Ads 468x60px

Siapkan Pemimpin yang Cakap!!!

Misa mahasiswa di sore hari itu memang sangat meriah. Dari petugas koor, tata laksana, juru potret, among tamu, sampai keamanan dan juru parkir, semuanya mahasiswa. Bahkan bacaan, syahadat, dekorasi, lagu dan pelbagai nuansa misa dibuat khas mahasiswa. Walaupun hari itu, hujan turun di kota Yogya , tetap saja ribuan mahasiswa gandrung untuk berkumpul-membludak dari pelbagai penjuru kota Yogya. Banyak yang rela berdiri di luar gedung gereja-berteman gerimis hujan sore. Nuansa kebersamaan, keterlibatan dan keceriaan khas mahasiswa menceruat di pelbagai sudut gereja. Melihat kreativitas, antusias dan jiwa kemudaan mereka, kerap kita menyebut para mahasiswa sebagai masa depan dan harapan kita. Namun harapan tersebut kerap kita letakkan juga dalam keprihatinan – bahwa banyak dari mereka mengalami ‘krisis’. Mereka cenderung tidak lagi familiar – bahkan alergi – dengan tradisi dan hidup menggereja dengan segala atributnya. Padahal, mengacu pada Dekrit konsili Vatikan II tentang kerasulan awam (AA, art. 12), mereka adalah kekuatan penting dalam masyarakat: garda depan dan agen perubahan masyarakat. Di lain segi, merupakan sebuah fakta bahwa mahasiswa zaman sekarang berkembang dalam konteks yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya. 

Melihat Teks Sejarah: Sebuah Data 
Kita kerap dapat melihat ciri khas mahasiswa: penuh idealisme, potensi luar biasa untuk kebaikan dan kemungkinan yang kreatif, kesadaran dan kepedulian yang spontan, walaupun kerap disertai dengan ketidaksabaran bahkan pemberontakan saat menghadapi kondisi sosial ekonomi dan struktur sosial politik masyarakat. Atau bahasanya Gaudium et Spes art.7…”Perubahan mentalitas dan berbagai struktur kerap menimbulkan perbedaan pandangan tentang nilai-nilai yang diwariskan, terutama pada kaum muda, yang kerap kurang sabar, bahkan penuh rasa memberontak karena gelisah dan anti kemapanan.”

Dalam bingkai sejarah bangsa ini, mahasiswa-dengan segala ciri khasnya telah membuktikan diri dapat menjadi agen perubahan sejarah: Pergerakan kebangkitan nasional tahun 1908 ala Budi Utomo dimotori mahasiswa. Pergerakan tahun 1928 dengan Sumpah Pemudanya oleh para jong dari pelbagai daerah - melahirkan dictum: satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Pergerakan 1945, ketika para pemuda secara proaktif ‘menculik‘ dwitunggal Sukarno-Hatta ke Rengas Dengklok, supaya berani memproklamasikan NKRI. Tahun 1966, mahasiswa kembali menjadi agen utama perubahan. Gerakan mereka tidak bisa dianggap remeh temeh. Ketika mereka bergerak, rakyat mendukungnya. Kekerasan militer dan pelbagai represi tidak dapat menghalangi laju gerakan. Ikatan solidaritas mereka sungguh kuat, ketika ada yang gugur (ex:Arief Rahman Hakim), roh gerakan mereka makin menjadi-jadi. Setiap darah yang tertetes, jadilah ribuan raksasa. Kekuatan mahasiswa bersama rakyat menjadi kekuatan magis yang sanggup menjungkirbalikkan kekuasaan setangguh apapun. 

