Ads 468x60px

ERNST BLOCH: Seorang Ateis-Marxis Pembuka Jalan Teologi Harapan


Selayang Pandang

Abstraksi:
Harapan merupakan salah satu daya dorong manusia untuk bertahan hidup atau untuk menata hidup di masa depan. Dengan adanya harapan, manusia didorong untuk hidup dalam keadaan dinamis. Namun demikian tidak setiap orang menyadari dan mencoba memahami harapan secara intelektual. Ernst Bloch seorang ateis Marxis mencoba menggulatinya. Pergulatan tersebut tidak terlepas dari perjalanan pemikiran pendahulunya. Pemikirannya ternyata juga memberikan sumbangan pada teolog-teolog kristen dalam merefleksikan hidup imannya. Dengan harapan, iman tidaklah sia-sia.


Pengantar: 
Seorang pengarang bernama Curt Caddorette pernah menulis buku yang berjudul From the heart of the people: The Theology of Gustavo Gutierrez. Buku ini secara khusus mencoba melihat kehidupan tokoh besar teologi Pembebasan Peru Gustavo Gutierrez. Dalam salah satu babnya, Ia menulis tentang seorang ateis Marxis yang bernama Ernst Bloch. Ternyata tulisan-tulisan Bloch dinilai sangat berpengaruh pada pemikiran Gutierrez terutama berkaitan dengan harapan yang dinilai ada di tengah-tengah kaum tertindas. 

Dalam tulisan yang sederhana ini, akan diperkenalkan siapa itu Bloch. Selain itu, akan dipaparkan juga latar belakang filosofis Bloch yang sangat dipengaruhi oleh Hegel, Feuerbach dan Marx. Bagian terakhir, tulisan ini mengintip salah satu karya raksasa Bloch yang berjudul The principle of Hope yang merupakan terjemahan dari Das Prinzip Hoffnung.

Hidup dan Karya Ernst Bloch 
Ernst Bloch lahir di Ludwigshafen am Rein pada tanggal 8 Juli 1889. Ayahnya seorang pegawai pemerintah. Bloch mempunyai darah Yahudi. Keyahudiannya cukup mewarnai pemikiran Bloch dalam tulisan-tulisannya. Dari tulisan-tulisan Bloch, kita dapat merasakan kehausannya untuk menghubungkan tradisi intelektual Jerman dan semangat mesianis Yahud. Namun demikian, keyahudiannya juga menempatkannya pada suatu kehidupan yang dramatis dan berbahaya.

Masa sekolahnya di Manhein telah menuntun Bloch untuk mengasah kemampuan refleksi filosofisnya. Sejak masa kecilnya, Bloch sudah akrab dengan bacaan-bacaan dan booklet-booklet tentang materialisme dan atheisme. Ia mulai mengenal tulisan-tulisan Karl May, Kant, Hegel, Fichte, Marx dan Engels. Bloch melanjutkan studi di tingkat universiter di Munich dan Wurzburg. Di Wurzburg sendiri ia bertemu dengan psikolog eksperimental Oswald Kulpe. Pada tahun 1908, Bloch mengakhiri studi universitasnya dengan desertasi mengenai Henrich Rickert, seorang neo-kantian.

Bloch pergi ke Berlin untuk bekerja sebagai wartawan lepas dan studi khusus. Di Berlin, ia bertemu dengan George Simmel. Dengan perantaraan Simmel, ia dapat pergi ke Heidelberg pada tahun 1913. Boch menjadi aktivis dalam lingkaran Karls Jasper, George Lukacs dan Max Weber. Bloch yang kala itu adalah seorang pacifis dan sosialis sangat tidak puas dengan militerisme Jerman dalam perang pada tahun 1914. Sebagai salah satu protes melawan militerisme ini, ia meninggalkan Jerman dan pergi ke Swiss. Di Swiss pada tahun 1918 ia menulis karya utamanya yang pertama, Geist der Utopie (Spirit of Utopia).

