Ads 468x60px

Nurturing Your Spiritual Life (Pemeliharaan Hidup Rohani)

PENDAHULUAN
Saat ini kita hidup di dunia yang sangat materialistik. Senang atau tidak senang, hidup kita banyak dipengaruhi oleh globalisasi. Segala sesuatu kini menjadi sangat komersial. Pendidikan, kesehatan, semuanya serba profesional. Profesional bukan dalam arti profesi, dalam nilai uang. 
Di tengah dunia yang materialistik ini kita pun masuk dalam kebingungan. Hidup seolah seperti komedi putar, makin cepat dan makin cepat, namun tidak bisa keluar dari putaran itu. Untuk menjaga keseimbangan di dalam perputaran yang semakin cepat itu kita perlu memelihara kehidupan rohani melalui waktu sendirian dengan Allah (alone with God - AWG). 
Ada empat hal yang perlu kita lakukan di dalam ber AWG, yakni: " Solitude (kesendirian); "Silence (keheningan); " Stillness (ketenangan); " Simplicity (kesederhanaan). Solitude, silence, stillness, dan simplicity saling berkaitan dan dalam penerapannya sering merupakan satu kesatuan.

SOLITUDE (= Keheningan, kesunyian, kesepian)
Sudah menjadi rahasia umum bahwa di dalam dunia yang semakin maju, orang justru merasa kesepian atau sendirian. Teknologi yang sangat mudah digunakan dan kita miliki membuat kita semakin kesepian. Presiden AS yang pertama menggunakan media radio sebagai saluran komunikasinya. Para pendengarnya duduk berkumpul mendengarkan orasi sang presiden saling memandang dan berkomentar satu sama lain. Ada interaksi di antara pendengarnya. Situasinya berbeda ketika presiden era berikutnya menggunakan televisi sebagai sarana komunikasi. Mata pendengarnya tertuju pada gambar dan tidak ada interaksi di antara mereka. Ini salah satu contoh di mana teknologi telah mengalihkan fokus hidup kita. 

Alat komunikasi yang lain adalah handphone. Sekarang ini penggunaannya sangat marak, tetapi itu pun memisahkan orang. Hidup yang terkoneksi oleh teknologi menggambarkan hidup bersama-sama tetapi tidak saling berkomunikasi. Dalam sebuah perjalanan saya pernah menyaksikan satu mobil yang ditumpangi oleh empat orang. Ketika mobil berhenti di lampu merah, keempat orang itu bukannya saling berbicara melainkan mengeluarkan handphone-nya dan berbicara dengan lawan bicaranya masing-masing. Kondisi tersebut membuat orang merasa semakin kesepian. 

Di dalam dunia yang materialistik, masalah-masalah kesepian diatasi dengan entertainment. Akan tetapi entertainment saja tidak dapat menghubungkan orang-orang. Sekelompok orang yang lain memilih kegiatan di organisasi politik sebagai jawaban atas masalah kesepiannya. Bagaimana kita dapat mengatasi masalah-masalah kesepian di dunia yang materialistik ini? Kita perlu memiliki komunitas sendiri. Namun untuk mendapat komunitas tersebut kita perlu melakukan atau memiliki solitude (kesendirian). Solitude berbeda dengan loneliness (kesepian). Seseorang yang melakukan solitude, ia sendirian bersama Tuhan, dan memiliki kepenuhan di dalam rohnya. Sedangkan seseorang yang lonely, ia sendirian tanpa Tuhan, sehingga ia alami kesepian.

Kita yang merasa kesepian, harus bergerak ke arah solitude, sendirian bersama Tuhan. Jika hidup kita tidak berkembang ke arah itu, kita akan menjadi lelah. Karena itu penting sekali menyediakan waktu sendirian bersama Allah (alone with God). 

Tokoh Alkitab yang memiliki solitude adalah Musa. Ia punya kebiasaan pergi dan sendirian bersama Allah di tempat yang sunyi. Setiap kali kembali dari persembunyiannya, wajahnya bercahaya. Harus kita akui bahwa bagi sebagian besar orang, sangat sulit melakukan solitude di tengah dunia yang ramai ini. Namun banyak orang berhasil menemukan solitude di tengah keramaian dengan cara-caranya yang unik. Suzana Wesley (ibu dari John Wesley) memiliki banyak anak dan iapun seorang wanita yang sangat sibuk. Namun dia tetap bisa memiliki waktu untuk berdoa dan sendirian bersama Tuhan. Jika anak-anaknya yang banyak itu mengerumuni dia ke mana pun pergi, dia cukup menutup wajahnya dengan celemek dan menyendiri bersama Allah. 

