Ads 468x60px

Belajar dari Prof. Hans Kung (3)

@ KOMITMEN ORANG KRISTEN DALAM MASYARAKAT YANG KEHILANGAN ARAH.

3. Mengapa Komitmen Kristen?


Mengapa justru menjadi seorang Kristen? Perkenankan saya sedikit merenung, dan berusaha untuk tidak memberi jawaban yang cepat atas pertanyaan mengenai prinsip yang begitu besar ini.

Peristiwa-peristiwa di Israel, India, atau salah satu dari negara-negara Islam akhir-akhir ini, telah menyadarkan kembali banyak orang bahwa bagi kita orang Kristen, sebagaimana bagi seorang Yahudi atau seorang Muslim, kenyataan kita dilahirkan di dalam suatu tradisi iman dan komunitas nilai tertentu merupakan hal yang penting; suka atau tidak, kita tetap dipengaruhi olehnya, baik secara positif maupun negatif. Keadaan tersebut mirip dengan keadaan dalam keluarga. Kita tidak mungkin mengatakan dalam kemarahan atau ketidakpedulian bahwa sama sekali tidak relevan apakah seseorang tetap mempertahankan hubungan atau telah memutuskannya.

Di sini, baik orang Kristen maupun mantan orang Kristen mungkin dapat memahami mengapa banyak orang Kristen tetap mau bertahan hidup dalam Tradisi Kristen yang besar dan baik, yang dibentuk melalui sejarah selama sekitar dua puluh abad. Sebenarnya, mereka kritis dan tidak kurang pintar; mereka juga menentang tradisi-tradisi dan lembaga-lembaga Kristen yang kaku, yang mempersulit orang untuk menjadi seorang Kristen. Meskipun demikian, tradisi yang besar dan baik ini benar-benar tetap masih ada. 

Jadi, mengapa saya tetap menjadi seorang Kristen? 
  • Karena bagaimana pun, saya seutuhnya dapat merasa positif mengenai sebuah tradisi yang begitu berarti bagi saya meskipun saya juga melontarkan banyak kritik dan keprihatinan; suatu tradisi yang di dalamnya memungkinkan saya bersentuhan dengan begitu banyak orang lain, baik di masa lampau maupun sekarang. 
  • Karena saya tidak mungkin mencampuradukkan Tradisi besar Kristen dengan struktur-struktur Gereja sekarang, dan tidak begitu saja menyerahkan definisi nilai-nilai sejati Kristen kepada para admnistrator sekarang.
  • Singkatnya, karena – meskipun saya mempunyai keberatan-keberatan yang sangat keras terhadap apa yang disebut Kristen – saya menemukan suatu arah dasar di dalam krisianitas terkait dengan permasalahan-permasalahan besar mengenai Dari mana dan Kemana, Mengapa dan Karena apa mengenai kemanusiaan dan dunia: suatu arah dasar bagi diri saya, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Bersamaan dengan itu, saya menemukan suatu rumah spiritual yang tidak ingin saya tinggalkan sebagaimana di dalam politik saya tidak ingin meninggalkan demokrasi yang dalam caranya sendiri dahulu dan sekarang sama-sama disalahgunakan dan dilanggar tidak kurang daripada kristianitas. Tetapi harus diakui, semua ini hanyalah isyarat pada faktor yang menentukan. Sekarang, saya akan mengatakan lebih jelas.

Nyatanya, banyak orang non-Kristen dan mantan orang Kristen yang mengatakan bahwa mereka percaya kepada suatu Asal dan Tujuan, suatu Pengada Abolut atau Mahatinggi, suatu Keilahian, atau “Allah”; mereka percaya bahwa ateisme tidak membuat mereka puas, baik secara intelektual maupun emosional. Tetapi mereka tidak banyak mengerti mengenai apa yang harus dilakukan terkait dengan “Allah” ini, mereka jarang mengenal apa atau siapakah Allah itu, atau seperti apakah Dia. Dalam pengertian ini, kalau mereka bukan ateis sekurang-kurangnya mereka agnostik.