Pada tahun 1920, ia kembali ke Munich. Setahun kemudian ia pergi ke Berlin dan tinggal di sana sampai tahun 1924. Dua tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1921, ia mempublikasikan buku tentang Thomas Munzer als Theologe der Revolution (Thomas Munzer as the theologian of the revolutions). Karya ini merupakan sebuah studi mengenai revolusioner Marxis pada pemimpin petani yang muncul dalam pertempuran Frankenhousen pata tahun 1525. Pada tahun 1923, Bloch merevisi Spirit of Utopia dan menerbitkan dalam bentuk yang sekarang ini.

Dari tahun 1924-1927, Bloch mengadakan perjalanan keliling Italia, Perancis dan Afrika Utara. Dari tahun 1928-1933, Bloch kembali ke Berlin. Di situlah ia berkontak dengan Walter Benjamin dan Bertold Brecht. Pada tahun 1930, ia menerbitkan bukunya yang berjudul Spuren, yaitu cerita-cerita yang ditulis sebagai ingatan masa kanak-kanak.

Pada tahun 1933 setelah menuliskan sebuah kritik yang bersifat sindiran atas Third Reich, Bloch di persona non grata kan oleh Rezim Nazi sebagaimana yang dialami oleh para intelektual jaman itu. Ia juga harus meninggalkan Jerman. Ia pergi ke Zurich, Praha, Wina dan Paris. Dalam masa pembuangannya ini ia menulis Erbschaft Dieser Zut (This time’s legacy) yaitu sebuah analisis kritis mengenai regim Nazi. Di masa pembuangan inilah, ia mempunyai cukup waktu untuk berefleksi dan menulis.

Sebagaimana dialami oleh teman-teman Jermannya, Bloch tinggal di Amerika Serikat pada tahun 1938-1949. Namun demikian Bloch sendiri tidak memperoleh simpati dan sukses sebagaimana dialami oleh teman-temannya. Karena kurang menguasai bahasa Inggris, Bloch tidak dapat mengajar di sana. Untungnya, isterinya Carola , adalah seorang arsitek memperoleh pengakuan sehingga dapat mendukung Bloch. Agaknya ia mengalami kesepian di Amerika Serikat. Dan di situlah, ia mendapat cukup waktu untuk menyelesaikan karya raksasanya Das Prinzip Hoffnung (The principle of Hope). Karya ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1955 dan kemudian pada tahun 1959.

Pada tahun 1949, Bloch kembali dari Amerika Serikat dan menjadi profesor filsafat di Leipzig. Tiga tahun kemudian, ia menerbitkan hasil studinya atas karya Hegel dengan judul Subjekt-Objekt: Erlauterungen zu Hegel (Subjek-Objek: Komentar atas Hegel). Namun demikian, segera ia menuai banyak kritikan dari regim komunis Jerman Timur. Pada tahun 1961, sewaktu ia mengunjungi Jerman Barat, pecahlah krisis tembok Berlin. Bloch memutuskan untuk tinggal di Jerman Barat. Ia menjadi profesor tamu di Universitas Tubingen.

Kuliah pembukaannya di Tubingen sungguh-sungguh mengesankan. Tema yang diajukan sungguh-sungguh berkaitan erat dengan hidup dan karyanyam yaitu Kann Hoffnung entauscht werden? (Can hope be disappointed?). Jawaban yang muncul demikian: harapan dapat dikecewakan dan mungkin harapan itu sendiri tidak diharapkan. Kemudian ia menerbitkan Tubinger Einleitung in die philosophie dalam dua volume. Pada tahun 1867 Bloch memperoleh penghargaan Friendenspreis der deuschen Buchhandel. Pada tahun 1968, muncul karyanya yang baru: Atheismus im Christentum (Atheism in Christianity). Dalam buku ini, ia mengatakan bahwa hanya seorang ateis yang baik dapat menjadi orang kristen yang baik dan hanya orang kristen yang baik yang dapat menjadi seorang atheis yang baik. Inilah yang menjadi salah satu elemen yang penting dalam pemikiran Bloch.

