Ads 468x60px

Kanggo Urip Telung Sasi



1. Prolog:
 Di Indonesia ini orang “wajib” beragama. Karena kebanyakan dari kita lahir di lingkungan masyarakat yang demikian maka masuk akal bahwa iman juga telah menjadi kewajiban. Lebih lagi, Allah atau nama Allah terlanjur menjadi “buah bibir” atau bahkan “pemanis bibir”. Apa yang masih tertinggal dari agama yang mengajarkan iman sebagai relasi personal dengan Allah atau dalam bahasa orang Kristen, Allah yang memberikan Diri melalui keseluruhan hidup Yesus Kristus? Masih adakah iman di luar kewajiban? Lebih lanjut, di sini kami bertanya, apakah memang iman berkaitan dengan kehidupan, atau sekedar polesan atau tempelan yang pada waktunya akan terkelupas dari wajah asli kehidupan ini? Sungguhkah iman terkait dengan jerih payah “kanggo urip telung sasi”? 

Setelah bertahun-tahun menjadi pastor dan mendampingi pelbagai kelompok yang bereksperimen tentang kemungkinan sebuah iman yang penuh kebebasan dan penuh tanggungjawab manusiawi, dapat saya simpulkan bahwa iman yang dinamis dan hidup dan berunsur harapan bukan sebagai kewajiban dan bukan sebagai “make-up” masih dihidupi dan menghidupi banyak saksi iman yang tidak jarang hidup tersembunyi dalam keseharian. Iman yang demikian itu secara khusus dan istimewa dapat ditemukan (dan dikembangkan) dalam persahabatan dengan “orang biasa” seperti keluarga pak Warno di paroki Wedi atau mbok Ijah di paroki Salam. 


2. Sebuah kisah narasi:
Pengalaman beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang mengadakan kegiatan live-in selama 10 hari inilah yang menjadi titik berangkat refleksi iman yang baiklah kalau kita sebut berteologi dari kehidupan dan demi kehidupan. Mereka tersebar hampir di seluruh wilayah Keuskupan Agung Semarang, khususnya di tengah umat paroki-paroki pinggiran. Para mahasiswa selama live-in ini diminta untuk sungguh mengupayakan persahabatan yang dikonkritkan dalam keterlibatan kerja untuk menopang hidup seperti yang sudah dilakukan setiap hari misalnya oleh pak Warno dan mbok Ijah, dan diminta untuk membuat catatan harian yang akan dicermati dalam langkah refleksi selanjutnya. Bagaimana ceritanya, baiklah sekarang kita baca tulisan dan cuplikan kisah berikut ini.


KESETIAAN DAN IMPIAN PAK WARNO
“Saking Pundi asalipun Mas” kata-kata inilah yang pertama aku dengar dari ibu warno. Rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu. Jangan-jangan keluarga pak Warno hanya bisa berbahasa Jawa, kataku dalam hati. Tapi syukurlah, itu hanya, sapaan belaka buatku. Meskipun aku sama sekali tidak mengerti. Toh akhirnya juga keluarga Pak Warno bisa memahami diriku yang sama sekali tidak bisa berbahasa jawa. Hari-hari selanjutnya, mereka mulai menyapaku dengan bahasa indonesia. Walaupun mereka tidak selancar aku. Tapi tak apalah yang penting aku bisa ngerti apa yang mereka katakan. Itu sudah cukup buatku.

Pak Warno begitulah sapaan para tetangganya. Setiap harinya ia harus ke sawah atau ladang yang letaknya 2 kilometer dari rumahnya. Itulah pekerjaannya sehari-hari. Meskipun saat ini menjadi masa-masa yang sulit di mana air semakin sulit di dapat, Pak Warno tetap melaksanakan perkerjaannya setiap hari. Aku terkesima dengan sikap Pak Warno yang tidak mengeluh dan tetap semangat mencangkul sawahnya yang sudah kering kerontang itu. Aku harus akui kerja di sawah atau ladang memang tidak asing buatku. Tetapi sehari-hari macul di tanah yang kering, yang tidak bisa menghasilkan apa-apa merupakan hal yang sama sekali sia-sia bagiku. Apa untungnya!. Tenaga yang keluar begitu besar, capek, penat hanya ini yang kudapat. Seandainya pekerjaan ini bisa dijauhkan dari padaku mungkin aku bisa lebih baik, pikirku. Kata-kata itu tidak bisa menghiburku sama sekali. Malah membuat aku semakin tidak tenang. “Tanah bisa kering tetapi pikiran dan hati tidak boleh kering” ungkapnya ketika kami pulang dari sawah. Kata-kata ini menyejuhkan aku dari rasa capekku.

