Ads 468x60px

Kamulah saksi KU!

”Aku ingin bernyanyi seperti burung, tak perduli siapa yang mendengar, dan apa yang mereka pikirkan...”

Johann Baptist Metz, salah satu pencetus konsep teologi politik, memberi-jelaskan sebuah definisi tersingkat tentang agama. Menurutnya, agama adalah interupsi (Unterbrechung). Ya, pada dasarnya agama berangkat dari interupsi Allah ke tengah dunia yang kerap disalah-urus oleh manusia. Agama hadir sebagai suatu interupsi di tengah dunia yang terpusat hanya pada dirinya. Bukankah agama-agama mengkhianati panggilannya bila mereka berhenti membuat interupsi? Bukankah ketika berhenti membuat interupsi, agama-agama tidak lagi menjadi “anjing yang menyalak” dan “duri yang menusuk”, tetapi sebaliknya merupakan obat tidur yang sangat mujarab? 

Disinilah, interupsi seorang agamawan, KH. Mustofa Bisri baik kita ingat, “Rasanya baru kemarin, padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka..Rasanya baru kemarin...Hari ini ingin rasanya aku bertanya kepada mereka, bagaimana rasanya merdeka?”

Dalam intensi hari proklamasi, 69 tahun lahirnya NKRI pada hari ini, saya hendak mengingat-kenang sepenggal semboyan populer Katolik, “ Pro Patria et Ecclesia”. Semboyan berbahasa Latin yang berarti, “Demi Tanah Air dan Gereja” ini merupakan sebuah interupsi yang dipopulerkan Mgr. Soegijapranata (“Bung Karno-nya Gereja Indonesia”) dengan aksioma khas-nya: “100% Katolik-100% Indonesia.

Siapa itu pribadi yang akrab disebut Mgr.Soegija ini? Dalam sebuah wawancara, “Si Burung Manyar” Mangunwijaya - yang juga banyak membuat interupsi - pernah menyebut-ungkapkan dalam wawancara dengan Tuti Indra Malaon dan Drigo L. Tobing dari Majalah MATRA bahwa Soegijapranata adalah gurunya. Ia mengungkap-singkapkan, “Kalau harus menyebut guru-guru saya yang berpengaruh, nama pertama yang saya sebut adalah Soegijapranata. Saya jadi begini, antara lain juga oleh hikmah-hikmah pelajaran yang saya terima dari beliau.”

Soegijapranata sendiri adalah seorang imam Jesuit, yang hidup dalam masa revolusi kemerdekaan. Beliau diangkat sebagai Uskup Agung Pribumi yang pertama, secara khusus untuk wilayah Semarang. Situasi negara yang sedang bergolak-gelak saat itu menuntutnya untuk tidak hanya melakukan kegiatan “altar”, tetapi juga berani melakukan interupsi bagi kehidupan di “pasar” dengan segala carut-marutnya. Tahun 1955, Mgr. Soegija pernah mengungkap-kembangkan sebuah interupsi kepada peserta KUKSI (Kongres Umat Katolik Indonesia): “Apakah kita sungguh mempunyai manfaat bagi masyarakat Indonesia?” Setelah puluhan tahun berlangsung, interupsi itu kini diajukan lagi kepada kita semua di tahun ini. Apakah yang akan menjadi jawabannya? Jelas, merupakan sebuah kepastian bahwa setiap orang beriman diajak menjadi seorang “gunawan: berguna dan menawan”, yang berani melakukan interupsi: terlibat-tentunya tanpa terlipat dalam suka duka hidup bermasyarakat.


Mengapa Kita Perlu Ber-interupsi?
Mgr. Soegija mengatakan ada dua prima causa, semacam alasan dasarnya.
Pertama, kewajiban kerasulan berasal dari keadaan hidup kita: “Sedjak kita ‘dipermandikan’, berkat kemurahan Tuhan, kita merasa senang dan tenang, merasa selamat bahagia, sedjahtera dan sentosa dalam iman kita...maka dengan sendirinja kita merasa terdorong tuk berdoa, berkorban dan berusaha supaja sesama kita pun ambil bagian dalam kesedjahteraan dan kebahagiaan jang kita alami dalam djiwa kita dari anugerah Tuhan jang berupa iman dan kepertjayaan itu.”

Kedua, kewajiban kerasulan berasal dari sifat sosial kita: 
“Sebagai makluk sosial kita ta’ mampu hidup tiada dengan sesama kita. Sepandjang hidup kita harus pergaulan dengan orang lain. Banjaklah keuntungan jang kita terima dari masjarakat jang kita duduki, banjak pulalah djasa jang harus kita lakukan kepada chalajak ramai sekitar kita...”

Mencandra pelbagai interupsi Mgr Soegija di atas, wajarlah jika seorang Romo Mangun memandang Mgr. Soegija sebagai seorang Gerejawan besar dalam Gereja dan Bangsa Indonesia: “Saya tidak dapat menggambarkan bagaimana akan jadinya Gereja Katolik Indonesia seandainya dulu Mgr. Soegijapranata tidak ada.”

Bagaimana Kita Melakukan Interupsi?
John Sobrino, seorang teolog pembebasan merumuskan perbedaan pertanyaan mengenai Allah di kedua belahan bumi: Di Utara (Eropa dan Amerika Serikat/Utara), orang bertanya, “Apakah Allah ada” - Di Selatan, orang bertanya, “Dimana Allah”. Ini adalah pertanyaan tentang keberpihakan. Jelas, bahwa dalam konteks Indonesia, setiap agama diajak tidak meninggalkan manusia di pinggir jalan tapi setia melakukan interupsi: menghadirkan Allah, terlebih bagi setiap “korban – rakyat tersalib”. Tapi, pada kenyataannya? EGP (Emang Gue Pikirin), SWGTL (So What Githu Loch), HIV (Hemang Ike Vikirin) lebih terasa bukan?

Nah, disinilah interupsi Mgr. Soegija mendapatkan konteksnya: Orang-orang yang sungguh-sungguh beragama memang bukan bagian yang lebih besar (pars major), tetapi harus berusaha menjadi bagian yang lebih baik (pars sanior). Dkl: Menghadirkan agama sebagai sebuah “rumah”, yang mau terlibat dalam gulat-geliat masyarakat sudah merupakan satu bentuk interupsi. Kiranya lewat momentum tujuh-belasan ini, semua agama yang hadir daan mekar di persada Indonesia ini, juga berani menghidupi imannya sebagai sebuah interupsi. Akhirnya, ingatlah sebuah interupsi mini Mgr Soegija, yang diambilnya dari Rupertus Meldenius dan Augustinus dari Hippo, “In necessariis unitas, in dubiis libertas, in omnibus caritas: Dalam kegentingan - bersatu, dalam keraguan - merdeka, dalam segala hal – cinta.


MERDEKA!!
Salam HIK-ers
@Jost Kokoh Prihatanto, Pr

0 komentar:

Poskan Komentar