Ads 468x60px

Belajar dari Prof. Hans Kung (4)

 @ KOMITMEN ORANG KRISTEN DALAM MASYARAKAT YANG KEHILANGAN ARAH.

 4. Dari Manakah Saya Memperoleh Komitmen Kristen?

 Ini bukanlah rahasia. Saya memperolehnya dari seseorang yang merelakan namanya tersembunyi di balik program-program partai Kristen, dan yang namanya sering kali hanya diperlakukan sebagai “ketua kehormatan” tanpa memiliki pengaruh nyata apa pun. Saya mendapatkan nilai-nilai Kristen hakiki ini dari Yesus dari Nasaret, tokoh sejarah dan bukan mitos. Sebagai tokoh sejarah, Dia menjadi Kristus yang berwibawa dalam segala hal bagi umat Kristen sepanjang masa. Dia mewartakan Allah yang satu dan satu-satunya di dalam pengalaman manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Dia adalah Allah yang sama. yang telah berbicara dan disapa di dalam sejarah bangsa Israel. Dia mewartakan Allah ini dengan wajah manusia, sebagai Allah yang hidup dan dekat. Di dalam seluruh hidup dan segala sesuatu yang dibuat-Nya, Yesus menampilkan wajah Allah. Ketika Yesus berbicara mengenai Allah ini dan bertindak dalam nama Allah, apa yang samar-samar di dalam Perjanjian Lama dibuat jelas, yang kelihatan ambigu di sana menjadi terang. Allah Israel yang satu dan benar ini sekarang dimengerti secara baru. Kita mungkin dapat meringkasnya dengan mengatakan bahwa Dia dimengerti sebagai bapak dari anak hilang, sungguh-sungguh sebagai Bapak dari semua orang yang tersesat, bukan hanya sebagai Bapak dari kaum saleh dan mereka yang benar sejak semula. 

 Allah ini, sebagaimana diwartakan Yesus, bukanlah Allah yang semata-mata maskulin, sewenang-wenang, terikat hukum, semacam orang yang tata tertibnya kaku, Allah tanpa rona keibuan, sebagaimana sering diajarkan kepada anak-anak. Dia bukanlah Allah yang digambar sebagai raja, tiran, dan dikator. Allah ini benar-benar Allah yang mencintai yang juga Ibu saya: yakni, Dia adalah Allah kasih yang demi seluruh kadilan-Nya, memberikan diri seutuhnya kepada seluruh manusia, seluruh kebutuhan dan harapan mereka (yang juga penting bagi masalah-masalah mengenai moralitas seksual). Saya mohon Anda tidak mengartikan kata-kata ini dalam arti yang dangkal. Dia adalah Allah yang tidak melulu menuntut, tetapi memberi; yang tidak menekan, tetapi membebaskan; yang tidak membuat manusia sakit atau meracuni hidup, tetapi menyembuhkan. Dia adalah Allah yang memaafkan mereka yang jatuh –siapa yang tidak pernah jatuh? Allah yang mengampuni, bukannya mengutuk, membebaskan bukannya menghukum, membuat rahmat berkuasa bukannya hukum; yang bergembira karena pertobatan seorang pendosa daripada sembilan puluh sembilan orang benar. Maka Dia adalah Allah yang memilih si anak hilang daripada anak yang tinggal di rumah, lebih memilih pemungut cukai daripada kaum Farisi, para bidah Samaria daripada kaum Ortodoks, para pelacur dan pezinah daripada para hakim yang membenarkan diri mereka sendiri. Sebagaimana Anda melihat, khotbah Yesus ini terasa menyerang dan keras, bukan hanya di masa lampau dalam sejarah tetapi juga untuk saat ini, khususnya karena disertai oleh praktik yang sama: bukan ekskomunikasi, melainkan komunikasi – bahkan persekutuan! Dia duduk – bahkan Dia duduk di seputar meja – bersama dengan mereka yang dinista dan pecundang, segala macam “pendosa”.

