Ads 468x60px

Bergembira dan Berharap di Tanah Merdeka

Inspirasi Aspirasi Interupsi
68 Tahun Indonesia Merdeka – 48 Tahun Gaudium et Spes


Merdeka : menggembirakan dan memberi harapan

Enam puluh delapan tahun silam, seruan “MERDEKA” merupakan seruan yang menggembirakan dan memberi harapan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Menggembirakan karena MERDEKA berarti terbebas dari belenggu penjajah; sedangkan memberi harapan karena MERDEK mengandung suatu impian masa depan berbangsa yang lebih baik. Kegembiraan dan harapan itu dapat kita temukan dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa perjuangan pergerakan Indonesia telah sampai pada saat yang berbahagia dengan selamat senantiasa, menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pintu gerbang kemerdekaan itu membuka pengharapan akan terciptanya suatu tata kehidpan berbangsa-bernegara yang memberi ruang untuk terciptanya otonomi, persaudaraan, tertib hidup bersama yang tertata, kedamaian dan kesejahteraan.


Hidup beriman dan berbangsa

Kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia diyakini merupakan perpaduan antara karya penyelenggaraan ilahi dan daya-usaha manusia. “Atas berkat Rahmat Allah yang mahakuasa dan di dorong oleh cita-cita luhur….” demikian dikatakan dalam Pembukaan UUD 1945. Ungkapan itu menunjukkan bahwa kemerdekaan itu menyadarkan bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan yang diproklamirkan 68 tahun silam memuat pengakuan akan campur tangan Allah dalam kehidupan dan perjuangan manusia.

Cita-cita hidup berbangsa-bernegara sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 mengisyaratkan suatu cita-cita kehidupan yang didasarkan pada religousitas yang kokoh [bukan berdasarkan agama]. Dasar religiousitas itu terumuskan dalam dasar pertama bagi kedaulatan bangsa yakni Ketuhanan yang Mahaesa.

Pertanyaannya ialah, bagaimana perjalanan bangsa kita setelah melewati pintu gerbang kemerdekaan selama 68 tahun?


Terlepas dari kemajuan-kemajuan pembangunan secara fisik, rupa-rupanya keprihatinan yang mendalam ialah lunturnya sikap batin/religiousitas yang inklusif, karena hal itu semakin dipersempit dalam konteks hidup beragama. Maka tidak mengherankan kalau muncul batas-batas atau tembok-tembok pemisah antar umat beragama. Cita-cita berbangsa-bernegara atau berkedaulatan-berbangsa, sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 di mana kehidupan berbangsa merupakan perwujudan iman, seakan tidak digubris lagi. Hidup beriman dan berbangsa dibersempit menjadi hidup beragama dan berbangsa.


68 tahun Indonesia Merdeka – 48 Gaudium et Spes

Sebagaimana peringatan proklamasi kemerdekaan, mengenang dan mengingat cita-cita kesejahteraan umum, demikian pula Ajaran Sosial Gereja [ASG] memusatkan perhatian pada pemahaman nilai-nilai dasar kehidupan bersama yang bertolak pada pengertian manusia sebagai makhluk berpribadi dan sekaligus makhluk sosial.

Ajaran Sosial Gereja juga menyoroti kaidah masyarakat yang sehat yaitu martabat pribadi manusia, kesejahteraan bersama, solidaritas dan subsidiaritas. Salah satu Ajaran Sosial Gereja yang mencerminkan jati diri dan panggilan-perutusan Gereja di tengah-tengah dunia adalah GAUDIUM ET SPES [Kegembiraan dan Harapan] yang disingkat GS. Dokumen Gaudium et Spes adalah dokumen tentang Konstitusi Pastoral hasil Konsili Vatikan II, tahun 1965. Itu berarti pada tahun ini GS genab berusia 48 thun. 

Gaudium et Spes dan Pembukaan UUD 1945 [Kemerdekaan] memproklamirkan hal yang serupa yakni mengenai jati diri, cita-cita dan dasar-dasar keterlibatan memperjuangkan kesejahteraan umum, mengisi kemerdekaan. Pembukaan UUD 1945 bebicara tentang bangsa yang merdeka; sedangkan Gaudium et Spes berbicara tentang manusia yang jatidirinya merdeka dalam Kristus dan dimerdekakan oleh Kristus.

