Ads 468x60px

ANAK - Anugerah tereNAK

@Buku "XXX - Family Way" (Kanisius)
Ada dua yang bisa diwariskan pada anak-anak kita: 
Satu adalah akar, dua adalah sayap. 
There are two lasting bequests we can give our children: One is roots. The other is wings. 

Sebuah kisah tentang kasih: 
Adalah seorang ayah yang mendadak berubah menjadi pemabuk dan menjadi kasar sejak isteri tercintanya meninggal. Putri satu-satunya yang baru berusia 7 tahun juga menjadi pemurung karena kerap diperlakukan ayahnya dengan kasar. Suatu hari si putri membungkus suatu kado istimewa bagi ayahnya yang sedang berulang tahun. Ayahnya terhenyak dan terharu menerima bungkusan kado itu. Tetapi waktu ia membukanya, amarahnya meledak. Bungkusan itu ternyata kosong. ‘Tapi, yah’, sedu si putri, ‘Kado itu tidak kosong, Aku telah meniupinya hingga penuh dengan ciuman kasih sayang.’ 
Beberapa saat kemudian si putri meninggal. Si ayah tambah terpukul. Ia menyesal setengah mati telah memperlakukan putrinya dengan kasar. Ia teringat akan kado anaknya yang masih disimpannya. Ia meletakkannya di samping tempat tidur, dan setiap hari ia membukanya dan menghirup ciuman kasih sayang dari putri tercintanya. 

Philippe Aries dalam Centauries of Childhood, mengajak kita meyakini bahwa wajah dan hati anak, seperti tampak dalam kisah memilukan di atas, adalah wajah dan hati tanpa dosa. Bahasanya hadits nabi: “setiap anak lahir dalam keadaan suci (fitrah).” Bahkan Yesus dari Nazaret pernah berujar: “Biarlah anak-anak datang padaKu. Barangsiapa tidak bisa menjadi seperti anak-anak, tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan surga.” 

Bicara soal keluarga, setiap keluarga pada umumnya sangat senang jika mempunyai anak, bukan? Bapak dan ibu saya sendiri mempunyai tiga anak, kebetulan saya adalah anak yang paling besar. Istilah “anak” (jamak: anak-anak) bisa diartikan sebagai seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, dimana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa. Walaupun begitu istilah ini juga sering merujuk pada perkembangan mental seseorang, walaupun usianya secara biologis dan kronologis seseorang sudah termasuk dewasa namun apabila perkembangan mentalnya ataukah urutan umurnya maka seseorang dapat saja diasosiasikan dengan istilah "anak". Perlu kita ingat juga bahwa anak saat ini adalah penentu bangsa di masa mendatang, oleh karena itu berikan kesempatan kepada mereka agar dapat dilahirkan dengan selamat, tumbuh dengan sehat, dan berkembang secara optimal.

Bagi saya sendiri, anak bisa berarti, “anugerah ter-enak”. Mengapa anugerah ter-enak? Saya mengamati kerap anak menjadi jembatan iman buat orangtuanya untuk mau dibaptis dan tertarik memeluk agama Katolik, membuat orangtuanya memutuskan untuk tidak jadi bercerai dan mementingkan ego-nya sendiri, membuat orangtuanya lebih mawas diri dan bersabar ketika ada konflik dengan pasangan atau dengan tempat kerjanya. 

Jelaslah, anak-anak sungguh-sungguh hadir sebagai anugerah terenak dalam sebuah keluarga: Ia menjadi pembawa damai, pembawa semangat hidup dan pertobatan, sekaligus menjadi seperti pelumas dan pelemas konflik, yang kadang terjadi dalam sebuah keluarga. 

Bagi banyak orang, anak jelas-jelas adalah dari surga. Ia merupakan kombinasi baru dari dua kehidupan, seyogianya (as it should be) kombinasi yang menghasilkan ‘produk’ yang lebih baik. Dalam diri seorang anak, hidup dan tumbuh karakter ayah dan ibunya sekaligus. Anak adalah kombinasi terbaik dari sifat-sifat (gen) terbaik ayah dan ibunya. Anak juga adalah penghuni masa depan. Sebab itu amat penting melakukan perlindungan anak tanpa harus menciptakan belenggu, aturan, dan ikatan-ikatan yang mengganggu kesuburan kreativitasnya, bukan? 