Mengapa seseorang perlu melakukan solitude? Antara lain untuk mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan yang besar. Sebelum memulai pelayanan-Nya, Yesus menyendiri bersama Bapa-Nya selama 40 hari di padang gurun. 

Namun belum tentu seseorang alami solitude walaupun secara fisik dia sendirian, bahkan ketika sedang berdoa sekalipun. Solitude merupakan satu misteri di mana kita menemukan diri kita bersama Tuhan. Tuhanlah yang memberikan space (tempat) bagi kita bersama-Nya. Keadaannya menjadi sulit kalau kita belum menemukan space itu. Seperti terjadi kegelisahan dan kegaringan di dalam diri kita. Keadaannya sangat berbeda ketika kita sudah menemukan tempat itu. Kita akan menjadi lebih rileks, ramah terhadap orang lain, dan tidak akan merasa kekurangan. Solitude memampukan kita memahami bahwa kita adalah milik Allah. Pengertian akan hal tersebut begitu penting, karena tidak ada makanan, minuman atau unsur yang lain yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh hidup kita. Hanya Allah yang dapat memenuhi-Nya. 

Selain ketidaktenangan, apa lagi yang akan terjadi jika tidak ada solitude? Kita akan sangat possesive terhadap berbagai hal, barang ataupun orang. Dalam hubungan dengan orang lain kita kadang-kadang tanpa sadar merasa bahwa kita yang memiliki orang itu. Bisa juga kita ingin selalu hadir dalam hidup orang lain. Kita sering mengira bahwa kita ini berlaku ramah, padahal kita sudah sangat mengganggu bahkan mencampuri hidup orang lain. Sebaliknya, banyak orang-orang yang sangat absen dalam diri kita. Lalu, di mana panggilan kita? Keduanya. Kadang-kadang kita harus hadir, tapi juga perlu absen dalam kehidupan orang lain. Sama halnya dengan saat kita merasa Allah tidak hadir, hal itu masih wajar. 

Sesungguhnya, Allah tidak pernah absen. Ia sedang menyembunyikan diri.' Allah tidak akan mencampuri semua hal dalam kehidupan kita karena kita punya kebebasan, sekalipun Ia tetap berdaulat atas hidup kita. 
Untuk latihan, cobalah melakukan "Terapi Sendirian" selama beberapa hari. Misalnya, melakukan retreat. Jangan membawa apa-apa dan biarlah Anda sendirian di situ. Maka Anda akan kembali dengan pembaharuan dan kesegaran. Namun tanpa retreat pun sebetulnya kita bisa melakukan solitude. Aturlah rumah kita, dan carilah tempat di mana kita bisa merasa nyaman ber-solitude. Selain itu, waktu di lift, saat menyetir sendiri, tempat parkir, ruang tertentu di kantor, beberapa sudut di restoran atau lobby hotel adalah beberapa tempat di mana kita bisa mengalami solitude. 


SILENCE (= Diam, tidak berbicara)
Kesepian (silence) membawa kita pada Solitude (= keheningan). Tapi kita sering merasa tidak nyaman dengan keheningan, termasuk pada waktu kebaktian di gereja. Mengapa keheningan begitu penting di dalam diri kita? 
(a) Sebab keheningan menolong kita masuk pada suatu hal yang sifatnya mendalam. Pengalaman yang ajaib membuat kita terpaku, tidak bisa berbicara. Sebaliknya, hal yang sangat sakit juga akan mengakibatkan keheningan. Jadi pengalaman yang sangat dalam ditemukan dalam keheningan. 
(b) Di Alkitab banyak pengalaman yang mendalam terjadi di padang gurun. Pengalaman rohani di padang gurun mengajarkan kita beberapa hal sebagai berikut, yakni: 

1. Kesederhanaan: 
Di padang gurun kita akan menyederhanakan diri. Tidak ada gunanya membawa hal-hal yang tidak esensial. Kita akan melihat pekerjaan Allah daripada pekerjaan manusia. Di kota besar lebih banyak buatan tangan manusia. Jika tidak hati-hati, kita akan lupa pekerjaan Allah. Karena itu sangat penting bagi kita untuk pergi ke tempat-tempat yang sunyi. Di sana kita disadarkan sesungguhnya siapa yang mengendalikan hidup kita. Pengenalan yang dalam akan diri kita dan Allah 

