Ads 468x60px

Memento mori - Ingatlah (kau) akan mati.

Bukankah tepat kata pemazmur: "hidup manusia itu seperti rumput: pagi hari tumbuh, siang hari berkembang, sore hari menjadi kering, layu dan mati?"(Maz 90: 6).

Disinilah saya tampilkan kembali sepenggal puisi tentang indahnya kematian bersama doa dan dukacita untuk rekan imam yang meninggal tadi pagi di RS Medistra, Rm F. Kuswardianto :


“When somebody dies,
a cloud turns into an angel, and flies up to tell God to put another flower on a pillow.
A bird gives the message back to the world and sings a silent prayer that makes the rain cry.
People dissappear, but they never really go away.
The spirits up there put the sun to bed, wake up grass, and spin the earth in dizzy circles.
Sometimes you can see them dancing in a cloud during the day-time, when they’re supposed to be sleeping.
They paint the rainbows and also the sunsets, and make waves splash and tug at the tide.
They toss shooting stars and listen to wishes, and they sing wind-songs, they whisper to us: “Don’t miss me too much. The view is nice and I’m doing just fine”

“Saat seseorang berpulang, segumpal awan menjelma menjadi malaikat, dan melayang ke surga meminta Tuhan untuk meletakkan setangkai bunga di atas sebuah bantal.
Sang burungpun menyampaikan pesan itu ke bumi dan melantunkan seuntai doa yang menyebabkan hujan menangis. 
Mereka memang harus pergi, tapi mereka tidak benar-benar pergi. Roh mereka di atas sanalah yang menidurkan matahari, membangunkan rerumputan dan memutar bola dunia. Kadang kau dapat melihat mereka menari di dalam awan di siang hari di saat mereka seharusnya nyenyak tertidur.
Mereka melukis keindahan pelangi dan juga temaram matahari senja dan membangunkan ombak di lautan. Mereka melambungkan bintang jatuh dan mendengarkan semua harapan, nyanyian mereka merdu dalam hembusan angin, berbisik pada kita: “Jangan terlalu sedih. Pemandangan di sini indah dan aku baik-baik saja!”


Rest In Peace.
Tuhan memberkati & Bunda merestui

0 komentar:

Poskan Komentar