Ads 468x60px

Kritik atas Kritik Tentang Allah


Selayang Pandang

Benarkah pendapat Feuerbach bahwa hakikat Allah tak lain daripada hakikat manusia yang diabsolutkan dan diobjektifikan dengan mengatakan bahwa Allah adalah hasil proyeksi diri manusia sendiri? Bahwa yang nyata, yang terindera itu manusia sedangkan Allah tidak nyata, tidak terindera?

Saya tertarik untuk membahas kritikan Feuerbach yang mengatakan bahwa Allah adalah hasil proyeksi diri manusia sendiri. Menurut Feuerbach, Allah tidak menciptakan manusia, tetapi Allah adalah cita-cita ideal manusia. Agama hanya proyeksi hakekat manusia. Allah adalah gambaran yang dibentuk manusia tentang dirinya sendiri. Agama adalah penyembahan manusia terhadap hasil ciptaannya sendiri, namun yang tidak disadarinya lagi sebagai itu. Apa yang sebenarnya hanyalah angan-angan dianggap mempunyai eksistensi pada dirinya sendiri, maka manusia lalu merasa takut dan perlu menyembah dan menghormatinya sebagai Allah.³

Di satu sisi pandangan Feurbach tentang Allah sebagai proyeksi diri manusia ada segi positifnya juga. Segi positifnya ialah bahwa orang beriman diajak dan didesak untuk bermawas diri dan mewaspadai laku hidup keagamaan personal maupun dalam lingkup jemaah. Namun kelemahannya ialah Feuerbach hanya bicara tentang fungsi agama, bukan hakekat agama yakni Allah yang disembah dalam agama itu. Fungsi psikologis agama adalah proyeksi dambaan ideal kesempurnaan manusia yang tak kesampaian, dambaan ini lalu dipersonalisasikan sebagai ”Allah”.


Ada tiga titik kritis ateisme Feuerbach yang tidak bisa tahan uji, al:
Pertama: fungsi agama ateisme Feuerbach tidak menyentuh pertanyaan dasariah manusia takapakah Allah itu pada dirinya sendiri ada atau tidak ada. Feuerbach tidak bisa meyakinkan Tuhan itu tidak ada. Ia hanya bisa mengatakan bahwa agama itu bisa ter- atau dimanipulasi oleh orang beragama yang merasa terblokir dambaannya. Dari segi hakekat agama, persoalan mengenai keberadaan atau ketidakberadaan Allah, tidak bisa dijawab. 

Kedua, gagasan mengenai Allah Yang Maha Baik atau Yang Maha Adil tidak hanya mengacu pada sesuatu yang ”lebih daripada manusia” tetapi ”lebih menunjuk pada sesuatu yang ”lain daripada manusia”, ”yang tak terhingga” dan melampaui manusia. Argumen Feuerbach yang mau mengembalikan gejala agama pada soal psikologis dan empiris memuat kontradiksi dalam dirinya sendiri. Feuerbach harus mengakui bahwa manusia bisa beragama dan percaya pada Allah justru karena kemampuan jiwanya yang melampaui batas-batas kemampuan empiris-inderawinya. Manusia adalah makhluk transenden karena ia mempunyai jiwa sebagai prinsip unifikasi yang imaterial sifatnya dan terbuka secara tak terbatas pada ”Ada Tertinggi”, Allah sendiri. 

Ketiga, Feuerbach tidak berhasil menggantikan cara berpikir metafisik dengan pemutlakan pengalaman konkrit-indrawi atau empiri yang diklaimnya dalam ”filsafat baru” rancangannya. Keabadian, ketakterbatasan potensi-potensi manusia tersembunyi di situ suatu pengandaian metafisik yang melampaui pengertian konkrit-inderawi dan terbatas

0 komentar:

Poskan Komentar