Ads 468x60px

Albert Camus Dan Dramanya:

Melihat Contoh Hubungan Drama (Sastra) Dan Refleksi Filsafat Camus dalam konteks penulis-penulis drama Perancis lain sesudah perang dunia kedua

Dalam kalangan pergaulan dengan penulis-penulis drama dan pendrama Perancis sesudah perang dunia kedua, Albert Camus, (bersama dengan Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, Gabriel Marcel) memiliki kesamaan keyakinan dan pendapatbahwa moral (beserta pemikiran-pemikiran dan renungan filsafati) mesti memakai pendekatan dan bertitik tolak dari eksistensi konkret manusia sebagai individu yang ada dan hidup nyata. Teater atau drama dipakai untuk sarana penyuara keyakinan ini.
Akibatnya, drama-drama Albert Camus lebih merupakan drama situasi konkret eksistensi manusia daripada percaturan watak psikologis seperti drama-drama yang selama ini berlangsung. Hasilnya: watak dan penokohan bukan hanya potret penokohan kejiwaan seseorang sebagai individual saja tetapi juga memuat pandangan filsafat atau problematika moral uang melibatkan umat manusia skala besar (seluruhnya). Kondisi manusia eksistensial macam inilah yang mesti ditangkap lebih dahulu sebelum menikmati drama Camus serta para eksistensialis lainnya. 

Di balik drama Caligula : adakah simbol sesuatu? 
Drama Caligula digarap pada tahap pembahasan Camus tentang paham nihilisme. Nihilisme adalah paham yang menyentak dan bertanya pada makna hidup manusia, apakah kehidupan ini akan berakhir dalam ketiadaan, ketanpaartian? Paham ini berkembang setelah perang dunia kedua memporak-porandakan harkat kemanusiaan. Pada tahap nihilis awal inilah Caligula digarap Camus dengan suasana pesimis, mendung. Dalam drama Caligula, maksud Camus pertama-tama bukannya mau menyodorkan studi psikologis si srigala buas dalam wajah manusia yaitu si Caligula sendiri tetapi mau memaparkan konsekuensi-konsekuensi yang mesti diambil dan dihadapi bila orang mengambil serius paham nihilisme. Dengan kata lain, nihilisme mempunyai kesimpulan-kesimpulan logis yang dasyat.
Titik tolak Camus adalah paham Nazi-isme Hitler yang mengerikan itu. Baginya, Hitler dengan Nazi-nya mau mengiyakan dan menanggapi serta menghidupi nihilisme sepenuh-penuhnya dengan cara dan bentuk perwujudan sengeri itu.
Maka dari itu, drama Caligul boleh jadi merupakan perlambang atau simbol yang dramatis terhadap si Hitler dengan kekejiannya terhadap eksistensi manusia. Dalam diri Caligula sebagai kaisar gila mau dikentalkan simbol figur manusia yang menyumberkan logika politiknya pada keabsurdan dan berusaha mewujudkannya di dunia nyata dengan tragedi pertumpahan darah dan renggutan nyawa sekian banyak orang yang berlangsung dari tahun 1933 sampai tahuan 1945. Figur itu adalah Hitler. 

Tentang naskahnya sendiri 
Drama ini pertama kali ditulis pada tahun 1938 dan dikeluarkan lengkap pada
tahun1958. Versi pertama tidak mengalami perubahan berarti. Sumber materialnya diambil Camus dari buku Suetonius berjudul Riwayat Hidup dan Kehidupan Nyata 12 Kaisar Romawi, yang lalu dibaca dan dipelajari langsung oleh Camus dari teks asli: Latin. Camus menginterpretasi bahan asli menurut ide dan pemikirannya sendiri. Dari bahan asli memang sudah ditemukan Caligula yang gila, yang mengigau, tidak tenang, suka menyeringaikan wajahnya di depan cermin serta suka menatap bulan. Dari teks asli sudah pula terdapat ide gilanya untuk melaparkan rakyat serta mengambil pendapatan mereka untuk disetor ke kas negara. Tetapi adegan penghormatan agung si Caligula yang absurd dengan dandanan Venus serta kontes puisi bertema absurd mengenai kematian memanglah khas penemuan dan interpretasi olahan Albert Camus untuk menyampaikan pesannya. 

