Ads 468x60px

Domba Yang Hilang (Bedah Luk 15:1-10)

(BAGIAN PERTAMA)

Adapun perikop ini dapat kita bagi sebagai berikut:
Ay. 1-3 = Pengantar tentang orang Farisi yang bersungut-sungut melihat perbuatan Yesus.
Ay. 4-10 = Perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang.
Menurut nasehat banyak orang bijak di Israel, sudah sepantasnya jika orang-orang saleh menjauhi orang-orang berdosa (lih. Mzm. 1).
Dekat-dekat atau bahkan bergaul dengan mereka bisa berbahaya, sebab yang namanya dosa konon kabarnya mudah sekali tersebar dan “menular”. Karena itulah orang-orang saleh perlu menjaga diri baik-baik, menghindari pengaruh buruk para pendosa, agar hidup mereka berkenan di hadapan Allah.

Dalam prakteknya, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang sering menjadi sasaran kritik Yesus karena mengklaim diri sebagai orang-orang saleh sungguh-sungguh menjaga jarak, tidak mau dekat dengan siapa saja yang mereka anggap sebagai “orang-orang berdosa”. Para pendosa ini, menurut mereka, bahkan tidak layak mendengarkan pengajaran tentang hukum-hukum Tuhan.

Sia-sia dan tidak ada gunanya! 
Aneh juga bahwa mereka dengan begitu tampak tidak mengenal konsep mempertobatkan orang, sehingga tidak berusaha mendekati orang berdosa dan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Konsep itu disini diperkenalkan oleh Yesus. Melanggar tradisi dan nasehat orang-orang tua, Yesus malah mendekati orang-orang berdosa. Karena itu, tidak heran jika para pemungut cukai dan orang-orang yang dipandang masyarakat sebagai kaum pendosa senantiasa mengerumuni Yesus dan dengan penuh minat mendengarkan ajaran-ajaran-Nya yang menyejukkan hati. Melihat itu, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentu saja menjadi kesal hatinya.



(BAGIAN KEDUA).
Yesus mengisahkan 2 perumpamaan.
Perumpamaan pertama menampilkan seorang laki-laki kaya raya karena mempunyai 100 ekor domba. Kalau seekor di antara dombanya itu hilang, tentu saja ia akan melakukan segala daya upaya untuk mencarinya. Ketika akhirnya ia menemukan domba yg hilang, ia pasti akan gembira dan mengundang para sahabat dan tetangga untuk bersukacita bersamanya. Perumpamaan kedua tampaknya dimaksudkan untuk mempertegas pesan yang mau disampaikan Yesus.

Perhatikan tokoh dan alur kisah berikut yang jelas sejajar (atau kontras) dengan perumpamaan sebelumnya: perempuan miskin memiliki 10 dirham, 1 hilang - mencari dirham yang hilang - dirham ditemukan - sahabat dan tetangga diajak turut bersukacita. Dua hal yang ditekankan Yesus dalam masing-masing perumpamaan itu adalah usaha untuk mencari yang hilang dan sukacita bersama ketika yang hilang itu akhirnya ditemukan.

Poin pertama menggambarkan sikap Allah terhadap orang-orang berdosa. Menurut Yesus, Allah itu sangat mengasihi manusia. Kalau ada manusia yang “hilang” akibat berbuat dosa, Allah bukannya jadi senang (karena lalu bisa menjatuhi hukuman seberat-beratnya).
Sebaliknya, Ia prihatin dan akan berusaha mencari orang yang hilang ini. Kalau begitu, jika Yesus melakukan hal serupa dengan mendekati orang-orang berdosa, orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu mestinya tidak perlu protes!

Sebaliknya, mereka seharusnya mendukung Yesus dengan gembira karena pendekatan Yesus itu akan membuat orang-orang berdosa menyesali kesalahannya dan akhirnya bersedia untuk bertobat. Kalau Allah yang dulu ditentang oleh orang-orang berdosa itu saja menyambut kembalinya mereka dengan tangan terbuka, lalu apa alasan orang Farisi dan ahli Taurat tidak menyukai bertobatnya orang? Apakah surga hanya milik mereka sajakah?



(BAGIAN KETIGA).
Banyak orang merasa terharu membaca perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-32). 

Perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang yang mendahuluinya mungkin kurang menyentuh kita, namun sebenarnya juga memiliki pesan yang sangat dalam. Perumpamaan tentang anak yang hilang dan tentang domba/dirham yang hilang sifatnya saling melengkapi.

Yang satu menekankan tentang pertobatan si pendosa, dua yang lain menekankan usaha Allah untuk mengembalikan orang yang berdosa. Bertentangan dengan Allah yang bersikap murah hati, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tidak senang jika ada orang yang mendekati orang-orang yang mereka cap sebagai “orang berdosa”.

Meski begitu, tidak bisa dibantah bahwa sikap menjauhi orang berdosa menjadi sikap banyak di antara kita sekarang ini. Kita lupa bahwa gereja bukan hanya "museum para kudus" tapi juga "rumah sakit buat para pendosa", kita sibuk menghakimi tapi lupa memahami, padahal di atas salib-pun Yesus mencintai pendosa bukan (Luk 23:43)? Maka, dua perumpamaan kali ini juga mau menggugat sikap kita yang tertutup. Jangan dikira pintu surga itu hanya terbuka untuk kita dan tertutup bagi mereka yang kita pinggirkan. Kita juga adalah orang yang berdosa dan lagi pula, keselamatan kekal itu ditawarkan bagi siapa saja. Jadi, bagaimana jika kita mulai saja mencari jalan-jalan agar semakin banyak orang merasakan keselamatan Allah?

Pertanyaan iman:
1. Mengapa orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tidak senang melihat Yesus mendekati orang-orang berdosa?
2.Apa saja sikap Allah terhadap orang-orang berdosa yang ditunjukkan dalam dua perumpamaan ini?
3.Apa yang mestinya kita rasakan ketika yang hilang akhirnya bisa ditemukan lagi?
Mengapa?
4.Kalau melihat orang yang berdosa, Anda lebih suka ia diampuni atau dihukum?

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui.
Fiat Lux!@RmJostKokoh.

0 komentar:

Poskan Komentar