Ads 468x60px

Tujuh Arus Dosa

(Buku "TANDA", RJK, Kanisius)

7 Malaikat Neraka
Mengacu pada Katekismus Katolik, pasal 6: “Para Malaikat dan Iblis”, dikatakan ada beberapa dari malaikat, dipimpin oleh Setan, membangkang dan segera dikirim ke neraka. Inilah malaikat-malaikat neraka atau yang kerap kita sebut sebagai para iblis. "Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga." (Wahyu 12:7-8). Dan, Alkitab seringkali berbicara tentang iblis sebagai orang sungguhan. "Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah." (Wahyu 12:9). 

Sebetulnya ada tujuh roh jahat, malaikat neraka, yang ada dan berdiam dalam hati setiap pendosa. Mereka itu, al: Lucifer untuk orang yang sombong. Mamon untuk orang yang tamak dan mata duitan. Asmodeus untuk orang yang jatuh pada kejahatan seksual. Satan untuk orang yang mudah marah. Beelzebul untuk orang yang rakus-serakah. Leviathan buat orang yang mudah iri hati. Belphegore untuk orang yang suka malas. 

Ketujuh malaikat neraka ini membuat kita jatuh dalam dosa. 
Dosa sendiri, menurut Katekismus pasal 10, adalah “pikiran, perkataan, keinginan, dan perbuatan atau sikap acuh yang dilarang oleh hukum Allah”. 

Kita bersalah atas suatu dosa, jika:
a. kita menyadari bahwa kita melanggar perintah Allah.
b.kita dengan atas kemauan sendiri tetap melakukannya. 

Akibat jika dosa/para malaikat neraka ini hidup dalam hati kita, yakni: membunuh hidupnya rahmat Tuhan dalam diri kita. “Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian.” (Roma 6:21) Bukankah buah itulah yang kita petik daripadanya?

Tujuh kebiasaan yang saya sebut sebagai “tujuh arus dosa” ini juga mungkin yang membuat Maria dari Magdala harus dibebaskan dari tujuh roh jahat yang ada di hatinya (Lukas 8:2).


7 Arus Dosa
Arus pertama, adalah kesombongan. Lihatlah, legenda sederhana kisah sang Lucifer. Lucifer dulunya adalah salah satu malaikat agung, selain trio Mikael, Rafael dan Gabriel. Lucifer ini pintar bermain musik, piawai memimpin koor dan elegan bernyanyi. Tapi ternyata kelebihannya ini juga sekaligus menjadi kelemahannya: karena ia merasa pintar, maka ia merasa sombong dan ingin mengalahkan Tuhan. Dan, ternyata Tuhan tidak berkenan pada orang sombong, maka Tuhan pun mengusir Lucifer dari surga. Lucifer akhirnya dibuang ke dalam api neraka bersama para setan yang lainnya.

Arus kedua, kemarahan. Lihatlah sepenggal kisah kakak beradik, Kain dan Habel dalam Kejadian 4:1-16, terlebih ayat 5, “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.”

Arus ketiga, kemalasan. Lihatlah kisah asmara terlarang antara Raja Daud dan Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu (2 Samuel 11:1-27). Dikatakan dalam kitab itu: “pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja lain biasanya maju berperang, Daud, (seorang raja Israel terbesar, yang sampai hari ini, makamnya dihormati di Bukit Sion oleh banyak orang Yahudi) menyuruh Yoab maju beserta seluruh orang Israel untuk memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba. Tapi, Daud sendiri malahan asyik bermalas-malasan tinggal di istananya di Yerusalem. Dan, sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud asyik bermalas-malasan di atas sotoh istananya, tampaklah seorang perempuan yang sangat elok rupanya, sedang mandi; maka Daud pun jatuh pada tujuh lingkaran dosa yang lebih besar, berzinah dengan isteri orang, berusaha menyuap dan membuat mabuk Uria, membunuh Uria dengan sengaja, dsbnya. 

Arus keempat, iri hati. Kisah populer dalam Injil Lukas 15: 11-32 tentang anak yang hilang. Ternyata bukan hanya anak bungsu yang hilang, tapi anak yang sulung juga hilang karena hatinya penuh iri. “Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.”(Luk 15:28-30). Atau tentang Yusuf, anak bungsu yang disayang ayahnya, ternyata dibuang oleh kesepuluh kakaknya yang iri hati padanya, juga bisa menjelaskan arus keempat ini dengan lugas dan jelas. Atau tentang orang Farisi dan Saduki yang iri terhadap Yesus. Atau imam kepala dan pengikutnya yang iri hati dengan para murid Yesus, akhirya memenjarakan para rasul juga, tanpa alasan yang jelas. 

Arus kelima, kerakusan. Sebuah film kartun animasi dari negerinya Oshin, ‘Doraemon’ dengan marsnya, “aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali” menggambarkan secara tidak langsung tentang manusia yang rakus, yang tidak pernah bisa berkata cukup. 

Arus keenam, ketamakan. Sekarang banyak terdengar istilah trendi, cewek matre atau cowok borju, atau UUD, Ujung Ujungnya Duit. Atau, we can not do it without du it”. Padahal sejak dulu, Yesus sudah mengingatkan, dalam Matius 19: 24, “Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."


