Ads 468x60px

Belajar dari Prof. Hans Kung (6)

@ KOMITMEN ORANG KRISTEN DALAM MASYARAKAT YANG KEHILANGAN ARAH.

6. Peluang-peluang bagi Kaum Kristen

Ada banyak peluang yang muncul dengan menjadi seorang Kristen. Baik orang beriman maupun tidak beriman, baik Kristen maupun non-Kristen, tidak seorang pun akan menyangkal bahwa komitmen pada nilai-nilai hakiki seperti itu memberikan suatu jawaban terhadap “krisis’ nilai yang dapat kita gunakan untuk memulai langkah baru: suatu komitmen terhadap nilai-nilai hakiki yang –berlandaskan paham biblis tentang Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh Kudus – mampu memberi hidup individual dan sosial kita suatu arah yang baru, dimensi baru, dukungan baru, makna baru; suatu jalan antara revolusi dan sikap budak, antara radikalisme super-kritis dan kompromi penuh puas diri – suatu cara khususnya bagi generasi yang lebih muda. Apa yang benar-benar dilakukan oleh masing-masing individu dengan jawaban seperti ini tentu saja tergantung pada keputusan pribadinya. Di sini, tidak mungkin ada tekanan dan pemaksaan. 

Tetapi berikut ini sangatlah pasti:
  • Semakin manusia – baik laki-laki maupun perempuan, buruh, pramuniaga, atau mahasiswa doktoral perguruan tinggi – menerima nilai-nilai hakiki itu, mereka menjadi semakin bebas, semakin terbuka, manusiawi, filantropis.
  • Semakin kaum tua berpegang pada nilai-nilai tersebut, akan semakin simpatiklah pendekatan mereka semua pada generasi yang lebih muda, dengan tingkat pemahaman yang mendalam dan sekaligus dengan ketegasan karena tidak boleh memberikan konsesi palsu.
  • Semakin banyak orang muda terlibat dengan pilihan tersebut, dengan cara hidup Kristen dan gaya hidup Kristen, mereka akan semakin mengatasi frustrasi, ketidakpuasan, dan permusuhan yang tidak produktif, yang dewasa ini begitu marak; dan mereka akan semakin menemukan otonomi dan cakupan yang murni bagi kebebasan sehingga dengan rasa akan kenyataan yang baru, mereka dapat melakukan yang terbaik bagi sesama manusia.
  • Semakin sebuah partai politik (apakah menyebut dirinya partai “Kristen” atau tidak) membiarkan dirinya, secara diam-diam atau terang-terangan, diresapi oleh Roh itu menuju hak-hak dasar, sikap, dan patokan, partai itu akan semakin mencapai tujuannya untuk berhubungan erat dengan kebutuhan rakyat, sebagai warga negara, dan sebagai manusia. Partai ini tidak hanya akan berkuasa atau berjuang untuk kekuasaan; partai ini akan benar-benar melayani semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
  • Semakin sebuah Gereja – entah Katolik, entah Protestan, entah Ortodoks – tidak hanya disebut Kristen tetapi bertingkah laku secara Kristen, Gereja itu akan semakin terbuka, ramah, menyenangkan, benar-benar dapat dipercaya. Ia akan semakin mampu memecahkan masalah-masalah internal Gereja dengan mudah yang telah saya rujuk secara sangat kritis di permulaan, dan akan lebih benar-benar memberikan harapan kepada semua orang, baik laki-laki dan perempuan.
  • Semakin sebuah masyarakat – entah secara formal Kristen entah pluralis secara modern – didukung oleh rakyat, lembaga-lembaga, dan Gereja-gereja, yang baginya kristianitas telah berarti sesuatu, masyarakat itu tidak tumbuh menjadi masyarakat yang berorientasi kepada kesenangan, melainkan. masyarakat yang berorientasi pada kebenaran.


Bagaimana Kita Bertahan?

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Luk 17:7-10).


1963 – Tahun Visi

 Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak saya pergi ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya – pada tahun 1963. Tahun itu adalah tahun pengharapan bagi Amerika, dan tidak hanya bagi Gereja-gerejanya tetapi juga bagi Gereja-gereja seluruh dunia. Tahun itu adalah tahun pengharapan bagi semua orang.

Bagi setiap orang yang mengikuti peristiwa-peristiwa secara dekat, 1963 merupakan tahun dari visi-visi besar. Ada Presiden Amerika, John F. Kennedy, yang mempunyai visi mengenai “batas-batas baru” – batas-batas yang baru dan tegas dari kemajuan, keadilan sosial serta perdamaian bagi Amerika dan dunia. Dan pada waktu itu, tidak ada semangat anti-Amerika di Eropa, tetapi banyak kerja sama bahkan antusiasme.

Juga ada Paus Yohanes XXIII, yang telah membuka Konsili Vatikan II di tahun sebelumnya dan telah mengguncang Gerejanya untuk bangun dengan visi religius aggiornamento. Gereja Katolik harus diperbarui sesuai dengan Injil. Kaum Kristen dan Yahudi harus menemukan hubungan baru antara satu dengan yang lain, dan agama-agama dunia harus masuk dalam suatu dialog positif, ia adalah paus pertama yang pernah berbicara di dalam ensiklik-ensikliknya mengenai hak asasi manusia dan perdamaian dunia.

Kami para teolog Katolik pada waktu itu berangkat kerja dengan semangat tinggi. Kami telah ditunjuk Paus Yohanes XXIII sebagai penasihat konsili – waktu itu saya menjadi teolog termuda di antara mereka – dan kami ingin membantu memberikan dasar teologis yang konkret bagi visi tersebut dan membantunya. Kami diajak untuk melakukan perjalanan dan mulai mengenal Gereja dunia. Saya berumur tiga puluh lima tahun sewaktu pergi ke Amerika untuk pertama kali. Saya memberi banyak kuliah, terutama mengenai tema “Gereja dan kebebasan”, dari pantai Timur sampai Barat. Itu merupakan tema yang tampaknya menarik dan menggairahkan para pendengar karena belum pernah terjadi di lingkungan Katolik.

