Ads 468x60px

Belajar dari Prof. Hans Kung (5)

@ KOMITMEN ORANG KRISTEN DALAM MASYARAKAT YANG KEHILANGAN ARAH.

 5. Apa Arti Komitmen Kristen Dalam Praktik?

Di sini, saya tidak dapat memberikan sesuatu yang lebih dari petunjuk-petunjuk arah dasar yang seharusnya kita ambil. Perkenankan saya sejak awal mengatakan bahwa akan menjadi kesombongan apabila dalam refleksi singkat ini saya dapat memberikan saran mengenai pendekatan pada semua masalah yang penting dan relevan – sekurang-kurangnya karena masalah yang dianggap penting dan relevan berbeda-beda bagi orang yang berbeda pula. Yang menjadi keprihatinan saya di sini adalah pemikiran dan kesadaran Kristen yang mendasar, yaitu komtimen pada nilai-nilai hakiki Kristen. Tentu saja nilai-nilai ini harus berpengaruh pada semua masalah praktis, baik masalah individu maupun masalah masyarakat. Menjadi seorang Kristen harus secara mendalam memengaruhi cara seseorang, misalnya mendekati masalah-masalah perang dan perdamaian, kekerasan dan tanpa-kekerasan, perebutan kekuasaan, dorongan pada konsumsi yang semakin meningkat; pengaruhnya harus terasa di dalam pendidikan; harus kelihatan di dalam pelayanan bagi orang lain. Tetapi di sini, saya akan membatasi diri pada prinsip-prinsip umum praktik Kristen. Tentu saja satu pokok penting harus ditekankan. Apa yang saya tunjukkan atau isyaratkan di sini bukan hanya apa yang sering secara jijik disebut “teori murni”; ini adalah teori di balik praktik yang benar-benar dihayati dari hari ke hari oleh sejumlah besar orang yang berusaha untuk hidup sebaik mungkin. Dan karena itu, saya yakin bahwa Gereja-gereja kita – meskipun di dalamnya terdapat pula unsur-unsur pseudokristiani – pada dasarnya masih tetap Kristen, 

Marx adalah tuan dan guru bagi kaum Marxis, dan Freud bagi kaum Freudian. Yesus dari Nasaret tentu saja juga merupakan tuan dan guru bagi hidup kaum Kristen. Tetapi pada hakikatnya, Dia lebih daripada itu. Sebagai orang yang dibunuh dan dibangkitkan, bagi kaum beriman Dia adalah penjelmaan penuh wibawa yang dinamis dari segala yang Ia perjuangkan. Dalam segala hal yang terkait dengan ada-Nya, dalam segala yang dikatakan-Nya, dilakukan-Nya, dan diderita-Nya, Yesus mempribadikan keprihatinan Allah dan keprihatinan umat manusia. Maka, Yesus memanggil kita menjadi murid. Untuk orang-orang tertentu, kemuridan merupakan kata yang terlalu mulia, dan tantangan di dalam kemuridan hampir selalu menggelisahkan. Tetapi jangan salah memahami apa arti kemuridan. Tentu saja, Kristus yang hidup tidak hanya mengundang untuk dihormati tanpa adanya komitmen praktis, dan juga tidak cukup bagi kita hanya mengatakan “Tuhan, Tuhan!” atau “Anak Allah, Anak Allah”. Tetapi, Yesus juga memanggil kita tidak hanya untuk meniru-Nya secara harfiah. Hasrat untuk meniru-Nya merupakan kesombongan. Bukan, Yesus memanggil untuk kemuridan pribadi, bukan untuk meniru, tetapi dalam korelasi, dalam komunikasi. Ini berarti bahwa saya mengikatkan diri kepada-Nya dan menelusuri jalan saya sendiri sesuai dengan pengarahan-Nya – karena kita masing-masing mempunyai jalan sendiri untuk diikuti. Tidak berarti bahwa kita harus mengikuti. Kita tidak dipaksa. Menjadikan jalan-Nya sebagai jalan kita sendiri, sejak awal, dimengerti sebagai kesempatan besar, bukan suatu “keharusan”, melainkan suatu “kemungkinan”; bukan hukum untuk ditaati seperti budak, melainkan suatu peluang yang tidak diduga dan anugerah sejati, yakni (dan kata ini terlalu sering disalah mengerti) suatu rahmat murni yang boleh kita andalkan – suatu rahmat yang mensyaratkan satu hal saja: saya menangkapnya dengan penuh keyakinan dan berusaha menyesuaikan hidup saya dengannya.

