Ads 468x60px

Filsafat Ilmu Pengetahuan


Selayang Pandang

Kelompok-kelompok ilmu yang dikenal sekarang telah mencabang amat banyak, baik kelompok ilmu-ilmu alam (natural sciences) maupun kelompok ilmu-ilmu sosial/manusia (social sciences). Perbedaan yang esensial daripada kedua ilmu tersebut berkaitan dengan ciri ilmu alam dan ciri ilmu sosial yang menyangkut kaitan antara ’subyek analis’ dan ’obyek kajian’. 

Ciri khas ilmu-ilmu kemanusiaan ialah obyek penyelidikannya yaitu manusia sebagai keseluruhan. Sementara itu, dalam dua arti manusia merupakan obyek dan subyek ilmu. Pertama, secara hakiki manusia melampaui obyek benda, arti yang agak berbau filsafat. Kedua, pelaku refleksi adalah bagian dari tindakan dan praktik sosial itu sendiri dan tidak sepenuhnya terpisah dari obyeknya. Si penyelidik sebagai subyek berada pada taraf yang sama dengan obyeknya, ciri khas ilmu kemanusiaan yang berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu kemanusiaan - sebagai ilmu empiris dekat dengan ilmu-ilmu alam, namun karena kekhasan obyek penyelidikannya yang sekaligus menjadi subyek, ilmu-ilmu kemanusiaan juga berkedudukan agak dekat dengan filsafat

Kekhasan obyek penyelidikan ilmu sosial dapat terlihat pada unsur ruang dan waktu (spatio-temporal) – dasar alam jagad raya, seperti diperkenalkan Immanuel Kant. Dalam ilmu alam unsur ruang dan waktu dapat diukur dengan jelas: memakai sistem statistik, satuan dsb. Sedangkan dalam rangka hidup manusia, unsur ruang dan waktu tidak dapat dijadikan ukuran yang memadai: oleh manusia ruang dihayati secara nyata dalam lingkungan pergaulan, dan waktu dipandang sebagai sejarah yang melampaui rangkaian peristiwa. Perbedaannya ialah dalam ruang yang ’mati’ semua tempat seakan-akan sama kecuali segi ukuran, sedangkan dalam lingkungan sosial semua data hampir tak dapat diangkakan. Demikian juga dalam waktu yang ’mati’ seakan-akan semua waktu sama, kecuali angka, sedangkan dalam rangka sejarah setiap peristiwa dan setiap saat unik. Pengetahuan manusia pun berlangsung di suatu tempat dan pada suatu saat. Ruang dan waktu bersifat univok, sedangkan sosialitas dan historisitas bersifat analog sedalam hidup manusia itu sendiri. Perbedaan ini menimbulkan perbedaan pendekatan: dalam ilmu-ilmu alam cara berpikirnya univok, sedangkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan cara berpikirnya analog: setiap lingkungan masyarakat ”sama” namun dalam ”kesamaannya” terdapat berbedaan, dan setiap peristiwa historis ”sama” satu sama lainnya, namun juga unik. 

Karena ciri khas di atas, ilmu-ilmu kemanusiaan harus menggunakan titik pangkal dan kriterium kebenaran yang berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Berbeda karena pelaku refleksi sebagai subyek dalam ilmu-ilmu sosial tidak meninggalkan obyek seperti dalam ilmu-ilmu alam: ”pengamatan murni” tanpa prasangka menjadi titik pangkal. Kriterium kebenarannya pun berbeda karena obyek penyelidikan ilmu-ilmu kemanusiaan ialah manusia itu sendiri yang tidak dapat diobyekkan begitu saja demi hasrat untuk mendapatkan penjelasan tentang sebab-musabab tingkah-lakunya menurut ikhtisar hipotesa, hukum dan teori. Subyek sendiri terlibat dalam penyelidikan tentang sesamanya. Apalagi sesama itu ialah subjek tingkah lakunya sebagaimana subjek penyelidikan bersangkutan. Dalam kaitan dengan kekhasan ilmu-ilmu kemanusiaan, Max Weber berpendapat bahwa tidak cukup kalau manusia hendak dijelaskan semata-mata berdasarkan sebab-akibat (causal explanation), namun diperlukan sesuatu yang mewarnai penjelasan itu. Itulah memahami (verstehen) tingkah laku manusia yang diamati berdasarkan kemampuan yang ada dalam diri si pengamat itu sendiri. Dalam versetehen diharapkan si penyelidik mampu masuk sampai makna (meaning) dari apa yang diamati dalam diri sesamanya dan dalam masyarakat. Itulah hermeneutika, yaitu kemampuan untuk dapat menafsirkan apa yang dilihat, disaksikan, didengar ataupun dibaca orang, baik yang datang dari luar maupun dari dalam lingkungannya sendiri.