Tahun 1965, pada acara ulang tahun Bloch yang ke 80, teman-temannya menyiapkan sebuah karya sebagai penghormatan kepadanya yang berjudul Ernst Bloch zu ehren. Ada 18 kontribusi tulisan yang terdiri dari 5 secara murni berisi teologis dan 2 karya semi teologis Bloch meninggal pada tahun 1977.

Latar Belakang Filosofis 
Pemikiran Bloch sangat dipengaruhi oleh Hegel, Feuerbach dan Marx. Dengan pengaruh pemikiran ketiga tokoh tersebut, Bloch mampu menyelesaikan karya raksasanyanya yang berjudul : Das Prinzip Hoffnung (Principle of Hope). Di bagian ini kita akan mencoba melihat bagaimana persinggungan pemikiran antara Bloch dengan ketiga pemikir besar tersebut. Secara berurutan dengan mengambil ide yang ditawarkan oleh Bosco Puthur, kita akan melihat pemikiran Hegel, Feuerbach dan Karl Marx yang mempunyai pengaruh pada Bloch.

Know thy-self melalui relasi Subjek-objek dalam Hegel.
Menurut Bloch “Know thy-self” adalah inti dari materi dalam Hegel. Dengan ide dasar tersebut, Bloch mencoba membangun pemikiran filosofisnya secara radikal. Ide tersebut disarikan oleh Bloch dalam satu kalimat filosofis’, S is not yet P. Pernyataan ini didukung oleh hidup dan kerja Bloch yang berdasarkan pada pendirian bahwa realitas adalah sesuatu yang dinamis. Realitas yang dinamis bahkan juga tidak berbekas pada kata-kata, sekalipun sedang diucapkan. Ada konsekwensi yang muncul bila orang mengatakan S adalah P. Konsekwensi yang muncul adalah terjadinya pemalsuan situasi karena dalam waktu yang dibutuhkan untuk mengucapkan frase pendek sekalipun, pergerakan realitas menuju sebuah masa depan yang masih tidak terdefinisikan yang tidak dapat ditawar-tawar. Di sini terjadi apa yang dikata sebagai “merelatifkan pernyataan”. Faktanya, Bloch berusaha untuk tidak jatuh pada sebuah pandangan realitas yang statis. Pandangan statis ini merupakan sebuah kondisi yang menghalangi gerak maju dalam perjalanan sejarah.

Dengan mengatakan “S is not yet P, Bloch melihat bahwa sumber eksistensi manusia bersifat kreatif. Ia sedang berusaha menunjukkan harapan kreatif manusia. Harapan tersebut menyebabkan tindakan pada masa kini untuk membentuk masa depan. Yang dimaksud oleh Bloch “S is not yet P” berarti subjek belum mencapai sepenuh-penuhnya predikat.

Pemikiran Hegel dipertimbangkan Bloch sebagai dorongan untuk mengabdikan pada arti dan nilai pengalaman yang mutlak. Dorongan ini membutuhkan sebuah keterlibatan yang mendalam dalam proses subjek mencari objek. Yang menarik perhatian Bloch pada pemikian Hegel adalah ketidakmungkinan subjek dalam mengingini dan berusaha untuk mencapai objeknya. 

