Ads 468x60px

Napak Tilas Budayawan



(Memoria: Belajar dari seorang UK…..) 

Hidup mesti dihadapi dengan common sense.
Dan wujud kebudayaan (teater, cerpen, film, lenong) adalah refleksi kehidupan dengan akal sehat dalam pelbagai kewajaran dan sikap yang rileks. Rileksasi itulah suasana hidupnya Mas Umar Kayam…...


1. Prolog: UK (Umar Kayam), Requescat in Pace 
Setelah bertahun tahun berumah abadi di Karet, sosok budayawan Umar Kayam masih cukup terasa, terlebih ketika saya kembali asyik membuka salah satu bukunya menjelang liburan lebaran tahun 2013 ini, kumpulan sketsanya dalam “Mangan Ora Mangan KUMPUL” : suaranya yang bergetar mencampur-baur kosakata Indonesia, Jawa, Inggris, dan Belanda dalam satu kalimat yang pas, gress dan lucu; cerita-cerita pendeknya yang menggetarkan-yang belum tertandingi penulis cerita pendek Indonesia manapun. Kegairahannya terhadap makanan, kesenian, kekeluargaan, dan persahabatan. Seperti alter ego-nya yang bernama Ageng, Kayam menyusuri alur hidupnya tanpa rencana besar, tanpa ambisi yang berkobar, tanpa siasat atau strategi. Tapi sesungguhnya Kayam adalah sosok yang merayakan “hidup”. Dengan segala kesulitan yang mencekik, Kayam menyusuri hidup dengan sikap yang rileks, penuh humor, tapi dengan kegairahan yang penuh….. 

Maka, pada kesempatan ini, saya ingin mengenang tokoh dan pemikiran Mas Kayam tentang transformasi budaya, yang saya bagi menjadi tiga bagian: 

Bagian pertama akan berbicara tentang pengertian transformasi serta transformasi yang terjadi sebelum penjajahan yang dilakukan Belanda. 

Bagian kedua berbicara tentang transformasi yang terjadi pada masa penjajahan Belanda. 

Bagian ketiga, berbicara tentang dampak transformasi yang telah terjadi untuk transformasi pada masa sekarang dan masa depan Indonesia dan juga kesimpulan dari seluruhnya ini. 

Untuk itu, di sini akan saya sajikan ringkasan tiga bagian tulisan Umar Kayam itu dan pada akhir penulis akan memberikan semacam tanggapan kritis atas tulisan Umar Kayam.



2. Penjabaran Isi: Trans-formasi Kebudayaan ala U(mar) K(ayam) 

Bagian I 
Transformasi adalah proses pengalihan total dari suatu bentuk sosok baru yang akan mapan; tahap akhir dari suatu proses perubahan; proses yang lama bertahap-tahap, namun merupakan titik balik yang cepat, bahkan abrupt. Pengertian tranformasi ini dapat dilihat pada dialektika Hegel dan Marx. Dialektika Hegel adalah dialektika spiritual di mana sang spirit terus mengilhami dialektika tersebut untuk sampai transformasi akhir pada Sang Spirit Yang Absolut. Dialektika Marx adalah proses dialektik yang terus menerus diilhami oleh pertentangan kelas yang berebut penguasaan alat produksi untuk sampai pada puncak dialektika masyarakat yang tak berkelas, yang langgeng dan abadi. Berbeda dengan pandangan Hegel dan Marx. Weber berpendapat bahwa transformasi adalah memahami motivasi budaya dari masyarakat tersebut. Weber melihat lahirnya kapitalisme bukan dari sudut pergeseran penguasaan alat produksi, namun dari sudut perkembangan sistem nilai.