Saat ini, hal tersebut tidak terlalu mengherankan saya. Saya sama sekali tidak meremehkan Allah para filsuf atau Allah suatu religiusitas universal, yang umumnya dibicarakan oleh kaum agnostik. Saya tidak ingin menyatakan Allah ini merupakan berhala buatan manusia, sebagaimana telah lama dinyatakan oleh teologi Protestan tertentu. Bagaimana mungkin saya mengecapnya sebagai berhala jika mempertimbangkan Aristoteles, Plato dan Plotinus, Descartes, Spinoza dan Leibniz, Kant dan Hegel? Sebab tetap masih merupakan hal yang mulia bagi manusia untuk mengetahui sesuatu mengenai Dari mana dan Kemana, Mengapa dan Sebab apa terkait dengan kemanusiaan dan dunia ini; sesuatu mengenai misteri kenyataan yang agung; dan dengan begitu mempunyai suatu arah dasar tertentu. Tetapi saya mendapat kesan bahwa tidaklah terlalu mudah untuk hidup dengan misteri yang masih tersembunyi ini, dengan Allah para filsuf yang abstrak ini; untuk mengetahui apa atau siapakah Dia, seperti apakah Dia. Allah ini adalah Allah tanpa wajah. Ia adalah “Allah yang tidak dikenal”, theos agnostos dari Kisah Para Rasul, dan Dia tetap merupakan Allah kaum agnostik. Ini tetap demikian kecuali, sebagaimana halnya dengan para filsuf besar zaman modern (dan juga para lawan ateis mereka), kita membiarkan diri kita sendiri dipengaruhi oleh ide Kristen mengenai Allah yang hadir di mana-mana bahkan sampai hari ini.

 Namun, dengan memperhatikan secara lebih dekat arah yang lebih bersifat filosofis atau religius universal: jikalau kita harus berbicara dengan cara ini mengenai Allah sebagai Asal usul terjauh, Sebab dari semua sebab, Tujuan terjauh, Tujuan dari segala tujuan, bagaimana saya benar-benar bisa mengetahui apa yang tersembunyi di dalam Sang Asal usul terjauh/Dasar segala sesuatu, dan apa yang menantikan kita pada tujuan akhir? Tidak mungkinkah Asal usul terjauh itu merupakan suatu jurang yang gelap, dan bukan sesuatu yang membawa terang? Jangan-jangan Sang Asal usul terakhir/Dasar terakhir itu adalah suatu khayalan yang menipu, dan bukan dasar yang menjamin kehidupan. Tidak dapatkah tujuan akhirnya merupakan kekeliruan definitif, dan bukan pemenuhan sempurna? Bagaimana saya bisa tahu apakah makna terakhir bagiku dan bagi dunia bukanlah kesia-siaan dan apakah nilai dasar ternyata sama sekali bukanlah nilai? Keraguan-keraguan seperti itu benar-benar sahih dan memberi tantangan yang sulit bagi suatu Orientasi dasar.

Apa dan siapakah Allah yang harus memberikan nilai-nilai hakiki saya? Seperti apakah Dia? Dalam terang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru saya tahu suatu jawaban terhadap pertanyaan itu. Allah dari iman Kristen-Yahudi tidak tetap menjadi abstrak dan tidak menentu, seperti Allah para filsuf. Dia konkret dan pasti; tidak tersembunyi, tetapi diwahyukan di dalam sejarah bangsa Israel dan Yesus Kristus. Dan, tidak seperti Allah para filsuf dan para cendekiawan – untuk menggunakan kontras Pascal – Allah Abraham, Ishak, dan Yakub ini, Allah dari Yesus Kristus, tidaklah penuh teka-teki, seperti sphinx Mesir, pencekek orang yang lewat. Dia juga bukanlah Allah yang ambivalen, ekuivok, bermuka dua, seperti dewa Janus Romawi, misalnya. Dia juga tidak tergesa-gesa, tanpa perhitungan seperti Tyche-Fortuna, yang sebagai dewi kebahagiaan dan kemalangan membimbing jalannya dunia.