Untuk menerangkan relasi subjek-objek ini, Bloch menunjukkan beberapa karya Hegel seperti Phenomenology of Mind, dan Philosophy of Religion. Dalam Phenomenology of Mind, Bloch menangkap bahwa Hegel mencoba menampilkan relasi subjek-objek dengan narasi seseorang pejalan. Seorang pejalan diperkaya dengan pengalaman di luar dirinya seperti melihat ladang, hutan dan gunung-gunung. Ia juga mengenali mana jalan yang salah dan benar. Rumah yang menjadi akhir dari perjalanan tidak pernahlah menjadi tempat perlindungan yang jelas melainkan sebagai sebuah tujuan yang akan dicapai. Namun demikian, ketika pejalan itu melihat kembali perjalanannya dari titik tujuan yang telah ia capai, sekali lagi ia mengadakan pengulangan yang begitu cepat. Ia mengadakan perjalanan kembali atas tanah yang telah ia lalui.

Phenomenology of Mind dimaksudkan sebagai jalan dari kesadaran alami yang berusaha menuju pengenalan yang sejati. Menurut Hegel, “being-for-itself of the spirit” dicapai dalam 6 langkah yaitu: kepastian perasaan, persepsi, kesadaran diri, akal budi, roh dan pengetahuan absolut. Fenomenologi adalah jalan jiwa yang mengadakan perjalanan sehingga memungkinkan menyaring dirinya sendiri terhadap Roh.

Ada sebuah mediasi antara saya dan bukan saya supaya terjadi relasi satu sama lain. Fenomenologi Hegel menggunakan dialektika untuk pergerakan saling maju bersama. Di sini, subjek berharap untuk mengalami apa yang dibagi secara merata untuk seluruh manusia, tetapi objek juga mengalami pengenalan diri subjek. Manusia harus menjadi pelaku, tidak hanya pasif.

Dalam Vorlesungen uber die Philosophie der religion, Hegel mencoba untuk memecahkan masalah relasi subjek-objek. Secara eksplisif, relasi tersebut diungkapkan dalam hubungan finite-infinite . Hegel sendiri mengajak kita untuk membersihkan diri dari oposisi dari finite-infinite. Hal ini dapat dilakukan dengan masuk ke dalam status riil kasus tersebut. Hegel mencoba menyingkap tabir identitas dengan membedakan antara infinite-finite. 

Pada bagian pertama filsafat agamanya, Hegel memperlakukan agama seturut dengan konsepnya. Iman baginya bukanlah perasaan atas ketergantungan kepada yang absolut. Iman adalah kepastian. Kepastian ini berarti relasi langsung dari kepuasan-kepuasan dan dari aku. Kepastian adalah subjektivitas yang telah menjadi perantara seluruh penampakan luar dengan dirinya. Dalam agama secara umum dapat dipahami bahwa sebuah rekonsiliasi tampak dalam kesatuan antara yang ilahi dan manusia. Dalam kristianitas rekonsiliasi, datang melalui Allah manusia, Sang Pendamai. Agama menjadi pengetahuan atas Roh Ilahi tentang dirinya melalui medium roh-roh terbatas.Menurut Bloch, filsafat agama Hegel tidak berpikir tentang satu Allah sebagai sebuah roh dari dunia lain, tetapi dinyatakan sebagai satu roh dalam roh-roh. Roh itu hidup dalam subjektivitas yang dicapai secara manusiawi. Roh itu menggantikan sesuatu dari tempat di luar sana.

Pada bagian kedua, Hegel memperlihatkan proses historis God-representation sampai kristinitas sedang diancam. God-reprensentation mati karena mereka tidak cukup antrophomorfis. Dengan kehadiran Kristus, seluruh agama berhenti berada. Tuhan yang terinkarnasi secara manusiawi dimulai. 

Pada bagian ketiga, Hegel mencoba melihat kristianitas. Kristianitas yang oleh Hegel disebut sebagai agama absolut adalah agama manifestasi bukan agama yang diwahyukan. Hegel melihat apa yang datang ke kesadaran manusia sebagai hal yang esensial dari persatuan kodrat yang ilahi dan manusiawi, sehingga manusia nampak padanya sebagai Tuhan dan Tuhan nampak kepadanya sebagai manusia. Persatuan ini menurut Hegel dibawa oleh Kristus.