Rostow dalam bukunya The Stages of Economic Growth menekankan perubahan serta transformasi pada perubahan sosok bentuk dari prasarana alat-alat produksi serta pola konsumsi masyarakat. Rostow melihat perkembangan masyarakat tradisional ke masyarakat peralihan dari kondisi tradisional ke kondisi take off, lalu ke masyarakat take off, masyarakat yang berkembang untuk matang dari tahapan masyarakat dengan konsumsi massa yang tinggi. Alvin Tofler dalam The Three Waves memberikan pembabakan perubahan sebagai berikut : gelombang revolusi tehnologi canggih serta tinggi di bidang elektronika, komputer serta biologi

Berangkat dari definisi-definisi yang disajikan oleh beberapa tokoh di atas dapat dikatakan transformasi adalah kondisi perubahan dari serat-serat budaya yang menyangga, anyaman teguh kebudayaan masyarakat yang suatu saat merusak dan membusuk yang selanjutnya tidak berfungsi lagi sebagai pengikat kesatuan kebudayaan. Dalam suatu transformasi terdapat dialog yang terjadi karena “perintah historis” seperti yang dialami kebanyakan dunia ketiga yang mencoba mencari format dan sosok budaya yang akan lebih mampu dan efektif dalam menjawab tantangan ekonomi serta kebudayaan yang dihadapkan kepadanya oleh statusmya sebagai kawasan jajahan negara-negara Barat.

Perintah historis yang dimaksudkan adalah sejak semula menyadari kenyataan, realita, geografi dan dengan demikian juga geoekonomi dan geopolitik kawasan kepulauan ini. Sejak awal penghuni kepulauan ini menyadari kenyataan-kenyataan tersebut. Kekayaan rempah-rempah, hasil bumi lainnya, serta letak yang strategis membuat kepulauan ini kawasan perdagangan yang ramai dengan India sejak awal abad pertama dan dengan Cina sejak abad ketiga. Berangkat dari situasi Indonesia ini terjadilah proses pencanggihan komuniti-komuniti menjadi satuan-satuan pemusatan kekuasaan, pemerintahan dan di berbagai tempat juga kerajaan-kerajaan. Pendeta Hindu dan Budha mengikuti jejak para pedagang dan ikut menanamkan lebih jauh penyebaran agama Hindu dan Budha. Pola yang sama juga terjadi pada Islam pada abad ke 13. Lewat arus perdagangan dan para alim-ulama agama baru itu datang menggantikan sistem kepercayaan yang lama yang merupakan bagian terbesar kepulauan kita. 

Hal yang menarik dari transformasi-transformasi itu adalah nampak terusnya bahasa “perintah historis” yang mengingatkan kepada nenek moyang untuk memperhitungkan serta memanfaatkan kondisi geografis, geoekonomis serta geopolitik dari kepulauan kita. Bahasa tersebut adalah strategi budaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari berbagai pengaruh kekuatan peradaban dan kekuatan ekonomi serta politik, misalkan saja Kerajaan Srivijaya sebagai kerajaan maritim, dan pusat agama Budha Mahayana. Keberadaan Hindu dan Budha di kepulauan ini memberikan clue adanya sikap budaya yang luwes. Lentur serta kreatif dalam memperkaya kebudayaan. Dari pertemuan dengan kebudayaan yang berbeda itu terdapat suatu penyesuaian dengan kebudayaan setempat, seperti adanya jawanisasi terhadap pengaruh India pada zaman pasca Mataram. 

Majapahit adalah proses perkembangan transformasi kebudayaan Jawa dalam menentukan sosok yang mantap sebagai sintesa budaya Jawa-Hindu. Demikian juga yang terjadi pada Islam yang datang kemudian ke kepulauan ini. Dan, ketika Belanda datang pada abad ke 17 ada suatu perubahan yang besar dan merupakan kejutan pagi penduduk kepulauan nusantara. Ini terjadi karena para pedagang Eropa, khususnya Belanda di sini membawa serta armada perang, meriam dan bedil, serta organisasi perdagangan yang rumit dan canggih. Mereka memonopoli perdagangan rempah dan menguasai jalur perdagangan. Konfrontasi keras terjadi antara nusantara dengan Portugis, Inggris dan Belanda. Konfrontasi itu membawa kekalahan pada nusantara. 

