Ads 468x60px

Kembali Ke Keutuhan Kitab Suci (2)

 Mengumandangkan kembali suara kenabian yang hilang

KEHEBATAN suatu kelompok minoritas seringkali dilihat dari banyaknya anggota kelompok itu yang duduk di lembaga-lembaga pemerintahan, atau dominasi kelompok minoritas itu dalam sistem ekonomi. Cara berfikir demikian, menurut hemat saya, harus dibalik. Ukuran kekristenan harus dapat dilihat dari seberapa seriusnya kita menyuarakan aspirasi kaum miskin, orang-orang yang tertindas, serta mereka yang buta dan tidak bersuara. Untuk itu, sebagai landasan teologis kita saya ingin mengusulkan enam hal sebagai berikut.

Pertama, perlu pemahaman kembali seluruh Kitab Suci secara integral, tanpa melepaskan pemahaman terhadap Perjanjian Baru dengan pemahaman terhadap Perjanjian Lama. Keteladanan para Nabi dalam era Perjanjian Lama perlu dikawinkan dengan hikmah yang tersirat dalam Perjanjian Baru, di mana pergumulan yang dihadapi para penulis Injil yang harus mengayuh biduk di antara ketiga batu karang yang sudah diuraikan di atas dapat kita saksikan terulang kembali di masa kini. Ketiga batu karang masa kini adalah pertama, sikap represif penguasa dunia, yang belum dapat menerima kritik secara lapang dada; kedua, sikap konservatif para pimpinan lembaga-lembaga agama, yang lebih mementingkan kelestarian lembaganya serta ekspansi umatnya ketimbang fungsi-fungsi profetiknya; serta ketiga, keradikalan gerakan-gerakan kemasyarakatan (social movements), termasuk gerakan-gerakan kemerdekaan, yang mudah terjebak dalam pancingan aparat-aparat represif negara untuk ikut memberhalakan kekerasan. 

Kedua, perlu re-interpretasi terhadap nats Matius 10: 16. Apa atau siapa yang dimaksudkan dengan “kawanan serigala” ke tengah-tengah mana orang Kristen diutus? Apakah yang dimaksudkan itu adalah orang-orang yang beriman lain? Ataukah kekuatan-kekuatan sosial, politik dan ekonomi yang menghalangi pengembangan potensi kemanusiaan kita secara maksimal dan total? Lalu, apa pula yang dimaksudkan dengan ungkapan “cerdik seperti ular” dan “tulus seperti merpati”? 

Ketiga, perlu re-interpretasi terhadap nats Matius 22: 21. Apa yang dimaksudkan dengan pembedaan antara “hak Kaisar”, yang di masa kini perlu diartikan kembali menjadi “hak Negara”, dan “hak Tuhan”? Di samping mencerminkan usaha Yesus untuk menolak perjuangan pembebasan nasional yang menghalalkan segala cara, saya pribadi menafsirkan nats itu sekedar sebagai usaha desakralisasi fungsi dan kedudukan Kaisar sebagai Kepala Negara, yang di zaman Romawi dianggap sebagai penjelmaan Dewa-Dewa. Teladan itu diikuti oleh Paulus dalam Roma 13, yang juga dapat dianggap sebagai usaha Paulus untuk menciptakan ruang gerak bagi umat Kristen awal di tengah-tengah belahan dunia yang sedang dikuasai oleh kekaisaran Romawi.

Keempat, perlu popularisasi teladan Yohanes Pembaptis, yang tanpa tedeng aling-aling berani mengecam perselingkuhan antara Raja Herodes dengan Herodias, isteri Filipus, saudaranya. Sikap kenabian saudara sepupu Yesus ini akhirnya menyebabkan dia kehilangan nyawanya. 

Kelima, perlu populerisasi dari seluruh pewartaan Kabar Gembira (= Injil), yang bertumpu pada Magnificat Bunda Maria (Lukas 1: 51-55), khotbah pertama Yesus di Nazareth (Lukas 4: 18-19), Khotbah di Bukit (Matius 5-7) serta Penghakiman Terakhir (Matius 25: 31-46), 

Keenam, seluruh drama penyaliban perlu ditelaah kembali sebagai drama politik, yang dapat menjadi sumber inspirasi untuk menelaah drama-drama politik yang ikut menentukan nasib umat Kristiani di Indonesia. Soalnya, karakter-karakter yang terlibat dalam drama penyaliban itu sangat manusiawi, dan dapat kita temukan dalam drama-drama politik masa kini di Indonesia. 