Tahun 1963 jelas merupakan tahun visi, tetapi mugkin juga tahun khayalan? Tidak, tidak benar. Sejumlah besar telah dicapai dan, baik Gereja Katolik maupun Gereja-gereja lain tidak pernah menjadi sama lagi sejak itu – baik di dalam ibadat mereka, di dalam teologi mereka, maupun di dalam tatanan Gereja mereka. Bagi Gereja Katolik, Abad Pertengahan dan Kontra Reformasi anti-Protestan akhirnya diakhiri. Hal-hal baru telah dicapai, tetapi juga ada berbagai kekecewaan.


Kekecewaan-kekecewaan

 Enam bulan kemudian pada hari Pentakosta tahun 1963, Yohanes XXIII meninggal; dan dalam bulan November 1963, Presiden Kennedy dibunuh. Orang-orang yang menjadi harapan kita telah mati.

 Tetapi, visi tetap ada dalam pikiran kita dan harapan di hati kita. Dan sejak saat itu, kita tidak pernah bebas dari keyakinan:
  • Bahwa mungkinlah berkembang suatu masyarakat baru – suatu masyarakat yang lebih damai, lebih adil, dan lebih manusiawi.
  • Bahwa mungkinlah terjadi Gereja yang diperbarui dan teologi yang diperbarui – Gereja dan teologi yang lebih sesuai dengan harapan dan kebutuhan umat saat ini dan dengan Injil Yesus Kristus.


Sementara itu begitu banyak hal telah terjadi - cukup untuk meledakkan impian-impian ini seperti gelembung sabun:
  • Dalam politik: Vietnam, Watergate, krisis minyak, resesi ekonomi, pengangguran di seluruh dunia, dan kekuatan-kekuatan dunia kembali angkat senjata;
  • Dalam Gereja: ketakutan terhadap semangat Konsili pada pihak para paus dan Kuria, yang mulai memasang rem dan akhirnya menghentikan semua kemajuan lebih lanjut.


Paulus VI semakin lama menjadi semakin muram dan berhenti menyinarkan harapan yang telah menerangi pendahulunya. Dunia bernafas lagi sewaktu seorang paus tertawa lagi. Tetapi Yohanes Paulus I, “paus yang tertawa”, meninggal hanya setelah tiga puluh hari menduduki jabatannya, terbelah antara kecenderungan lama dan baru. Maka seluruh harapan semakin banyak diletakkan pada Yohanes Paulus II, orang non-Itali pertama duduk di atas singgasana Petrus setelah ratusan tahun. Tetapi, Roma hanya menunjukkan dirinya terbuka kepada dunia luar dalam masalah-masalah sosial yang tidak secara langsung menyangkut Gereja sendiri, dan menutup rapat-rapat pada semua masalah pembaruan Gereja, kebebasan Kristen, kreativitas rohani.

 Banyak orang, baik di dalam Gereja Katolik maupun di luar, tidak dapat memecahkan kontradiksi di dalam kebijakan hierarki Roma.
  • Di satu pihak, kemiskinan di dunia dengan gigih dilawan, tetapi di lain pihak, pil kontrasepsi dilarang sebagai tidak bermoral;
  • Hak asasi manusia ditegaskan, tetapi para teolog Gereja sendiri diintimidasi, didisiplinkan bahkan dipecat, dan para pastor dilarang menikah;
  • Terdapat keterbukaan kepada dunia, tetapi kaum perempuan didiskriminasikan di dalam Gereja bahkan tidak diperbolehkan sebagai pelayan altar rendahan, apalagi diizinkan untuk ditahbiskan;
  • Kunjungan-kunjungan ekumenis dibuat ke Jerman, Swiss, Canterbury, dan Konstantinopel, tetapi Marianisme Katolik dikembangkan lagi dalam bentuk yang ekstrem, dan infallibilitas Katolik tidak boleh dipertanyakan.


 Maka, terjadilah dua puluh tahun penuh harapan dan kekecewaan, keberhasilan, dan kemunduran.
  • Banyak orang, baik perempuan maupun laki-laki, yang mempunyai komitmen telah meninggalkan Gereja, kecewa, mundur, bahkan putus asa;
  • Puluhan ribu imam harus meninggalkan posisi mereka karena ingin menikah;
  • Puluhan ribu suster telah meninggalkan panggilannya karena mereka tidak diizinkan mempunyai gaya hidup Kristen yang kreatif;
  • Dalam banyak Gereja di seluruh dunia telah terjadi kemerosotan yang menakutkan bukan hanya dalam jumlah umat yang menghadiri ibadat publik, tetapi juga di dalam jumlah pembaptisan dan perkawinan Gereja;
  • Banyak paroki tidak lagi mempunyai pastor paroki karena kekurangan calon imam;
  • Banyak dari teman-teman saya sendiri juga meninggalkan imamat dan mengajak saya dan yang lain mengikuti mereka: “Tinggalkan Gereja dengan muslihatnya sendiri. Kamu dapat melakukan hal lain di luar Gereja. Orang seperti kamu tidak cocok dalam Gereja seperti itu”.

Ya, Anda dapat berhadapan dengan pertanyaan mendasar ini apabila Anda hidup dan bekerja di dalam Gereja ini. Saya dihadapkan dengannya dalam bentuk yang sangat dramatis beberapa waktu yang lalu dan banyak dari kita telah berhadapan dengan itu dalam bentuk yang kurang lebih bersifat dramatis. Apa yang membuat orang bertahan di dalam Gereja ini? Lalu kenapa, kita harus bertahan?


Mengapa Kita Bertahan?