Bagian II 
Transformasi yang dialami selama penjajahan Belanda merupakan transformasi yang tidak serentak dan sama. Pengalaman Jawa yang mengalami penjajahan selama tiga abad berbeda dengan Aceh yang mengalaminya selama 32 tahun. Memang benar bahwa masyarakat nusantara adalah agraris tradisional dan feodal, namun tantangan, tekanan serta skala prioritas yang ditetapkan oleh Belanda dalam melaksanakan politik penjajahannya beserta kekhasan serat-serat budaya tersebut telah memberikan corak dan warna yang agak berbeda dalam pelaksanaan dialog budaya tersebut. Jawa dengan pengalaman cultuustelsel memiliki pengalaman kebijaksanaan perkebunan tanaman komersial dari penjajah, mengenal atau mengalami apa yang oleh Clifford Geertz disebut sebagai involusi pertanian. Ini tidak dialami oleh Sumatera Barat atau Sulawesi Selatan yang sama-sama memiliki lahan tanah yang subur. Mutu tanah yang tinggi dan dan tehnik yang baik tidak sepadan dengan tuntutan tehnologi ekonomi Belanda yang dapat dikatakan rakus itu. Para petinggi pemerintah kerajaan pun akhirnya takluk pada Belanda. Pada waktu memasuki abad ke 20 Belanda berhasil menciptakan beamtenstaat, negara yang apoliptik, yang terutama mengandalkan dinamikanya pada birokrasi dan tidak pada kekuatan politik yang hidup dalam masyarakat, semakin sempurnalah penyerapan sistem pemerintahan lokal ke dalam sistem birokrasi Hindia Belanda (1983).

Beamtenstaat Hindia Belanda ini merupakan transformasi budaya yang diciptakan dan dipaksakan oleh Belanda terhadap seluruh kawasan kepulauan kita yang sejak itu merupakan kesatuan pemerintah meskipun pemerintahan jajahan. Suatu paham yang menjurus pada the shaping of modern thought. Suatu proses yang pada hakekatnya adalah proses pergeseran konsep kosmologis dari manusia Barat yang semakin sekuler, rasional, dan materialis. Beamtenstaat merupakan alat atau suatu instrumen dari suatu negara kolonialis dan imperialis dengan tujuan utama untuk menempatkan negara taklukan tersebut sebagai bagian taklukan suatu kerajaan besar dan menjadikannya salah satu sumber pendapatan kerajaan. Keberadaan pandangan beamtenstaat ini membawa konflik pandangan magis religius dengan budaya rasional yang sungguh sekuler.

Dari sinilah terdapat transformasi budaya, yaitu dari yang agraris feodal, yang magis religius, ke dalam pranata, suatu institusi yang berorientasi pada sistem nilai yang rasional, sekuler dan materialis. Transformasi membawa pada kesadaran bangsa pada keberadaan terbelakang dan maju. Kemajuan nampak dalam terciptanya uang. Memang sebelumnya uang sudah dikenal, namun peredarannya menjadi sangat luas ketika ada Belanda. Kemajuan juga berarti kepandaian, ketrampilan, pemilikan kiat, atau dengan kata lain pemilikan kemungkinan-kemungkinan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan Barat membawa suatu nuansa yang berbeda dari yang tradisional.

