Ads 468x60px

Perumpamaan Tentang Bendahara Yang Tidak Jujur (Lukas 16:1)

(BAGIAN I)

Salah satu kesulitan mengerti perumpamaan ini adalah bagaimana mungkin bendahara yang "licik" ini bisa menjadi teladan bagi kita sebagai anak-anak Tuhan? Apakah kita harus "pintar" mencari muka untuk mendapatkan hati sesama dengan cara merugikan yang lain, seperti yang dilakukan oleh bendahara tersebut terhadap majikannya?

Ada hal yang menarik untuk kita simak. Majikan si bendahara tidak memujinya oleh karena ketidakjujurannya, melainkan oleh karena kecerdikannya (ayat 8a). Bendahara ini cerdik karena ia membuat orang menjadi berterimakasih kepada dirinya dengan cara memberikan pengurangan utang kepada orang itu (ayat 5-7).


Yesus sendiri berkomentar bahwa anak-anak dunia ini lebih cerdik daripada anak-anak terang (ayat8b), oleh karena itu Ia menasehati para murid-Nya agar dengan cerdik memanfaatkan kekayaan dunia yang dimilikinya untuk mengikat persahabatan di dalam dunia ini (ayat 9). Lepas dari dunia ini, kekayaan tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Apakah orang kristiani dianjurkan untuk bersikap licik, memanfaatkan harta dunia agar diterima oleh dunia? Tentu saja tidak! Kita memiliki motivasi kasih untuk menjadi berkat bagi dunia yang membutuhkan keselamatan. Kita justru akan diterima oleh dunia ini bila kasih kita mewujud tidak hanya dalam panggilan pertobatan tetapi kepada kepedulian sosial di tengah dunia.
Jadi kita dipanggil untuk cerdik menggunakan harta dunia 'di dalam ketulusan kasih' dengan menggunakan semua sarana dunia karna kita bukanlah milik dunia walaupun kita ada di tengah dunia. Demikianlah anak-anak Tuhan harus "cerdik", cerdas dan terdidik di dunia ini untuk memenangkan dunia bagi Tuhan.

Sudahkah kita menggunakan harta-talenta kita dalam hikmat Allah sebaik-baiknya dengan cara-cara yang khas manusiawi, demi "mengangkat manusia dan memuliakan Allah"?




(BAGIAN II).

Bicara lebih lanjut seputar perumpamaan bendahara yang tidak jujur, adapun cara yang dipakai oleh sang bendahara dalam perumpamaan ini bukanlah cara yang benar. Namun demikian kita bisa meneladan kejelian dan kecerdikannya dalam merencanakan masa depan. Ia menyadari bahwa dia akan segera meninggalkan jabatannya dan tentunya akan kehilangan otoritas di dalam mengelola harta tuannya. Karena itu ia menggunakan kesempatan yang masih ada, untuk menjalin persahabatan dengan menggunakan harta tuan-nya. Tujuannya jelas, supaya ia nantinya mendapat balasan dengan diberi tumpangan.

Apa yang diutarakan dalam perumpamaan ini menggambarkan posisi kita sebagai orang kristiani dalam hubungannya dengan harta. Tak satu pun harta yang ada pada kita dalam hidup ini adalah milik kita. Kita hanyalah dipercayai untuk mengelolanya. Suatu saat kita akan meninggalkan semuanya. Karena itu, ketika kita masih mempunyai wewenang atas mamon yang tidak jujur, kita harus menggunakannya untuk membangun persahabatan yang bernilai kekal. Karena itulah penggunaan uang bagi orang kristiani bukanlah hal yang sepele.
Meskipun bila dibandingkan dengan kekayaan sorgawi, nilainya sangat kecil, namun cara kita menggunakan yang sangat kecil ini dapat menunjukkan apakah kita orang yang "setia" atau tidak (ayat 10-12, "SETIA-SElalu Taat dan Ingat Allah").

Apakah kita adalah hamba yang setia dan layak dipercaya untuk mengelola harta titipan Tuhan? Dalam hal penggunaan harta itu, apakah kita menggunakannya untuk melayani Allah ataukah harta itu akan mempergunakan kita untuk melayaninya? Janganlah kita seperti orang-orang Farisi yang menjadi hamba uang!



Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui.
Fiat Lux!@RmJostKokoh.

0 komentar:

Poskan Komentar