Bukan, Allah Kristen-Yahudi secara pasti terbukti merupakan Allah, yang tidak melawan kemanusiaan tetapi mendukung kemanusiaan, “Immanuel: Allah beserta kita”. Suatu Allah yang bagi manusia seharusnya bukan menjadi ketakutan – seperti sering ditampilkan oleh mereka yang dianggap para guru Kristen – melainkan menjadi rasa aman, bukan penderitaan tetapi kebahagiaan, bukan kematian tetapi kehidupan. Bahkan di dalam Perjanjian Lama (meskipun sebagian masih mengambil bentuk-bentuk mitos kafir) bukan pemilik budak tetapi Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir, Allah pembebasan, belas kasih, keselamatan, rahmat. Allah yang tidak mempunyai pesaing, dewa-dewa lain, di samping-Nya. Allah yang satu dan satu-satunya ini adalah kenyataan yang paling akhir, paling awal yang disembah oleh kaum Muslim bersama dengan kaum Kristen dan Yahudi – suatu kenyataan yang sangat penting untuk perjanjian Camp David dan upaya-upaya perdamaian dewasa ini di Timur Tengah. Dia adalah kenyataan yang juga dicari kaum Hindu di dalam Brahma, dan kaum Buddha di dalam Dharma Absolut (Nirvana), sebagaimana orang China dalam surga atau dalam Tao. Bagi kaum Islam, Yahudi, dan Kristen Allah yang satu dan benar ini bukanlah Allah yang tidak dikenal. Dia adalah Allah yang baik, Allah yang melihat manusia dengan kemurahan hati, Allah yang menjadi tempat manusia dapat menaruh kepercayaan absolut dan total bahkan sewaktu mengalami keraguan, penderitaan, dan dosa, sewaktu terlibat di dalam semua kedukaan personal dan semua penderitaan sosial – Allah yang de fakto menjadi tempat kita dapat menyandarkan iman.

 Dia, tentu saja, Allah biblis, tetapi Allah biblis yang dimengerti di dalam pandangan baru mengenai dunia menurut Copernicus, Galileo, dan Darwin. Allah, sebagai Allah yang serba merangkum dan serba meresapi dunia, pastilah bukan pribadi sebagaimana manusia disebut pribadi. Apa yang menentukan setiap eksistensi manusiawi individual bukan seorang pribadi individual seperti pribadi-pribadi lain. Dia bukanlah sebuah super-ego atau Saudara tua. Allah jauh melebihi sebuah pribadi sehingga konsep pribadi pecah berantakan kalau mau diterapkan pada Allah karena tidak mampu memuat-Nya.

Tetapi sebaliknya, Allah yang merupakan dasar dari kodrat pribadi manusia Dia sendiri tidak mungkin merupakan sesuatu yang tidak personal/impersonal. Dia bukanlah sesuatu yang ada di bawah tataran personal. Allah melampaui konsep impersonal; Allah tidak tidak lebih rendah dari pribadi pula.

Bahkan para matematikawan dan ilmuwan harus terbiasa dengan pemikiran paradoksal. Konsep Niels Bohr mengenai perimbangan menawarkan sebuah contoh. Dalam mekanika kuantum, tergantung pada pertanyaan yang diajukan apakah jawaban di dalam percobaan dinyatakan di dalam istilah “gelombang” atau “sel”. Sejalan dengan itu, dalam diskusi filosofis dan teologis, tergantung pada cara pertanyaan diajukan apakah, sebagai jawaban terhadap pertanyaan khusus, Allah dapat dilukiskan sebagai “personal” atau “a-personal”. Tetapi kenyataan bahwa Allah pada dasarnya bukan personal atau a-personal tergantung pada hakikat Allah yang tidak dapat dibandingkan. Kenyataannya, Dia adalah keduanya pada waktu yang sama. Karena itu dapat dengan tepat disebut “supra-personal”.

