Ads 468x60px

Gereja Memandang Kaum Muda Sebelum Tahun 2000

1. Prolog:
Menjalankan proses refleksi atas kondisi real orang muda zaman ini yang dikorelasikan dengan paham keselamatan kristiani ternyata membutuhkan keberanian untuk menanggalkan sejumlah asumsi dalam benak kami, kemudian berusaha merekam fakta apa adanya, mencermati refleksi yang pernah ditempuh, serta memperbincangkannya dalam diskursus yang kerap dipenuhi oleh harapan kami sendiri sebagai insan muda. Sebuah petikan dari Erasmus “Masa depan suatu bangsa ditentukan oleh baik buruknya orang mudanya” kami letakkan di awal tulisan ini karena kami yakin bahwa pada kaum muda sekarang ini terletak suram cerahnya masa depan dunia.
2. Gereja Memandang Kaum Muda
a. Ranah Global 
Dekrit Vatikan II tentang kerasulan awam “Apostolicam Actuositatem artikel 12, memandang kaum muda sebagai kekuatan yang amat penting dalam masyarakat. Kaum muda adalah garda depan dan agen perubahan masyarakat. Dikatakan juga, bahwa kaum muda berada dalam situasi perubahan. GS. 7 juga mengungkapkan pengamatan akan gejala yang sama....”Perubahan mentalitas dan struktur kerap menimbulkan perbedaan pandangan tentang nilai-nilai yang diwariskan, terutama pada kaum muda, yang kerap kurang sabar, bahkan penuh rasa memberontak karena gelisah dan anti kemapanan .”

Paus Yohanes Paulus II sebagai perintis adanya “World Youth Day” ternyata bnar benar memiliki kepedulian besar pada kaum muda (Bdk: wawancara dengan Vittorio Messorini). Dalam wawancara tersebut, Paus menegaskan bahwa generasi muda zaman sekarang berkembang dalam konteks yang berbeda dengan generasi muda sebelumnya. Walau tidak mengalami perang melawan komunisme, fasisme/totaliter, namun generasi muda kini sama-sama memiliki idealisme. Dalam diri mereka, ada potensi luar biasa untuk kebaikan dan kemungkinan yang kreatif (Yohanes Paulus II, “Melintasi Ambang Pintu Harapan”, Jakarta, Obor, 1995, 152-163). 

Dalam kesempatan ikut memperingati Tahun Orang Muda Sedunia yang dicanangkan PBB, pada tahun 1985, Paus pecinta orang muda ini mengeluarkan surat apostolik yang menyapa kaum muda (Lih. John Paul II, “To the Youth of the World: Apostolic Letter on the Occasion of the International Youth Year, March 31, 1985”, dalam The Pope Speaks, vol.30, 1985): Masa muda sebagai masa pencarian dan belajar membuat pelbagai keputusan pribadi. Paus mengingatkan agar kaum muda tidak mudah terpengaruh dampak iklan, ekses negatif multimedia dan pola hidup konsumeristis.

Masih menyinggung orang muda, dalam ensiklik Novo Millennio Ineunte diungkapkan juga bahwa tahun Yubelium 2000 merupakan momen penting untuk menilai pembaharuan diri Gereja demi pelaksanaan tugas evangelisasi yang segar dan tanggap zaman. Berkenaan dengan ini, banyak kaum muda dengan intensitas doa yang tinggi, berusaha mencari makna persahabatan dalam perayaan Tahun Yubelium Agung. Kaum muda menunjukkan diri mereka sebagai anugerah Roh Kudus bagi Gereja. Dengan segala ambiguitas yang mencirikan kaum muda, tampak suatu kerinduan mendasar akan nilai-nilai dalam diri Yesus Kristus. Kristuslah jawaban yang meyakinkan:“Yesus Kristus tetap sama dulu, sekarang dan akan datang.”(Ibr 13: . Hal ini juga masih terjadi sampai tahun 2013 ini.

b.Ranah Regional
Keprihatinan Gereja terhadap kaum muda tampak pula dari seruan para uskup Asia yang tergabung dalam FABC-Federation of Asian Bishops Conferences (”Dokumen Sidang-sidang Federasi Konferensi Para Uskup Asia 1970-1991”, KWI, Jakarta, 1995, hal. 22-26. Dan, Gomez, Filipe, “The FABC and Youth”, dalam East Asian Pastoral Review, no.1, vol XXII, 1985). 

