dengan tiga tetes anggur dan setetes air di telapak tangannya, dia
mempersembahkan Misa.

Dia merasakan bahwa tahun-tahun sengsara di penjara berlalu dengan
sangat lambat. Ketika menderita penghinaan dan merasa ditinggalkan, satusatunya
penolong dan pengharapannya adalah cinta kasih Bunda Maria.
Para pencinta Bunda Maria yang mengagumkan: St.Louis de Montfort, St.
Don Bosco, dan St. Maximilian Kolbe - adalah sahabat-sahabatnya dalam
jalan pengharapan. Mereka mengilhami dan memberinya kepercayaan tak
tergoyahkan akan cinta kasih Maria, Ratu para Rasul dan para Martir.
Ia kerap mengucapkan doa ini kepada Bunda Maria:

“Bunda Maria,
Bundaku, jika engkau tahu bahwa aku sudah tidak berguna lagi bagi Gereja,
berilah aku rahmat untuk mati di sini, di penjara, dan menyempurnakan
kurbanku. Jika engkau tahu bahwa aku masih dapat berguna bagi Gereja,
berilah aku rahmat kebebasan di salah satu hari pestamu.”

Dan, akhirnya pada tanggal 21 November 1988, pada Pesta SP
Maria Dipersembahkan di Bait Allah inilah, Bunda Maria telah menjawab
doanya.

Ia dibebaskan. Setelah dibebaskan dari penjara, Uskup Agung Van
Thuân diusir keluar dari negaranya. Ia diterima oleh Yohanes Paulus II
di Vatikan dan diserahi tanggung jawab dalam “Dewan Kepausan untuk
Keadilan dan Perdamaian”, yang menangani masalah-masalah seperti hutang
Dunia Ketiga. Pada tanggal 24 Juni 1998, Thuân menjabat sebagai Presiden
Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian.

Pada tanggal 21 Februari 2001, Uskup Agung Van Thuân diangkat
sebagai Kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II. Seminggu kemudian
Kementerian Luar Negeri Viêt Nam memperlunak larangan-larangannya
dan mengijinkan Kardinal memasuki tanah kelahirannya dengan hanya
mempergunakan prosedur imigrasi rutin. Kardinal juga mendapatkan segala
hak yang biasa diberikan kepada seorang warga negara asing.

Kardinal F.X. Nguyên Van Thuân akhirnya wafat karena penyakit
kanker pada tanggal 16 September 2002 di sebuah klinik di Roma dalam
usia 74 tahun. Pemakaman dilaksanakan pada tanggal 20 September 2002
pukul 17.30 di Vatikan.

Refleksi Teologis
Alis, Ayo Menulis

Alis. Itulah nama seorang teman saya, seorang frater Jesuit yang sama-sama
pernah belajar filsafat di Jakarta. “Alis” bisa berarti Ayo menulis. Di sinilah
juga, saya mengingat sebuah pepatah kata kata itu menguap, tapi tulisan
abadi. Lewat figur Kardinal F.X. Nguyên Van Thuân inilah, saya semakin
melihat betapa bergunanya sebuah tulisan, sepenggal cerita nyata, sebuah
kisah untuk melawan lupa.

Kardinal F.X. Nguyên Van Thuân persis melakukan apa yang dilakukan
Santo Paulus ketika ia dipenjara: Ia menulis surat-surat kepada komunitaskomunitas
kristiani yang berbeda. Sejak Oktober 1975, dengan perantaraan
seorang bocah kecil berumur tujuh tahun bernama Quang, ia meminta tolong
agar ibunya Quang menyediakan kalender-kalender bekas yang bisa dipakai
untuk menulis. Setiap malam selama bulan Oktober hingga November
1975, ia menulis pesan-pesan harapan dan iman bagi umat dari penjara.