Perbedaan ciri-ciri ilmu alam dan ilmu sosial yang menjadi kekhasan masing-masing ilmu menyebabkan hubungan subyek dan obyek dalam ilmu-ilmu sosial jauh lebih lentur daripada ilmu-ilmu alam. Kelenturannya terletak pada kekhasan ilmu-ilmu sosial yakni pengaruh timbal balik tanpa henti yang amat intensif antara subyek dan obyek dalam ilmu-ilmu kemanusiaan – hermeneutika ganda (Heri: dalam kuliah). Hasil setiap penyelidikan sosial-historis tidak hanya perlu terus disempurnakan, melainkan tidak bisa ditentukan karena ketika diumumkan sudah tidak berlaku lagi sebagai implikasi pemberitahuan itu. Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Auguste Comte7 pernah mencita-citakan obyektivitas itu bahwa asal data-data empiris dikumpulkan dengan tepat maka kebenaran mengenai obyek yang ingin diketahui dapat ditentukan secara tuntas. Cara pendekatan ini mau bebas nilai (Jerman: werfrei), yang keberlakuannya dewasa ini pun mulai diragukan – sama sekali tidak berlaku dalam bidang ilmu-ilmu kemanusiaan. Banyak ahli ilmu kemanusiaan dewasa ini yakin bahwa ilmu ini tidak dapat bebas nilai, bahkan justru harus bersikap menilai. 

Sebagai contoh ilmu sejarah. Ilmu sejarah mempelajari masa lampau melalui data-data peninggalan masa lampau, terutama kesaksian manusia dari masa sejarah tertentu, seperti: artefak, tulisan-tulisan, kisah-kisah, upacara-upacara keagamaan dan sebagainya. Sekilas obyek sejarah sama dengan ilmu alam karena sama-sama berupa benda mati. Bahan sumber sejarah bersifat empiris, unik dan tidak dapat ditambahkan sebagaimana terjadi dalam ilmu-ilmu alam. Tambahan hanya terjadi jika ditemukan lagi bahan peninggalah masa lampau yang masih tersembunyi. Berkenaan dengan obyek, ilmu sejarah tidak dapat diadakan percobaan, karena waktu kejadian sudah lewat dan tidak dapat dibalikkan lagi. Bahan sumber ilmu sejarah: kesaksian manusia – pelaku sejarah yang kini tersedia untuk diteliti adalah kesaksian bisu dan mati yang tidak berhubungan dengan mereka yang terlibat dalam peristiwa bersangkutan. Kesaksian-kesaksian yang mati dan bisu itu digunakan untuk menerangkan peristiwa yang sebelumnya berlangsung. Maka akan terasa kesenjangan antara kesaksian atau sumber bahan yang tersedia dengan suatu peristiwa yang hendak dimengerti. Sementara itu juga ada banyak sumber sejarah yang hilang oleh karena berbagai penyebab. 

Sebagaimana dalam ilmu-ilmu lain, sejarahwan berusaha mengetahui peristiwa masa lampau dengan cara mengumpulkan kesaksian-keaksian masa lampau berdasarkan penilaian tertentu, penilaian mana yang relevan dan mana yang tidak relevan untuk didokumentasikan. Penilaian ini diwarnai selera sejarahwan. Pilihan mana data yang obyektif dan yang bukan merupakan suatu sikap memihak dan melangkahi segala hal yang dianggap tidak cocok untuk dimasukkan ke dalam dokumen-dokumen sejarah. Penafsiran terhadap sejarah masa lampau diharapkan terjadi ”sesuai dengan keadaan sebenarnya”. Kesulitannya ialah penyusun sumber bahan memihak pada nilai tertentu sesuai dengan selera mereka, dan jika ada data yang terpecaya maka informasi itu hanya sebagian kecil peristiwa yang mau diteliti. Sementara itu, sejarahwan memiliki latar belakang pendidikan, penilaian, dan keyakinannya sendiri yang tidak bisa ditanggalkan. Dengan begitu, ia tidak bisa menjadi seorang ”peninjau yang tak terlibat” (Husserl: ”unbeteiligter —Zuzchauer”) – ia adalah obyek dan subyek penelitian sejarah.

0 komentar:

Poskan Komentar