Dalam hati, diam-diam aku kagum pada Pak Warno atas sikapnya yang tetap setia melaksanakan pekerjaannya itu. Meskipun umurnya telah dimakan waktu dan pekerjaan, ia tetap bersemangat. Kesetiaan inilah yang melatarbelakangi kehidupan Pak Warno sekeluarga. Setia menjalankan tugas-tugas harian merupakan kegembiran tersendiri bagi Pak Warno. Kesetiaan ini pulalah yang dihidupi keempat anaknya yang kini sudah hidup mandiri. “Beginilah pola hidupku setiap hari, setelah sarapan apa adanya, aku berangkat ke sawah untuk melanjutkan pekerjaan kemarin yang belum selesai dengan harapan tanah ini bisa menghasilkan sesuatu”. Kata – kata itu rupanya untuk menyakinkan aku. Tetapi rasa capek, penat yang aku rasakan kemarin kini menjadi rasa bosan, jenuh yang makin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, hari demi hari dengan melakukan pekerjaan yang sama terus-menerus dan tidak variasi. Menjadi hari-hari yang membosankan buatku. Rasanya aku ingin pulang. Mungkin itu adalah salah satu jalan keluarnya. Aku tidak tahu roh apa yang hinggap atas diriku hingga aku berkata demikian. Setelah kupertimbangkan baik-baik, aku sadar bahwa kenyataan ini harus kuterima sebagai pelajaran bagiku untuk mencoba setia dalam situasi sulit, yang tidak ada harapannya sekalipun. Aku tidak ingin meninggalkan tanggungjawab yang diberikan kepadaku, mesikipun ini sulit. Hari-hari terus berlanjut pekerjaan itu tetap aku lakukan. Walaupun dalam hati memberontak.

Memang susah menerima sesuatu yang tidak kita sukai. Apalagi pekerjaan yang tidak membuahkan apa-apa. Seperti biasanya Pak Warno tetap tenang-tenang saja dengan keadaan yang tidak menguntungkan ini. Ketenangan Pak Warno membuat aku bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya ada dalam pikiran Pak Warno sekarang ini. Kesetiaannya, ketabahannya menghadapi semuanya ini. Ternyata ia mempunyai impian yang tersembunyi dalam sikapnya yang tenang itu, mugi-mugi ing wegdal ingkang bade dateng siti meniko saged ngasilaken (moga-moga pada masa yang akan datang tanah ini bisa menghasilkan sesuatu). Hanya itu yang aku harapkan tidak lebih. Karena hidupku terletak di sini. Kiranya Pak Warno tidak mau menggantungkan hidupnya pada anak-anaknya yang sudah mapan. “Selagi aku masih kuat aku akan terus berusaha mencari dan mencari kehidupan ini” katanya. “Toh Tuhan pasti menolong orang yang mau berusaha tanpa henti” lanjutnya. Apapun yang aku alami bersama Pak Warno menjadi pengalaman berharga buatku. Aku semakin berserah kepada Tuhan karena Dialah sumber hidupku. Masa gelapku telah membawaku ke dalam permenungan. Dalam permenuganku itu banyak hal yang sebelumnya tak kulihat, tak kutangkap, tak kupahami menjadi samar-samar dan pelan-pelan menjadi makin jelas. Sejak saat itu semangatku pun bangkit kembali.



3. Epilog:
Lalu, bagaimana dijelaskan bahwa kisah pergulatan hidup sehari-hari sebagaimana diusahakan para mahasiswa di atas merupakan, paling tidak, awal kisah iman yang dinamis, hidup dan berunsur harapan, bukan sebagai kewajiban dan bukan sebagai “make-up” saja?