Tetapi demi iman biblis dan nilai Kristen kita sekarang, hal yang jelas, meskipun Allah ini bersifat “supra-personal”, Dia tetaplah merupakan mitra sejati yang baik hati dan seutuhnya dapat diandalkan, seorang mitra yang dapat kita ajak bicara. Tentu saja kita hanya dapat berbicara mengenai Allah ini, dan berbicara kepada-Nya, di dalam kiasan dan gambaran, di dalam sandi dan simbol. Tetapi bagaimana pun kita dapat berkomunikasi dengan-Nya dengan menggunakan kata-kata manusia. Berdasar inilah doa dan ibadah dimungkinkan – suatu kemungkinan yang, menurut saya, sangatlah penting, khususnya bagi kita manusia modern dan Orientasi dasar yang dicari; sesuatu yang tentu saja tidak boleh bersifat murni intelektual. Dalam doa sederhana dan ibadah yang tulus, orang modern dapat menemukan nilai-nilai tertentu pada kedalaman eksistensi mereka yang seutuhnya, dan dapat benar-benar mengalami dari mana kita berasal, di mana kita berada, dan ke mana kita menuju.

Dewasa ini kaum Kristen tidak lagi mempunyai iman yang naif akan Allah. Dan sekarang, akan diberikan orientasi jawaban atas kesulitan dan pertanyaan yang diajukan kepada kekristenan – khususnya pertanyaan dan kesulitan dari dunia ilmu pengetahuan.

Salah satu kesulitan adalah ide mengenai Allah sebagai “Pencipta” surga dan bumi. Di sini, kita harus mengingat bahwa pertanyaan mengenai dari mana dunia dan manusia – permasalahan mengenai apa yang ada sebelum Big Bang dan sebelum ada hidrogen apa pun, pertanyaan besar mengenai mengapa ada sesuatu bukannya ketiadaan – merupakan pertanyaan yang pada dasarnya bersifat manusiawi. Para ilmuwan tidak dapat memberikan jawaban karena jawaban itu berada di luar cakrawala pengalaman. Tetapi justru untuk alasan itulah, ia tidak dapat menyingkirkan pertanyaan tersebut sebagai pertanyaan yang tidak relevan atau tanpa makna. Dalam menjawab, penting untuk mengingat bahwa kisah-kisah penciptaan di dalam Kitab Suci tidak dimaksudkan untuk memberi informasi ilmiah mengenai bagaimana terjadinya semesta. Kisah-kisah itu bermaksud menunjukkan apa yang kita sebut kesaksian iman mengenai Asal usul paling awal dari semesta, suatu kesaksian yang tidak dapat dipastikan atau disanggah kebenarannya oleh ilmu: awal dunia adalah Allah. Dan di dalam mengatakan itu, kesaksian-kesaksian biblis ini menekankan bahwa Allah menjadi asal mula segala sesuatu dan semua manusia; bahwa Dia tidak sedang bersaing dengan salah satu prinsip-lawan yang jahat atau demonic; bahwa dunia secara keseluruhan dan dalam setiap bagiannya – materia, tubuh manusia dan termasuk seksualitas – baik adanya; bahwa manusia merupakan penyempurnaan dari proses penciptaan dan pusat dari semesta, dan bahwa ciptaan Allah sudah merupakan tanda komitmen rahmat-Nya kepada dunia dan kepada manusia, baik laki-laki maupun perempuan – yang berarti sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan, pikiran, dan tindakan kita.