Semua Gereja Kristen harus memahami ini: Ciri khas kekristenan bukanlah suatu ide abstrak tertentu, ide dari dunia barat tentang kekristenan, bukan pula suatu prinsip etik, pertimbangan saleh, sebuah prinsip abstrak tertentu, dan bukan pula sebuah sistem teologi gerejawi tertentu. Yesus Kristus-lah yang menjadi ciri khas kekristenan. Bagi kaum beriman, Yesus yang khas sebagai Kristus yang hidup merupakan kewibawaan tertinggi yang dapat kita andalkan dalam segala situasi. Ia adalah model dasar yang memberi orientasi kepada kita.

Contoh utama nilai-nilai hakiki, baik dalam kehidupan individual maupun sosial tentu saja tidak hanya untuk memberikan hiburan batin, rohani, dan mental. Contoh ini melibatkan suatu pertobatan hati; suatu sikap baru yang dapat mengubah dunia! Contoh ini benar-benar memberi kemungkinan terwujudnya apa yang pada waktu ini diperlukan banyak orang, yang secara berkepanjangan merasakan kurangnya pengarahan, patokan, makna; terancam oleh kecanduan obat-obatan, kriminalitas, dan kekerasan yang terus-menerus. Contoh ini benar-benar memberikan kemungkinan terwujudnya apa yang dirasa begitu penting, baik bagi kehidupan agama maupun politik kaum Kristen, bagi kebijakan-kebijakan sosial dan ekonomi mereka, bagi kebijakan-kebijakan pendidikan dan pembangunan. Perkenankan saya mengemukakan ini: Yesus Kristus dan Roh-Nya, yang merupakan energi kekuatan Allah sendiri, memungkinkan: 
  • Kesadaran baru benar-benar mungkin: Dia menuntut suatu sikap yang baru, lebih manusiawi terhadap hidup, dan suatu gaya hidup yang baru. Secara individual dan bersama-sama, kita menjadi mungkin dan dapat hidup secara berbeda, lebih autentik, lebih manusiawi ketika kita mempunyai Yesus Kristus ini di hadapan kita sebagai contoh khusus bagi hubungan-hubungan dasar dengan orang lain, masyarakat, dunia dan Allah. Sikap baru ini memberikan identitas dan integritas kepada kita dalam kehidupan individual kita, dan suatu kemerdekaan dan motivasi yang pasti untuk bertindak dalam masyarakat dewasa ini. 
  • Motivasi baru benar-benar mungkin: dari “teori” dan “praktik”-Nya kita dapat menarik dasar-dasar yang baru bagi tindakan individual dan sosial. Di dalam terang-Nya, mungkinlah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan di awal dan yang sulit untuk dijawab secara rasional murni: mengapa kita tidak boleh bertindak dalam cara yang satu atau yang lain; mengapa kita tidak