 Mengapa kita bertahan di dalam suatu Gereja, di dalam suatu masyarakat, di mana pun kita berada?
  • jika kita menyaksikan betapa betapa lambatnya Gereja dan masyarakat itu memperbarui dirinya;
  • jika angin telah berubah arah dan sekarang bertiup menerpa wajah kita;
  • jika kita tidak lagi berenang mengikuti arus, tetapi melawannya, dan kekuatan kita melemah;
  • jika gagasan-gagasan kita diabaikan, atau ditolak bahkan menghadapi permusuhan dan kebencian;
  • jika kristianitas dan keanggotaan Gereja kita ditolak oleh orang lain, dan salah satu bentuk penistaan dianggap sebagai dasar yang memuaskan?

 Saya mengakui bahwa tidak setiap orang berada dalam posisi yang sama di dalam konflik yang dramatis dan tidak setiap orang harus mengatakan “ya” atau “tidak” dalam waktu beberapa hari.

 Tetapi adakah orang yang belum pernah mengalami kekecewaan dan kekalahan secara mendasar? Kekecewaan dan kekalahan yang telah membuat mereka mengajukan pertanyaan radikal ini, “Mengapa kita bertahan?” Dalam lingkungan tempat mereka berada, di tempat kerja mereka, dalam Gereja mereka, dalam politik, dalam urusan negara. Mengapa kita mau melanjutkan seperti saat ketika kita mulai? Mengapa kita bergantung pada visi yang kita miliki ketika kita masih muda dan idealis, bukannya menerima “realisme” dan “sinisme” di tahun-tahun mendatang?

 Banyak alasan umum mengapa kita harus bertahan. Ini adalah alasan-alasan yang kiranya akan disepakati bahkan oleh semua orang, bahkan oleh pihak non-Kristen. Betapa pun kita berkilah, alasan-alasan itu menjadi dasar . Kita bertahan:
  •  karena kita tidak boleh mengkhianati cita-cita masa muda kita;
  •  karena visi kita tidak menjadi salah hanya karena secara kebetulan terdapat perubahan pemerintahan dan kita tiba-tiba menyadari diri berada di pihak oposisi;
  •  karena kita tidak dapat mengubah sikap dasar dalam hidup seperti kita mungkin berganti baju;
  •  karena keteguhan karakter, berpegang erat pada keyakinan dan tingkah laku yang benar, tidak boleh dipandang sebagai sikap yang sedang musim, atau sebagai kemewahan kosmetik, angkuh, atau kasar, tetapi sebagai kewajiban-kewajiban moral dasar.


Saya akui semua ini merupakan alasan yang baik, namun menurut pendapat saya, tidak ada satu pun yang cukup menyentuh akar permasalahan. Sebagai seorang Kristen yang berusaha mengikuti Kristus secara serius, mungkin saya dapat menambahkan sesuatu yang lebih personal.

 Saya bertahan:
  • karena kita masih dapat menikmati keberhasilan-keberhasilan mekipun sulit untuk mengukurnya secara kuantitatif;
  • karena dalam terang pewartaan Yesus, ukuran kecil dari sebuah kelompok, terbatasnya sarana, kesan tidak efektifnya sebuah kegiatan, dan kemunduran-kemunduran yang ditemukan di dalam pekerjaan tidak boleh dilihat sebagai tanda kegagalan;
  • karena secara berulang-ulang saya menerima segala sesuatu yang saya perlukan untuk bertahan sehingga saya tidak diuji mengatasi kekuatan saya;
  • karena dilihat dalam terang Yesus yang menderita dan disalibkan, justru dalam kondisi tidak berdaya ada kekuasaan, dalam kelemahan ada kekuatan, dalam kekecilan ada kebesaran, dan di dalam kerendahan hati ada kesadaran diri;
  • karena, sebagai kesimpulannya, kita dapat berharap meskipun tampaknya tak ada alasan untuk berharap, bahkan dalam Gereja.


 Banyak orang bertanya: “Bahkan dalam Gereja?”

 Apakah Ada Alasan untuk Berharap Bahkan di dalam Gereja?

 Kendati terdapat semua reaksi dan restorasi dalam diri Gereja Roma, saya percaya, kita dapat yakin:
  •  bahwa masa depan Gereja telah mulai;
  •  bahwa keinginan untuk memperbarui tidak terbatas hanya pada kelompok-kelompok kecil tertentu;
  •  bahwa imam-imam terbaik, anggota-anggota komunitas religius terbaik, dan para uskup terbaik memberikan persetujuan mereka sekarang, sebagaimana telah mereka lakukan di masa lampau, kepada suatu pembaruan radikal, dan mempromosikannya;
  •  bahwa, baik laki-laki maupun perempuan di dalam Gereja Katolik didukung oleh banyak kekuatan kreatif dari Gereja-gereja yang lain.


 Tetapi bagi saya, yang lebih penting lagi adalah bahwa kita dapat berharap:
  •  karena Gereja tidak dapat memutar balik semua jam di dunia; tidak dapat menghentikan perkembangan dunia dan kembali ke Abad Pertengahan atau Kontra Reformasi;
  •  karena kekuatan Injil Yesus Kristus semakin hari semakin terbukti lebih kuat daripada ketidakmampuan, ketakutan dan ketidaktulusan manusia. Ia juga lebih kuat daripada semua kebodohan, kelemahan, dan sinisme kita.


Itulah sebabnya, menurut pendapat saya, kita dapat bertahan, apa pun posisi kita dalam Gereja. Tetapi mungkin kita juga ingin tahu tidak hanya mengapa kita harus bertahan, tetapi juga bagaimana kita harus bertahan.

 Bagaimana Kita Bertahan?

 Saya sudah berulang kali ditanya: bagaimaana kamu bertahan? Tentu saja untuk bertahan diperlukan banyak hal. Saya tidak ingin mengutuk siapa pun yang tidak mampu bertahan. Anda membutuhkan kesehatan yang optimal, baik secara fisik maupun psikologis, dan memiliki rasa humor. Anda perlu cukup tenang. Di atas semuanya, Anda memerlukan orang yang tidak akan meninggalkan Anda sendirian di waktu-waktu Anda memerlukannya, tetapi akan menanggung semuanya bersama dengan Anda, bahkan di dalam kehidupan harian biasa. Hampir tidak mungkin bagi seseorang untuk bertahan di atas kekuatannya sendiri.