Arus ketujuh, yakni percabulan. Maraknya praktek seks bebas, selingkuh di antara keluarga, budaya pornografi dan pornoaksi, aneka kasus perkosaan dan pelecehan seksual menjadi contoh nyata menjamurnya arus dosa yang ketujuh ini. Pernah jatuh pada arus dosa ini? Ingatlah pesan Yesus dari Nazareth,: "Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya." (Matius 16:27). Sudahkah kita bertobat hari ini?


Tujuh Karakter Dosa
“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.....Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” (Roma 5:12,19)
Setiap orang dilahirkan dalam dosa. Ini maksudnya adalah setiap orang mewarisi sifat-sifat manusiawi yang lemah, terpisah dari rahmat yang dulu meliputinya sebelum Adam jatuh dalam dosa, dan berada dalam kuasa kematian. Saya kerap menyebutnya dengan istilah, “Original Sin”. (Bdk. Tulisan Paus Paulus VI, Kredo Umat Allah, paragraf 16). 
Dan, sebetulnya ada tujuh karakter dosa yang bisa kita amati, al:

Pertama, dosa itu seperti cinta, dari mata turun ke hati: Bukankah dosa juga banyak datang dari hal-hal yang kecil dan sederhana? 

Kedua, dosa itu juga selalu punya buah-buahnya: Bukankah hidup kita seperti echo (gema) - ada vibrasi/auranya? Jika kita berbuat dosa, maka juga akan tampak dalam buah-buahnya bukan? Ingatlah pepatah sederhana dari negerinya Pangeran Charles, yang bilang, ”roots creates the fruits”, bukankah akar menentukan buahnya? Kalau hati kita penuh dosa, maka sangat bisa jadi segala tindak-tanduk kitapun berbuah dosa juga bukan? 

Ketiga, dosa itu katanya seperti kebiasaan, ya seperti bunyi pemeo lama – bukankah kita bisa karena biasa? Aristoteles mengatakan, kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. 

Keempat, dosa itu kerap terkait dengan ’sensuum’: penerapan indera. Bukankah dengan panca indera kita, dengan tubuh, mulut, tangan, atau bahkan pikiran, kita mudah jatuh pada dosa? 

Kelima, kadang dosa juga datang seperti iklan: Awalnya memikat tapi kerap akhirnya menjerat bukan? Soal selingkuh (yang kadang diartikan sebagai, ”selingan indah –keluarga utuh), bukankah banyak keluarga yang hancur karena ini? 

Keenam, dosa katanya pun ibarat harta terpendam, seperti ilalang di tengah gandum, duri dalam daging, dosa selalu mengintip di tengah cinta, tidak enak bukan? 

Ketujuh, dosa itu juga punya banyak jenisnya bukan? Ada macam-macam jenis dan buah dosa juga bukan? (Gal 5:19-21). 
Mengingat betapa banyaknya karakter dosa ini, bukankah wajar jika Paulus menegaskan, "sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima?" (2 Korintus 6:1)


Tujuh Tanda Pendosa
Pepatah Latin mengatakan, “homo est animal symbolicum, manusia adalah makhluk yang penuh dengan tanda.” Ada STNK, STTB, KTP, tanda tangan, tanda mata, tanda kasih, tanda tangan, tanda baca, dsbnya, Dan, ternyata, setiap pendosa dalam tujuh dosa pokok pastilah juga mempunyai tanda-tandanya. 

Adapun tujuh tanda orang sombong: tidak solider, tinggi hati, membesar-besarkan diri melebihi kualitasnya, egois, keras kepala, suka menghina/merendahkan orang lain, serta tidak peduli nasehat.

Adapun tujuh tanda orang pemarah, yaitu: tidak sabaran, mudah berkeluh, ingin membalas dendam, tidak mau memaafkan, mudah membuat orang lain geram/kesal/marah, muram karena merasa tersingkir/disingkirkan, serta mudah gusar/tidak tenang.

Adapun tujuh tanda orang yang malas, adalah: selalu terlambat, tidak bergairah, mudah putus asa, sukar diberi semangat, murung, tidak mantap atau plin plan, dan sulit berkomitmen.

Adapun tujuh tanda orang yang iri hatinya, yakni: mudah berbohong, kikir/pelit, kurang berbesar hati, suka melempar fitnah, suka bergosip/berdesas-desus, senang jika orang lain sedih dan sedih jika orang lain senang, serta mudah curiga.

Adapun tujuh tanda orang yang rakus, al: makan/minum berlebihan, rakus, mudah membuang-buang makanan, hanya berpikir dan bicara soal makan, mengeluhkan soal makan, tak memikirkan orang lain/mengabaikan orang lain di meja makan, serta suka membual, omong kosong, dan riuh.

Adapun tujuh tanda orang yang jatuh pada dosa ketamakan adalah, tidak mau berbagi dengan orang lain, tidak solider, merugikan orang lain, hanya mementingkan diri sendiri, hanya berorientasi pada hal duniawi,suka menimbun kekayaan, dan pelit. 

Adapun tujuh tanda orang yang jatuh pada dosa percabulan, yakni: tidak mengendalikan khayalan, hanya mencari kenikmatan tubuh, suka mendengar/melihat hal-hal cabul, mengucap kata-kata kotor, pelecehan seksual, pemaksaan seksual serta sulit terbuka pada bapak rohani/bapak pengakuan.



0 komentar:

Poskan Komentar