Siapa Caligula? 
Dia adalah kaisar Roma ketiga dari keduabelas kaisar lain yang pernah
memerintah kerajaan Romawi. Ia naik tahta pada tahun 37 pada usia 25 tahun dan memerintah selama empat tahun yaitu sampai ia dibunuh pada tahun 41. Selama delapan bulan awal pemerintahannya , ia relatif tenang dan menjadi kaisar yang lumayan. Namun sementara itu ia telibat dalam cinta incest dengan kakak perempuannya yang bernama Drusilla dan mengumumkan keinginannya untuk menikahinya. Tetapi tiba-tiba Drusilla meninggal dan sejak kematian Drusilla inilah, watak dan perangai Caligula berubah dasyat. Perubahan itu dilukiskan dengan tampilnya Caligula sebagai binatang yang menakutkan daripada sebagai manusia. Dia banyak membunuh dan menyiksa orang-orangnya sehingga akhirnya para bangsawan tua memberontak terang-terangan dan membunuhnya.
Ada perbedaan butir permenungan antara pengarang Suetonius dan Albet Camus mengenai berubahnya perilaku Caligula. Suetonius menunjuk epilepsi sebagai penyebab dan ini disebabkan karena ditulari Caesonia si istri Caligula berikut intrik-intriknya. Sedang Camus menujuk kematian Drusilla sebagai sosok pengalaman konkret keabsurdan bagi Caligula. Kematian Drusilla menabrakkan eksistensi manusia pada hakekat nyata keabsurdan dan ini diwakilikan pada figur Caligula. Caligula ternyata mesti menghadapi lekat-lekat sebuah kebenaran bahwa manusia mesti mati dan tidak bahagia. Inilah kenyataan keberadaan manusia yang menekan dan mencengkam Caligula sampai ke akar-akar kesimpulan logisnya. Karena itu, Caligula dilukis mau menyongsong dengan cara melawannya. Padahal, pada kesudahannya ia mesti tahu bahwa kebebasan dan kesewenangan tetap tidak mampu dia peroleh bila cara yang ia pakai adalah penghancuran, pembunuhan dan penyiksaan orang lain.
Camus sendiri memberi catatan ringkas mengenai Caligula sebagai berikut: 
"…bila Caligula itu sungguh-sungguh mempertaruhkan integritas dirinya dengan menolak adanya dewa-dewa dan sama sekali tidak percaya pada campur tangan mereka, maka kekeliruanlah ia bila tidak mau percaya pada umat manusia! Orang mungkin menghancurkan semuanya tanpa akhirnya menghancurkan dirinya 
sendiri. Itulah sebabnya ketika Caligula mau melenyapkan lingkungan yang mengitarinya, dia toh akhirnya justru bertindak sebaliknya yaitu membentengi diri
nya dan mempersejatai diri. Kisah Caligula merupakan kisah logika absurd bunuh diri sebagai puncak gumpalan kesalahan paling tragis manusia. Mengapa? Sebab, si Caligula tidak mau percaya dan tidak mau setia pada kemanusiaan. Hanya dengan mau percaya dan mempercayai kemanusiaan, orang akan bisa percaya diri dan memelihara kepercayaan pada dirinya sendiri. Caligula menyadari ini pada saat-saat terakhir. Ia mau mati setelah belajar bahwa dalam menghayati kehidupan, orang tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Dalam segala kegilaannya, Caligula mau mencari keselamatannya sendiri tetapi sia-sialah itu. Caligula akhirnya juga belajar dari kehidupan ini bahwa melawan kemanusiaan itu tidak membuatnya bahgia sama sekali, tidak pula membuatnya bebas" 

Drama Caligula 
3.1. Maksud drama Caligula
Ketika ditanya mengenai maksud dramanya, Albert Camus mejelaskan bahwa Caligula adalah prototipe atau figur yang keliru dalam menanggapi atau memberikan reaksi terhadap realitas hidup yang absurd. Kekeliruan dia: keabsurdan itu dihadapi sendirian, tanpa mempercayai kemanusiaan.
Caligula berekasi terhadap keabsurdan realitas dengan cara mau menyongsongnya, mengahdapinya dengan caranya sendiri. Cara ini adalah memaksa para bangsawan lain bersamanya menjamah dekat-dekat keabsurdan itu dan bertingkah laku seabsurd mungkin. Wujudnya: pemaksaan keluarga-keluarga para korban yang dibunuhnya untuk tertawa, perampasan isteri-isteri dari suami lalu perkosaan dan pembunuhan sewenang-wenang. Namun inilah cara keliru menghadapi keabsurdan :
"Saya sudah memilih jalan yang salah, jalan yang membawaku menuju ketiadaan. Kebebasanku bukanlah yang sejati."
Di situlah Camus memasukkan maksudnya: di dunia dengan realitas absurd, di mana nilai-nilai moral dan tradsenden menipis, filsafat hidup sejati macam apakah yang mesti dicanangkan dan dihayati agar kehidupan manusia dan kemanusiaan tetap dihormati ? Inilah gugatan Camus pada setiap pemirsa dramanya .