 Tetapi bagaimana jika seseorang tidak dapat mempertahankan kesehatan fisik dan psikologisnya, rasa humor, dan teman yang dapat dipercaya? Banyak hal dapat dikatakan mengenai hal ini, tetapi saya cukup akan menyinggung apa yang bagi saya paling penting, apa yang akan mampu menopang saya, dan apa yang akan menjadi pendukung utama. Bahkan jika segalanya yang lain hancur; jika karena salah satu alasan atau yang lain saya kehilangan rasa humor saya; jika saya terlibat dalam perasaan-perasaan bersalah yang mendalam; jika saya kehilangan semua harapan akan keberhasilan; jika kesehatan saya merosot; jika kehilangan kawan bahkan kehilangan kepercayaan kepada orang lain.

 Lalu, bagi saya, apa yang benar-benar penting dalam kehidupan seorang Kristen? Itulah pertanyaan pentingya: apa yang benar-benar menentukan? Sukses? Prestasi?

 Sukses Tidak Penting!

 Tidak, bahkan jika sukses dianggap paling penting dalam masyarakat kita, dan setiap orang senang sekali dengan sukses, dan tidak ada sesuatu pun yang menyamai sukses; terutama bagi orang Kristen sukses tidaklah penting! Orang Kristen tidak tergantung pada kemajuan yang dilakukannya, pada memenangkan sesuatu, atau bahwa orang memberi tepuk tangan dan decak kagum pada pendapatnya.

 Tentu saja, ini tidak berarti bahwa orang Kristen dibebaskan dari usaha membela keyakinan mereka di mana pun mereka berada, atau dibebaskan dari usaha meyakinkan orang lain. Tetapi, betapa pun pentingnya prestasi dalam hidup harian, dalam hidup profesional, bahkan dalam Gereja, prestasi yang dapat dipamerkan tidaklah sangat penting. Apakah saya tidak melakukan “kesalahan” yang sangat serius? Siapa yang dapat menyangkalnya? Tetapi sama halnya dengan kesuksesan demikian pula kesalahan bukanlah yang terpenting bagi orang Kristen, dalam hidup saya.

 Ada hal lain yang penting dan menentukan. Dalam keadaan yang sulit bahkan dalam kepedihan yang mendalam dan perasaan salah yang paling besar, saya tidak boleh putus asa. Tidak, saya tidak boleh putus asa! Untuk mengungkapkannya secara lebih positif, saya akan selalu memegang kepercayaan yang tidak tergoyahkan: kepercayaan yang setia, yang tidak tergoyahkan dan tanpa syarat; iman penuh percaya yang tidak tergoyahkan dan tanpa syarat. Itulah yang menentukan bagi Abraham dan para Bapa Bangsa Israel: “Abraham percaya …, dan hal itu diperhitungkan padanya sebagai kebenaran” (Rom 4:3). Apa yang menentukan bagi Maria dan para murid pertama: “Diberkatilah engkau … yang telah percaya” (Luk 1:42, 45). Apa yang menentukan bagi Petrus, yang secara manusiawi begitu menyenangkan dalam kekecilan hatinya, yang memungkinkannya belajar dari Yesus untuk berjalan di atas air tanpa memperhatikan gelombang, dengan mata terpancang kepada-Nya. Apa yang menentukan bagi Rasul Paulus: yang menanamkan dalam hati para pengikutnya suatu panggilan kepada Kristus bahwa kita dibenarkan bukan karena yang kita capai, tetapi oleh iman kita, oleh kepercayaan tanpa syarat kita. Dan dalam hal ini, Paulus menunjukkan pemahaman yang paling mendalam mengenai Yesus, mengenai apa yang penting bagi Yesus dan mengenai ajaran-Nya dalam perumpamaan-perumpamaan mengenai anak yang hilang, kaum farisi dan pegawai rendahan, dan pekerja di kebun anggur. Di sini, Paulus menangkap apa yang benar-benar penting terkait dengan Yesus, dalam ajaran-Nya, karya-Nya, perjuangan-Nya, penderitaan-Nya, dan akhirnya dalam kematian-Nya. Apa yang diletakkan Paulus di hadapannya sendiri dan di hadapan kita adalah Kristus yang tersalib, yang bagi-Nya, yang bergantung pada salib, prestasi dan sukses tidak ada lagi. Kristus itulah yang dibenarkan oleh Allah sendiri, Bapa-Nya dan Bapa kita. Apa yang diwahyukan oleh Kristus yang tersalib kepada Paulus adalah bahwa kita dibenarkan oleh iman saja.

 Hamba Yang Tidak Berguna

 Sebagai seorang teolog dan seorang Kristen, saya dengan teguh berpihak pada Karl Barth, teolog besar Protestan, yang pernah memberitahu saya bahwa berhadapan dengan Sang Hakim pada akhir nanti, Ia tidak akan mengacu pada kumpulan tulisan teologis sebagai pembenaran, tidak juga pada “maksud baik”.Barth. Menurut dia, kata-kata paling tepat yang dapat dikatakannya di hadapan hakimnya adalah: “Tuhan, kasihanilah aku, orang berdosa”.

 Pada awal dan akhir, kita menempatkan kepercayaan pada rahmat Allah. Tetapi apakah itu bukan ciri khas Protestan? Saya kira itu ciri khas injili, dan saya pada dasarnya hanya mempergunakan teks kitab suci: “Maka kamu juga, ketika telah melakukan semua yang diperintahkan kepadamu, katakan, ‘Kami adalah hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang menjadi tugas kami’.” (Luk 17:10).

 Itu jelas ciri khas injili. Dan karena itu ciri khas injili, itu juga ciri khas Katolik karena kita mengakui lagu pujian Katolik yang agung, Te Deum: “In te, domine, speravi, non confundar in aeternum! Kepada-Mu, ya Tuhan, aku menaruh kepercayaan dan aku tidak akan dipermalukan dalam keabadian!”

