Ads 468x60px

Filsafat Asia - Selatan


Selayang Pandang

1. Pertautan tiga gagasan Konfusianisme tentang Ren, Yi, Li dan kaitannya dengan gagasan Xiao 

Ren adalah gagasan sentral dari Konfusianisme yang merupakan kelanjutan yang lebih jernih dari gagasan yang hidup sebelum jaman Konfusius. Ren memuat gagasan dua orang yang berada bersama dan mengandaikan hubungan baik antara keduanya. Ren mengandung arti: kebaikan hati, kasih antar manusia. Kebaikan ini adalah hakekat terdalam manusia yang membuat unsur lain dalam hidupnya menjadi mungkin. Menurut konfusius, Ren adalah yang membuat seseorang sungguh-sungguh manusia, jalan yang amat pribadi, termuat dalam hati setiap orang dan harus diwujudkan dalam hidup tiap-tiap individu.

Dalam arti moral, kekayaan dan nama baik adalah idaman orang, namun bila diperolehnya dengan melanggar prinsip moral, keduanya tidak layak dipertahankan; kemiskinan dan kerendahan hati dibenci tiap orang, namun bila keduanya hanya mungkin dihindari lewat pelanggaran prinsip moral, lebih baik tidak dihindari. Ren adalah prinsip terakhir dari tindakan manusiawi, barangsiapa meninggalkan ren ia belum sepenuhnya mengungkapkan kemanusiaannya. Prinsip moral sebagai jalan menuju ren menyiratkan bahwa jalan benar yang harus ditempuh manusia bukanlah memuasi kesenangan atau menghindari ketidaksenangan melainkan bertindak menurut prinsip dasar yaitu ren.

Yi
Yi artinya kebenaran. Dalam Lun Yu 15:17 dijelaskan bahwa: “Yi adalah akar dari tindakan dari seorang “Manusia Utama”. Dengan Li mempraktekan Yi, dengan mengalah mewujudkan Yi, dengan kejujuran menggenapi Yi, yang melakukan itu semua sungguhlah seorang Manusia Utama”. Yi adalah kemampuan untuk mengenal apa yang benar dan membentuk cara bertindak tepat agar sesuai dengan “ren” yang merupakan nilai terdalam hidup manusia. Hidup orang seperti itu aalah hidup orang yang berjaga sempurna (Lun Yu 14:13).

Li 
Bagi kaum Konfusianis Li member arti yang lebih luas daripada sekedar ritus dan rital, yaitu segala sesuatu yang terkait pada tindakan tepat manusia: sikap sopan santun dan kepantasan, tahu tempat diri dalam masyarakat, keluar berhubungan dengan kedudukan social, dan kedalaman menunjuk pada kewajiban pribadi sesuai dengan kedudukannya dan apa yang diharapkan dari mereka. Ren menjadi Li, Li menjelmakan Ren, kebiasaan, tradisi dan aturan yang tidak sesuai dengan ren, bukan Li yang sejati. Li juga menjadi sarana pengembangan ren. Upacara adalah salah satu ungkapan Li yang disukai Konfusius.

Xiao
Tindakan antar manusia yang menumbuhkan “Ren” disebut Xiao, yang berarti “hormat bakti yunior terhadap senior”. Awalnya adalah bakti anak kepada orang tua, menunjukkan ketaatan anak (laki-laki) pada orang tua, kemudian berkembang dalam “Wulun”, yaitu lima relasi utama: bapak – anak, kaisar – menteri, suami – istri, kakak – adik, teman – teman. Kewajiban Xiao tidak hanya dihayati semasa hidup tetapi diteruskan setelah kematian. 

Penghayatan Xiao: Menghormati orang tua karena hidup ini diturunkan dari mereka termasuk badan. Bentuk hormat dapat dinyatakan dengan berbuat baik, mengharumkan nama mereka, baik dilakukan secara fisik, emosional maupun spiritual. Penghormatan ini pun dilakukan semasa ketika mereka masih hidup maupun yang sudah meninggal.