Dalam usia 68 tahun Proklamasi Kemerdekaan di Indoensia dan dalam usia 48 tahun Gaudium et Spes, baiklah kita menyegarkan kembali nilai-nilai luhur yang tersirat dan tersurat di dalamnya. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 tentunya sudah didalami, dipelajari, dihafalkan di bangku sekolah. Namun pasti lain halnya dengan Ajaran Sosial Gereja seperti Gaudium et Spes. Maka untuk mengenang 48 tahun GS pada usia 68 tahun bangsa Indonesia merdeka, sangat relevan untuk mengenal dan mendalami Gaudium et Spes agar kemerdekaan bangsa ini merupakan hal yang menggembirakan dan memberi harapan.


Nilai-nilai Luhur Gauium et Spes

Gereja sadar akan tanggung jawab perutusannya yakni menghadirkan Kerajaan Alah di tengah-tengah dunia, karena dunialah yang hendak diselamatkan Allah dalam Kristus. Kesadaran itu dirumuskan dalam Dokumen Gaudium et Spes yang membicarakan permasalahan-permasalahan dunia saat itu yang mencakup : Martabat Manusia, Kesejahteraan Umum, Tanggung Jawab Pemerintah; Penghargaan pada keluarga-keluarga; Hak Budaya; Keadilan dan perkembangan; serta Perdamaian.

Kalimat pertama dalam Gaudium et Spes merangkum tugas perutusan kehadiran Gereja di tengah-tengah dunia ini “Kegembiraan dan harapan……… orang-orang di jaman sekarang ini, adalah kegembiraan dan harapan……..murid-murid Kristus juga”. Mau tidak mau Gereja harus menjadi inklusif/terbuka terhadap dunia. Gereja berada di dalam dunia, bukan di luar dunia. Gereja dengan demikian menjadi bagian dari dunia yang akan diselamatkan.


Pokok-pokok gagasan GS adalah :
Gaudium Et Spes (GS) diumumkan pada tahun 1965. Kebiasaan Gereja menyebut dokumen-dokumen dengan 2(dua) kata pertaman dari suatu dokumen (Mis. Rerum Novarum) termasuk Gaudium Et Spes yang berarti Kegembiraan dan harapan. 

Dari kata Gaudium et Spes tidak bisa ditarik satu kesimpulan, sebab dengan kata itu ternyata KV II berbicara tentang Gereja.
Konsili Vatikan menerbitkan 4 konstitusi dan 14 dekrit juklak dan 3 deklarasi

Konstitusi
1. Dei Verbum (Firman Illahi)
2. Lumen Gentium (mengenai Gereja)
3. Sacrosanctujm Consilium (pembaharuan Liturgi)
4. Gaudium Et Spes

Sejarah GS
Semua konstitusi dipersiapkan sebelum konsili, kecuali GS baru dicetuskan setelah konsili mulai. Ide ini dicetuskan Kard Suenens pada akhir sesi I.
Dikerjakan 4 sesi (sessi 62-65). Pada akhir sesi 1 Kardinal Suenens berkata: kita hanya berbicara urusan ke dalam, yang terpenting adalah Gereja ke luar, apa yang ditawarkan Gereja ke dunia) karena itu konsili mulai berbicara tentang GS. GS menandai perubahan besar pemikiran Gereja tentang dirinya yang tidak melihat pusernya sendiri, tetapi harus ke dunia. Pikiran ini sudah di panasi oleh pidato pembukaan Yohanes XXIII.

Isi GS :
1. Pendahuluan (Pandangan pokok)
2. Beberapa masalah yang amat masalah yang mendesak (Perkawinan, Kebudayaan, Sosial Ekonomi, Negara, Perdamaian)

Pembicaraan pada pandangan pokok menjadi lebih penting pada saat ini karena akan memperoleh dasar/prinsipial untuk memandang masalah-masalah pada point II. 



Pemahaman Isi
GS tidak mulai dari teori tetapi melihat fakta teologi. Dimulai dari pengalaman konkret di lapangan. 
Permasalahan pertama yang coba digarap adalah arti DUNIA. Apa yang dimaksud dengan dunia (menjelaskan maksud dari dunia) Kita Gereja ada di dalam “dunia” disana. Yang menjadi pertanyaan apakah kita menjadi bagian dari Gereja. Titik pangkalnya melihat Gereja sebagai suatu lembaga, suatu institusi (Paus, Uskup, Umat).
Gereja dan dunia ada 2 aspek yang penting : 

Allah berbicara namanya wahyu
Manusia bicara namannya Iman

Segala perwujudan nyata disebut dunia
Perwujudan iman disebut gereja.

Karena itu Gereja dan Dunia merupakan dua fase, dua aspek, dua segi dari hidup manusia. Kristus datang untuk menyelamatkan manusia otonom (dunia) yang mengungkapkan imannya: Kristus menyelamatkan Gereja (orang beriman).