 Jelaslah bahwa sebutan Bapa kepada Allah semacam ini bukan saja sebuah gema dari pengalaman kebapakan, maskulinitas, kekuatan, dan kekuasaan di dunia ini. Ini bukanlah Allah sebagaimana dilihat Feuerbach, yang semula teolog dan kemudian menjadi ateis: Allah untuk masa setelah kematian dengan mengurbankan masa kini dan di sini, dengan mengurbankan manusia dan keagungan mereka yang sesungguhnya. Allah ini juga bukan Allah sebagaimana dikritik Marx: Allah para penguasa, Allah dari kondisi sosial yang tidak adil, Allah dari kesadaran yang rusak, dan Allah dari hiburan palsu. Allah ini bukanlah Allah yang ditolak Nietzsche: Allah yang dimunculkan oleh kemarahan, Allah kaum lemah yang menyedihkan. Allah ini bukanlah Allah yang ditolak Freud dan sejumlah psikoanalis: super-ego tiran, gambaran salah akan kebutuhan masa kanak-kanak, Allah dari upacara yang obsesif yang muncul dari kompleks rasa salah, kompleks ayah, atau Oedipus complex.

 Bukan, Allah ini adalah Allah yang berbeda: Allah yang menempatkan diri-Nya di atas kebenaran hukum formal, logis, kejam, dan mewartakan keadilan yang “lebih baik” dan bahkan mungkin membenarkan pelanggar hukum; Allah yang menurut-Nya perintah-perintah ada demi pribadi manusia, dan bukan pribadi manusia demi perintah; Allah yang tidak menumbangkan tatanan hukum dan seluruh sistem sosial yang ada, tetapi yang merelatifkan demi umat manusia; dan Allah yang menghendaki agar pemisah penggolongan antara orang baik dan orang jahat, teman dan lawan, sesama dan orang asing, pekerja dan penganggur, seluruhnya disingkirkan. Bagaimana caranya? Dengan kerendahan hati, penyangkalan diri, kasih, pengampunan tanpa batas, pelayanan tanpa memperhitungkan imbalan, pengurbanan tanpa kompensasi. Dengan begitu Allah menempatkan diri-Nya pada sisi kaum malang, terlupakan, tertindas, lemah, miskin dan sakit, dan bahkan – tidak seperti kaum yang membenarkan diri – pada pihak yang tidak saleh, tidak bermoral, dan tidak bertuhan. Allah itu murah hati, amat sangat murah hati, kepada manusia.

 Demi Allah dan kemurahan hati-Nya yang indah inilah Yesus memberikan diri dan hidup-Nya. Demi Dia, Yesus berbicara, berjuang, menderita, dan dihukum mati. Dan pada titik inilah, tentu saja, pertanyaan selalu muncul: apakah semuanya tidak berakhir bersama dengan kematian-Nya? Dengan hati-hati, kita dapat memberi jawaban berikut, yang kiranya dapat diterima pula bahkan oleh orang non-Kristen: Merupakan kenyataan sejarah dunia bahwa kematian Yesus bukan akhir segalanya, tetapi menjadi awal; bahwa komunitas pertama-Nya mewartakan Dia – yang semula dianggap sebagai guru bidaah, nabi palsu, perayu umat, penghujat, yang kabarnya dikutuk Allah – sebagai Mesias Allah, Kristus, Tuhan, Anak Manusia, Anak Allah. Mengapa begitu? Menurut sumber-sumber Perjanjian Baru, mereka yakin – dan hanya keyakinan inilah menjelaskan munculnya kristianitas – bahwa Yesus telah mati, bukan mati ke dalam ketiadaan, tetapi mati ke dalam Allah. Itu berarti bahwa Yesus hidup: hidup melalui Allah, bersama Allah, dan di dalam Allah. Untuk apa? Untuk kita - sebagai harapan, sebagai kewajiban, sebagai orientasi!

 Sejak saat itu, baik kaum Kristen maupun non-Kristen telah dihadapkan pada suatu pilihan yang jelas dalam mengarahkan tujuan hidup mereka.

 Terdapat kemungkinan bahwa kita mati dalam ketiadaan. Saya tidak akan menyangkal sikap hormat saya kepada mereka yang mengambil posisi ini. Ini merupakan pandangan yang kadang-kadang menuntut heroisme, dan tentu saja tidak dapat disanggah. Tentu saja tidak seorang pun yang telah membuktikannya secara positif pula. Belum pernah ada seorang pun dapat membuktikan bahwa kita mati ke dalam ketiadaan, bahwa semua hidup, kerja, cinta, dan penderitaan kita berakhir di dalam ketiadaan dan pada dasarnya tanpa tujuan apa pun. Dan, menurut kesan saya kemungkinan ini tidak masuk akal; tidak ada keadaan yang menjadikannya masuk akal.

