Ads 468x60px

Sebuah catatan pinggir - epilog untuk buku MAP - Mimbar, Altar dan Pasar

Khotbah di Bukit
Tapi di masa ini bukit sudah ada. Teknologi, terutama, telah meratakannya. Di masa ini, suara suara disiarkan melalui corong-corong dan titik-titik lubang pada kotak ajaib multi media – dari yang paling primitive (seperti TOA di menara), maupun yang tercanggih (misalnya streaming siaran langsung pada telepon seluler). Televisi adalah yang paling jamak.

Lihatlah! Lihatlah ini manusia – yesus menatap bukitnya yang telah rata dan menjadi tahu bahwa suara tak lagi harus disampaikan dari ketinggian ideal, pun tak bisa disampaikan dalam keheningan obtektif. 

Sebab, bahkan di puncak Gunung Lawu pun orang bisa membuat interupsi berkat alat komunikasi. Alat komunikasi itu, yang tetap bisa bordering dalam misa dan bioskop –menghubungkan orang dengan tempat lain dengan cara memutus hubungan orang tersebut dengan lokasi beradanya hic et nunc, disini dan sekarang. Tak ada lagi keheningan obyektif.
Maka mafhumlah yesus bahwa bukit telah menjadi sekedar metafora bagi mimbar ideal: mimbar dimana ia bisa mewartakan keselamatan, juga kutukan, kepada orang-orang yang mendongak kepada dia. Yang saling bertatap wajah dengan dia. Dalam sebuah ketenangan. Ia tak perlu berteriak kepada mereka. Sebab mereka yang datang di lingkaran terdekat memang hadir untuk mendengarkan dia. Ah, bukit benarlah area kotbah yang jinak.

Tapi bukit itu telah diratakan sekarang. Bahkan orang-orang yang ke gereja tidak datang untuk mendengar apa yang dikotbahkan dari mimbar. Mereka pertama-tama datang untuk hal-hal lain selain mendengarkan kotbah. Kalaupun ada yang ke gereja demi mendengarkan kotbah, jangan-jangan adalah mereka yang bercita-cita menjadi pengkotbah juga. Yesus pun meninggalkan bukitnya yang telah datar dan tibalah ia di pasar. Ini dia, pasar yang terbentuk di sekitar Bait Allah. 

Mudah sekali dibayangkan. Kira-kira seperti tenda biru yang terbentuk di sekitar mesjid Atta’awun di puncak, tenda-tenda yang merusak hijau hening kebun the. Atau bedeng-bedeng yang mengerumuni Borobudur. Atau kios pedagang yang dulu mangkal di Monas atau Senayan, atau yang kini masih meyesaki lahan menuju Kebun Raya Bogor atau Cibodas, tumpah ke jalan bersama sampah-sampahnya. Disana burung-burung diperdagangkan dengan rebut. Burung itu bakal persembahan. Juga kambing, domba dan bandot. Bakal kurban. Mata uang dipertukarkan dengan pelbagai muslihat. Orang-orang yang takut akan Allah dibujuk justru karena ketakutannya akan Allah. “Belilah burungku, burung surgawi.” Pojok lain berteriak, “semakin berat kambing yang anda korbankan, semakin ringan dosa yang anda tanggung.” Di sudut lain, “kambing kami bisa dikredit, bunga ringan.”

Kita tahu, di pasar yang demikian, Yesus meradang. Ia menjungkir meja-meja dan menghambur-hamburkan uang: dinar, dirham, talenta – secara harafiah. Satu-satunya gambaran secara eklsplisit tentang pasar dalam Injil adalah pasar ini. Pasar burung dan kambing, money changer yang memanfaatkan sebuah pusat keberimanan. Para seniman senang melukiskan Yesus dengan mata melotot dan rambut berdiri berkibar-kibar. Tangannnya menunjuk berang!

Tapi di jaman ini, pasar telah lebih cerdik daripada ular, dan suka berlagak tulus seperti merpati. Pasar yang barbar tentu tetap ada. Menjual burung dan hewan terlarang lainnya. Tapi pasar juga masuk ke ruang, atau kotak kaca, dimana bujuk membujuk terjadi, transaksi terjadi, tapi pertemuan yang sesungguhnya tidak terjadi lagi. Dulu, pertemuan terjadi di pasar tradisional, juga di bukit perkotbahan. Sekarang, ia tidak terjadi di televisi. Yang terjadi di televisi, kini dan di sini adalah komersialisasi. 