Di bawah ini, ada beberapa kegiatan perlindungan anak yang tentunya juga bisa dipraktekkan dalam keluarga kita masing-masing:

1. Memberi ASI pada usia 1-5 bulan pertama. Tidak memberikan ASI (kecuali alasan medis) berarti melanggar hak azasi anak.
2. Menyediakan gizi yang memenuhi syarat sejak kecil. Itu juga hak azasinya. Pemenuhan gizi tidak memerlukan biaya mahal.
3. Memberi contoh yang baik. Mendisiplinkan anak melalui teladan, dialog, kasih dan konsistensi dalam pengaturan waktu di keluarga untuk pelbagai kegiatan.
4. Menyediakan alat permainan yang mendorong potensi kreativitasnya. Jangan memberikan permainan elektronik yang membuat dia sebagai penonton.
5. Melindungi secara ketat terhadap pelecehan seksual. Sejak bayi pendidikan seks sudah diberikan. Jauhkan anak dari orang-orang/ pihak yang kurang senonoh.
6. Melindungi secara ketat terhadap kekerasan langsung. Hindari menonton pertunjukan/ film atau adegan kekerasan.
7. Melindungi secara ketat terhadap ajaran sesat dari lingkungannya (ajakan narkoba, ajakan merokok, ajakan alkohol, ajaran sesat). Selalu monitor mengapa ia melakukan hal-hal yang dirasa menyimpang. Biasakan dia dengan kegiatan bersifat iman (ibadah, beramal dan lainnya).
8. Menyediakan tabungan sejak kecil. Di Inggris, bagi setiap anak yang lahir, maka Pemerintah melalui Child Trust Funds menyediakan tabungan sebesar 250 sampai 500 poundsterling, makin miskin keluarganya makin tinggi tabungannya. Tabungan itu bisa dibuka pada usia 18, sehingga anak itu sudah lebih bisa mandiri.
9. Mengasuransikan, khususnya beasiswa. Di kebanyakan negara maju, hal ini otomatis ditanggung Pemerintah.
10. Membelikan buku-buku dan alat bantu belajar yang bagus dan sesuai dengan perkembangannya. Hindari buku porno. Hindari buku-buku yang menyesatkan. Sedapatnya ajarkan mengenai pornografi dan bahayanya sejak ia sudah bisa menangkap.
11. Pendidikan seks pada anak dimulai sejak balita. Pendidikan ini tidak boleh terlalu verbal, tetapi melalui contoh dan teladan, dialog seimbang (orangtua pandai dan bersedia mendengarkan), dan ketersediaan alat atau saran bantu misalnya Peta Ovulasi, buku-buku yang sesuai, dan lingkungan pergaulan yang lebih terawasi.

Sekarang saya mau mengangkat sebuah kisah lain, tentang anak yang begitu berharga bagi keluarganya. Begini ceritanya: 

Seorang ibu muda, Karen namanya, sedang mengandung bayinya yang kedua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael, anaknya yang pertama yang baru berusia 3 tahun, untuk menerima kehadiran adiknya. Michael senang sekali. Kerap kali ia menempelkan telinganya di perut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam, adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen, "Bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi." Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan Michael. Sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami... aku mau nyanyi buat adik kecil!" Karen kurang tanggap. Ia terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. "Mami.... aku mau nyanyi buat adik kecil. Aku mau nyanyi. Aku mau nyanyi!!!" Itu berulang kali diminta Michael bahkan sambil menangis meraung-raung. Karen tetap menganggap rengekan Michael sebagai rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. "Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!" batinnya.

Ia dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. "Anak kecil dilarang masuk!" Karen ragu-ragu. "Tapi, suster...." suster tak mau tahu. "Ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk!" Karen menatap tajam suster itu, lalu berkata, "Suster, sebelum diizinkan bernyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!" Suster terdiam menatap Michael dan berkata, "Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!"

Demikianlah, kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya. Lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring, "You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey...."

Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. "You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away." Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan, "Terus.... terus Michael! Teruskan sayang...," bisik ibunya sambil menangis.

The other night, dear, as I laid sleeping, I dreamt, I held you in my..." Dan, Sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur..."I'll always love you and make you happy, if you will only stay the same..." Sang adik kelihatan begitu tenang, sangat tenang.

"Lagi sayang..." bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, rileks dan damai... lalu tertidur lelap. Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Amat dicintai seseorang memberimu kekuatan. Amat mencintai seseorang memberimu keberanian. -- Being deeply loved by someone gives you strength while loving someone deeply gives you courage, begitu kata Lao-Tsu. Begitu juga yang terjadi dalam kisah ini, hari berikutnya, satu hari kemudian, si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah terapi ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai mukjizat Tuhan yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! Mereka pun semakin bersyukur atas hadirnya dua anak, anugerah terenak dalam rumah tangga mereka.

Jelaslah bahwa kasih Tuhan itu membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you" kepada adiknya. Dan ternyata kasih Tuhan membutuhkan hati polos seorang anak kecil "Michael" untuk memberi kehidupan dan harapan juga buat orangtua dan adiknya. 