Berangkat dari keberadaan pendidikan Barat itu, yang meskipund dari pihak Belanda tidak bersungguh-sungguh mendidik, muncul suatu usaha kebangkitan untuk mengadakan pendidikan terhadap banyak penduduk nusantara. Ini dicoba didobrak oleh Dr. Wahidin Soedirohoesodo dengan mendirikan Boedi Oetomo. Kehadiran Boedi Oetomo memicu tumbuhnya organisasi-organisasi lainnya

Di samping itu, tumbuhnya pendidikan Barat juga semakin dimungkinkan ketika ada gerakan politik etis dari Belanda sendiri. Dari keadaan ini muncullah transformasi budaya yang gilang-gemilang. Namun demikian tekanan pada setiap daerah berbeda. Di Jawa masih nampak magis-religius dari lapisan pra Hindu, Hindu dan lapisan tipis Islam, dan memakainya sebagai kerangka acuan untuk memahami beambtenstaat. Di Sumatera Barat, tepatnya Minangkabau Islam menjadi kuat dan kerap menggunakan idiom Islam.

Sampai akhirnya terbentuk negara kebangsaan. Negara kebangsaan mengingatkan pada “perintah historis” bagi kawasan kepulauan yang selama penjajahan Belanda tidak dapat dilaksanakan dengan sukses. Perintah historis ini berkaitan dengan geografi, geopolitik dan geoekonomi kepulauan ini. Berkenaan dengan bahasa nasional sudah dibentuk ketika Sumpah Pemuda. Substansi perdebatan dan argumentasi hangat, demokratis dan bermutu tinggi terjadi dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan yang merupakan kristalisasi dari polemik polotik antara partai politik, pergerakan nasional dan pemerintahan Hindia Belanda selama beambtenstaat. Selanjutnya pidato presiden tentang weltanschauung, pandangan dunia, falsafat negara dari negara republik melahirkan Panca Sila adalah kristalisasi semua polemik, renungan, dialog, politik dan budaya tang telah dilakukan dengan kawan dan lawan politiknya bahkan mungkin tembok pengasingannya. 

Bagian III 
Semua kristalisasi tersebut adalah akumulasi dari upaya para pendahulu untuk memahami format dari konfrontasi budaya kita dengan budaya Barat. Konfrontasi ini memakan waktu yang begitu lama. Akhirnya dapat dirumuskan dua jalur besar kemungkinan transformasi budaya tersebut. Jalur pertama adalah pengetahuan tentang format dan kerangka konsep serta filsafat Barat tentang negara lewat para pemimpin politik. Memang pada kenyataannya konsep tentang negara yang dimaksud adalah konsep beambtenstaat. Oleh karena itu para pemimpin mengupayakan adanya transformasi beambtenstaat menjadi negara kebangsaan yang berbentuk republik kesatuan. Hal ini mendapatkan puncaknya pada rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan di Jakarta tahun 1945. Kata “kesatuan” ternyata merupakan suatu kata keramat. Mereka mengupayakan terciptanya kesatuan dan kebangsaan baik bangsa, tanah air dan bahasa.

Jalur transformasi yang kedua yang dirumuskan oleh para bapak pendiri negara, yaitu negara yang terbelakang ekonomi menjadi negara industri modern. Para pemikir dan pemimpin politik sejak zaman penjajahan, baik dari nasionalis kiri atau pun moderat menyimpulkan kondisi keterbelakangan kita adalah karena dijajah dan tidak memiliki kemerdekaan untuk mengatur ekonomi sendiri. Kesimpulan mereka adalah penjajahan harus diakhiri. Berkenaan dengan jalur transformasi budaya ini para tokoh budayawan tanpa sadar atau disadari telah membangun aristektur kebudayaan modern. Soetan Takdir Alisjabana mengatakan bahwa perkembangan kebudayaan kita haruslah berorientasi ke Barat, yaitu kebudayaan yang menghasilkan teknik, ilmu pengetahuan dan industri. Ini berbeda dengan pandangan Sanoesi Pane yang mengatakan bahwa kita harus menggabungkan Arjuna dengan Faust: “memesrakan” materialisme, intelektualisme-individualisme, dengan spiritualisme, perasaan dan kolektivisme