boleh bertindak jahat dan tidak manusiawi tetapi harus manusiawi dan baik; mengapa kita tidak boleh membenci tetapi harus mencintai; mengapa kita tidak boleh mengobarkan kekerasan dan perang tetapi harus meningkatkan perdamaian dan menjamin tindakan tanpa kekerasan. Dalam terang Yesus Kristus mungkinlah untuk menjawab bahkan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Freud, dengan segala wawasannya yang cemerlang: mengapa kita tetap harus jujur, penuh pertimbangan dan baik hati di setiap kesempatan bahkan saat hal itu merugikan kita dan kita dibuat menderita karena kesembronoan dan kekejaman orang lain. 
  • Sikap baru benar-benar mungkin: di dalam Roh-Nya kita dapat memperkembangkan dan menjamin wawasan dan sikap baru dan dapat diandalkan. Kita dapat menemukan pertolongan di dalam Dia – tidak hanya kadang-kadang tetapi dapat dipastikan – untuk membentuk sikap yang baru dengan semua kerumitan yang dituntutnya, yang mampu membimbing tingkah laku individual dan sosial dengan sukses: sikap komitmen yang tulus kepada sesama manusia kita, menyamakan diri dengan mereka yang malang, dan perlawanan kepada lembaga-lembaga yang tidak adil; sikap penuh syukur, kebebasan, keluhuran budi, dan kegembiraan, serta penuh pertimbangan, pengampunan, dan pelayanan, sikap yang dibuktikan dalam situasi sulit, dalam sikap siap berkurban, dalam kepenuhan pemberian diri, dan dalam penyangkalan, juga ketika sebenarnya kita tidak harus melakukannya, dalam kesediaan untuk melakukan sesuatu demi tujuan yang lebih besar. 
  •  Tindakan baru benar-benar mungkin: oleh Roh-Nya kita dimampukan untuk bertindak pada skala yang lebih besar atau lebih kecil, tidak hanya di dalam program umum demi perubahan sosial, tetapi juga di dalam cara-cara praktis dan detail, baik demi keuntungan individu-individu maupun masyarakat. 
  • Tujuan baru benar-benar mungkin: melalui Roh-Nya datanglah apa yang sekarang dirindukan banyak orang – makna dan tujuan akhir hidup kita di dalam kenyataan yang sekaligus pertama dan terakhir yang merupakan penyempurnaan kemanusiaan melalui kerajaan Allah. Justru makna dan tujuan hidup seperti inilah yang memungkinkan kita menjalani kehidupan duniawi kita yang sekarang secara berbeda dan itu berarti hidup tidak hanya sebagai sejarah sukses, melainkan juga sebagai sejarah penderitaan yang toh tetap bermakna, baik bagi individu maupun bagi umat manusia secara keseluruhan.