Setiap pagi, Quang akan datang mengambil lembaran-lembaran kertas berisi
pesan-pesan dan membawanya pulang ke rumah. Saudara dan saudarinya
akan menyalin pesan-pesan tersebut untuk dibagikan ke berbagai komunitas.
Begitulah buku “The Road of Hope” ditulis. Buku tersebut kemudian telah
diterbitkan dalam pelbagai bahasa: Vietnam, Inggris, Prancis, Italia, Jerman,
Spanyol, Korea, Cina juga Indonesia (versi Indonesia: Jalan Pengharapan,
Penerbit Obor).

Pada tahun 1980, ketika dia dipaksa tinggal di Giang Xa, Vietnam
Utara, dia juga menulis bukunya yang kedua (sekali lagi pada waktu malam
dan secara sembunyi-sembunyi): The Road of Hope in Light of God’s Word
and of Vatican Council II (Jalan Pengharapan dalam Terang Sabda Tuhan dan
Konsili Vatikan II); dan kemudian buku yang ketiga Pilgrims on the Road of
Hope (Ziarah di Jalan Pengharapan).

Dalam Tahun Yubileum 2000, Paus Yohanes Paulus II pernah memintanya
untuk memberikan ceramah dalam retret tahunan bagi Paus dan para anggota
Kuria Roma yang diadakan pada tanggal 12-18 Maret 2000. Bapa Suci
meminta Uskup Agung Van Thuân menceritakan dan menuliskan kesaksian
hidupnya sebagai seorang yang patut disebut sebagai martir hidup, seorang
saksi iman. Ceramah retretnya merupakan bagian dari e-mail harian yang
disebarluaskan oleh Zenit, suatu kantor berita internasional. Melalui retret
inilah, dunia mulai mengenal Van Thuân dan pesan-pesan pengharapannya.

Di kemudian hari, ceramahnya diterbitkan dengan judul Testimony of Hope.
Judul ini amat tepat sebab seluruh isi ceramahnya berbicara tentang sukacita
dan pengharapan, bahkan dalam penderitaan dan dalam bayang-bayang
kematian. Kardinal Nguyen menceritakan juga bagaimana pengalamannya
ketika ia harus menghadapi penghukuman karena imannya. Imannya akan
Kristus, itulah kekuatannya selama masa waktu tiga belas tahun tersebut.

Saya pribadi merasa lega dan bahagia. Syukurlah, Kardinal Thuan mau
menulis dan berbagi cerita. Syukurlah dia mau mengenang, menangis,
dan mungkin sesekali terpana melihat kembali dan membagikan kisahnya
kepada yang lain. Kita yang mendengarkan atau membaca ceritanya,
mungkin tidak percaya bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi. Akan tetapi,
hal itu sungguh terjadi, bukan? Apa yang dilakukannya dengan bercerita
dan membuat tulisan yang menyentuh dimensi iman dan kehidupan, bukan
hanya supaya kita bisa untuk melihat ke masa lalu, tetapi supaya kita juga
bisa untuk menatap dengan penuh harapan ke masa depan, dan supaya kita
berjuang sehingga apa yang membuat pedih dan menyayat hati di masa lalu
tidak lagi terulang di masa depan.

Yah, Kardinal Thuan mengajak kita belajar menengok ke masa lalu, tetapi
sekaligus juga berjuang untuk masa depan! Masa depan yang lebih baik, di
mana setiap orang dihargai sesuai dengan harkat dan martabatnya. Sigmund
Freud, seorang filsuf dan pakar psiko-analisa pernah mengatakan bahwa
bercerita itu pada hakikatnya sudah selalu memiliki efek penyembuhan, yakni
penyembuhan atas berbagai trauma. Efek penyembuhan itu mempunyai
pengaruh besar terhadap masa depan, yakni untuk mencegah keberulangan
suatu peristiwa yang menyakitkan dan menyayat hati, seperti kejahatan
terhadap kemanusiaan yang sudah memenuhi kalender sejarah kehidupan
manusia.

Di sinilah, Kardinal Thuan jelas bercerita di banyak ruang kecil, setiap
pengalaman juga pergulatan imannya ini, dan cerita ini sangat bisa jadi juga
menyembuhkan trauma yang dia alami. Cerita ini juga bisa jadi ada yang akan
menetap di dalam hati dan pikiran kita yang membacanya, bukan? Sayang
bukan, kalau setiap pengalaman iman yang begitu indah hilang begitu saja
ditelan waktu yang terus berjalan, tanpa sempat untuk dibagikan?