 Percaya dalam iman dan harapan seperti ini tidak menjadikan kita pasif dan tidak aktif. Sebaliknya, itu membuat kita semakin aktif, semakin bertanggung jawab, dan semakin berkomitmen kepada Gereja dan masyarakat.

 Mereka yang tidak senang dengan kristianitas mengatakan: Allah membatasi kebebasan umat. Justru kebalikannyalah yang benar. Hanya dengan menyerahkan diri kepada Yang Tak Terbatas seseorang dapat bebas terhadap segala sesuatu yang terbatas yang ada di dunia. Mereka yang mengkritik kristianitas mengatakan: Allah memperbudak umat. Kebalikannyalah yang benar. Hanya dengan menyerahkan diri kepada Allah dan kehendak-Nya seseorang dapat dibebaskan dari perbudakan pada kekuasaan dan harta dunia ini, masyarakat dan sejarah.

 Mereka yang tidak senang dengan kristianitas mengatakan: Allah membiarkan umat-Nya mengatakan “ya” dan “amin” kepada segala sesuatu. Kebalikannyalah yang benar. Hanya hubungan seseorang dengan Allah memampukan dia untuk mengatakan “tidak”.

 Jadi, iman memberi kekuatan kepada kita untuk bertindak, menjadi bebas, menjadi tegas, dan bertahan. Bahkan iman yang sangat kecil dan lemah pun sudah cukup. Langsung sebelum kata-kata: “Kami adalah hamba yang tidak berguna”, terdapat bab mengenai kekuatan iman: “Para rasul berkata kepada Tuhan, ‘Tambahkanlah iman kami!’ Dan Tuhan berkata, ‘Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu’.” (Luk 17:5-6).

 Apakah Kristus Terbagi-bagi?
 “Allah yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Tetapi, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Krisus supaya kamu seiya sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah bahwa kamu masing-masing berkata: ‘Aku dari golongan Paulus!’ Atau, ‘aku dari golongan Apolos!’ Atau, ‘aku dari golongan Kefas!’ Atau, ‘aku dari golongan Kristus!’”

 “Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorang pun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa kamu dibaptis dalam namaku. (Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahlah apa ada lagi orang yang aku baptis). Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Krisus jangan menjadi sia-sia. Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:9-18;).

 Bermacam denominasi yang memecah-mecah Gereja

 Surat Paulus merupakan dokumen besar pertama dari Perjanjian Baru, yang ditulis di Efesus sekitar dua puluh tahun setelah kematian Yesus untuk umat Kristen di kota besar Korintus. Bahkan saat itu, sudah ada pembicaraan mengenai ketegangan, perpecahan, skisma, dan macam-macam denominasi – atas nama Petrus, Paulus, Apolos, bahkan Kristus. Dan meskipun kita harus menerima suatu anakronisme (penempatan suatu kejadian pada waktu yang salah) tertentu, apakah tidak ada kesejajaran antara keadaan tersebut dengan situasi sekarang?

 Awalnya, ada orang-orang Katolik, denominasi Petrus, yang kesannya – karena kedudukan istimewanya, kekuasaan atas kunci-kunci, dan otoritas pastoralnya – menempatkan mereka pada posisi yang benar berhadapan dengan semua orang Kristen yang lain.

 Lalu, ada orang-orang Ortodoks, denominasi Apolos, yang mempunyai tradisi pemikiran Yunani yang tumbuh-besar di sisinya dan telah memberikan penjelasan yang lebih cemerlang, jelas, dan “tepat” atau “ortodoks” atas perwahyuan daripada semua yang lain.

 Kemudian, kaum Protestan, denominasi Paulus, bapak dari komunitas mereka, Rasul murni dan sederhana, pewarta unik atas salib Kristus yang telah bekerja keras dibanding semua pewarta yang lain.

 Akhirnya, kita tidak boleh melupakan Gereja-gereja Bebas, denominasi Kristus sendiri, yang ingin membebaskan diri mereka sendiri dari tekanan Gereja-gereja besar dengan otoritas dan pengakuan iman mereka, hanya mengandalkan Kristus sebagai Tuhan dan guru mereka dan membiarkan hidup komunitas-komunitas mereka dibentuk hanya atas dasar itu.

 Dan, pada denominasi manakah Paulus memilih? Jelaslah bahwa kaum Katolik mengharap isyarat kepada Petrus, yang menurut Mateus, menjadi “batu karang” yang di atasnya Gereja didirikan. Tetapi, Paulus melewatkan nama Petrus dengan diam karena dia juga dengan taktis melewati nama Apolos.

 Tetapi, yang cukup mengejutkan adalah bahwa Paulus melepaskan para pendukungnya sendiri. Mengapa? Karena dia tidak menghendaki kelompok-kelompok untuk mengumpul di sekitar seseorang dan menjadikannya manusia ideal yang tidak disalibkan bagi mereka dan dalam namanya mereka tidak dibaptis. Bagaimana pun, mereka tidak dibaptis atas namanya, tetapi atas nama Kristus, Dia yang disalibkan. Bahkan nama Paulus, yang mendirikan komunitas itu, tidak diizinkan untuk digunakan dalam suatu denominasi.

 Teks ini memuat hal yang sangat penting bagi pemikiran ekumenis: tidak ada nama, tidak ada lembaga, tidak ada kekuasaan, dan tidak ada kekhususan dari salah satu Gereja diperbolehkan memecah-mecah Gereja. Apa artinya ini di dalam praktik?

 Dimengerti dalam semangat Perjanjian Baru, teks ini berarti bahwa suatu pelayanan model Petrus mungkin merupakan “batu karang” bagi Gereja, bagi kesatuan dan kohesinya. Tetapi, unsur ini tidak dapat diizinkan menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan sah tidaknya keberadaan Gereja Kristus.

 Tradisi, sebagaimana dimengerti oleh Gereja Ortodoks Yunani, mungkin merupakan suatu pedoman yang sangat baik bagi Gereja, bagi keberlangsungan dan sifatnya yang permanen. Tetapi tradisi tidak boleh menjadi garis pemisah, yang menentukan batas sehingga yang berada di luarnya hanya ada heterodoksi bukannya ortodoksi.