2. Inti ajaran filsafat Samkhya, Yoga dan Vedanta

Ajaran filsafat Samkhya:
Filsafat Samkhya seringkali dipasangkan dan dikaitkan dengan filsafat Yoga. Kata Samkhya berasal dari kata Sansekerta yang artinya “renungan” (reflection). Samkya adalah metode untuk merealisasikan fakta filsafat tertinggi melalui pengetahuan. Samkhya berurusan dengan kategori dasar dari realitas, menjelaskan tentang prinsip material dasar (prakrti), proses devolusi dan evolusinya. Samkhya menekankan proses involusi yang mengikat jiwa individu ke dalam materi. Dalam Samkhya terdapat 25 unsur atau elemen dasar (tattva). 

Tujuan akhir dari samkhya adalah moksha. Pembebasan akhir hanya dapat dicapai melalui “pengetahuan”, yaitu pengetahuan transendental yang diperoleh lewat pengalaman aktual dari “Realisasi Diri” (self – Realization). Maksudnya: merupakan penglihatan spiritual otentik yang lepas, bias mental dan emosional, yang diperoleh lewat latihan Yoga. Teknik-teknik yang mampu membuat kita melampaui kesadaran biasa (waking – consciousness/jagrat dan mencapai tahap suprasadar (superconsciousnes). Jadi, pengetahuan yang diuraikan oleh filsafat samkhya, diselesaikan atau diakhiri dengan latihan Yoga.

Ajaran filsafat Yoga:
Yoga adalah pengendalian modifikasi pikiran (Definisi ini terdapat dalam eksplosisi yoga yang terkenal, yakni Yoga Sutras of Patanjali, bagian Samadhi Pada (1.2): Yogas – citta – vrtti – nirodhah. Secara etimologis, kata yoga diturunkan dari kata Yuj (Sanskerta), Yoke (Inggris), yang artinya ‘penyatuan’ (union). Yang berarti penyatuan kesadaran manusia dengan sesuatu yang lebih luhur, lebih transenden, lebih kekal dan Ilahi. 

Makna kunci yang biasa dipakai adalah ‘meditasi’ (dhyana) dan ‘penyatuan’ (yukti). Makna penyatuan tampaknya menjadi penting, bukan hanya dalam Bhakti – Yoga, tetapi juga dalam sistem yoga itu sendiri. Filsafat yoga menerima seluruh sistem dasar Samkhya, tetapi menambahkan satu kategori (tattva) sehingga menjadi 26. Unsur tambahan ini: shvara (God), penguasa tertinggi alam semesta. Yoga menjadi filsafat yang teistik. Tujuan akhir yoga adalah moksha yang dicapai melalui pengetahuan dengan “teknik-teknik psiko-fisikal” . Pada dasarnya, semua yoga menggunakan ‘delapan ruas’ yoga sebagai prasyarat utama. Tradisi yoga tidak pernah berhenti tumbuh, karena beradaptasi dengan kondisi sosial-budaya yang baru.

Ajaran filsafat Vedanta:
Upanishas yang juga dikenal sebagai Vedanta sudah ribuan tahun menjadi sumber inspirasi filsafat religious umat Hindu. Secara etimologi, “Vedanta” berarti ‘kebenaran terakhir’ atau ‘akhir’ (anta) dari Weda. Filsafat Vedanta berlandaskan pada ajaran Uphanishad yang ditulis pada bagian akhir Weda. Vedanta memusatkan diri pada ‘Realitas Akhir’ (Brahman), yang diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah meninggalkan kehidupan duniawi (Sanyasi). Bagi mereka Uphanishad menjadi filsafat primer dan dasar metafisika yang menjadi landasan ajaran Hinduisme. Filsafat Vedanta berhubungan dengan Realitas terakhir (Ultimate Reality) atau Param-Brahman, yang transenden serta tidak memilkiki nama dan bentuk. Hanya setelah menguasai bagian Shabda-Brahman, kita dapat merealisasikan Param-Brahman. 

Persamaan dan perbedaan aliran filsafat Samkhya, Yoga dan Vedanta: 
Persamaan ketiga aliran filsafat tersebut ialah membahas tujuan eksistensi manusia dari sudut pandang spiritual atau metafisika, teori penciptaan didasarkan pada eksistensi akibat yang inheren di dalam penyebabnya (Satkaryavada). Satkaryavada dibangun berdasarkan asumsi bahwa tidak ada yang bisa dihasilkan dari sebuah penyebab material, jika secara potensial ia tidak mengandung kualitas atau akibat sebelum menghasilkan akibat yang aktual. 