Ketika para uskup Asia pertama kali berkumpul di Manila tahun 1970, mereka mengeluarkan sebuah pernyataan yang menggambarkan wajah Asia sebagai benua kaum muda. Hampir 60% orang Asia berusia sekitar 25 tahun ke bawah. Para uskup Asia mengakui bahwa mereka melihat adanya kebangkitan orang muda di Asia:penuh idealisme, kesadaran dan kepedulian, walaupun kerap disertai dengan ketidaksabaran dan pemberontakan saat menghadapi kondisi sosio-ekonomi dan struktur sosial politik di negara mereka. Gereja menaruh sikap peduli pada mereka, betapapun diakui bahwa kerap “bahasa” yang dipakai orang muda berbeda dengan generasi sebelumnya dan bahasa yang terjalin dalam komunitas Gereja (FABC 1, hal. 180).

Pengakuan peranan orang muda juga tampak tercermin dalam pernyataan sidang FABC IV di Tokyo. Dikatakan bahwa generasi muda Asia memegang peranan penting dalam upaya transformasi sosial (Dokumen FABC I, hal. 305-307). Adapun Sidang FABC VI di Manila, tahun 1995 sekaligus sebagai peringatan akan usia 25 tahun FABC, diadakan bersamaaan dengan diselenggarakannya World Youth Day. Dalam sidang yang mengambil tema tentang “Christian Discipleship in Asia Today: Service to Life”, tersebut sempat diselenggarakan sebuah lokakarya seputar kaum muda. Di dalamnya kaum muda digambarkan sebagai orang-orang yang haus akan pengalaman rohani dan ingin menggali pengalaman seluas mungkin. Gereja Asia diajak untuk membuka peluang agar kaum muda dapat menemukan wadah untuk mengungkap-wujudkan pelbagai impian mereka. Sebelumnya, 1994, FABC membuat temu pastoral kaum muda. Dalam kesempatan itu, diungkapkan kembali keyakinan Gereja bahwa masa depan Asia terletak pada kaum mudanya. Gereja Asia harus menjadi kaum muda kalau mau merombak wajah Asia. 

C. Ranah Lokal
Kerap Gereja menyebut kaum muda sebagai masa depan dan harapan, namun harapan tersebut diletakkan dalam keprihatinan-bahwa kaum muda mengalami krisis. Mereka cenderung tidak lagi akrab - bahkan alergi - dengan tradisi dan hidup menggereja dengan segala atributnya (Bdk. Sinode KAJ, 1990, hal. 37: KAJ merasa perlu memperhatikan kaum muda dengan maksud .”agar semangat juang, idealisme, dan kesediaan berkurban mereka dapat terangsang.......”) 

Dalam lingkup lokal Indonesia, pada tahun 1995, KWI mengeluarkan “Pedoman Gereja Katolik Indonesia” (hal.28-31). Dalam pedoman tersebut, Gereja Indonesia tidak ingin hanya meletakkan kaum muda dari sudut “persiapan”, yang dipandang demi kepentingan masa depan. Tantangan bagi Gereja adalah bagaimana Gereja bisa ikut menciptakan lingkungan tempat nilai-nilai dasar manusiawi dijunjung, sehingga kaum muda dapat bercermin ke dalamnya, saat mengolah proses penemuan identitas dirinya. Keprihatinan terseebut juga diungkap dalam “Laporan Gereja Katolik Indonesia”, saat kunjungan ad limina para uskup kepada Paus, tahun 1996. Para uskup kembali menegaskan bahwa kaum muda tidak hanya dipandang sebagai generasi penerus, tapi harus dilihat sebagai generasi pembaharu (Lih. KWI, “Laporan tentang Gereja Katolik Indonesia”, 1988-1996”, Spektrum, no.1, vol. XXV, 1997, hal. 20-21, 68-69). 