 Bahkan Kitab Suci kaum Protestan yang cenderung ke paulinisme mungkin bersifat penting secara mendasar bagi Gereja, bagi imannya, dan bagi pengakuan imannya. Tetapi Kitab Suci tidak boleh dijadikan suatu tambang batu yang digunakan, bukan untuk membangun, tetapi untuk melempari para penyerangnya.

 Akhirnya, bahkan Kristus Tuhan, yang dipanggil langsung dalam tradisi Gereja Bebas, tidak dapat bertindak sebagai tameng bagi denominasi-denominasi yang ingin pergi berperang melawan anggota lain dari Gereja yang satu.

 Paulus menghadapkan macam-macam denominasi yang mempunyai bentuk, tradisi, dan doktrinnya sendiri-sendiri – yang menurut mereka benar – dengan pertanyaan yang membuat semua denominasi khusus tersebut tampak relatif: “Apakah Kristus terbagi-bagi?”

 Tetapi apa yang akan dikatakan Paulus seandainya dia dapat melihat cara-cara orang Kristen yang semuanya dibaptis dalam nama Yesus Kristus, yang merayakan perjamuan dalam mengenang Kristus Yesus yang sama? Seandainya dia dapat melihat bagaimana kita sekarang merayakan memoria Domini, Ekaristi, atau perayaan syukur, koinonia, persekutuan dengan Kristus dan dengan yang lain, singkatnya, melihat perjamuan persatuan?

 Dugaan saya, Paulus akan mengatakan kepada kita, kepada Gereja-gereja denominasi kita dan kepada para pemimpin Gereja, yang telah mempertahankan keadaan terpisah-pisah ini yang sudah berlangsung selama lima ratus tahun dalam satu hal dan sembilan ratus tahun dalam hal lain: “Apakah Kristus terbagi-bagi?”

 Tentu saja, dia akan menambahkan: persis dalam perjamuan komunitas inilah pertentangan karena ras, pendidikan, dan gender seharusnya diatasi dalam Kristus. Karena di dalam Dia “tidak ada Yahudi atau Yunani, tidak ada budak atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan” (Gal 3:28).

 Maka, apabila ketegangan-ketegangan dan kontradiksi-kontradiksi politik dan sosial, kultural bahkan gender cukup disadari untuk diatasi dalam perayaan perjamuan Ekaristi, mengapa tegangan-tegangan dan perpecahan-perpecahan denominasional tidak sekaligus diatasi?

 Mengatasi Perbedaan-perbedaan

 Tetapi, dari para pejabat resmi Gereja, yang kita dengar adalah: “Kita tidak mempunyai pemahaman yang sama mengenai Perjamuan Terakhir Tuhan atau pemahaman yang sama dalam iman”. Tentu saja, tidak semua di antara kita memiliki teologi yang sama, tetapi tidak mungkinkah kita memiliki iman yang sama? Sejumlah besar dokumen resmi mengenai peningkatan konsensus antara pengakuan-pengakuan iman telah diterbitkan oleh pelbagai Gereja. Publikasi bersama yang muncul pada tahun 1983, the Dokumente wachsender Übeetnstimmung, mempunyai tujuh ratus halaman!

 Lalu, mengapa yang termuat dalam dokumen-dokumen itu belum dipraktikkan? Hal yang dengan sangat jelas muncul dari dokumen-dokumen itu adalah keyakinan bahwa pasti ada suatu akhir bagi semua perpecahan dalam iman karena pemahaman kita mengenai Ekaristi atau Perjamuan Akhir Tuhan berbeda-beda. Tentu saja keyakinan ini telah menjadi keyakinan banyak orang Kristen sejak lama.

 Keyakinan itu pulalah yang ada di balik pernyataan yang dikerjakan selama masa dua puluh tahun oleh Komisi Iman dan Aturan dari Dewan Gereja-gereja Sedunia bersama dengan para wakil resmi dari Gereja Katolik dan yang secara resmi diterbitkan di Lima pada tahun 1982 dengan judul “Baptis, Ekaristi, dan Pelayanan”.

 Liturgi yang didasarkan pada dokumen Lima, yang diolah Komisi Ekumenis dan dirayakan di sana untuk pertama kalinya, telah diuji coba tidak hanya pada Musyawarah Pleno dari Dewan Gereja Sedunia di Vancouver dalam kerja sama dengan uskup Katolik Jerman. Komisi ini bertanggung jawab atas ekumenisme dan banyak teolog Katolik, tetapi juga dalam banyak komunitas Protestan dan Katolik di Republik Federasi Jerman.

 Liturgi ini digunakan dalam perayaan ekumenis khususnya untuk Doa Syukur Agung, untuk memungkinkan orang-orang Kristen dari semua denominasi berdoa, memuji Allah, dan mengajukan permohonan, dan mengucapkan syukur bersama. “Ucapan syukur” bersama ini tentu saja merupakan Ekaristi bersama.

 Yang muncul dengan jelas dari Deklarasi Lima dan Liturgi Lima adalah bahwa perbedaan-perbedaan yang pada abad ke-16 membawa perpecahan dalam Gereja telah diatasi! Dan, yang sangat mengagumkan di sini adalah bahwa dokumen tersebut sama sekali tidak mengatakan apa pun mengenai dua butir pokok kontroversi: penggunaan bahasa setempat dalam liturgi dan pemberian piala kepada kaum awam selama perjamuan Ekaristi.

 (Pantas direfleksikan bagaimanakah banyak perang agama di masa lampau akan terhindarkan seandainya saja Roma lebih terbuka empat ratus lima puluh tahun yang lalu terhadap kedua permasalahan tersebut; dan tentang imam yang menikah).