3.2. Siapakah Caligula atau Julius Caesar Germanicus ?
Caligula sebenarnya nama julukan dari Kaisar Caius Julius Caesar Germanicus yang lahir di Antium, 31 Agustus 12. Ketika masih kecil dia senang mengenakan sepatu bot prajurit yang dalam bahasa batin disebut Caligae, karena itu namanya jadi lebih dikenal dengan Caligula.
Pada awal penangkapan dirinya sebagai raja di kekaisaran Romawi, Caligula- pengganti pamannya Tiberius- disanjung-sanjung sebagai tokoh yang populer dan bijaksana. Ia mengampuni lawan-lawan politik Kaisar, meniadakan tukang lapor mengurangi pajak dan mendukung keuangan berbagai macam olahraga. Tetap ia sendiri bisa menjadi Kaisar dengan terlebih dulu mencekik Kaisar Tiberius yang sangat kejam dan memang kebetulan sedang sekarat.
Kebijaksanaan dan teladan Caligula ternyata hanya berlangsung selama kurang lebih delapan bulan. Setelah masa itu ia mulai menyerukan kekuasaan principnya ( yakni kekuasaan warga negara utama ) secara tidak terbatas. Perubahan sifat Caligula itu terjadi setelah kematian saudara perempuannya yang amat ia cintai dan hendak diperistrikannya, yaitu Drusilla. Hampir seluruh anggota kerajaan menentang perkawinan incest antara Caligula dan Drusilla, tetapi Caligula tak peduli.Tetapi Drusilla kemudian meninggal dunia. Kematian Drusilla sangat memukul batin Caligula dan keadaan itu pula yang membawa pikirannya pada suatu dunia baru yaitu dunia "kesewenang-wenangan.". Hal ini terlihat dari tuntutannya agar ia disapa sebagai dewa; Iniciatus, kuda kesayangannya
diangkat menjadi konsul, dibuatkan kandang dari pualam, diselimuti kain beludru berwarna lembayung serta disembah pada hari-hari tertentu oleh rakyatnya. Ia juga menghambur-hamburkan uang negara, memaksa orang-orang kaya untuk mewariskan hartanya kepada negara, dengan seenaknya ia memepermainkan wanita dari segala usia dan golongan serta amat gemar memenggal kepala manusia baik musuh maupun orang dekatnya, bahkan Caesonia, gundiknya yang setia, juga tewas akibat emosi sang Kaisar.
Kekejaman Caligula yang pada akhirnya tak berbeda dengan kekejaman sang paman Tiberius membuat banyak orang resah dan hidup dalam suasana ketakutan. Ini kiranya yang mendorong komplotan Cherea dan Scipion, pengawal-pengawal pribadi Caligula, untuk menghunus pedang dan menebus bahu Caius Julius Caesar Germanicus hingga tewas pada 24 Januari 41. 

4. Lalu mesti hidup secara bagaimana dalam menghadapi realitas dunia yang absurd ini? 
Dalam keyakinan pemikirannya, Camus punya tiga credo : pertama, pada manusia terdapat kerinduan terdalam (keinginan, kedambaan); kedua, dunia ternyata tidak mampu memuasi atau memenuhi keinginan manusia itu; ketiga, muncullah keabsurdan setiap kali manusia berhadapan dengan dunia ( Cfr. Le Mythe de Sisyphe, hlm. 48 ). Ketiga keyakinan ini mempunyai konsekuensi logais sebagai berikut:
Pertama, bila kita yakin bahwa tiap kali manusia berhadapan dengan dunia muncul keabsurdan karena dunia tidak mampu memuasi kerinduan manusia maka keabsurdan ini mesti mati. Kedua, penanggapan yang benar terhadap keabsurdan ini adalah dengan pemberontakan terus-menerus terhadapnya. Pemberontakan ini tidak menjanjikan harapan apa pun bahkan tanpa harapan. Memberontak terhadap realitas absurd itu beresiko maut. Meski begitu, sikap memberontak ini mesti pantang menyerah, terus-menerus siap menyongsong maut. Ketiga, keputusan manusia ketika berhadapan dengan realitas dunia dengan keabsurdannya dalam wujud pemberontakan tadi ( yaitu, dengan melawannya terus-menerus), bagi Camus, merupakan keputusan moral. Ia mengambil keputusan ini karena ia ingin bergerak mengatasi nihilisme. Adanya keabsurdan di dunia mesti dihadapi dan disikapi. Setiap usaha menghindar atau mengganggap tidak adanya keabsurdan, dinamai Camus sebagai tindak bunuh diri secara filsafati.
Bunuh diri berarti manusia menolak masuk terlibat dalam permainan, ke dalam hidup konkret yang absurd. Padahal hidup nyata menurut camus bisa dihayati lebih baik kalau orang mau memperpeka kesadarannya akan keabsurdan sebagai yang hakiki dari dunia ini. Dengan kata lain, bagi Camus : absurditas atau ketanpaartian ini merupakan kondisi manusia di dunia ini. Titik ! Manusia mesti menghadapinya. 