 Butir terakhir inilah yang perlu diungkapkan secara lebih tepat. Kaum non-Kristen sering menggambarkan diri mereka sendiri sebagai kaum humanis, tetapi kita orang Kristen juga tidak kurang humanisnya. Ujian yang menentukan, baik bagi humanisme non-Kristen maupun humanisme Kristen adalah kemampuannya untuk menghadapi sisi negatif dari kenyataan. Sementara sangat mudahlah untuk mengatakan bahwa kita menyetujui segalanya yang bersifat manusiawi, menyenangkan, benar, baik, dan indah, bagaimana jika kita selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak manusiawi, tidak menyenangkan, tidak benar, jahat, dan jelek dalam kehidupan individual kita dan masyarakat. Dan jika hal-hal negatif ini tidak dapat begitu saja kita abaikan lalu bagaimana sisi yang negatif tersebut harus dihadapi?

 Baru sekarang, dan dengan sangat hati-hati, saya memperkenalkan ide yang telah disalahgunakan oleh begitu banyak orang untuk memperbudak kemanusiaan dan menipunya dengan hiburan palsu: salib, atau lebih tepatnya, Dia yang tersalibkan, bahkan memampukan kita untuk mengatasi unsur yang negatif. Siapa dapat menyangkal bahwa eksistensi manusia – di bawah sistem sosial dan ekonomi mana pun, dan bahkan setelah semua pembaruan dan revolusi – adalah eksistensi dan tetap merupakan eksistensi yang dilemparkan bersama dengan rasa sakit, kegelisahan, rasa salah, penderitaan, penyakit, serta kematian, dan dalam arti ini merupakan hal yang gagal dan tidak memuaskan? Tetapi eksistensi kita yang penuh frustrasi ini mencapai makna yang tidak tersangkal dalam terang kebangkitan Yesus. Sebab tidak ada penderitaan di dunia ini yang dapat menghilangkan tawaran makna – ini tidak lebih daripada tawaran – yang ditampilkan dalam penderitaan dan kematian dari Dia yang dibangkitkan. Pribadi yang percaya kepada Allah akan tetap percaya bahkan dalam situasi negatif, bahaya paling besar, kesepian yang sangat mendalam, kesia-sian, rasa salah, dan kekosongan. Allah mengatasi semua itu dengan mengidentikkan diri-Nya dalam kemanusiaan. Allah tetap melakukannya bahkan saat kita tidak mampu memahami. Sekarang, kita tidak sedang berkhayal: tidak ada cara untuk menganggap sepi hal-hal negatif. Kita diberi kemampuan untuk menanggungnya tanpa harus mengasihani diri sendiri, suatu jalan pintas, suatu masa depan yang menjadi tujuan hidup dan penderitaan kita. Ini tidak berarti mencari-cari yang negatif, tetapi menanggungnya; tidak hanya menanggungnya, tetapi berjuang melawannya.

 Di dalam Roh, Dia yang tersalibkan, suatu perjuangan melawan semua aspek negatif kondisi hidup manusia dan sebab-sebabnya menjadi mungkin pada tingkat yang sangat mendalam, baik oleh individu maupun masyarakat. Itu adalah: 
  •  Perjuangan untuk menjamin rasa hormat terhadap martabat manusia melawan semua sikap permusuhan terhadap kemanusiaan – bahkan sampai pada tingkat mencintai musuh-musuhnya. 
  • Perjuangan demi kebebasan melawan semua penindasan – bahkan sampai pada tingkat pelayanan tanpa melibatkan kepentingan diri. 
  • Perjuangan demi keadilan melawan semua ketidakadilan – bahkan sampai pada tingkat menyerahkan hak-haknya secara sukarela. 
  • Perjuangan melawan semua bentuk egoisme – bahkan sampai pada tingkat memberikan semua yang kita miliki. 
  • Perjuangan demi perdamaian melawan semua bentuk pertikaian –bahkan sampai pada tingkat rekonsiliasi tanpa batas.

 Lalu mengapa saya mempunyai komitmen terhadap nilai-nilai hakiki Kristen? Berikut adalah jawaban ketiga, yang memberi penjelasan terakhir: saya tahu apa yang dapat saya andalkan, yang dapat saya jadikan pegangan karena saya percaya kepada Roh Yesus Kristus, yang sekarang hidup, yang menjadi Roh Allah sendiri, yang adalah Roh Kudus. Roh yang hidup ini memampukan saya dan banyak orang lain yang tidak terhitung jumlahnya untuk benar-benar menjadi manusiawi: tidak hanya bertindak dengan cara yang sungguh-sungguh manusiawi, tetapi juga menderita; tidak hanya untuk hidup, tetapi juga untuk mati – karena di dalam segalanya, baik yang positif maupun negatif, di dalam semua kebahagiaan dan kemalangan, kita dijamin oleh Allah dan dapat merasakan orang lain sebagai sesama manusia. Dan dalam arti ini, kita sebagai orang Kristen tidak hanya menampilkan sembarang jenis humanisme tetapi suatu humanisme yang benar-benar radikal: humanisme yang sampai pada akar-akarnya karena humanisme ini tidak hanya mampu menampilkan yang benar, yang baik, dan yang indah, segala yang bersifat manusiawi dan menyenangkan, tetapi juga yang tidak benar, yang jahat, dan yang jelek, segala yang bersifat terlalu manusiawi dan bahkan tidak manusiawi. Humanisme ini mampu, menanggung dan berjuang, untuk secara positif merangkul semuanya itu.

0 komentar:

Poskan Komentar