a. Di padang gurun ada pergumulan, seperti Yakub dan Ayub yang bergumul dengan Allah. Dalam keheningan di padang gurun kita akan bergumul. Pergumulan akan menyingkapkan siapa diri kita dan siapa Allah itu. Di dalam silence di mana kita berhenti berbicara, kita akan menemukan hal-hal yang tidak kita temukan ketika banyak berbicara. Bersabar dan tidak tergesa-gesa. 
b. Dan di padang gurun bukanlah tempat untuk melakukan segala sesutu dengan tergesa-gesa. Allah berjalan dengan manusia, tidak berlari. Ketika kita berlari, mungkin kita sedang berlari di depan Allah atau sedang menjauh dari Allah. Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang instan. Ambil uang tinggal tekan tombol. Hal yang serba instan kerap mengajar kita ingin serba cepat. Jawaban doa ingin cepat. Begitu juga soal kekudusan, kita ingin kekudusan yang instan. Padahal kekudusan adalah proses yang panjang. 

2. Penyembahan
Di padang gurun kita secara spontan akan menyembah Allah. Namun penyembahan bukanlah semacam ritual yang penuh entertainment, melainkan sebuah penyerahan yang total. Kita perlu membangun kebiasaan seperti ini. Perlu diketahui bahwa ketika kita berbicara, kita sedang berusaha mengendalikan orang lain. Sebaliknya ketika diam, kita sedang membiarkan Allah mengendalikan dan mengarahkan pikiran, emosi dan kemauan kita. Dalam keheningan, kita bisa mendengar dan merasakan lebih jelas dan banyak hal-hal yang tidak kita dengar dan rasakan pada waktu kita bicara. Sebagai latihan, pada waktu anda menutup mata untuk berdoa, coba anda belajar untuk berdiam diri dan membiarkan suasana hening untuk beberapa saat sebelum anda bedoa. Selain itu, saudara juga bisa membangun sikap hening dalam ibadah di gereja, baik sebelum maupun sesudah ibadah, bahkan ditengah-tengah berlangsungnya kebaktian. 


STILLNESS (= Keheningan)
MTV memang bisa merupakan suatu bentuk kreatifitas, namun ia juga bisa menjadi suatu contoh kehidupan yang penuh dengan ketidaktenanganan. Tampilannya bergerak terus, menandakan kegelisahan (restlessness). Ini seakan menunjukkan bahwa pembuatan film abad ini penuh dengan kegelisahan. Semuanya serba bergerak dengan cepat, tidak tenang. Ketidaktenangan yang tampak dari luar seringkali menunjukkan adanya ketidaktenangan dari dalam. Hati yang tidak tenang bermuara dari hubungan yang tidak benar dengan Allah. 
Mari kita bandingkan antara ketidaktenangan dengan ketenangan. Kita seringkali bergerak, berlari, namun tidak mendapatkan apa-apa. Mari kita belajar bagaimana berdoa. Berdoa pada awalnya seperti kita membawa air dari sungai ke rumah dengan gentong atau ember yang ditenteng atau dipikul. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah, apalagi biasanya melewati tidak sedikit anak tangga. Akan tetapi karena melalui proses dan waktu yang panjang kita makin terlatih, maka berdoa akhirnya seperti aliran air, bahkan seperti hujan, begitu deras. 

Rasa tidak tenang dalam diri kita menandakan kita sedang berada di arah yang salah. Dengan mengubah arah, akan ada ketenangan. Peliharalah sikap untuk memelihara hari Sabat. Dalam Perjanjian Lama Tuhan menyuruh kita untuk memelihara hari sabat. Selama ini paradigma kita tentang hari istirahat adalah sebagai upah kita bekerja. Kita memandang istirahat sebagai hak karena kita sudah bekerja. Tetapi yang lebih tepat adalah, kita bekerja karena kita sudah beristirahat. Pada malam hari sementara kita beristirahat (tidur) Allah bekerja. Ia memelihara dan menumbuhkan tanaman. Pagi harinya, baru kemudian kita bekerja. Ini mengajarkan bahwa kita bekerja karena Allah telah bekerja lebih dulu. 
Kita mejadi hamba Tuhan karena kita anak Allah. Kita menjadi hamba Tuhan bukan untuk membuktikan sesuatu, untuk mendapatkan sesuatu, atau untuk mendapatkan rasa aman. Kita menjadi hamba Tuhan sebagai ucapan rasa syukur karena kita adalah anak Allah. Stillness adalah berdiam diri, baik itu penampakan luar maupun hati kita. Stillness dari luar adalah ketenangan dari segala aktivitas kita, di mana kita duduk diam. Ini akan menolong kita tidak terjebak dalam kegiatan yang tidak berarti. Stillness dari dalam adalah hati yang tenang. Bisa saja kita tenang secara fisik tapi hati kita gelisah. Oleh karena itu, carilah ketenangan, yang datang dari kedamaian bersama Allah. 

