Ads 468x60px

Keluarga: Mandiri, Misioner, Berdaya Pikat- Berdaya Tahan



Sebuah Pengantar:
Visi Keuskupan Agung Jakarta ketika era Mgr Leo Soekoto adalah menjadi Gereja yang Mandiri, Misioner, Berdaya Pikat dan Berdaya Tahan. Sudah berlalu dua puluhan tahun, tapi tetap terasa aktualitasnya karena keluarga sebagai gereja mini (basic eccelesia) juga dipanggil menjadi keluarga yang Mandiri, Misioner, Berdaya Pikat dan Berdaya Tahan. Mengambil inspirasi dari kisah perkawinan di Kana, di mana Yesus membuat mukjijat untuk pertama kalinya (Bdk: Yohanes 2:1-11), kami usulkan satu perangkat nilai yang bisa dibangun oleh sebuah keluarga kristiani sebagai Gereja mini, dalam filosofi “CaBe LoTiSS”:

Cabe itu pedas.
Maka setiap anggota keluarga musti pedas (dalam artian positif), musti terasa kehadiran dan peranannya, jelas kontribusinya. Yesus bersabda ”Untuk apa garam yang kehilangan asinnya, selain dibuang dan diinjak-injak orang?” Setiap keluarga kristiani musti punya rasa, bahasa populer-nya Nescafe…tunjukin rasa loe!

Lotis itu aneka buah.
Keragaman yang menyegarkan. Unitas in Diversitas! Setiap pribadi menyumbang rasanya dalam sebuah keluarga. Seperti panggilan Samuel, Yeremia, Yesaya, kita dipanggil secara pribadi masuk ke dalam sebuah keluarga, tapi kita dipanggil juga dalam kesatuan, seperti jemaat perdana, kelompok dua belas atau gereja awal. Dalam kebersamaan, setiap keluarga mengembangkan persekutuan, pelayanan, ibadat, pengajaran iman, kesaksian dalam kesehariannya. Inilah kita. Satu tubuh banyak anggota. Masing-masing berkontribusi untuk satu tubuh yang sama.

Mengartikan teks:
Filosofi “Cabe Lotis” sendiri merupakan kependekan dari penggalan 5 kata bijak, yakni: caring, bearing, loving, transforming, dan sharing. Sekarang apa nilai yang dikandung Cabe Lotis?

1. Caring
Pesta perkawinan di Kana kalo sampai kehabisan anggur, kemungkinan besar karena yang hadir mbludak seperti pentas Iwan Fals atau Katty Perry misalnya, atau pertandingan final Piala Dunia dan atau piala Champions. Artinya apa? Artinya banyak orang yang peduli pada kebahagiaan kedua mempelai dan keluarganya. Yesus datang juga bersama Maria dan para murid.

Dia datang karena peduli. Di tengah-tengah pesta ternyata anggur habis, panitia bingung, malu, cemas, takut. Maria tahu! Dia peduli! Dan dia coba ikut memberi kemungkinan solusi dengan bicara pada Yesus yang nampaknya cuek karena waktunya belum tiba untuk membuat sesuatu yang luar biasa. Tapi lihat, karena kepedulian Maria, kehendak Allah berkaitan dengan waktu bisa diubah. Hati Allah yang maha kasih itu tersentuh. Lalu panitia pesta tidak jadi malu karena habis anggur, tapi malu karena dipuji anggurnya kok enak banget.

Bisa jadi, kalo ada anggota keluarga yang lagi cuek, kita diundang untuk peduli. Kalo bapak lagi sakit, baik juga kalau dibuatin masakan fave-nya. Kalo ada anak yang lagi sedih karena putus cinta misalnya, ya boleh jadi bahagia kalau disapa oleh bapak-ibunya. Kepedulian soal hati, itulah caring: menangkap gerak keprihatinan dan kegembiraan yang lain. Disinilah, perHATIan secara personal diperlukan, dan menghantar pada point ke dua:

2. Bearing
Ada kisah abad 15 di Jerman, desa kecil.
Sebuah keluarga dengan 18 anak, 2 anak bercita-cita sekolah seni, tapi tahu keuangan keluarga sulit diharapkan. Lalu dibuat konsensus: Undian dengan koin. Yang kalah akan bekerja di tambang terdekat dan hasilnya dipakai studi yang menang. Saat yang menang selesai studi, ganti dia membiayai studi yang kalah terserah dengan cara apa.