Satu hal yang menarik bahwasannya yang ada di kaki salib hanyalah Yohanes, murid Yesus yang paling muda, serta sejumlah perempuan. Mereka itu adalah Maria ibunda Yesus, Maria isteri Kleopas, saudara Yesus, Maria dari Magdala, Maria ibu Yakobus dan Yohannes, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, Yohana istri Khuza, serta Salome. Para perempuan itu jugalah yang melihat kubur yang disediakan oleh Yusuf dari Arimatea dan bagaimana jenazah Yesus dibaringkan. Lalu pada hari ketiga, Maria Magdalena dan Maria yang lain datang ke kubur untuk merawat tubuh Yesus dengan rempah-rempah. Makanya, mereka jugalah yang pertama kali mengetahui kebangkitan Yesus, dan menyampaikan kabar gembira itu kepada para murid (lihat Lukas 23: 49, 55, 24: 10; Matius 27: 55-56, 61, 28: 1; Markus 15: 40-41, 47, 16: 1; Yohanes 19: 25, 20). 

Para perempuan itu memang punya peranan besar dalam seluruh karya penebusan Yesus. Selain Maria bunda Yesus yang melahirkan Yesus, mereka mengikuti dan melayani Yesus dan para muridNya dengan kekayaan mereka, mereka kemudian menjadi inti jemaah Kristen pertama di kota Yerusalem, menyaksikan ajalnya, dan bermaksud merawat jenazahnya, yang dicatat secara cermat oleh Lukas, tabib dari Siria dan satu-satunya penulis Injil yang bukan orang Yahudi itu (lihat Duyverman 2003: 65; Leks 2003b: 639-47, 652-60). Ini semua merefleksikan kesetiaan perempuan dalam banyak gerakan pembebasan, di saat-saat genting sekalipun. 

Pada saat yang sama, ini juga merefleksikan perhatian Yesus, seorang rabbi yang sangat terbuka mengajarkan sabdaNya kepada perempuan, bertentangan dengan tradisi agama Yahudi waktu itu (Leks 2003b: 229, 308). Bahkan dapat dikatakan bahwa perempuan merupakan mitra utama Yesus dalam mendobrak kebekuan agama Yahudi lewat dua peristiwa berikut. Pertama, penyembuhan seorang perempuan yang sudah 18 tahun lamanya dirasuki roh sehingga sakit sampai bungkuk dan tidak dapat berdiri tegak. Penyembuhan itu dilakukan di sebuah rumah ibadat, pada hari Sabat, sehingga meresahkan musuh-musuh-Nya, yang tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi argumentasi Yesus (Lukas 13: 10-17). Kedua, pembasuhan kaki Yesus oleh seorang perempuan dengan air mata dan minyak wangi sebagai ekspresi penyesalan perempuan itu, sehingga Yesus spontan mengampuni dosanya. Kejadian ini bertempat di rumah seorang Farisi, yang telah mengundang Yesus makan di rumahnya (Lukas 7: 36-50). 

Ada dua hal yang patut dicatat di sini. Pertama, kedua kejadian ini sangat menimbulkan amarah establishment agama Yahudi waktu itu, yang terus terakumulasi sampai mereka bertekad menghukum mati orang, yang dalam bahasa sekarang, telah menyebarkan “ajaran sesat” di depan batang hidung mereka. Kedua, dalam kedua kejadian yang ikut mengantar Yesus ke kayu salib, Yesus melawan patriarki dalam masyarakat Yahudi, yang secara ideologis dilandasi interpretasi terhadap Kitab Kejadian, yang menempatkan perempuan sebagai “penggoda”, sehingga manusia terusir dari Firdaus. Jadi, kelahiran Yesus dari rahim seorang perempuan serta keterlibatan begitu banyak perempuan dalam karya penebusanNya, merupakan penjungkirbalikan citra perempuan dalam masyarakat Israel yang belum mengenal kesetaraan gender.

Sebaliknya, Simon Petrus, laki-laki jagoan pemimpin keduabelas rasul, tidak disinggung keberadaannya di Bukit Golgota oleh keempat penulis Injil. Petrus sebelumnya sudah tiga kali menyangkal bahwa ia mengenal Yesus sebelum ayam jago berkokok tiga kali. Hal ini juga menunjukkan bagaimana banyak pemimpin gerakan-gerakan malahan sering lari di saat-saat genting.

0 komentar:

Poskan Komentar