Sikap budaya kita sesudah mencapai kemerdekaan kiranya sudah terumuskan, yaitu sikap mandiri dan sekaligus terbuka terhadap pengaruh kebudayaan modern. Dari sini diupayakan transformasi dari agraris-feodal menjadi masyarakat modern yang demokratis.Dengan demikian terdapat dua sisi dampak dari keberadaan dua jalur transformasi budaya kita. Di satu sisi ada unsur-unsur budaya tradisional yang tetap mengakar, di sisi lain ada budaya yang berkembang karena pertemuan budaya asing. Budaya yang masih mengakar seperti nilai keselarasan, nilai rukun, nilai halus dan kasar, nilai luwes, canggih, dan cantik bagi orang Jawa. Nilai-nilai lain yang masuk ke Indonesia antara lain rasionalitas, efisiensi, prinsip egaliter, menjunjung tinggi hak asasi, demokrasi, sistem terbuka, kebebasan mengeluarkan pendapat. Pengaruh Barat sekarang ini nampak secara nyata dalam penggunaan pembabakan Alvin Tofler terhadap pembangunan di Indonesia. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Barat memegang peranan yang cukup penting dalam perkembangan Indonesia dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern industri. 

Kesimpulan Transformasi Budaya Kita 
Transformasi budaya menghasilkan sintesa budaya yang sangat mengesankan akibat dialog antara Srivijaya dan Budha Mahayana, dialog Jawa Tengah dengan Budha Mahayana dan Hindu-Siwa, dan dialog budaya Jawa Timur dengan Hindu-Wisnu yang mencapai puncaknya pada kelahiran Majapahit. Dialog yang terjadi ini menjadi rusak ketika Belanda datang ke Indonesia dan melahirkan involusi budaya. 
Kebudayaan Barat masuk dari segala jurusan membawa nuansa tersendiri bagi Indonesia. Konsep beamtenstaat yang diciptakan Belanda memberikan kendala counter-productive. Bahkan di Indonesia saat kini muncul dan berkembang korupsi. Dalam situasi yang demikian tehnik dan industri dicoba dikembangkan. Mereka berpendapat kemajuan terdapat pada perkembangan industri. Bila industri maju kebudayaan akan menyesuaikan dengan kemajuan itu. 
Berkaitan dengan point nomor dua di atas, Umar Kayam berpendapat bahwa ia kurang setuju bila modernitas dikaitkan dengan feodal-beambenstaat. Orang harus terbuka pada pandangan yang lain-lainnya. 



3. Tanggapan: Berani Berkontak
Pandangan Umar Kayam tentang feodal-beambenstaat menurut saya ada benarnya. Pembangunan tidak bisa didasarkan hanya pada kemajuan industri. Indonesia perlu menerima kenyataan dirinya sebagai negara agraris. Untuk itu perkembangan pertanian perlu dikembangkan dan jangan terlalu menekankan industri berat. Mementingkan industri dan mengesampingkan faktor yang lain adalah tidak bijak. Perkembangan industri dapat mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial yang tajam antara kaya dan miskin. Angka yang miskin akan lebih besar dibandingkan dengan angka orang-orang yang kaya. Ini berarti ketidakberhasilan pembangunan. Untuk itu Indonesia perlu mengembangkan unsur-unsur kekhasan Indonesia dan perlu mengesampingkan faktor feodal-beambenstaat, di mana ada pemaksaan terhadap bidang-bidang pertanian demi kerakusan pihak-pihak tertentu. Berkenaan dengan itu pemerintah Indonesia perlu mengaji ulang kembali konsep pembangunan yang telah dibentuk, terutama saat kini setelah pemerintahan orde baru telah berakhir. Masyarakat Indonesia perlu terbuka pada aspek-aspek lain yang lebih tepat bagi keadaan Indonesia saat kini. 