Orang beriman harus ada subyek otonom terlebih dahulu. Gereja berkembang karena ada dunia.
Kristus datang untuk menyelamat manusia. Gereja adalah sebagian dari dunia yang mengungkapkan imannya.

Dunia menjadi lebih penting. Di dunia ini ada keadaan yang menyita waktu manusia, yakni TIDUR. Orang tidur itu bukan Dunia (karena tidak otonom) dan bukan Gereja (karena tidak mengungkapkan iman).

GS menegaskan bahwa Gereja dan dunia bukan lembaga tetapi 2 (dua) segi/aspek dari kehidupan manusia. Kejujuran dan keadilan (dunia) relasi terungkapnya Gereja. 

Masa awal Gereja adalah kelompok kecil umat beriman. Hal ini merosot pada saat Gereja menjadi institusi besar. Keadaan ini mesti dicermati.Gereja mesti kembali memperhatikan bukan institusi, tetapi ungkapan iman. Liturgi mesti ditekankan bukan pada material ucapan lembaga, tetapi ungkapan iman.

Administrasi bukan pada surat baptisnya, tetapi pada kehidupan imannya Karya sosial harus membuat manusia semakin OTONOM. Dalam arti ini KV II adalah konsili sekularisasi, dalam arti mempromosikan otonomi manusia.

Kenyataan yang terjadi sekarang ini manusia tidak memikirkan antara dunia dan Gereja. Sejauh mana Gereja menolong orang untuk beriman bukan hanya sebagai intitusi. Apa arti Gereja sebagai instutsi bagi dunia, membantu orang lebih otonom membantu orang lebih bertanggungjawab. Persoalan adalah fungsi Gereja sebagai institusi. Khsusunya apa arti PSE sebagai institusi untuk manusia (Lebih memanusikan manusia). Manusia lebih bertanggungjawab lebih otonom)

Keteganang Roh dan institusi (yang penting pelayanan) pastoral sosial umat mensyukuri anugerah diharapakan tumbuh kesadaran dalam diri umat.

3 (tiga) Prinsip dasar Gaudium Et Spes :
1. Martabat pribadi manusia 
2. Masyarakat manusia
3. Kegiatan manusia

Martabat pribadi manusia : 
Konsili berbicara sbg pribadi manusia sebagai citra Manusia berbeda dengan binatang berbeda dengan mahluk lain. Dalam perjanjian Baru Kristus disebut sebagai Gambaran Allah karena ia berhadapan sendiri dengan Allah. Kristus juga seperti yang dikatakan dalam PL yakni otonom di hadapan Bapa, tetapi justru karena ia berelasi dengan Allah. Di hadapan Allah manusia tidak sekedar pasrah, tetapi juga bertanggungjawab pada Allah. Otonomi dan iman bukan dua hal yang bertentangan, manusia bertanggungjawab pada Allah, manusia beriman. 
Konsili sangat hormat pada otonomi manusia. Dalam hal ini berbeda dengan Marx yang lebih mengutamakan masyarakat, yang pada akhirnya melemahkan hormat terhadap otonomi manusia

Masyarakat Manusia : 
Dalam masyarakat modern sosialisasi semakin penting. Dan ketergantungan satu sama lain dalam masyarakat semakin besar. Kita harus membedakan antara hubungan sosial dengan relasi. Yang menjadi perhatian kita adalah menjalin relasi dengan orang lain. Cita-cita Gereja/Konsili Vatikan bukanlah masyarakat Kristiani. Cita-citanya adalah bagaimana orang Kristiani yang betul-betul hidup secara Kristiani dalam masyarakat umum.

Kegiatan Manusia : 
Tugas dunia adalah kewajiban iman. Perwujudan iman dalam kegiatan dunia sangat penting. Allah marah besar jika manusia melalaikan tugas dunia. Membangun dunia adalah bebas otonom Pelayanan iman (membuat orang isyaf, otonom) dan penegakan keadilan(membangun kerjasama dalam tanggungjawab untuk masyarakat)

Yang menjadi perhatian kita : 
Inti daripada segalanya adalah manusia itu sendiri. Kita sering terbungkus atau terselimuti oleh kegiatan kita. Apakah kita sudah menjadikan manusia sebagai makhuk yang otonom dan tugas Gereja. Sejauh mana kita sudah melakukan hal-hal tersebut. Adakah dasar martabat pribadi manusia, manusia mempunyai otonomi dan bertanggungjawab pribadi manusia.

0 komentar:

Poskan Komentar