Anthropologisasi Agama Feuerbach: Homo Homini Deus
Feuerbach membawa kembali dunia surgawi kepada manusia. Feuerbach mengambil manusia sebagai prinsip utama filosofisnya. Menurut Feuerbach, akal budi, kehendak dan afeksilah yang membentuk kodrat manusia. Tiga kekuatan ini membedakan manusia dengan mahkluk lain. Kekuatan pikiran adalah terang intelektual. Kekuatan kehendak adalah energi dari karakter; sedangkan kekuatan afeksi adalah cinta.

Menurut Feuerbach, manusia bukanlah apa-apa tanpa sebuah objek. Oleh karena itu harus ada di hadapan manusia sebuah tujuan sebagai objek. Namun demikian objek untuk si subjek secara esensial, bukan sesuatu yang lain, melainkan milik subjek sendiri. Walaupun merupakan miliknya sendiri tapi bersifat objektif dan kodrati. Hal ini dapat dilakukan dengan kontemplasi. Melalui kontemplasi, objek manusia tersebut senyatanya menjadi dikenakan dengan dirinya sendiri. kodratnya yang terwujud secara eksternal adalah ego objektif sejati dirinya. Kesadaran tentang objek adalah kesadaran diri manusia. Penampakan absolut manusia tersebut merupakan objek atas kodratnya sendiri. Kekuatan objek atasnya bagaimanapun juga adalah kekuatan kodratnya sendiri. Namun demikian, manusia tidak mengenali objek tersebut sebagai kodratnya sendiri karena ia mempunyai ilusi. Dengan demikian Hegel sampai pada kesimpulan bahwa agama dan Allah diciptakan oleh manusia. Bloch sendiri setuju dengan kritisisme anthropologis agama Feuerbach.

Bloch menangkap antrophologi agama Feuerbach demikian: Antrophologisasi agama Feuerbach yang bersumber pada seluruh bidang transendental dari khayalan dewa-dewa adalah keinginan hati manusia yang dirubah dalam keadaan yang real. Dengan imaginasi manusia mengubah esensinya yang terbaik dari keduniawian menjadi dunia transendental.

Setiap orang menciptakan Tuhannya, idealnya menurut gambarannya sendiri. Antrophologisasi agama Feuerbach dimulai dengan menggali dua dorongan dasar sejarah manusia yang berlawanan namun saling berhubungan. Dorongan pertama adalah keinginan untuk esensinya. Pada saat yang sama muncul dorongan yang kedua yang merupakan pelepasan daya khayal esensi dengan melayangkan ke surga.

Seperti seorang anak kecil, manusia mencari kodratnya tidak pertama-tama melihat ke dalam dirinya tetapi di luar dirinya. Kodratnya tersebut diperlakukan sebagai objek yang dikontemplasikan menjadi sesuatu atau mahkluk yang lain. Orang menyebut sesuatu yang lain itu sebagai Tuhan. Dalam konteks tersebut, Feuerbach menganggap agama sebagai kondisi kekanak-kanakan umat manusia.

Dewa-dewa hanyalah proyeksi manusia oleh individu-individu entah sebagai objek perasaan, objek kesadaran keinginan atau objek kesadaran pikiran. Objek-objek tersebut kemudian ditempeli sifat cinta kasih, kebijaksanaan, keadilan dan sejati. Dengan demikian yang menjadi misteri adalah manusia sendiri bukan Allah (Homo homini Deus). Dengan kata lain dalam antropologi agama, Feuerbach mengatakan bahwa sentimen religius adalah proyeksi esensi manusia

Bloch melihat pemikiran ini sebagai masa depan manusia yang tidak dikenali. Feuerbach tidak menghapus harapan yang sudah di tetapkan oleh kristianitas tetapi justeru memunculkan sebuah bukti harapan tanpa kasih Tuhan.Agama dibersihkan dari mite. Manusia dapat menciptakan masa depan. Harapan maupun khayalan tinggal tetap karena merupakan kehendak untuk mencapai esensi manusia.