5. Bagi kita ?
Langit mendung yang mnggelantung dalam drama Caligula kini bisa kita pahami berdasar paham kehidupan Camus yang absurd. Terpulang pada kitalah untuk mengaca dan menukik ke nurani kita: mendung dan se-pesimistis itukah hidup manusia ini bila kita yang menghayatinya sadar dan tahu betul bahwa kita mempunyai nilai-nialai dan arah hidup di dalamnya. Bila kehidupan dihayati tanpa arti maka akan mendunglah ia. Bila kehidupan dihayati dengan nilai dan arti di dasarnya : akan otomatiskah matahari makna bersinar di dalamnya ?
Albert Camus adalah satu dari sekian banyak pengarang Perancis yang terkenal sesudah Perang Dunia II. Ia lahir di Mondovi Aljazair, 7 November 1913 dari ayah seorang Perancis dan ibu Spanyol. Ketika usianya baru satu tahun, ayahnya tewas di Perancis dalam pertempuran marne sewaktu PD I. Sebagaimana suasana perang, camus hidup dalam suasana yang serba sulit dan dikelilingi oleh kemiskinan dan kiranya situasi seperti ini banyaik mewarnai tulisan-tulisannya di kemudia hari. Walau hidup dalam situasi semacam itu, sejak kecil camus telah menunjukkan kecerdasannya dan atas bantuan Louis Germain ia berhasil mendapat beasiswa di Sekolah Menegah Lyces d'Alger selama tujuh tahun (1923-1930). Di sekolahnya camus termasuk murid yang menonjol dalam bidang kesusateraan dan olah raga. Walaupun studi dan bakatnya tersendat-sendat karena penyakit TBC yang dideritanya tetapi ia berhasil mendapatkan bea siswa lagi untuk belajar filsafat di Aljazair. Tetapi sayang penyakit TBC-nya terlalu berat sehingga studi filsafatnya terputus-putus. Di usia ke 20 ia menikah dengan Simone Hie tetapi perkawinan itu hanya bertahan selama satu tahun, kemudian pada umur 40 tahun ia menikah untuk kedua kalinya dengan Francine Faure.Selama ia belajar fisafat maka Jean Grenier adalah orang yang berpengaruh dalam pengembangan intelektual, karya sastra serta cara berfilsafat Camus. 

Jika kita membuat periodisasi, maka karir dan karya Camus dapat dikelompokkan dalam dua periode yaitu : 
Periode pertama : dari sekitar tahun 30 sampai dengan awal Perang Dunia I. 
Pada tahun tigapuluhan, Camus aktif dalam tiga bidang yaitu politik, teater dan tulis-menulis. Ia ikut mendirikan Theatre du Travail di Aljazair, menjadi wartawan dan redaktur reporter di surat kabar Alger-Replubican sampai akhirnya menduduki jabatan editor di harian Perancis, Combat. Karya sastra yang dihasilkan dalam periode ini meliputi tiga karya essei yaitu L'Envers et l' endroit (1937), Noces (1937) dan Le Mythe de Sisyphe (1942). Ia juga menghasilkan sebuah novel berjudul L'Etranger pada tahun1942 serta satu naskah drama yaitu Caligula yang dikarangnya dalam edisi bahasa Inggris 13 tahun kemudian (1958). 
Periode kedua: dari akhir Perang Dunia II sampai dengan setelahnya
Pada tahun 1954 , empat suratnya Lettres a un ami allemand (Letters to a German Friened) dipublikasikan dalam bentuk buku kecil. Tahun 1947 terbit novelnya yang terkenal yaitu La Peste (Sampar), kemudian berturut-turut diikuti oleh L'Homme revolte (1951), L'Ete (1954), Le Chute (1956), L'Exil et le royaume (1957) dan Reflexions sur la peine capitale yang ditulisnya bersama Arthur Koestler (1957). Pada tahun 1957, ia meraih nobel untuk bidang kesusastreraan. Sayang, ia begitu ingin memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan Aljazair-tanah kelahirannya-tak sempat menyaksikan kemerdekaan negara itu di tahun 1962, karena pada hari Senin 4 januari 1960 ia meninggal dunia dalam kecelakaan mobil di antara kota Sens dan Paris di Perancis. 


Daftar Kepustakaan 
Bree, Germaine, Camus and Sartre. Delta, New York, 1972. 
Camus, Albert, Caligula, Cross Purpose, The just, The Possessed. Penguain Book,1984. 
------------------, Le Mythe de Sisyphe. Paris, 1942. 
------------------, L'Envers et l' endroit. Paris, 1958. 
King, Adele, Camus, Oliver and Boyd. 1964. 
Konstelanetz, Ricahard, On Contemporary Literature. Avons Books, New York, 1964.

0 komentar:

Poskan Komentar