 Berikut ini adalah kemungkinan yang lain: bahwa kita mati ke dalam suatu kenyataan absolut yang kita sebut Allah karena kita masih belum mempunyai nama yang lebih baik untuk-Nya. Alternatif ini tidak dapat dibuktikan; tentu saja juga tidak dapat disanggah. Di sinilah setiap manusia dihadapkan pada suatu keputusan yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun. Kita tidak mempunyai bukti untuk kehidupan kekal. Tetapi – sebagaimana telah saya katakan – kita mempunyai dasar yang masuk akal. Kita dapat mengikatkan diri kepadanya dalam kepercayaan yang tercerahi, masuk akal. Sesungguhnya, bukan untuk menghibur diri dengan janji mengenai suatu kehidupan setelah kematian, tetapi untuk menempatkan diri kita sendiri jauh lebih tegas di tempat ini dan saat ini, di dalam hidup ini, di dalam masyarakat dewasa ini. Dan, bahwa kita mati bukan demi ketiadaan melainkan demi Allah bagiku terasa lebih masuk akal; terasa lebih masuk akal dalam keadaan mana pun. Pikirkan: jika Allah benar-benar ada dan jika Ia benar-benar Allah, tidak mungkinlah Dia hanya Allah dari permulaan, tetapi harus Allah pada akhir juga. Lalu, Dia adalah Penyempurna kita dan sekaligus Pencipta kita. Dia sendirilah, Pencipta dan Penjamin semesta dan manusia yang mempunyai lebih dari satu kata lagi untuk diucapkan, bahkan dalam keadaan sekarat dan pada saat kematian, melampaui batas-batas semua yang sampai kini telah dialami. Dialah yang mempunyai kata akhir, sebagaimana Dia mempunyai kata pertama. Jika saya dengan serius mempercayai Allah yang hidup, yang abadi, saya percaya juga akan kehidupan abadi Allah, akan kehidupan abadi saya. Maka apabila saya memulai pernyataan iman saya dengan percaya akan “Allah yang mahakuasa, Pencipta” saya dapat dengan sangat tepat menyelesaikannya dengan iman akan “kehidupan kekal”.

 Iman yang teguh akan hal seperti ini bahkan sungguh sudah mengubah kehidupan sekarang. Iman ini memungkinkan kita untuk hidup secara berbeda, dengan makna yang lebih, dengan tanggung jawab dan keterlibatan yang lebih besar. Iman yang kokoh memungkinkan kita untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus. Dengan pewartaan-Nya, cara hidup-Nya, dan nasib-Nya, Yesus menjadi patokan bagi mereka yang percaya kepada-Nya: patokan bagi hubungan mereka dengan sesama manusia mereka, dengan masyarakat, dan terutama dengan Allah. Singkatnya, bagi kaum beriman, Yesus dari Nasaret, si manusia sejati, selalu menjadi perwahyuan yang jelas dan nyata dari Allah yang satu: Yesus menjadi Mesias-Nya, Kristus-Nya, gambar-Nya, dan Putra-Nya.

 Justru dalam cara inilah, Yesus benar-benar menjadi seorang manusia, sang manusia sejati. Melalui pewartaan-Nya, tingkah laku-Nya, seluruh nasib-Nya, Yesus memberikan sebuah model manusia yang memampukan kita secara terus-menerus menemukan dan menyadari makna kita sebagai manusia, kebebasan kita, hidup kita, saat kita mengikatkan diri kepada-Nya dengan penuh kepercayaan: di dalam eksistensi kita dan di dalam hidup bersama dengan sesama kita. Dengan membangkitkan Yesus, Allah menegaskan bahwa Yesus menjadi patokan utama – yang langgeng dan dapat diandalkan – makna menjadi manusia. Apa yang jelas-jelas menjadi nyata di dalam perdebatan-perdebatan teologis akhir-akhir ini adalah bahwa kristologi, mungkin penting, khususnya bagi para teolog dan para uskup, tetapi iman akan Kristus dan kemuridan merupakan hal yang hakiki. Yang penting adalah menjadi seorang Kristen. Dialah yang membuat hal itu mungkin bagi saya – Dia, Kristus Allah, yang identik dengan manusia historis, Yesus dari Nasaret.

 Dengan demikian, bagaimana saya akan menjawab pertanyaan, dari mana saya memperoleh komitmen Kristen? Saya tahu apa yang saya andalkan, apa yang dapat saya jadikan pegangan, karena saya percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi dengan mengatakan ini, saya juga dihadapkan pada pertanyaan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja dalam keadaan apa pun. Apa arti semuanya ini di dalam praktik?

0 komentar:

Poskan Komentar