Ads 468x60px

Prawacana Penulis untuk Buku “XXX” – Family Way"

Prolog
Family Way

“Orang boleh pandai setinggi langit, 
tapi selama ia tidak menulis, 
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. 
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 

“XXX – Family Way” adalah sebuah buku sederhana, yang berisi 30 (“XXX”) permenungan sekaligus pemaknaan tentang sebuah rumah bernama keluarga. Bahan yang saya pakai sebagai kekayaan survey, data statistik dan pelbagai dokumentasi dalam buku ini banyak saya ambil dari pelbagai bahan pendampingan pastoral keluarga “In-Search Action Quest” (ISA, Tindakan Pencarian-diri dari Dalam), yang diolah-susun oleh Alfons Sitorus, demi menyelamatkan, menata-ulang sekaligus merefleksikan perkawinan dan keluarga. Disinilah, menjadi tepat apa yang pernah diucap-kecapkan oleh Socrates, “hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalani.” 

Di lain matra, berangkat dari praksis di lapangan, bahwa pastoral keluarga mesti melibat-pikatkan banyak orang: sejumlah pakar medis dan moralis, pemerhati, praktisi, aktivis, advokat juga rohaniwan, maka buku ini sendiri hadir sebagai salah satu jalan kecil untuk semakin memperkaya dan mempermakna arti penting sebuah keluarga dengan segala carut marut pendampingannya. Menyitir Thomas Carlyle, “jika sebuah buku lahir dari hati, ia berusaha menjangkau banyak hati yang lain," maka buku ini juga saya hatur-persembahkan bagi seluruh hati keluarga Katolik dengan segala tunggang-langgangnya: tempat kita semua pernah tumbuh-mekar bersama orangtua dan sanak saudara kita.

Di lain matra, apa yang pernah dilakukan oleh Amnon bin Daud, yang memperkosa adiknya, Tamara, yang amat cantik, atau kedua gadis anak Lot yang memperkosa ayah mereka agar mendapat keturunan, atau kisah klasik ketika Daud menghamili Betseyba, Kain membunuh Habel adiknya, dan ketika Yusuf kecil dibuang ke sumur dan dijual oleh kakak-kakaknya sendiri, juga ketika kakak sulung iri hati terhadap kebaikan ayahnya yang menerima dan mengadakan pesta buat adiknya sendiri dalam perumpamaan tentang ‘Anak yang Hilang’ menampakkan bahwa ada pelbagai duka dalam sebuah rumah bernama keluarga. 

Dalam kacamata biblis, tercandra juga pelbagai suka dalam keluarga: Bukankah Kitab Suci kita dibuka dengan kisah tentang keluarga? Di Perjanjian Lama, kisah tentang keluarga Adam dan Hawa, di Perjanjian Baru, kisah tentang keluarga Yosef dan Maria. Baiklah juga kalau kita mengacu pada Injil Yohanes, bahwa Yesus membuat mukjijat yang perdana dalam sebuah peristiwa keluarga di Kana, dan Yesus juga membuat mukjijat yang paripurna lagi-lagi dalam sebuah peristiwa keluarga di Betania. 

Scribo ergo sum, I write therefore I am. Harapannya, semoga dengan hadirnya buku sederhana, yang sarat dengan pelbagai kutipan dan olah-alih permenungan juga pemaknaan, mukjijat yang dulu terjadi di keluarga Kana dan Betania, boleh juga kembali terjadi di rumah kita masing-masing, yah..sebuah rumah bernama: keluarga, yang bukan hanya berdaya tahan dan berdaya pikat tapi semakin berdaya guna juga berdaya makna. 

Pengantar ini saya tutup dengan sebuah renungan kecil dari Rumi, ”Aku ingin bernyanyi seperti burung, tak perduli siapa yang mendengar, dan apa yang mereka pikirkan...” Harapannya - siapapun anda – semoga mau mendengar dan mau memikirkan apa yang saya ‘nyanyikan’ dalam buku sederhana ini. Semoga!!


0 komentar:

Poskan Komentar