Pada bagian: “Wish-images of the Fulfilled Moment” dalam The Principal of Hope, terlihat dengan jelas bahwa pendapat filosofis Bloch mengenai agama terinspirasi kritisisme Feuerbach atas agama. Salah satu yang ditambahkan Bloch adalah menempatkan prototipe ideal manusia dalam horizon masa depan. Ketidaksepakatan Bloch dan Feuerbach dapat dirumuskan demikian: manusia dalam pemikiran Feuerbach kurang terbuka karena ia adalah seorang manusia statis tanpa visi historis dunia apapun. 

Utopia konkret Marxisme melalui kombinasi teori dan praksis.
Marx memberikan peran terbesar dalam The Principle of Hope Bloch. Di dalam Marx, Bloch menemukan esensi manusia dalam sejarah dan relasi sosialnya. Hal ini terumus dalam utopia konkret. Walaupun memisahkan diri dari Hegel, Feuerbach mengambil perspektif antropologis dari Hegel dan telah membawanya ke eksistensi material. Marx sendiri mengambil perspektif antrophologi dari Feuerbach.

Marx muda telah menyatakan sebuah kenyataan diri yang menaruh perhatian pada aktualitas masa depan sebagai masa depan aktualitas. Apa yang Marx kerjakan adalah memindahkan ketakutan mengenai masa depan manusia. Manusia dapat menyusun masa depannya dengan akal budi. Bloch mengatakan bahwa harapan dan akal budi harus digunakan secara bersamaan untuk menyusun masa depan. Marxisme tampak sebagai kombinasi sempurna antara teori dan praksis mengenai dunia yang lebih baik. Ini berarti bahwa Marxisme sama sekali tidak membatalkan dunia saat ini, dan membawa ke dalam dunia utopia sosial yang abstrak tapi supaya mengubah dunia ini secara ekonomis dan dialektis. Melalui Feuerbach, Marx melihat segala sesuatu secara politis dan historis. Namun demikian ia juga mulai memberikan koreksi atas Feuerbach.

Bloch mengingatkan kita bahwa naturalisasi manusia berarti inkorporasinya dalam komunitas sehingga bebas dari seluruh alienasi. Kita akan sungguh-sungguh mengontrol apa yang menjadi sekarang dan di sini. Humanisasi kodrat berarti membuka kosmos yang masih tertutup terhadap dirinya untuk menjadi rumah kita.

Pengaruh ketiga tokoh tersebut kiranya dapat dimengerti demikian. Dengan menerima tantangan Hegel mengenai “Know thyself’ melalui dialektika hubungan subjek-objek, Bloch sampai pada kesepahaman dengan Hegel bahwa esensi dari sesuatu belumlah penuh. Yang sejati bukanlah apa yang nampak di sini dan sekarang. Sependapat dengan antropologi agama Feuerbach, Bloch menemukan bahwa manusia dan kodratnya tidak abstrak dan pasti. Bloch mendefinisikan esensi manusia yang sejati sebagaimana telah dilakukan Marx dalam relasi historis dan sosialnya. Bloch seiring dengan Marx ke arah utopia yang konkret melalui naturalisasi manusia dan humanisasi alam. 

Mengintip The Principle of Hope 
The Principle of Hope dalam terjemahan bahasa Inggris dari karya Bloch yang berjudul Das Prinzip Hoffnung. Buku terbitan Basil-Blackwell, the Oxford-based publishers ini terdiri dari sekitar 1600 halaman yang terbagi dalam tiga volume. Richard H. Roberts sendiri menggunakan buku terjemahan Neville Plaice, Stephen Plaice dan Paul Knight untuk membuat review artikelnya yang berjudul: “An Introductory Reading of Ernst Bloch’s the Principle of Hope.” Secara garis besar buku tersebut terdiri dari tiga tema besar yaitu: pertama, lahirnya kesadaran utopia; kedua, kehidupan utopia-utopia dalam tradisi ;dan ketiga, konfrontasi dengan kematian. Karya Bloch ini memang tersusun atas aneka macam pandangan dan materi seperti seni, filsafat, sastra dan religius. Cakupan isinya pun sangat luas yang mencakup perjalanan tradisi terutama di Eropa.