Orang Latin berpetuah: ‘Tempus mutatur et nos mutamur in illud’ (Waktu berputar dan kita diubah olehnya). Kita lihat bahwa waktu ternyata tak hanya berputar, tapi juga berlari (menyitir istilah para pemikir postmodernisme). Secara jujur, kita sudah memasuki pelbagai realitas: kaya warna, nuansa pun citra. Tanah air kita yang dulunya adalah kosmos kini lebih kerap menjadi khaos. Kemajuan iptek yang semula perlahan, kini kian menderas pun mengaras. Padahal Indonesia adalah negara yang besar sekali. Menyitir Romo Mangun, bentangan Sabang sampai Merauke itu seperti London ke Teheran, melewati semua negara di Eropa, ditambah Timur Dekat, atau hampir seperti Jakarta - Osaka. Indonesia kaya akan banyak suku, budaya, agama, bahasa-cerita rakyat ‘local genius’. 

Sepenuhnya kita perlu sadar bahwa masyarakat Indonesia memang bukan penduduk kontinental darat yang kompak bersinambung seperti Rusia, Cina, atau Amerika Utara. Bahkan orang Eropapun, yang negerinya relatif tidak luas, membutuhkan proses seribu tahun untuk memulai kesadaran baru tentang kesatuan Eropa. Negeri ini seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma, dan sebagian besar terdiri dari lautan serta selat-selat yang mengeping-ngepingkan tanah air menjadi serakan pulau lepas. Ribuan pulau dan ratusan bahasa pun adat mewarnainya. 

Maka, keberhasilan ide Negara Kesatuan Republik Indonesia seharusnya suatu masterpiece, nyaris mukzizat. Aku sebagai anak muda nusantara kerap juga bertanya: “Siapa sih sebenarnya orang Inlander, Bumiputera, Fillius Terrena alias rakyat Indonesia? Apa seperti wajahnya Bung Karno, Mbah Harto, GusDur, Akbar Tanjung…atau Desy Ratnasari atau seperti anak-anak ABG di mal-mal, atau…seperti wajahnya para gelandangan di perempatan jalan-jalan protokol atau seperti mereka yang hanya berkoteka? Alasan berbangsa Indonesia sejak dulu memang tidak didasarkan pada warna kulit atau etnik. Keputusan untuk mengidentifikasi diri sebagai bangsa Indonesia didasarkan pada “hasrat untuk menyatukan diri, le desire d’ensemble”. Sungguh, sesuatu yang tremens et fascinants! 

Fakta di atas melahirkan suatu kesadaran baru, yakni multikultural. Multikultur, sebab bangsa ini sungguh suatu bangsa yang besar dan berbhineka raya akan sumber daya alam dan manusianya. Multikultur adalah suatu modal dasar bangsa yang potensial untuk menjadi suatu masyarakat yang sungguh pantas hidup dalam peradaban modern ini. Yang kerap mesti diingat adalah multikultur ini bisa menjadi bom waktu, tapi juga bisa menjadi tumpuan harapan. Tinggal bagaimana kerterbukaan kita, pada kemajemukan terjadi. Pun, bagaimana toleransi pada mekar-indahnya taman bunga pluralitas tanah air ini, juga menyediakan tempat untuk menyalurkan pelbagai potensi. Atau, bagaimana kita bisa memberikan banyak ruang publik yang demokratis bagi semua komponen yang membentuk bangsa res-publica ini. 

Pada jaman Yunani klasik, gambaran mengenai manusia ideal dirumuskan dengan istilah “kalos kagatos” (harafiah: indah, dan berbudi luhur). Dari pengertian di atas, saya melihat bahwa, “nilai pokok yang ingin mereka salurkan ialah kemanusiaan yang paripurna, yang serba bisa, yang secara seimbang mengembangkan cipta, rasa dan karsa. Maka untuk mencapai kalos kagatos, di tengah era globalisasi dengan segala kekhasannya, potensi diri rakyat dan tanah air Indonesia harus dikenali dengan baik dan integral. Pengenalan yang integral itu tertempa oleh praksis yang senantiasa direfleksi, trial and error. Cara paling baik adalah tentu, bangsa tidak boleh lupa pada warisan masa lampau yang benar-benar berharga (baca: sejarah atau tradisi). Dan yang baru dan bernilaipun, kendati datang dari luar (dan biasanya anak-anak mudalah yang kreatif pun proaktif membawanya) jangan apriori ditolak begitu saja. 