Kesulitan kedua adalah ide mengenai Allah sebagai Dia yang “membimbing” sejarah. Bagaimana kita harus memahami hal ini? Jika Allah ada, Dia tentu tidak bertindak di dunia seperti seseorang atau sesuatu yang bersifat terbatas dan relatif. Dia bertindak sebagai Yang Tak Terbatas di dalam yang terbatas dan sebagai Yang Absolut di dalam yang relatif. Dan, saya akan menambah bahwa Allah tidak bertindak pada, atau ke dalam, dunia dari atas atau dari luar sebagai Penggerak Yang Tak Tergerakkan. Sebagai yang paling nyata dan dinamis dari semua kenyataan, Dia bekerja dari bagian dalam, di dalam proses evolutif yang Dia buat mungkin, yang Dia kuasai, dan yang Dia lengkapi. Dia tidak bertindak pada dunia secara eksternal; Dia bertindak di dalam dunia sendiri, di dalam dan bersama dengan manusia dan benda-benda. Apakah ini berarti Dia melakukan intervensi? Jawabannya, Dia tidak mengintervensi dengan cara yang sama sebagaimana sering dipikirkan orang. Dia tidak hanya bertindak pada suatu golongan kecil, khususnya titik-titik penting atau saat-saat genting di dalam permasalahan-permasalahan dunia. Dia bukanlah pemecah masalah. Bukan, Dia bertindak sebagai penjamin dan pendukung utama yang kreatif dan lengkap. Dia membimbing dunia sebagai Dia yang sekaligus imanen di dalam dunia dan mengatasi dunia, serba hadir dan serba kuasa, dengan sepenuhnya menghormati hukum-hukum alam yang bertitik awal tidak lain daripada dalam diri Allah sendiri. Dia adalah serba mengerti dan serba meresapi arti dan tujuan segala sesuatu di dunia dan keseluruhan proses sejarah dunia. Ia “melemparkan dadu” – tetapi mengikuti aturan tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh mekanika kuantum dan mikrobiologi. Kemerdekaan absolut-Nya tidak membatasi kemerdekaan relatif manusia, tetapi membuat kemerdekaan itu mungkin, memberdayakan dan menjaminnya.

Kesulitan ketiga berkaitan dengan konsep mengenai Allah sebagai “penyempurna” dunia dan manusia. Satu hal jelas. Tidak ada satu pun gambaran atau proyeksi ilmiah yang tegas mengenai masa depan umat manusia dan semesta. Dan, saya akan menambah bahwa tidak ada kisah dan gambaran biblis mengenai akhir dunia yang memiliki otoritas pernyataan ilmiah. Kita harus memahaminya sebagai kesaksian iman mengenai Tujuan semesta yang, sekali lagi, tidak dapat ditegaskan atau dibantah ilmu: akhir dunia adalah Allah. Sebagaimana Dia adalah awal (alpha), demikian juga Dia adalah akhir (omega). Kita dapat mengabaikan semua upaya untuk menyelaraskan pernyataan-pernyataan biblis dan pelbagai teori ilmiah mengenai awal dan akhir. Kesaksian biblis memahami akhir pada tingkat yang pada dasarnya berbeda – sebagai pemenuhan kegiatan Allah di dalam ciptaan-Nya. Itu berarti apa yang ada pada akhir dunia, sebagaimana pada awalnya, bukanlah Ketiadaan yang tidak menjelaskan apa pun, melainkan Allah. Akhir ini tidak boleh begitu saja disamakan dengan petaka kosmis dan akhir sejarah manusia secara mendadak. Apa yang bersifat lama, sementara, tidak sempurna, dan jahat benar-benar akan berakhir. Tetapi, akhir ini harus dimengerti sebagai penyempurnaan dan pemenuhan akhir.