Dalam pembukaannya, The Principle of Hope volume pertama, Bloch menyampaikan tujuan dari buku tersebut yaitu mengajari umat manusia untuk belajar berharap sebagai bentuk perlawanan terhadap pusaran ketakutan didominasi oleh nihilisme. Kehidupan yang pasif seperti anjing menurut Bloch hanya akan melemparkannya pada suatu hal yang kebetulan. Oleh karena itu perlu dilawan dengan lamunan (daydream). Gambaran mengenai mimpi merupakan pintu masuk ke dalam harapan yang belum terkontaminasi dengan ide-ide transendensi sebagai sesuatu yang lain yang mengatasi kondisi manusia. Bloch sendiri menegaskan bahwa filsafat akan mempunyai kesadaran mengenai hari besok, mempunyai komitment terhadap masa depan, pengetahuan tentang harapan atau filsafat akan sama sekali tidak mempunyai pengetahuan. Marx sendiri tidak hanya menempatkan materialisme sebagai pembalikan dialektis Hegel tapi juga sebagai sebuah pengaturan kembali perhatiannya pada “hantu pengenangan” yang peroleh melalui kontemplasi dan interpretasi.

Apa yang Bloch jelaskan dalam The Principle of Hope adalah sebuah visi tentang kepenuhan manusia yang memahami tetapi tidak terbatas. Manusia diharapkan untuk mampu melihat gambaran kemungkinan masa depan secara sistematis sebagai satu-satunya dasar untuk aktualitas yang cukup dan dapat diterima.Tujuan Bloch adalah emansipasi kesadaran tersebut dengan tugas pokok untuk menemukan nuansa “Not-yet-consinscious”

Dalam volume kedua, Bloch menguraikan panjang lebar mengenai posisi-posisi teoritis yang ditetapkan dalam volume pertama . Di sinilah cukup ruang untuk menjelaskan secara detail seputar istilah-istilah definisi orientasi masa depan dan sifat-sifat konstitutif eksistensi manusia. Prinsip penafsiran yang ditaruh dalam kategori-kategori dari kesadaran antisipatoris menyediakan sarana-sarana sehingga munculnya ide-ide historis dan realisasi utopia dapat dipetakan secara menyeluruh.

Pada bagian penutup volume kedua ada dua pernyataan retoris yang cukup kuat:

Pertama, Bloch tercatat sebagai orang yang diam untuk berbicara mengenai mekanik praktis bidang pembangunan sosial yang mungkin menuntun ke arah syarat kenyamanan untuk menggantikan istilah universal realisasi manusia. Tidak ada tindak lanjut secara detail terutama menyangkut bagaimana persisnya serta bentuk senyatanya kalau Marxisme telah menjalankan fungsinya dalam pembuatan sosialisme revolusioner dan tujuan-tujuan khayalannya.

Kedua, situasi historis yang digambarkan Bloch sekali lagi sesuatu yang tidak mengejutkan meskipun demikian merupakan kekurangan yang disayangkan.

Dalam volume ketiga, kehebatan intelektual muncul kembali serta mengingatkan sekali lagi struktur penguasaan Bloch sebagai karya yang didominasi pendekatan sistematis dan teoritis. Kedua pendekatan ini seolah-olah saling mendukung pengulangan evolusi secara komprehensif terutama mengenai ide-ide utopia dari Barat. Volume ketiga tersebut dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu:

Pertama, Bloch menampilkan kepada kita Prometheus yang baru yang digali dari gambaran Faust dan Don Quixote sebagai model-model umat manusia.