Perbedaan antara Vedanta dan Samkhya menyangkut dua hal, yakni Vedanta menyatakan prinsip tertinggi yang disebut Brahman, karena ia tidak ada duanya (nondual, advaita), mengatasi dualitas Purusha-Prakrti) dari system Samkhya. Karenanya, Vedanta bersifat nondualistis, sedangkan Samkhya bersifat dualistis dalam pendekatannya terhadap kategori untur. Perbedaan kedua adalah dalam Satkaryavada terdapat dua aspek, yakni teori transformasi (Parinamavada) yang diterima oleh Samkhya dan Yoga; dan teori manifestasi ilusif (Mayavada) yang dianut oleh Vedanta. Kedua teori ini bersifat inklusif satu sama lainnya dan bukan sebagai teori mandiri yang ekslusif. 


3. Pokok-pokok ajaran Budhisme: Dukkha, Anicca, Anatta, dan Nirwana:

Dukkha (Penderitaan):
Dukha atau penderitaan adalah fenomena hidup yang paling mendasar dalam dunia ini. Penderitaan merupakan sebuah ciri khas dunia dimana setiap makhluk hidup cenderung mengalami derita: kelahiran, usia tua, kesakitan dan kematian. Penderitaan adalah fakta fisik dan mental dari kehidupan manusia, karena ia tertanam di dalam eksistensi semua makhluk hidup di dunia ini. Dalam Dhammapada (248), disebutkan bahwa: “Semua yang berwujud terlibat dalam penderitaan”. Sumber utama penderitaan adalah nafsu atau kesenangan inderawi manusia.

Anicca (ketidakkekalan):
Anicca atau ketidakkekalan adalah sebuah fenomena mendasar yang terdapat dalam semua eksistensi benda-benda. Dalam Dammapada (277) dijelaskan bahwa:”Semua benda-benda yang ada bersifat sementara”, semua itu terlibat dalam proses menjadi, berkelanjutan, perubahan serta kematian. Fakta mendasar dari dunia fenomena adalah gerak kea rah usia tua, sakit, dan kematian. Setiap akibat ada penyebabnya, penghentian akibat hanya terjadi melalui penghentian penyebabnya. Ini merupakan esensi dari filsafat analitis Buddhisme

Anatta (Ketiadaan Diri atau Tidak Berinti):
Anatta, ketiadaan diri atau tidak berinti artinya tidak ada jiwa permanent dan kekal seperti substansi dalam diri manusia. Sang diri (self) bukan merupakan suatu entitas yang tak berubah, tetapi sesungguhnya adalah kosong (empty). Misalnya, nama Nagasena, hanya sebuah nama untuk menandai rambut kepala, otak, indera tubuh dan kesadarannya; karena tidak semua rambut kepala, otak, indera tubuh dan kesadarannya dapat disebut Nagasena.

Nirwana (pencerahan):
Realitas absolut digambarkan sebagai Nirwana atau Pencerahan (Kebudhaan). Yang absolut juga dijelaskan sebagai “Kedemikianan” (Tathata, Suchness) atau “Kekosongan” (Sunyata). Orang yang sudah menghapuskan keinginan atau egonya adalah orang yang sudah mencapai pencerahan (Budha). Dan orang yang sudah tercerahkan adalah satu dengan Realitas Absolut atau Kebenaran Absolut (Tathata). Kata ‘Nirvana’ artinya “penghapusan” (extinction), yakni: penghapusan ego dan keinginan. Dengan menghapuskan keinginan (desire) dan kebodohan-kegelapan batin, maka penghapusan penderitaan akan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kecemasan dan keputusasaan akan dicapai secara serentak. Dengan hilangnya penderitaan, yang tertinggal hanyalah kedamaian serta keheningan absolut yakni: Nirvana. Nirvana adalah kebaikan tertinggi (Summum Bonum). Dalam Buddhisme, Nirvana adalah kebahagiaan tertinggi yang dapat dicapai.

0 komentar:

Poskan Komentar