“Ya” kepada Allah bukanlah emosi yang kabur atau pun bukti rasional. Manusia dihadapkan pada suatu alternatif. Mereka harus memutuskan apakah mereka siap menerima bahwa di dalam kehidupan dan sejarah umat manusia dan dunia tidak ada dasar, dukungan, dan makna – atau bahwa semuanya bagaimana pun juga mempunyai dasar kokoh, dukungan dan makna; dengan rumusan lebih konkret, ada seorang pencipta, pembimbing, dan penyempurna. Kita dapat tidak percaya pada dasar, dukungan, dan makna kenyataan lalu mengatakan “tidak” kepadanya. Atau kita dapat percaya, dan mengatakan “ya” kepada Allah. Maka “ya” kepada Allah merupakan masalah kepercayaan – meskipun kepercayaan dalam dirinya sendiri merupakan suatu kepercayaan yang cukup masuk akal. Tidak ada bukti rasional untuk tindak kepercayaan seperti itu, tetapi pasti ada banyak dasar yang masuk akal. Sebab hanya “ya” penuh percaya kepada dasar, dukungan, dan makna utama dapat menjawab pertanyaan mengenai dasar, dukungan, dan makna dunia, dan makna utama hidup kita sendiri. Hanya “ya” penuh percaya dapat memberikan kepastian, rasa aman tertinggi kepada manusia – dan kenyataannya memberikan suatu sistem sejati dari nilai-nilai hakiki. Dalam terang ini, hanya “ya” merupakan hal yang pada dasarnya masuk akal, bukan “tidak”, yang menuntun kepada ketidakbermaknaan dasariah.

Jika kita mau mengarahkan diri kita kepada Allah dalam iman, yaitu Allah kaum Kristen, kita tidak perlu benar-benar menjadi irasional, sebagaimana ditakutkan oleh banyak orang. Sebaliknya, dengan mempercayai Allah pikiran kita benar-benar “menangkap dasar-alasannya” Dan Allah para filsuf, yang lebih menarik bagi orang-orang tertentu, tidak dengan sendirinya terhapuskan di dalam proses tersebut: di dalam Allah kaum Yahudi dan Kristen, Dia adalah apa yang dalam bahasa Jerman disebut, dalam suatu kata dengan tiga makna yang indah, aufgehboben – Dia ditegaskan, disangkal, dan diatasi sekaligus; ditegaskan, direlatifkan, dan ditinggikan secara tak terbatas. Saya percaya, Allah ini adalah apa yang dapat kita sebut “Allah yang lebih ilahi”. Kaum modern, baik laki-laki maupun perempuan, tidak perlu membuang akal mereka yang telah terlanjur kritis di hadapan Allah ini. Dia adalah Allah yang di hadapan-Nya mereka dapat “berdoa dan berkurban, jatuh berlutut dalam kekaguman, membuat musik dan menari” lagi, untuk menggunakan kata-kata yang digunakan Heidegger dalam mengungkapkan harapannya. Maka jawaban pertama dan dasar saya terhadap pertanyaan mengenai nilai-nilai hakiki Kristen adalah: saya tahu apa yang dapat saya andalkan dan akan saya andalkan karena saya percaya kepada Allah yang hidup.

Sesungguhnya, setiap orang memiliki ”Allahnya” sendiri: yaitu nilai tertinggi yang kita gunakan untuk mengatur segalanya, yang menjadi tujuan kita, yang bagi-Nya kita bersedia untuk mengurbankan segalanya. Jika ini bukan Allah yang benar, ini menjadi semacam berhala, suatu berhala lama atau baru – uang, karir, seks, atau kenikmatan. Tidak satu pun di antara hal-hal tersebut yang jahat di dalam dirinya sendiri, tetapi memperbudak mereka yang menjadikannya Allah. Orientasi kepada Allah yang satu dan benar, kepada satu-satunya Yang Absolut, membebaskan kita dari hal-hal itu, dan memungkinkan kita menggunakan mereka, mengungkapkan diri kita sebagai manusia dengan menggunakan mereka. Orientasi kepada Allah yang satu dan benar membuat seorang manusia benar-benar bebas di dunia ini. Tetapi di dalam semuanya ini, pembicaraan kita masih sangat umum. Kita harus melanjutkan refleksi kita dan berbicara secara lebih tepat. Dari mana saya memperoleh komitmen saya pada nilai-nilai Kristen yang hakiki?

0 komentar:

Poskan Komentar