Kedua, Bloch mengkonfrontasikan dengan non-utopia yang paling kuat yaitu kematian.

Ketiga, Bloch mengajak kita masuk menuju bidang religius dengan efek memfungsikan kembali Allah di pusat kemungkinan manusia dimana bumi sendiri nampak sebagai wilayah tambahan yang sejati.

Pada bagian penutup volume ketiga, disampaikan sebuah ajaran moral yang memberi informasi manusia baru dalam sosialisme. Inilah sebuah usaha sangat ambisius dalam bentuk lunak dalam sebuah cakupan universal untuk merehabilitasi misi kebudayaan bangsa Jerman. Ia juga berkonfrontasi dengan kaum Nietzshean dan Nazi dan hidup dalam bahaya. Sebagaimana dialektika kebebasan dan peraturan dalam utopia sosial, demikian juga, Bloch mengenal tegangan antara “bahaya” dari inovasi (pembaharuan) menuju kecerdasan yang terarah dan keselamatan atas situasi yang sedang terjadi.

Penutup
Memahami The Principle of Hope memang tidak mudah. Richard H. Roberts menuliskan demikian: 

…. Principle of Hope secara menyeluruh menyediakan sejumlah atas kulminasi sebuah pembangunan, mulai terutama dalam karya Kant: Critique of Pure Reason, dimana analisa kategoris batas-batas akal budi dan pengetahuan manusia pertama kali dinyatakan. Pemikiran Kant tersebut kemudian diruntuhkan dan ditransendensikan oleh Hegel dalam sebuah re-historisasi cara manusia. Rehistorisasi ini nampak dalam pergerakan dari sekedar kesadaran perasaan ke arah kesadaran diri yang reflektif secara penuh melalui asumsi mengenai Allah yang ambigu (The absolute Mind). Skema yang dihasilkan kemudian dijelaskan oleh Feuerbach dalam sebuah reduksi inderawi. Akhirnya skema Feuerbach sendiri dibalikkan dalam istilah materi oleh Marx. Bloch menyediakan sekumpulan pemahaman seputar sosio-kultural dari serentetan langkah yang berkaitan: tradisi pra-modern (dengan aneka kekayaan sastra, visual dan musikal) untuk digali dan difungsikan kembali dalam kerangka kerja sebuah “kesadaran historis dan orientasi masa depan modernis, didasarkan pada kekonsistenan tetapi dialektis dan materialisme Marx. 

Banyak hal yang diperoleh dari pemikiran Bloch sebagai seorang ateis dan Marxist. Sebagaimana tulisan-tulisan Hegel, Feuerbach dan Marx mempengaruhi pemikiran Bloch, banyak juga teolog-teolog yang mendapat inspirasi dari apa yang menjadi pemikiran Bloch terutama yang berkaitan dengan harapan. Para teolog yang cukup terbantu oleh tulisan Bloch tersebut misalnya: Jurgen Moltman dan Johann Baptist Metz. Gustavo Gutierrez menurut Curt Cadorette juga mengambil inspirasi pemikiran Bloch untuk mangambil aspek harapan dalam teologinya. Kiranya inilah salah satu sumbangan Bloch sebagai seorang ateis dan Marxis dalam wacana dan refleksi teologis di dunia dewasa ini.

Daftar Pustaka:
1. Cadorette, Curt, From the Heart of the People: The Theology of Gustavo Gutierrez, Oak Park, Illinois, Meyer-Stone Books, 1988
2. Puthur, Bosco, From the Principle of Hope to the Theology of Hope, Kerala, Pontifical Institute Publication, 1987
3. Richard H. Roberts, “An Introductory Readig of Ernst Bloch’s The Principle of Hope “ dalam Journal of Theology, Vol 1, No.1, March 1987

0 komentar:

Poskan Komentar