Ads 468x60px

Belajar dari Prof. Hans Kung (1)

@ KOMITMEN ORANG KRISTEN DALAM MASYARAKAT YANG KEHILANGAN ARAH.

1. Hilangnya Arah dan Kesetiaan Kristen
Apa yang masih dapat kita andalkan dewasa ini? Apa yang masih dapat kita jadikan pegangan? Saya bukan orang pesimis, tetapi kita tidak perlu diingatkan untuk menyadari bahwa sekarang ini kita sedang berada dalam “krisis” nilai yang serius. Sejak kaum muda dan mahasiswa memberontak pada akhir tahun 1960-an, tidak satu pun lembaga atau penjaga nilai yang tidak mengalami krisis atau belum pernah diragukan. Apakah sampai sekarang masih ada otoritas yang tidak dipermasalahkan? Dahulu, kita diberi tahu jawaban yang benar terhadap pertanyaan tersebut; sekarang di mana kita dapat menyelesaikan perdebatan dengan menggunakan otoritas seperti itu – apalagi menenteramkan suatu demonstrasi? Tidak ada. Negara, Gereja, pengadilan, militer, sekolah, keluarga – semuanya dirasa tidak mapan. Mereka tidak lagi diterima sebagai penjaga nilai tanpa pertanyaan – terutama oleh kaum muda.
Dengan mempertanyakan secara kritis otoritas yang sudah ada, tradisi dan cara hidup, maka nilai-nilai yang terkait dengan hal-hal itu juga dipertanyakan. Liberalisasi itu penting, tetapi sering kali berjalan lebih jauh daripada yang dibayangkan dan direncanakan. Proses-proses yang dirancang dengan teliti untuk menyingkirkan hal-hal yang dianggap tabu sering terbukti lebih destruktif daripada kreatif. Akibatnya, dewasa ini banyak orang menganggap moralitas secara keseluruhan telah menjadi relatif. Perubahan-perubahan itu membuahkan banyak hal, tetapi tidak semua membebaskan. Sementara, orang telah kehilangan tempat berpijak yang kokoh; khususnya kaum muda yang sekarang merasakan bahwa hidup mereka tidak bermakna, alih-alih menjadi baik mereka justru nakal, atau terjerumus dalam sekte agama yang ekstrem, atau fanatisme politik, bahkan terorisme.

Krisis nilai berskala besar ini telah menjerumuskan masyarakat modern ke dalam konflik-konflik yang belum dapat dipecahkan dengan cara apa pun. Bahkan makna utuhnya mungkin belum ditangkap. Bagi kakek dan nenek kita, agama atau kekristenan, masih menjadi keyakinan pribadi. Bagi orang tua kita, agama sekurang-kurangnya masih merupakan tradisi dan menjadi kebiasaan-kebiasaan yang sudah ditentukan. Namun, bagi putra-putri mereka yang telah mengalami emansipasi dan itu tidak hanya bagi sekelompok kecil yang protes, agama semakin dirasakan sebagai barang basi yang tidak mengikat lagi; sudah lewat dan kuno. Dewasa ini, ada orang tua yang kebingungan melihat kenyataan bahwa moralitas pada umumnya juga telah lenyap bersama agama sebagaimana diramalkan Nietzsche. Sebab, semakin lama semakin jelas bahwa tidaklah terlalu mudah untuk mempertanggungjawabkan nilai-nilai moral melulu secara rasional, hanya dengan menggunakan akal, sebagaimana diinginkan Sigmund Freud. Semakin lama semakin tidak terlalu mudah untuk membuktikan melulu dengan akal mengapa dalam situasi apa pun kebebasan dianggap lebih baik daripada penindasan, keadilan lebih baik daripada kepentingan-diri, tanpa kekerasan lebih baik daripada dengan kekerasan, kasih lebih baik daripada kebencian, perdamaian lebih baik daripada perang. Atau, untuk mengatakannya dengan lebih tegas: apabila semuanya ini demi keuntungan dan kebahagiaan diri sendiri, mengapa kita tidak boleh berbohong, mencuri, berselingkuh dan melakukan pembunuhan; lalu, mengapa kita harus menjadi baik hati atau bahkan “adil”?

Mungkin yang dikategorikan baik adalah yang menguntungkan saya, menguntungkan kelompok, partai, kelas, suku, atau asosiasi dagang dan bisnis saya. Bukankah ini masalah egoisme individual atau egoisme kolektif? Beberapa biolog dan etnolog nyatanya berusaha meyakinkan kita bahwa bagi manusia, sebagaimana bagi binatang pada umumnya, segala macam bentuk altruisme atau cinta tidak lain hanyalah bentuk tertinggi dari kepentingan-diri yang diwarisi secara biologis. Bagaimana pun, para filsuf selalu bertanya di manakah kita harus menemukan kriteria untuk menilai kepentingan yang berada di belakang semua pengetahuan – bagaimana kita harus membedakan antara kepentingan yang benar dan yang khayal, yang objektif dan yang subjektif, yang dapat diterima dan yang patut dicela.