 Bahkan perbedaan-perbedaan dogmatis dapat dilihat sebagai hal yang pada dasarnya dapat diatasi. Saya mau menyinggung secara singkat saja keempat butir utama dari kontroversi di sini (“komentar” atas keempat hal ini dapat dibaca dalam dokumen Lima). 
  • Butir kontroversi pertama adalah apakah Ekaristi merupakan kurban pendamaian atau bukan. Sekarang, tidak ada orang Katolik yang berpengetahuan akan mengatakan bahwa perayaan Ekaristi merupakan suatu “pengulangan” kurban salib oleh imam. Sebaliknya, kaum Protestan juga dapat memahami bahwa hal itu tidak bertentangan dengan sifat unik dan tidak dapat diulanginya kurban salib ketika orang Katolik mengatakan “pemberian diri” Yesus yang unik dan pendamaian “dihadirkan” dalam Ekaristi. Oleh karenanya, semua orang Kristen dapat memberikan persetujuan mereka pada apa yang dikatakan dalam Deklarasi Lima: “Ekaristi merupakan sakramen kurban Kristus yang khas, yang hidup abadi, dilakukan untuk memohon pengampunan bagi kita. Ekaristi merupakan kenangan akan semua yang telah dilakukan Allah demi keselamatan dunia”.
  • Butir kontroversi kedua adalah apakah Yesus Kristus benar-benar hadir dalam bentuk roti dan anggur. Sekarang, tidak ada orang Protestan yang berpengetahuan akan berpendapat bahwa kehadiran Yesus di dalam perjamuan Ekaristi melulu tergantung pada iman kita. Demikian pula, tidak ada orang Katolik yang berpengetahuan akan berpendapat bahwa iman manusia tidak berperan sama sekali dalam kehadiran Yesus dalam perayaan Ekaristi.
  • Oleh karenanya, semua orang Kristen dapat menyepakati dokumen Lima yang menyatakan bahwa perjamuan Ekaristi merupakan “sakramen Tubuh dan Darah Kristus, sakramen kehadiran-Nya yang nyata. … Meskipun kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi tidak tergantung pada iman individu, namun setiap orang sepakat bahwa iman itu perlu agar dapat memilah antara Tubuh dan Darah Kristus”.
  • Butir kontroversi yang ketiga adalah apakah persembahan Ekaristi ditransformasikan, apakah terjadi “transubstansiasi”. Sekarang, tidak ada orang Katolik yang berpengetahuan akan berpegang pada pendapat bahwa kehadiran Yesus Kristus di dalam Ekaristi hanya dapat diterangkan dalam satu cara, yaitu dengan bantuan teori transubstansiasi yang dikembangkan dalam Abad Pertengahan dan Kontra Reformasi. Bersamaan dengan itu, tidak ada orang Protestan yang berpengetahuan akan begitu saja menolak ajaran mengenai transubstansiasi dengan ketidakpercayaan. Maka, semua orang Kristen dapat menyepakati kata-kata dalam dokumen Lima: “Di dalam sejarah Gereja, pelbagai upaya telah dilakukan untuk memahami misteri kehadiran Kristus yang nyata dan unik dalam Ekaristi. Beberapa pihak merasa cukup puas hanya dengan memberikan persetujuan pada kehadiran tersebut, tanpa usaha untuk memahaminya. Yang lain, menganggap perlu untuk menekankan perubahan yang dilakukan oleh Roh Kudus dan kata-kata Kristus yang mengakibatkan bahwa roti dan anggur itu bukanlah roti dan anggur biasa lagi, melainkan Tubuh dan Darah Kristus”.
  • Butir kontroversi keempat adalah siapakah yang dapat “merayakan” Ekaristi di meja perjamuan? Sekarang, tidak ada orang Katolik yang berpengetahuan akan mengklaim bahwa Ekaristi hanya dirayakan oleh imam saja yang mewakili umat. Demikian juga, tidak ada orang Protestan akan begitu saja mengatakan bahwa setiap orang Kristen dapat merayakan Ekaristi kapan saja dan dengan cara apa pun yang diinginkannya. Namun semua orang Kristen dapat menyetujui pernyataan dokumen Lima: “Kristuslah yang mengundang kita ke dalam perjamuan dan yang memimpinnya. … Di sebagian besar Gereja, peran memimpin ini dijalankan oleh petugas yang ditahbiskan. … Pelayan Ekaristi adalah pewarta yang menampilkan inisiatif ilahi dan yang menyatakan hubungan antara komunitas lokal dengan komunitas-komunitas lokal yang lain dalam Gereja yang universal”.


 Setelah munculnya begitu banyak dokumen yang bertujuan untuk menyatukan, inilah waktu yang tepat bagi Gereja Katolik untuk mengakui keabsahan petugas-petugas Protestan dan perayaan-perayaan Perjamuan Malam Protestan. Semenjak Pertemuan Ekumenis di Augsburg pada hari Pentakosta 1971 saat ribuan orang secara spontan melakukan praktik menerima komuni bersama meskipun berasal dari denominasi yang berbeda, sebagian besar dari mereka yang hadir mengungkapkan keinginan mereka kepada semua pemimpin Gereja. Itulah sebabnya perayaan bersama Ekaristi harus diizinkan untuk kelompok-kelompok ekumenis dan pasangan-pasangan nikah anggota pelbagai denominasi, dan harus dimungkinkan bagi setiap orang Kristen yang ingin menerima komuni untuk melakukannya dalam Gereja Kristen mana pun. Semua larangan yang berlawanan dengan ini harus ditarik kembali oleh Gereja-gereja.

 Lalu, mengapa kita masih belum membuat kemajuan resmi ke arah itu? Mengapa kita masih bereaksi – sering di kedua belah pihak – dengan kepicikan pikiran, kegelisahan akan ortodoksi, ketidakpercayaan, dan ketakutan? Mengapa Sinode Wűrzburg dan kunjungan kepausan tidak menghasilkan buah-buah ekumenis yang praktis?

 Pergilah, Kamu Roh Jahat!