Bagaimana kita bisa mempraktekkan stillness? Puasa kegiatan! Perlu kita ketahui bahwa tujuan awal hari libur (holiday) adalah untuk beristirahat. Tetapi banyak justru di hari libur kita menjadi lebih sibuk. Salah satu cara menikmati liburan adalah dengan tidak melakukan apa-apa. Jangan sampai perlu mengalami musibah atau kecelakaan dulu baru bisa berdiam diri. Nikmatilah saat-saat yang tenang. Karena waktu tenang adalah waktu untuk memperkaya atau memelihara kehidupan rohani kita. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga hari Sabat dengan sungguh-sungguh beristirahat. Kalau kita bisa tenang dari dalam, kita pun bisa tenang dari luar. 


SIMPLICITY
Hidup makin rumit. Banyak hal yang harus kita urus. Kita dihujani oleh berbagai informasi dan komoditi. Di sinilah kita perlu belajar dan menemukan simplicity (kesederhanaan). Sederhana secara lahiriah mungkin bisa saja kita miliki, akan tetapi sangat sulit untuk memiliki kesederhanaan secara batin. Kesederhanaan secara batin menyangkut kemurnian hati dan motivasi dalam hidup. 

Saran praktis untuk memiliki KESEDERHANAAN secara lahiriah (= outer simplicity): 

a) Belilah barang-barang yang tujuannya untuk digunakan bukan untuk prestise.
b) Tolak segala hal yang mendatangkan kecanduan/keterikatan. 
c) Bangunlah kebiasaan memberi barang-barang yang tidak kita gunakan kepada orang lain. Sebab pada dasarnya kita ini pengumpul sampah. Kita sering mengoleksi barang-barang yang
sesungguhnya tidak kita butuhkan. 
d) Belajar untuk memiliki sesedikit mungkin barang-barang yang tidak perlu bagi perjalanan hidup iman dan kemasyarakatan.
e) Belajar untuk tidak mudah mempercayai apa yang diiklankan. Mereka menciptakan kebutuhan dalam diri kita untuk barang atau hal-hal yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Sering orang merasa barang itu adalah kebutuhannya karena iklan yang mengatakan demikian. 
f) Belajar untuk menikmati barang tanpa harus memilikinya. Misalnya, kalau mau baca buku yang bagus, kita tidak perlu membelinya, datang saja ke perpustakaan. Banyak pemilik rumah
pantai yang terlalu sibuk sehingga tidak bisa menikmatinya. Kita cukup memimjam atau menyewanya. Mau lihat ikan kunjungi saja berbagai toko ikan hias atau ke Seaworld. 
g) Hati-hati dengan propaganda credit card: "beli sekarang bayar kemudian." Karena kita akan terjebak pada hutang. Dan yang terpenting, hindari dari segala hal yang bisa menyimpangkan kita dari sasaran utama kita. Di dunia ini terlalu banyak pilihan. Jangan habiskan waktu untuk memilih. Fokuskan pada tujuan utama hidup kita. Hati-hati juga bahwa beli barang yang murah tidak selalu berarti kesederhanaan. Dalam membeli barang selain memperhatikan faktor price juga faktor: durability, usability & beauty. 

Saran praktis untuk memiliki KESEDERHANAAN secara batiniah (= inner simplicity): 

a) Belajar akan rahasia contentment: enough is enough. 
b) Sadari bahwa only few things are needed. (Luk. 10: 41) 
c) Belajar mendengar secara kritis suara-suara batiniah dan suara-suara dari luar. 
d) Belajar untuk mengetahui mana suara Allah dan mana yang tidak.
e) Miliki rasa aman dan harga diri di dalam Kristus bukan pada berbagai gelar, posisi atau banyaknya harta benda kita. 

Kalau falsafah dunia mengatakan "Orang yang besar tinggal di rumah besar dengan yang mobil besar," maka kita tidak perlu seperti itu. Nilai kita tidak tergantung pada hal-hal seperti itu, tetapi pada realita bahwa kita adalah umat Allah bahkan kita ini adalah anak-anakNya. Kita membawa nama Kristus. Kalau kita bisa menemukan makna itu, maka kita bisa hidup secara sederhana. 

Namun perlu diingat bahwa memelihara kehidupan rohani merupakan proses yang panjang dan membutuhkan kerja keras baik secara pribadi maupun secara bersama-sama. Kita perlu bertumbuh bersama-sama untuk saling membagikan pergumulan kita bersama dengan Tuhan. Selamat mempraktekan solitude, silence, stillness, dan simplicity khususnya pada waktu kita sedang alone with God!

0 komentar:

Poskan Komentar