Pertanyaannya tetap sama: Bagaimana kita harus menentukan prioritas dan pilihan-pilihan dengan dasar rasional murni? Pendasaran filosofis atas norma-norma etis konkret pun tidak banyak membantu. Argumen-argumen tersebut tidak lebih dari generalisasi-generalisasi yang problematis dan tetap tidak mampu mengatasi keterbatasan model-model yang utilitaris dan pragmatis. Semua itu mudah runtuh justru dalam keadaan-keadaan yang luar biasa, saat orang dituntut untuk bertindak bukan hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan diri sendiri, melainkan yang menuntut pengurbanan, bahkan – dalam kasus istimewa – mengurbankan hidup.

Apakah sampai sekarang kita masih tahu prinsip yang kita jadikan pegangan? Tentu saja, setiap hari semakin banyak aturan tingkah laku, “aturan lalu lintas”, pedoman yang kita terima. Tetapi sebagaimana kita semua tahu, keteraturan hidup tidak sama dengan mempunyai nilai. Sebaliknya, semakin banyak aturan, perencanaan, dan organisasi yang kita miliki dan semakin semua bidang kehidupan kita dikuasai oleh hukum, tuntutan, format, dan “tekanan lingkungan” maka semakin banyak orang menjadi bingung dan kehilangan wawasan yang mendalam dan menyeluruh. Semakin banyak orang merasa kehilangan kontrol atas kehidupan mereka sendiri, semakin mereka membutuhkan tanda-tanda yang jelas untuk membantu mereka mengatasi kerancuan aturan, ketentuan, dan tekanan dari luar. Dalam arus zaman yang kehilangan arah ini, orang merindukan suatu pengarahan yang mendasar, suatu sistem nilai hakiki, suatu komitmen. Komitmen pada nilai-nilai hakiki inilah yang merupakan tema buku ini, bukan komitmen pada peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan masyarakat yang bersifat superfisial. (Catatan: dalam teks asli tidak dibicarakan soal komitmen; hanya soal orientasi dasar-red).

Sebagaimana telah saya katakan, saya bukanlah seorang pesimis. Manusia sekarang tidak lebih jelek daripada dulu, ketika nilai-nilai mudah ditemukan secara berlimpah. Orang muda selalu “jelek”, demikian dikatakan orang-orang tua. Tetapi hal berikut sangat perlu untuk disampaikan jika kita ingin memahami khususnya generasi lebih muda dewasa ini: perubahan sosial dengan kecepatan dan kompleksitas yang begitu tinggi seperti yang terjadi sekarang tidak pernah terjadi sebelumnya. Akibatnya, semakin sulitlah untuk berpegang pada nilai-nilai hakiki, dan bahaya hilangnya tempat berteduh dan dasar rohani semakin meningkat dari waktu ke waktu. Semua orang, baik muda maupun tua, berusaha menyelesaikan masalah mereka sendiri, sering dengan cara yang naif. Orang-orang tertentu mengarahkan hidup mereka menggunakan horoskop, sedangkan yang lain yang lebih bersemangat ilmiah dengan menggunakan ritme biologis; orang-orang tertentu menata segalanya mengikuti diet yang direncanakan, yang lain mengikuti yoga; seseorang percaya sekali pada terapi kelompok, yang lain lagi pada meditasi timur, ada pula yang berkompensasi dengan tindakan politis. Tetapi, ini bukan melulu permasalahan nilai individual; ini juga menyangkut nilai-nilai sosial. Banyak sekali permasalahan etis yang muncul: energi nuklir, manipulasi gen, bayi tabung, perlindungan lingkungan, konflik-konflik Timur-Barat dan Utara-Selatan; dan menjadi semakin jelas bahwa permasalahan-permasalahan seperti itu melampaui pemahaman rasional dan memberi beban berlebihan kepada kekuatan-kekuatan individual. Dewasa ini, kita dapat melakukan lebih banyak hal dari pada yang kita boleh lakukan) – tetapi kita sama sekali tidak tahu apa yang seharusnya kita lakukan.

Jelaslah bahwa saya tidak mungkin membicarakan semua permasalahan yang rumit dalam refleksi yang singkat ini. Tetapi, saya dapat mengatakan sesuatu yang sangat penting demi pemecahannya, sesuatu yang harus lebih banyak mendapat perhatian oleh sistem pendidikan kita, yang dipacu terutama demi penguasaan pengetahuan dan gelar. Saya dapat mengatakan sesuatu yang akan membantu memberikan dasar pijakan kaki kita, suatu titik pandang yang berguna untuk mempertimbangkan semua masalah konkret: yaitu dasar bagi komitmen pada nilai-nilai hakiki, yaitu orientasi dasar kristiani.

Tetapi, justru pada titik inilah hambatan-hambatan itu muncul. Maka, setelah bagian pertama yang berbicara mengenai krisis nilai ini, perkenankan saya di dalam bagian kedua memberikan sejumlah tanggapan yang akan menuntun kita ke arah yang tepat. Di dalam konteks ini saya ingin memperkenalkan pembedaan penting antara apa yang disebut “Kristen sebatas nama” dan “Kristen sejati”.

0 komentar:

Poskan Komentar