Yesus mengintip lewat kaca depan sebuah rumah dan melihat sebuah kotak pipih menyala dengan gambar. Di depannya satu keluarga asyik menonton. Di dalam layar kacanya yang pipih seseorang berkotbah. Setelah itu iklan, obat sakit maag, obat batuk, detergen pemutih baju, bumbu penyedap dll. Disanalah mimbar dan pasar kini menyatu. Bait Allah dan kios kambing, burung dan mata uang dalam bentuk rapi dan lebih berbinar. Tidak ada bau tahi hewan atau keringat manusia dan orang tak perlu berangkat kesana. Sebab pasar yang satu ini datang ke ruang keluarga tanpa mengetuk pintu atau memijit bel. Ia bahkan juga bisa melawat dalam kendaraan pribadi, yang dilengkapi tv set (yang sekali lagi, yang memutuskan orang dari hubungan disinui dan sekarang).

Di mimbar begini, orang harus berteriak-teriak. Tak seperti di bukit, melainkan seperti di pasar. Dan yesus pun menulis. Barangkali itulah pentingnya Romo Jost Kokoh, si “yesus kecil” (yesus dengan huruf kecil) menulis. Sebab, bukit telah rata dan kotbah telah jadi banal. Di gereja, ia menjadi rutin. Lagipula seremonial; tak bisa dibantah meskipun imam dan umat bertatap-tatapan. Di televisi, kadang ia hanya terdengar jika sudi merendahkan standar selera. 

Kembalilah pada membaca dan menulis. Sebab di jaman ini tak ada lagi keheningan obyektif. Maka kita harus meruapkannya di dalam ruang-ruang itu sendiri, ruang hati, ruang jeda diantara hiruk pikuk. Menulis dan membaca menyediakan ruang jeda itu. Ruang retret dan meditasi yang rendah hati. Lagipula, bukankah banyak wisma dan temapt retret kita yang tak lagi bisa mempertahankan keheningan karena banyaknya “suara-suara kehidupan” motor dan “toa”?) Membaca dan menulis bukan hanya ruang jeda yang rendah hati, tapi juga yang cerdik dan niscaya. 

Dan sesungguhnya, buku-buku ini adalah altar, yaitu tempat seorang pastor muda, Jost Kokoh Prihatanto, mempersembahkan dirinya, dengan cerdik seperti ular dan tetap tulus seperti merpati. Tulisan-tulisan dalam buku ini memang tidak disiapkan untuk menjadi satu kesatuan yang mengalir, melainkan lebih merupakan sebundel catatan dan pemikiran, terpisah juga terulang, sederhana juga kaya makna. Tapi, bukankah kita juga terbiasa dengan Alkitab yang juga merupakan satu bundel narasi, surat, puisi, prosa yang terpisah dan juga terulang di banyak bagian, (seperti di Injil Sinoptik, Matius Markus Lukas misalnya)? 

Buku ini memberi kesempatan pada pembacanya untuk masuk dari banyak pintu dan mencoba menyusuri pertanggungjawaban sekaligus refleksi mini seorang pastor muda di sebuah Negara, dimana Gereja Katolik yang minoritas, senantiasa berusaha merumuskan peran dan keberadaannya dalam masyarakat yang beragam dan berbeda, yang mengandung unsur tradisional maupun modern, sekaligus. Gereja ingin menyatakan keunikan imannya, sekaligus terbuka pada pelbagai kebenaran nilai di luar dirinya, dan prakteknya , ini bukan pekerjaan mudah. Disinilah anggota Gereja tak boleh dan tak bisa menutup diri dari khazanah di luar Gereja. Sebab, Gereja senantiasa dalam dialog dengan yang lain- dengan nilai-nilai yang berbeda kadar, dan dengan orang yang berbeda iman. 

Buku ini adalah sebuah altar, tempat pemikiran dan pengalaman Romo Jost Kokoh dipersembahkan bagi kita. Agar kita, gembala juga domba, imam juga awam, menyediakan ruang jeda dalam diri untuk menyelami yang mudah dimengerti, maupun yang sulit dimengerti, pencerahan maupun misteri. Dan, jelaslah lewat yesus-yesus kecil inilah, , diantara pasar, mimbar dan altar. Tentulah altar yang paling menakjubkan!

Ayu Utami, Novelis

0 komentar:

Poskan Komentar