Fenomen ini juga tampak ketika krisis moneter 1998 menerpa, tiba-tiba teman-teman mahasiswa bergolak. Tanpa ada koordinasi serta strategi yang apik dan cantik, hampir semua kampus di Indonesia serempak berdemonstrasi menuntut perubahan. Keserempakan ini demikian kompak, spontan, berani dan membawa banyak perubahan yang berarti luas. Dengan segala crack down-nya, gerakan mereka bersifat sporadis, global di pelbagai daerah dan menguasai banyak jalan-jalan protokol). Dengan tuntutan reformasi (pergantian Presiden, pengadilan Suharto, Cabut Dwifungsi ABRI), mereka bahkan dapat menguasai gedung MPR/DPR. Dalam kurun waktu itu juga, bermunculan ratusan komite mahasiswa independen dengan pelbagai simpul dan korlap (koordinator lapangan) yang tersebar dipelbagai tempat: FKSMJ, KamTri, Forkot, Front Kota, Famred, Gempur, LMND, FAM, FPPI, SMID. Aksi-aksi, berskala besar maupun kecil terjadi dimana-mana. Mereka dengan atribut jaket plus bendera almamater dan pelbagai propaganda bersemangat long march bersama sambil menyanyikan lagu-lagu mars/yel-yel perjuangan yang lucu, kreatif, populis, tapi juga penuh makna dan membakar semangat. Dengan hanya berbekal sebotol aqua dan sebungkus nasi dari relawan, mereka tak peduli hujan mengguyur, tak peduli panas menjemur, tak peduli jauh berjarak dan membikin macet jalan. Mereka mempunyai semacam ‘roh’ magis untuk suatu perubahan. Ditambah lagi fenomen adanya banyak mahasiswa yang tewas atau memenuhi rumah sakit (karena terkena gas airmata, tertembak peluru karet/peluru tajam atau terinjak-injak militer) mampu memanaskan konstelasi gerakan mahasiswa di pelbagai kota besar Indonesia dan menyeret euforia solidaritas mahasiswa bersama rakyat untuk bersatu. Berangkat dari kacamata sejarah itu, beralasanlah jika para mahasiswa yang terpilih oleh sejarah untuk menjebol kemandekan. Sebab mereka adalah anak-anak sejarah yang paling bisa dititipi oleh sejarah untuk menentukan dan mengurus masa depan. Semangat kemudaan membuat mereka berpikir ke depan, bukan asyik-masyuk dengan nostalgia masa lalu. Apalagi-merujuk pada FABC (Manila 1970), wajah Asia adalah wajah kaum muda. Sekitar 60% orang Asia berusia dua puluh lima tahun ke bawah.

Melihat Konteks Zaman: Sebuah Fakta
Mencandra kenyataan bahwa para mahasiswalah yang bisa mematahkan tirani masa lalu, membebaskan diri dari penjara tradisi menyesakkan, serta membongkar ritualisasi yang tidak relevan dengan kebutuhan zamannya, kita patut prihatin melihat realitas gerakan mahasiswa Katolik. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa hampir semua organisasi mahasiswa di bawah payung Katolik sedang memble. Banyak mahasiswa Katolik yang tidak tertarik lagi dengan PMKRI atau Pemuda Katolik (apalagi Partai Katolik). Banyak paguyuban mahasiswa Katolik (KMK) yang sulit ngumpul, apalagi membuat aksi: “kalo kumpul-yah paling orangnya hanya itu-itu aja dan acaranya ngebosenin ter”. Maka, patutlah kita bertanya: kalau kini banyak reksa pastoral bagi mahasiswa Katolik banyak ditinggalkan, kurang peminat, bahkan kehilangan misi, jangan-jangan pelbagai reksa pastoral tersebut tidak menjawab kebutuhan mereka? Kita perlu sadar bahwa di tengah arus zaman, Gereja hanya dianggap sebagai salah satu fasilitas yang ada dari sekian banyak lainnya. Suka atau tidak, kadang Gereja di mata mahasiswa adalah simbol kekuasaan yang berwajah tua dan feodal. Dihuni oleh orang-orang tua yang kolot dan lambat. Hal ini tidaklah sejalan dengan arus zaman, dimana segalanya bisa berubah dengan cepat. 

Para mahasiswa kitapun berada di antara berbagai konstelasi nilai multidimensi, dalam realitas serba heterogen amburadul. Ketika dunia kita berlari kencang tanpa kendali pasti, ketika sebagian besar masyarakat bergumul di tengah lalu lintas perkelahian hidup modernitas yang penuh kebisingan dan kekejaman, mereka juga mengalami situasi tercerabut dari akar, serba terpencar, lepas dari ikatan teritorial yang tetap dan aman. Bahkan, mungkin dapat dikatakan bahwa sosok mereka kerap linglung mencari potret wajahnya sendiri. 