Sebelumnya di tahun 1993, Komisi Kepemudaan KWI mengeluarkan “Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda”. Pedoman yang dikeluarkan untuk kepentingan pengarahan bagi para pembina dan pemerhati kaum muda. Kaum muda dilihat sebagai generasi yang sedang tumbuh dan berkembang, yang berperan sebagai penerus dan pembaharu. Sedangkan mengenai tujuan pembinaan kaum muda dirumuskan sebagai: “berkembangnya diri mereka sebagai manusia dan sebagai orang Katolik Indonesia yang tangguh, tanggap dan terlibat dalam hidup menggereja, bernasyarakat, berbangsa dan bernegara”. Keprihatinan serta kepedulian Gereja terhadap kaum muda ditunjukkan pula oleh KAJ. Bapak Uskup, (alm) Mgr. Leo Soekoto, mendirikan “Civita Youth Camp”, sebagai ‘base-camp’ kaum muda. Beliau juga mendirikan sekretariat kerasulan kaum muda (kini menjadi komisi kepemudaan). Tahun 1976, Mgr. Leo Soekoto mengeluarkan surat gembala Prapaskah tentang pembinaan generasi muda. Beliau menegaskan tentang perlunya cinta-terlebih dari keluarga supaya kaum muda bisa berkembang secara sehat (Lih. Soekoto, Leo, “Surat Gembala Prapaskah 1971-1987”)

Pada bulan Maret 1989. Leo Soekoto mengesahkan Pedoman Mudika KAJ, yang disusun oleh Komisi Kepemudaan Indonesia. Pedoman tersebut menyebutkan arah pembinaan kaum muda sebagai: “........berkembangnya kaum muda sebagai insan Katolik Indonesia yang mau dan mampu mengamalkan nilai-nilai Kristiani dalam hidup menggereja dan memasyarakat........” Sinode KAJ 1990, seperti tertuang hasilnya dalam Pedoman Pastoral KAJ banyak bicara tentang kaum muda (semoga juga bicara dengan orang muda). Sebelumnya, ada 269 sumbang saran yang berbicara tentang kaum muda (Angka 269 tersebut berarti 2,9% dari keseluruhannya). Pada tahun 1995 (juga pada tahun ini, 2003), sebagai tindak lanjut sinode, KAJ menggelar Temu Pastoral, dengan tema kaum muda. Komitmen perhatian Gereja KAJ pada kaum muda diwujudkan secara konkret dengan keputusan untuk menyisihkan dana kolekte 5% untuk kepentingan kegiatan kaum muda (Keputusan “Dana Pembinaan Generasi Muda” ini diumumkan oleh Mgr.Leo Soekoto, SJ pada 11 Oktober 1995). 

3. Epilog
Sebenarnya buat apa Gereja memiliki kepedulian dan keprihatinan akan kaum muda (bahkan mencita-citakan sebagai Gereja kaum muda), kalau dalam mewujudkannya Gereja kerap jatuh dalam kecenderungan untuk melakukan pendekatan dari atas, massal, organisatoris dan penyediaan sarana. Dalam kenyataan tersebut, pelbagai bahan dan tradisi di atas yang merupakan pandangan Gereja tentu saja tidak cukup. Perlu ada langkah pastoral yang lebih konkrit. Menjadi pertanyaan bersama, kira-kira langkah pastoral apa yang perlu dibuat kini, karena BERBICARA TENTANG kaum muda tidak ada artinya jika tidak BERBICARA DENGAN kaum muda.

0 komentar:

Poskan Komentar