 Semua orang yang pernah terlibat di dalam karya ekumenis akan mengalami apa yang mau saya lukiskan: suatu komisi ekumenis mungkin terdiri dari anggota-angota dengan kaliber tingkat tinggi yang dikenal secara internasional; mereka mungkin adalah para ahli terkenal dalam tafsir, sejarah, dan teologi sistematik; dan mereka mungkin menghasilkan dokumen mengenai penyatuan yang secara teologis dan linguistik hampir sempurna. Tetapi sama sekali tidak ada kemajuan ekumenis yang praktis dilakukan jika roh kebenaran tidak hadir. Dan dengan itu, saya tidak memaksudkan melulu semangat persahabatan juga kolegialitas, dan bukan “semangat zaman” atau semangat kemanusiaan saja.

 Bukan, saya maksudkan semangat sejati yang dapat menjawab cara pikir yang, bahkan sembilan ratus tahun setelah skisma antara Gereja-gereja Barat dan Timur dan lima ratus tahun setelah perpecahan antaran Gereja-gereja Katolik dan Protestan di Barat, menekankan bahwa:
 o belum tiba waktu yang tepat untuk kesepakatan, untuk membuang ekskomunikasi, untuk memulihkan persektuan, dan untuk perayaan bersama Ekaristi dan Perjamuan Terakhir;
 o komisi-komisi dan sinode-sinode masih harus lebih banyak bertemu meskipun terdapat kenyataan bahwa begitu banyak pihak telah bertemu dan hasil pertemuan mereka diabaikan begitu saja;
 o masih harus ada lebih banyak “doa”, seolah-olah semua doa untuk persatuan selama berabad-abad belum cukup;
 o masih harus lebih banyak “penderitaan” penuh kesabaran di dalam Gereja yang terpecah belah, seolah-olah penderitaan yang telah diakibatkan oleh perpecahan dalam Gereja bagi kemanusiaan, bangsa-bangsa dan komunitas-komunitas, pasangan nikah dan keluarga-keluarga belum cukup lama menjerit ke surga.

 Orang hampir tergoda untuk mendapat bantuan dari eksorsisme: “Pergilah, kamu Roh jahat!” Pergilah, kamu yang memecah-belah dan memisah-misahkan, menunda dan membuat berlarut-larut! Pergilah dari Gereja dan pusat kekuasaan, dari fakultas-fakultas teologi serta lembaga-lembaga kekuasaan dan komisi! Pergilah dari hati manusia dan keluarlah dari hati kami! Menyingkirlah!

 Menyingkir dan berilah tempat bagi Roh Kudus, yang lembut sekaligus kuat, yang mendamaikan dan menyatukan dan yang merupakan kekuatan dan kekuasaan Allah sendiri - Roh Kudus, yang bukan cairan misterius dan magis atau suatu benda magis animistis, tetapi Allah sendiri, yang efektif dan memegang kita erat-erat meskipun tidak dapat dipegang; yang memberikan diri-Nya sendiri bagi kita, tetapi tidak membuang kita; yang mengurbankan hidup, tetapi juga mengarahkan kita.

 Roh Allah itu bukanlah kekuatan anonim. Ia mempunyai nama semenjak Ia yang ditinggalkan manusia dan Allah itu wafat, tetapi yang seturut iman para pengikut-Nya kemudian diangkat masuk dalam kehidupan abadi Allah. Atau, sebagaimana kita baca dalam pengakuan iman kuno termasuk di dalam Surat Paulus kepada umat di Roma: “Dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita” (Rom 1:4). Dia adalah Roh Yesus Kristus dan tandanya yang pasti adalah kebebasan: “Di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor 3:17). Anugerah dan rahmat yang luar biasa!

  • Veni, sancte Spiritus – Datanglah Roh Kudus. Itulah kata-kata pembukaan rangkaian Pentakosta, yang ditulis saat kristianitas masih belum terpecah-pecah. Roh Kudus tidak dapat dipaksa datang – kita hanya memohon kepada-Nya. Kita dapat meminta-Nya:
  • Lava quod est sordidum – Basuhlah yang tercemar! Tunjukkan sikap Gereja yang hanya membenarkan dirinya sendiri, dan bersihkanlah kami dari salah kami;
  • Sana quod est saucium – Sembuhkan yang luka! Tolonglah mereka yang terluka oleh hukum Gereja yang tidak adil dan mereka yang telah diperlakukan dengan tidak adil di dalam Gereja – khususnya kaum perempuan;
  • Riga quod est aridum – Siramilah yang gersang! Hiburlah mereka yang telah mundur dari Gereja dan mereka yang dipinggirkan dan khususnya kaum muda, biarlah mereka hidup dalam harapan yang terbarui;
  • Flecte quod est rigidum – Bengkokkan apa yang telah menjadi kaku! Permalukan sikap keras kepala para teolog dan hierarki; singkirkan semua rasa aman yang palsu sehingga segala sesuatu tidak akan selalu tinggal sama seperti sebelumnya;
  • Fove quod est frigidum – Hangatkan apa yang telah menjadi beku! Singkirkan semua ketakutan dan kegelisahan kami, prasangka dan pembatasan kami, dan bukalah hati kami dengan kasih-Mu yang tidak mengenal batas;
  • Rege quod est devium – Berikan pangarahan kepada semua yang mulai tersesat! Mampukan kami untuk mengatakan apa yang salah dan ketidakadilan dengan dengan terus terang, serta untuk bekerja dalam Gereja dan masyarakat demi kebenaran, keadilan, dan perdamaian.

Harapan saya untuk kita semua adalah bahwa kita dapat hidup dengan mempercayai kegiatan Roh Kudus dan menarik kekuatan dari kepercayaan itu, kekuatan untuk hidup – kekuatan untuk mempertahankan hidup – kekuatan untuk melawan dan kekuatan untuk melibatkan diri

 Maka, marilah kita mencoba di dalam kebebasan Kristen dan keterusterangan Kristen, dan dengan mengandalkan kekuatan Roh yang menciptakan kesatuan, untuk menggunakan kemerdekaan kita demi Gereja Kristus. Semoga damai Kristus menyertai kita! 

0 komentar:

Poskan Komentar