Di lain segi, Gaudium et Spes berbicara mengenai keterlibatan Gereja di dalam dunia. Oleh karena itu, konteks sekularisasi yang menyentuh dunia mahasiswa ini tidak berarti telah terjadinya penghapusan segala unsur sakral dalam diri mereka. Tapi, justru sangat terbuka peluang untuk mengakarkan kembali iman-sensus catholicus dalam multidimensionalitas dunia mereka: reinterpretasi bahasa agama dengan realitas hidup hic et nunc. Intinya adalah bagaimana menemukan jalan di mana keprihatinan akan dunia dan kebermaknaan akan hidup menemukan tempatnya untuk tumbuh dengan subur, sehingga mereka bisa menemukan Allah dan rahmatNya dalam realitas hidup dan bahasa universal. Hati mereka harus diperciki oleh sesuatu yang fascinans, harus diberi insentif yang menggugah, agar dari mereka bisa tumbuh rasa numinus: kagum tapi juga rindu akan suatu masyarakat yang sejahtera. Kita semua mengamati bahwa konteks kehidupan sekarang ini ditandai dengan pelbagai gerakan emansipatoris. Kini, umat manusia menuntut pembebasan: dari maraknya indie culture: (film, komik, musik independen), sampai pada pembebasan kaum miskin dan tertindas, pembebasan kaum perempuan dari patriarkhi, pembebasan dari diskriminasi ras, kelompok etnis, warna kulit, dan juga pembebasan alam dari ekspoitasi. Berangkat dari konteks inilah semoga kita lebih bisa merancang suatu proyek pastoral mahasiswa yang tepat guna. 

Melihat Praktek Pastoral: Sebuah Pencarian Makna
Pasang surut pastoral mahasiswa, yang termanifes dalam pebagai tataran (dari demo jalanan, aksi damai, analisis sosial, seminar lintas disiplin ilmu-agama dan budaya, makrab, LDK-KKR, varia retret, week-end, misa jumatan sampai kongkow-kongkow di sekretariat KMK) tampak sekali sangat-sangat bergantung pada momentum (baca: dalam rangka!). Setiap ada momentum-gerakan mereka akan membesar, namun ketika tidak ada momentum-maka gerakan lambat-laun akan menyurut. Tak dipungkiri bahwa momentum memang sangat membantu mobilisasi gerakan mereka, namun ketergantungan pada momentum cuma akan membuat gerakan menjadi manja. Maka, sebetulnya roda sebuah gerakan pastoral bagi para mahasiswa di tengah tingginya mobilitas dan anonimitas, haruslah meletakkan prioritas utamanya pada pembangunan basis: ‘grassroot level’ (tidak melulu mainstream), lebih-lebih pada kelompok basis ’self-help’. Dkl: tantangan bagi kita adalah bagaimana Gereja bisa ikut menciptakan lingkungan tempat nilai-nilai dasar manusiawi dijunjung, sehingga mereka bisa bercermin ke dalamnya saat mengolah dan membatinkan proses penemuan identitas dirinya. (Bdk.Pedoman Gereja Katolik Indonesia, KWI, 1995-hal.28-31).

Kenyataan di lapangan yang memperlihatkan bahwa tidak semua dari mereka larut dalam arus deras zaman “menikmati dunia” tetapi juga “berpikir tentang dunia” menunjukkan potensi kritis yang tidak dapat dianggap sepi oleh Gereja. Bersama mereka, kita dapat memulai pembangunan kanal basis yang positif. Lewat sebuah pembangunan basis self-help (kelompok minat: pencinta buku, sport mania, team liturgi, pencinta alam, kelompok jurnalis-budayawan muda, kelompok aktivis politis, group entertain-musikus muda gereja, club multimedia, team relawan, dsbnya) selain terdapat aspek resiprokalitas antar anggotanya, mereka juga dapat mengerti pesan biblis dan hubungannya pada hidup mereka secara lebih kritis. Identitas masing-masing individu juga lebih mudah dikenal lewat usaha partisipasi, persaudaraan dan kommunio. Apalagi-berdasarkan survey yang pernah dibuat Pusat Penelitian Atmajaya-Jakarta, de facto mereka mudah tidak krasan dalam kelompok besar-dengan penanganan massal. Mereka membutuhkan kelompok kecil yang dapat menyediakan keakraban. Mereka senang pada variasi, mudah bosan pada kegiatan yang routine dan monotone. Kegiatan dianggap kurang menarik kalau terlalu formal, selalu sama, penuh pengarahan dan ungkapan moral. 

Mereka juga lebih dapat bersolidaritas dan melaksanakan komitmen secara lebih intensif karena mereka benar-benar hidup di tengah-tengah kelompok seminat. Dengan demikian, komitmen pemerdekaannya dapat dihayati secara lebih nyata, karena berangkat dari pengalaman hidup anggota-anggotanya. Komitmen ini juga dapat dipermudah dengan tidak begitu terlalu ditekankannya peranan kaum religius (non hirarki sentris). Struktur alternatif ini cocok dengan kecenderungan serta proses global yang disebut dekonstruksi rimba postmodernisme, yakni: memarakkan ide multi sentra yang mandiri dan mengekspresikan kebhinekaan sekaligus kekhasan tiap pribadi tanpa harus saling bertabrakan karena berasal dari satu bola yang sama. Disinilah, hirarki berperanan besar sebagai moderator sekaligus controlling function. Hirarki sebagai kuasa mengajar yang sah dalam Gereja’ berperan untuk menjembatani dan mendampingi dinamika tersebut, sehingga mereka tidak jatuh kedalam sekte-sekte-serba lepas tercerai berai, tapi tetap punya komunikasi dan koordinasi yang apik dengan hirarki. 