Dan, mengingat arti kata “anak” sebagai, “anugerah ter-enak”, ada baiknya setiap anggota keluarga (terlebih orangtua) merenungkan 10 petikan syair Kahlil Gibran berikut ini, agar jangan sampai mengambil sikap keliru terhadap “anugerah ter-enak” dari Tuhan ini: 

1. Anakmu putra-putri Sang Hidup. Yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir. Tetapi tidak dari engkau
2. Mereka ada padamu tetapi bukan hakmu
3. Berikan mereka kasih sayangmu. Tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu. Sebab pada mereka ada alam pikiran sendiri
4. Patut kau beri mereka rumah untuk raganya. Tetapi bukan untuk jiwanya
5. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan. Yang tidak dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian
6. Kau boleh menyerupai mereka. Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
7. Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur. Pun tidak pernah tenggelam di masa lampau
8. Kau busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Mana Tahu sasaran bidikan keabadian. Dia menentangmu dengan kekuasaanNya. Hingga anak panah melesat jauh serta cepat
9. Meliuklah dalam suka cita dalam rentangan maha pemanah. Sebab Dia mengasihi anak panah
10. Yang melesat laksana kilat, Sebagaimana dikasihiNya busur yang mantap.

Mencandra sepuluh kutipan kalimat penyair dari Libanon di atas, tampak jelas bahwa sejak dulu anak mendapat perHATIan dalam sebuah keluarga. Di lain matra, saya juga mengamati pentingnya pendampingan anak terlebih dalam masa balita. Adalah merupakan sebuah pengamatan: hampir semua orang sepakat bila selama 5 tahun pertama orang tua bersikap totaliter, orang tua sering bertengkar, anak terlalu sering jauh dari orang tua, suasana rumah kumuh dan tidak sehat, kurang gizi, dan lainnya, maka seumur hidup si anak akan mengalami kesulitan bersosialisasi dan bersikap. Emotional Quotient akan rendah. 

Sebaliknya bila selama 5 tahun pertama orang tua memberi waktu cukup ruang untuk bermain, bermesra, memperhatikan, memuji, memberi peluang, bertanya, memberi contoh terbaik dan pendekatan-pendekatan afektif lain, dijamin seumur hidup ia akan menjadi pribadi yang seimbang, dapat memecahkan masalah-masalah kehidupan dengan lebih baik. Itu sebabnya pembentukan watak bukan tugas sekolah. Sekolah pun tidak menjadi tempat guna mengajari atau membentuk (sering disebut ‘mencetak’) manusia yang berotak, berakhlak dan berwatak. Tugas sekolah tidak lebih daripada membuka pintu ke ruang-ruang eksplorasi ilmu, pengetahuan, informasi, dan selebihnya anak harus masuk sendiri. 
Watak, keimanan, karakter, kreativitas, kejujuran tidak bisa diajarkan, pun oleh sekolah. Semuanya bibit itu tertanam dalam 5 tahun pertama dan diasah kemudian pada tahun-tahun berikutnya di keluarga (bukan di sekolah) sampai remaja itu menjadi dewasa.

Menyitir Hudding Carter, lima tahun pertama dari kehidupan adalah masa penanaman akar yang kuat pada anak. Akar itu ditanamkan lewat teladan, gaya hidup suami-isteri, contoh (bukan nasehat, bukan larangan), kasih, cinta, perhatian (care), kesabaran, kehangatan di keluarga, gizi seimbang, serta pelbagai permainan kreatif. Hal kedua yang diwariskan adalah sayap, yaitu kemampuan, kepercayaan diri, wawasan, potensi dan bakat-bakat, kemandirian, kejujuran.

Akhirnya, walaupun Kahlil Gibran pernah berujar, "Anakmu, bukan milikmu. Tapi milik kehidupan ...," tapi sekali lagi kita diajak bertanya, sudahkah kita bersyukur atas anak-anak dan saudara-saudari yang ada di keluarga kita juga? 

Tak lupa, marilah kita juga berdoa dan berbagi kepada setiap anak yang menjadi “korban”, yang juga tak punya orangtua: Mereka menjadi terlantar, miskin, cacat, rapuh, sakit, dan tak jelas asalnya. Seperti tulisan harian Anne Frank, seorang anak gadis Yahudi, korban holocaust Nazi diantara 1.500.000 anak lainnya: “Suatu hari, perang gila ini kan usai, waktunya akan tiba bagi kami tuk menjadi manusia kembali.” Banyak diantara anak-anak di sekitar kita ada dalam ketidakpastian dan penantian. Mereka terpisah dari afeksi pun harta benda. Terpinggir oleh ganasnya arus modern. Terceraikan dari kerabat dan sahabat. Tersingkirkan dari orangtua. Mereka saling merindukan, saling ingin menghadirkan dan menghibur. Ngomong-ngomong kita bisa berbuat apa sekarang?

Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya;
tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya
Amsal 13:24

0 komentar:

Poskan Komentar