Semua rakyat harus pandai-pandai menyaring dan mengkristalkan apa saja yang benar dan salah. Sebab, bangsa kita adalah warga dunia, bukan sekte atau suku terasing yang menutup diri. Lagi-lagi, bahasanya Romo Mangun, yakni menjadi generasi pasca Indonesia-Pasca Einstein, tanpa harus kehilangan jatidiri tentunya. Kini, di tahun 2000-an dengan budaya virtual reality – banyak orang muda yang mungkin darah dan kulitnya asli langsat duku atau sawo matang, tetapi lebih matchink bercelana blue jeans ala Westlife daripada berbatik ria ala priyayi. Yang sukanya musik jazz atau rock ala Bon Jovi atawa The Corrs daripada gamelan atau gambang kromo. Yang punya impian kuliah di Harvard, Cambridge, Oxford daripada di Gajahmada atau IAIN misalnya. Yang lebih tahu riwayat hidup Britney Spears daripada Waldjinah apalagi R.A.Kartini. Tidak tepatlah rasanya orang muda tersebut disebut kebarat-baratan, atau terkena amerikanisme. Lebih tepatlah, kiranya proses yang sedang dialami ini dilihat sebagai suatu gerak global planeter yang evolutif. 





4. Epilog: Pantha rei
“…..Begitulah, orang baik selalu……
meninggalkan kenangan yang baik pula. 
Mas Kayam pasti senang di atas sana, 
karena banyak orang mengenang dia…”


Menyitir paparan Bung Karno bahwa “Kemerdekaan bangsaku adalah jembatan emas.” Sebetulnya, jembatan adalah sarana untuk dilewati. Kemerdekaan bangsa Indonesia hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yaitu kemerdekaan manusia-manusia Indonesia. 

Sebelum mangkat, UK (Umar Kayam), seorang manusia merdeka yang ingin juga memerdekakan manusia-manusia Indonesia lainnya, ketika sakit semakin menimpanya, masih sempat bernyanyi: “Jangan ditanya ke mana aku pergi…” Ternyata besoknya, ia mengalami pendarahan yang hebat. Dan, 10 Maret 2002, Kayam mengumpulkan seluruh keluarga di sekeliling tempat tidurnya. Bagi Kayam, yang mencintai kehidupan, toh kematian dihadapi dengan rileks. Dia mendapuk Dhunuk, istri Danarto untuk bernyanyi. Maka, Dhunuk pun menyanyi Ave Maria. Kayam juga mendaulat Rendra membaca puisi. ”Will (brodus), moco puisi toh…” Rendra lalu mengumandangkan bait-baitnya yang terkenal: “.......Kemarin dan esok….sama saja…”Saat menjelang sakratul maut, Kayam sempat menggumam lirih, terputus-putus, campuran bahasa Jawa dan Indonesia yang merobek hati: “Ampun Gusti. Aku ora iso ngaji. Aku ora kuat, aku ora iso. Barengan karo sedulur-sedulurku di Gadjahmada, sedulurku Goenawan Muhamad, tugasku memperindah kebudayaan yang bagus….kesenian yang tidak menguasai anggota-anggotanya. Dudu kekuasaan, nanging organisasi bebarengan, nanging gotong royong ….Gusti, kekuatan Gusti Allah tak tompo.” 

“….dan malam itu berjalan seperti malam yang lain. 
Hangat, seronok, gerr, srupat-sruput minum wedang…., 
sat-set melahap gudeg..” 
(Kayam, Mangan Ora Mangan Kumpul)

0 komentar:

Poskan Komentar