Dengan kata lain: kelompok ini dapat menjadi suatu Gereja yang hidup, yang bhineka tapi terkoordinasi tunggal, yang saling berdialog (baik top down maupun bottom up). Suatu kinerja sebuah Gereja muda yang bersinergi, mandiri tapi tidak liar tersempal-sempal begitu saja. Mungkin agar tidak terjadi eksklusivitas, maka interaksi antar pelbagai kelompok yang ada perlu diadakan. Disinilah dibutuhkan peran kelompok besar-dimana lebih sebagai media bagi kegiatan saat kesempatan khusus atau dimaksudkan untuk menyemangati dan meneguhkan persaudaraan bersama. Maka, pertama-tama bukan ada kelompok besar terlebih dulu, karena kelompok besar baru akan bermanfaat kalau digerakkan lewat kelompok-kelompok kecil. 

Menjadi sebuah pertanyaan, sejauh mana kelompok atau wadah seperti ini mampu menjadi penggerak bagi kehidupan bersama, bahkan menjadi kekuatan dinamis bagi tumbuhnya kesadaran baru yang mampu menjadi gerakan perubahan. Disinilah kita semua ditantang untuk menemukan peluang dan praktek cinta kasih kristiani dalam dunia sekular dengan berbagai seginya. Sebagai contoh: gerakan penyadaran sosial dan solidaritas bersama. Selain wujud yang sudah lumrah tentang upaya keterlibatan pada ‘korban’ (anak jalanan, orang miskin, tuna ganda, para napi, pesakitan/narkoba-AIDS, korban bencana, dsbnya), kita juga bisa membuat gerakan sosial berjiwa kristiani sekaligus berjiwa muda, misalnya festival film indent atau seni kerakyatan tentang perdamaian (dengan tetap mengingat ‘lex agendi, lex essendi’-cara bertindak menyesuaikan dengan cara berada). Pelbagai kegiatan ini dapat menjadi ajang belajar yang baik bagi mereka untuk mengembangkan komitmen dan empathos pada transformasi sosial. Kegiatan ini dapat merupakan implementasi dari nilai-nilai kompetensi (competence), hati nurani (conscience), dan kepedulian sosial (compassion) mereka sebagai orang muda Kristiani. Sebagai contoh pelbagai gerakan orang muda: Schools Combat Racism di negeri Paman Sam. Satoyada di Kandy, Srilanka. Bahkan di sebuah negara miskin, Dhaka-Bangladesh, terdapat juga komunitas anak-anak muda dengan latar belakang agama yang berbeda-beda bersatu untuk membuat pelbagai gerakan sosial bersama atas nama kemanusiaan. 

Epilog
Di bagian penutup ini, saya teringat akan Anthonny de Mello, seorang spiritualis ulung dari tanah Bombay. Dalam bukunya, Burung Berkicau, ia berkisah: 

Seorang murid berkeluh kesah kepada Gurunya: 
“Guru….guru menuturkan banyak cerita, tapi tidak pernah menerangkan makna cerita tersebut kepada kami semua!!” 
Jawab sang Guru bijak:
“Bagaimana pendapatmu, Nak, andaikata seseorang menawarkan buah
kepadamu, namun mengunyahkannya dahulu bagimu……?”

Meminjam istilah Jurgen Habermas, Gereja kita sungguh perlu suatu rasionalitas komunikatif. Artinya Gereja yang hidup adalah juga Gereja yang memberi ruang fair flay dan kondusif bagi proses komunikasi yang cerdas dan bebas dari segala bentuk dominasi. Kita bisa memulainya dengan memberikan banyak pengalaman dan kesempatan kepada para muda, sehingga berani untuk berbuat dan mengembangkan segala potensi mereka yang kerap dimampetkan. Jika itu tercapai, generasi muda Katolik yang cerdas lagi kritis dengan pembentukan dirinya sendiri menuju ke otonomi yang mendewasa (mündigkeit) akan segera terwujud.

0 komentar:

Poskan Komentar