Ep i log
Tempus fugit.
Waktu itu berlalu.
(Kutipan dari karya Vergilius, Georgicon III:284).

Dalam homili misa requiem untuk Kardinal F.X. Nguyên Van Thuân, Paus
Yohanes Paulus II mengatakan:

ementara kita mengucapkan selamat berpisah
untuk terakhir kalinya kepada bentara Injil Kristus yang gagah berani ini, kita
menghaturkan puji syukur kepada Kristus yang melalui dia telah memberi kita
teladan gemilang akan kepercayaan Kristiani hingga tingkat kemartiran …
Rahasianya adalah kepenuhan iman akan Allah, yang disuburkan dengan doa
dan penderitaan yang ia terima dengan cinta. Di penjara, ia merayakan Ekaristi
setiap hari dengan tiga tetes anggur dan setetes air di telapak tangannya. Itulah
altarnya, katedralnya. Tubuh Kristus adalah ‘obatnya’.” “Dalam pernyataan
rohaninya,” lanjut Paus, “sesudah memohon pengampunan, kardinal
meyakinkan kami bahwa ia akan terus mencintai semua orang. Ia pergi dengan
damai.”

Lewat penggalan khotbah Paus di atas, kita boleh jadi balik bertanya,
“Bagaimana Thuân dapat bertahan dari kengerian masa-masa di penjara?”
Jawabannya tampak dalam pelbagai tulisannya, “Saya tidak mempunyai
perasaan tidak suka terhadap siapa pun. Saya mempersembahkan segala
penderitaan ini kepada St. Perawan Maria Tak Bercela dan St. Yusuf. Saya juga
ingin menyampaikan tiga nasihat sederhana: cintailah Santa Perawan Maria
dan percayalah kepada St. Yusuf; setialah kepada Gereja, dan hidup rukun serta
penuh belas kasihanlah terhadap semua orang.”

Pelbagai jawaban lain dikisahkannya dalam sebuah buku yang berjudul
Five Loaves and Two Fish (versi Indonesia: Lima Jelai Roti dan Dua Ekor
Ikan, Penerbit Obor), yang terdiri dari pelbagai nasihat-nasihat rohaninya.

Tampak jelas di sini, Uskup Van Thuân tidak saja mampu bertahan, tetapi
ia keluar dari penjara sebagai seorang beriman dengan ketulusan hati yang
nyata, tenang dan bijaksana serta penuh sukacita pengharapan.

Dalam bukunya The Way of Hope, Thoughts of Light from a Prison Cell,
Thuân menulis: “Di negeri kami ada pepatah yang mengatakan:
Satu hari dalam penjara sama artinya dengan seribu musim gugur dalam kebebasan.’
Saya sendiri mengalaminya. Ketika di penjara, setiap orang menantikan
kebebasan, setiap hari, setiap menit. Kita harus hidup setiap hari, setiap
menit dari hidup kita seolah-olah itulah saat terakhir kita.”

Tampaklah jelas, semakin ia menghargai hidup, semakin ia tampil seperti “Beta”.
Ya ... dia berani menderita karena Kristus juga pernah menderita, bukan? Bagaimana
dengan kita sendiri?

“… Angin topan bertiup menimpa pohon-pohon, menggugurkan daundaun
kering, dan merontokkan ranting-ranting lapuk.
Akan tetapi, topan itu tak dapat mencabut Salib Suci yang tertanam
dalam di perut bumi.
Jangan menyesali hilangnya ranting-ranting itu.
Jika tidak ada angin pun mereka pasti akan jatuh, dan jika mereka
tidak jatuh pun masih tetap perlu dipangkas.
Jika engkau ingin menghindari penderitaan, jangan berharap untuk
menjadi seorang kudus….”
(Fransiskus Xaverius Nguyên Van Thuân)

0 komentar:

Posting Komentar