Begitulah satu orang, yakni Albert pergi bekerja di tambang, yang satu lagi, yakni Albrecht pergi studi. Empat tahun kemudian studi selesai, Albrecht pulang disambut perjamuan makan meriah. Albrecht memberi sambutan, toast, dan berkata: “Albert, trima kasih.. sekarang giliranmu untuk kuliah mengejar cita-citamu, aku akan membiayaimu.” Albert duduk sambil meneteskan air mata, menggeleng-gelengkan kepala sambil tersedu2 dan berulang berkata” tidak.. tidak…”. Akhirnya dia bangkit, menghapus air matanya dan mengulurkan tangan ke Albrecht: ”Tidak saudaraku, terlambat bagiku untuk pergi belajar. Lihat… apa yang terjadi dengan tanganku selama empat tahun dalam tambang. Tulang-tulang pada setiap jari sudah remuk, saya menderita radang sendi berat hingga bahkan untuk memegang geas anggur untuk menyambut ucapan selamatmu tak mampu, apalagi untuk membuat garis2 di kanvas… tidak saudaraku….”

Untuk menghormati Albert atas segala pengobanannya, Albrecht Durer dengan seksama menggambar tangan-tangan saudaranya yang menderita dengan telapak tangan menyatu dan jari2 bengkok menunjuk ke angkasa. Lukisannya diberi judul ‘hands”, tapi dunia hingga sekarang menamainya “tangan2 yang berdoa”. Saling menanggung, itulah bearing. Kalo pagi ini ibu tidak memasak karena kesiangan, tapi ada wajah baru, yakni si anak atau bahkan si bapak yang menggantikan, itu bisa karena kesediaan saling menanggung.

3. Loving
Kata Paulus, ada trilogi penting bagi orang Kristiani, yang kerap saya sebut sebagai “Hidangan Istimewa Kristiani, yakni: Harapan, Iman dan Kasih, dan yang terbesar adalah Kasih. Kasih Bunda Maria dan kasih Yesus, membuat mukjijat Kana menjadi ada. Kasih mengalirkan kebaikan. Itulah loving!

Khalil Gibran dalam Sang Nabi pun berkata: Saat cinta menuntunmu, ikutlah dengannya walaupun jalan yang harus kau tempuh berliku. Dan saat sayap-sayapnya merangkulmu, serahkanlah seluruh dirimu padanya walaupun pedang2 yang ada dibalik sayap2 akan melukaimu. Sebagaimana cinta memahkotaimu, ia menyalibmu. Menumbuhkan juga memangkasmu. Saat engkau mencintai jangan katakan Tuhan ada dalam hatiku, tapi ucapkan, aku ada di hati Tuhan.

4. Transforming
Inilah inti kisah Kana: perubahan air menjadi anggur. Inilah juga yang diharapkan. Anggur adalah tanda suka cita dan antusiasme pesta perjamuan perkawinan Yahudi. Maka bagaimana membuat setiap keluarga kristiani menjadi lebih bermutu, lebih memberi suka cita. Suatu perubahan dari dalam. Itulah transformasi. Kita bisa belajar dari Tiram: Sebutir pasir terbawa arus masuk ke dalam cangkangnya, melukai dagingnya yang halus dan lembut. Ia tak berdaya melepaskannya. Apa yang dilakukannya? Ia mengeluarkan lendir, membungkus pasir itu, dan setelah berbulan bertahun lewat, sebutir pasir itu telah berubah menjadi mutiara. Mulanya dari sesuatu yang remeh, kecil, menyakitkan, sederhana, tapi Tuhan mengubah menjadi mutiara indah yang mahal harganya.

5. Sharing
Perubahan air menjadi anggur tidaklah untuk dinikmati panitia pesta sendiri. Yo.. yo.. disimpan, nanti diminum sendiri ..nggak… anggur yang nikmat itu ada untuk dibagikan. Ini soal berbagi sukacita, berbagi rahmat. Ibarat cermin, tugas setiap anggota keluarga, yakni memantulkan cahaya ilahi yang kita terima ke sudut-sudut yang paling gelap sekalipun. Ajak kita semua menikmati kegembiraan itu. Kita mau saling berbagi sinar yang kita terima untuk menerangi juga saat-saat sedih pedih dari pengalaman hidup kita. Aku berbagi, maka aku ada, itulah sharing. Sebuah penggalan kata dari Ibu Teresa bailklah kita ingat, “jika anda ingin mengubah dunia, mulailah dari keluarga anda masing-masing”

Sebuah panggilan:
Bisa jadi, setiap anggota keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi seperti pelayan-pelayan yang diminta Yesus menuangkan air ke dalam tempayan besar. Tuhan membutuhkan kita untuk mengubah dunia (baca: keluarga kita) menjadi lebih baik. To make a Better World. Itulah serving. Seperti idaman Michel Jackson. Heal the world, make a better place, for you and for me and the entire human race. Akhirulallam, ini semua bisa lebih mudah dicapai dengan prinsip 3 M, yakni: “Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil dan mulai dari sekarang”. Selamat memulai menjadi keluarga yang Mandiri, Misioner, Berdaya Pikat dan Berdaya Tahan!!

0 komentar:

Poskan Komentar