Ads 468x60px

Siap Menikah?


“Dalam setiap percintaan
Kuselalu manis terasa
Dalam kisah ini
Entah mengapa banyak yang terjadi
Pernikahan dini
Bukan cintanya yang terlarang
Hanya waktu saja belum tepat
Merasakan semua”

Bagi orang Katolik, pernikahan di Gereja bukanlah sekedar upacara belaka. Pernikahan adalah sakramen. Artinya, "tanda/bahasa isyarat" dari Tuhan. Ada beberapa isyarat/lambang yang digunakan dalam Sakramen Pernikahan, misalnya cincin, lilin, salib dsbnya. Tetapi dua isyarat yang terpenting adalah janji dan berkat pernikahan. Keduanya menyampaikan hal yang sama: kita menyatakan janji setia satu sama lain sementara Tuhan juga menyatakan janji setia kepada kita. 

Janji Pernikahan yang diucapkan oleh pasangan pengantin merupakan perjanjian sah yang mengikat mereka secara hukum. Disinilah, sakramen Pernikahan membekali pasangan pengantin dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Rahmat itu senantiasa bersama mereka kapanpun mereka membutuhkannya. Yang mereka perlukan hanyalah memintanya. Untuk memintanya, mereka tidak perlu mencari kata-kata yang indah serta muluk-muluk. Sebab Tuhan paham semua bahasa, terutama bahasa cinta. Jika mereka menggunakan kekuatan yang mereka terima dari Tuhan itu, mereka bisa mencapai tingkat tertinggi dalam hidup pernikahan. Yaitu ketika pasangan suami isteri demikian terikat satu sama lain. Jika yang seorang gembira, yang lain ikut tertawa; jika yang seorang terluka, yang lain ikut menderita. 

Bagi saya sendiri, pernikahan berarti: ”Persatuan Niat dan Kasih dalam Tuhan”. 

-Persatuan: 
Bukankah Yesus pernah mengatakan, “mereka bukan lagi dua melainkan satu, sebab itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.” 

-Niat: 
Pernikahan terjadi ketika ada niat sungguh dan mendalam dari kedua belah pihak. Dari soal persiapan nikah, mengikuti kursus dan memenuhi pelbagai persyaratan dalam Gereja. Bahkan sebelum dinikahkan secara resmi, kedua orang yang siap menikah ini lagi-lagi ditanyakan kesediaan, dan niatnya di hadapan seorang pastor dan umat beriman yang turut hadir. 

-Kasih: 
Dalam setiap pemberkatan pernikahan, bacaan, lagu, renungan bahkan dekorasi bunga-bunganya selalu penuh dengan nuansa cinta dan kasih bukan? Kasih adalah tanda yang paling khas dan tampak jelas dalam setiap pernikahan. 

-Dalam Tuhan: 
Setiap persatuan niat dan kasih dalam sebuah keluarga memang sangat berat. Banyak godaan yang kerap menimpa pelbagai keluarga Kristiani. Disinilah saya mengingat-kenang sebuah pernyataaan kecil dari St.Theresia, “jika semua dikerjakan bersama Allah, maka akan terasa lebih indah dan mudah.” Jadi, setiap keluarga dan setiap orang yang siap menikah, harus membawa semangat dan nilai persatuan, niat dan kasihNya di dalam dan bersama Tuhan. 

Lihatlah sebuah angklung. Ia termasuk dalam rumpun musik Arumba, alunan rumpun bambu. Rumpun musik itu meliputi calung, seruling dan musik tradisional lain berbahan baku bambu yang banyak dijumpai. Untuk menghasilkan suara yang bagus, Angklung mesti terbuat dari bambu wulung (usianya harus di atas 1 tahun, tapi jangan sampai terlalu tua, karena jika kelebihan umur, maka serat-serat bambu sudah keras sehingga tidak akan menghasilkan vibrasi suara yang indah). 

Bambu-bambu itu setelah dipotong-potong sesuai ukurannya harus direbus dahulu. Lalu diangin-anginkan sekitar 2-3 bulan. Setelah itu, barulah potongan bambu itu dibentuk menjadi angklung. Ukurannya disesuaikan dengan nada yang dipilih. Setelah jadi, lalu di - stem. Dengan perasaan jiwa yang tenang, suara angklung itu ditangkap. Jika dianggap kurang pas nadanya, diambillah pisau lalu diserut, dicoba lagi. Hal itu terjadi beberapa kali. Menjadi pengrajin angklung tidak beda jauh dengan kerja seorang empu pembuat keris pusaka. Begitulah juga pernikahan, jika dikerjakan bersama Tuhan, tak bisa dijalankan secara tergesa-gesa, tahap demi tahap harus dikerjakan dengan sabar dan saling mengerti, hati bersih dan jiwa yang selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Bukankah begitu?

Sebuah tambahan: Kue Pernikahan
Bahan :
1 pria sehat,
1 wanita sehat,
100% Komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.

Bumbu:
1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sendok teh telpon-telponan,
2 kali doa/hari
Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.

Tips:
- Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
- Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.)
- Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
- Gunakan bumbu cap “kasih sayang” yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.

Cara Memasak:
- Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
- Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
- Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit didepan penghulu.
- Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya.
- Kue siap dinikmati.

Catatan:
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven ber merek "Tempat Ibadah". Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan. Selamat mencoba!

0 komentar:

Poskan Komentar