Pertama, yang dapat diamati adalah terjalinnya sebuah persahabatan manusiawi sebagaimana jelas dalam kisah di atas. Iman memang sangat insani karena mengandaikan tidak hanya rahmat Allah tetapi juga kebebasan dan kekuatan manusia untuk menanggapi rahmat Allah. Kedalaman persahabatan baru ini tampak karena mampu menggerakkan para mahasiswa yang sesudah live-in sering berbicara tentang kenyataan hidup yang penuh kejutan dan harapan ke depan. Akan tetapi pengalaman hidup bersama “orang kecil” ini juga membuka pemahaman iman yang hidup dan menghidupkan. Beriman menjadi tidak terpisahkan dari jerih payah menjalin relasi persahabatan yang tulus dan subur harapan justru dalam situasi yang tampaknya sulit berharap dan serba terbatas. Kendati mungkin masih berbentuk benih, di jantung pengalaman ini telah muncul keyakinan dan harapan akan persaudaraan sehidup-semati, termasuk janji jujur di hati untuk mengupayakan persaudaraan ini dalam tataran yang lebih luas. Demikianlah manusia menjadi semakin insani dengan mewujudkan jatidirinya tidak hanya sebagai makhluk rasional, tetapi relasional atau yang mampu menjalin relasi persaudaraan dan mampu memberikan diri bagi yang lain.

Kedua, oleh upaya dan pengalaman “berbagi hidup” yang mengalir dari hati, orang semakin terbuka kepada tantangan iman Kristiani bahwa Allah kehidupan adalah yang setia mengupayakan agar hidup berlangsung terus. Para murid Kristus menemukan kejelasan rencana keselamatan Allah ini dalam keseluruhan hidup Yesus sampai ia disalibkan oleh orang-orang yang benci kepada kehidupan atau dapat dikatakan juga sebagai yang benci kepada keadilan dan kebaikan bersama. Namun kesetiaan Allah, Bapa Yesus tidak berhenti sampai di situ, melainkan membangkitkan Yesus dan membuatnya tampak kepada banyak murid sampai mereka yakin (beriman) akan kerahiman Allah yang bahkan lebih luas dari waktu hidup dan sejarah manusia ini.

Iman dan pemahaman demikian itu telah diwartakan oleh para murid Kristus, laki-laki dan perempuan, sejak generasi Gereja awal sampai sekarang, khususnya melalui kesaksian hidup mereka yang tidak jarang harus berakhir pada pencurahan darah (kemartiran) seperti Yesus sendiri yang dapat disebut sebagai martir yang pertama. Injil mencatat kesaksian dan pewartaan iman Kristiani dari berbagai sudut pengalaman menggereja yang konkrit. Para bapa dan ibu Gereja serta banyak teolog besar dan kecil mengolahnya untuk menggerakkan dan memajukan komunikasi iman dalam Gereja. Banyak dari mereka masih terus dengan serius dan jujur mencari pengertian iman yang bermanfaat mengangkat kehidupan, dan bukan menjatuhkannya, mengingatkan kita kepada solidaritas Allah dan bukan justru memecah-belah persaudaraan dan membiarkan hati manusia dikuasai ketakutan kepadaNya. Demikianlah sebuah refleksi iman atau teologi berciri historis karena terbuka untuk diperkaya oleh penghayatan iman para pendahulu dalam sejarah (tradisi).

Ketiga, refleksi iman atau teologi berciri kritis karena (1) sanggup dikritik oleh kesadaran orang lain yang bersifat melengkapi atau pun yang korektif, dan (2) dengan serius berusaha menunjukkan peluang bagaimana orang dapat beriman dalam konteks hidup sekarang ini, dalam perjuangan melangsungkan hidup paling tidak “tiga bulan” ke depan, sebagaimana dikatakan banyak orang sederhana.

Memang untuk saat ini, tidak dituntut dirumuskannya sebuah tindakan pastoral konkrit seperti sebuah perencanaan strategis tertentu misalnya untuk memberdayakan kehidupan para petani di daerah kering atau tang dikepung para tengkulak. Namun demikian, kesadaran baru diharapkan sudah dilahirkan, bahwa iman adalah tindakan aktif-dinamis bukan terutama rumusan-mati, dan berdimensi harapan seluas keprihatinan Allah, bukan hanya sebatas hati dan hidup manusia saja. Ini berarti bahwa iman yang hidup sungguh melibatkan orang dalam hidup Allah yang solider sekaligus dalam hidup sesama yang berjerih payah untuk melangsungkan hidupnya hari demi hari.

0 komentar:

Poskan Komentar